Dusun Karang Suka selalu punya aroma yang sama setiap kali sore tiba: wangi tanah basah bersatu dengan harum bunga kamboja dari pekarangan tua di ujung desa. Di sinilah, tiga belas tahun yang lalu, Anggi dan Azka tumbuh seperti sepasang bayangan. Di mana ada Azka, di situ pasti ada Anggi.
Kala itu, usia mereka baru sepuluh tahun. Duduk berdua di atas dahan rendah pohon kamboja besar, kaki kecil mereka berayun menatap matahari yang perlahan tenggelam.
"Nanti kalau kita sudah besar, kamu mau jadi apa, Ka?" tanya Anggi sambil mengunyah permen gagang.
Azka menoleh, membetulkan letak ketapel yang melingkar di lehernya. "Jadi apa saja, asal sama kamu. Ayah bilang, kalau kita sayang sama seseorang, kita harus terus sama-sama."
Anggi tertawa, matanya menyipit lucu. "Sama-sama terus? Sampai tua?"
"Sampai menikah!" sahut Azka mantap, tanpa beban. Ia lalu mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil. "Janji ya, Anggi? Pas kita besar nanti, kita bakal terus bareng dan menikah. Nggak boleh ada yang broke janji!"
Anggi menatap kelingking Azka, lalu menautkan kelingkingnya sendiri. "Janji!"
Bagi dua bocah SD itu, janji adalah hal paling sakral yang ditulis di atas langit sore Dusun Karang Suka. Mereka tak pernah membayangkan bahwa dunia orang dewasa bisa merenggut semuanya dalam sekejap.
Siang itu, matahari kelulusan SD terasa terlalu terik. Suara tawa anak-anak yang saling mencoret seragam memenuhi halaman sekolah, tetapi Anggi hanya berdiri diam di bawah naungan pohon kamboja tua—tempat favorit mereka. Di tangannya, ia meremas kuat-kuat tali tasnya. Matanya sembab, menahan tangis yang sejak pagi ia sembunyikan dari teman-temannya.
Dari kejauhan, Azka berlari mendekat. Wajahnya berseri-seri, memegang dua buah es lilin rasa kelapa favorit mereka.
"Anggi! Akhirnya ketemu," seru Azka terengah-engah, menyodorkan salah satu es lilin ke arahnya. "Aku cariin dari tadi. Anak-anak lain pada ke sungai, kita ikut yuk?"
Anggi menatap es lilin itu, lalu menatap Azka. Bukannya menerima, bulir air mata yang sejak tadi ditahannya justru luruh menembus pipinya.
Langkah Azka terhenti. Senyum di wajahnya perlahan luntur, digantikan rasa bingung dan cemas. "Gi? Kamu kenapa menangis? Ada yang jahatin kamu?"
Anggi menggeleng pelan, menyapu air matanya dengan punggung tangan, namun tangisnya justru makin pecah. "Ka... Ayah..."
"Ayah kamu kenapa, Anggi?" Azka maju satu langkah, menurunkan es lilin di tangannya begitu saja.
"Ayah pindah tugas," bisik Anggi, suaranya tercekat di tenggorokan. "Sore ini... sore ini aku harus ikut ke luar daerah. Rumah kami sudah diberesin dari kemarin."
Kata-kata itu menghantam Azka bagai petir di siang bolong. Dunia kecil yang selama ini ia bangun bersama Anggi seolah runtuh seketika. "Pindah? Tapi... tapi kan kita baru lulus SD? Kita kan mau masuk SMP yang sama di dekat alun-alun, Gi? Kamu bercanda, kan?"
"Aku nggak bercanda, Azka," tangis Anggi pecah, dadanya naik turun menahan sesak. "Aku baru tahu tadi malam. Ayah bilang ini mendadak banget. Aku nggak mau pergi, Ka... Aku mau sekolah di sini sama kamu!"
Azka membeku. Tenggorokannya terasa kering dan menyakitkan. Ia menatap Anggi yang terisak di hadapannya, gadis kecil yang selalu ada di setiap kenangan masa kecilnya.
"Terus... kita gimana?" suara Azka bergetar, matanya mulai memerah menahan air mata yang memaksa keluar. "Janji kita gimana?"
Anggi melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Azka erat-erat. Jemari kecilnya gemetar. "Janji itu nggak akan berubah, Ka. Aku janji aku bakal balik lagi ke sini. Kamu harus tunggu aku, ya? Jangan lupain aku, jangan gantiin aku sama siapa pun."
Azka menunduk, menatap genggaman tangan mereka. Rasa takut kehilangan yang luar biasa mencengkeram dadanya. Namun, melihat air mata Anggi yang makin deras, Azka berusaha menguatkan diri. Ia menatap mata bulat jernih milik Anggi, menyapu air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Aku janji," kata Azka mantap, meski hatinya remuk. "Aku bakal tunggu kamu di sini. Mau seberapa lama pun, aku nggak akan lupa."
Suara klakson mobil terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian di antara mereka. Ayah Anggi melambaikan tangan dari dalam mobil yang terparkir di tepi jalan desa. Waktu mereka telah habis.
Anggi melepaskan genggaman tangannya perlahan, melangkah mundur dengan berat hati. "Aku berangkat ya, Azka..."
"Anggi, tunggu!" Azka menahan napas, mengacungkan jari kelingkingnya yang gemetar ke udara. "Ingat janji kita!"
Anggi tersenyum di tengah tangisnya, menautkan kelingkingnya sebentar sebelum berbalik dan berlari menuju mobil. Dari balik kaca jendela yang perlahan tertutup, Anggi terus menatap Azka sampai mobil itu melaju menghilang ditelan debu jalanan, meninggalkan Azka yang berdiri sendirian di bawah bayang-bayang pohon kamboja.
Perpisahan itu datang terlalu cepat. Saat kelulusan SD, ayah Anggi—seorang pegawai negeri—mendapat surat pindah tugas mendadak ke luar daerah. Tak ada waktu untuk berpamitan secara layak. Hari di mana truk pengangkut barang berhenti di depan rumah Anggi adalah hari terakhir Azka melihat senyum gadis itu.
"Aku pasti balik, Ka! Jangan lupain aku!" teriak Anggi dari kaca mobil yang perlahan bergerak melintasi jalanan berdebu.
Azka berlari mengejar mobil itu sampai napasnya memburu di batas desa, namun mobil itu akhirnya menghilang di belokan jalan raya.
Tiga tahun masa SMP berlalu bagai mimpi buruk yang senyap. Zaman itu, komunikasi tak semudah sekarang untuk anak seusia mereka. Nomor telepon berganti, alamat hilang, dan kesibukan masing-masing perlahan membangun tembok tinggi. Tak ada kabar, tak ada pesan, tak ada suara. Yang tersisa di dada Azka hanyalah sebentuk rasa rindu yang lambat laun membeku menjadi kebiasaan untuk merelakan.
Di tahun terakhir SMP, Azka berkenalan dengan Sheila—gadis populer, manis, dan selalu ada di saat Azka membutuhkan teman bicara. Berawal dari rasa nyaman, hubungan mereka berlanjut hingga jenjang SMA. Azka percaya bahwa janji masa kecilnya dengan Anggi hanyalah kenangan manis anak-anak yang tak perlu dianggap serius.
Aroma tanah basah Dusun Karang Suka yang dulu selalu identik dengan tawa Anggi perlahan kehilangan gaungnya di kepala Azka. Hari berganti bulan, dan bulan merambat menjadi tahun. Tiga tahun masa SMP berjalan seperti gulungan film lama yang warna dan suaranya makin pudar.
Di awal kepindahan Anggi, Azka masih sering berdiri di bawah pohon kamboja tua itu. Ia memandang ke arah belokan jalan raya, berharap keajaiban kecil membawanya kembali. Namun, setiap kali hembusan angin sore lewat, tak ada suara renyah Anggi yang menyapa. Yang ada hanya sepi.
Lama-kelamaan, ingatan manusia memiliki batasnya sendiri untuk bertahan pada bayang-bayang.
Wajah Anggi yang dulu begitu jelas—lesung pipit kecilnya saat tertawa, binar matanya yang bulat jernih—mulai kabur di benak Azka. Suara Anggi yang bersumpah menautkan kelingking di bawah pohon kamboja perlahan teredam oleh bisingnya kehidupan remaja yang baru. Azka tidak membenci Anggi, ia hanya mulai kelelahan menyimpan rindu pada seseorang yang tak pasti wujudnya.
Hingga akhirnya, nama "Anggi" tak lagi menjadi luka yang menusuk, melainkan sekadar arsip lama yang tersimpan rapi di sudut hatinya. Sebuah kenangan anak SD yang lucu, polos, dan... tak realistis untuk dipegang selamanya.
Di tengah pudarnya ingatan itu, hadir Sheila.
Sheila membawa warna baru yang nyata. Jika Anggi adalah janji samar dari masa lalu, maka Sheila adalah genggaman tangan yang hangat di masa kini. Sheila ada saat Azka butuh teman cerita setelah latihan basket, Sheila hadir dengan tawa renyah yang mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan Anggi. Rasa nyaman itu tumbuh alami, hingga tanpa sadar, tempat yang dulu dikosongkan untuk Anggi telah terisi penuh oleh kehadiran Sheila.
Azka telah berdamai dengan kenyataan. Ia yakin, Anggi pun pasti sudah melupakan janji kekanak-kanakan itu dan menjalani hidupnya sendiri di luar sana. Bagi Azka, masa lalu sudah selesai.
Sampai akhirnya... takdir memutuskan untuk mempermainkannya kembali di koridor SMA Bina Bangsa.
Hari pertama kelas satu SMA Bina Bangsa terasa riuh. Azka berjalan di koridor sekolah sambil menggandeng jemari Sheila. Mereka adalah pasangan favorit di angkatan baru itu—Azka yang tenang dan tinggi, bersanding dengan Sheila yang ceria.
"Ka, nanti istirahat antar aku ke kantin ya?" tumpah Sheila seraya tersenyum manis.
"Iya, nanti aku jemput di kelas kamu," jawab Azka lembut.
Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Namun, langkah Anggi perlahan melambat. Matanya turun melirik ke arah tangan kiri Azka—yang baru saja dilepaskan dari genggaman Sheila, beberapa detik sebelum mereka berhadapan.
"Kamu... masih ingat aku, kan?" tanya Anggi pelan, kini ada nada ragu di suaranya.
Azka membeku. Hatinya bergetar hebat antara rasa nostalgia yang membuncah dan rasa bersalah yang tiba-tiba menancap dalam. Di hadapannya berdiri janji masa kecilnya. Namun di belakangnya, ada kekasih yang kini memanggil namanya dari kejauhan.
"Azka! Kamu ketinggalan tempat pensilmu!" panggil Sheila sambil berlari kecil mendekat, lalu tanpa ragu merangkul lengan Azka dengan akrab. "Lho, ini siapa, Ka?"
Anggi menatap rangkulan tangan Sheila di lengan Azka. Senyum di wajah Anggi perlahan pudar, berganti dengan tatapan yang runtuh secara diam-diam.
Matanya melirik ke arah jemari Sheila yang melingkar erat di lengan Azka. Di tempat itu, di bawah naungan atap koridor sekolah yang riuh, tiga tahun kerinduan Anggi serasa membentur dinding tebal yang tak kasatmata.
Azka tertegun sejenak, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia meralat posisi berdirinya, berusaha bersikap senatural mungkin meski hatinya bergemuruh hebat.
"Oh... dia teman lamaku, She," ucap Azka pelan, mengalihkan pandangannya dari mata Anggi.
Sheila tersenyum manis, lalu melangkah satu titik lebih maju sambil mengulurkan tangannya dengan ramah. "Hai! Aku Sheila, pacarnya Azka."
Kalimat sederhana itu terucap begitu ringan, namun di telinga Anggi, kata pacar berdengung bagai petir di siang bolong. Binar bahagia yang tadinya memenuhi mata bulat Anggi perlahan meredup, berganti dengan lapisan kaca tipis air mata yang berusaha ia tahan mati-matian.
Anggi menerima uluran tangan itu dengan jemari yang dingin dan gemetar. "H-hai, Sheila... aku Anggi."
"Dunia sempit banget, ya?" Sheila tertawa renyah, sama sekali tak menyadari badai yang sedang mengamuk di dalam dada dua orang di hadapannya. "Azka sering cerita soal masa kecilnya di dusun, tapi aku baru pertama kali ketemu kamu. Kamu murid baru, kan? Pindahan dari mana?"
"Dari luar daerah..." sahut Anggi lirih. Pandangannya tak sengaja beradu lagi dengan mata Azka. Ada sorot penyesalan dan ketakutan di mata laki-laki itu, namun bagi Anggi, semua itu sudah terlambat. Janji di bawah pohon kamboja yang ia genggam erat selama tiga tahun rupanya telah berdebu dan dilupakan oleh pemiliknya.
"Wah, selamat datang di SMA Bina Bangsa, ya!" seru Sheila ramah. "Nanti kalau mau keliling sekolah atau cari kantin, bilang aja sama Azka atau aku. Ya kan, Ka?"
Azka mengangguk kaku. "Iya, Gi..."
Anggi menarik tangannya perlahan, menggenggam erat tali tas di bahunya demi menyembunyikan getaran di jemarinya. "Terima kasih, Sheila. Tapi aku harus ke ruang guru dulu sekarang. Permisi..."
Tanpa menunggu balasan dari mereka, Anggi berbalik dan melangkah cepat melintasi koridor. Setiap langkahnya terasa sangat berat, diiringi kebenaran pahit yang harus ia telan utuh-utuh: Azka yang ia temui hari ini bukan lagi Azka milik janji masa kecilnya.
Langkah kaki Anggi makin dipercepat. Pandangannya kabur, terhalang oleh selapis air mata yang akhirnya tak mampu lagi ia tahan. Bulir-bulir hangat itu luruh satu per satu, membasahi pipinya yang memerah. Rasa sesak di dadanya kian menjadi-jadi; bayangan jemari Sheila yang melingkar di lengan Azka terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Anggi menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya dari siswa-siswi yang berlalu-lalang di koridor. Ia hanya ingin segera sampai di ruang guru atau tempat sepi mana pun untuk menumpahkan rasa sakitnya.
BRUKK!
Langkah terburu-burunya terhenti mendadak ketika tubuhnya menabrak dada bidang seseorang dengan cukup keras. Peta denah sekolah di tangannya terlepas, melayang jatuh ke lantai koridor bersamaan dengan Anggi yang hampir kehilangan keseimbangan.
"A-aduh... maaf, maafkan aku," bisik Anggi terbata-bata. Tangannya dengan tergesa-gesa menyapu air mata di pipi, lalu ia membungkuk untuk mengambil kertasnya yang berserakan.
Seseorang di hadapannya ikut berjongkok. Sebuah tangan yang kokoh mengambilkan lembaran kertas itu lebih dulu, lalu menyodorkannya ke arah Anggi.
"Kalau jalan pakai mata, bukan cuma pakai..."
Kalimat tegas itu terputus di udara.
Zayan—Ketua OSIS SMA Bina Bangsa yang terkenal dingin, berwibawa, dan tak segan menegur siapa pun yang melanggar aturan—tertegun seketika. Intonasi suaranya yang biasanya sarat akan wibawa dan sedikit galak mendadak melunak tanpa bisa ia kendalikan.
Dari jarak sedekat ini, Zayan menatap wajah gadis di hadapannya. Rambut sebahunya sedikit berantakan, matanya yang bulat jernih tampak basah dan memerah, serta bibirnya yang sedikit gemetar menahan tangis. Ada kepolosan dan kecantikan alami yang begitu manis dari paras murid baru itu—sesuatu yang seketika melumpuhkan aura tegas sang Ketua OSIS.
Zayan terpaku beberapa detik, menatap mata bulat yang memancarkan kesedihan mendalam itu. Hatinya yang biasa keras dan disiplin mendadak bergetar aneh.
"K-kamu... kamu nggak apa-apa?" tanya Zayan. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya, membuat beberapa anggota OSIS lain yang berdiri tak jauh di belakangnya saling pandang dengan dahi berkerut keheranan.
Anggi mendongak, mendapati sosok laki-laki tinggi berpakaian seragam rapi dengan ban lengan OSIS melingkar di bahunya. Laki-laki itu berparas tampan, bergaris wajah tegas, namun tatapan matanya saat ini penuh dengan kekhawatiran yang hangat.
"Aku nggak apa-apa, maaf tadi aku nggak lihat jalan," jawab Anggi pelan sambil menerima kertas dari tangan Zayan.
Zayan berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Anggi bangun. "Lain kali hati-hati. Kamu murid baru, kan? Kenapa menangis?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!