"Kelak kalau Mas sudah berhasil di Jepang, kita bangun rumah sendiri. Kamu nggak usah capek-capek kerja lagi."
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Winarsih Larasati setiap kali ia memandang jalan tanah yang membelah Desa Sekar Sari. Baru dua bulan menikah ia langsung di tinggal suaminya Benni Ardiansyah, berangkat menjadi TKI ke Jepang.
Di usia yang baru menginjak dua puluh tahun, Winarsih sebenarnya masih ingin menikmati masa-masa awal pernikahan, namun kenyataan berkata lain.
Kini ia sudah harus menjalani hari-harinya sendirian. Benni berangkat dengan harapan bisa mengubah nasib keluarga mereka. Upah bertani di desa tak cukup untuk membayar hutang orang tua Benni.
Ia juga terpaksa menjual sawah milik mendiang Ayahnya demi bisa berangkat ke Jepang. Maka dengan berat hati, ia meninggalkan istrinya dan menitipkannya kepada sang ibu.
"Aku titip Winarsih ya, Bu. Tolong dijaga seperti anak sendiri," ucap Benni saat berpamitan.
"Iya... tenang saja," jawab ibunya sambil tersenyum.
Saat itu Winarsih percaya, ia tidak tahu bahwa senyum itu hanyalah topeng. Rumah sederhana milik keluarga Benni berdiri di pinggir sawah. Dindingnya masih berupa papan kayu, sebagian sudah mulai lapuk.
Mertua Winarsih yang bernama Sulastri, dikenal hampir seluruh warga sebagai perempuan yang suka berhutang. Ke mana-mana ia meminjam uang dengan alasan berbeda-beda. Ada yang untuk biaya berobat, modal usaha, dan ada pula yang katanya demi biaya keberangkatan Benni.
Padahal sebagian besar uang itu habis untuk memenuhi gaya hidupnya sendiri. Sayangnya, Benni tidak mengetahui semuanya. Selama bekerja di Jepang, ia percaya penuh kepada ibunya.
Satu bulan setelah Benni bekerja, gaji pertamanya akhirnya dikirim. Jumlahnya cukup besar jika dibandingkan penghasilan di desa. Winarsih membayangkan uang itu bisa digunakan untuk memperbaiki rumah atau menabung, namun harapan itu sirna.
"Ini uang buat kebutuhan rumah."
Sulastri meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan di atas meja.
Winarsih terdiam sejenak sambil mengambil uang itu. "Bu... cuma segini?" tanyanya gugup.
"Iya," jawabnya dengan ketus.
"Tapi... bukannya Mas Benni kirim lebih banyak?" tanya Winarsih pelan.
Tatapan Sulastri langsung berubah tajam. "Kamu mau ngatur uang anakku?"
"Bukan begitu, Bu. Saya cuma..."
"Cukup!" Suara Sulastri menggema memenuhi rumah. "Sebagai ibu, saya lebih tahu uang itu harus dipakai untuk apa! Lagi pula banyak hutang yang harus dibayar."
Winarsih menggigit bibirnya.
"Tiga ratus ribu itu cukup untuk makanmu sebulan."
"Tapi, Bu..."
"Kalau kurang, ya cari kerja!" bentaknya.
Kalimat itu menusuk hati Winarsih, bukan karena nominal uangnya. Melainkan karena ia merasa bukan lagi dianggap sebagai keluarga.
Sejak hari itu, Winarsih mulai hidup hemat. Ia memasak nasi dengan lauk seadanya, kadang hanya tempe, sayur bayam hasil memetik di pekarangan. Bahkan beberapa kali ia memilih menahan lapar agar uangnya tidak cepat habis.
Tetangga mulai memperhatikan perubahan itu. "Winarsih kok makin kurus ya?"
"Iya. Kasihan. Baru juga nikah sudah ditinggal suami."
Namun tak seorang pun berani ikut campur urusan keluarga Sulastri. Memasuki minggu ketiga, uang tiga ratus ribu itu hampir habis.
Winarsih duduk termenung di depan rumah. "Aku nggak mungkin terus begini..."
Ia teringat sebuah pabrik roti kecil di ujung desa. Pabrik itu milik Juragan Warso, pengusaha yang dikenal baik hati dan sering membantu warga sekitar.
Keesokan paginya, Winarsih memberanikan diri datang. Bangunan pabrik itu tidak terlalu besar, tetapi aroma roti hangat langsung memenuhi udara begitu ia masuk ke halaman. Beberapa pekerja sedang mengangkat loyang-loyang berisi roti yang baru matang.
"Permisi..."
Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun menoleh. Wajahnya ramah dengan senyum yang menenangkan.
"Kamu siapa, Nak?"
"Nama saya Winarsih, Juragan."
"Ada perlu apa?"
Winarsih menundukkan kepala. "Saya... ingin mencari pekerjaan."
Juragan Warso memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Pakaiannya sederhana, wajahnya pucat. Tetapi sorot matanya penuh kesungguhan.
"Kamu pernah kerja?"
Winarsih menggeleng pelan. "Belum pernah, Juragan. Tapi saya mau belajar."
"Kenapa mendadak cari kerja?" tanya Juragan Warso sambil menatap wajah Winarsih.
Winarsih sempat ragu, namun akhirnya ia berkata jujur. "Suami saya kerja di Jepang, jadi saya harus memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri."
Juragan Warso tidak banyak bertanya, dia hanya mengangguk pelan. "Baiklah, besok kamu sudah bisa kerja."
"Sungguh, Juragan?" tanya Winarsih dengan mata yang berbinar.
"Iya," jawab Juragan Warso sambil tersenyum. "Tapi gajinya nggak besar."
"Tidak apa-apa, Juragan. Yang penting saya bisa bekerja disini." Air mata Winarsih hampir jatuh. "Terima kasih banyak, Juragan."
***
Winarsih Larasati
Keesokan harinya, Winarsih resmi bekerja. Tugasnya sederhana, mengaduk adonan, membungkus roti, membersihkan meja produksi. Pekerjaan itu cukup melelahkan, tangannya pegal, punggungnya terasa sakit.
Namun setiap kali mengingat dirinya kini bisa memperoleh uang sendiri, semua rasa lelah seolah menghilang. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Sore hari ketika pulang, Sulastri sudah berdiri di depan pintu dengan wajah masam.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang!"
Winarsih menundukkan kepala dan menjawab pelan, "saya habis kerja bu."
"Siapa yang nyuruh kamu kerja?" tanyanya sambil melipat tanyanya di dada.
"Saya sendiri."
"Memangnya uang yang saya kasih itu kurang?"
Winarsih menunduk. "Saya cuma ingin membantumu, Bu."
Sulastri mendengus sinis. "Bagus, kalau begitu nanti gajimu serahkan ke saya."
Winarsih langsung mengangkat kepala. "Bu?"
"Kamu tinggal dimana, jadi... semua penghasilanmu itu wajib di setor ke saya."
Jantung Winarsih berdegup kencang, ia baru saja mendapatkan secercah harapan. Namun kini, bayangan penderitaan itu kembali menghantuinya.
Winarsih mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah ibu mertuanya. "Maaf, Bu... gaji itu ingin saya simpan untuk kebutuhan saya sendiri."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Winarsih hingga tubuhnya terhuyung. Belum sempat ia menyeimbangkan diri, Sulastri kembali menarik rambutnya dengan kasar.
"Berani sekali kamu melawan! Sejak Benni pergi, kamu merasa paling berkuasa, ya?"
Air mata Winarsih jatuh tanpa suara. "Saya tidak melawan, Bu. Saya hanya ingin punya uang untuk makan dan membeli kebutuhan saya."
"Jangan banyak alasan!"
Sulastri merampas tas lusuh yang dibawa Winarsih. Ia membongkarnya tanpa izin hingga menemukan amplop berisi uang muka gaji dari Juragan Warso.
"Nah, ini dia!"
Dengan cepat uang itu dimasukkan ke dalam sakunya.
"Itu uang saya, Bu... tolong kembalikan," pinta Winarsih sambil menahan tangis.
"Tidak akan! Semua yang kamu dapat adalah hak saya."
Saat Winarsih hendak merebut kembali uangnya, suara deru sepeda motor terdengar dari depan rumah. Seorang kurir berhenti sambil membawa sebuah amplop cokelat.
"Permisi... ada surat dari Jepang untuk Mbak Winarsih."
Namun sebelum Winarsih sempat menerimanya, Sulastri lebih dulu merebut amplop itu. Begitu membaca isi surat tersebut, senyum licik perlahan terukir di bibirnya.
"Bagus... akhirnya kesempatan itu datang juga."
Tanpa diketahui Winarsih, surat itu akan menjadi awal fitnah yang menghancurkan rumah tangganya.
Winarsih menatap amplop itu dengan cemas. "Bu... itu surat untuk saya."
Sulastri melirik sinis sebelum melipat kembali surat tersebut. "Surat apa? Nggak ada surat buat kamu."
"Tapi tadi bapaknya bilang..."
"Diam!"
Kurir yang mengantar surat itu hanya bisa saling pandang dengan Winarsih. Ia merasa aneh, sebab nama penerima memang jelas tertulis Winarsih Larasati. Namun karena yang menerima adalah ibu kandung Benni, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah kurir pergi, Sulastri segera masuk ke kamarnya sambil mengunci pintu. Di dalam kamar, ia kembali membaca isi surat itu. Surat itu berisi kabar dari Benni. Selain menanyakan keadaan istrinya, Benni juga menyelipkan secarik kertas berisi nomor telepon tempat ia bekerja di Jepang.
"Dek, mulai minggu depan Mas sudah bisa ditelepon setiap hari Minggu jam tujuh malam. Mas juga sudah mengirim uang lebih banyak agar kamu bisa membeli kebutuhanmu dan menabung."
Sulastri tersenyum licik. "Kalau kalian sampai berhubungan, semua rencanaku bisa gagal."
Tanpa ragu, ia merobek surat itu dan sebelum di robek, ia mencatat nomor telepon itu di ponselnya. Ia lansung mencoba menghubungi Benni, beberapa menit kemudian...
"Halo, Nak..."
"Bu, saya sudah mengirim surat untuk Winarsih, apa sudah sampai?"
Sulastri mengembuskan napas panjang, sengaja membuat suaranya terdengar sedih. "Ben... Ibu sebenarnya bingung harus ngomong apa sama kamu. Selama kamu di Jepang, Winarsih sudah banyak berubah."
"Maksud Ibu apa?"
"Ibu sering melihat dia pulang sore bersama laki-laki. Bahkan sekarang dia kerja entah di mana tanpa izin. Ibu takut... dia sudah punya pria lain."
Di Jepang, wajah Benni langsung pucat. Tangannya gemetar menggenggam ponsel. "Benarkah itu, Bu?"
Sulastri menutup mulutnya, menyembunyikan senyum kemenangan. "Kalau kamu tidak percaya, nanti Ibu akan buktikan semuanya."
Ucapan itu membuat dada Benni terasa sesak. "Bu... tapi Winarsih bukan perempuan seperti itu."
Sulastri mengembuskan napas panjang, seolah-olah menahan tangis. "Dulu memang bukan, Ben. Tapi sejak kamu pergi, semuanya berubah."
Benni terdiam, pikirannya dipenuhi kenangan saat pertama kali mengenal Winarsih. Gadis itu dikenal pendiam, sopan, dan tak pernah bertingkah aneh. Sulit rasanya mempercayai ucapan sang ibu.
Namun di sisi lain, Sulastri adalah orang yang membesarkannya seorang diri setelah ayahnya meninggal. Selama ini ia tak pernah sekalipun meragukan perkataan ibunya.
"Ibu nggak mungkin bohong sama kamu." Kalimat itu kembali terdengar. "Kalau memang Winarsih baik-baik saja, kenapa dia tiba-tiba kerja? Kenapa dia sering pulang sore?"
Benni hanya terdiam dan bingung harus berkata apa.
"Sepertinya dia mulai menyembunyikan sesuatu dari kamu dan Ibu."
Benni mengusap wajahnya kasar. "Memangnya kerja di mana, Bu?"
"Katanya sih di pabrik roti."
"Pabrik roti?"
"Iya. Tapi siapa yang tahu? Setiap pulang selalu sore. Kadang bajunya bau parfum laki-laki."
Padahal kenyataannya aroma yang melekat di pakaian Winarsih berasal dari mentega dan roti yang baru matang. Namun Sulastri sengaja memutarbalikkan semuanya.
Benni mulai gelisah. "Bu... tolong awasi dia."
"Ibu pasti awasi. Ibu juga nggak mau kamu dikhianati."
"Iya, Bu."
"Oh ya, uang yang kamu kirim sudah Ibu terima."
"Iya, Bu. Tolong sebagian buat Winarsih."
Sulastri tersenyum tipis. "Tentu."
Padahal tak sepeser pun uang itu akan diberikan kepada menantunya.
Malam itu Winarsih duduk sendirian di belakang rumah. Langit Desa Sekar Sari tampak dipenuhi bintang. Ia memeluk lututnya sambil menatap bulan.
"Mas... apa kabar di sana?"
Sudah sebulan lebih ia tak pernah mendengar suara suaminya. Ia tidak tahu bahwa Benni baru saja berkomunikasi dengan Ibunya.
Winarsih mengusap air matanya. "Aku cuma ingin dengar suaramu sekali saja."
Dari balik jendela, Sulastri memperhatikan Winarsih dengan tatapan penuh kebencian. "Menangislah sepuasmu, ini baru permulaan."
Hari-hari berikutnya, Winarsih semakin sibuk bekerja di pabrik roti. Ia datang sebelum matahari terbit dan pulang menjelang petang.
Juragan Warso memperhatikan etos kerja gadis itu. "Winarsih."
"Iya, Juragan?"
"Kamu cepat sekali mengerti."
Winarsih tersenyum tipis. "Saya cuma berusaha bekerja dengan baik."
Juragan Warso mengangguk puas. "Mulai bulan depan gajimu saya naikkan."
Mata Winarsih membulat. "Benarkah, Juragan?"
"Iya."
"Terima kasih banyak."
"Dan mulai besok kamu ikut mengantar roti ke beberapa warung."
Winarsih mengangguk. "Baik, Juragan."
Dari kejauhan, seorang pekerja bernama Rudi memandang Winarsih sambil tersenyum. "Gadis itu rajin sekali."
Sayangnya, senyuman sederhana itu justru menjadi awal petaka.
Siang itu Sulastri diam-diam datang ke pabrik roti. Ia berdiri di balik pohon mangga yang berada di depan bangunan.
Dari sana ia melihat Winarsih sedang berbicara dengan Rudi. Padahal mereka hanya menghitung jumlah roti yang akan dikirim.
Namun di mata Sulastri, pemandangan itu terlihat sangat berbeda. "Nah... akhirnya."
Ia segera mengeluarkan ponsel yang baru dibelinya dari uang yang di kirim oleh Benni.
Cekrek... cekrek...
Beberapa foto berhasil diambil. Sudut pengambilan gambar sengaja dibuat seolah-olah Winarsih sedang tertawa mesra bersama seorang pria.
Sulastri tersenyum puas. "Kalau foto ini dikirim ke Benni, pasti dia langsung percaya."
Malam harinya Benni mendapat kesempatan menelpon.
Akhirnya ia menghubungi Ibunya lagi. "Bu... bagaimana keadaan di rumah?"
Sulastri sengaja berbicara dengan suara pelan. "Ben... Ibu sedih."
"Ada apa lagi?"
"Ibu tadi melihat sendiri."
"Melihat apa, Bu?" tanya Benni penasaran.
"Winarsih berduaan dengan laki-laki di tempat kerjanya."
Jantung Benni kembali berdegup kencang. "Bu... mungkin mereka hanya teman kerja."
"Teman kerja sampai saling pandang begitu, Ibu juga sempat memotretnya."
Benni langsung terdiam.
"Besok Ibu kirim fotonya."
Ucapan itu membuat Benni tidak bisa tidur semalaman. Di dalam hatinya, ia masih ingin mempercayai istrinya. Namun setiap kata yang diucapkan ibunya perlahan mengikis kepercayaan itu.
Keesokan paginya, Winarsih sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya telah difitnah. Ia tetap bekerja seperti biasa, setelah semua roti selesai dimasukkan ke dalam keranjang, Juragan Warso menghampirinya.
"Winarsih."
"Iya, Juragan?"
"Hari ini kamu antar roti ke Puskesmas Sekar Sari."
Winarsih mengangguk. "Baik, Juragan."
"Karena ada Dokter baru yang bertugas di sana memesan cukup banyak."
Winarsih hanya mengangguk, lalu ia segera mengangkat keranjang rotinya ke atas sepeda.
Di sisi lain...
Sulastri baru saja selesai mengirim foto-foto hasil fitnahnya kepada Benni.
Beberapa menit kemudian, ponsel Benni berdering. Tangannya gemetar saat membuka gambar yang dikirim sang ibu. Matanya membelalak. Dalam foto itu, Winarsih terlihat sedang tersenyum ke arah seorang pria. Padahal kenyataannya foto tersebut diambil dari sudut yang menyesatkan.
Wajah Benni memucat. "Winarsih... kenapa kamu tega."
Sementara itu, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, Winarsih mengayuh sepedanya menuju Puskesmas Sekar Sari. Di tikungan tajam dekat jembatan, sebuah mobil SUV hitam melaju cukup kencang dari arah berlawanan.
Winarsih panik, rem sepedanya mendadak blong.
"Ya Allah...!"
Brak!
Suara benturan keras menggema di jalan desa. Keranjang roti terlempar ke segala arah. Tubuh Winarsih terjatuh ke aspal.
Pintu mobil itu langsung terbuka.
Sepasang sepatu pantofel hitam menginjak tanah, disusul sosok pria tinggi berkemeja putih dengan jas dokter yang masih melekat di tubuhnya.
Pria itu berlari menghampiri Winarsih yang mulai kehilangan kesadaran. Saat wajah Winarsih terangkat, sorot mata pria itu mendadak membeku.
Sorot mata pria itu mendadak membeku. Untuk beberapa detik, ia hanya terpaku menatap wajah Winarsih yang masih memejamkan mata. Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan menutupi sebagian pipinya akibat terjatuh.
Kulit gadis itu tampak putih bersih tanpa polesan riasan sedikit pun. Meski hanya mengenakan kemeja lengan panjang sederhana dan celana kain, kecantikan alaminya begitu memikat.
"Bidadari..." gumamnya tanpa sadar.
Kelopak mata Winarsih perlahan terbuka. Begitu menyadari ada seorang pria asing yang tengah menatapnya, ia langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa nyeri.
"Aduh..."
Dengan gugup, Winarsih segera menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah lalu mundur beberapa langkah.
Dokter itu tersadar dari lamunannya. "Maaf... maaf. Saya benar-benar minta maaf," ucapnya penuh penyesalan.
Winarsih tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju pada keranjang rotinya yang terlempar ke pinggir jalan. Roti-roti itu berserakan di atas tanah hingga beberapa bungkusnya penyok.
Wajahnya langsung berubah pucat. "Astaga... roti-rotiku," lirihnya panik.
Tanpa memedulikan luka di siku dan lututnya, Winarsih berjongkok memunguti satu per satu roti yang masih bisa diselamatkan.
Dokter itu ikut membantu. "Maaf ya. Saya tadi mengira jalan ini sepi."
Winarsih hanya mengangguk pelan sambil terus mengumpulkan roti.
Dokter itu melirik logo yang tertera pada plastik pembungkus. "Ini roti yang akan dikirim ke Puskesmas Sekar Sari, ya?"
"Iya, Dok," jawab Winarsih lirih.
Pria itu menghela napas panjang. "Kalau begitu ini memang salah saya. Saya kurang hati-hati saat menyetir."
Ia kemudian ikut memasukkan roti ke dalam keranjang. "Perkenalkan, nama saya Arga Pratama. Saya dokter baru yang ditugaskan di Puskesmas Sekar Sari."
Winarsih mengangguk singkat. "Saya Winarsih."
"Sebagai gantinya, biar saya antar kamu pulang."
Winarsih langsung menggeleng. "Tidak usah, Dok. Saya bisa pulang sendiri."
"Tapi kamu terluka."
"Tidak apa-apa. Cuma lecet sedikit."
Dokter Arga masih terlihat merasa bersalah. "Setidaknya izinkan saya mengantar sepedamu."
Winarsih kembali menolak dengan sopan. "Terima kasih, Dok. Sepertinya tidak usah."
Ia segera menegakkan sepedanya yang sempat terjatuh. Setelah memastikan rodanya masih bisa digunakan, Winarsih mengambil keranjang roti lalu menyerahkannya kepada Dokter Arga.
"Dok... ini rotinya. Kalau nanti ada roti yang rusak atau Dokter ingin komplain, Dokter bisa cari saya di pabrik roti Juragan Warso."
Setelah mengucapkan itu, Winarsih buru-buru menaiki sepedanya. "Saya permisi dulu, Dok."
Belum sempat Dokter Arga mengatakan apa pun, gadis itu sudah mengayuh sepedanya menjauh. Rambut hitamnya yang panjang melambai lembut tertiup angin sore.
Dokter Arga tetap berdiri di pinggir jalan sambil memegang keranjang roti. Tatapannya mengikuti sosok Winarsih hingga menghilang di balik tikungan.
"Cantik sekali wanita itu..." gumamnya pelan.
Untuk pertama kalinya sejak ditugaskan di Desa Sekar Sari, hatinya berdebar karena seorang gadis desa yang baru beberapa menit dikenalnya.
Tak lama kemudian, Dokter Arga akhirnya tiba di Puskesmas Sekar Sari. Ia turun dari mobil sambil membawa keranjang roti yang tadi dititipkan Winarsih.
Baru beberapa langkah masuk ke dalam, seorang perawat bernama Desi menghampirinya. "Lho, Dok... kok Dokter yang bawa keranjang roti?" tanyanya heran.
Arga tersenyum tipis. "Memangnya kenapa?"
"Biasanya roti dari pabrik Juragan Warso diantar sama pegawainya. Kami di sini memang langganan roti dari sana."
"Oh begitu, ya."
"Iya, Dok. Rotinya enak, makanya hampir setiap pagi kami selalu pesan."
Desi kembali menatap keranjang yang dibawa Arga. "Memangnya Dokter ambil sendiri ke pabrik?"
Arga menggeleng pelan. "Tidak, saya tadi bertemu pegawai pabrik roti di pinggir jalan."
"Oh..."
"Saya tidak sengaja menabrak sepedanya. Untung tidak terluka parah, cuma lecet sedikit. Jadi saya sekalian membawa rotinya ke sini."
Mata Desi langsung membulat. "Astaga... kok bisa, Dok?"
Arga mengembuskan napas pelan. "Saya kira jalanannya sepi. Ternyata ada orang dari arah depan."
"Kasihan juga ya."
"Iya. Saya juga merasa tidak enak."
Desi lalu tersenyum usil. "Memangnya yang ngantar roti cewek atau cowok, Dok?"
"Cewek."
"Oh..." Desi mengangguk sambil mengambil satu bungkus roti dari dalam keranjang. Tanpa sungkan, ia langsung membuka bungkusnya. "Hmm... masih hangat."
Ia menggigit roti itu sambil tersenyum puas. "Memang paling enak roti Juragan Warso."
Melihat tingkah perawatnya, Arga hanya tersenyum kecil. "Ya sudah, Des. Saya masuk ke ruangan dulu."
"Siap, Dok."
Sebelum masuk keruangannya Arga menoleh dan berkata. "Oh ya, roti itu tolong dibagikan ke yang lain juga."
"Siap, Dokter."
Arga mengangguk pelan lalu masuk keruang kerjanya. Sesampainya di dalam ruangan, ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.
Namun entah mengapa, pikirannya kembali melayang pada gadis berambut panjang yang ditemuinya di jalan. Wajah Winarsih yang polos, tatapan matanya yang lembut, dan senyum tipisnya terus terbayang di benaknya.
"Kenapa aku malah jadi kepikiran dia?" gumam Arga pelan sambil menggelengkan kepala, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya sebagai dokter baru di Puskesmas Sekar Sari.
Sementara itu...
Winarsih akhirnya kembali ke pabrik roti milik Juragan Warso. Ia mengayuh sepedanya pelan karena lutut dan siku kirinya masih terasa perih akibat terjatuh.
Begitu sampai di halaman pabrik, Juragan Warso yang sedang memeriksa roti langsung menghampirinya.
"Winarsih, kenapa pulangnya lama?"
Winarsih tersenyum canggung. "Maaf, Juragan. Tadi di jalan saya mengalami kecelakaan kecil."
Juragan Warso langsung terkejut. "Kecelakaan? Kamu tidak apa-apa?"
"Alhamdulillah tidak apa-apa, cuma lecet sedikit."
Barulah Juragan Warso melihat luka di tangan dan lutut Winarsih. "Astaga... sudah diobati belum?"
Winarsih menggeleng. "Belum, Juragan. Nanti juga sembuh sendiri."
Juragan Warso menghela napas. "Kamu ini. Kalau luka dibiarkan nanti bisa infeksi."
Winarsih hanya tersenyum tipis. "Maaf sudah membuat Juragan khawatir."
"Lalu rotinya bagaimana?"
Winarsih langsung menundukkan kepala. "Beberapa bungkus penyok karena jatuh."
Juragan Warso tidak langsung marah. Ia justru menepuk pelan bahu gadis itu. "Yang penting kamu selamat. Roti masih bisa dibuat lagi."
Mendengar ucapan itu, mata Winarsih mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Juragan."
"Oh ya, siapa yang menabrakmu?"
"Dokter baru yang ditugaskan di Puskesmas Sekar Sari."
"Dokter?"
"Iya. Beliau juga minta maaf berkali-kali. Bahkan beliau yang mengantarkan roti ke puskesmas."
Juragan Warso mengangguk pelan. "Kalau begitu orangnya bertanggung jawab."
Winarsih mengiyakan. "Beliau juga menawarkan mengantar saya pulang, tapi saya menolak."
"Bagus." Juragan Warso tersenyum tipis. "Jaman sekarang memang harus hati-hati. Meski orangnya terlihat baik, kita tetap harus menjaga diri."
"Iya, Juragan."
"Sudahlah, sekarang kamu istirahat dulu. Setelah itu baru lanjut membantu di bagian pembungkusan."
"Baik, Juragan."
Winarsih berjalan menuju ruang belakang untuk membersihkan luka di tangan dan lututnya. Namun baru beberapa langkah, seorang rekan kerjanya bernama Rudi menghampiri sambil membawa kotak obat.
"Winarsih, aku dengar kamu jatuh."
"Iya, cuma lecet sedikit."
"Ini, pakai dulu obat merah sama plesternya."
Winarsih tersenyum ramah. "Terima kasih, Mas Rudi."
"Sama-sama. Lain kali lebih hati-hati di jalan."
"Iya."
Dari balik pintu pabrik, tanpa disadari siapa pun, sepasang mata kembali mengawasi Winarsih. Sulastri yang sejak tadi mengintip dari kejauhan menyipitkan matanya saat melihat Rudi menyerahkan kotak obat kepada menantunya.
"Huh... sekarang terang-terangan perhatian."
Ia segera mengeluarkan ponselnya lalu diam-diam mengambil beberapa foto.
Senyum licik kembali menghiasi wajahnya. "Bagus sekali. Bukti untuk Benni semakin banyak."
Tanpa mengetahui dirinya kembali dijebak, Winarsih justru tersenyum tulus mengucapkan terima kasih kepada Rudi, sementara kamera ponsel Sulastri terus mengabadikan momen itu dari kejauhan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!