Indonesia
NovelToon NovelToon

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Bab 1

Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Bima.

​"Dasar orang gila, cepat pergi kamu dari desa ini!" teriak Kepala Desa dengan wajah memerah menahan marah.

​Bima hanya menunduk diam sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.

​Dia sama sekali tidak berniat melawan meskipun rasa sakit menjalar di kulitnya.

​"Kamu ini hanya membawa sial bagi warga di sini."

​"Lihat saja kelakuanmu yang setiap hari cuma bicara sendiri dengan rumput liar di hutan."

​Warga desa yang berkumpul di halaman balai desa ikut menyoraki pemuda berusia dua puluh tahun itu dengan tatapan jijik.

​Mereka mulai melempari Bima dengan kerikil dan sisa sayuran busuk.

​Brak!

​Sebuah batu sebesar kepalan tangan mengenai kening Bima hingga mengalirkan darah segar.

​"Aku tidak gila, Pak Kades."

​"Aku hanya sedang mencari dan menyeleksi akar pasak bumi liar."

​Bima mencoba menjelaskan tindakannya dengan nada suara yang sangat tenang.

​Namun penjelasannya itu malah membuat emosi warga semakin tersulut.

​"Halah, banyak alasan kau si pemuda bodoh."

​"Mana ada orang waras mengunyah akar pahit sambil tertawa-tawa sendiri di tengah malam."

​"Cepat kemasi barang rongsokanmu dan angkat kaki dari sini sebelum kami membakar gubukmu itu."

​Bima menatap kerumunan warga desa yang selama ini dia anggap sebagai keluarganya sendiri dengan pandangan nanar.

​Dia sebenarnya bisa saja membuat mereka semua lumpuh meronta-ronta hanya dengan menyentuh beberapa titik saraf mematikan.

​Tetapi pesan terakhir dari mendiang gurunya terngiang sangat jelas di telinganya saat ini.

​"Jangan pernah gunakan ilmu tabib sucimu ini untuk menyakiti manusia biasa."

​Bima menghela nafas panjang lalu berbalik arah berjalan menuju gubuk reyotnya yang berada di ujung desa.

​Srek. Srek.

​Langkah kakinya terseret di atas tanah kering yang berdebu tebal.

​Hatinya hancur menyadari bahwa tempat kelahirannya sendiri telah membuangnya begitu saja tanpa belas kasihan.

​Sesampainya di dalam gubuknya, Bima hanya mengambil sebuah buntalan kain lusuh dan sekotak jarum perak warisan gurunya.

​"Mungkin memang ini saatnya aku harus melihat dunia luar seperti yang sering dikatakan Guru."

​"Kota Jakarta, sepertinya itu tujuan yang cukup bagus untuk mencari pengalaman hidup."

​Bima bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil menatap langit senja dari celah atap daun palem yang bocor.

​Keesokan paginya, tepat sebelum matahari terbit, Bima sudah berdiri sendirian di pinggir jalan raya lintas provinsi.

​Nguuuung.

​Sebuah bus antar kota melaju sangat kencang dan berhenti tepat di depan hidungnya yang mancung.

​Bima naik dengan langkah gontai lalu memilih duduk di sudut kursi paling belakang.

​Perjalanan panjang berjam-jam itu dia habiskan hanya dengan memejamkan mata mencoba melupakan rasa sakit di hatinya.

​Tiba-tiba laju bus berhenti dengan sangat mendadak hingga tubuhnya terdorong ke depan.

​Ciittt!

​Suara rem berdecit nyaring sukses membangunkan Bima dari tidur ayamnya.

​"Turun semua penumpang, kita sudah sampai di terminal tujuan."

​Sopir bus berteriak nyaring dengan suara seraknya yang khas.

​Bima turun melangkah keluar dan langsung disambut oleh udara panas berdebu ibukota metropolitan.

​Gedung-gedung pencakar langit yang terbuat dari kaca menjulang tinggi seolah menantang awan di langit.

​Bima berjalan tanpa arah yang jelas menyusuri trotoar panjang yang dipadati oleh pejalan kaki berpakaian rapi.

​Perutnya mulai berbunyi kencang meminta untuk segera diisi makanan.

​Kruyuk.

​"Aku harus segera mencari pekerjaan hari ini juga."

​"Uang sakuku ini rasanya hanya cukup untuk membeli makan siang di warung pinggir jalan."

​Bima terus melangkah hingga dia tiba di sebuah area konstruksi bangunan besar yang tampak sangat sibuk.

​Suara mesin molen pengaduk semen terdengar sangat bising memekakkan telinga.

​Teng! Teng! Teng!

​Banyak pekerja proyek berlalu lalang dengan wajah lelah membawa material bangunan yang berat.

​"Permisi, Pak."

​Bima memberanikan dirinya menyapa seorang pria paruh baya buncit yang memakai helm proyek berwarna putih.

​Pria itu menoleh kesal lalu menatap Bima merendahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

​"Ada urusan apa kamu memanggilku, anak muda?"

​"Apakah di proyek ini sedang ada lowongan pekerjaan?"

​"Aku bisa bekerja serabutan sebagai kuli angkut atau melakukan apa saja yang Bapak minta."

​Pria buncit itu rupanya adalah Pak Mandor yang bertugas mengawasi jalannya seluruh proyek ini.

​"Kebetulan kami memang sedang butuh banyak tenaga kasar tambahan untuk mengecor lantai dasar."

​"Tapi kerjanya ini sangat berat dan meletihkan, apa badan kerempengmu itu kuat menahannya?"

​"Aku ini sangat kuat, Pak Mandor."

​"Baiklah kalau begitu, segera ganti bajumu dan langsung bantu pekerja yang lain mengangkut semen."

​Bima tersenyum sangat lebar dan bergegas berlari menuju tempat tumpukan ratusan sak semen.

​Dia langsung mengangkat dua sak semen berat sekaligus di pundaknya tanpa terlihat kesulitan sedikitpun.

​Wush!

​Langkah kaki Bima terlihat sangat ringan seolah beban di pundaknya hanyalah kapas yang melayang.

​Beberapa pekerja kuli lainnya menatap takjub ke arah Bima dengan mulut ternganga lebar.

​"Gila, anak baru dari kampung itu makan apa kok tenaganya kuat sekali mirip badak?" bisik salah satu kuli kepada temannya.

​Bima sama sekali tidak menghiraukan omongan mereka dan terus bekerja mengangkut semen dengan giat.

​Saat dia sedang mengambil karung semen berikutnya, pandangan Bima tidak sengaja menangkap sesuatu di luar pagar proyek.

​Dia melihat sebuah mobil sedan hitam sangat mewah sedang terparkir di seberang jalan.

​Kaca jendela bagian belakang mobil itu terbuka separuh.

​Dari kejauhan Bima bisa melihat sepasang mata tajam milik seorang pria paruh baya berjas mahal sedang menatapnya lekat-lekat.

​"Siapa orang tua kaya raya itu?"

​"Kenapa dia menatapku terus dari tadi?"

​Bima membatin keheranan sambil mengangkat bahunya pertanda tidak peduli.

​Dia menganggap itu hal biasa dan kembali memfokuskan pikirannya pada karung semen di depannya.

​Bima terus mengangkut puluhan karung semen tanpa henti sampai matahari mulai condong ke arah barat.

​Keringat deras membasahi seluruh tubuh kotornya yang ternyata menyembunyikan otot-otot yang terbentuk sempurna.

​"Hei anak muda, kemarilah sebentar."

​Seorang pria berjas sangat rapi yang baru saja keluar dari mobil sedan mewah tadi tiba-tiba menghampiri Bima.

​Bima mengusap keringat di pelipisnya lalu menoleh ke arah pria necis tersebut.

​"Ada urusan apa ya, Pak?"

​"Bos saya yang ada di dalam mobil itu ingin bertemu sebentar denganmu di kantor proyek."

​Bima mengerutkan keningnya merasa semakin kebingungan.

​"Untuk apa seorang bos besar yang kaya raya ingin bertemu dengan kuli rendahan yang kotor sepertiku?"

​Bima kembali membatin sambil menatap curiga punggung asisten itu yang sudah berjalan menjauh mendahuluinya.

Bab 2

​Tap. Tap. Tap.

​Langkah kaki Bima terdengar pelan menyusuri jalan setapak di area proyek yang berdebu.

​Dia terus mengikuti pria berjas rapi di depannya tanpa banyak bertanya.

​Pikirannya masih sibuk menebak-nebak apa tujuan sebenarnya dari panggilan mendadak ini.

​"Kenapa orang kaya seperti dia repot-repot memanggil kuli bangunan sepertiku?"

​Bima membatin pelan sambil melihat tangannya yang masih kotor oleh sisa semen basah.

​Bangunan kantor pengawas proyek itu terlihat kecil dan terbuat dari triplek tebal.

​Cklek.

​Pria berjas itu membuka pintu perlahan lalu mempersilakan Bima untuk masuk ke dalam.

​Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu kulit Bima yang berkeringat.

​Di dalam ruangan tersebut duduk seorang pria paruh baya dengan wibawa yang sangat besar.

​Rambutnya sudah mulai memutih namun tatapan matanya yang sangat tajam.

​"Silakan duduk, anak muda."

​Pria paruh baya itu berbicara dengan nada suara bariton yang dalam dan tegas.

​"Tidak usah repot-repot, Pak."

​"Saya lebih baik berdiri saja karena pakaian saya kotor penuh debu dan keringat."

​Bima menolak dengan sangat sopan sambil merapikan ujung bajunya yang sedikit robek.

​Pria yang diketahui bernama Pak Herman itu tersenyum tipis melihat kesopanan Bima.

​"Nama saya Herman, pemilik utama dari seluruh mega proyek konstruksi di kawasan ini."

​"Saya memperhatikan caramu bekerja dari kejauhan sejak siang tadi."

​Bima hanya terdiam mendengarkan penuturan orang nomor satu di proyek tersebut.

​Dia tidak menunjukkan rasa gugup sedikit pun meski berhadapan dengan seorang miliarder.

​"Kamu mengangkat beban yang sangat berat dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal."

​"Nafasmu bahkan tidak terengah-engah seperti pekerja lainnya yang berbadan lebih besar darimu."

​"Itu hanya karena saya sudah terbiasa bekerja keras sejak kecil di desa, Pak Herman."

​Bima menjawab dengan tenang mencoba menutupi kemampuan tenaga dalamnya.

​Pak Herman bangkit dari kursi kayunya lalu berjalan pelan mendekati Bima.

​Srek.

​Sepatu kulit mahalnya bergesekan dengan lantai triplek yang sedikit berpasir.

​"Asisten saya ini memiliki mata yang sangat jeli untuk mengamati sesuatu yang janggal."

​"Dia melihatmu memijat pergelangan tanganmu sendiri saat kau tidak sengaja tersandung besi."

​Bima sedikit terkejut dalam hati menyadari bahwa kecerobohannya tadi ternyata diamati.

​"Hanya pijatan biasa untuk meluruskan otot yang tegang, Pak."

​"Jangan mencoba membohongi orang tua ini, anak muda."

​Pak Herman menatap lurus ke dalam mata Bima dengan intensitas yang sangat kuat.

​"Pijatanmu itu mengeluarkan uap tipis yang langsung menyembuhkan memar di tanganmu dalam hitungan detik."

​"Saya tahu kamu bukan sekadar kuli bangunan biasa yang datang dari desa."

​Bima menghela nafas pendek menyadari bahwa dia tidak bisa terus mengelak.

​"Lalu apa hubungannya pengamatan Bapak itu dengan memanggil saya ke ruangan ini?"

​"Saya butuh keahlianmu itu untuk sebuah urusan yang sangat mendesak menyangkut nyawa."

​Pak Herman tiba-tiba merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah buku cek.

​Sret.

​Dia merobek selembar cek kosong dan menyodorkannya tepat di depan dada Bima.

​"Anak perempuan saya satu-satunya sedang terbaring sekarat di rumah."

​"Banyak dokter spesialis dari dalam dan luar negeri sudah angkat tangan mengobatinya."

​Suara Pak Herman terdengar sedikit bergetar menahan keputusasaan yang mendalam.

​"Saya ingin kamu ikut ke rumah saya dan memeriksa kondisinya menggunakan ilmu pengobatanmu itu."

​"Jika kamu berhasil menyelamatkan nyawanya, kamu bisa menulis angka berapa pun di cek kosong ini."

​Bima menatap lembaran kertas berharga itu dengan pandangan yang sangat datar.

​Tidak ada sedikit pun kilatan keserakahan yang terpancar dari mata pemuda udik tersebut.

​"Bapak mungkin bisa membeli apa saja di dunia ini dengan selembar kertas itu."

​"Tapi ilmu pengobatan warisan guru saya tidak bisa dibeli dengan lembaran uang sebanyak apa pun."

​Asisten Pak Herman yang berdiri di sudut ruangan langsung melotot marah mendengar jawaban itu.

​"Jaga bicaramu anak kampung, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."

​Bima menoleh perlahan ke arah asisten tersebut dengan tatapan yang sangat dingin.

​"Saya tahu dia seorang ayah yang sedang putus asa, bukan sekadar miliarder yang sombong."

​Kata-kata Bima sukses membuat ruangan itu menjadi hening seketika.

​Pak Herman mengangkat tangannya memberi isyarat agar asistennya itu diam.

​"Maafkan kelancangan asisten saya, dia hanya terlalu khawatir dengan keadaan keluarga saya."

​"Lalu apa yang kamu inginkan sebagai imbalan jika uang tidak bisa menggerakkan hatimu?"

​"Saya tidak meminta imbalan apa-apa di awal karena saya belum tentu bisa menyembuhkan putri Bapak."

​Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kusamnya.

​"Saya harus melihat langsung kondisi pasien, denyut nadinya, dan gejala yang dialaminya."

​"Jika memang penyakitnya bisa saya tangani, saya akan melakukannya karena ini sudah menjadi tugas seorang tabib."

​Wajah Pak Herman langsung berubah menjadi sangat cerah dipenuhi harapan baru.

​"Terima kasih banyak, anak muda."

​"Mari kita berangkat ke kediaman saya sekarang juga tanpa menunda waktu lagi."

​Bima mengangguk pelan mengiyakan ajakan miliarder paruh baya tersebut.

​"Beri saya waktu lima menit untuk mencuci muka dan mengambil barang bawaan saya di loker ruang ganti."

​Beberapa saat kemudian, Bima sudah kembali dengan wajah yang lebih bersih dan membawa buntalan kain lusuhnya.

​Mereka bertiga berjalan menuju mobil sedan hitam mewah yang terparkir di luar area proyek.

​Blam.

​Pintu mobil ditutup rapat dan kendaraan mahal itu langsung melaju meninggalkan lokasi konstruksi.

​Nguuuung.

​Suara mesin mobil menderu halus membelah padatnya jalan raya ibukota menjelang sore hari.

​Bima duduk di kursi belakang berdampingan dengan Pak Herman dalam diam.

​Dia mengamati interior mobil yang terbuat dari kulit asli dengan aroma wangi yang menenangkan.

​"Ini pertama kalinya aku menaiki kendaraan sebagus ini sejak aku lahir."

​Bima membatin sambil terus menatap pemandangan kota dari balik kaca jendela yang gelap.

​Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam karena terjebak kemacetan jam pulang kerja.

​Pak Herman terlihat terus gelisah sambil berulang kali melihat layar ponsel genggamnya.

​"Apakah kondisi putri Bapak tiba-tiba memburuk?" tanya Bima memecah keheningan.

​"Dokter pribadi yang berjaga di rumah baru saja mengabarkan bahwa suhu tubuh Clara terus menurun."

​"Dia sudah tidak sadarkan diri sejak dua hari yang lalu dan nafasnya semakin melemah."

​Bima mengerutkan keningnya mulai menganalisis informasi awal yang diberikan oleh Pak Herman.

​"Suhu tubuh menurun drastis hingga hilang kesadaran, ini bukan penyakit medis biasa."

​"Sepertinya ada aliran energi negatif yang menyumbat jalur meridian utama di tubuhnya."

​Bima kembali berbicara di dalam hatinya sambil terus meraba kotak jarum perak di dalam buntalannya.

​Ciiit.

​Mobil sedan itu akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan gerbang penjagaan yang sangat ketat.

​Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lebih pantas disebut sebagai istana modern.

​Halaman depannya sangat luas dengan air mancur besar di bagian tengahnya.

​Bima turun dari mobil dan menatap takjub bangunan megah bergaya Eropa klasik di depannya.

​"Ayo cepat masuk, kita tidak punya banyak waktu lagi."

​Pak Herman berjalan setengah berlari memimpin langkah menuju pintu utama rumahnya.

​Seorang kepala pelayan paruh baya langsung membukakan pintu dengan wajah panik.

​"Tuan besar, Nona Clara kejang-kejang dan Profesor Wijaya sedang berusaha menenangkannya di dalam."

​Tanpa menjawab, Pak Herman langsung bergegas menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.

​Bima mengikuti dari belakang dengan langkah yang tenang namun sangat cepat dan ringan.

​Setibanya di depan sebuah kamar tidur ganda yang sangat besar, pintu langsung dibuka paksa.

​Brak!

​Di dalam kamar itu terdapat ranjang berukuran besar dengan banyak peralatan medis menempel padanya.

​Seorang gadis cantik berwajah sangat pucat terbaring tak berdaya dengan tubuh yang terus bergetar hebat.

​Beberapa orang berpakaian jas putih terlihat panik menyuntikkan berbagai macam cairan ke dalam infus.

​"Berhenti menyuntikkan obat penenang itu, kalian hanya akan mempercepat kematiannya."

​Suara Bima tiba-tiba menggema keras memenuhi seisi kamar mewah tersebut.

​Semua orang di ruangan itu langsung menoleh menatap kuli bangunan kotor yang berani membentak mereka.

​Seorang pria tua berkacamata dengan name tag Profesor Wijaya menatap Bima dengan penuh amarah.

​"Siapa gembel kotor ini, Pak Herman?"

​"Berani-beraninya dia masuk ke ruang sterilisasi dan mengganggu pekerjaan medis kami."

​Pak Herman melangkah maju dan berdiri menengahi Bima dan para dokter tersebut.

​"Dia adalah tabib yang saya bawa untuk mengobati Clara sekarang juga."

​Mendengar hal itu, Profesor Wijaya tertawa meremehkan dengan suara yang sangat sumbang.

​"Bapak pasti sudah gila karena terlalu stres memikirkan penyakit Clara."

​"Bagaimana mungkin pemuda udik ini bisa menyembuhkan penyakit langka yang bahkan pengetahuan modern gagal memahaminya?"

​Bima sama sekali tidak memperdulikan hinaan dari profesor sombong tersebut.

​Fokus matanya kini sepenuhnya tertuju pada tubuh Clara yang memancarkan aura dingin berwarna kebiruan.

​"Racun Es Seribu Tahun."

​"Ternyata di zaman modern seperti ini masih ada yang menggunakan metode kotor seperti itu."

​Bima bergumam pelan memikirkan diagnosis awalnya yang membuat darahnya mendidih.

​Tiba-tiba alat monitor detak jantung di samping ranjang berbunyi sangat nyaring dan panjang.

​Tiiiiiit.

​Garis di layar monitor itu menunjukkan pergerakan yang mulai mendatar pertanda jantung Clara akan segera berhenti.

​"Minggir, biarkan aku yang mengambil alih sekarang sebelum gadis ini benar-benar mati."

​Bima melangkah maju menerobos para dokter dan langsung membuka buntalan kain lusuhnya dengan cepat.

Bab 3

Tiiiiiit.

​Suara nyaring dari alat monitor jantung itu seakan menjadi penanda kematian yang menggema di dalam kamar mewah tersebut.

​Garis hijau di layar monitor yang tadinya bergelombang kini berubah menjadi lurus tanpa ada jeda.

​Profesor Wijaya dan tiga orang perawat di ruangan itu langsung panik tak karuan melihat kejadian tersebut.

​"Cepat siapkan alat kejut jantung sekarang juga sebelum kita kehilangan dia!" teriak Profesor Wijaya dengan keringat dingin mengucur deras di dahinya.

​Namun sebelum seorang perawat menyentuh alat kejut itu, sebuah tangan kasar namun kokoh sudah menahannya.

​Itu adalah tangan Bima yang langsung menggeser tubuh perawat itu dengan gerakan yang sangat lembut tapi bertenaga.

​"Jangan gunakan listrik pada tubuh yang meridiannya sedang membeku total."

​"Kalian hanya akan menghancurkan organ dalamnya hingga menjadi serpihan es jika melakukan itu."

​Bima berbicara dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk.

​Profesor Wijaya membelalakkan matanya merasa sangat terhina karena seorang kuli bangunan berani mengajarinya ilmu medis.

​"Berani sekali kau menyentuh asistenku dan melarang prosedur medis standar kami."

​"Satpam, cepat seret gembel ini keluar dari ruangan sekarang juga!"

​Dua orang pria berbadan besar berseragam hitam langsung melangkah maju dari arah pintu masuk kamar.

​Mereka bersiap untuk menangkap kedua lengan Bima dan menyeretnya keluar.

​"Berhenti di tempat kalian sekarang juga atau kalian semua aku pecat!"

​Suara bentakan Pak Herman tiba-tiba meledak dengan sangat keras menghentikan pergerakan kedua satpam tersebut.

​Wajah miliarder itu memerah menahan amarah yang luar biasa besar karena putrinya sedang meregang nyawa.

​"Profesor Wijaya, Anda dan tim Anda sudah gagal menyelamatkan nyawa putri saya."

​"Sekarang biarkan pemuda ini melakukan tugasnya atau Anda akan berurusan dengan pengacara saya."

​Profesor Wijaya terdiam kaku menelan ludahnya sendiri mendengar ancaman serius dari orang terkaya di kota itu.

​Dia mundur beberapa langkah namun matanya tetap menatap sinis ke arah Bima.

​"Baiklah Pak Herman, jika itu kemauan Anda."

​"Tapi jika terjadi apa-apa pada Nona Clara, saya dan tim medis saya tidak akan bertanggung jawab sama sekali."

​Bima sama sekali tidak mempedulikan ocehan dokter tua yang sombong tersebut.

​Dia langsung fokus menatap wajah Clara yang kini sudah membiru seperti mayat yang membeku.

​Bima membuka buntalan kain lusuhnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu usang berukir naga.

​Klak.

​Kotak kayu itu terbuka dan memperlihatkan puluhan jarum perak dengan berbagai macam ukuran yang tersusun sangat rapi.

​Bima mengambil tiga buah jarum perak terpanjang menggunakan tangan kanannya.

​Sring.

​Jarum-jarum itu memantulkan cahaya lampu kamar seolah memiliki nyawanya sendiri.

​"Racun Es Seribu Tahun ini sudah menyebar sampai ke jantung dan hampir membekukan aliran darah utamanya."

​"Aku harus membuka tiga titik gerbang kehidupan terlebih dahulu untuk memancing racunnya keluar."

​Bima membatin sambil memejamkan matanya sejenak untuk memusatkan tenaga dalam di telapak tangannya.

​Ketika dia membuka matanya kembali, pandangannya berubah menjadi sangat tajam dan fokus.

​Wush.

​Tangan Bima bergerak dengan kecepatan yang sangat luar biasa hingga tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.

​Jleb! Jleb! Jleb!

​Tiga jarum perak itu langsung tertancap sempurna di tiga titik mematikan di tubuh Clara.

​Satu jarum di tengah dada, satu di pangkal leher, dan satu lagi tepat di ubun-ubun kepalanya.

​Profesor Wijaya hampir saja berteriak melihat jarum panjang itu ditusukkan ke area vital tanpa ragu sedikit pun.

​"Dia benar-benar sudah gila menancapkan benda berkarat itu ke kepala Nona Clara!" bisik Profesor Wijaya pada asistennya.

​Namun pemandangan selanjutnya membuat semua dokter dan perawat di ruangan itu terbungkam tanpa kata.

​Bima mulai memutar ujung jarum perak di dada Clara secara perlahan menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

​Setiap kali Bima memutar jarum itu, terlihat ada uap putih tipis yang keluar dari pori-pori kulit Clara.

​Suhu di dalam ruangan ber AC itu mendadak terasa semakin dingin menusuk tulang.

​"Hawa dingin apa ini?"

​"Kenapa rasanya seperti kita sedang berada di dalam lemari pendingin?"

​Pak Herman bergumam pelan sambil menggosok kedua lengannya yang mulai merinding.

​Bima tidak menjawab dan terus menyalurkan energi panas dari tenaga dalamnya melalui jarum perak tersebut.

​Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahi Bima membasahi wajahnya yang lelah.

​Mengobati Racun Es Seribu Tahun bukanlah hal yang mudah bahkan untuk seorang tabib sakti sekalipun.

​Apalagi Bima sudah menghabiskan banyak energinya seharian penuh untuk bekerja sebagai kuli bangunan.

​"Ayo keluarlah kau racun sialan."

​"Jangan bersembunyi di balik pembuluh darah gadis ini."

​Bima menggeram pelan sambil menekan jarum perak di ubun-ubun Clara semakin dalam.

​Tiba-tiba kelopak mata Clara yang tertutup rapat mulai bergetar pelan.

​Jari-jari tangannya yang pucat pasi juga mulai menunjukkan sedikit pergerakan.

​Tiiit... tiiit... tiiit...

​Suara mesin monitor jantung yang tadinya mendatar kini kembali memunculkan ritme detak jantung yang normal.

​Garis hijau di layar itu kembali bergelombang membuat Pak Herman menangis haru seketika.

​"Ya Tuhan, anakku kembali bernafas."

​Pak Herman hampir saja berlari memeluk putrinya jika saja Bima tidak mengangkat tangannya memberi isyarat untuk berhenti.

​"Jangan mendekat dulu, Pak Herman."

​"Proses pengeluarannya baru saja akan dimulai sekarang."

​Tepat setelah Bima mengucapkan kalimat itu, dada Clara langsung naik turun dengan sangat cepat.

​Uhuk! Uhuk!

​Clara terbatuk keras dengan mata yang masih terpejam erat menahan rasa sakit.

​Gadis cantik itu tiba-tiba memiringkan kepalanya ke arah samping ranjang.

​Hoek!

​Sebuah gumpalan darah kental berwarna hitam pekat keluar dari mulut Clara dan mengotori lantai marmer yang putih.

​Darah hitam itu mengeluarkan asap dingin dan langsung membeku begitu menyentuh lantai kamar.

​Bau busuk yang sangat menyengat langsung menyebar memenuhi seluruh penjuru ruangan.

​Beberapa perawat terpaksa menutup hidung mereka karena tidak tahan dengan bau amis tersebut.

​"Racun utama yang menyumbat jantungnya sudah berhasil aku keluarkan."

​"Sekarang nyawanya sudah lepas dari masa kritis dan dia bisa beristirahat dengan tenang."

​Bima mencabut ketiga jarum peraknya dengan gerakan yang sangat cepat lalu menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu.

​Wajah Clara yang tadinya membiru pucat kini mulai memunculkan sedikit rona merah di kedua pipinya.

​Nafas gadis itu juga terdengar jauh lebih teratur dan tenang dibandingkan sebelumnya.

​Profesor Wijaya berjalan mendekati layar monitor jantung dengan langkah kaki yang gemetar.

​Dia menatap angka-angka dan grafik di layar itu dengan pandangan tidak percaya sama sekali.

​"Ini mustahil, bagaimana mungkin pengobatan kuno seperti ini bisa menghidupkan kembali sel yang sudah mati?"

​"Ilmu kedokteran mana yang mengajarkan hal konyol seperti ini?"

​Profesor Wijaya terus bergumam sendiri seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.

​Bima hanya tersenyum tipis melihat reaksi berlebihan dari dokter spesialis tersebut.

​"Di atas langit masih ada langit, Profesor."

​"Jangan pernah meremehkan ilmu peninggalan leluhur yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu."

​Bima mengambil kain lap kotor dari sakunya lalu mengusap keringat di wajahnya sendiri.

​Pak Herman langsung menghampiri Bima dan menggenggam kedua tangan pemuda itu dengan sangat erat.

​"Terima kasih banyak, Nak Bima."

​"Kamu benar-benar malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untuk keluarga kami hari ini."

​Air mata kebahagiaan terus mengalir membasahi pipi pria paruh baya yang terkenal tegas tersebut.

​Bima mengangguk pelan namun tubuhnya tiba-tiba goyah ke belakang.

​Bruk.

​Bima terduduk di tepi ranjang karena kedua kakinya mendadak terasa lemas tak bertenaga.

​"Nak Bima, kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Herman dengan nada panik.

​"Saya tidak apa-apa, Pak Herman, hanya kehabisan tenaga saja."

​"Menyalurkan energi untuk menekan racun ganas itu memakan terlalu banyak stamina saya."

​Bima mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah.

​Dia menyadari bahwa kemampuannya masih jauh dari kata sempurna jika dibandingkan dengan mendiang gurunya.

​Jika gurunya yang turun tangan, menyembuhkan racun ini mungkin hanya butuh waktu kurang dari satu menit tanpa perlu berkeringat.

​"Pelayan, cepat siapkan kamar tamu yang paling mewah di lantai ini untuk Nak Bima beristirahat."

​"Dan siapkan juga hidangan makan malam yang paling bergizi untuk memulihkan tenaganya."

​Pak Herman langsung memberikan perintah tegas kepada kepala pelayannya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.

​"Baik, Tuan Besar, akan segera saya laksanakan."

​Kepala pelayan itu membungkuk hormat lalu bergegas pergi menyiapkan segala keperluan tamu istimewa majikannya.

​Bima mencoba berdiri namun dia kembali terhuyung karena kepalanya terasa sangat pusing.

​Dua orang satpam yang tadinya hendak mengusir Bima kini dengan sigap memapah tubuh pemuda itu.

​Sikap mereka berubah drastis menjadi sangat hormat setelah melihat keajaiban yang ditunjukkan oleh Bima.

​"Mari kami bantu berjalan menuju kamar Anda, Tuan Muda."

​Satpam berbadan besar itu memanggil Bima dengan sebutan Tuan Muda, bukan lagi gembel atau anak kampung.

​Bima hanya pasrah saat kedua satpam itu menuntunnya keluar dari kamar Clara.

​Saat Bima berjalan melewati Profesor Wijaya, pemuda itu menyempatkan diri untuk berhenti sejenak.

​"Profesor, tolong bersihkan darah hitam di lantai itu menggunakan kain yang sudah direndam air mendidih."

​"Jangan sampai ada yang menyentuh darah itu dengan tangan kosong atau orang itu akan ikut keracunan."

​Setelah memberikan peringatan itu, Bima kembali melanjutkan langkahnya menyusuri lorong rumah mewah tersebut.

​Profesor Wijaya hanya bisa terdiam membisu menatap lantai yang kotor oleh darah beku itu.

​Harga dirinya sebagai dokter paling senior di kota ini benar-benar hancur lebur malam ini di tangan seorang kuli bangunan.

​"Siapa sebenarnya pemuda desa ini?"

​"Dari mana dia mempelajari metode akupuntur tingkat tinggi yang hanya ada di buku-buku kuno legendaris?"

​Profesor Wijaya terus bertanya-tanya di dalam kepalanya yang dipenuhi rasa penasaran tingkat tinggi.

​Sementara itu di dalam kamar tamu yang sangat mewah, Bima langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar yang empuk.

​Dia menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh lampu kristal gantung yang sangat indah.

​"Kamar ini rasanya lebih besar dari ukuran seluruh balai desa di kampung halamanku."

​"Sepertinya takdir mulai membawaku ke jalan yang jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan."

​Bima memejamkan matanya mencoba memulihkan energi tenaga dalamnya yang terkuras habis.

​Pikirannya kembali melayang pada sosok gadis cantik yang baru saja dia selamatkan nyawanya.

​"Siapa orang jahat yang tega menanamkan Racun Es Seribu Tahun ke dalam tubuh gadis muda sepertinya?"

​"Racun itu butuh waktu bertahun-tahun untuk bereaksi, yang artinya musuh keluarga ini sudah merencanakannya sejak lama."

​Bima menghela nafas panjang menyadari bahwa dirinya kini telah terseret ke dalam pusaran konflik keluarga kaya raya.

​Dia tahu bahwa tugasnya di rumah ini belum selesai karena racun di tubuh Clara baru keluar sebagian kecilnya saja.

​Untuk menyembuhkan Clara secara total, Bima harus melakukan terapi rutin selama beberapa bulan ke depan.

​Hal itu berarti Bima harus tinggal lebih lama di rumah mewah ini dan menghadapi segala intrik yang ada di dalamnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!