Di sebuah tongkrongan sirkuit, tampak lima orang remaja mencolok dengan motor-motor besarnya. Di hadapan mereka berdiri lima orang lain, para lawan balapan. Yang membuat suasana semakin menegangkan adalah kenyataan bahwa ketua dari salah satu kelompok itu ternyata seorang perempuan.
“Jangan ngaku jadi raja jalanan kalau lo belum bisa ngalahin gue,” ucap Emily menantang.
“Cih! Kalau bukan karena kesombongan lo, males gue ngeladenin lo,” balas lawannya sinis.
“Bilang aja lo takut sama gue,” sahut Emily dengan senyum meremehkan.
“Jangan keburu bangga. Kalau lo udah bisa ngalahin gue, baru lo bisa ngaku jagoan,” jawab Rey dengan tatapan tajam.
“Ayo, siapa takut? Taruhannya apa?
Sepuluh juta, seperti yang sudah ditentukan?” Rey menantang lagi.
“Murahan banget, cuma sepuluh juta…” Emily mendengus.
“Kalau lo nggak mau, ya udah. Masih banyak yang nantangin gue,” ucap Rey, menambah panas suasana.
“Oke, gue terima. Bukan karena uang murahan lo itu, tapi karena gue pengen ngalahin lo!” tegas Emily.
Akhirnya, seorang wasit berdiri di depan, mengibarkan bendera. Seketika, motor Rey dan Emily melaju kencang di lintasan sirkuit, membuat semua orang menahan napas.
Sorak-sorai pecah ketika dua geng motor paling ditakuti di sirkuit malam itu saling berhadapan.
Di satu sisi, berdiri Black Lion Riders (BLR) dengan motor-motor besar yang menderu ganas, dipimpin Rey. Aura mereka sangar, penuh percaya diri.
Di sisi lain, geng cewek tangguh, Sport Queen, dengan ketuanya Emily yang terkenal nekat dan tak pernah gentar menghadapi siapapun.
Bendera start berkibar.
Dalam sekejap, Emily dan Rey melesat bagaikan peluru. Deru mesin memekakkan telinga, lampu neon sirkuit memantul di bodi motor mereka yang melaju semakin kencang.
“Wooo! Gas terus, Rey!” teriak salah satu anggota BLR.
Emily tak mau kalah. Ia menunduk, memeluk setang, dan memutar gas habis-habisan. Rambut panjangnya yang terurai di balik helm berayun liar. Setiap tikungan ia libas dengan lincah, seakan motor itu bagian dari dirinya.
Rey melirik sekilas, senyum sinis terlihat di wajahnya. Ia sengaja memotong jalur Emily di tikungan tajam.
“Coba lo bisa lewatin ini!” serunya.
Namun Emily justru memutar setang dengan presisi sempurna, menyelip tipis di sisi kanan. Suara gesekan ban hampir bikin semua yang menonton menahan napas. Motor Emily lolos dengan selisih tipis, bahkan sempat menyalip Rey.
“Gila! Cewek itu beneran singa betina!” gumam salah satu anggota Sport Queen dengan bangga.
Lintasan terakhir semakin menegangkan. Rey mencoba menambah kecepatan, tapi terlalu agresif di tikungan terakhir membuat motornya sedikit oleng.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Emily. Ia menyalip dengan mulus, melewati garis finish hanya setengah detik lebih cepat dari Rey.
Sorakan meledak.
“Emily menang! Sport Queen juaraaaa!”
Rey menghentikan motornya dengan wajah masam. Nafasnya terengah, genggaman tangannya di setang sampai bergetar. Sedangkan Emily melepaskan helmnya dengan senyum puas.
“Gue udah bilang, jangan ngaku raja jalanan sebelum bisa ngalahin gue,” ucapnya, menatap Rey tajam.
Semua mata tertuju pada Emily. Malam itu, nama Sport Queen makin harum, dan Emily resmi mengukuhkan dirinya sebagai ratu jalanan yang tak terbantahkan.
Rey turun dari motornya dengan wajah masam, lalu berseru lantang,
“Gue bukan kalah. Gue cuma ngalah aja sama cewek. Kasihan kan kalau kalah lo pasti mewek.”
Emily langsung mendengus sinis. Ia melipat tangan di dada, lalu menjawab tajam,
“Idih, bilang aja lo nggak sanggup ngelawan gue. Capek nggak sih, nyari alasan terus?”
Sambil tersenyum miring, Emily mengangkat tangannya dan memainkan jari tengah tepat di hadapan Rey. Sorak-sorai penonton langsung pecah.
“Ayo, geng! Clubing ! Kita rayakan kemenangan gue malam ini!” teriak Emily penuh percaya diri.
Sport Queen bersorak riuh, musik keras dari motor yang meraung, tawa, dan tepuk tangan membuat suasana semakin panas. Sementara itu, anggota BLR hanya bisa menahan gengsi, menatap tajam tapi tak bisa menyangkal kenyataan: malam itu, Emily adalah pemenangnya.
Di tengah keramaian, geng Sport Queen masuk dengan penuh percaya diri. Emily berjalan paling depan dengan jaket kulit terbuka, rambut tergerai bebas. Di belakangnya ada Ziva yang selalu kalem tapi tatapannya tajam, Caca yang centil dengan dress mini berkilau, Nara yang cuek tapi suka bikin suasana pecah, dan Dion—satu-satunya cowok yang jadi semacam bodyguard sekaligus sahabat dekat mereka.
“Woy, DJ-nya mantap banget malam ini!” teriak Nara sambil langsung menggoyangkan badan ke arah dance floor.
Caca ngakak, menenggak minumannya, lalu ikut turun ke lantai dansa. “Nggak seru kalau kita cuma duduk, ayo lah!”
Ziva memilih duduk dulu, menatap kerumunan orang yang menari dengan tatapan mengamati. “Lo semua heboh banget, gue liatin aja deh dulu,” katanya dengan senyum tipis.
Emily tersenyum miring, lalu menyalakan rokoknya. “Santai aja, Zi. Malam ini kita rayain kemenangan gue lawan si BLR kemarin. Geng kita udah makin dipandang, ngerti?”
Dion hanya geleng-geleng kepala, duduk di samping Emily. “Lo semua kayak singa betina lepas kandang. Untung gue ikut, kalo enggak, pasti ada aja cowok norak yang nyamperin.”
Belum lama Dion ngomong, bener aja. Beberapa cowok asing udah mulai ngelirik ke arah mereka, ada yang coba nyapa Caca dan Nara di dance floor.
Caca dengan gaya centilnya malah ketawa, tapi Nara nyeletuk ketus, “Nggak level, Bro. Jangan buang waktu gue.”
Emily menepuk meja, mengangkat gelasnya tinggi. “Sport Queen! Malam ini punya kita!” serunya.
Gelas-gelas beradu, musik makin liar, dan malam itu geng Sport Queen benar-benar menunjukkan kalau mereka bukan cuma ratu jalanan… tapi juga ratu di mana pun
mereka melangkah.
Hampir menunjukkan pukul setengah dua dini hari, Emily tidak begitu mabuk karena dia hanya meminum beberapa teguk saja, dan dia pulang diantar oleh Ziva.
Diam-diam dia mengendap masuk seperti biasa. Dia pikir cara ini tidak akan pernah ketahuan oleh orang tuanya. Tapi saat dia membuka pintu dapur perlahan, sang papa sudah berdiri sambil memegang pinggangnya, matanya melotot. Di belakangnya ada Ibu Amanda yang setia menemani suaminya.
“Anak gadis jam satu malam baru pulang, bagus! Motor dititip di rumah teman, pulang dianterin teman supaya nggak kedengeran motornya masuk, iya?” ucap Papa Evan dengan nada geram.
“Kamu ini mau jadi apa, Emily? Lihat abangmu, Altan. Dia tidak pernah neko-neko, fokus kuliah kedokteran. Sedangkan kamu? Kamu ini perempuan, kenapa sulit sekali diatur? Apa baik anak perempuan jam segini baru pulang, hah? Kenapa handphone kamu silent? Balapan lagi, iya? Mau Papa bakar motor kamu?”
“Jangan, Pa… jangan. Please, maafin Ily, Pah…” ucap Emily dengan nada panik.
“Sudah berapa kali kamu minta maaf, Ily? Sudah berapa kali Ibu dan Papa maafin kamu? Kamu ini anak gadis, harus bagaimana lagi Ibu dan Papa mendidik kamu? Apalagi sebentar lagi Papa kan tugas ke luar negeri. Bagaimana Ibu bisa membiarkan kamu, sedangkan sama kakakmu saja kamu sudah tidak nurut,” ucap Ibu Amanda dengan nada kecewa.
“Ini yang terakhir kalinya kamu balapan sampai dini hari. Jika besok-besok kamu melakukan hal yang sama, apalagi sampai clubbing dan mabuk seperti ini, pilihannya cuma dua: masuk pesantren atau menikah!”
“Haaaah?! Paaa, kok gituu…” seru Emily kaget.
“Cepat masuk kamar! Bersihkan tubuhmu dari bau alkohol itu!” ucap Papa Evan tegas.
Keesokan harinya, padahal jadwal kuliahnya siang, tapi Emily tetap harus ikut sarapan di pagi hari saat mereka berkumpul. Emily menundukkan kepalanya di meja. Orang tuanya pikir Emily sedang merenungi kesalahannya, padahal tahu-tahu dia malah tertidur di meja makan.
“Dek, emangnya meja makan tempat tidur ya?” ucap Altan sambil memegang bahu adiknya.
“Ngantuk, Bang…” jawab Emily lirih.
“Balapan lagi? Pulang jam berapa?”
“Hampir jam satu. Itupun karena aku menang, Bang… jadi ya aku senang-senang dulu untuk merayakan kemenanganku. Aku cuma minum dikit kok, Bang. Janji nggak lagi. Jangan bilang papa ya…”
“Telat. Bukannya Papa sudah tahu, ya?”
Emily langsung terperanjat kaget.
“Astagaaaaa… Hehe, maaf, Pa. Janji yang terakhir…” ucapnya dengan nada panik.
“Papa sudah tahu. Orang mulut kamu saja semalam pulang bau alkohol. Dan jangan harap setelah ini kamu bisa bebas lagi. Ibu sudah menyuruh Mbak buat mengemasi barang kamu. Besok lusa, sebelum Papa berangkat ke luar negeri, kamu harus sudah masuk pesantren!”
“Kok gitu sih, Pah?! Nggak, nggak, nggak! Ih, Papa gimana sih? Bu, aku nggak mau masuk pesantren. Bu, aku kan lagi kuliah…”
“Papa masukin kamu ke universitas asrama yang ada pesantrennya. Jadi bisa sambil kuliah, bisa sambil mengaji juga. Apa perlu Papa kirimkan kamu ke Mesir, ke Tarim yang lebih dalam lagi?”
“Apa-apaan, Pa?! Aku nggak mau! Aku nggak mau pesantren, pokoknya nggak mau! Papa, janji, Emi janji… Emi nggak bakal mabuk-mabukan lagi…” ucap Emily terbata-bata dengan nada panik.
“Kemarin juga perkataanmu seperti itu, dan buktinya semalam ngelakuin lagi. Papa punya anak perempuan satu-satunya, berharap bisa jadi anak yang sholehah. Lah ini malah jadi anak yang sholehot, gimana ceritanya? Kalau sampai ada yang apa-apain kamu gimana, Emi? Kamu itu anak gadis!” ucap Papa Evan dengan nada keras.
“Emi bisa jaga diri, Pah. Percaya sama Emi. Emi bisa beladiri, bisa melawan mereka yang jahat…”
“Bisa jaga diri, kok pacaran, Dek?” sela Altan.
“Itu kan buat senang-senang aja, Bang. Biar nggak gabut…”
“Pacaran ujung-ujungnya apa?
Abang juga punya pacar, hayo. Anggota BM itu juga kan pacar Abang…”
“Tapi Abang nggak seliar kamu, Dek. Kamu pacaran udah kayak apaan, nempel kayak perangko. Kalau Abang itu sewajarnya aja, nggak kayak kamu. Kemana-mana berdua, itu udah di luar batas deh. Apalagi kamu juga sering bolos kuliah…”
“Yang sudah-sudah, tetap keputusan Papa. Kamu harus masuk pesantren besok lusa. Hari ini kamu terakhir kuliah, dan Papa akan mengurusi kepindahan kamu. Tinggal milih, mau pesantren di dalam negeri atau ke luar negeri.”
“Papa nggak mau! Papa kenapa sih?! Ya udah, Papa maunya apa? Aku nggak balapan lagi, ya. Nggak, aku janji. Semalam yang terakhir. Aku janji, Pa…” ucap Emily cepat dengan nada panik.
“Janji kamu sudah nggak bisa dipegang, Adik,” ucap Ibu Amanda tegas.
“Terus Emi harus kayak gimana, Ibu? Emi janji, Emi minta maaf, nggak bakal lagi deh…”
“Seperti kata Papa semalam. Pilihannya cuma dua: nikah atau pesantren.”
“Pa… pilihannya sulit sekali. Pa Alex belum siap nikah, Pah…”
“Emang siapa yang mau nikahin kamu sama Alex? Kamu pikir Papa mau nikahin kamu sama bocah itu?”
“Lah terus sama siapa, Pa? Aku kan sudah punya pacar. Ya, Pa… aku sayang banget sama dia, Pah…”
“Tuh, belum apa-apa juga udah kayak gitu. Amit-amit kalau sampai ada apa-apa. Orang tua yang malu.”
“Tapi nggak dinikahin juga dong, Pa…”
“Ya udah, berarti pesantren ke Tarim, ya. Atau ke Mesir.”
“Papa, please…”
“Papa tunggu jawaban kamu sepulang kuliah nanti. Pilih pesantren atau menikah.”
“Tapi masalahnya menikahnya dengan siapa, Papa? Aku sayang banget sama Alex, Papa…”
“Papa nggak suka sama Alex, dan Papa nggak bakal ngijinin kamu nikah sama laki-laki itu sampai kapanpun, ya kan, Bu?”
“Iya, Emi. Ibu sudah siapkan calon suami kamu. Jadi Ibu rasa sepertinya menikahkan kamu adalah hal yang terbaik daripada kamu masuk ke dalam pergaulan bebas seperti itu bersama laki-laki yang bukan suamimu. Kalau ada apa-apa, siapa nanti yang akan repot? Orang tua juga, kan. Setidaknya kalau kamu punya suami, kamu punya batasan. Siapa tahu suamimu bisa mendidik. Soalnya kamu sudah kebal banget sama Papa, udah nggak nurut sama Ibu, apalagi sama Abangmu juga nggak bisa nurut…”
“Tapi nggak mau nikah juga, Bu. Apalagi calonnya aku nggak tahu siapa. Kenapa harus aku duluan yang nikah? Kan ada Abang. Abang aja duluan yang nikah!”
“Abang cowok. Adik bisa saja kamu langkahi. Ya kalau nggak mau nikah, ya berarti berangkat pesantren. Nggak boleh pegang HP, nggak boleh kenal media sosial.”
“Arggghhh! Kok gini sih….” teriak Emily frustasi.
Saat sampai di kampus, cuaca cukup terik. Emily berangkat diantar sopir karena motornya dibawa oleh Ziva. Seperti biasa mereka sudah janjian, nanti pas pulang baru Emily ambil motornya.
Saat turun tiba-tiba dia berpapasan dengan Reyze.
Mereka memang satu fakultas, fakultas bisnis. Tapi mereka tidak pernah akur. Di kelas pun mereka sering berdebat dan salah paham.
“Apa lo liat-liat? Masih belum menerima kekalahan?” ucap Emily dengan nada ketus.
“Baru menang segitu aja bangga. Itu karena gue lagi apes aja,” ucap Rey membela diri.
“Idih, kalau kalah, ya kalah aja. Nggak usah kayak gitu, nggak nerima kenyataan. Cupu lo!” sahut Emily sambil memberikan jari tengahnya.
“Emily sialan! Liat aja, setelah ini gue yang akan pegang pialanya!” balas Rey geram.
“Coba aja kalau bisa. Bleweeeek!” ejek Emily.
“Bebyyyy!” ucap Alex yang langsung meneriaki Emily dari kejauhan.
“Hai, Beb…” jawab Emily langsung tersenyum.
“Kamu kuliah siang ini?” tanya Alex.
“Iyalah, jam segini baru datang, berarti kelasku siang,” sahut Emily santai.
“Kamu ngapain ngobrol sama dia?” Alex melirik Rey dengan nada cemburu.
“Oh, itu cuma urusan balapan. Semalam kamu nggak nonton, padahal aku menang, loh.”
“Oh ya? Sport Queen menang lagi?”
“Iyalah. Emily gitu, sang raja betina. Nggak mungkin ada yang mengalahkan. Apalagi model kayak Rey. Gayanya aja dia jadi ketua BLR, aslinya cupu. Dia menangnya cuma pas lawan geng WK doang. Giliran tanding sama geng gue, kalah. Dia hahaha…” ucap Emily penuh percaya diri.
“Kamu benar-benar hebat, Baby…” ucap Alex sambil menatapnya kagum.
“Woi, pacaran bae loh!” teriak Nara dari belakang.
“Apa sih lo, Ner… tuh bayi lo ngikutin terus…” sahut Emily sebal.
“Hhhha! Emily anj, bilang gue bayi. Nggak sadar loh siapa yang paling manja…” ucap Dion ikut nyeletuk.
“Kantin, ya? Masih ada waktu kan?” ucap Ziva.
“Yoiii. Caca mana?” tanya Emily.
“Toilet, dia nyusul katanya.”
Saat perjalanan menuju ke kantin, tiba-tiba Alex nyeletuk, “Baby, katanya geng Winner King sekarang nantangin lo. Mau diterima nggak? Lumayan gede, loh, 30 juta.”
Emily tak langsung menjawab. Pikirannya masih tertahan pada perdebatan dengan orang
tuanya semalam. Apakah dia harus melawan lagi?
Emily masih melamun saat itu, Dion langsung menjawab,
“Kenapa lo selalu kambing hitamkan Emily, sih, Lex? Kenapa nggak lo aja yang turun ke jalan?” ucap Dion dengan nada kesal.
“Ya, ya… gue hanya menyampaikan pesan mereka. Mereka pengen nantangin Emily, bukan gue,” bela Alex.
“Tapi kan lo juga bisa balapan. Kenapa lo harus ngorbanin Emily terus? Bukankah Winner King juga nggak kalah sama BLR? Mereka juga haus kekuasaan…” sahut Dion, masih emosi.
“Bukannya lo tahu gue masih vakum dari dunia perbalapan…” jawab Alex dengan nada mengelak.
“Ya terus kenapa lo seolah-olah terus menginginkan Emily yang jadi tameng utama? Kan masih banyak anggota yang lain,” ucap Dion tegas.
“Ya kan Emily yang hebat. Emily juga sekarang yang jadi ketuanya Sport Queen, bukan lagi Sport King. Jadi ya wajar kalau Emily yang turun tangan,” Alex mencoba membela diri.
“Ya, tapi nggak tiap hari juga…” Dion mendengus kesal.
“Ya semua itu balik lagi ke lo, Ily,” ucap Ziva menatap Emily. “Gimana, Ily? Lo mau terima tantangan dari Marcel?”
“Gatau gue… bingung. Bukan gue takut sama Marcel, tapi semalam aja gue dimarahin sama bokap gue,” jawab Emily dengan nada bimbang.
“Tapi lumayan loh, Baby. Hadiahnya gede. Kalau kamu dapatkan, lumayan tuh bisa dipakai poya-poya…” ucap Alex penuh rayuan.
“Mokondo lu! Terus aja lo desak Emily buat balapan. Kenapa nggak lo aja yang terima tantangan? Bukannya lo juga masih anggota Sport Queen, ya?” ucap Caca tajam.
“Iya, pikiran lo mah duit-duit-duit. Emang bener mokondo lo!” tambah Ziva sebal.
“Sudah, sudah… nanti gue pikirin. Gue lagi mikirin dulu caranya gimana, bisa atau enggaknya. Nanti gue kabarin lagi malam, oke? Sekarang makan dulu deh…” ucap Emily akhirnya men
coba menenangkan keadaan.
*********
Sedangkan sore itu, di rumah besar milik keluarga Bimo, Rey tampak sudah mengenakan helm full-face-nya.
“Mau ke mana, Rey?” tanya Bunda Rania.
“Mau nongkrong, Bun, sama teman-teman…” jawab Rey santai.
“Bukannya baru pulang kuliah? Makan malam dulu, Nak.”
“Nanti aja, bun Rey ada urusan sama teman-teman.”
“Rey, jangan dulu berangkat. Ayah mau bicara,” ucap Ayah Bimo dengan nada tegas.
“Apa, Ayah?” Rey menoleh malas.
“Jangan terus-terusan keluyuran, Rey. Tiap hari kamu pulang tengah malam, terus bangun siang. Mau sampai kapan seperti itu? Kuliah yang betul! Siapa yang akan meneruskan Ayah kalau bukan kamu? Kamu anak satu-satunya Ayah. Cobalah nurut sama Ayah,” ucap Ayah menasehati.
“Ya terus, Rey harus kayak gimana?” sahut Rey dengan nada kesal.
“Kamu harus punya waktu. Jangan terus-terusan main di jalanan. Kalau ada apa-apa bagaimana?”
“Ayah, Rey itu sudah dewasa. Ini masa muda, jadi ya wajar dong kalau Rey banyak main.”
“Ya, tapi kamu inget janji dan pesan Ayah kan?” Ayah Bimo menatap tajam.
“Iya, Rey inget. Rey janji tidak akan main perempuan, karena Rey sudah dijodohkan… meskipun Rey nggak tahu siapa calonnya,” jawab Rey cuek.
“Kamu mau tahu siapa calonnya?”
“Males banget…” Rey mendengus.
“Yeee… ini sudah waktunya, Rey.”
“Waktunya apa, Ayah?” Rey mengerutkan dahi.
“Waktunya kamu bertemu dengan calonmu.”
“Nanti saja lah, Yah. Santai dulu napa…” jawab Rey malas.
“Nggak bisa, Rey. Malam ini kamu harus ikut!” ucap Ayah dengan nada tegas.
“Nggak bisa, Yah. Besok aja, please. Besok tanggal merah kan, besok aja deh ketemunya…” bujuk Rey.
“Hmmm… ya sudah, nanti Ayah bilang lagi.” Akhirnya Rey berpamitan kepada orang tuanya untuk kembali nongkrong bersama teman-teman geng Black Lion Riders, atau yang kerap disebut BLR.
Malam harinya, di kediaman Emily, dia menelpon Ziva.
“Lo beneran mau turun, Ily?” tanya Ziva dengan nada khawatir.
“Iya, Marcel nantang gue. Masa gue nggak jabanin,” jawab Emily mantap.
“Bukannya lo kemarin baru dimarahin bokap lo?”
“Ya… gue janji, ini yang terakhir deh,” ucap Emily agak ragu.
“Tapi ini udah malam. Apa lo aman keluar?”
“Justru itu, gue pakai motor lo deh. Nanti gue bagi jatah kalau gue dapet,” sahut Emily mencoba meyakinkan.
“Ini bukan masalah jatah, Ily. Nanti kalau bokap lo marah gimana?” suara Ziva makin serius.
“Mereka udah tidur. Gue yakin, ini yang terakhir deh.”
“Oke, kalau lo mau, gue sama Nara, Caca, Dion pasti bakal nemenin lo sama anak-anak Sport Queen yang lain. Tapi menurut gue sih, lo jangan terlalu nurut sama Alex. Ujung-ujungnya juga dia yang nikmatin duitnya,” ucap Ziva ketus.
“Kita pakai rame-rame, bukan cuma Alex doang. Lagian Alex kan pacar gue, wajarlah kalau dia nikmatin,” bela Emily.
“Lo cinta boleh, Ily… tapi bego jangan,” balas Ziva ketus.
“Gimana dong… gue udah kecintaan,” Emily nyengir kecil.
“Itu dia. Jangan sampai bukan cuma cinta, tapi keperawanan lo juga lo kasih,” sindir Ziva blak-blakan.
“Enggak lah! Mulut lo, Ziva. Soal itu gue nggak bakal bisa dirayu,” balas Emily cepat.
“Oke, kalau gitu gue jemput lo sekarang, ya. Anak-anak nunggu di sirkuit, udah gue chat.”
“Oke, sip baby. Thank you so much.”
Emily menutup telpon, lalu bergumam pelan, “Sorry, Papa… ini yang terakhir kalinya. Takut banget kalau besok beneran diberangkatkan, hahaha…”
Akhirnya, diam-diam Emily ikut bersama Ziva ke sirkuit. Malam itu, dia kembali melakukan balapan, kali ini melawan Marcel, ketua geng Winner King.
Saat sampai di sirkuit, suasana sudah penuh sorak sorai. Lampu sorot dan suara knalpot meraung-raung memenuhi udara. Bahkan geng BLR juga tampak hadir, entah sekadar memantau atau memang sengaja menonton pertandingan malam itu.
“Hai, girls… ternyata lo terima juga tantangan gue,” ucap Marcel dengan senyum congkak. “Gue denger kemarin lo ngalahin Rey. Sekarang, apa lo bisa ngalahin gue?” ucapnya sambil mencolek dagu Emily.
Emily langsung menepis kasar. “Nggak usah sentuh-sentuh, goblok! Lo mau balapan sama gue apa mau gue tonjok?”
“Wih, santai… santai. Cewek itu harus kalem,” balas Marcel meremehkan.
“Lo kalau nantangin balapan, ya ayo di sirkuit. Jangan cuma adu bacot,” jawab Emily dengan nada menantang.
“Wisss, oke… oke…” Marcel nyengir sambil menyalakan mesin motornya.
Sorakan penonton makin riuh. Beberapa anggota Sport Queen memberi semangat untuk Emily, sementara geng Winner King berdiri di sisi Marcel, penuh percaya diri.
Bendera start diangkat. Dalam hitungan detik, tarikan gas memecah keheningan malam.
Wruuummm! Motor mereka melesat keluar. Emily langsung mengambil posisi depan dengan lincah, menyalip di tikungan tajam. Marcel tak tinggal diam, ia menekan gas habis-habisan, mencoba memotong jalur dari sisi kiri.
Sorakan penonton makin menggema.
“Emi! Ayo Emi!” teriak Ziva dan Caca dari pinggir lintasan.
Tikungan demi tikungan dilibas dengan kecepatan penuh. Marcel beberapa kali nyaris menyenggol motor Emily, membuat suasana semakin panas.
“Hampir aja lo jatuh!” teriak Marcel di sela suara mesin, mencoba mengintimidasi.
“Cupu!” balas Emily singkat, lalu melesat lagi.
Di lap terakhir, adu cepat benar-benar menegangkan. Marcel sempat memimpin sepersekian detik, namun Emily dengan cerdik memanfaatkan slipstream, lalu menyalip di garis lurus terakhir.
Sorak penonton memuncak. Ban motornya berdecit keras saat melewati garis finish. Emily lebih dulu melewati garis, hanya terpaut setengah detik dari Marcel.
“Yeeeeeeeeah! Sport Queen menang lagi!” teriak Dion sambil melompat kegirangan.
Emily melepas helmnya, wajahnya penuh keringat tapi senyum puas mengembang. Ia mengacungkan tangan ke arah Marcel.
“Gimana, Mar? Lo kira bisa ngalahin gue? Jangan mimpi!”
Marcel terdiam, wajahnya menegang, jelas tak terima. Sedangkan geng Winner King terlihat kesal karena jagoannya kalah lagi.
Di tengah riuh kemenangan sport Queen tiba-tiba suara berat memekik
EMILY!!!!!!!!!!!!!!!!!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!