Indonesia
NovelToon NovelToon

The Porch Light

#1

Lampu kristal gantung yang bernilai ratusan ribu dolar memantulkan cahaya hangat ke seluruh penjuru kamar utama mansion Bel Air.

Karpet sutra tebal yang menyerap tiap langkah, perabotan dari kayu mahoni langka, serta pemandangan gemerlap kota Los Angeles di luar jendela kaca raksasa seharusnya menjadikan ruangan itu sebuah perlindungan yang tenang. Namun malam ini, kamar itu tak ubahnya sebuah arena eksekusi. Bau parfum mahal bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan dada.

"Sampai kapan? Sampai kapan kita harus menunda kehamilanmu, Cathez?!"

Teriakan itu menggema, memantul kasar pada dinding-dinding marble. Suara Rowan bukan sekadar nada tinggi biasa; itu adalah letupan frustrasi dari penderitaan yang telah dipendam bertahun-tahun.

Cathez, yang sedang duduk santai di depan meja rias berukir emas, bahkan tidak tersentak.

Jemari lentiknya yang terawat sempurna dengan cat kuku merah menyala masih memegang selembar kapas berinfus cleansing oil. Dengan gerakan yang teratur dan tenang—seolah teriakan suaminya hanyalah bising angin malam—ia mengusap riasan matanya.

"Kenapa kau kembali membahas hal ini, Rowan?" jawab Cathez lambat, menatap pantulan suaminya lewat cermin besar. "Sudah kukatakan berulang kali, aku belum siap hamil!"

"Bukan belum siap!" Rowan melangkah maju, bayangannya yang tinggi dan tegap mengintimidasi ruangan. "Kau memang tidak ingin hamil anakku, Cathez! Kau tidak ingin melahirkan darah dagingku!"

Rowan Vale-Knight tidak lagi bisa menahan amarahnya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya bertautan menahan gejolak emosi. Pria itu menatap wanita yang dinikahinya empat tahun lalu dengan tatapan asing. Sang istri... benar-benar tidak lagi bisa ia pahami.

Empat tahun pernikahan. Empat tahun masa di mana ia memberikan segalanya: kesetiaan, harta tanpa batas, status sosial, hingga kebebasan yang tak pernah diusik.

Namun, setiap kali topik penerus keluarga diangkat, Cathez selalu memiliki dinding pertahanan yang dibangun dari ribuan alasan absurd.

Rowan tersenyum sinis, sebuah tawa pahit yang muncul saat ingatan tentang kebohongan-kebohongan Cathez berputar di kepalanya.

Selama ini Cathez selalu beralasan. Mulai dari belum siap secara mental, tidak siap melihat bentuk tubuhnya hancur dengan perut buncit, tidak siap menderita mual-mual di pagi hari seperti yang dialami kakak-kakak iparnya, hingga alasan paling tak masuk akal: ia membenci suara bayi karena dianggapnya sangat berisik dan merusak estetika hidupnya.

Padahal, di luar sana, tekanan tak pernah berhenti menghantam Rowan.

Sebagai salah satu putra dari dinasti Vale-Knight yang berpengaruh, Rowan memiliki lima saudara laki-laki. Dan kelimanya sudah memiliki anak.

Setiap kali perkumpulan keluarga besar digelar di kediaman utama, rasa iri yang merayap perlahan-lahan menggerogoti hatinya. Rowan harus menyaksikan saudara-saudaranya memangku balita mereka, tertawa bersama anak-anak mereka, sementara ia dan Cathez hanya berdiri seperti dua patung porselen yang indah namun hampa.

Hingga tiba-tiba, di tengah keheningan yang tersisa dari amarah Rowan, Cathez meletakkan kapasnya. Wanita itu berbalik di atas kursi berputarnya, menatap Rowan dengan mata jernih tanpa dosa.

"Kau benar-benar ingin memiliki anak?" tanya Cathez datar.

Rowan menoleh, menatap mata istrinya. Ia mengangguk pelan. Ada sedikit binar harapan yang sempat terbit di benak pria berusia 29 tahun itu. Untuk sejurus, Rowan berpikir mungkin... mungkin setelah perdebatan sengit ini, hati istrinya melunak. Mungkin Cathez akhirnya sadar.

Dan sesungguhnya, jika Rowan mau jujur pada dirinya sendiri, keinginan terbesarnya untuk memiliki anak saat ini bukan semata-mata karena ia kepepet membutuhkan keturunan untuk nama besarnya. Ada motif lain yang jauh lebih dalam dan terdesak.

Rowan ingin ikatan. Ia ingin sesuatu yang bisa menahan Cathez. Sang istri terlalu liar untuk diikat oleh sebuah cincin pernikahan saja.

Waktunya selalu habis untuk mengurus butik mewahnya, terbang ke Paris dan Milan untuk perjalanan bisnis, hingga berlibur tanpa henti bersama kawan-kawan socialite-nya ke resort-resort pribadi di Yunani atau Karibia.

Rowan merasa istrinya selalu melayang jauh, dan kehadiran seorang anak adalah satu-satunya hal yang bisa membuat wanita itu menapak bumi, memiliki kewajiban riil di rumah, dan menjadikan mansion ini sebuah 'rumah' yang sebenarnya.

"Cathez," suara Rowan melunak, mencoba memandu negosiasi ini menuju jalan damai. "Setelah ini, aku tidak akan melarang ataupun memprotes jadwalmu, Sayang. Terbanglah ke mana pun kau mau. Biar aku yang mengurus anak kita. Aku yang akan bangun malam, aku yang akan menyewa perawat terbaik. Kau hanya perlu melahirkannya."

Namun, Cathez tidak tersentuh. Ia justru menggelengkan kepala perlahan, lalu kembali berbalik menghadap cermin untuk melanjutkan membersihkan sisa riasannya.

"No!" sahut Cathez dingin. "Bukan anak kita. Hanya... anakmu."

Langkah Rowan terhenti seketika. Alisnya bertaut tajam. "Apa maksudmu, Cathez?"

Cathez menghentikan jemarinya. Dari balik cermin, ia menatap Rowan dengan senyum tipis yang terasa begitu beracun.

"Central Valley..." gumam Cathez, mengucapkan nama sebuah kawasan pedesaan terpencil yang asing di telinga Rowan. "Adikku diasingkan di sana sejak dia kecil. Kau mungkin baru tahu hal ini sekarang, karena keluarga kami memang membuangnya. Tapi... dia bisa memberimu anak."

Deg.

Jantung Rowan seolah berhenti berdetak saat kalimat itu merambat di udara. Ruangan seluas itu mendadak kehilangan pasokan oksigen.

Rowan mematung, mencerna setiap kata yang baru saja lolos dari bibir manis istrinya.

Seorang wanita... menyodorkan adik kandungnya sendiri untuk melahirkan anak bagi suaminya, hanya demi menghindari rasa sakit kehamilan dan kebebasan hidupnya yang terusik?

"Kau egois..." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Rowan, lebih menyerupai bisikan penuh jijik daripada kemarahan.

Cathez hanya mengangkat bahunya ringan, seolah baru saja menawarkan secangkir teh. "Aku hanya memberikan jalan keluar untuk obsesimu pada seorang bayi, Rowan."

"Kau menyodorkan adikmu?" Rowan menatap Cathez dengan pandangan yang sama sekali baru. Rintihan penderitaan di matanya kini berganti menjadi dingin yang membekukan. "Baiklah... kau telah memberikan aku izin yang tidak bisa kau tarik kembali, Cathez. Berikan aku alamatnya, dan malam ini juga aku akan berangkat."

Deg.

Kini, giliran Cathez yang mematung. Tangannya yang memegang botol serum tergantung di udara.

Tubuhnya kaku. Demi Tuhan, itu tadi hanyalah lelucon sarkastik! Itu adalah taktik untuk memojokkan Rowan agar pria itu frustrasi dan berhenti membahas masalah anak! Cathez tahu betul suaminya adalah pria yang memegang teguh moraliti dan kehormatan keluarga. Ia tak pernah membayangkan Rowan akan menggigit umpan beracun itu.

"Apa maksudmu?!" Suara Cathez melengking, kepanikan mendadak menyusup ke matanya. "Kau setuju dengan lelucon yang baru saja kukatakan itu?! Hah?! Kau... kau tidak mencintaiku lagi?!"

Rowan tidak berteriak. Ia tidak lagi mengamuk. Pria itu justru terkekeh—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri—seraya memutar tubuhnya dan berjalan santai ke arah pintu keluar.

"Jangan pedulikan aku," ucap Rowan tanpa menoleh sedikit pun. "Tetaplah sibuk dengan butikmu itu... Istriku."

BRAKKK!!

Pintu kayu jati tebal itu dibanting dengan kekuatan penuh, menggetarkan pigura-pigura lukisan di dinding.

"Rowan! Rowan, kembali kau!" jerit Cathez histeris.

Menyadari suaminya benar-benar pergi, amarah dan kepanikan Cathez meledak. Dengan napas memburu, ia meraih botol-botol parfum kaca mahal, tempat perhiasan, dan wadah kosmetiknya di atas meja rias, lalu melemparkannya ke arah pintu dengan sekuat tenaga.

PRANGGG!!!!

PRANGGG!

Pecahan kaca bermerek bernilai jutaan rupiah hancur berhamburan di atas lantai, menumpahkan cairan wangi yang kini baunya mendadak menyengat dan membakar hidung.

Cathez terduduk di kursinya dengan dada naik turun, menatap pintu yang tertutup rapat dengan mata membara penuh amarah dan ketakutan yang tak beralasan.

...°°°°...

Sementara itu, di luar kamar, Rowan melangkah menuruni tangga melingkar yang megah. Wajahnya bak pahatan es, tanpa ekspresi, namun di dalam dadanya ada gemuruh yang menghancurkan seluruh sisa rasa hormatnya pada pernikahan ini.

Saat mencapai pijakan tangga bawah, ia hampir berpapasan dengan saudaranya.

Dorian Vale-Knight—saudara kembarnya yang memiliki fitur wajah hampir serupa namun memiliki aura yang jauh lebih tenang—sedang berdiri di dekat dapur bersih. Pria itu tampak santai, mengenakan pakaian rumah biasa, dan di kedua tangannya... ia sedang memegang dua botol susu formula hangat.

Dorian menghentikan langkahnya, menatap Rowan dari atas ke bawah, lalu melirik ke arah lantai dua tempat suara pecahan kaca baru saja terdengar menyakiti heningnya malam.

"Mau ke mana?" tanya Dorian pelan. Tangannya dengan telaten mengocok pelan botol susu di tangannya.

"Ke club malam? Mau ikut?"

Dorian terkekeh tipis, menggelengkan kepala melihat tingkah saudara kembarnya yang tampak seperti gunung berapi yang baru meletus.

"Pergilah," kata Dorian dengan nada menggoda namun sarat akan rasa syukur. "Aku memiliki tanggung jawab untuk berada di rumah, brother. Bayiku bisa bangun kalau mendengar ayahnya keluyuran."

Rowan berhenti sejenak. Matanya tertuju pada dua botol susu di tangan Dorian. Botol plastik sederhana berisi cairan putih hangat. Sebuah simbol dari tanggung jawab, ikatan, dan kelanjutan masa depan yang begitu sederhana, namun sangat mustahil untuk ia dapatkan di dalam kamarnya sendiri.

Rowan tersenyum pahit. Sebuah senyuman yang menyembunyikan kehancuran total di dalam hatinya. Tanpa mengiyakan atau menolak, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar mansion, meninggalkan Dorian yang menatapnya dengan rasa heran.

Bayi, batin Rowan saat hawa dingin malam Bel Air menyapa kulit wajahnya. Dia memiliki bayi. Tanggung jawab saudaranya.

Jika Cathez menganggap pernikahan ini hanyalah permainan status dan kenyamanan, maka Rowan siap memainkan permainan itu dengan aturan baru. Aturan yang akan mengubah hidup mereka Berdua selamanya.

🌷🌷🌷

Ma'aciww Sudah mampir Diceritakan Rowan Vale-Knight, Happy reading 🫶🏻

#2

Suara derit ban beradu keras dengan aspal basah di sebuah gang belakang kawasan perbelanjaan malam yang remang-remang.

Malam di sudut kota ini tidak pernah benar-benar tidur, namun ia menyembunyikan sisi gelapnya di balik bayang-bayang gedung tua dan deretan tempat sampah besi.

Seorang gadis baru saja melompat keluar dari pintu penumpang sebuah mobil sedan hitam yang baru saja melambat di persimpangan.

Kakinya yang telanjang tanpa alas menapak kasar pada permukaan jalan yang dingin dan tajam. Napasnya memburu, membelah hawa malam yang menusuk hingga ke paru-paru.

Tanpa menengok ke belakang, ia berusaha berlari sekencang mungkin. Gaun panjang berbahan tipis yang dikenakannya terasa berat, menjuntai dan menyangkut di setiap langkah tergesa-gesanya, namun ketakutan memberi dorongan adrenalin yang jauh lebih besar daripada rasa lelah.

"BERHENTI ATAU AKU AKAN MENEMBAKMU!"

Teriakan lantang seorang wanita paruh baya menggema di sepanjang jalan sempit itu, memantul kasar pada dinding-dinding bata yang berlumut.

Beberapa pejalan kaki dan pengunjung kelab malam di sekitar ujung jalan sempat menoleh sejenak. Namun, begitu mata mereka menangkap kilatan senjata api di tangan wanita berkulit pucat itu, serta kehadiran tiga pria bertubuh kekar berjas hitam yang berhamburan keluar dari mobil, orang-orang itu segera memalingkan wajah.

Di sudut Los Angeles yang keras ini, menyikapi urusan orang lain adalah jalan tercepat menuju petaka. Tak ada yang berniat menjadi pahlawan. Tak ada yang peduli. Mereka bertindak seolah-olah jeritan ketakutan itu hanyalah angin lalu, membiarkan kegelapan menelan nasib sang gadis.

"Kumohon... aku tidak mau! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" jerit gadis itu saat sudut gaunnya berhasil dicengkeram oleh salah satu pria berjas hitam.

Langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya yang mungil terseret ke belakang, terbanting menyenggol tumpukan kotak kayu sebelum akhirnya dua pasang tangan berotot mengunci kedua lengannya dengan cengkeraman seperti catut besi.

Wanita paruh baya yang berteriak tadi melangkah mendekat dengan nada sepatu heels-nya yang mengetuk nyaring di atas aspal. Wajahnya yang dipenuhi riasan tebal tampak bengis di bawah sorot lampu jalan yang temaram. Ia membetulkan kerah mantel bulunya lalu menatap gadis di depannya dengan pandangan jijik.

"Aku sudah bersusah-payah menjemputmu dari desa... dan kau ingin kabur lagi?" desis wanita itu, suaranya tajam beracun. "Bibimu telah menjual mahal dirimu, sialan!"

Gadis itu terus berontak dengan sisa-sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar hebat, campuran antara ketakutan yang luar biasa dan rasa dingin yang menggigit. "Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak punya urusan dengan kalian! Aku tidak tahu apa-apa!"

Namun, usahanya sia-sia. Cengkeraman para pengawal itu sama sekali tidak bergoyang.

Melihat gigihnya perlawanan gadis itu, wanita paruh baya tersebut terkekeh sinis. Ia memajukan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata gadis yang berkaca-kaca itu dengan senyuman penuh kemenangan.

"Asal kau tahu..." bisik wanita itu, penuh penekanan pada setiap kata, "bibimu menjualmu karena perintah ayahmu."

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar pada detik itu juga.

Rossi Widmer, gadis berusia 24 tahun itu, mendadak mematung.

Seluruh perlawanannya, jeritannya, dan kibasan tubuhnya terhenti seketika. Seluruh kekuatannya seakan disedot habis dari dalam tubuhnya. Air mata yang tadinya tertahan di sudut matanya, kini menetes tanpa batas, mengalir melewati pipinya yang pucat dan kotor terkena debu jalanan.

"A... ayah?" lirih Rossi sangat pelan, hampir tak terdengar di antara bisingnya mesin kendaraan jauh di sana.

Kata itu terasa asing, namun sekaligus menghantam dadanya hingga sesak. Ayah. Sosok yang selama ini hanya menjadi bayangan kabur dalam ingatan masa kecilnya. Pria yang membuangnya ke sebuah desa terpencil di Central Valley sejak ia masih sangat muda, membiarkannya tumbuh dalam pengasingan, kesepian, dan penderitaan tanpa pernah sekalipun datang menjenguk.

Sambil ditarik secara kasar oleh dua pengawal untuk diseret kembali ke arah mobil, kepala Rossi terkulai. Tatapannya kosong menatap aspal. Di dalam hatinya, sebuah bisikan pilu membakar jiwanya sampai menjadi abu.

Akhirnya kau benar-benar melepaskan aku, Ayah... Tapi bukan untuk membebaskanku, melainkan menjualku.

Sakit. Kecewa yang teramat sangat mendera dadanya.

Pengalaman hidupnya seperti tak pernah diberi jeda untuk bernapas lega. Diasingkan di desa terpencil bertahun-tahun, diabaikan seolah ia tidak pernah lahir ke dunia, dan kini... diakhiri dengan dijual seperti barang tak berharga oleh darah dagingnya sendiri.

Menyedihkan sekali hidupmu, Rossi... batinnya pasrah. Pandangannya mulai buram terhalang lapisan air mata yang terus mengalir deras.

...°°°°°°...

Sementara itu, beberapa blok dari tempat ketegangan itu terjadi, suasana yang sangat berbeda menyelimuti sebuah kelab malam paling eksklusif di Los Angeles.

Dentuman musik bergenre deep house dari DJ ternama mengguncang lantai dansa Gasoline.

Cahaya neon berwarna ungu dan biru gelap memantul pada gelas-gelas kristal mahal dan deretan botol minuman premium. Tempat itu adalah tempat pelarian bagi kaum elit—tempat di mana uang bisa membeli privasi dan ketenangan temporer dari kerumitan dunia luar.

Di salah satu sudut area VIP yang remang, Rowan Vale-Knight duduk menyandarkan punggungnya pada sofa kulit berwarna hitam.

Wajah tegasnya tak terpancing oleh ketukan musik yang membakar semangat orang-orang di sekitarnya. Pria itu tampak begitu terpisah dari keramaian, memancarkan aura dingin dan berbahaya yang membuat siapa pun enggan mendekat tanpa diundang.

Rowan merogoh saku jas mewahnya, menarik ponselnya, dan menatap layarnya yang menyala.

Sebuah pesan masuk dari sekretaris pribadinya menyapa penglihatannya. Di sana tertera sebuah alamat lengkap di kawasan Central Valley—alamat yang sempat ia minta secara rahasia beberapa saat lalu dari dokumen lama keluarga istrinya.

Matanya menelusuri baris demi baris tulisan di layar tersebut. Central Valley. Tempat tinggal adik terbuang dari Cathez, Istrinya.

Rowan tersenyum sinis. Sebuah lengkungan di bibirnya yang penuh dengan ironi dan ketegasan yang tak tertahankan.

"Ini kemauanmu, Cathez," gumamnya pelan, suaranya tenggelam di antara dentuman bas musik Gasoline. "Kau yang membukakan pintunya, dan aku hanya melangkah masuk."

Tanpa menghabiskan minuman di gelas kristalnya, Rowan bangkit berdiri. Ia mengancingkan jas mewahnya dengan gerakan anggun dan dingin, lalu melangkahkan kakinya yang panjang menuju jalur keluar privat menuju area parkir VIP di bagian belakang bangunan.

Pria itu tidak butuh waktu lama untuk membulatkan tekad. Jika istrinya ingin mempermainkan ikatan pernikahan mereka, Rowan siap melangkah lebih jauh dari apa yang pernah dibayangkan oleh Cathez.

Hawa dingin malam langsung menyergap wajah Rowan saat ia mendorong pintu besi yang memisahkan bagian dalam kelab dengan area parkir khusus yang sepi. Hanya ada beberapa mobil mewah terparkir rapi di sana di bawah naungan sorot lampu jalanan yang remang-remang.

Rowan berjalan santai menuju SUV hitam miliknya. Ia menekan tombol pada kunci otomatisnya. Lampu mobil berkedip dua kali diiringi suara bip yang renyah.

Pria itu mengulurkan tangan, menarik gagang pintu pengemudi untuk masuk.

Namun, sebelum ia sempat menginjakkan kakinya ke dalam kabin mobil, suara langkah kaki yang panik dan terengah-engah mendekat dengan sangat cepat dari arah gang samping. Belum sempat Rowan memutar tubuhnya untuk memeriksa situasi, pintu penumpang di sebelah kanan SUV-nya mendadak dibuka secara paksa dari luar.

BRAK!

Seorang wanita bergerak secepat kilat, menyusup masuk ke dalam kabin tempat duduk penumpang depan, lalu membanting pintunya hingga rapat.

Rowan mematung di sisi pengemudi. Alis tebalnya bertaut tajam. Matanya berkilat penuh bahaya menatap penceroboh yang tiba-tiba berada di dalam kendaraan pribadinya.

Di dalam remang cahaya lampu kabin yang menyala otomatis, Rowan bisa melihat sosok wanita itu.

Pakaiannya cukup terbuka dan seksi—sebuah gaun malam yang tampak acak-acakan dan koyak di beberapa bagian. Rambutnya berantakan, napasnya naik turun dengan sangat cepat, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat seolah baru saja melarikan diri dari cengkeraman maut.

Gadis itu menoleh ke arah Rowan. Mata mereka bertemu. Tampak bekas genangan air mata yang masih basah di pipinya, serta ketakutan murni yang memancar dari manik matanya yang jernih.

"Tuan..." suara gadis itu gemetar, melengking pelan penuh ketakutan yang tak tertahankan.

Tangannya yang dingin dan gemetar memegang lengan jas Rowan secara spontan, memohon keselamatan. "Tuan... bisa tolong bawa kabur saya dari sini? Saya janji... saya janji akan membalas kebaikan Anda, Tuan! Tolong...!"

Rowan menatap jemari gadis itu yang mencengkeram jas mewahnya, lalu beralih menatap wajah pucat di sampingnya. Di luar sana, suara langkah kaki berat beberapa pria yang berlari mendekat mulai terdengar memecah keheningan parkiran.

#3

Suara derap langkah kaki berat terdengar memukul aspal parkiran belakang kelab Gasoline. Dua pria bertubuh besar dengan jas hitam tampak memindai sudut-sudut tempat parkir yang sepi dengan pandangan tajam, memegang senjatanya yang tersembunyi di balik jas.

Suasana di luar begitu mencekam, seolah-olah satu kesalahan kecil saja bisa meletuskan bentrok berdarah.

Di dalam mobil, gadis itu—Rossi—semakin panik. Melihat para pengawal mendekat, entah mengapa insting bertahan hidupnya bekerja secara tidak rasional. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merosot turun dari kursi penumpang, lalu berjongkok di celah sempit bawah dasbor mobil sport mewah tersebut.

Rossi merapatkan tubuhnya, memeluk kedua lututnya yang gemetar, dan memejamkan mata erat-erat seolah-olah dunia akan melupakannya jika ia menutup mata.

Rowan—yang dibesarkan di antara lima saudara laki-laki dan tidak pernah memiliki saudara perempuan—menatap tingkah gadis itu dengan kening berkerut.

Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi, memperhatikan bagaimana tubuh mungil di bawah dasbor itu meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan saat mati listrik.

Sebuah senyum tipis—hampir berupa dengusan miris—terukir di bibir Rowan. Ia merutuki kebodohan gadis ini dalam hati. Dia bersembunyi dari apa? batin Rowan.

Gadis itu tampaknya tidak menyadari jenis mobil yang baru saja ia masuki. Kaca mobil sport buatan Eropa milik Rowan dilapisi dengan film tint teknologi paling mutakhir—kaca itu terlihat gelap gulita dari luar dan sama sekali tidak bisa ditembus oleh pandangan mata manusia, sementara dari dalam, Rowan bisa melihat luar dengan sangat jelas.

Dua pria bertubuh besar yang berjalan bolak-balik di luar sana sama sekali tidak bisa melihat keberadaan mereka.

"Tenanglah, kau aman," kata Rowan dingin, suaranya yang berat memecah keheningan di dalam kabin. "Di luar, mereka tidak akan bisa melihat kita."

"Hah?"

Rossi mendongak pelan. Wajahnya yang pucat dipenuhi kebingungan. Tampak jelas ia baru saja tersadar dari kepanikan yang membutakan jalannya berpikir. Sadar bahwa ia baru saja menyembunyikan diri dengan cara yang sangat konyol di depan seorang pria asing, Rossi merayap kembali ke atas kursi. Dengan canggung dan terburu-buru, ia menjauhkan dirinya serapat mungkin ke arah pintu penumpang, memeluk gaunnya yang sedikit terkoyak.

"Te-terima kasih, Tuan... Anda menyelamatkan saya," bisik Rossi pelan, matanya masih melirik liar ke luar jendela, memastikan bahwa dua pria gempal di luar benar-benar melewati mobil mereka begitu saja.

Rowan menatap penampilan gadis di sampingnya dari atas ke bawah. Gaun malam berbahan tipis dengan potongan cukup terbuka di bagian bahu, riasan yang sedikit luntur, dan bau parfum terjangkau yang tercium samar bercampur dengan bau debu jalanan.

"Kau baru saja melayani tamu yang kasar?"

Spontan saja kata-kata itu keluar dari mulut Rowan.

Di dunia malam Los Angeles yang glamor namun busuk, Rowan sudah terlalu sering melihat fenomena seperti ini. Ia tahu ada banyak wanita muda yang menjual diri mereka di klab-klab malam, lalu nekat kabur di tengah malam karena tidak sanggup menahan perlakuan kasar dari pelanggan kaya yang berengsek.

Dalam pikiran Rowan saat ini, gadis di sampingnya pasti salah satu dari mereka.

Rossi menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh keras. Ia menoleh, menatap Rowan dengan mata jernih yang memancarkan kejujuran sekaligus rasa terluka yang dalam. Rossi menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tidak, Tuan. Saya tidak seperti itu," sahut Rossi dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh penekanan. "Saya kabur karena saya tidak ingin bekerja seperti ini."

Rowan mengernyit, menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Tatapannya menajam, menilai ketulusan ucapan gadis itu.

"Kau kabur?" tanya Rowan singkat.

Rossi mengangguk pelan. "Ya. Saya dipaksa."

Rowan diam sejenak. Ia tidak bermaksud menjadi pahlawan jalanan atau tempat penampungan bagi korban perdagangan manusia.

Masalah rumah tangganya sendiri sudah cukup menguras emosinya malam ini. Kemarahannya pada Cathez masih membakar dadanya. Ia tidak punya waktu atau energi untuk mengurusi drama wanita asing.

"Kalau begitu, sekarang kau boleh keluar dari mobilku," kata Rowan datar, jarinya bersiap menekan tombol pembuka kunci pintu.

Mata Rossi membelalak kaget. Ia melihat ke luar jendela. Dua pria berjas hitam tadi memang sudah berjalan agak jauh, tetapi wanita paruh baya yang memburunya pasti masih bersiap di sekitar gang. Jika ia keluar dari mobil ini sekarang, ia akan langsung tertangkap kembali.

Dibuang, dijual, dan dihancurkan.

Kepanikan membuat pikiran Rossi berputar cepat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus menawarkan sesuatu agar pria kaya di sampingnya ini mau membawanya pergi dari area mematikan ini.

"Tuan! Tolong..." Rossi menahan lengan Rowan refleks, lalu dengan cepat menarik tangannya kembali karena takut merusak jas mahal pria itu. "Bisa... bisa saya ikut Tuan saja? Saya janji tidak akan merepotkan Anda! Saya akan melakukan apa saja. Saya bisa memasak, saya bisa membersihkan rumah, saya juga bisa—"

Langkah kata-kata Rossi terhenti saat Rowan memutar tubuhnya sepenuhnya.

Pria itu menatap lurus ke dalam mata Rossi dengan tatapan yang begitu pekat, dingin, dan penuh dengan keputusasaan yang terselubung.

Sebuah ide gila yang tadi sempat dilontarkan oleh istrinya di kamar mewah Bel Air mendadak bergetar kembali di kepalanya.

"Bisa berikan aku anak?" tanyakan Rowan tanpa nada berbelit-belit.

Deg.

Tubuh Rossi membeku seketika. Lidahnya mendadak terasa kelu. Ruang di dalam kabin mobil mewah itu terasa menyempit menghimpit dadanya.

"A-anak?" Rossi tergagap, suaranya mencicit pelan. "Saya... saya bukan wanita seperti itu, Tuan. S-saya—"

"Aku juga bukan pria seperti itu," potong Rowan cepat, suaranya sangat tenang namun memotong argumen Rossi tanpa sisa. "Bagaimana? Kau bisa berikan aku anak? Kalau kau mengiyakan, aku akan langsung membawamu pergi dari tempat ini sekarang juga."

Otak Rossi bekerja liar di tengah kebingungan yang melanda. Anak? Pria ini meminta seorang anak sebagai imbalan menolongnya? Apakah pria ini gila? Atau apakah ini semacam perangkap lain?

Namun, di tengah keterdesakannya, sebuah niat pragmatis muncul di dalam benak Rossi. Aku hanya perlu mengiyakannya sekarang, batin Rossi berusaha menenangkan dirinya sendiri yang ketakutan.

Di kota sebesar dan seliar Los Angeles ini, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ayahnya telah menjualnya, bibinya mengkhianatinya. Ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan jam demi jam. Ya, iyakan saja dulu. Nanti di tengah jalan, ketika mobil ini melambat di lampu merah atau area pemukiman, aku bisa mencari kesempatan untuk melompat keluar dan kabur dari pria ini.

Rossi menarik napas pendek, mencoba menyusun kalimat sehati-hati mungkin untuk menipu pria di sampingnya.

"Anak?" Rossi berpura-pura mengerti dengan raut wajah sejujur mungkin. "Tentu! Aku akan memberikannya, Tuan. Di desaku... ada banyak anak yatim piatu yang sudah sering diadopsi oleh orang-orang kota. Aku bisa membantumu memilih—"

Rowan memejamkan matanya sejenak. Sebuah senyum pahit yang teramat dingin terukir di bibirnya.

Bahkan wanita asing yang tidak punya tempat tinggal ini pun tidak ingin melahirkan anakku, batin Rowan miris.

Harapan konyol yang sempat terlintas di kepalanya hancur berkeping-keping.

Cathez menolaknya, dan kini seorang wanita terlantar yang meminta tolong padanya pun enggan memberikan apa yang sangat ia inginkan. Dunia seolah sedang menertawakan keinginannya untuk memiliki keturunan.

Tanpa merespons ucapan Rossi lagi, Rowan menarik tangannya. Jari-jarinya menekan tombol engine start. Mesin V8 mobil sport itu meraung keras, memecah keheningan area parkir subterranean.

Rowan memasukkan gigi, menginjak pedal gas, dan meluncurkan mobilnya keluar dari tempat parkiran dengan kecepatan tinggi—meninggalkan area Gasoline dan bayang-bayang para pengejar Rossi jauh di belakang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!