*
*
*
Hangat.
Itu yang selalu Qistina rasakan setiap kali bibir suaminya menyentuh kening.
Ia masih memejamkan mata, ketika kecupan itu mendarat begitu lembut, seolah menjadi alarm favorit Qistina setiap pagi.
"Sayang ... Mas berangkat ya ..."
Qistina membuka mata perlahan. Setelah menunaikan sholat subuh biasanya ia langsung menyiapkan sarapan. Namun beberapa hari ini, ia sering merasa kelelahan. Karna itu, pagi ini ia masih terbaring di tempat tidur.
Albie sudah berdiri di sampingnya dengan jas dokter membungkus tubuh yang selalu rapi. Stetoskop menggantung di lehernya, sementara jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kirinya menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
Qistina tersenyum kecil. "Suami aku udah ganteng." ucapnya sambil beringsut bangkit. Tangannya mengusap dahinya sekilas.
Sudut bibir Albie ikut terangkat. "Senangnya, pagi-pagi sudah dirayu begini."
Pria beralis tebal dengan hidung lurus dan bermata gelap yang selalu tampak fokus itu selalu membuat Qistina sulit mengalihkan pandangan.
"Iya, biar semangat operasinya." Qistina mengalungkan tangan di leher suaminya. Suaranya terdengar sangat manja.
Di pernikahan yang hampir menginjak tahun kedua, kehidupan mereka begitu sempurna. Terlebih dengan kehadiran seorang bayi perempuan berusia tiga bulan yang semakin melengkapi kebahagiaan keduanya.
Albie tertawa pelan, lalu mengusap pipi istrinya menggunakan punggung jari. Sentuhan yang selalu berhasil membuat Qistina merasa tenang. "Kamu istirahat aja kalau masih capek. Nggak usah anterin Mas sampe pintu."
Qistina menggeleng. Kemudian berdiri. Bibirnya ia kerucutkan. Persis anak kecil yang lagi ngambek. "Nggak, aku harus anterin Mas, sampe depan pintu."
Albie menggeleng sambil terkekeh. Menjawil hidung bangir sang istri. "Istri Mas, susah banget sih nurutnya."
"Biarin." Qistina mengerling, tangannya sudah terselip di siku Albie. Menggelayut dengan dagu menempel di bahu. "Soalnya, suami aku ini suka lupa sama Istri kalau sudah pegang pisau bedah. Jadi setiap berangkat ke rumah sakit, harus di-ingatkan kalau ada istri yang selalu menunggu kepulangannya."
"Dih ... Siapa bilang Mas lupa sama Istri." Albie langsung menyanggah. "Mas itu, akan selalu ingat kalau istri Mas ini adalah satu-satunya yang jadi prioritas."
"Masa?"
"Buktiin aja, kalo nggak percaya."
Qistina manggut-manggut. Bagaimana tidak percaya, kalau selama ini apa yang Albie katakan selalu selaras dengan perbuatan.
"Tapi bener ya, nanti pulangnya jangan telat."
"Mas 'kan kalo pulang telat juga ngabarin."
"Iya, ngabarin." Qistina memutar tubuhnya tepat dihadapan Albie. "Tapi kan ... tetap terlambat namanya."
Albie mengusap puncak kepala istrinya, senyumnya selalu hangat. "Kenapa sih, bawel banget hari ini? Apa mau ikut aja, nemenin di rumah sakit?"
"Nggak ah ..." Qistina menggeleng, lantas ia mengambilkan tas hitam yang biasa Albie bawa. "Cuma ... Lagi mau manja aja." ucapnya sambil nyengir.
Albie tersenyum mendengarnya.
Walau bagi sebagian orang, Albie terkenal dengan pria yang kaku dan membosankan—Awal-awal kenal dulu Qistina juga menganggap begitu. Tapi setelah pernikahan mereka berjalan, seiring waktu anggapan Qistina tentangnya ternyata salah.
Albie adalah pria yang bertanggung jawab, memiliki komitmen dan selalu menghargai sebuah ikatan pernikahan. Sejauh perjalanan pernikahan mereka, Albie tidak pernah sekalipun melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami.
Sampai di depan pintu.
Putri kecil yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista, sedang berada di gendongan Rani—baby sitter.
Tangan Albie terangkat, mengelus pipi Eloise dengan lembut. "Papi berangkat ya..." ucapnya pada bayi mungil itu.
Kemudian beralih lagi pada sang istri. Ia raih tangan Qistina, mengecup punggungnya singkat sebelum kembali mencium keningnya.
"Mas berangkat ya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Qistina mengangguk, tangannya melambai pelan. Ia pandangi punggung suaminya sampai menjauh.
Mobil hitam yang dikendarai Albie perlahan keluar dari halaman. Seperti biasa, ia baru masuk kedalam rumah setelah mobil itu benar-benar menghilang di tikungan.
Rumah mendadak sunyi.
Qistina menarik napas panjang. Baru beberapa langkah menuju ruang tamu, kepalanya terasa seperti di tarik sesuatu dari dalam.
Ia spontan berhenti. Ujung jarinya menekan pelipis. Nyeri itu datang perlahan, lalu memukul lebih keras. Qistina memejamkan mata.
"Ibu nggak apa-apa?"
Rani yang berjalan di belakangnya ikut berhenti. Memperhatikan.
Qistina menggeleng. "Agak pusing sih, sepertinya memang harus beristirahat."
Sudah beberapa hari ini rasa seperti itu sering muncul. Awalnya hanya sebentar, lalu hilang sendiri. Qistina pikir hanya karna demam yang membuat tubuhnya tumbang dua hari terakhir.
Ia memilih beristirahat dan tidak memberitahu Albie soal pusing ini. "Nanti juga hilang kalau dibawa istirahat." Batinnya.
Hari ini badannya memang sudah jauh lebih ringan. Tidak demam lagi. Hanya saja, kenapa kepalanya terasa semakin berat.
Qistina menjatuhkan tubuh ke sofa. Punggungnya bersandar lemah. Kelopak matanya ikut terpejam.
"Apa karna aku kurang tidur ya?"
Ia mencoba mengatur napas. Namun denyutan itu justru semakin menjadi. Seakan memukul-mukul bagian dalam kepalanya menggunakan palu.
Ia meringis. Ada sesuatu yang hangat, mengalir melewati bibirnya. Qistina mengernyit. Refleks mengusap ujung hidung. Saat ia melihat jemarinya, ia terpaku.
"Darah?"
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Ia buru-buru meraih kotak tisu di atas meja. Satu lembar ia tempelkan ke hidung.
Belum sempat menarik napas lega, cairan hangat itu kembali merembes. Semakin deras membasahi tisu di tangannya.
Ia menarik lembar tisu lagi, lalu mengantinya lagi. Tangannya mulai gemetar. "Kenapa nggak berhenti?"
Ia berdiri, meski langkahnya sedikit goyah menuju kamar mandi lantai bawah. Berniat membasuh wajah, siapa tahu darahnya bisa berhenti.
Baru dua langkah, lantai di depannya seakan bergelombang. Ia berhenti. Dinding di kanan kiri, perlahan berputar.
Pandangannya seperti tertutup kabut putih. Qistina menggelengkan kepala. "Kenapa pandangan aku kabur begini?'
Tangannya meraba-raba dinding mencari pegangan. Namun jemarinya hanya menyentuh udara kosong. Suara detak jam di ruang tamu terdengar semakin jauh.
Darah masih menetes dari hidungnya. Menitik kelantai.
Ia mencoba memanggil seseorang.
"Bik Sarti ... Ran ... Rani ..."
Kabut tipis yang tadi menutupi pandangannya, kini berganti dengan bulatan-bulatan hitam, yang semakin lama semakin banyak.
Semakin gelap.
Lututnya tak lagi sanggup menompang tubuh.
Brugh!
Tubuhnya terhempas kelantai dingin kamar mandi. Pipi kanannya menyentuh keramik yang terasa dingin dan menusuk.
Pandangannya tinggal menyisakan seberkas cahaya dari pintu yang terbuka.
"Ya ... Allah ... Ibuk..."
"Ran ... Rani... cepat panggil Hilman. Ibuk pingsan di kamar mandi."
Suara Bik Sarti—ART yang selama ini bekerja di rumah Qistina, terdengar berteriak panik. Menggema di seluruh ruangan.
Langkah kaki berlarian memenuhi rumah. Qistina masih bisa merasakan, seseorang mengguncang bahunya.
Seseorang memanggil namanya berkali-kali.
Namun bibirnya tak lagi mampu menjawab.
Hanya suara itu yang Qistina dengar. Lalu semuanya benar-benar gelap. Dan suara-suara lainnya seolah datang dari tempat yang jauh. Kemudian sunyi. Dan tak ada lagi yang bisa Qistina rasakan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
*
*
*
"Ummi ... Sakit ..."
Suara Khalisa Hanifah pecah, bersama Isak yang tak mampu lagi ia tahan.
Ia merasakan seperti ada dua tangan raksasa yang meremas perutnya tanpa ampun. Nyeri itu bergelombang, lalu menghantam lebih keras dari sebelumnya hingga napasnya tercekat di tenggorokan.
"Abah ... tolong ..."
Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan. Keringat membasahi wajah, leher, bahkan gamis terusan yang ia pakai. Setiap kali Khalisa menarik napas, rasa sakit itu menusuk hingga ke pinggang.
Wanita itu ingin sekali berteriak lebih keras. Berharap ada yang membawanya kerumah sakit. Dia ingin anak yang masih dalam kandungannya lahir dengan selamat. Namun yang terdengar dari luar kamar justru suara-suara yang membuat dada Khalisa terasa lebih sakit daripada kontraksi yang sedang ia alami.
"Bagaimana ini?"
"Kalau dibawa ke rumah sakit nanti semua orang tahu!"
"Anaknya Kiai Rohman melahirkan tanpa suami. Besok satu kampung akan membicarakan keluarga kita."
"Gimana dengan nama baik, pesantren kita!"
Khalisa memejamkan mata rapat-rapat.
"Ya ... Allah..." lirihnya. "Disaat aku mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan, yang paling mereka takutkan bukan kehilangan aku. Tapi kehilangan kehormatan dan omongan orang."
Dada Khalisa terasa penuh. Oksigen di paru-parunya seakan habis, sesak. Air mata terus mengalir membasahi pelipis. "Maafkan aku, Abah... Ummi ... Andai kalian tahu, semua ini bukan keinginanku."
Pintu kamar mendadak terbuka.
"Mak Ijah datang!"
Terdengar suara langkah tergesa. Seorang wanita sepuh, yang terkenal dengan sebutan Paraji kampung menghampiri Khalisa. Tangannya yang dipenuhi keriput menggenggam jemarinya.
Ummi Khansa ikut masuk, membawa baskom berisi air hangat. Menaruhnya di samping kaki Mak Ijah. Kemudian duduk di dekat bagian kepala Khalisa.
Khalisa menoleh padanya. "Ummi ... Sakit Ummi." rintihnya lirih dengan wajah meringis.
Ummi Khansa, mengelus dahi putrinya. Kecemasan nampak jelas, menggantung di wajahnya. "Sabar ya ... Kamu yang kuat. Nanti kalau sudah lahir, sakitnya akan hilang."
"Tarik napas nak... tarik...." Mak Ijah mulai memberi arahan.
Khalisa mencoba menurut. Belum sempat ia menghembuskan napas, gelombang nyeri lain datang menghantam.
"Ughhhh!"
Tubuh Khalisa melengkung begitu saja. Rasanya tulang di pinggangnya patah jadi dua. Perut yang mengeras itu membuatnya kesulitan bernapas.
Mak Ijah bergeser lebih dekat. Lalu wajahnya berubah pucat. Matanya membesar. "Ya Allah ... bayinya sungsang."
"Sungsang Mak?" Ummi Khansa bertanya, gusar.
Tangan Mak Ijah terus bergerak, mencoba membantu semampunya. Sedang Ummi Khansa tidak berhenti melafalkan do'a-do'a keselamatan untuk putri dan calon cucunya.
Di luar kamar, samar-samar terdengar suara istighfar yang tak pernah putus dari bibir Kiai Rohman. Jemarinya memutar bulatan-bulatan tasbih secara berurutan.
"Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim"
Lelaki sepuh itu terduduk lemas di sofa ruang tamu. Kedua telapak tangannya menutup wajah yang mulai dipenuhi keriput. Sorban putih di pundaknya telah basah oleh air mata yang berkali-kali ia seka diam-diam.
Siapa sangka, putri yang selama ini paling ia jaga justru harus mempertaruhkan nyawa di balik pintu kamar itu.
Khalisa Hanifah ...
Putri ketiga dari tiga bersaudara. Gadis yang sejak kecil di besarkan dalam lingkungan pesantren dengan aturan yang nyaris tak pernah bisa ia langgar.
Pulang sebelum matahari tenggelam, tak pernah di-izinkan bepergian seorang diri. Bahkan ketika diterima sebagai mahasiswi di universitas Al-Hikmah Jakarta Selatan, Kiai Rohman hanya mengizinkannya karena Khalisa bersikeras ingin menuntut ilmu agar kelak menjadi seorang mutawiffah yang membimbing tamu-tamu Allah ke tanah suci.
Kiai Rohman percaya, putrinya tahu cara menjaga kehormatan diri. Karna itu, sampai hari ini, ia masih sulit menerima kenyataan bahwa Khalisa pulang membawa kehamilan tanpa seorang suami.
Dari balik pintu kamar, erangan kesakitan Khalisa kembali memecah keheningan rumah.
"Engggh ... Ya Allah ... Sakit ..."
Suaranya parau. Napasnya tersengal-sengal, seolah setiap tarikan udara benar-benar harus ia perjuangkan.
"Mak... Aku nggak kuat ... " lirih Khalisa dengan bibir bergetar.
Mak Ijah yang berlutut di ujung dipan mengusap pucuk perut Khalisa pelan. "Kuat ... Khalisa, ayo dikit lagi. Kamu harus kuat demi bayimu."
Khalisa menggeleng lemah. Tulang-tulangnya sepertinya patah dibanyak tempat. Nyeri yang luar biasa itu menjalar mengelilingi seluruh tubuhnya, tanpa tahu pusatnya dimana.
"Bismillah ..."
Ia mengejan sekuat tenaga, namun kepala bayi tak juga terlihat.
Wajah Mak Ijah berubah tegang. Kerutan di dahinya semakin dalam. Jemarinya yang renta hati-hati memeriksa jalan lahir, lalu napasnya tertahan di tenggorokan.
"Ya Allah ..." bisiknya.
"Kenapa Mak?" Ummi Khansa bertanya dengan wajah pucat.
Mak Ijah menelan ludah sebelum menjawab, "Bayinya... terlilit tali pusat." Kemudian ia mendongak. "Sekarang, dorong lagi."
Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Khalisa mengejan sekuat mungkin.
Sesaat kemudian, tubuh mungil itu akhirnya lahir. Khalisa yang lemah, terdiam, mengatur nafasnya yang memburu. Ia menoleh pada Ummi Khansa.
"Anakku sudah lahir Ummi?"
Ummi Khansa sibuk mengelap air mata. "Iya, Khalisa. Dia lahir."
Khalisa tersenyum walaupun lemah.
Namun senyum itu perlahan memudar. Karna suasana kamar begitu hening. Tidak ada suara tangis bayi yang biasanya terdengar setelah kelahiran. Kemana suara pertama bayi yang Khalisa nantikan?
Ruangan benar-benar sunyi.
Mak Ijah menatap bayi di kedua tangannya dengan napas tertahan. "Innalilahi wainnailaihi raji'un.
Jemari yang renta, perlahan melepaskan lilitan tali pusat dari leher mungil bayi laki-laki yang baru saja Khalisa lahirkan.
"Mak ..." Suara Khalisa bergetar. "Kenapa anak saya nggak nangis?"
Mak Ijah mendekat, lalu menyerahkan bagi itu ke pelukan Khalisa.
Tubuh kecil itu membiru. Dingin. Tak bergerak. Air mata Khalisa jatuh tanpa bisa dibendung. "Anakku ..."
Diluar kamar,
Suasana justru dipenuhi keheningan yang mencekam.
Farid, putra sulung Kiai Rohman, mengembuskan napas panjang. Tangannya terlipat di dada. "Kalau bayi itu meninggal ... Setidaknya aib ini masih bisa kita tutup."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
"Farid!" tegur Kiai Rohman, dengan mata memerah. "Jaga bicaramu, Khalisa itu adikmu."
"Aku bicara kenyataan, Bah." Farid menatap satu persatu anggota keluarganya. "Kalau bayi itu hidup, sampai kapan kita mau menjelaskan siapa ayahnya? Abah bukan hanya punya keluarga. Abah juga pengasuh pesantren yang harus dijaga nama baiknya."
Zayan anak kedua Kiai Rohman, yang sejak tadi berdiri bersandar di dinding rumah mengangguk pelan.
"Mas Farid Benar, Bah ..."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Abah itu pengasuh pesantren. Ratusan santri belajar menjaga akhlak dari Abah. Kalau sampai semua orang tahu, putri kiai melahirkan anak tanpa suami, bagaimana masyarakat bisa hormati Abah?"
"Aku memang kasihan sama Khalisa. Dia tetap adik kita. Tapi pesantren ini bukan cuma milik keluarga. Ada amanah yang harus dijaga."
Ditengah pembicaraan itu, Khalisa yang baru saja kehilangan anaknya, merasa begitu terpukul dengan apa yang didengarnya. Bahkan disaat anaknya sudah tiada, mereka masih membicarakan tentang kehormatan.
Khalisa menggigit bibirnya, "Jadi, kehadiranku hanyalah aib dikeluarga ini..." air matanya masih mengalir.
"... mungkin, sebaiknya aku pergi..."
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
*
*
*
"Kita harus segera menguburkannya, Abah. Ini lebih baik daripada menunggu yang akhirnya malah membuat lebih banyak orang yang tahu."
Kalimat itu yang didengar Khalisa di tengah rasa perih yang masih menjalar di bagian bawah perutnya. Tatapanya tak lepas dari bayi yang baru beberapa jam lalu masih bergerak di dalam perutnya. Ia masih ingat bagaimana bayi itu menendang, membuat perutnya mengencang. Memberi tahu, bahwa ada sebuah kehidupan di dalam rahimnya.
Namun,
Kini bayi itu diam. Tubuhnya membiru. Kelopak matanya tertutup rapat. Khalisa menitikkan air mata, memeluknya erat.
Pintu kamar yang terbuat dari triplek tipis, terbuka. Kiai Rohman masuk, di belakangnya menyusul Farid dan Zayan.
Kiai Rohman mendekat, tatapannya jatuh pada bayi laki-laki yang tengah berada di pelukan Khalisa. Jemarinya gemetar, ketika mengusap lembut kening cucunya yang kini terasa dingin.
"Khalisa, biar Abah sama Mas-mas mu yang mengurus semuanya."
Khalisa menggeleng, setelah apa yang tadi ia dengar, soal aib yang mereka bicarakan, Khalisa tidak lagi mempercayai mereka. "Nggak, Abah. Ini anak Khalisa. Dia bukan aib, dia suci." ucapnya penuh luka.
"Terkait dia aib atau bukan, dia harus segera dimakamkan Khalisa. Anak itu sudah meninggal." Farid maju selangkah.
Namun, Khalisa tetap menggeleng. Kedua lengannya justru semakin erat mendekap tubuh mungil itu, ia takut seseorang akan merebut paksa.
Ummi Khansa yang sejak tadi mengusap air mata, beringsut mendekat. Tangannya dingin, mengelus pelan punggung putrinya. "Khalisa ..." Suaranya bergetar, dengan isak tertahan. "Ikhlaskan dia, Nak. Allah lebih menyayanginya. Percayalah, kelak dialah yang akan menuntun mu menuju syurga."
Khalisa mengangkat wajah. Pandangannya bertemu dengan mata sembab Ummi Khansa. "Tapi dia anak Khalisa, dia bukan aib."
"Ummi tahu, sayang ... Dia putramu." Ummi Khansa memejamkan mata sejenak.
Jemari Khalisa mengusap pipi bayi laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Bibir mungil yang tak sempat menangis, mata yang tak pernah terbuka menyambut dunia. Dadanya kembali sesak. "Maafkan Ibu ..." bisiknya lirih. Satu persatu jemarinya akhirnya melepas tubuh kecil itu.
Kiai Rohman menerima cucunya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Bersama Farid dan Zayan, beliau melangkah keluar dari kamar.
Khalisa hanya mampu menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Hingga pintu itu kembali tertutup.
Ia benar-benar kehilangan putranya. Bahkan, Ia tidak tahu di mana tanah terakhir yang memeluk tubuh kecil buah hatinya.
*
*
*
*
*
Rumah Sakit Pusat, Jakarta Selatan.
"Melamun aja Bie, kenapa?"
Naufal —dokter spesialis anestesi—menghempaskan tubuhnya di sofa ruang khusus Albie.
Bukan sekedar rekan sejawat, mereka telah bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Bertahun-tahun melewati masa pendidikan kedokteran bersama, membuat hubungan mereka terasa lebih seperti saudara daripada teman.
Albie mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya. Barisan laporan medis pasien itu, sedari tadi tak benar-benar ia baca. Fokusnya pecah, wajah istrinya berputar-putar di kepala.
"Aku kepikiran Qistina." ucapnya tanpa mengangkat wajah.
Naufal mengernyit, mencondongkan tubuhnya kedepan. "Memangnya Qistina kenapa?"
Albie mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Akhir-akhir ini dia sering kelihatan capek. Dua hari kemarin juga sempat demam. Tadi pagi, sebenarnya udah kelihatan lebih baikan, tapi nggak tahu kenapa... perasaan ku nggak enak."
Naufal terdiam sesaat, ujung matanya sedikit menyipit. "Kecapekan ngurus bakery kali. Setelah melahirkan, baru sekarang dia aktif lagi, 'kan?"
Albie mengangguk.
Bakery yang dikelola Qistina berkembang cukup pesat.
Selain karena ketekunan istrinya, didukung juga oleh keluarga besar Dewangga yang memang memiliki jaringan bisnis diberbagai bidang.
"Iya ..." Albie menatap kosong ke permukaan meja. "Aku juga berharap cuma karena kecapekan."
Naufal mengenal sahabatnya itu dengan baik. Kalau Albie sudah berkata begitu, biasanya bukan sekedar kekhawatiran seorang suami.
Albie mencoba kembali memusatkan perhatian pada layar laptop di hadapannya.
Pasien kecelakaan lalu lintas yang menjalani operasi kemarin, karna Perdarahan Subdural, darah yang berkumpul di antara selaput otak dan permukaan otak akibat benturan. Terlihat menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Bibirnya mengulas senyum tipis saat membandingkan hasil CT scan sebelum operasi dengan hasil pemeriksaan pasca operasi.
"Hematomanya sudah jauh berkurang, gumpalan darah yang semula menekan otak menyusut" gumamnya pelan.
Jemarinya kembali menggeser beberapa citra radiologi di layar, memastikan tidak ada tanda perdarahan baru ataupun peningkatan tekanan intrakranial.
Sementara itu, Naufal berjalan santai ke sudut ruangan. Ia meletakkan mug porselen di bawah mesin kopi lalu menekan tombol. Aroma kopi yang baru diseduh perlahan memenuhi ruangan.
"Ngopi dulu, nih." Ujar Naufal sambil meletakkan mug berisi kopi hangat di samping laptop.
Albie melirik sekilas mug itu, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.
"Masih kepikiran?" tanya Naufal. Lalu menyeduh kopi satu mug lagi untuk dirinya.
Albie mengangguk.
"Kenapa nggak suruh Qistina check-up aja?"
"Aku juga kepikiran begitu. Tapi Qistina masih nolak. Katanya cuma kecapekan, dibawa istirahat juga nanti sembuh sendiri."
Naufal mengembuskan napas pelan. Kemudian duduk kembali ke sofa. "Namanya juga istri dokter. Kadang paling susah disuruh periksa. Dikira punya suami dokter bisa terhindar dari segala penyakit."
Albie tersenyum getir. "Aku tetap nggak tenang, ..." tatapanya kembali kosong. "Takut kenapa-kenapa sama Qistina."
Tak lama kemudian ponsel yang Albie letakkan di atas meja, berderit panjang.
Reflek, ia menoleh ke arah layar. Napasnya seketika tertahan di tenggorokan. "Rumah?" gumamnya nyaris tanpa suara.
Keningnya berkerut. Jarang sekali telpon rumah menghubunginya saat jam kerja. Kecuali jika benar-benar ada sesuatu yang penting. Dadanya mendadak dipenuhi rasa gelisah. Jemarinya bergetar, menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum. Ada apa?"
"Pak ... Ini saya, Rani." Suara baby sitter putri mereka terdengar bergetar dari seberang telepon.
Kening Albie langsung berkerut. "Kenapa, Ran?"
"Ibu ... Ibu Qistina pingsan, Pak."
Albie membeku. Jemarinya menegang menggenggam ponsel. "Pingsan?!"
"Ibuk pingsan di kamar mandi. Tadi sempet mimisan juga..."
"Sekarang gimana?!" Albie cepat menyela. Kemudian berdiri. Hingga kursinya bergeser cukup keras.
Naufal yang melihat ketegangan di wajah Albie, ikut berdiri.
"Bik Sarti sama Hilman sudah bawa Ibu ke IGD." Rani menjawab.
Jantung Albie seperti berhenti berdetak sesaat. Bumi seolah berhenti berputar, di ruangan yang didominasi cat putih bersih. "Saya ke sana sekarang."
Sambungan telepon terputus. Albie langsung menyambar jas putihnya. Gegas melangkah lebar.
"Kenapa, Bie?" Naufal penasaran.
"Qistina pingsan!"
Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibir Albie. Tanpa sempat menjelaskan apa pun lagi, Albie berlari keluar ruangan.
Lorong-lorong menuju IGD terasa lebih panjang. Wajah Albie kehilangan warna, napasnya memburu. Seolah apa yang dilewatinya tidaklah terlalu penting untuk dilihat.
Yang ada dikepalanya hanya satu. Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Qistina.
*
*
*
~ Salam hangat dari Penulis 🤍
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!