Indonesia
NovelToon NovelToon

Starfall: The Last Child From The Stars

Bab 0 – Prolog

Malam itu, gemuruh datang dari langit.

Suaranya membelah angkasa, bergaung layaknya hantaman petir yang dahsyat.

Namun, itu bukanlah petir.

Lelaki itu tahu, ada sesuatu yang lain di atas sana.

Klap-klop! Klap-klop!

Seorang lelaki berkuda dengan jubah kebesarannya membelah kegelapan hutan.

Ia memacu kudanya sekuat tenaga. Membiarkan angin malam yang dingin menerpa kasar wajahnya.

Hingga akhirnya, ia tiba di sebuah padang rumput nan asri.

Di bawah langit malam, rumput-rumput bergoyang lembut tatkala angin menyapa mereka.

Lelaki itu menghentikan kudanya. Ia menengadah ke langit, menatap ribuan bintang yang bertebaran di atas sana.

Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.

Ia perlahan memejamkan mata. Sunyi. Seperti sedang merapalkan doa dalam diam.

Namun, keheningan khidmat itu hanya bertahan beberapa detik.

Begitu ia membuka mata, sebuah bintang melesat turun membelah cakrawala.

Wuuush—!

Angin berderu kencang, disusul suara gemuruh yang menggetarkan tanah.

Lelaki itu tersentak. Ia segera memacu kudanya, mengejar ke mana arah bintang itu pergi.

Ia tahu, itu bukan bintang jatuh biasa.

Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang ganjil.

Fakta bahwa cahaya itu tidak kunjung menghilang di batas langit membuat rasa penasarannya membuncah. Ia harus melihatnya secara langsung.

BOOM!

Ledakan hebat mengguncang bumi.

Lelaki itu refleks menarik tali kekang, menghentikan laju kudanya.

Matanya menatap tajam ke arah asap hitam yang mengepul tinggi di kejauhan.

Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menghentak kudanya. Melesat lurus menuju pusat ledakan.

“A-apa itu...?” gumamnya lirih saat tiba di lokasi.

Napasnya tertahan.

Di hadapannya kini, sebuah kawah berdiameter luas terhampar dengan mengerikan.

Bunga-bunga api masih menyala, membakar setiap sudut di pusat ledakan.

Namun, mata lelaki itu langsung terkunci pada satu titik.

Dari tepi kawah, ia mengernyitkan dahi. Menatap heran ke arah sebuah bola berwarna perak yang berada tepat di tengah-tengah kehancuran tersebut.

Sebuah benda asing yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

Ia memutuskan untuk turun dari kudanya.

Dengan langkah super hati-hati, ia mulai menuruni lereng kawah yang curam.

Sret—

Pedang di pinggangnya kini telah lolos dari sarung. Ia berjalan pelan, nyaris tanpa suara, mendekati objek misterius tersebut.

Lelaki itu menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Begitu jaraknya cukup dekat, ia tertegun.

Bola logam itu ternyata jauh lebih besar dari dugaannya. Tingginya hampir mencapai pinggang orang dewasa.

Bentuknya bulat sempurna, sangat mulus tanpa ada goresan sedikit pun. Dan anehnya... benda itu terasa dingin. Sama sekali tidak memancarkan hawa panas sisa ledakan.

Ia belum pernah melihat teknologi atau sihir seperti ini seumur hidupnya.

‘Apa ini... senjata buatan musuh?’ batinnya waswas.

Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mulai meraba permukaan benda tersebut. Mencoba mencari petunjuk sekecil apa pun.

Pikirannya berkecamuk. Ia menduga jika benda ini adalah sejenis peluru meriam tipe baru. Jika dugaannya benar, satu tembakan dari benda ini saja sudah cukup untuk meratakan seluruh kota.

Ia harus segera melaporkan temuan berbahaya ini kepada dewan kerajaan.

Namun, tepat saat ia sedang menganalisis benda tersebut—

Psssssh—!

Asap putih mendadak menyembur keluar dari bagian bawah bola perak itu. Asap itu keluar dari lubang-lubang kecil yang sebelumnya sama sekali tidak kasat mata.

Sontak, lelaki itu langsung melompat mundur beberapa langkah.

Ia memasang kuda-kuda kokoh. Pedangnya terhunus lurus ke depan, seketika diselimuti oleh pendaran cahaya sihir berwarna emas yang berkilau tajam.

Detik berikutnya, bagian atas bola logam itu mulai terbuka perlahan.

Sebuah pendaran cahaya misterius memancar dari dalam celahnya.

Lelaki itu tetap bertahan di posisinya. Menunggu dalam keheningan yang mencekam dan penuh ketegangan.

Sesaat setelah ia mencoba melangkah maju untuk mengintip—

“Ueeeee... ueeeeee...”

Suara tangisan bayi memecah kesunyian malam. Suaranya terdengar begitu pilu dan rapuh.

Rasa waspadanya seketika runtuh. Lelaki itu langsung berlari mendekat tanpa berpikir dua kali.

Kedua matanya melebar sempurna.

Di dalam sana... duduk seorang bayi mungil.

Ia tampak duduk dengan nyaman, tertahan oleh sebuah sabuk pengaman berukuran kecil yang terlihat sangat imut.

Begitu sepasang mata bulat milik sang bayi bertemu pandang dengannya, tangisan pilu itu mendadak reda.

“Gyaaa... hahaAn”

Tangisan itu berubah menjadi tawa riang. Sang bayi tersenyum begitu lebar dan tulus, memancarkan kehangatan yang luar biasa.

Melihat senyuman tak berdosa itu, pertahanan sang kesatria runtuh seketika. Hatinya luluh sepenuhnya.

Klik—

Sabuk pengaman imut itu terlepas secara otomatis.

Kini, sang bayi bisa menggerakkan tubuh mungilnya dengan bebas.

Melihat hal itu, sang lelaki segera mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya.

Ia sempat menoleh ke kanan dan ke kiri. Menatap sekeliling kawah yang sunyi, senyap, dan benar-benar mati tanpa ada tanda-tanda kehidupan lain.

Rasa bingung kini berkecamuk di dalam kepalanya.

Bagaimana mungkin ada seorang bayi di tempat mengerikan seperti ini? Di dalam sebuah bola perak aneh, yang jatuh langsung dari hamparan angkasa luar pula.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Namun, ada satu hal yang ia yakini saat ini. Bayi ini sendirian.

‘Apa dia dibuang oleh orang tuanya yang tidak bertanggung jawab...?’ pikirnya, merasa iba.

Lelaki itu menurunkan pandangannya, menatap wajah polos sang bayi lalu mengulas sebuah senyuman hangat.

"Tenang saja. Mulai sekarang, kau akan pulang bersamaku."

Mendengar ucapan itu, si bayi kecil hanya tertawa riang, seolah memahami perkataannya.

Wush—!

Dengan satu lompatan ringan, ia melesat keluar dari kawah dan kembali menaiki kuda putih kesayangannya.

Tentu saja, kini ada seorang bayi mungil yang lucu berada di dalam dekapannya yang hangat.

Ia menghentak kekang, memacu kudanya untuk segera pergi meninggalkan lokasi peristiwa aneh tersebut.

Lelaki itu sama sekali tidak menyadari.

Bahwa di masa depan, sesuatu yang akan mengubah seluruh tatanan dunia akan segera terjadi.

Dan seluruh pusaran takdir itu... akan berputar di sekitar bayi lucu yang sedang ia gendong saat ini.

Sepeninggal lelaki berkuda itu, bola perak di dasar kawah mendadak berkedip pelan.

Pip. Pip.

Secara ajaib, benda logam itu perlahan melayang di udara.

Siuuut—!

Bola itu tiba-tiba berputar dengan kecepatan ekstrem hingga menciptakan pusaran angin.

Detik berikutnya, benda itu bertindak layaknya mesin bor raksasa. Menggali dan menembus lapisan tanah dengan sangat cepat menuju kedalaman bumi.

Setelah mencapai kedalaman yang dirasa cukup, perputarannya mendadak berhenti.

Dug! Dug! Dug!

Rangkaian ledakan kecil beruntun terjadi di dalam tanah. Membuat dinding-dinding batu runtuh dan mengubur bola perak itu hidup-hidup di kegelapan terdalam.

Hening. Kawah itu kembali sepi.

Seolah-olah... benda asing dari angkasa itu memang tidak pernah ingin keberadaannya diketahui oleh siapa pun di dunia ini.

Bab 1 – Pangeran Tanpa Mana, Tapi Bisa Meninju Gajah Raksasa!

Enam belas tahun kemudian....

​BOOM!

​Hutan yang tadinya sunyi senyap seketika pecah oleh suara ledakan hebat.

​Tanah bergetar hebat, menciptakan gempa beruntun yang memaksa hewan-hewan kecil lari tunggang langgang demi menyelamatkan nyawa mereka.

​Dari balik kabut debu dan pepohonan yang tumbang massal, sesosok bayangan raksasa menerobos masuk. Tubuhnya yang luar biasa besar dengan mudah meruntuhkan pohon-pohon kuno yang menghalangi jalannya.

​Itu adalah Yogner—seekor monster gajah purba bergading empat. Ukuran tubuhnya abnormal, tingginya bahkan melampaui menara pengawas kerajaan.

​Makhluk itu tidak sedang mengamuk. Tidak juga sedang berburu. Menilai dari matanya yang terbelalak penuh horor, monster tingkat 5 yang ditakuti para petualang itu justru sedang... melarikan diri.

​Entah hal mengerikan apa yang bisa membuat monster sekelas bencana itu ketakutan setengah mati.

​"Oi, mau lari ke mana kau!?"

​Sebuah suara kasual bergema dari atas langit.

​Wush!

​Seorang pemuda mendadak melesat di udara, melewati kepala raksasa sang gajah. Monster itu tersentak, berniat menghindar, namun terlambat.

​Pemuda itu mengepalkan tangan kanannya. Sederhana, tanpa kuda-kuda sihir yang rumit.

​DUAKK!

​Satu pukulan mentah bersarang telak di dahi Yogner. Pukulan yang begitu kuat hingga mampu memaksa tubuh raksasa seberat puluhan ton itu tersungkur, menghantam tanah hingga menciptakan kawah baru.

​Sebelum debu sempat turun, pemuda itu sudah mendarat dengan santai di depan wajah sang gajah. Tanpa membuang waktu, ia mencengkeram belalai raksasa itu dengan satu tangan, mencengkeramnya erat layaknya menggenggam tali tambang biasa.

​"Satu... dua... tiii-gaaa!"

​Dengan seringai lebar, ia mulai memutar tubuhnya. Satu putaran, dua putaran—membuat monster gajah itu melayang berputar di udara seperti mainan anak-anak.

​SWING—!

​Genggamannya dilepas. Tubuh Yogner terlempar vertikal membelah awan, melesat jauh ke langit lepas sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.

​Pemuda itu bertepuk tangan, membersihkan debu imaginer di bajunya, lalu menoleh ke belakang dengan mata berbinar.

​"Lihat itu... bukankah itu rekor baru? Iya kan, Bernard?"

​Dari balik semak-semak, seorang pria tua berpakaian pelayan melangkah gontai. Napasnya terengah-engah parah, tersengal-sengal tak karuan layaknya orang yang baru saja lolos dari maut.

​Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang gemetar. Wajahnya pucat pasi, dan tangannya terus mencengkeram dada kiri—merasa jantungnya bisa meledak kapan saja akibat syok berat.

​"Pan-Pangeran Edward..." Bernard berbisik lirih, suaranya parau. "Tolong... kasihani orang tua ini... Hah... Hah... Jantung saya bisa copot..."

​Edward—sang pangeran sekaligus bayi misterius dari langit belasan tahun lalu—hanya berkacak pinggang sambil tertawa renyah.

​"Ayolah, Bernard. Baru berjalan melewati dua hutan saja kau sudah seperti ini."

​"Itulah masalahnya... Hah... Hah... Tuan Muda masih muda... Sementara saya sudah tua...." Bernard menyahut di sela napasnya yang putus-putus.

"Tinggalkan saya saja, Tuan Muda...."

​"Baiklah...." Edward menyeringai tipis. Tubuh pemuda itu kembali melayang ringan di udara.

​Namun, alih-alih terbang meninggalkan Bernard sendirian seperti yang diminta, Edward justru menyambar kerah baju sang pelayan tua. Dengan satu gerakan santai, ia mengangkat tubuh Bernard dan membawanya melayang bersama.

​Sontak saja, sang pelayan langsung panik setengah mati. "Uwaaa?! Tuan Muda, apa yang Anda lakukan?!"

​"Jika aku harus berjalan menunggumu, itu akan memakan waktu lama. Kau tahu sendiri, kan, kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum kegelapan malam tiba," jelas sang Pangeran dengan nada kelewat santai, seolah-olah membawa manusia terbang adalah hal paling normal di dunia.

​"T-tapi—!"

​"Sudah, pegangan saja yang erat."

​BOOM!

​Edward mendadak menambah kecepatannya secara ekstrem. Udara di sekitar mereka meledak, menciptakan efek sonic boom mini yang membuat Bernard merasa jiwanya tertinggal jauh di belakang.

​Hanya butuh beberapa detik bagi Edward untuk memindai area dari ketinggian. Matanya yang tajam segera menemukan Yogner raksasa tadi. Monster malang itu kini terbaring lunglai di atas tanah, mengerang menahan sakit yang luar biasa. Tampaknya serangan Edward mematahkan beberapa tulang besarnya, membuat makhluk itu mustahil untuk kembali bangkit.

​Tap.

​Edward mendaratkan kakinya ke tanah, menurunkan Bernard yang seluruh tubuhnya sudah gemetaran layaknya jeli. Tanpa membuang waktu sekejap pun, tubuh sang Pangeran kembali melesat cepat, meluncur lurus ke arah Yogner.

​Sungguh nasib malang bagi sang monster tingkat 5.

​Belum sempat otaknya yang lambat memproses apa yang sedang terjadi, bayangan Edward sudah berkelebat tepat di depan wajahnya.

​JEDARRR!

​Satu terjangan murni tanpa ampun menghantam telak. Hantaman itu begitu mengerikan hingga membuat kepala raksasa sang gajah berlubang besar, menembus langsung hingga ke bagian belakang. Seketika itu juga, sang monster mati total tanpa sempat mengeluarkan lengkingan terakhir. Tubuh raksasanya ambruk, tak bergerak lagi untuk selamanya.

​Di kejauhan, Bernard hanya bisa memandang ngeri ke arah kawah darah tersebut.

​Gila. Benar-benar gila.

​Selama puluhan tahun hidup dan mengabdi pada kerajaan, belum pernah sekali pun Bernard melihat ada kesatria atau penyihir hebat yang mampu melubangi kepala Yogner hingga tembus secara instan. Bahkan, Yang Mulia Raja yang agung maupun para Penyihir Agung legendaris kerajaan pun masih harus bersusah payah jika berhadapan dengan monster sekelas ini.

​Namun, di hadapan remaja berusia enam belas tahun ini... monster bencana itu tak lebih dari sekadar hama yang bisa dihancurkan dalam satu kedipan mata.

Edward berjalan menghampirinya dengan busungan dada penuh kebanggaan. "Yap, selesai! Ayo kita pulang."

​"T-tunggu, Tuan Muda. Saya mohon... kali ini kita jalan kaki saja," ratap Bernard, masih berusaha mengumpulkan jiwanya yang sempat tertinggal.

​"Ah, sudahlah, biar cepat! Kali ini aku janji akan terbang pelan-pelan, deh."

​Tanpa menunggu persetujuan, Edward kembali menyambar tubuh sang pelayan tua dan melesat ke angkasa menuju istana. Kali ini, gerakannya memang jauh lebih lembut. Tentu saja, sang Pangeran sama sekali tidak berniat ditinggalkan Bernard sebelum waktunya.

​Sebenarnya, Bernard tidak terlalu keberatan dengan sensasi melayang di udara ini. Malahan, ia cukup menikmatinya—tentu saja dengan catatan jika kecepatannya berada di batas normal, bukan kecepatan gila yang ia rasakan sebelumnya.

​Dari ketinggian ini, Bernard bisa menyaksikan dunia dari sudut pandang baru yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Pemandangan indah yang tersaji sejauh mata memandang tidak pernah gagal membuat pria tua itu berdecak kagum.

​Mereka melewati barisan pegunungan yang megah, rimbunan hutan hijau yang luas, hamparan padang rumput yang memanjakan mata, kilauan sungai-sungai berarus deras, hingga barisan rumah penduduk dan hiruk-pikuk kota. Dari atas sini, seluruh dunia tampak begitu menakjubkan dan damai.

​Sejak ditunjuk menjadi pelayan pribadinya, ke mana pun sang Pangeran pergi, Bernard akan selalu ada di sampingnya. Tugas ini adalah titah langsung dari sang Raja. Jadi, mau tidak mau, Bernard harus rela "diculik" dan dibawa terbang setiap kali Edward ingin bepergian ke suatu tempat.

​Awalnya, pengalaman itu adalah mimpi buruk yang menakutkan bagi Bernard. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh tuanya mulai terbiasa. Baik itu terbang dengan kecepatan santai, maupun kecepatan ekstrem yang sanggup membuat jantungnya copot. Dan jika boleh jujur... pengalaman terbang yang membuat jantungnya hampir meledak justru adalah jenis penerbangan yang paling sering ia alami bersama Edward.

...****************...

​Sebelum langit berganti warna menjadi jingga kemerahan, keduanya akhirnya tiba di area istana.

​Tap.

​Mereka mendarat dengan mulus tepat di tengah taman luas yang biasanya digunakan oleh Yang Mulia Ratu, Tiana, untuk bersantai.

​Dan benar saja, tebakan mereka tidak meleset. Wanita jelita dengan pembawaan anggun itu sudah duduk di sana, sedang menikmati teh sorenya di dalam sebuah paviliun taman yang asri.

Ia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh seorang pelayan wanita berkacamata yang berdiri dengan sikap takzim di sisinya.

​"Loh, sudah pulang?" ucap Ratu Tiana hangat, melirik dari balik topi musim panasnya yang lebar begitu menyadari kehadiran mereka.

"Sudah Ibu duga kau pasti akan menyelesaikannya dengan cepat."

​"Tentu saja! Siapa dulu dong," sahut Edward, menepuk dadanya dengan bangga.

​"Kau tidak membuat Bernard jantungan lagi, kan?" tanya Tiana, menatap jenaka ke arah pelayan tua di belakang putranya.

​Edward mengibaskan tangannya dengan santai. "Ah, dia bisa mengatasinya. Bukan begitu, Bernard?"

​"I-iya..." Bernard menjawab dengan suara bergetar. Langkah kakinya masih goyah saat berjalan mendekat, sebelum akhirnya berdiri di samping pelayan wanita berkacamata yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa iba.

​"Iya deh, putra Ibu memang yang terkuat," ucap Ratu Tiana sembari tersenyum manis lalu menyeruput teh hangatnya.

"Lalu, apa kau menggunakan pedang pemberian Pamanmu?"

​Seketika, tubuh Edward tersentak. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Ehehehe... t-tidak, Ibunda."

​"Edward, Ibu sudah bilang berapa kali padamu untuk menggunakan pedang itu. Sesekali cobalah untuk mengasah keahlian pedangmu, jangan hanya mengandalkan kekuatan fisikmu saja," nasihat Ratu Tiana panjang lebar.

​"T-tapi Ibunda, pedang itu bahkan tidak bisa menggores kulit Yogner. Jika aku tidak menggunakan kekuatanku, pasti aku masih akan tertahan di sana sampai malam tiba," bela Edward jujur.

​Uhuk!

​Ratu Tiana langsung tersedak tehnya sendiri mendengar penuturan polos sang putra. Ia buru-buru menyeka bibirnya dengan saputangan sutra.

​"Y-Yogner?!" pekik Tiana terkejut, matanya membelalak. "Untuk apa kau menyerang Yogner?! Ayahandamu kan hanya menyuruhmu untuk berpatroli dan membereskan area perbatasan hutan!"

​"T-tapi aku memang melakukan itu! Yogner itu menerobos perbatasan, jadi aku menghabisinya seperti yang diperintahkan Ayahanda," Edward membela diri, tidak merasa ada yang salah dengan tindakannya.

​Tiana menarik napas dalam-dalam, lalu beralih menatap sang pelayan tua. "Apa itu benar, Bernard?"

​"I-iya, Yang Mulia. Saya bersaksi bahwa Yang Mulia Pangeran berkata jujur," jawab Bernard dengan takzim, meski wajahnya masih agak pucat.

​Mendengar konfirmasi tersebut, Ratu Tiana hanya bisa memijit keningnya yang mendadak pusing. Beliau benar-benar kehilangan kata-kata.

​Sejak kecil, potensi fisik Edward memang berkembang dengan sangat pesat dan tidak masuk akal, padahal pemuda itu sama sekali tidak memiliki aliran Mana di dalam tubuhnya.

Namun, sampai bisa menghabisi seekor Yogner—monster bencana yang bahkan suaminya sendiri, sang Raja, masih merasa kesulitan untuk menghadapinya—adalah hal yang berada di luar nalar.

​Itu sudah jauh melampaui kata menakjubkan. Itu adalah anomali murni.

​"Kalau begitu, temui Ayahmu. Lebih baik kau melapor padanya dulu dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi," jelas Ratu Tiana dengan nada serius.

"Kemunculan Yogner bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Seharusnya monster sekelas itu terisolasi jauh di dalam hutan liar. Jika tiba-tiba dia sampai muncul di perbatasan, pasti ada sesuatu yang sangat mendesak yang membuatnya keluar dari sarang."

​"Baik, Ibunda." Edward membungkuk hormat dengan takzim sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah kaki yang riang.

​"Ah, Yang Mulia, tunggu saya!" seru Bernard setengah panik, langsung berlari kecil menyusul di belakangnya.

​Ratu Tiana hanya bisa tersenyum simpul menatap punggung putranya yang perlahan menjauh. Sifat Edward yang sekarang benar-benar sudah berbeda jauh dengan dirinya yang dulu.

​Dulu, Edward kecil adalah sosok yang sangat tertutup. Ia tumbuh dalam kesepian, dikucilkan dan dijauhi oleh lingkungan istana karena kondisinya. Terutama... karena fakta bahwa tubuhnya sama sekali tidak memiliki aliran Mana.

​Penghinaan demi penghinaan kerap mampir ke telinganya. Saat jamuan makan besar atau pesta kerajaan diadakan, Edward selalu memilih untuk menyendiri di sudut ruangan yang gelap, tahu betul bahwa tidak akan ada yang sudi berbicara atau sekadar mendekatinya.

​Bahkan, Ratu Tiana tidak akan pernah bisa melupakan hari kelam di mana pihak Gereja menghina Edward di depan publik, menyebut bocah malang itu sebagai "Anak Terkutuk."

​Namun, awan mendung di hati Edward mendadak sirna seiring bertambahnya usia. Ia tumbuh menjadi pemuda yang ceria, hangat, dan terbuka. Terlebih lagi sejak ia mendapatkan pelayan pribadinya sendiri, Bernard, yang selalu setia menemani hari-harinya.

​Tangan lentik sang Ratu bergerak mengambil cangkir tehnya, lalu menyeruputnya perlahan. Ia menatap pantulan dirinya yang beriak di permukaan teh hangat tersebut, lalu tersenyum lembut.

​Sebagai seorang ibu, meskipun Edward bukanlah putra kandung yang lahir dari rahimnya sendiri... ia selalu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan yang terbaik untuk pemuda itu.

​Jika saatnya tiba nanti, Ratu Tiana sangat yakin, dunia akan melihat Edward sebagai seorang penyelamat—bukan sosok pembawa kehancuran seperti yang diramalkan orang-orang munafik itu.

​"Teh ini enak sekali seperti biasanya, Emma," ucap Ratu Tiana memecah keheningan.

​"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia," sahut pelayan wanita berkacamata di belakangnya dengan busur hormat yang sempurna.

​Sang Ratu pun kembali menikmati sore harinya yang tenang di paviliun istana, ditemani semilir angin hangat dan keharuman kelopak bunga yang bermekaran dengan indah.

Bab 2 – Undangan Akademi Lumina dan Masalah di Perbatasan.

​"Jadi begitu...?"

​Raja Nolan mengelus janggut tebalnya, tampak tenggelam dalam takaran informasi yang baru saja ia terima.

"Kalau begitu, aku akan meminta Jenderal Vermont untuk menyelidiki masalah ini secara langsung. Kerja bagus, Edward."

​"Terima kasih atas pujiannya, Ayahanda," ucap Edward sambil menundukkan kepalanya takzim.

​Raja Nolan bangkit berdiri dari singgasana megahnya. Langkah kakinya terdengar mantap saat ia menuruni anak tangga altar, berjalan mendekati putra angkatnya.

​"Sebelum kau pergi, ada satu hal penting lain yang harus kusampaikan," ucap Sang Raja sembari merogoh saku jubah kebesarannya, lalu mengeluarkan sebuah pucuk surat dengan segel lilin yang terlihat mewah.

​Edward menegakkan tubuhnya dan menerima surat tersebut dengan dahi mengernyit. "A-apa ini, Ayahanda?"

​"Itu adalah undangan resmi untuk masuk ke Akademi Lumina. Dalam dua minggu lagi, kau akan menimba ilmu di sana."

​Deg.

​Seketika itu juga, baik Edward maupun Bernard yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung tersentak kaget. Suasana di dalam ruang audiensi yang luas itu mendadak diselimuti keheningan yang tegang.

​"A-apa Ayahanda yakin? Aku sama sekali...." Edward menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Ia menundukkan kepala, menatap nanar ke arah surat di tangannya.

​"Tidak punya Mana?" tebak Sang Raja langsung, memotong keraguan putranya dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.

​Edward mengangguk pelan, tidak bisa membantah fakta pahit tersebut.

​“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Tujuanmu ke sana hanyalah untuk menimba ilmu secara umum.”

​Raja Nolan menepuk pundak kokoh Edward, mencoba menyalurkan ketenangan dari telapak tangannya.

​“Kau tidak perlu memaksakan diri masuk ke kelas sihir atau faksi yang berhubungan dengan itu. Kelas utamamu adalah kelas-kelas reguler seperti pelajaran bahasa, matematika, tata krama, dan ilmu strategi ekonomi.”

​Sang Raja tersenyum tipis.

​“Namun, jika kau memang tertarik, kau bebas menghadiri kelas sihir mereka sekadar untuk mencari pengalaman baru.”

​Edward terdiam.

​Ia meremas pelan pinggiran surat undangan di tangannya. Kertas pembungkus yang mewah itu sedikit berkerut akibat tekanan jarinya.

​“Tapi tetap saja, Ayahanda... kemampuan sihir adalah syarat mutlak di sana,” jelas sang Pangeran, mencoba bersikap realistis.

​Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap langsung ke mata sang Ayah.

​“Tanpa setitik pun Mana, para penguji akan langsung mendepakku keluar bahkan sebelum aku sempat melangkahi pintu gerbang mereka.”

​Edward tahu betul bagaimana dunia luar memandang dirinya. Dan akademi itu bukanlah tempat yang ramah bagi orang biasa, apalagi seorang pangeran tanpa sihir.

​“Ayahanda juga tahu sendiri, kan? Otoritas Akademi Lumina berjalan secara independen. Mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh politik praktis, maupun campur tangan dari pihak kerajaan dan gereja.”

Edward sekali lagi menatap surat di tangannya.

​“Dan bukankah aneh mereka mengirim undangan padaku? Aku rasa surat ini bukan ditujukan untukku.”

​Edward sudah pasti merasa curiga.

​Sejak upacara pembaptisan beberapa tahun lalu, namanya sudah terkenal ke berbagai pelosok negeri. Dan bukan tidak mungkin pihak akademi tidak akan mengetahui berita sebesar itu.

​Sebelas tahun lalu.

​Tahun di mana pemuda itu dipermalukan di hadapan publik.

​Otoritas Gereja yang mengetahui Edward tidak memiliki inti Mana ketika upacara berlangsung, segera mencap dirinya sebagai anak terkutuk yang diberkahi Iblis.

​Ia masih ingat benar tatapan mata orang-orang di sana. Begitu sinis, dingin, dan penuh penghinaan.

​Tetapi berbeda dengan kedua orang tuanya. Mereka dengan cepat membela Edward.

​Terutama Ratu Tiana. Wanita itu adalah orang pertama dan yang paling depan berdiri langsung untuk melindunginya.

​Raja Nolan sebenarnya juga sangat kesal, tetapi ia masih bisa bersikap tenang dan berusaha mengendalikan emosinya agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk di aula suci tersebut.

​Berbeda dengan Ratu Tiana, yang bahkan hampir mendeklarasikan perang pada pihak gereja jika saat itu Nolan tidak segera menahan dan menenangkan istrinya.

​Mengingat hal itu, Edward menghela napas pendek.

​“Memang benar.”

​Raja Nolan memecah lamunan Edward.

​“Surat itu sebenarnya ditujukan untuk Kakakmu. Tapi karena dia memilih masuk ke akademi militer, jadi dia berkata jika surat itu diberikan untukmu saja.”

​Sang Raja mengulas senyum tipis.

​“Katanya, ini kesempatan bagus bagimu untuk menambah pengalaman baru di luar sana.”

Edward kembali menunduk.

​“Tapi tetap saja—”

​“Kalau tidak mau ya sudah.”

​Raja Nolan dengan gerakan cepat menyambar surat itu dari tangan putranya.

​“Eh, aku mau, aku mau!”

​Sret!

​Edward seketika merebut kembali surat itu dari cengkeraman sang Raja. Ia memeluk kertas itu erat-erat, menatapnya dengan mata yang mendadak berbinar-binar penuh semangat.

​Raja Nolan hanya bisa terkekeh geli memandang kelakuan putranya yang berubah dalam sekejap.

​“Kalau begitu, persiapkan dirimu baik-baik. Untuk masalah persyaratan masuk, kau tidak perlu khawatir. Ayah sebenarnya sudah membicarakan hal ini langsung dengan Kepala Akademi, dan dia sudah menyetujuinya.”

​“Woah... Terima kasih, Ayahanda! Kau memang yang terbaik!” ujar Edward kegirangan.

​“Sudah, cepat bersihkan dirimu. Sebentar lagi makan malam akan dihidangkan. Jangan sampai terlambat masuk ke ruang makan.”

​Edward mengangguk mantap dengan senyum lebar. Ia berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya dengan perasaan riang, diikuti oleh Bernard yang setia mengekor di belakang.

​Sang Raja tersenyum simpul, menatap punggung putranya hingga menghilang di balik pintu aula, sebelum akhirnya berjalan kembali menuju singgasananya.

​Sejenak, pikiran pria paruh baya itu menerawang jauh ke depan.

​Ia menantikan hal menarik macam apa yang akan dilakukan oleh putranya di akademi itu nanti.

​Nolan berharap, dengan langkah ini Edward bisa menemukan dunia yang baru. Sebuah tempat di mana orang-orang bisa mengenal siapa sosok Edward yang sebenarnya, terlepas dari status "Anak Tanpa Mana" yang terus membebani pundak kecilnya selama bertahun-tahun.

...****************...

Keesokan harinya, Edward berniat untuk kembali melakukan patroli.

​Sebenarnya, urusan patroli wilayah seperti ini adalah tugas rutin milik kakaknya. Namun, karena lelaki itu sedang mengemban tugas militer di luar negeri, Edward pun ditunjuk oleh sang Ayah untuk menggantikan posisinya menjaga perbatasan.

​Di saat dirinya sedang sibuk merapikan pakaian di depan cermin, matanya melirik sepucuk surat yang tergeletak di atas rak kecil di samping tempat tidur.

​Ia mengambil surat undangan Akademi Lumina tersebut, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

​“Aku pasti akan mengguncang dunia. Lihat saja nanti!” katanya mantap, penuh keyakinan.

​Tok! Tok! Tok!

​“Tuan Muda, apakah Anda sudah bangun? Jenderal Vermont berkata ingin menemui Anda,” suara Bernard terdengar dari balik pintu kamar.

​“Iya, aku keluar sekarang.”

​Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, Edward membuka pintu kamarnya. Bernard sudah berdiri di sana dengan sikap takzim seperti biasa.

​“Beliau saat ini sedang menunggu Anda di aula utama,” ujar sang pelayan tua.

​Kedua orang itu pun lantas segera melangkah pergi untuk menemui sang Jenderal.

​Jenderal Vermont.

​Ia adalah sosok lelaki gagah perkasa yang sangat disegani, baik di dalam maupun di luar negeri. Rangkaian prestasi militernya telah mengukir namanya hingga melambung tinggi, membuahkan sebuah julukan yang selalu berhasil membuat musuh-musuhnya gemetar ketakutan.

​The Sword of Aureliania.

​Seorang kesatria sihir Lingkaran 5. Salah satu tingkatan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia biasa, hanya bermodalkan kerja keras murni tanpa adanya bakat alami sejak lahir.

​Di medan peperangan, Jenderal Vermont dikenal tak terkalahkan. Ia adalah seorang ahli strategi sekaligus penyusun taktik yang jenius. Kontribusi besarnya pada negara tidak hanya membuahkan julukan keren, namun juga membuatnya diangkat langsung oleh Raja Nolan menjadi seorang Duke.

​Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seseorang yang terlahir sebagai rakyat jelata di sebuah desa terpencil.

​Edward bersama pelayan setianya akhirnya tiba di aula utama. Di sana, Raja Nolan dan Jenderal Vermont rupanya sudah berdiri menunggu kehadirannya.

Edward menelan ludah.

​Jika sampai masalah ini melibatkan Ayandahanya secara langsung, maka situasi di luar sana pasti sedang tidak baik-baik saja.

​“Salam, Yang Mulia. Salam, Jenderal Vermont,” sapa sang Pangeran dengan busur hormat yang sopan.

​“Ah, Edward, kau sudah sampai. Ada hal penting yang ingin dibicarakan Duke Vermont padamu,” ucap Raja Nolan langsung pada inti masalah.

​Jenderal Vermont meletakkan tangan kanannya di dada, lalu membungkuk hormat. “Salam, Pangeran muda. Maaf karena telah mengganggu waktu Anda.”

​“Tidak apa-apa. Sebenarnya ada apa ini? Apakah ini berkaitan dengan laporan yang kukirim kemarin?”

​“Intuisi Anda memang menakjubkan, Pangeran.”

​Jenderal Vermont mengangguk tegas, tatapan matanya menajam.

“Mengikuti laporan Anda kemarin, saya beserta para prajurit langsung bergerak ke perbatasan guna mencari tahu penyebab sebenarnya.”

“Di sana... kami menemukan sesuatu.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!