Raungan mesin memenuhi arena balap liar di pinggiran kota. Malam itu, puluhan orang berdiri mengelilingi lintasan dadakan yang diterangi lampu kendaraan. Sorak-sorai bercampur asap knalpot menciptakan suasana yang bising dan kacau.
Di tengah kerumunan, seorang pria berdiri dengan kedua tangan di dalam saku jaket hitamnya. Tatapannya datar. Tidak ada senyum dan juga raut kegembiraan. Padahal barusan ia memenangkan taruhan bernilai ratusan juta rupiah.
"Bara menang lagi!"
"Gilaaa! Tiga kali berturut-turut!"
"Orang ini monster!"
Beberapa orang berteriak penuh kagum, namun Bara Adikara sama sekali tidak peduli. Baginya, uang hanyalah angka. Kemenangan hanyalah rutinitas, dan kehidupan, tidak lebih dari permainan panjang yang membosankan.
"Bar, minum yuk sama yang lain," ucap Angel sambil tersenyum manis. Ia adalah sahabat dekat Barra yang bahkan dipercayai Bara untuk mengatur jadwal balapannya atau hal lain, karena saat ini Bara memang tengah mempersiapkan sesuatu yang sangat besar.
"Gue nggak pengen minum. Lo aja yang minum. Traktir anak-anak juga. Atau mungkin Lo mau sesuatu, beli aja!" ucap Barra sambil menyentuh layar ponselnya. Tak lama kemudian, uang masuk ke rekening Angel. Jumlahnya cukup besar. Sangat lebih dari cukup untuk bersenang-senang dan shoping.
"Thanks Bar!!" seru Angel senang, ia tiba-tiba memeluk Bara, tapi dengan cepat Bara menahan tubuh gadis berpenampilan seksi itu.
"Udah sana ... nggak usah peluk-peluk. Gue kepanasan."
"Iiihhhh pelit," rengek Angel, tapi kemudian gadis itu pergi dan Bara kembali sendiri.
Tak lama setelahnya, seorang pria bertubuh besar menghampirinya sambil membawa sebuah kunci kamar hotel.
"Hadiahnya udah masuk kan?"
"Hmm .... " jawab Barra singkat.
"Good, sekarang saatnya Lo merilekskan pikiran. Pijet sambil menikmati yang ssshhhh ... ahhhh .... " ucap Mike sambil tertawa lepas.
Tanpa banyak bicara lagi Bara meraih kunci kamar hotel yang Mike sodorkan lalu pergi. Beberapa gadis lain berusaha mendekat, berharap mendapat perhatian dari Bara, namun pria itu berjalan begitu saja menuju mobil sport hitam miliknya.
Langkahnya tenang dan dingin. Seolah dunia tidak layak mendapatkan lebih dari satu tatapan darinya.
Tak sampai setengah jam perjalanan, Bara sudah tiba di hotel, dan begitu tiba di sana, seseorang sudah menyambutnya. Cantik dan wangi. Kaki jenjangnya bahkan sangat menggoda. Tak hanya satu, tapi dua wanita.
Begitu Barra masuk dan pintu kembali tertutup rapat, kedua wanita itu langsung berjalan berlenggak lenggok ke arahnya. Meski dengan gerakan menggoda, semuanya masih normal.
Mereka melepas satu persatu pakaian Bara. Menampakkan guratan otot dan perut sixpack yang membuat wanita manapun akan meneguk saliva saat melihatnya. Kini tubuh kekar dan berotot itu hanya berbalut boxer tipis yang membuatnya semakin tampak sempurna.
Akan tetapi saat salah satu dari wanita itu mulai menggoda dengan mengusap perut bawahnya, tangan kokoh Bara langsung menahan.
"No kiss ... no sex ... fokus sama pekerjaan kalian atau balikin bayaran kalian," ucap Barra tegas diikuti tatapan mata dingin, membuat kedua wanita itu saling pandang, tapi tak ada yang berani melawan.
Bara bukannya tak tergoda, tapi ada sesuatu yang menahannya hingga semua itu akhirnya terasa hambar dan sama sekali tak bisa membangkitkan gairahnya.
Kini kedua matanya mulai terpejam saat tangan-tangan lembut itu mengurut tubuhnya. Suasana kamar yang tenang dan aroma terapi yang lembut membuat Barra mulai mengantuk, tapi notifikasi pesan dari ponselnya membuat kedua matanya kembali terbuka lebar.
Ternyata pesan itu datang dari Mike.
[Bar, gue baru dapet kabar. Malam ini, putri Nyonya Selina pulang dari luar negeri.]
Tanpa permisi Barra langsung bangkit.
"Ada apa Mas? apa pijatannya nggak enak?" tanya wanita yang semula mengurut tubuhnya.
"Nggak ada hubungannya sama itu. Tugas kalian selesai. Pergi sana!"
Kalimat itu kembali membuat wanita-wanita tukang pijat ketakutan. Dengan kecewa mereka segera mengemasi barang-barang dan keluar.
Kini Barra berduri di balkon. Kepulan asap rokok masih terus mengelilinginya. Angin malam menerpa rambut hitamnya. Mata gelapnya menyipit perlahan.
"Jadi akhirnya dia datang."
Pemuda itu menelan ludah. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Bara. Andrea Willona. Putri satu-satunya Selina. Wanita yang telah menghancurkan keluarga Bara. Wanita yang merebut ayahnya. Wanita yang membuat ibunya meninggal dalam kesedihan, dan sekarang anaknya datang.
Bara tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
"Aku pulang."
Rumah Adikara berdiri megah di atas tanah luas di kawasan elit kota. Bangunan tiga lantai itu terlihat seperti istana. Orang-orang mengira rumah itu milik keluarga bahagia yang sukses. Mereka tidak tahu bahwa rumah tersebut dibangun oleh seorang wanita yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.
Ibu Bara. Pemilik sah semua yang ada di sana. Setidaknya dulu.
Mobil Bara memasuki halaman. Gerbang besi terbuka perlahan. Ia turun tanpa menunggu siapa pun. Lampu rumah masih menyala terang. Saat memasuki ruang tamu, suara tawa langsung terdengar.
Ayahnya dan Selina. Bara tidak menghentikan langkah. Tidak juga menyapa. Seolah dua orang itu hanyalah furnitur mahal yang kebetulan berada di ruangan yang sama.
"Bara."
Suara berat sang ayah menghentikannya. Bara menoleh.
"Ada apa?"
"Kau baru pulang?"
"Hm."
Jawaban singkat. Selalu singkat. Wajah ayahnya langsung berubah tidak senang.
"Kau tidak bisa bicara lebih sopan?"
Bara hanya mengangkat bahu. Lalu kembali berjalan.
"Bara!"
Pria itu berdiri, namun Selina segera menahan lengannya.
"Sudahlah, Mas."
Bara tersenyum kecil tanpa menoleh. Senyum kemenangan. Ia tahu. Ayahnya selalu kalah saat berhadapan dengan Selina, dan itu membuatnya semakin muak.
Sesampainya di kamar, Bara langsung menutup pintu. Ruangan itu berbeda dari bagian rumah lainnya. Tidak banyak dekorasi. Tidak banyak warna. Hanya foto seorang wanita yang tersimpan rapi di atas meja. Ibunya.
Bara menatap foto itu cukup lama. Rahangnya mengeras.
"Aku belum lupa."
Suara rendahnya terdengar lirih.
"Mereka masih menikmati semua milik Ibu."
Matanya berubah dingin.
"Tapi tidak lama lagi."
Ia membuka laci meja. Di dalamnya terdapat map berisi dokumen-dokumen, sertifikat, salinan kepemilikan saham, laporan keuangan, dan berbagai data yang sudah ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
Semua demi satu tujuan. Mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik ibunya. Lalu menghancurkan mereka. Satu per satu.
Keesokan paginya. Bara turun ke ruang makan. Seperti biasa. Suasana terasa tidak nyaman. Ayahnya melihat ponsel. Selina sibuk mengatur pelayan, namun ada satu wajah baru di sana.
Seorang gadis duduk diam di ujung meja. Rambutnya hitam panjang. Wajah cantiknya tanpa riasan berlebihan. Kemeja putihnya cukup sederhana. Tidak mencolok, dan tidak ada kesan sombong. Tidak seperti bayangan Bara selama ini.
Gadis itu mendongak ketika mendengar langkah kaki. Mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Bara mengerutkan dahi.
Andrea Willona. Jadi ini orangnya?
Andrea segera berdiri ketika melihat Bara datang.
"Selamat pagi."
Suaranya lembut dan terdengar sedikit gugup. Bara tidak menjawab. Ia hanya menarik kursi lalu duduk di tempat biasanya. Andrea tampak canggung, tetapi tetap berusaha untuk tersenyum.
"Andrea baru sampai semalam," ujar Selina dengan wajah bangga ke arah Bara. "Mulai bulan depan dia kuliah di kampus yang sama denganmu."
"Lalu?" sahut Bara sambil mengambil gelas di hadapannya.
Seketika suasana meja makan menjadi hening. Wajah Selina berubah tidak senang.
"Bara, tidak bisakah kau bicara lebih baik sedikit?"
Namun sebelum Bara menjawab, Andrea buru-buru menyela.
"Tidak apa-apa Ma .... "
Gadis itu tersenyum kecil kepada ibunya lalu menoleh ke arah Bara.
"Aku memang baru datang, Kak Bara."
'Kak Bara.'
Sebutan itu membuat Bara mengangkat alis tipis. Andrea kembali melanjutkan dengan polos.
"Mama sering cerita tentang Kak Bara."
Bara nyaris tertawa. Cerita yang mana. Tentang dirinya yang dianggap anak pembangkang, atau tentang dirinya yang setiap hari berharap keluarga mereka hancur.
"Kak Bara pasti sibuk," lanjut Andrea.
"Tidak," jawab Bara pendek, namun Andrea malah terlihat senang karena akhirnya mendapatkan respons.
"Aku senang akhirnya kita bisa bertemu langsung," ucap Andrea lagi, membuat Bara menatap ke arahnya beberapa detik. Tidak ada kepura-puraan dari kalimat itu, tidak ada kesombongan, juga tidak ada tatapan merendahkan, yang ada hanya ketulusan, dan bagi Bara, itu aneh.
Selama bertahun-tahun ia membayangkan putri Selina pasti sama liciknya dengan ibunya. Manja, angkuh, menyebalkan, namun Andrea justru terlihat seperti anak yang terlalu baik untuk keluarga ini. Bahkan ketika menoleh kepada pak Danu, ayah kandung Bara. Gadis itu berkata dengan sopan.
"Om, nanti Andrea boleh lihat kampusnya?"
'Om' bukan Papa, bukan Ayah, atau sebutan keluarga lainnya. Andrea tetap menjaga batas yang jelas. Meskipun sudah bertahun-tahun ibunya menikah dengan pria itu.
Pak Danu pun tersenyum hangat.
"Tentu boleh."
Andrea mengangguk senang. Sedangkan Bara hanya memperhatikan semuanya dalam diam.
'Bodoh.'
Begitulah penilaiannya. Andrea terlalu polos. Terlalu mudah percaya pada orang lain. Terlalu naif untuk menyadari bahwa orang yang ia panggil 'Kak Bara' barusan, sebenarnya sedang memikirkan cara untuk bisa menghancurkan hidupnya, dan justru karena kepolosan itulah, Andrea menjadi target yang sempurna.
Bara menyesap kopinya perlahan. Tatapannya dingin. Di balik wajah tenangnya, sebuah rencana sudah mulai bergerak. Ia akan membuat Andrea jatuh ke dalam rayuannya.
Membuat gadis itu mempercayainya. Membuatnya bergantung padanya. Lalu ketika saatnya tiba, Ia akan menghancurkan semua yang dimiliki Andrea dengan tangannya sendiri.
Namun ada satu hal yang belum diketahui Bara. Andrea bukan hanya berbeda dari bayangannya. Gadis itu juga menyimpan sesuatu yang dapat mengubah seluruh rencana balas dendamnya di masa depan.
***
Pagi berikutnya, rumah Adikara terasa lebih ramai dari biasanya. Andrea sudah duduk di meja makan sejak pukul enam pagi. Padahal kuliahnya baru akan dimulai beberapa hari lagi, namun hari ini gadis itu terlihat sangat bersemangat untuk datang ke kampus sekedar melihat-lihat tempat di sana.
Bara yang baru turun dari lantai atas hanya melirik sekilas sebelum mengambil secangkir kopi.
"Kak Bara," panggil Andrea tiba-tiba, sementara Bara tidak langsung menjawab. Meski begitu Andrea tetap tersenyum.
"Apa aku boleh ikut ke kampus bareng sama Kak Bara?"
Pertanyaan itu membuat Bara mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap Andrea beberapa detik lalu kembali meminum kopinya.
"Tidak."
Jawaban singkat yang membuat Andrea tampak kecewa.
"Oh .... "
Namun hal itu hanya berlangsung beberapa saat, karena kemudian Andrea kembali tersenyum dan berkata, "tapi kampusnya sama kan?"
"Iya."
"Kalau begitu Andrea ikut saja. Please ... boleh ya .... " rengek Andrea yang membuat Bara hampir tertawa karena kebodohan gadis di hadapannya.
"Terserah padamu saja," jawab Bara kemudian. Andrea pun langsung terlihat senang.
"Terima kasih Kak Bara! kalau gitu aku ganti baju dulu," serunya riang.
Kali ini Bara tidak menjawab, namun jauh di dalam pikirannya, sebuah rencana mulai bergerak. Hari ini akan menjadi langkah pertama untuk pembalasan dendamnya.
Sekitar satu jam kemudian, Bara berdiri di dekat mobil sport hitamnya sambil memainkan kunci. Ia menunggu Andrea dengan wajah datar. Sampai akhirnya pintu rumah terbuka.
Bara menoleh dan untuk sesaat ia terdiam. Bukan karena kagum, melainkan karena Andrea lagi-lagi menghancurkan asumsi yang sudah ia buat.
Selama ini Bara membayangkan putri Selina pasti akan tampil seperti kebanyakan gadis kaya. Pakaian mahal. Riasan tebal. Aksesoris berlebihan dan sikap yang menyebalkan, namun yang muncul di depan matanya justru sebaliknya.
Andrea mengenakan kemeja putih simple yang lengannya digulung sampai siku, dipadukan dengan celana jeans biru dan sepatu sneakers putih. Sedangkan rambut hitam panjangnya hanya diikat sederhana ke belakang. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya ada gelang aksesoris yang melingkar di pergelangan tangannya.
Penanpilan itu sungguh sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran putri keluarga Adikara, namun ada satu hal yang tidak bisa diabaikan Bara. Andrea cantik, bahkan sangat cantik, dan meskipun berpakaian sederhana, gadis itu memiliki postur tubuh yang proporsional. Tinggi, putih, langsing, dan se k si.
Bukan tipe kecantikan yang berusaha menarik perhatian, tapi justru kecantikan yang muncul begitu saja tanpa perlu usaha.
Kini Andrea berjalan menghampiri Bara dengan senyum riang di bibirnya.
"Kak Bara, lama ya nunggunya?"
"Nggak kok, ayo buruan masuk!"
Andrea tersenyum mendengar ajakan itu, sedangkan Bara memalingkan wajah. Entah kenapa ia mulai merasa kalau sosok Andrea sangat berbeda, namun Bara sudah bertekad bahwa apapun yang terjadi, tetap tidak akan mengubah apa pun. Andrea tetap anak Selina, dan itu sudah cukup.
Perjalanan menuju kampus berlangsung cukup sunyi. Andrea beberapa kali mencoba mengajak Bara untuk bicara. Sebagian besar hanya mendapat jawaban satu atau dua kata. Anehnya, gadis itu tidak pernah terlihat kesal.
"Kampusnya besar ya? tanya Andrea memecah keheningan.
"Hm."
"Jurusan seni ada di gedung mana?"
"Belakang."
"Oh."
Hanya sebatas itulah percakapan yang terjadi sebelum akhirnya hening lagi. Andrea kembali melihat keluar jendela. Sedangkan Bara diam-diam mengirim pesan kepada seseorang.
"Semuanya sudah siap?"
Tak lama kemudian, jawaban langsung masuk.
"Siap, Bos."
Senyum tipis seketika muncul di sudut bibir Bara. Ia yakin kalau hari ini akan menjadi awal yang bagus.
Sesampainya di kampus, seperti biasa kedatangan Bara langsung menarik perhatian. Mahasiswa dan mahasiswi menoleh ke arahnya. Beberapa bahkan berbisik senang.
Andrea memperhatikan semua itu dengan penasaran.
"Kak Bara terkenal ya?" tanyanya lagi.
"Nggak," jawab Bara ketus, membuat Andrea tersenyum karena jelas-jelas semua orang memperhatikan mereka, namun Bara tetap bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Mereka berjalan melewati beberapa gedung. Sampai akhirnya tiba di area fakultas seni. Gedung itu sedikit terpisah dari bangunan utama, dan Bara sengaja mengajak Andrea menuju ke galeri seni lama yang ada di bagian sudut paling belakang gedung.
Suasananya lebih sepi karena galeri itu sebenarnya sudah tidak dipakai lagi. Sudah pindah ke area lantai dua yang lebih luas dan nyaman.
"Ini galeri seninya kalau kamu mau lihat banyak lukisan indah di dalamnya," ucap Bara menjelaskan.
"Tapi kok nggak ada orang sama sekali ya?"
"Nggak apa-apa, siang dikit juga ramai. Masuk aja, aku ada kuliah sebentar, nanti aku jemput lagi ke sini."
Andrea pun mengangguk setuju.
"Kalau gitu sampai nanti Kak Bara," pamit Andrea, sementara Bara hanya mengangkat tangan sedikit kemudian berbalik pergi, namun begitu Andrea menghilang ke dalam galeri, Bara menuju ke tempat teman-temannya sudah menunggu.
"Target masuk," ucapnya yang kemudian duduk santai di sebuah kursi. Salah satu temannya yang mendengar itu langsung tertawa.
"Kasihan juga tuh cewek," sahut yang lain.
"Apanya yang harus dikasihani? ini bahkan baru mulai."
Bara berkata dingin.
Sementara itu, Andrea memasuki ruang galeri seni yang cukup luas. Ruangan itu dipenuhi kanvas, patung, dan berbagai alat lukis. Namun anehnya, benar-benar tidak ada siapa pun di sana.
Andrea sudah berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan, tapi benar-benar tak ada orang, dan di beberapa sudut justru terlihat sangat berdebu. Bagi Andrea itu aneh. Sebuah galeri seni harusnya adalah tempat yang sangat penting, tapi bagaimana bisa ruangan itu tak terawat.
"Halo?! Apa ada orang lain di sini?!" seru Andrea sambil terus melangkah mengelilingi tempat tersebut, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Andrea pun berjalan lebih jauh. Mungkin ia salah ruangan.
Ia masuk ke sebuah ruangan yang berisi patung-patung lama dan alat-alat pembuatannya. Sebenarnya tempat itu sangat menarik untuk Andrea yang memang menyukai seni, tapi tiba-tiba ....
Klik.
Lampu di dalam ruangan yang tertutup dan lebih sempit dari ruangan lainnya itu tiba-tiba padam. Suasana seketika berubah gelap. Andrea membeku.
"Apa ada orang?!" serunya lagi, tapi suasana benar-benar sunyi. Tak ingin merasa takut, Andrea bergegas mendekati penarik gorden otomatis yang digunakan untuk menutupi tembok kaca di bagian atas yang letaknya sangat tinggi, tapi gagal. Benda itu tak berfungsi sama sekali.
Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki. Pelan dan bergema dari sudut ruangan. Andrea merasa semakin tidak nyaman.
"Halo?! Siapa di situ?!"
Masih tidak ada jawaban. Tapi tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa, lalu disusul suara-suara asing lainnya, membuat Andrea menelan ludah.
"Siapa di sana?!"
Kali ini suara Andrea sedikit bergetar. Lampu masih tetap mati, membuat suasana terasa semakin menakutkan. Kemudian terdengar suara lain.
"Dasar anak baru, manja sekali ... gampang banget ketakutan. Nggak cocok nih ada di sini."
Andrea mulai panik. Ia segera berlari menuju ke pintu, namun saat memutar gagang pintu yang entah sejak kapan tertutup, pintunya sudah tidak bisa dibuka. Terkunci dari luar.
Jantung Andrea langsung berdegup kencang.
"Tolong ... siapapun tolooong!!" jerit Andrea panik. Sayangnya sama sekali tidak ada jawaban, yang ada justru sebaliknya. Suara-suara seram dari mulut orang-orang yang meledek serta menertawakannya semakin banyak.
Detik berikutnya, dari belakang tubuhnya muncul asap yang mengepung tubuh Andrea, diiringi tarikan pada tubuhnya dari satu orang ke orang lainnya dan juga jambakan di rambutnya.
Dalam kondisi gelap dan berkabut, Andrea tidak bisa mengetahui jumlah mereka, tapi ia mulai merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya karena dorongan dan tarikan dari orang-orang itu.
"Kamu salah tempat, pulang sana!! Nggak usah sok-sokan kuliah di sini."
Andrea menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai memanas. Ia berusaha tetap tenang. Namun rasa takut perlahan menguasainya.
Seumur hidup. Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Apalagi sendirian.
"Kak Bara ... tolong .... "
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Entah kenapa. Orang pertama yang teringat di benak Andrea saat ini justru Bara. Meskipun pria itu sangat dingin, meskipun hampir tidak pernah tersenyum, namun setidaknya Bara adalah satu-satunya orang yang ia kenal di kampus ini.
Air mata mulai jatuh. Andrea berjongkok di dekat pintu. Tubuhnya sedikit gemetar. Sementara di luar ruangan. Beberapa mahasiswa yang ikut rencana itu mulai merasa tidak enak.
"Gimana nih Bar, Angel bilang dia udah nangis kejer?" tanya salah seorang teman Bara yang bernama Mike.
"Berlebihan nggak sih? takutnya kita bakal kena masalah lagi nih sama pihak kampus," sahut yang lain.
"Kalau begitu, sudah cukup," jawab Bara yang membuat Angel tersenyum puas.
"Target berhasil kita bikin gemetar ketakutan," ucap Angel dari dalam sana. Mahasiswi sahabat Bara itu kini sudah kembali bersembunyi bersama teman-temannya yang lain. Membiarkan Andrea menangis seorang diri sambil meringkuk di lantai.
Kali ini Bara tiak menjawab laporan Angel. Ia hanya membuka kunci pintu ruangan di depannya lalu mendorongnya perlahan. Cahaya matahari langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Andrea yang masih menangis langsung menoleh, dan begitu melihat sosok Bara berdiri di sana, tanpa berpikir panjang ia langsung berlari mendekat.
"Kak Bara!!" serunya yang kemudian memeluk erat tubuh kakak tirinya itu.
Suara gadis itu masih bergetar dan Bara berpura-pura mengernyit.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada bingung.
Andrea masih tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya. Tubuhnya pun masih terus gemetar karena ketakutan. Sedangkan Bara membeku sesaat. Ia tidak menyangka Andrea akan bereaksi seperti ini.
Pelukannya begitu erat. Seolah sangat percaya kalau dirinya mampu memberinya ketenangan.
"Kak Bara ... aku takut ....
Suara Andrea terdengar pelan, sementara Bara masih menatap lurus ke depan. Tangannya tetap berada di samping tubuh. Ia tak ingin bereaksi, namun setelah berpikir beberapa saat, perlahan sudut bibirnya terangkat sambil tersenyum tipis.
Sebuah senyuman yang tidak disadari oleh siapa pun, kecuali dirinya sendiri, karena tepat pada saat itu, ia menyadari sesuatu. Andrea benar-benar mempercayainya, dan itu membuatnya menjadi umpan yang sangat sempurna.
Apa yang terjadi saat ini lebih cepat dari yang ia perkirakan. Bahkan jauh lebih mudah. Padahal ia belum melakukan apa pun. Hanya muncul di waktu yang tepat, dan gadis itu langsung menganggapnya sebagai seorang penyelamat.
Betapa polosnya Andrea dan betapa mudahnya gadis itu ditaklukkan. Bara akhirnya mengangkat tangan. Menepuk pelan kepala Andrea. Gerakan yang membuat gadis itu semakin yakin bahwa dirinya adalah orang yang baik.
"Sudah ya .... "
Suara Bara terdengar rendah dan Andrea pun mengangkat wajahnya. Matanya merah karena menangis.
"Tidak ada yang akan mengganggumu lagi."
Kalimat Bara barusan memang terdengar sederhana, namun bagi Andrea yang sedang ketakutan, kalimat itu terdengar seperti janji, dan bagi Bara, itu hanyalah bagian dari permainan.
***
Keesokan harinya. Andrea terus berada di dekat Bara. Seperti anak kecil yang takut ditinggalkan. Bahkan saat makan siang pun. Ia memilih duduk bersama Bara dan teman-temannya. Bara pun memperhatikan semuanya dalam diam.
Sesekali Andrea tersenyum kepadanya. Sesekali gadis itu mengucapkan terima kasih, dan setiap kali itu terjadi, Bara semakin yakin. Bidak pertama sudah berhasil masuk ke papan permainan.
Malam harinya. Saat kembali ke rumah, Andrea kembali tersenyum kepadanya.
"Terima kasih, Kak Bara."
Bara berhenti melangkah.
"Untuk apa?"
"Karena sudah menolong Andrea."
Bara menatap gadis itu beberapa saat lalu berkata singkat.
"Tidur sana!"
Mendengar itu Andrea tersenyum senang.
"Iya," sahutnya. Gadis itu kemudian pergi menuju kamarnya. Tanpa mengetahui bahwa sejak awal, orang yang paling ingin menyakitinya adalah orang yang baru saja ia percayai sepenuh hati.
Setelah Andrea pergi, Bara berdiri sendirian di koridor. Menatap pintu kamar Andrea yang sudah tertutup. Wajahnya kembali dingin, kembali menjadi Bara yang sesungguhnya.
"Permainan baru saja dimulai Selina .... " gumam Bara dengan sorot mata penuh kebencian kepada ayah dan ibu tirinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!