"Hari ini juga, keluar dari rumah ini!"
Suara keras itu menggema di ruang tamu rumah keluarga Mahardika. Tidak ada sedikit pun kehangatan dalam nada bicara pria paruh baya yang selama dua puluh tiga tahun dipanggil Ayah oleh Arunika.
Arunika berdiri membeku. Jemarinya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap menatap lurus ke arah orang-orang yang berdiri di hadapannya.
Di depan sang ayah, berdiri seorang wanita elegan dengan senyum tipis di bibirnya. Di samping wanita itu, seorang gadis seusia Arunika memeluk lengan ayahnya dengan manja.
"Kenapa diam?" sindir gadis itu.
"Bukankah kau selalu bilang keluarga adalah segalanya?"
Ucapan itu disambut tawa kecil dari beberapa kerabat yang sengaja datang pagi itu, Arunika menelan ludah.
"Kalau memang aku melakukan kesalahan," ucapnya lirih,
"katakan kesalahanku."
plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Kepalanya terlempar ke samping, Ruang tamu mendadak sunyi.
"Masih berani bertanya?" bentak Bagaskara Mahardika.
"Kau mencuri uang perusahaan lima miliar rupiah!"
Mata Arunika membelalak.
"Apa?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu!"
Bagaskara melempar sebuah map cokelat ke lantai, Dokumen-dokumen berserakan.
Foto rekening bank.
Laporan transfer.
Tanda tangan.
Semua bukti mengarah kepadanya, Arunika berlutut mengambil satu per satu kertas itu.
Tangannya mulai gemetar.
"Ini palsu...."
"Tanda tangannya sama."
"Ada yang memalsukan."
"Masih berbohong?"
Wanita yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Mas, sudahlah. Anak ini memang dari dulu keras kepala."
Tatapan wanita itu penuh kemenangan.
Arunika mengenalnya.
Maya.
Istri kedua ayahnya, Wanita yang selalu berpura-pura baik sejak ibunya meninggal.
Kini topeng itu benar-benar terlepas.
"Mas," lanjut Maya dengan suara lembut,
"kalau Arunika tetap di rumah ini, nama keluarga kita akan semakin hancur."
Bagaskara memejamkan mata sejenak.
Lalu berkata tanpa ragu,
"Mulai hari ini, kau bukan lagi anak keluarga Mahardika."
Kalimat itu menghantam hati Arunika lebih keras daripada tamparan tadi, Dadanya sesak.
Air matanya hampir jatuh. Namun ia menahannya.
"Ayah...."
"Jangan panggil aku Ayah!"
Suasana menjadi semakin dingin, Seluruh pelayan menundukkan kepala. Tak seorang pun berani membela, Padahal mereka tahu.
Arunika selama ini yang paling sering membantu mereka.
Membiayai anak-anak pelayan sekolah, Mengobati ibu yang sakit. Tak pernah sekalipun bersikap sombong.
Tetapi hari ini...Tak ada yang membuka suara.
Mereka takut kehilangan pekerjaan.
Di sudut ruangan, Clarissa—putri Maya tersenyum puas.
Akhirnya, Tidak ada lagi yang menghalangi dirinya menjadi pewaris tunggal keluarga Mahardika.
"Ayah," katanya manja.
"Suruh satpam mengusir dia."
Bagaskara mengangguk pelan.
"Dorong keluar."
Dua satpam mendekati Arunika, Mereka tampak ragu.
"Nona...."
Arunika tersenyum pahit.
"Tidak perlu."
Ia berdiri perlahan, Tangannya meraih tas kecil yang tergeletak di sofa. Hanya itu barang miliknya, Saat hendak melangkah keluar, suara Maya kembali terdengar.
"Tunggu."
Arunika menoleh, Maya berjalan mendekat.
Dengan sengaja ia melepas kalung berlian yang dikenakan Arunika.
"Itu milik keluarga Mahardika."
Anting.
Gelang.
Jam tangan.
Semuanya dilepas satu per satu, Bahkan cincin peninggalan ibunya pun dirampas.
"Itu pemberian Ibu...."
Maya tersenyum tipis.
"Semua yang ada di rumah ini milik keluarga."
Air mata Arunika akhirnya jatuh, Bukan karena kehilangan harta. Melainkan karena cincin itu adalah kenangan terakhir ibunya.
Bagaskara hanya memalingkan wajah.
Tak sedikit pun menghentikan istrinya.
Hati Arunika benar-benar hancur.
Ia berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu utama tertutup, hujan deras langsung menyambutnya.
Langit seolah ikut menangis, Ia berdiri di depan gerbang besar rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak kecil.
Namun kini...Rumah itu bukan lagi miliknya.
Tak lama kemudian, sebuah koper tua dilempar keluar oleh pelayan.
Bruk!
Koper itu jatuh ke genangan air, Pakaian Arunika berhamburan. Clarissa berdiri di balkon lantai dua.
"Mulai sekarang, jangan pernah kembali!"
Pintu gerbang perlahan tertutup.
Brak!
Suara besi itu terdengar seperti penutup seluruh masa lalunya, Arunika memungut pakaiannya satu per satu. Air hujan membasahi wajahnya.
Sulit membedakan mana air mata dan mana hujan, Ia mengangkat kepala. Menatap rumah megah yang kini terasa asing.
"Kalau memang kalian menganggapku beban...."
Suaranya lirih.
"...aku tidak akan pernah kembali meminta belas kasihan."
Ia berbalik, Melangkah tanpa tujuan.
Tak ada keluarga, Tak ada rumah, Tak ada tempat pulang. Yang tersisa hanya harga diri.
Beberapa jam kemudian...
Arunika duduk sendirian di halte bus, Perutnya kosong sejak pagi. Ponselnya terus berdering, Nomor yang tidak dikenal.
Ia mengabaikannya.
Beberapa detik kemudian, layar ponsel kembali menyala, Sebuah pesan masuk.
"Jangan percaya siapa pun di keluarga Mahardika."
Arunika mengernyit, Belum sempat membaca lebih lanjut, pesan kedua muncul.
"Mereka bukan keluarga kandungmu."
Jantungnya berdegup kencang, Tangannya mulai gemetar. Belum sempat ia membalas, nomor itu langsung tidak aktif.
"Siapa sebenarnya aku...?"
gumamnya pelan, Di saat yang sama...Di lantai paling atas gedung Adrian Group.
Seorang pria tampan mengenakan setelan hitam berdiri di depan jendela kaca.
Tatapannya dingin menghadap gemerlap kota.
"Presiden Direktur."
Seorang sekretaris masuk dengan gugup.
"Informasi tentang gadis itu sudah kami temukan."
Pria itu tidak menoleh.
"Bacakan."
Sekretaris membuka tablet.
"Namanya Arunika."
"Usia dua puluh tiga tahun."
"Baru saja diusir dari keluarga Mahardika karena tuduhan menggelapkan dana perusahaan."
Pria itu akhirnya berbalik, Tatapan matanya tajam.
"Apakah tuduhan itu benar?"
"Tidak."
"Bukti-buktinya dipalsukan."
"Dan..." Sekretaris berhenti sejenak.
"Ada kemungkinan besar Arunika adalah pewaris yang selama ini Tuan cari."
Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah.
"Siapkan mobil."
"Tuan ingin ke mana?"
Pria itu merapikan manset jasnya.
"Mencari gadis itu."
"Kalau mereka membuangnya...aku akan menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan."
Sementara itu, tanpa Arunika sadari, dari seberang jalan sebuah mobil hitam telah mengawasinya sejak tadi. Seorang pria misterius menutup laptopnya.
"Target berhasil dikeluarkan dari keluarga Mahardika."
Ia menekan tombol di earphone.
"Operasi tahap kedua dimulai."
Di luar, Arunika masih duduk memeluk koper tuanya, tidak menyadari bahwa sejak hari itu hidupnya akan berubah selamanya.
Ia kehilangan keluarga...
Namun tanpa ia ketahui, ia baru saja melangkah menuju takdir yang akan mengungkap rahasia kelahirannya.
mempertemukannya dengan seorang CEO yang ditakuti banyak orang, dan membawanya pada balas dendam yang akan mengguncang keluarga Mahardika.
Hujan belum juga reda, Arunika masih duduk di bangku halte dengan koper tua di sampingnya. Angin malam berembus dingin, membuat tubuhnya yang basah menggigil.
Orang-orang yang berlalu-lalang hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada seorang pun yang mengenali putri sulung keluarga Mahardika.
Beberapa jam yang lalu, ia masih tinggal di rumah mewah dengan segala kemewahannya. Kini, ia bahkan tidak tahu di mana harus menghabiskan malam.
Perutnya kembali berbunyi pelan.Sejak pagi, ia belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya. Arunika membuka tas kecilnya.
Ia menghitung isi dompet, Satu lembar uang lima puluh ribu rupiah. Beberapa keping uang logam. Hanya itu.
Ia tersenyum getir.
"Setidaknya... aku masih punya cukup untuk makan sekali."
Ia bangkit dari duduknya, menyeret koper menuju warung kecil yang masih buka di seberang jalan.
"Bu... nasi goreng satu."
Pemilik warung, seorang wanita paruh baya, tersenyum ramah.
"Duduk saja, Nak."
Arunika mengangguk pelan, Sudah lama sekali ia tidak merasakan keramahan yang tulus. Di rumah Mahardika, semua orang selalu berbicara dengan hati-hati karena statusnya sebagai putri keluarga besar.
Namun setelah ibu kandungnya meninggal dan Maya mengambil alih rumah itu, senyum-senyum hangat perlahan menghilang.
Beberapa menit kemudian, sepiring nasi goreng sederhana dihidangkan, Aromanya membuat perut Arunika semakin keroncongan.
Ia baru menyendok suapan pertama ketika suara televisi di sudut warung menarik perhatian semua pelanggan.
"Berita terbaru."
"Putri keluarga Mahardika diduga menggelapkan dana perusahaan sebesar lima miliar rupiah."
Arunika langsung membeku, Di layar televisi muncul fotonya. Foto yang diambil beberapa bulan lalu saat menghadiri acara perusahaan.
"Direksi PT Mahardika Nusantara menyatakan pelaku telah dikeluarkan dari keluarga dan akan diproses sesuai hukum."
Beberapa pelanggan mulai berbisik.
"Itu wajahnya mirip perempuan itu..."
"Iya... jangan-jangan benar."
"Pantas sendirian."
Arunika menundukkan kepala, Nafsu makannya hilang seketika. Pemilik warung memandangnya sebentar. Namun wanita itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mematikan volume televisi.
"Silakan makan dulu, Nak."
Kalimat sederhana itu membuat dada Arunika terasa hangat, Masih ada orang yang memilih tidak menghakimi sebelum mengetahui kebenaran.
Setelah menghabiskan makanannya, Arunika membayar.
"Berapa, Bu?"
"Dua puluh ribu."
Arunika menyerahkan uangnya, Wanita itu justru mengembalikan sebagian.
"Ini kembaliannya."
Arunika menggeleng.
"Tak apa."
Wanita itu tersenyum.
"Kau lebih membutuhkannya."
Arunika menatap wajah wanita itu beberapa detik.
"Terima kasih."
Ia melangkah pergi dengan hati yang sedikit lebih ringan. Di sisi lain kota...Sebuah sedan hitam berhenti di depan gedung Adrian Group.
Seorang pria tinggi turun dari kursi belakang.
Wajahnya tampan dengan sorot mata setajam pisau.
Dialah Adrian Pradipta, Presiden Direktur Adrian Group.
Namanya dikenal sebagai sosok yang dingin, tegas, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi. Begitu memasuki ruang kerjanya, sekretarisnya sudah menunggu.
"Tuan, tim kita kehilangan jejak Arunika."
Adrian berhenti melangkah.
"Kehilangan?"
"Ya."
"Ponselnya tidak aktif setelah menerima dua pesan misterius."
Adrian menyipitkan mata.
"Siapa yang mengirim pesan itu?"
"Belum diketahui."
"Kami sedang melacaknya."
Adrian berjalan menuju jendela, Lampu-lampu kota berkilauan di bawah sana.
"Seseorang bergerak lebih cepat dari kita."
Sekretaris terdiam. Ia tahu, jika Adrian berkata seperti itu, berarti situasinya jauh lebih rumit daripada dugaan awal.
"Lanjutkan pencarian."
"Jangan sampai orang lain menemukannya lebih dulu."
"Baik, Tuan."
Sementara itu...Di sebuah gudang tua di pinggir kota. Beberapa pria berpakaian hitam berdiri mengelilingi layar monitor.
Di sana tampak rekaman CCTV halte tempat Arunika duduk tadi, Seorang pria berambut perak memutar rekaman itu berulang kali.
"Dia menerima pesan."
"Ya."
"Nomor sekali pakai."
"Kemungkinan dari kelompok lain."
Pria itu mengetukkan jarinya di meja.
"Lanjutkan pengawasan."
"Jangan dekati target."
"Sampai waktunya tiba."
Semua orang mengangguk serempak.
"Baik."
Malam semakin larut, Arunika berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan. Hotel terlalu mahal. Kos-kosan meminta uang muka.
Teman-temannya?
Ia bahkan tidak tahu harus menghubungi siapa, Nama baiknya sudah hancur. Semua orang pasti percaya berita yang beredar.
Saat itulah matanya menangkap papan bertuliskan:
LOWONGAN PEKERJAAN
Dicari pegawai penginapan, Bisa langsung menginap. Arunika menghentikan langkahnya. Ia masuk perlahan.
Seorang nenek yang menjaga meja resepsionis mengangkat kepala.
"Mencari kamar?"
Arunika menggeleng.
"Saya... melihat ada lowongan."
"Oh..."
Nenek itu memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki, Pakaian Arunika masih sedikit basah.
Wajahnya kelelahan, Namun sorot matanya tetap jujur.
"Namamu?"
"Arunika."
"Bisa bekerja?"
"Saya akan belajar."
Nenek itu tersenyum tipis.
"Kebetulan cucuku baru keluar."
"Kalau kau tidak keberatan membersihkan kamar dan membantu di dapur...kau boleh mulai besok."
Mata Arunika langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Ya."
"Gajinya memang tidak besar."
"Tapi kau bisa tinggal di kamar belakang."
Untuk pertama kalinya sejak diusir dari rumah, Arunika merasa menemukan secercah harapan.
"Terima kasih banyak."
Nenek itu mengangguk pelan.
"Malam ini kau istirahat saja."
Tidak jauh dari penginapan itu...Sebuah SUV hitam berhenti tanpa suara. Di balik kaca gelap, Adrian memandang bangunan sederhana tersebut.
"Itu dia."
Sekretaris mengangguk.
"Target baru saja masuk."
"Apa kita menjemputnya sekarang?"
Adrian menggeleng.
"Tidak."
"Tuan?"
"Orang yang baru kehilangan segalanya tidak akan mudah percaya kepada orang asing."
"Biarkan dia beristirahat malam ini."
"Kita menunggu."
Sekretaris tampak heran, Selama bekerja bertahun-tahun, baru kali ini ia melihat Adrian begitu sabar terhadap seseorang.
Namun ia tidak berani bertanya, Mobil itu perlahan pergi. Mereka tidak menyadari bahwa di atap bangunan seberang, seseorang sedang memotret setiap pergerakan mereka menggunakan kamera berlensa panjang.
Pria itu tersenyum tipis.
"Jadi... Adrian Group juga ikut bermain."
Ia mengirim foto tersebut kepada seseorang.
Balasannya datang hanya beberapa detik kemudian, Awasi terus. Jangan sampai gadis itu jatuh ke tangan Adrian.
Pria itu membalas singkat.
Siap.
Menjelang tengah malam, Arunika akhirnya berbaring di ranjang kecil kamar belakang penginapan. Kasurnya tipis.
Langit-langitnya penuh bekas rembesan air.
Sangat jauh berbeda dengan kamar luas yang selama ini ia tempati.
Namun entah mengapa...Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa bernapas lega. Tak ada lagi tatapan sinis Maya, Tak ada ejekan Clarissa.
Tak ada tekanan untuk selalu menjadi putri sempurna keluarga Mahardika. Sebelum memejamkan mata, ia kembali membuka pesan misterius yang masih tersimpan di ponselnya.
"Jangan percaya siapa pun di keluarga Mahardika."
"Mereka bukan keluarga kandungmu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Jika benar...
Lalu siapa orang tua kandungnya?
Mengapa ia bisa berada di keluarga Mahardika?
Dan siapa yang mengirim pesan itu?
Rasa lelah akhirnya mengalahkan semua pertanyaan, Kelopak matanya perlahan tertutup.
Namun pada saat yang sama...Di sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi berkas-berkas lama, seorang pria tua membuka sebuah kotak besi berdebu.
Di dalamnya terdapat sebuah foto bayi perempuan yang dibungkus selimut berwarna biru.
Di belakang foto itu tertulis sebuah nama dengan tinta yang mulai memudar.
"Arunika Ad..."
Tulisan berikutnya sengaja disobek hingga tak bisa terbaca, Pria tua itu menghela napas panjang.
"Waktunya hampir tiba."
Ia mengambil sebuah liontin berbentuk bulan sabit yang selama puluhan tahun disimpan rapat.
Saat liontin itu terbuka, tampak lambang yang sama persis dengan tanda kecil berbentuk bulan sabit di belakang leher Arunika—tanda lahir yang selama ini selalu ia tutupi dengan rambut panjangnya.
Pria tua itu menatap foto bayi tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Lima tahun kami mencarimu..."
"Tidak kusangka... mereka menemukannya lebih dulu."
Di luar ruangan, terdengar langkah kaki seseorang mendekat.
Tok... tok... tok...
"Tuan, ada kabar darurat."
Pria tua itu segera menutup kotak besi.
"Apa yang terjadi?"
Orang di luar pintu menjawab dengan suara tegang.
"Orang-orang keluarga Mahardika baru saja mengirim surat resmi kepada kepolisian."
"Mereka meminta Arunika ditangkap besok pagi."
Pria tua itu langsung berdiri, Wajahnya berubah serius.
"Kalau begitu...Kita tidak punya banyak waktu lagi."
Pria tua itu mengepalkan tangan.
"Siapkan mobil."
"Ya, Tuan."
"Hubungi semua orang yang masih setia pada keluarga Aditya."
"Jangan biarkan polisi atau orang Mahardika menemukan Arunika lebih dulu."
"Baik!"
Langkah kaki tergesa-gesa segera memenuhi lorong rahasia itu. Beberapa orang berjas hitam mulai bergerak, membuka lemari besi, mengambil dokumen, dan menyiapkan kendaraan.
Pria tua itu kembali menatap foto bayi dalam genggamannya.
"Maafkan kami... karena baru bisa datang sekarang."
Sementara itu, Arunika masih tertidur pulas di kamar kecil penginapan, Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah jendela kayu yang sudah lapuk. Burung-burung berkicau di kejauhan, berpadu dengan suara kendaraan yang mulai memenuhi jalan.
Sudah bertahun-tahun Arunika terbiasa dibangunkan oleh suara pelayan yang mengetuk pintu kamarnya. Kini, yang membangunkannya adalah aroma nasi yang sedang dimasak.
Perlahan ia membuka mata, Selama beberapa detik ia menatap langit-langit kamar yang penuh bercak rembesan air. Barulah ia teringat, Ia bukan lagi putri keluarga Mahardika.
Ia kini hanyalah seorang gadis biasa yang harus memulai hidup dari nol, Arunika menarik napas panjang sebelum bangkit.
"Aku harus kuat."
Ia merapikan tempat tidur tipis itu serapi mungkin, lalu keluar menuju dapur.
Nenek pemilik penginapan sedang menanak nasi sambil mengaduk sayur bening.
"Selamat pagi."
Arunika langsung membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Nek."
Nenek itu tersenyum hangat.
"Kau bangun lebih cepat dari yang kukira."
"Saya tidak ingin bermalas-malasan."
"Bagus."
"Kalau begitu, sarapan dulu."
Arunika menggeleng pelan.
"Nanti saja setelah bekerja."
Nenek itu justru menyodorkan sepiring nasi hangat.
"Orang bekerja harus punya tenaga."
"Kau anggap saja ini bagian dari gaji pertamamu."
Mata Arunika kembali memanas, Baru sehari meninggalkan rumah Mahardika, ia justru menerima lebih banyak perhatian dari orang asing dibanding keluarganya sendiri.
"Terima kasih."
Ia makan perlahan, Masakan sederhana itu terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan mahal yang biasa tersaji di meja keluarga Mahardika.
Karena di dalamnya ada ketulusan, Setelah sarapan, pekerjaan pun dimulai. Arunika diberi sapu, ember, kain pel, dan daftar kamar yang harus dibersihkan.
Penginapan itu tidak besar, Hanya memiliki dua belas kamar, Meski begitu, hampir semuanya terisi.
Arunika mulai membersihkan satu per satu. Ia menyapu lantai, mengganti sprei, mencuci kamar mandi, hingga mengelap jendela.
Tangannya mulai memerah karena belum pernah melakukan pekerjaan seberat itu.
Di rumah Mahardika, bahkan menyeduh teh pun dilakukan pelayan. Kini semuanya harus ia kerjakan sendiri.
Beberapa kali napasnya terengah, Namun tak sekalipun ia mengeluh. Justru setiap tetes keringat membuatnya merasa semakin bebas. Setidaknya...
Ia hidup dari hasil usahanya sendiri, Menjelang siang, seorang tamu laki-laki paruh baya datang ke resepsionis.
"Nak, kamarku AC-nya tidak dingin."
"Saya cek sekarang."
Arunika segera naik ke lantai dua, Ia mencoba menyalakan ulang pendingin ruangan, tetapi tetap tidak berfungsi.
"Nek, saya rasa harus dipanggil teknisi."
Nenek itu menghela napas.
"Kalau begitu, pengeluaran bulan ini bertambah lagi."
Mendengar nada khawatir itu, Arunika memperhatikan mesin AC beberapa saat.
Semasa kecil, ayahnya—atau lebih tepatnya orang yang selama ini ia anggap ayah—pernah mengajarinya cara kerja beberapa peralatan rumah.
Ia membuka penutup filter, Debu tebal memenuhi bagian dalamnya.
"Sepertinya hanya tersumbat."
Dengan hati-hati ia membersihkan filter menggunakan air dan kain bersih.
Setelah dipasang kembali, AC kembali mengembuskan udara dingin.
Tamu itu tersenyum puas.
"Wah, hebat."
Nenek pun tampak terkejut.
"Kau bisa memperbaikinya?"
Arunika tersenyum malu.
"Hanya kebetulan pernah belajar sedikit."
"Kalau begitu, kau benar-benar membawa keberuntungan ke tempat ini."
Ucapan itu membuat hati Arunika terasa hangat, Sudah lama ia tidak mendengar pujian yang tulus. Di sisi lain kota, Ruang rapat keluarga Mahardika dipenuhi suasana tegang.
Maya duduk dengan anggun sambil, menyeruput kopi. Clarissa tersenyum tipis.
"Polisi pasti segera menangkapnya."
Direktur hukum perusahaan mengangguk.
"Semua dokumen sudah kami serahkan."
"Tinggal menunggu proses."
Namun sebelum rapat berakhir, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Seorang staf berlari masuk dengan wajah pucat.
"Bu Maya!"
"Ada masalah."
Maya mengernyit.
"Apa lagi?"
"Rekening pribadi Nona Arunika."
"Kenapa?"
"Setelah kami telusuri..."
"nona Arunika tidak pernah menerima transfer lima miliar seperti yang kita laporkan."
Ruangan langsung sunyi.
Clarissa berdiri.
"Itu tidak mungkin."
Staf itu menelan ludah.
"Kami sudah memeriksa berkali-kali."
"Data banknya bersih."
Wajah Maya perlahan berubah dingin.
"Kalau begitu...Pastikan tidak ada yang mengetahui hasil pemeriksaan itu."
"Bu..."
"Lakukan saja."
Staf itu hanya bisa mengangguk dengan wajah gelisah, Sore harinya, Arunika selesai membersihkan seluruh kamar.
Tubuhnya terasa pegal, Namun saat melihat setiap kamar bersih dan rapi, muncul rasa bangga yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nenek menghampirinya sambil membawa segelas teh hangat.
"Capek?"
"Sedikit."
"Itu wajar."
"Kau bekerja sangat baik."
"Lusa, kalau tetap betah, akan kutambah sedikit gajimu."
Arunika tersenyum.
"Terima kasih, Nek."
Saat itu juga, sebuah mobil mewah berhenti di depan penginapan, Semua orang menoleh.
Seorang pria mengenakan jas turun dari mobil, Langkahnya tenang namun berwibawa.
Arunika ikut melihat sekilas, tetapi segera kembali menyapu halaman. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan orang-orang kaya.
Pria itu adalah Adrian, Ia sebenarnya datang untuk memastikan keadaan Arunika, Namun ketika melihat gadis itu tersenyum sambil bekerja, ia menghentikan langkahnya.
Sekretaris berdiri di belakangnya.
"Tuan, apa kita masuk?"
Adrian menggeleng pelan.
"Belum."
"Tapi..."
"Dia sedang mulai membangun hidupnya."
"Kalau aku muncul sekarang, semuanya hanya akan membuatnya semakin curiga."
Ia menatap Arunika beberapa saat, Sorot mata dingin yang selama ini dimilikinya seolah melembut.
"Pastikan penginapan ini tetap aman."
"Tapi jangan sampai dia tahu."
"Baik, Tuan."
Mobil itu pun kembali pergi tanpa diketahui Arunika, Malam kembali turun. Setelah makan malam sederhana bersama sang nenek, Arunika duduk sendirian di halaman belakang.
Langit dipenuhi bintang, Sudah lama sekali ia tidak menikmati malam setenang ini. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nomor tak dikenal.
Arunika ragu beberapa saat sebelum membuka pesan itu.
"Besok pagi pukul delapan, polisi akan datang menangkapmu."
Jantungnya berdegup kencang, Belum sempat ia mencerna isi pesan itu, pesan kedua masuk.
"Jangan melawan."
"Pergilah melalui pintu belakang penginapan pukul tujuh."
"Seseorang akan menunggumu."
Arunika menggigit bibir, Siapa sebenarnya pengirim pesan ini?
Musuh?
Atau justru orang yang selama ini diam-diam melindunginya?
Di saat yang sama, dari kejauhan, sebuah mobil polisi mulai memasuki wilayah tempat penginapan itu berada.
Lampu rotatornya belum dinyalakan, seolah mereka tidak ingin menarik perhatian, Di dalam mobil, seorang penyidik membuka map berisi foto Arunika.
"Besok pagi kita jemput dia."
Namun tanpa mereka sadari, dua mobil lain telah mengikuti dari belakang.
Satu milik Adrian Group.
Satu lagi milik kelompok pria berambut perak.
Perburuan terhadap Arunika... baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!