Indonesia
NovelToon NovelToon

GADIS BAHU LAWEYAN

Malam Berdarah

"Ku mohon, jangan beritahu ini pada ibuku, ia bisa melenyapkannya, dan jika aku tidak selamat, bawa ia ke panti asuhan, dan jangan pernah mencoba merawatnya, berjanjilah padaku." Riri menatap Gita dengan tatapan memohon.

Bibirnya sudah sangat pucat, dan tubuhnya mengalami tremor.

Sedangkan darah mengalir dari selangkanya. Ia mengalami pendarahan. Tetapi bayinya tak juga mau lahir dengan normal.

Gita yang merupakan teman semasa kecilnya hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Meskipun beribu pertanyaan sedang memenuhi benaknya. Ia masih merasakan hal janggal tentang permintaan yang tak biasa.

Setelah perbincangan tersebut, Riri menandatangani surat perjanjian tersebut dan Gita sebagai wali keluarganya.

Setelah selesai, maka Riri dibawa ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan cepat karena situasi yang sangat darurat.

Tak berselang lama...

"Oooooeeek..." suara tangisan seorang bayi mungil dengan wajah cantik rupawan, dan dan itu sudah terlihat sejak ia baru saja melihat dunia.

Akan tetapi, tidak ada yang menyadari dengan apa yang terjadi pada bayi itu. Dimana tepat di bagian organ intinya, ada sebuah tanda bulat sebesar butir beras dan berwarna biru.

Dari bintik berwarna biru itu, keluar satu sosok Kalajengking berwarna merah dengan dua bola mata yang menyala.

Ekornya tampak basah oleh darah. Kemudian berputar sebanyak tiga kali, lalu masuk kembali kedalam rahim sang bocah. Seolah seperti tersedot ke dalamnya.

Para medis tidak ada satupun yang menyadarinya. Mereka mengurus nyawa sang ibu, tetapi sayangnya, Riri tidak dapat di selamatkan.

Duuuuuuar!

Suara petir di langit malam menggelegar menyambut kelahiran sang bayi. Tubuhnya menggeliat pelan, saat sang perawat membalutnya dengan bedong.

****

Seorang dokter menggendong bayi yang sudah di bedong dengan kain bersih. Mereka menemui Gita yang menjadi satu-satunya orang yang mengaku keluarga.

"Maaf, Bu. Kami tidak dapat menyelamatkan nyawa ibunya, sebab mengalami kritis yang cukup parah, sehingga hanya bayi ini yang terselamatkan." dokter itu memberikan bayi tersebut kepada Gita.

Gita merasakan deguban jantungnya memburu saat menerimanya. Ia menatap bayi tersebut dengan perasaan yang sangat sedih.

Bagaimana mungkin ia akan tega membawa bayi itu ke panti asuhan?

Ia tahu, jika Riri memiliki masa lalu kelam dan hampir saja membunuh Gita dengan cara mengirimkan sihir demi me dapatkan Arka—suaminya.

Akan tetapi, Gita sudah memaafkannya, dan ia kini memiliki tanggungjawab terhadap bayi yang berada di gendongannya.

Bayi itu memiliki dua bola mata yang membulat bagaikan boneka India, dilengkapi dengan bulu mata nan melentik, serta alis yang tebal.

Hidungnya bangir sempurna, kulitnya putih bersih, sungguh sangat memikat hati.

"Kami akan membereskan pembayarannya," ucap Gita pada sang dokter, lalu berpamitan untuk membawa bayi mungil tersebut.

Jasad Riri sendiri akan dimakamkan dipemakaman umum sesuai dengan syariat. Sebab sebelumnya Riri juga meminta agar tak Gita tak pernah menghubungi Minah—ibunya di kampung halaman, karena sang ibu tidak akan pernah peduli padanya, meskipun ia sudah meninggal.

****

Arka dan Gita sudah berkeliling untuk mencari panti asuhan agar dapat menitipkan bayi itu sesuai dengan wasiat Riri padanya.

Namun hingga saat ini mereka tak juga menemukan panti asuhan yang sesuai dengan hati nurani mereka. Bahkan tanpa sebab beberapa panti menolaknya. Hingga mereka hampir mendekati arah pulang, tak juga mendapatkan panti yang tepat.

"Bagaimana ini, Mas?" tanya Gita mencoba meminta pendapatnya. "Sebenarnya aku ingin merawatnya, namun Riri sudah berpesan dan tak menginginkan puterinya di rawat oleh Gita.

Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya tentang bayi ini," ucap Gita dengan nada lirih.

"Setiap orang yang berwasiat, maka kita harus melaksanakan wasiatnya. "Ada satu panti yang tak jauh dari sini, mana tau itu menjadi panti terakhir yang akan menerima bayi ini dengan baik," jawab Arka, lalu menambah laju kendaraannya.

Setelah cukup lelah dengan semua peristiwa yang terjadi akhirnya mereka tiba dipanti asuhan terakhir. Ibarat sebuah pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Panti itu menerima sang bayi mungil dengan rasa senang.

Setelah menyerahkan bayi yang tak sempat ia beri nama, keduanya kembali pulang ke rumah, dan berniat esok akan datang kembali dengan membawa semua perlengkapan lainnya.

****

Sepasang suami istri yang sudah sangat lama tidak memiliki anak datang saat pagi harinya. Kedatangan mereka berniat untuk mengadopsi seorang bayi dari panti tersebut.

Ketika pertama kali melihat bayi merah dengan bedong bermotif doraemon, wanita bernama Santi itu langsung jatuh hati.

"Kami sudah menyiapkan berkas-berkasnya, Bu." Santi menyerahkan persyaratan yang diminta oleh pihak panti dengan rasa gemuruh didadanya.

"Baiklah, Bu. Kami akan menyelesaikan administrasinya. Semoga dengan kehadiran bayi ini, membawa keberkahan bagi keluarga ibu." ucap pemilik panti.

"Aamiin.." jawab Santi dengan senyum.yang mengembang.

Hati Santi yang sangat lembut dan jiwa keibuan yang begitu kuat membuatnya tak sabar untuk menerima bayi cantik yang baru saja dilahirkan malam tadi.

Saat pihak panti menyerahkan bayi itu padanya, sontak saja hatinya mengharu biru, dan medekapnya penuh cinta.

"Mama beri nama kamu 'Kasih," ucapnya dengan sangat lembut. Sang suami merasa takjub dengan kecantikan sang bayi yang sangat memikat.

Mereka membawanya pulang kerumah dengan rasa yang sangat bahagia.

****

Hendra dan Santi tiba di depan rumahnya dengan wajah yang sangat bahagia. Bagaimana tidak, bayi yang ada di gendongannya adalah impian yang sudah terwujud.

Rumah mewah yang di pengkapi dengan kolam renang menyambut mereka. Santu dengan tak sabar memasuki rumah dan langsung menuju kamar.

rumah mewah yang selama sepuluh tahun terlaku kosong dan sunyi tanpa ada tangis dan tawa seorang anak, malam ini akan berubah dengan suara riuh dari sang bayi mungil.

Santi meletakkan bayi tersebut di atas tepian ranjang. Ia mengganti popoknya. Sedangkan Hendra ikut duduk di samping ranjang.

Namun, ada sesuatu yang salah dalam diri Hendra. Saat ia melihat bayi itu di ganti popoknya, perasaannya berubah

Jantungnya berdesir, dan seolah tak dapat lepas untuk terus saja memandangi sang bayi.

Saat bersamaan, hujan turun dengan cukup deras.

Duuuuaaar!

Suara petir menyambar dengan cukup kuat, seolah sedang membelah langit siang.

Semakin lama, hujan terus membasahi bumi.

Hendra menggendong Kasih setelah selesai di bedong Santi. Ia mengagumi kecantikan Kasih yang luar biasa.

"Akhirnya kita punya anak juga, San... Setelah sekian lama menunggu," ucapnya dengan pelan. Tetapi setiap kali memandang wajah Kasih, jantungnya berdegub kencang.

Santi duduk di samping suaminya. Ia mengusap lembut kepala bayi yang baru saja di adopsinya.

"Iya, Mas... Bayi ini anugerah buat kita. Lihatlah bagaimana cantiknya ia. Kelak akan menjadi kebanggan kita sebgai orangtuanya," balas Santi dengan perasaan haru.

Hendra mengecup kening Kasih—puteri asuhnya. Saat bibirnya menyentuh kulit sang bayi, ia kembali merasakan degupan jantungnya yang memburu.

Pria itu mengulas senyum yang sangat sulit untuk diartikan.

****

Keluarga Baru

Santi tertidur dengan lelap karena kelelahan mengurus Kasih yang benar ekstra butuh perhatian. Apalagi Santi merawatnya tanpa bantuan seorang baby sister.

Sementara itu, Hendra masih sibuk scroll sosmed di HP—nya.

ia mematikan lampu kamar, dan meninggalkan satu lampu tidur berwarna kuning.

Mendadak suhu kamar turun drastis hingga lima derajat.

Hendra merasakan tubuhnya menggigil. Kemudian menarik selimutnya.

Saat bersamaan, terdengar suara yang berasal dari bawah.

Kretek!

Suara yang mirip dengan kuku mencakar di atas lantai keramik.

Hendra meletakkan ponselnya diatas meja nakas.

Ia merasakan jika kamarnya berubah dengan tiba-tiba.

Dimana dindingnya terbuat dari batu berwarna hitam dan basah. Serta menebarkan aroma amis yang menyengat.

Sementara itu, lantai kamarnya juga berubah menjadi pasir hitam.

Saat bersamaan, satu sosok mengerikan muncul diujung ranjang. Kepalanya di penuhi oleh kalajengking berukuran kecil dalam jumlah ratusan.

Tangannya memiliki capit sebesar tempayan. Sedangkan ekornya yang menjadi penyengat sepanjang tiga meter hingga menyentuh langit-langit kamar.

Tubuhnya dari pinggang ke atas sixpack, tetapi memiliki wajahnya sangat menyeramkan. Dua matanya merah menyala. Gigi taring mencuat dari sudut bibirnya.

Sosok itu menatap ke arah Hendra dengan tajam.

Suaranya sangat serak, dan bukan suara manusia, melainkan ribuan kalajengking yang sedang mendesis.

"Kau....: ucapnya dengan suara yang menggema.

"Jangan mencoba untuk menyentuh permaisuriku..."

Saat bersamaan, salah satu Kalajengking di kepala sosok itu turun dan merayap ke pipi Hendra, dan terasa cukup dingin.

“Jangan mencoba memyentuhnya...tidak ada satupun yang dapat merebutnya dariku,"

Hendra langsung menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dengan bibir yang gemetar.

Ia ingin berteriak. Tetapi suranya tercekat di tenggorokan. Bahkan ia tak dapat menggerakkan tubuhnya. Seperti membeku.

"Aku adalah Raja kegelapan. Sejak ia dalam kandungan, aku sudah menyegelnya, dan jangan pernah mencoba untuk mendekatinya," ucap sosok itu dengan nada penuh penekanan.

Perlahan sosok itu berdiri dengan gerakan yang cukup lamban, tetapi mampu membuat Hendra hampir pingsan. Sebab bayangannya saja memenuhi ruangan.

"Jika kau berani menyentuhnya. Maka kau akan menyesal, dan kematian akan menunggumu!" ucapnya dengan penegasan. "Dia adalah permaisuriku... Tak siapapun boleh merebutnya!"

Sosok itu menyeringai. Dan akhirnya membuat Hendra berteriak kencang.

"Aaaaaaaa..."

Plaaak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Hendra, dan itu berhasil membangunkannya.

"Pa!"

Santi mengguncang bahu Hendra. Lampu langsung di nyalakan.

Tak!

Ruangan tampak terang. Dan kini terlihat Hendra yang berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi.

Hendra beranjak duduk. Napasnya terasa berat dan tersengal. Keringat dingin membasahi kaos putihnya.

“Mimpi... Papa mimpi buruk...”

“Sudah, papa minum dulu.” Santi bergegas menyodorkan air putih dalam gelas.

Hendra meneguknya hingga habis. Tangannya gemetar, dan matanya secara otomatis melirik ke arah box bayi.

Di sana Kasih masih tidur dengan nyenyaknya.

Akan tetapi selimutnya sedikit terbuka.

Sedangkan di bagian organ inti bayi itu...Tanda lahir berwarna biru tersebut tampak semakin membesar.

Kamu mimpi apa, Pak?" tanya Santi dengab rasa penasaran, sembari menyentuh pundak suaminya dengan lembut dan penuh kehangatan.

Saat Santi menyentuh Hendra. Kasih menggeliatkan tubuhnya, dan membuka matanya.

Hendra menatap mata bayi tersebut. Ia tersentak kaget, sebab Kasih memancarkan kecantikan yang luar biasa, dan itu membuat ia melupakan tentang mimpinya yang tadi sangat mengerikan.

"Papa mimpi apa?" tanya Santi sekali lagi.

Hendra menoleh ke arah sang istri. Kemudian menggelengkan kepalanya.. "Tidak ada apa-apa, Ma. Mungkin karena terlalu banyak nonton dracin," jawabnya dengan berkilah.

Kemudian ia beranjak dari ranjangnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.

Hendra membasuh wajahnya. "Mungkin hanya mimpi," gumamnya. Ia berusaha menepis semuanya.

****

Tanpa terasa, Kasih sudah berusia lima bulan lamanya di asuh oleh Santi dan juga Hendra.

Kecantikannya semakin lama semakin kian terpancar. Seolah ia adalah bintang yang bersinar diantara gelapnya malam.

Kasih juga tidak rewel. Ia tumbuh dengan sangat baik. Santi sangat begitu menyayanginya.

Santi tak jemu-jemunya menatap bayinya. Hingga suara Hendra membuyarkannya.

“Sudah, tidur yuk.” ajak Hendra, sembari menyentuh pundaknya. “Besok kita akan urus aktenya, dan memasukkannya ke dalam KK kita. Kasih akan menjadi keluarga kuta yang baru.”

Santi menganggukkan kepalanya. Dan memilih untuk tidur, sebab setiap empat jam sekali, ia harua terbangun untuk membuat susu formula bagi sang bayi kesayangannya.

Santi yang kelelahan mengurus Kasih, perlahan terlelap dalam tidur nyenyak dan membalut mimpinya.

Sedangkan Hendra masih sibuk dengan ponsel pintarnya.

Lampu kamar dimatikan dan terlihat remang-remang. Dan yang tertinggal hanya lampu tidur berwarna kuning.

Saat bersamaan, tiba-tiba saja suhu udara di dalam ruangan kamar mendadak turun sangat drastis hingga lima derajat.

Hendra menggigil kedinginan. Ia menarik selimutnya.

Sssshhss!

Terdengar suara desis yang cukup membuat bulu kuduk meremang. Hendra mengusap tengkuknya. Ia merasa jika mendengar suara dari dalam boks bayi.

Akan tetapi, ia mengabaikannya. Seba merasa jika hanya sedang berhalusinasi.

Sementara itu, satu sosok mengerikan keluar dari organ inti milik sang bayi. Malam ini adalah malam Jum'at Kliwon.

Kretek!

Terdengar seperti suara kuku yang menggaruk di lantai keramik.

Hendra mengerutkan keningnya. Ia menghentikan sejenak scroll nya di layar ponsel.

Dalam samar dan keremangan cahaya lampu tidur, ia merasakan jika kamarnya mendadak berubah.

Dindingnya bukan lagi berwarna cat cream. Tetapi menjadi dinding batu berwana hitam dan basah. Ia seolah sedang berada di dalam goa.

Lantainya berubah menjadi pasir. Udara mendadak berbau amis dan juga kemenyan.

Di ujung ranjang, duduk seorang pria yang tingginya hampir menyentuh langit-langit.

Di kepalanya terdapat ratusan anak kalajengking yang bergerak hidup, dengan sengatnya yang naik turun.

Matanya merah menyala. Bibirnya berwana hitam. Sedangkan tubuhnya tampak kekar dan dua taring yang mencuat dari sudut bibirnya. Ekornya sangat panjang, dan siap menjepit lawannya.

Sosok itu menoleh ke arah Hendra.

"Hah!" Hendra tersentak kaget. Ia melemparkan ponselnya begitu saja ke lantai.

Ia mengelurkan suara yang mendesis. Seolah seperti suara ribuan kalajengking yang sedang mendesis.

"Kau..." suaranya sangat serak. Dan membuat tubuh Hendra seperti kaku. Ia ingin berteriak, tetapi lidahnya terasa keluh.

"Kau jangan coba mengambil apa yang menjadi milikku..." desisnya. Dan saat bersamaan, salah satu kalajengking yang ada dikepalanya merayap turun dan kini sudah di pipi Hendra dengan tubuh yang cukup dingin.

"Aku sudah menunggu ini sejak tiga puluh tahun yang lalu... Dan ia adalah milikku, tidak ada satupun yang dapat merebutnya dariku,"

Hendra langsung menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dengan bibir yang gemetar.

Ia ingin berteriak. Tetapi suranya tercekat di tenggorokan. Bahkan ia tak dapat menggerakkan tubuhnya. Seperti membeku.

Hendra

"Aku adalah Raja kegelapan. Sejak ia dalam kandungan, aku sudah menyegelnya, dan jangan pernah mencoba untuk mendekatinya," ucap sosok itu dengan nada penuh penekanan.

Perlahan sosok itu berdiri dengan gerakan yang cukup lamban, tetapi mampu membuat Hendra hampir pingsan. Sebab bayangannya saja memenuhi ruangan.

"Jika kau berani menyentuhnya. Maka kau akan menyesal, dan kematian akan menunggumu!" ucapnya dengan penegasan. "Dia adalah permaisuriku... Tak siapapun boleh merebutnya!"

Sosok itu menyeringai. Dan akhirnya membuat Hendra berteriak kencang.

"Aaaaaaaa..."

Plaaak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Hendra, dan itu berhasil membangunkannya.

"Pa!"

Santi mengguncang bahu Hendra. Lampu langsung di nyalakan.

Tak!

Ruangan tampak terang. Dan kini terlihat Hendra yang berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi.

Hendra beranjak duduk. Napasnya terasa berat dan tersengal. Keringat dingin membasahi kaos putihnya.

“Mimpi... Papa mimpi buruk...”

“Sudah, papa minum dulu.” Santi bergegas menyodorkan air putih dalam gelas.

Hendra meneguknya hingga habis. Tangannya gemetar, dan matanya secara otomatis melirik ke arah box bayi.

Di sana Kasih masih tidur dengan nyenyaknya.

Akan tetapi selimutnya sedikit terbuka.

Sedangkan di bagian organ inti bayi itu...Tanda lahir berwarna biru tersebut tampak semakin membesar.

"Kamu mimpi apa, Pak?" tanya Santi dengab rasa penasaran, sembari menyentuh pundak suaminya dengan lembut dan penuh kehangatan.

Saat Santi menyentuh Hendra. Kasih menggeliatkan tubuhnya, dan membuka matanya.

Hendra menatap mata bayi tersebut. Ia tersentak kaget, sebab Kasih memancarkan kecantikan yang luar biasa, dan itu membuat ia melupakan tentang mimpinya yang tadi sangat mengerikan.

"Papa mimpi apa?" tanya Santi sekali lagi.

Hendra menoleh ke arah sang istri. Kemudian menggelengkan kepalanya.. "Tidak ada apa-apa, Ma. Mungkin karena terlalu banyak nonton dracin," jawabnya dengan berkilah.

Kemudian ia beranjak dari ranjangnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.

Hendra membasuh wajahnya. "Mungkin hanya mimpi," gumamnya. Ia berusaha menepis semuanya.

****

Lima tahun berlalu... Kasih tumbuh menjadi gadis kecil.yang semakin cantik dan menggemaskan. Tubuhnya gempal dan padat. Setiap orang yang melihatnya akan merasa tertarik padanya.

"Ya ampun, San... Anakmu kok cantik sekali," celoteh Nora saat mereka bertemu di arisan para ibu sosialita.

"Tentu dong. Perawatannya saja mahal," celetuk Santi dengan bangga..

Para teman-teman arisan Santi tak memungkiri jika Kasih memang cantik.

Sedangkan Kasih tumbuh menjadi gadis kecil yang penurut. Dan tidak banyak tingkah seperti anak lain yang seusianya.

Saat hari menjelang petang, Hendra datang menjemput mereka. "San... Jangan pulang dulu, Dong. Kita masih ada satu acara yang belum kelar. Masa kamu sudah pulang sih?" keluh Nora.

"Iya, San... Nanti saja, lewatkan Maghrib sekalian." Lena ikut menimpali.

"Tapi... Ini jadwal Kasih untuk mandi, maoan dan istirahat," tolak Santi dengan halus.

"Titip sama suamimu dulu, atau baby sister." Jena menyarankan.

Hendra yang mendengarnya mendadak terkejut. Tetapi ia perlahan mengulas senyum yang cukup manis.

"Tak apa, Ma. Biar papa yang urus Kasih. Mama bersenang-senanglah dengan teman mama." ucap Hendra dengan nada yang sangat meyakinkan.

"Tuh, kan... Mas Hendra saja setuju.. Ayo dong..." ajak Nora dengan rayuan mautnya.

"Ya sudah... Tapi papa pastikan Kasih sudah tidur saat jam delapan malam ya..." pesan Santi.

"Siap, Ma... Tidak ada yang bisa menolak perintah Ratuku..." sahut Hendra, dan membawa pulang Kasih ke rumah.

Santi akhirnya kembali bersama teman arisannya. Sebenarnya sudah sangat lama ia tidak bergabung dengan mereka. Seba sibuk mengurus Kasih hingga tumbuh menjadi gadis yang sangat menggemaskan.

Sementara itu, Hendra dan kasih sudah tiba di rumah. Pria itu menggendongnya. Tetapi ada yang berbeda, gendongan itu bukan sebagai seorang yang melindungi. Melainkan maksud yang lain.

Setelah menyiapkan semuanya. Kini Kasih waktunya akan tidur. Hendra menepuk-nepuk bokong seperti biasa dilakukan para orang tua pada biasanya saat akan menidurkan anak.

Tetapi tidak untuk Hendra. Ia memiliki tujuannya yang lain.

Saat tepukannya berubah irama. Hendra menatap Kasih dengan tatapan jalang. Tanpa Santi dirumah, merupakan kesempatan baginya untuk melampiaskan semua niatnya.

Namun, baru saja tangannya mendarat di bagian bokong, suara desis itu kembali berbunyi, dan berasal dari organ inti Kasih.

Ssssshh!

"Hah!" Hendra tersentak kaget. Dan menjauhkan tangannya dri bokong Kasih. Ia merasakan bulu kuduknya meremang.

"Apa cuma perasaanku saja, ya?" gumamnya.

Saat bersamaan, dari arah pintu luar kamar, terlihat satu bayangan berwarna merah dan berekor panjang melintas dengan cepat.

"Hah!"

Hendra kembali tersentak kaget. Ia beranjak dari kamar Kasih. Lalu keluar untuk melihat siapa.yang memasuki rumahnya.

Saat berada diambang pintu. Ia tak menemukan siapapun. Hanya saja, tiba-tiba ada yang seperti menendangnya tanpa bayangan.

Buuugh!

Bokongnya di tendang oleh sesuatu, dan ia tersungkur di lantai rumah.

Braaaak!

"Aaaarrgh!" ia meringis kesakitan.

Taaak!

Pintu terkunci dari dalam, dan tidak tahu siapa yang melakukannya.

Hendra terkejut. Dan ia merasakan bulu kusuknya meremang. Ia beranjak bangkit, dan ingin membuka pintu tersebut. Tetapi kakinya seperti merasa dirantai sesuatu.

"Siiaaal! siapa yang melakukannya!" maki Hendra. Dan ia berusaha meraih pintu kamar tetapi tetap tidak dapat bergerak.

Saat bersamaan, Santi pulang dengan membawa banyak makanan makan malam.

"Pa... Kamu kenapa? Kasih sudah tidur?" cecar Santi, sembari membantu Hendra untuk bangkit.

"I—itu, Ma. Pintunya terkunci dari dalam. Tadi papa merasa ada yang menendang bokong papa dan Kasih terkunci di dalam," jawab Hendra sengab wajah memucat.

Sanyi yang mendengar ucapan suaminya mengerutkan keningnya, kemudian berjalan ke arah pintu.

Kleeek!

Pintu terbuka, dan terlihat Kasih sedang tidur dengan lelapnya, dan berselimut hingga ke dada.

"Bisa dibuka, Kom. Gak ada terkunci. Perasaan papa kali. Kurang minum air putih," sahut Santi.

"Tidak, Ma... Tadi beneran, pintunya terkunci sendiri," Hendra ngotot dengan pendapatnya.

"Sudahlah, Pa. lebih baik papa ganti pakaian, dan kita makam malam. Nanti langsung istirahat," potong Santi, lalu membwa makanan cepat saji ke meja makan.

Hendra menggelengkan kepalanya. "Apa iya cuma perasaanku saja?" gumamnya dalam hati.

Sedangkan sosok Kalajengking berwarna merah kehitaman yang bersembunyi di balik pintu kamar itu kembali mengecil dan masuk ke dalam tubuh gadis kecil.

Kasih menggeliatkan tubuh nya dengan mata yang masih terpejam. Tetapi ia kembali lagi untuk tidur. Ia seolah tidak mengerti apa yang sedang terjadi..

Sedangkan Hendra memilih untuk pergi ke kamar mandi. Pria itu mencuci wajahnya berulang kali.

Nafasnya masih terasa berat. Deru di dadanya bergemuruh. Sembari menatap cermin, ia menepuk pipinya sebanyak dua kali. "Aku bermimpi..." gumamnya lagi. Dan Ia berharap kejadian yang baru saja menimpanya hanyalah sebuah halusinasi belaka.

****

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!