"Meski baru saja pulih dari sakit, kecantikan Anda sama sekali tidak memudar, Nona."
Pujian yang meluncur dari bibir pelayan yang tengah menyisir rambut panjang majikannya itu rupanya tidak mampu mencairkan ekspresi dingin di wajah sang nona.
"Wajahku masih pucat, Cani. Mana mungkin terlihat cantik? Jangan mengada-ada."
Pelayan bernama Cani itu langsung menggeleng kuat."Mana berani saya mengada-ada, Nona? Anda memang sangat cantik. Lady Nandikara adalah bangsawan muda tercantik di seluruh Wilayah Timur."
Memang sudah menjadi rutinitas Cani, setiap dia membantu nonanya bersolek, Ia harus memberikan banyak pujian, dan sanjungan pada majikannya, karena kalau tidak, Cani akan mendapatkan masalah besar. Tapi hari ini, pujian itu benar-benar tulus. Nonanya memang terlihat sangat cantik dengan riasan yang sangat sederhana, tidak seperti biasanya.
Namun, alih-alih senang mendengarnya, Nandikara justru semakin mengerucutkan bibir."Sudah cukup, Cani. Kau boleh pergi."
"Baik, Nona. Jika membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya."
Cani membungkukkan badan hormat sebelum melangkah keluar. Tak lama kemudian, pintu kamar pun tertutup pelan, menyisakan keheningan yang begitu terasa.
Begitu hanya seorang diri, Nandikara atau lebih tepatnya Elisa mengangkat sebelah tangannya ke arah cermin besar di hadapannya. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan kaca yang dingin, sementara sepasang mata bening itu menatap pantulan seorang gadis berparas luar biasa cantik.
Itu bukan wajahnya. Bukan wajah Elisa yang biasa ia lihat setiap pagi sebelum berangkat kerja. Wajah itu milik Lady Nandikara, salah satu tokoh pendukung dalam novel yang pernah ia baca.
"Kalau ini mimpi, kok lama banget sih? Sampai kapan gue terjebak di sini?" gumamnya sambil mengembuskan napas panjang.
Namanya Elisa.
Seorang gadis pekerja biasa yang entah karena keajaiban apa, tiba-tiba terbangun di dalam dunia novel kerajaan berjudul 'Mengejar Cinta Sang Putra Mahkota'. Masalahnya, dari sekian banyak karakter yang ada, ia justru merasuki tubuh Lady Nandikara. Salah satu karakter pendukung yang jarang muncul, tapi sekali muncul menjengkelkan, tipe antagonis.
"Jika dipikir-pikir lagi, enak juga ya hidup di sini," ocehnya sambil tetap menatap bayangannya sendiri."Mau makan tinggal bilang, langsung disiapin. Mau apa-apa ada pelayan. Nggak kayak hidup gue yang isinya kerja mulu dari pagi sampai malam. Kaya engga, gila iya."
Elisa mendecak pelan."Wajah cantik, kaya, lahir dari keluarga bangsawan. Beruntung banget hidup lo, Nandikara." Ia menggeleng kecil, lalu terkekeh sendiri."Sayangnya terlalu bucin sama putra mahkota. Ujung-ujungnya malah sengsara. Padahal kalo hidup Lo lempeng, pasti selamat."
Tatapannya kembali menelusuri wajah cantik di dalam cermin."Eh, sebenarnya lo mati nggak, sih, di akhir cerita?" tanyanya pada pantulan dirinya sendiri."Biasanya tokoh antagonis kan mati tragis. Masalahnya setiap ada adegan lo, selalu gue skip. Jadi gue sama sekali nggak tahu nasib akhir lo."
Seketika senyum tipis di bibirnya memudar."Lama-lama kaya orang gila gue, ngomong sendiri."
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Sedikit demi sedikit, Elisa mulai mencerna kenyataan yang sulit diterima.
Yang terakhir kali ia ingat hanyalah pulang kerja dalam keadaan kelelahan. Sesampainya di rumah, ia mandi, lalu merebahkan tubuh di atas kasur sambil melanjutkan novel fantasi romantis favoritnya, karena terlalu larut menikmati cerita, tanpa sadar ia tertidur.
Namun saat membuka mata, bukan lagi langit-langit kamar kontrakannya yang menyambut. Melainkan kamar mewah bergaya kerajaan yang sama persis seperti deskripsi di dalam novel. Awalnya Elisa mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun hari berganti hari, dan ia masih berada di tempat yang sama. Semuanya terasa begitu nyata.
"Gue harus memastikan dulu posisi lo masih aman, Nandikara," gumam Elisa pelan sambil menatap pantulan wajah cantik di hadapannya.
"Kalau memang nggak bisa pulang, setidaknya gue harus cari cara supaya nggak ikut mati di akhir cerita."
***
"Bagaimana kondisi putriku?" tanya Nyonya Winter kepada tabib keluarga yang selama tiga hari terakhir tidak pernah absen memantau perkembangan kesehatan Nandikara.
"Tidak ada luka yang serius," jawab sang tabib sambil merapikan tas medisnya."Hanya saja, Nona masih harus banyak beristirahat. Jangan sampai memikirkan sesuatu yang dapat membuatnya cemas."
"Dengar itu, Kara. Kau tidak boleh terus-terusan memikirkan bocah sombong itu," bisik Nyonya Winter pelan, seolah tidak ingin ucapannya terdengar oleh sang tabib.
Kening Elisa langsung berkerut.
Bocah sombong? Siapa?
Otaknya bekerja keras mengingat kembali isi novel itu. Namun, tidak ada satu pun bagian yang membahas kehidupan pribadi Nandikara. Wajar saja, gadis itu hanyalah seorang figuran yang nyaris tidak mendapat porsi cerita. Ia hanya muncul sesaat dengan penampilan glamor, selalu mengenakan gaun-gaun berwarna cerah dan riasan wajah yang tebal. Hanya itu yang berhasil Elisa ingat. Karena itulah, ia sempat terkejut saat melihat wajah Nandikara untuk pertama kalinya. Cantik sekali pikirnya. Jauh berbeda dari kesan yang tergambar dalam novel. Kalau Nandikara saja secantik ini, bagaimana dengan Agnes, si pemeran utama, secantik apa dia?
Elisa hanya bisa berdeham pelan, berusaha menyembunyikan kepanikannya. Ia takut jika Nyonya Winter atau tabib itu mulai mengajukan pertanyaan yang tidak mampu ia jawab.
Untungnya, setelah pemeriksaan selesai, tabib keluarga segera berpamitan. Nyonya Winter pun mengantarnya keluar kamar.
Keheningan akhirnya menyelimuti ruangan.
Tak lama kemudian...
Tok... tok...
"Bolehkah aku masuk?"
Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan seorang gadis muda yang tampaknya sebaya dengan Nandikara. Wajahnya manis, tetapi ekspresinya terkesan jutek dan dingin.
Jantung Elisa kembali berdegup lebih cepat.
Siapa lagi ini?
Dia sama sekali tidak mengenali wajah gadis itu. Semakin lama berada di dunia novel ini, semakin ia sadar bahwa ternyata kehidupan Nandikara jauh lebih rumit daripada yang tertulis di novel.
"Aku sungguh tidak sengaja, Kara," ucap gadis itu lirih."Kalau kau ingin berteriak atau memarahiku, lakukan saja. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku padamu."
Elisa hanya berkedip bingung. Rasa bersalah? Memangnya dia melakukan apa?
"Aku kan masih sakit," jawab Elisa asal."Kurasa aku tidak punya tenaga untuk berteriak."
Gadis itu melangkah mendekat hingga berdiri di sisi ranjang."Kalau begitu, kau boleh memukulku."
Belum sempat Elisa menjawab, suara nyaring tiba-tiba menggema dari ambang pintu.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Suri? Apa kau ingin mencelakai adikmu lagi? Kamu belum puas, sudah membuat Kara terbaring lemah seperti ini?"
Nyonya Winter berdiri di sana dengan wajah penuh kemarahan.
Elisa spontan menoleh ke gadis itu. Dia membeku.
Suri?
Nama itu terasa sangat familiar. Elisa berusaha mengingat-ingat. Dan akhirnya...
Jangan-jangan, dia Suri Winter? Sahabat dekat Agnes, yang merupakan pemeran utama dalam novel.
Mata Elisa membelalak.
Kalau benar, berarti Suri adalah kakaknya Nandikara?
"Dia hanya bertanya tentang keadaanku, Bu."
Ucapan Elisa membuat Suri dan Nyonya Winter saling berpandangan. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat.
"Kau baik-baik saja, kan, Kara?" tanya Nyonya Winter dengan suara yang jauh lebih lembut. Tatapan perempuan itu dipenuhi rasa heran. Putrinya benar-benar bersikap di luar kebiasaan.
Biasanya, begitu melihat wajah Suri, Nandikara pasti langsung meledak, melontarkan kata-kata tajam, bahkan berusaha mengusir gadis itu dari hadapannya.
Elisa terlihat mulai merasa gugup ketika menyadari kedua perempuan itu terus menatapnya dengan ekspresi aneh.
Apa aku salah bicara?
"Aku baik-baik saja, Bu. Bisakah aku beristirahat sekarang? Badanku masih terasa lemas." Elisa sengaja mencari alasan agar Nyonya Winter segera meninggalkan kamarnya. Semakin lama mereka berada di sana, semakin besar kemungkinan penyamarannya terbongkar.
"Baiklah. Ibu akan membiarkanmu beristirahat." Nyonya Winter mengangguk pelan, lalu menoleh tajam ke arah Suri."Dan kau, cepat keluar dari kamar ini." Nada bicaranya begitu dingin hingga membuat suasana kembali menegang. Sangat jelas terlihat bahwa Nyonya Winter tidak menyukai Suri.
Mendengar ucapan tersebut, Elisa tiba-tiba teringat jalan cerita novel yang pernah dibacanya.
Benar juga. Suri memiliki ibu dan adik tiri yang selalu memperlakukannya dengan buruk. Berarti adik tiri yang dimaksud adalah Nandikara, sedangkan ibu tirinya adalah Nyonya Winter.
"Biarkan Suri tetap di sini, Bu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."
Permintaan itu membuat Nyonya Winter kembali mengernyit."Berbicara dengan Suri? Kau yakin, Kara?"
Elisa hanya mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu." Meski masih dipenuhi tanda tanya, Nyonya Winter akhirnya melangkah keluar. Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, ia sempat menoleh ke arah Suri."Suri, jangan macam-macam." Setelah mengucapkan peringatan itu, barulah ia pergi.
Pintu kamar tertutup rapat. Suri mengembuskan napas panjang sambil memasang wajah datar."Memangnya aku ini monster?"
Elisa diam-diam memperhatikan gadis berwajah jutek di depannya. Kalau benar dia adalah Suri Winter, maka langkah pertama yang harus ia lakukan agar bisa bertahan hidup di dunia novel ini adalah menjadikan Suri sebagai sahabatnya.
Kalau Suri berpihak padanya, besar kemungkinan Agnes juga akan menerimanya. Dan jika Agnes sudah menjadi temannya, Putra Mahkota Erlan tentu tidak akan mencelakainya. Bagaimanapun juga, Agnes adalah gadis yang sangat dicintai sang putra mahkota.
Membayangkan rencana indah itu membuat sudut bibir Elisa terangkat membentuk senyum tipis.
"Kau kenapa?" Suri semakin dibuat bingung oleh tingkah adik tirinya.
Pertama, Nandikara sama sekali tidak mengamuk saat melihatnya, padahal kecelakaan beberapa hari lalu terjadi karena ia tidak sengaja mendorong Nandikara hingga gadis itu terjatuh dan tak sadarkan diri.
Karena rasa bersalah itulah Suri diam-diam datang ke kamar ini untuk meminta maaf. Ia bahkan sudah siap dilempari vas bunga atau diusir dengan makian, seperti biasanya. Namun, tidak satu pun dari semua itu terjadi. Yang lebih aneh lagi, Nandikara tampak begitu normal.
Biasanya gadis itu selalu berdandan mencolok dengan riasan tebal dan perhiasan berlebihan, lalu mengomel tanpa henti seperti nenek sihir dalam cerita dongeng. Hari ini semuanya berbeda.
Sangat berbeda.
Elisa tersenyum cerah."Aku tidak apa-apa, Suri. Dan apa pun yang pernah terjadi, aku sudah memaafkanmu. Jadi santai saja. Aku tidak akan marah."
Suri menatapnya seolah sedang melihat orang asing."Apa kepalamu terbentur lebih keras dari yang kukira? Kenapa tiba-tiba kau bersikap semanis ini?"
Elisa terkekeh pelan."Dunia ini terlalu indah untuk dikotori oleh kebencian. Bukankah akan lebih baik kalau kita saling bersikap baik? Apa pun yang terjadi di masa lalu, mari kita lupakan. Mulai hari ini kita akan menjadi sahabat yang tidak terpisahkan."
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Suri hanya bisa menatap Nandikara tanpa berkedip. Kini ia benar-benar yakin. Kepala adik tirinya itu pasti terbentur sesuatu saat jatuh. Kalau tidak, mana mungkin Nandikara mengucapkan kata-kata seaneh itu?
***
"Cani, nanti temui koki yang memasak hari ini. Katakan padanya kalau aku sangat puas dengan hidangan yang dia sajikan," ujar Elisa dengan senyum puas yang sejak tadi tak lepas dari wajahnya.
Makan malam itu benar-benar melampaui ekspektasinya.
Sepotong daging sapi panggang yang empuk disiram saus tomat bercita rasa manis dan pedas, disajikan bersama aneka sayuran segar serta roti hangat. Setiap suapan terasa begitu sempurna hingga membuat Elisa nyaris lupa menjaga citra anggunnya sebagai seorang putri bangsawan.
Di kehidupan lamanya, hidangan semewah ini hanyalah kemewahan yang sesekali bisa ia nikmati. Dengan gajinya yang pas-pasan, ia harus menabung berbulan-bulan hanya untuk mencicipi steak di restoran. Namun kini, makanan seperti ini justru menjadi santapan sehari-hari.
Jadi beginilah rasanya hidup sebagai orang kaya, batin Elisa. Senyum di bibirnya semakin lebar.
"Baik, Nona," jawab Cani dengan wajah yang tak kalah sumringah.
Melihat perubahan sang majikan membuat hati pelayan muda itu dipenuhi rasa syukur. Beberapa hari terakhir, Lady Nandikara seolah menjadi orang yang berbeda. Tidak ada lagi bentakan, makian, ataupun amarah yang membuat para pelayan gemetar ketakutan. Sebaliknya, sang nona kini kerap mengucapkan terima kasih, bahkan tak segan memberikan pujian atas pekerjaan mereka.
Tak heran jika menurut Cani, kecantikan majikannya kini semakin terpancar. Wajah yang dahulu hampir selalu dipenuhi kekesalan kini terlihat jauh lebih lembut karena jarang dihiasi amarah.
"Apa jadwalku setelah ini, Cani?" tanya Elisa sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet.
Selama beberapa hari berada di tubuh Nandikara, Elisa perlahan mulai membaur dengan keluarga Winter. Semuanya berjalan lebih lancar daripada yang ia bayangkan. Bahkan hubungannya dengan Suri pun mulai membaik.
Langkah pertamanya cukup berhasil. Yang harus dia lakukan sekarang hanyalah bersikap manis, makan enak, tidur nyenyak, dan menjalani kehidupan seorang bangsawan. Hidup seperti itu benar-benar terasa sempurna.
"Tidak ada, Nona. Setelah makan malam, Anda bisa langsung beristirahat agar tubuh Anda tetap bugar untuk kegiatan besok. Bukankah anda dan nona Suri akan pergi ke pusat kota."
Elisa mengangguk pelan."Sungguh kehidupan yang sempurna," gumamnya sambil tersenyum puas. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Baiklah, aku sudah selesai. Terima kasih sudah menemaniku makan malam, Cani. Sekarang aku ingin menikmati pelukan kasur empukku. Kau juga boleh kembali ke kamarmu dan beristirahat."
"Baik, Nona." Cani menundukkan kepala dengan hormat sebelum melangkah keluar dari ruang makan.
Di sepanjang perjalanan menuju kamar para pelayan, senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya. Ia benar-benar menyukai perubahan Lady Nandikara. Memang sempat beredar desas-desus bahwa sang nona berubah drastis setelah kepalanya terbentur saat mengalami kecelakaan. Namun bagi Cani, apa pun penyebabnya sama sekali tidak penting.
Selama Lady Nandikara tetap menjadi sosok yang baik seperti sekarang, itu sudah lebih dari cukup baginya.
"Yang ini terlalu mencolok," gumam Elisa sambil menggeleng pelan."Aku lebih suka yang sederhana, tetapi tetap elegan."
Sejak memasuki butik, Elisa tampak begitu bersemangat memilih gaun. Jemarinya berpindah dari satu lembar kain sutra ke kain lainnya. Sesekali ia mengangkat sebuah gaun ke depan tubuhnya, membayangkan bagaimana penampilannya jika mengenakan pakaian itu.
"Yang ini sempurna."
"Bahkan seleramu dalam memilih pakaian pun berubah, Kara," ucap Suri sambil terus memperhatikan adik tirinya.
Bukan hanya sikap dan tabiat Nandikara yang berubah. Cara gadis itu berpakaian, berdandan, bahkan caranya berbicara kini terasa sangat berbeda. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya bukanlah Nandikara yang selama ini ia kenal.
Elisa hanya melirik sekilas ke arah Suri.
Pagi itu, mereka sudah berada di butik pakaian terbaik di pusat kota. Dengan sedikit paksaan, Elisa berhasil mengajak Suri menemaninya membeli beberapa gaun baru untuk dipakai sehari-hari. Semua gaun milik Nandikara yang memenuhi lemari kamarnya benar-benar tidak sesuai dengan seleranya.
"Entah kenapa aku baru menyadarinya sekarang Suri, semua gaun yang ada di lemari pakaianku membuat mataku sakit," keluh Elisa sambil menghela napas.
Selera pemilik tubuh ini benar-benar buruk.
Suri hanya terdiam sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Elisa. Entah sejak kapan dia bisa mengobrol senyaman ini dengan Nandikara yang dulu terkenal angkuh, pemarah, dan selalu memandang rendah orang lain. Sangat aneh, dan janggal. Tetapi perubahan ini justru sangat bagus untuk Suri, karena membuat hidupnya lebih damai, dia tak lagi dijebak dengan drama rendahan adik tirinya yang selalu saja mencari perhatian sang Ayah.
"Lihat yang ini, Suri." Elisa mengambil sebuah gaun berwarna hitam dengan pita merah lembut di bagian pinggang."Menurutku ini sangat cocok untukmu. Sederhana, anggun, dan akan sangat pas jika dipadukan dengan wajah datarmu yang menyebalkan itu."
Alih-alih tersinggung, Suri justru tersenyum tipis. Entah mengapa, ejekan ringan seperti itu terdengar jauh lebih menyenangkan dibandingkan ucapan-ucapan tajam yang biasanya keluar dari mulut Nandikara.
Namun, kehangatan suasana itu tidak berlangsung lama.
Bel kecil di atas pintu butik berdenting pelan, menandakan kedatangan tamu baru. Refleks, Suri menoleh ke arah pintu. Begitu melihat siapa yang baru masuk, wajahnya langsung berubah tegang.
Dia langsung mendekati adiknya."Kara," panggilnya pelan."Kau sudah mendapatkan gaun yang kau inginkan, bukan? Sebaiknya kita segera pergi."
Elisa yang masih sibuk memperhatikan gaun di tangannya mengerutkan dahi."Tapi aku belum selesai. Banyak yang harus kubeli."
"Leon ada di sini," bisik Suri dengan nada terburu-buru.
Elisa langsung terdiam.
Leon?
Siapa itu?
Meski dipenuhi rasa penasaran, ia memilih untuk tidak bertanya. Jika sampai salah bicara, Suri bisa kembali mencurigainya. Lebih baik mengikuti keinginan wanita itu untuk sementara waktu.
Melihat Nandikara diam dan tidak membantah, Suri segera menggenggam tangan adiknya dan mengajaknya keluar dari butik. Sayangnya, langkah mereka terhenti.
"Suri Winter, dan..."
Suara seorang gadis terdengar lembut dari belakang.
"Nandikara? Hampir saja aku tidak mengenalimu. Penampilanmu..."
"Lady Jasmine Snow," Suri buru-buru memotong ucapan gadis itu, lalu membungkukkan badan dengan sopan. Pandangannya kemudian beralih kepada pria yang berdiri di samping Jasmine."Leonardo Snow."
Suri mengucapkan nama itu dengan tenang, tetapi dalam hati ia terus mengawasi reaksi Nandikara. Ia sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Apakah Nandikara akan mengamuk? Atau langsung menjambak rambut Leonardo seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya? Terserah saja.
Namun, dugaan Suri meleset. Nandikara hanya berdiri dengan tenang. Bahkan, ia membalas tatapan Jasmine dan Leon dengan senyum manis.
Tidak ada amarah.
Tidak ada makian.
Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kegilaan yang biasanya muncul saat melihat pria itu.
"Kalau begitu, kami permisi lebih dulu," ucap Suri cepat."Masih ada beberapa urusan yang harus kami selesaikan. Ayo, Kara." Tanpa memberi kesempatan bagi Jasmine ataupun Leon untuk melanjutkan percakapan, Suri segera menarik Elisa keluar dari butik.
Kepergian kedua kakak beradik itu menyisakan kebingungan di wajah Jasmine dan Leon. Jasmine bahkan masih menatap ke arah pintu butik yang baru saja tertutup. Penampilan Nandikara kini berubah drastis, jauh lebih sederhana, tetapi justru memancarkan kesan anggun yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang lebih mengejutkan lagi, gadis itu sama sekali tidak mengamuk, dia bahkan tersenyum padanya dan Leon.
Padahal, sejak dua minggu lalu, disaat Leon menolak lamaran Nandikara secara terang-terangan. Nandikara selalu saja murka jika melihat wajah Leon, bahkan menurut rumor yang beredar, gadis itu sampai mau bunuh diri karena tidak kuat menahan malu.
"Kurasa rumor tentang depresinya memang benar," gumam Jasmine sambil tersenyum kecil. Pandangannya tak lepas dari pantulan dirinya di cermin saat ia mencoba beberapa gaun yang dipajang di butik itu.
"Setelah cintanya ditolak mentah-mentah, Nandikara jadi kehilangan akal. Sikapnya benar-benar aneh sekarang. Bisa-bisanya dia tersenyum padaku? Kemana wajah masamnya itu?"
"Jaga ucapanmu, Jasmine. Seorang lady tidak pantas berbicara seperti itu."
Leon yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat bicara. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup tegas untuk membuat adiknya berhenti berceloteh. Meski begitu, dalam hati ia tak bisa sepenuhnya menyangkal ucapan Jasmine. Perubahan Nandikara memang terlalu mencolok. Gadis yang dulu selalu ribut dan gemar mencari perhatian kini justru menjadi pendiam. Entah apa yang terjadi pada gadis itu?
"Itu memang salah satu isi rumor yang sedang beredar di kalangan para lady, Kak. Aku hanya mengulanginya saja," jawab Jasmine sambil mengangkat bahu."Akhir-akhir ini kehidupan Nandikara sedang jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Mereka pasti akan sangat terkejut jika melihat betapa akrabnya Suri dan Nandikara tadi. Suri bahkan menggandeng tangan adiknya. Jika aku tidak melihatnya secara langsung, aku mungkin tidak akan percaya walaupun kakakku sendiri yang mengatakannya. Bukankah itu sesuatu yang nyaris mustahil? Selama ini mereka terkenal sebagai musuh bebuyutan."
"Bukankah itu justru kabar baik? Berarti hubungan persaudaraan mereka semakin bagus," sahut Leon."Berhentilah mencampuri urusan orang lain. Lebih baik cepat pilih gaunmu. Bukankah tadi kau bilang sudah lapar? Setelah ini kita cari makan, di sebelah jalan sana ada tempat makan yang enak, kita akan kesana jadi cepatlah."
Leon memang sosok bangsawan sejati. Ia tidak tertarik membahas gosip yang tak ada kaitannya dengan dirinya. Baginya, menjaga nama baik keluarga dan mengurus urusan sendiri jauh lebih penting daripada ikut larut dalam desas-desus yang belum tentu benar.
Jasmine mengembuskan napas panjang lalu cemberut."Kakak memang tidak seru."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!