Kirana Ayu berlari kecil menyusuri koridor gedung Fakultas Ekonomi, tas ranselnya terayun ke kanan kiri seiring langkah yang dipercepat. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat dua belas menit. Kelas Pengantar Manajemen Strategis dimulai pukul tujuh tepat.
"Gila, gila, gila," gumamnya sambil menahan napas yang mulai memburu. Rambut panjangnya yang tadi rapi disanggul kini beberapa helai lepas dan menempel di pipi yang berkeringat.
Dia baru tiga hari jadi mahasiswa baru di kampus ini, dan hari ini adalah hari pertama masuk kelas jurusan setelah minggu orientasi selesai. Sialnya, dia salah menghitung waktu tempuh dari kos ke gedung kuliah. Peta di kepalanya masih berantakan, belum hafal jalan pintas mana yang bisa memangkas lima menit perjalanan.
Sampai di depan ruang 301, Kirana berhenti sejenak, mengatur napas, lalu mendorong pintu perlahan. Engselnya berderit pelan, cukup untuk membuat puluhan pasang mata di dalam kelas menoleh ke arahnya.
Dan satu pasang mata yang paling tajam datang dari depan kelas.
Seorang pria berdiri di dekat papan tulis, mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi dan lengan yang digulung sampai siku. Rahangnya tegas, alisnya sedikit terangkat, dan tatapannya seolah bisa membelah orang jadi dua hanya dengan sekali lirik.
"Silakan masuk," katanya, suaranya datar tapi menusuk. "Karena sepertinya kamu sudah cukup percaya diri membuka pintu di tengah kelas yang sedang berjalan."
Beberapa mahasiswa tertawa kecil, ada yang menahan senyum di balik telapak tangan. Kirana merasa wajahnya memanas, dari leher sampai telinga.
"Ma... maaf, Pak. Saya kesasar tadi," jawabnya, suaranya lebih pelan dari yang dia inginkan.
"Nama?"
"Kirana. Kirana Ayu."
Pria itu membuka buku absen di meja, jarinya menyusuri deretan nama sampai berhenti di satu titik. Dia mencentang sesuatu, lalu menutup buku itu tanpa berkata apa apa lagi. Tidak ada makian, tidak ada omelan panjang. Tapi caranya menatap Kirana selama dua detik terakhir sebelum kembali menghadap papan tulis terasa lebih menusuk daripada seribu kata sindiran.
Kirana buru buru mencari kursi kosong di barisan belakang, duduk di sebelah cewek berkacamata yang langsung menyenggol lengannya pelan.
"Untung cuma dicentang doang," bisik cewek itu. "Namaku Tesa, btw."
"Kirana," balasnya lirih, masih berusaha menormalkan detak jantung.
"Itu Pak Alden. Dosen paling galak di jurusan kita. Kalau telat sepuluh menit, langsung dianggap absen. Kalau jawabanmu ngasal, siap siap disindir di depan kelas sampai muka merah padam." Tesa berbisik sambil sesekali melirik ke depan, memastikan suaranya tidak sampai terdengar.
Kirana menoleh ke arah dosen itu. Alden Rafael Wicaksono, begitu tertulis di slide presentasi yang baru saja dia buka. Umurnya mungkin baru awal tiga puluhan, tapi caranya berdiri, caranya bicara, semuanya menunjukkan wibawa yang jauh lebih tua dari usianya.
"Hari ini kita akan membahas analisis SWOT dalam konteks perusahaan multinasional," kata Alden, suaranya mengalir tegas tanpa jeda. "Saya harap semua sudah membaca bab dua sebelum masuk kelas. Kalau belum, saya sarankan pinjam catatan teman sebelah dan pura pura paham."
Sindiran itu membuat sebagian kelas tertawa lagi. Kirana menunduk, membuka buku catatan dan mulai menulis apa pun yang keluar dari mulut dosen di depan. Tangannya bergerak cepat, berusaha mengejar setiap kalimat yang meluncur tanpa jeda.
Sesekali dia mencuri pandang ke depan.
Bukan karena tertarik, hanya karena penasaran bagaimana bisa ada orang yang bicara sepanjang itu tanpa sekali pun tersenyum.
Setengah jam berlalu, Alden melempar pertanyaan ke kelas. "Siapa yang bisa jelaskan perbedaan strategi diferensiasi dan fokus?"
Hening. Tidak ada yang mengangkat tangan. Beberapa mahasiswa menunduk, pura pura sibuk mencatat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Mata Alden menyapu seisi kelas, lalu berhenti di barisan belakang. "Kamu. Yang tadi telat."
Kirana mendongak, kaget. "Sa... saya, Pak?"
"Ada nama lain di kursi itu?"
Beberapa tawa kecil meletus lagi. Kirana meremas ujung buku catatannya di bawah meja, jantungnya berdetak kencang bukan karena hal manis, melainkan karena panik.
"Strategi diferensiasi itu... perusahaan bikin produk yang beda dari kompetitor, biar konsumen milih karena keunikannya. Kalau fokus, perusahaannya nyasar ke satu segmen pasar yang spesifik aja, nggak coba nyenengin semua orang," jawab Kirana, suaranya bergetar di awal tapi mulai stabil di akhir kalimat.
Alden diam sejenak, menatapnya lurus. Tatapan itu bukan tatapan marah, tapi juga bukan tatapan puas. Entah apa namanya.
"Cukup benar," katanya akhirnya. "Lain kali, datang tepat waktu supaya bisa dengar penjelasan dari awal, bukan menebak nebak."
Kirana menghela napas lega, meski masih terasa ada yang aneh berputar di dadanya. Bukan lega yang biasa. Ada semacam sensasi campur aduk yang tidak bisa dia jelaskan.
Jam istirahat, Kirana dan Tesa duduk di kantin, memesan es teh dan gorengan seadanya. Kirana masih setengah kesal mengingat kejadian tadi.
"Gila ya, baru hari pertama udah kena semprot," keluhnya sambil menyeruput es teh.
"Itu belum apa apa," Tesa terkekeh. "Kakak tingkatku pernah cerita, ada mahasiswa yang disuruh keluar kelas cuma gara gara HP-nya bunyi. Pak Alden nggak toleransi sama sekali soal hal hal kayak gitu."
"Kok bisa jadi dosen segalak itu sih?"
Tesa mengangkat bahu. "Katanya sih dulu dia pernah kena masalah besar, makanya jadi sekaku itu. Tapi ya gosip doang, nggak ada yang tahu pasti."
Kirana mengangguk, meski rasa penasaran diam diam mulai tumbuh di kepalanya. Dia buru buru menepis pikiran itu, mengingatkan diri sendiri bahwa dia datang ke kampus ini untuk belajar, bukan untuk kepo soal kehidupan pribadi dosen.
Tapi entah kenapa, sepanjang sisa hari itu, wajah tegas Alden terus muncul di benaknya. Cara dia berdiri tegap di depan kelas, cara suaranya yang dalam mengalun tanpa keraguan sedikit pun, semuanya terus terputar seperti rekaman yang tidak mau berhenti.
Sore harinya, Kirana kembali ke gedung fakultas untuk mengurus berkas her registrasi yang tertinggal. Koridor sudah mulai sepi, sebagian besar mahasiswa sudah pulang. Langkahnya bergema di lorong yang mulai temaram karena lampu belum semuanya dinyalakan.
Saat melewati ruang dosen, pintu yang setengah terbuka membuat langkahnya melambat tanpa sadar. Dari celah pintu, dia melihat Alden duduk sendirian di mejanya, kacamata bertengger di ujung hidung, tangannya sibuk mencoret sesuatu di atas kertas.
Ada sesuatu yang berbeda dari sosoknya sekarang. Tidak ada raut galak yang biasa dia tunjukkan di kelas. Hanya ada kerutan tipis di dahi, tanda dia sedang berpikir keras, dan sesekali dia mengetuk pena ke meja, ritme pelan yang menandakan kegelisahan kecil.
Kirana tidak sengaja menabrak tumpukan map di dekat pintu, membuat suara berisik yang cukup untuk membuat Alden mendongak.
"Kamu," katanya, alisnya sedikit terangkat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Kirana, kan?"
"I... iya, Pak. Maaf, saya cuma lewat," jawabnya cepat, buru buru membungkuk mengambil map yang terjatuh.
Alden melepas kacamatanya, menyandarkan punggung ke kursi. "Ada perlu sesuatu?"
"Nggak, Pak. Beneran cuma lewat, mau ke bagian akademik," Kirana menjelaskan, suaranya sedikit tergesa.
Hening sejenak. Alden menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata. Kirana merasa jantungnya berdegup aneh, degup yang terlalu cepat untuk sekadar situasi canggung biasa.
"Lain kali kalau lewat, jangan bikin kaget orang," kata Alden akhirnya, nada suaranya sedikit lebih lunak dari yang biasa dia dengar di kelas.
"Siap, Pak," Kirana buru buru mengangguk, lalu berjalan cepat menjauh dari ruangan itu.
Begitu sampai di ujung koridor, dia berhenti sejenak, menyandarkan punggung ke dinding sambil menghela napas panjang. Tangannya masih memegangi dada, merasakan detak jantung yang belum juga kembali normal.
"Kenapa sih tadi jantung gue berdebar kayak abis lari maraton," gumamnya pelan, bingung sendiri dengan reaksi tubuhnya.
Dia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai berputar di kepala. Tapi bayangan wajah Alden yang melepas kacamata, kerutan tipis di dahinya, dan tatapan yang entah kenapa terasa berbeda dari yang biasa dia tunjukkan di kelas, terus terngiang sepanjang perjalanan pulang.
Yang tidak Kirana ketahui, di dalam ruangan yang baru saja dia tinggalkan, Alden masih terdiam menatap pintu yang tertutup. Pena di tangannya berhenti mengetuk meja. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ada sesuatu yang mengusik ketenangan yang selama ini dia jaga rapat rapat.
Malam itu Kirana tidur lebih awal dari biasanya. Alarm di ponselnya sudah diatur tiga kali, masing masing berjarak lima menit, sebagai jaminan supaya besok dia tidak mengulang kejadian memalukan yang sama.
Tapi rencana rapi itu buyar begitu saja ketika pukul lima pagi dia terbangun oleh suara berisik dari kamar sebelah kos.
"Woy, air mati!" teriak salah satu penghuni kos, suaranya menggema di sepanjang lorong.
Kirana bangkit dari kasur, mengucek mata, lalu mencoba keran kamar mandinya sendiri. Benar saja, tidak ada setetes air pun yang keluar. Dia menghela napas panjang, menyandarkan kening ke dinding kamar mandi yang dingin.
"Ya Allah, kenapa harus hari ini," gumamnya pelan, suara masih serak karena baru bangun.
Dia berlari ke lantai bawah, mendapati beberapa penghuni kos lain sudah berkumpul di dekat tangki air, wajah mereka sama sama kusut karena baru bangun tapi harus menghadapi masalah teknis pagi pagi buta. Ibu kos menjelaskan pompa air rusak dan tukang baru bisa datang siang nanti.
Kirana mengecek jam di ponselnya. Setengah enam. Kelas Pak Alden dimulai pukul tujuh, dan dia belum mandi, belum sarapan, belum menyiapkan buku catatan yang benar.
"Sial, sial, sial," gumamnya berulang kali sambil kembali ke kamar, mengambil botol air mineral cadangan yang untungnya masih tersisa cukup banyak. Dia menuangkan air ke ember kecil, mandi seadanya dengan gerakan tercepat yang pernah dia lakukan seumur hidup.
Rambutnya masih setengah basah ketika dia menyambar tas ranselnya dan berlari keluar kos. Jalanan pagi itu lebih padat dari biasanya, entah karena ada perbaikan jalan di ujung gang atau memang rezeki apes yang menumpuk jadi satu.
Dia mengecek aplikasi ojek online, mencoba memesan, tapi semua driver terdekat menunjukkan jarak yang terlalu jauh. Setelah menunggu tiga menit tanpa ada yang menerima orderan, Kirana memutuskan untuk berjalan kaki secepat mungkin sambil terus mencoba memesan ulang.
"Please, please dapet," bisiknya sambil menatap layar ponsel, jantungnya sudah mulai berdebar bukan karena alasan manis, melainkan karena kepanikan murni.
Akhirnya ada driver yang menerima orderan, tapi jaraknya delapan menit dari lokasi Kirana berdiri. Dia menunggu di pinggir jalan, kaki mengetuk ngetuk aspal tanpa sadar, matanya terus melirik jam yang angkanya terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.
Di sisi lain kota, di sebuah apartemen minimalis dengan interior serba monokrom, Alden sudah bangun sejak pukul lima. Dia bukan tipe orang yang butuh alarm berkali kali. Rutinitasnya selalu sama, bangun, olahraga ringan, mandi, sarapan secukupnya, lalu berangkat lebih awal supaya bisa menyiapkan materi sebelum kelas dimulai.
Dia menyeruput kopi hitamnya sambil membuka laptop, mengecek ulang slide presentasi yang akan dia gunakan hari itu. Matanya berhenti sejenak di daftar nama mahasiswa, tanpa sadar tertuju pada satu nama yang baru dia kenal kemarin.
Kirana Ayu.
Dia mengernyit sendiri menyadari kenapa nama itu yang muncul di kepalanya, lalu buru buru menutup laptop dan bersiap berangkat. Tidak ada alasan untuk memikirkan mahasiswa manapun secara khusus, apalagi yang baru saja dia tegur karena datang terlambat.
Ojek yang ditumpangi Kirana melaju kencang menembus jalanan pagi yang mulai padat. Dia terus melirik jam, menghitung mundur waktu yang tersisa. Ketika motor akhirnya berhenti di depan gerbang kampus, jam di ponselnya menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit.
Kirana melompat turun, buru buru membayar ongkos tanpa menghitung kembalian, lalu berlari secepat yang kakinya mampu menuju gedung Fakultas Ekonomi. Napasnya memburu, keringat mulai membasahi punggung meski udara pagi masih sejuk.
Dia sampai di depan ruang 301 tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh tepat. Dari luar, dia bisa mendengar suara Alden yang sudah mulai membuka kelas dengan kalimat pembuka yang tegas seperti biasa.
Kirana menarik napas dalam dalam, mencoba menormalkan detak jantung dan napas yang masih tersengal, lalu mendorong pintu perlahan, berharap kali ini tidak ada yang menoleh.
Harapan itu sia sia. Pintu berderit sedikit, dan lagi lagi semua mata di kelas mengarah padanya, termasuk sepasang mata tajam yang berdiri di depan papan tulis.
Alden menghentikan kalimatnya di tengah jalan, menatap Kirana yang berdiri kaku di ambang pintu, napas masih tersengal dan rambut sedikit berantakan karena tergesa gesa.
"Kamu lagi," katanya, nadanya datar tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini, tidak setajam kemarin.
"Maaf, Pak. Air di kos saya mati, terus susah dapat ojek," jelas Kirana buru buru, suaranya masih terengah. Dia meremas tali tas ranselnya, berusaha menahan rasa malu yang mulai menjalar sampai ke telinga.
Beberapa mahasiswa mulai berbisik bisik, ada yang menahan tawa kecil melihat Kirana yang datang persis di detik terakhir dengan penampilan seadanya.
Alden melirik jam tangannya, lalu menatap Kirana lagi. "Tepat pukul tujuh. Masih dalam batas toleransi."
Jawaban itu membuat Kirana mendongak kaget. Dia sudah siap mental menerima teguran, bahkan mungkin disuruh keluar kelas seperti cerita cerita yang dia dengar dari Tesa kemarin. Tapi Alden hanya menunjuk kursi kosong terdekat, isyarat supaya Kirana segera duduk tanpa perlu berdiri lebih lama di depan kelas.
"Duduk," katanya singkat, lalu kembali melanjutkan penjelasan seolah tidak terjadi apa apa.
Kirana buru buru duduk di kursi terdekat, jantungnya masih berdebar kencang, kali ini bercampur antara lega dan bingung. Dia melirik ke arah Tesa yang duduk beberapa bangku di depannya, memberi tatapan heran seolah bertanya kenapa Pak Alden bisa sebaik itu hari ini.
Tesa hanya mengangkat bahu, sama bingungnya.
Sepanjang kelas berlangsung, Kirana berusaha fokus mencatat, meski sesekali pikirannya melayang memikirkan kejadian tadi. Kenapa Pak Alden tidak menegurnya seperti kemarin? Apa karena dia datang tepat pukul tujuh, bukan lewat beberapa menit? Atau ada alasan lain yang tidak dia mengerti?
Di depan kelas, Alden melanjutkan materinya dengan suara tegas seperti biasa, tapi sesekali matanya secara tidak sadar melirik ke arah barisan belakang, tempat Kirana duduk sambil mencatat dengan rambut yang masih sedikit berantakan.
Dia menepis pikiran itu cepat cepat, kembali fokus pada slide presentasi di layar. Tidak ada alasan untuk memperhatikan satu mahasiswa secara khusus, apalagi hanya karena penampilannya yang berantakan pagi ini.
Menjelang akhir kelas, Alden memberikan tugas kelompok kecil untuk dikumpulkan minggu depan. Dia membagi kelas menjadi beberapa kelompok berdasarkan nomor urut absen, tanpa memberi kesempatan mahasiswa memilih sendiri.
"Kelompok akan saya umumkan lewat portal akademik sore ini," katanya sambil mengumpulkan berkas di meja. "Pastikan cek nama masing masing."
Kelas mulai bubar satu per satu, suara kursi bergeser dan obrolan riuh memenuhi ruangan. Kirana merapikan buku catatannya, masih memikirkan kejadian pagi tadi.
"Eh, tumben Pak Alden nggak galak sama kamu," bisik Tesa begitu mereka berjalan keluar kelas bersama.
"Iya, aku juga heran," jawab Kirana jujur, mengernyitkan dahi. "Padahal kemarin disindir abis abisan cuma gara gara telat semenit."
"Mungkin kamu beruntung aja," Tesa terkekeh, menyenggol lengan Kirana pelan.
"Atau jangan jangan dia mulai lunak sama kamu."
"Ih, ngasal ah," Kirana mendorong bahu Tesa main main, meski diam diam ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Bukan sesuatu yang buruk, tapi juga bukan sesuatu yang bisa dia jelaskan dengan mudah.
Sepanjang perjalanan menuju kelas berikutnya, Kirana beberapa kali menoleh ke belakang tanpa sadar, seolah berharap melihat sosok Alden lewat di koridor yang sama. Ketika dia menyadari kebiasaan aneh itu, dia buru buru menggeleng, mencoba fokus pada jadwal kuliah berikutnya.
Sore harinya, ketika Kirana membuka portal akademik untuk mengecek pembagian kelompok tugas, matanya membelalak melihat satu nama yang tercantum sebagai dosen pembimbing kelompok nomor tiga, kelompok yang kebetulan berisi namanya.
Alden Rafael Wicaksono.
Kirana menatap layar ponselnya lama, jantungnya kembali berdebar dengan ritme yang sama anehnya seperti kemarin sore di depan ruang dosen. Dia tidak tahu harus merasa senang, panik, atau keduanya sekaligus.
Yang dia tahu pasti, minggu minggu ke depan sepertinya tidak akan sesederhana yang dia bayangkan sebelumnya.
"Kirana, gimana kabar kelompok tugasnya?" tanya Tesa begitu mereka duduk berdampingan di kantin, mangkuk mi ayam mengepul di depan masing masing.
"Belum ngapa ngapain," jawab Kirana sambil mengaduk mi-nya pelan. "Baru dapet pembagian tugas kemarin sore, belum sempat kumpul sama anggota lain."
"Terus kamu udah kontak Pak Alden belum? Dia kan pembimbing kelompok kalian."
Kirana meletakkan sendoknya, menatap Tesa dengan raut agak panik. "Belum. Emang harus kontak dia duluan?"
"Ya iyalah," Tesa terkekeh, "biasanya dosen pembimbing harus di-update soal progress. Apalagi ini Pak Alden, kalau kelompokmu telat lapor, bisa bisa kena semprot lagi."
"Duh, gila ya, baru juga dapet tugas udah bikin stres," keluh Kirana, menghela napas panjang. "Kenapa sih harus dia yang jadi pembimbing kelompokku."
"Justru itu untungnya," Tesa mencolek lengan
Kirana, menyeringai jahil. "Kamu jadi punya alasan buat sering sering ketemu dia."
"Ih, apaan sih," Kirana mendorong bahu Tesa, wajahnya mulai terasa hangat. "Bukan gitu maksudnya."
"Terserah deh," Tesa tertawa kecil, lalu kembali fokus pada mi ayamnya.
Keesokan harinya, kelas Pengantar Manajemen Strategis dimulai seperti biasa. Kirana datang lebih awal kali ini, duduk di barisan tengah bersama Tesa, buku catatan sudah tersiap rapi di atas meja.
Alden masuk kelas tepat waktu, membawa map berisi kertas kertas yang langsung dia letakkan di meja. "Sebelum masuk materi hari ini, saya mau tanya dulu. Kelompok tiga, siapa yang mau update progress tugas kalian?"
Kelas hening sejenak. Kirana melirik anggota kelompoknya yang lain, berharap ada yang mengangkat tangan lebih dulu. Tapi semua orang justru menoleh ke arahnya.
"Kirana, kamu aja," bisik salah satu anggota kelompok, seorang cowok bernama Bagas, sambil menyenggol lengannya pelan.
"Hah? Kenapa harus aku?" bisik Kirana balik, panik.
"Abisan kamu yang paling deket duduknya," jawab Bagas asal, nyengir tanpa dosa.
Kirana menghela napas, lalu perlahan mengangkat tangan. "Saya, Pak."
Alden menatapnya, alis sedikit terangkat.
"Silakan."
"Anu, Pak," Kirana mulai gugup, "kelompok kami belum sempat kumpul, soalnya jadwal masing masing beda beda. Tapi rencananya minggu ini kami mau atur waktu buat diskusi."
"Belum kumpul sama sekali?" Alden bertanya, nadanya mulai terdengar tidak sabar.
"Belum, Pak," jawab Kirana jujur, meski suaranya mengecil di akhir kalimat.
"Tugas ini saya kasih tiga hari yang lalu. Deadline dua minggu. Dan kalian belum kumpul sama sekali?" Alden melipat tangan di dada, matanya menyapu seluruh anggota kelompok tiga satu per satu.
Tidak ada yang berani menjawab. Kirana meremas ujung buku catatannya di bawah meja, jantungnya berdebar bukan karena hal manis kali ini, melainkan karena tegang.
"Kirana," panggil Alden lagi, "sebagai orang yang tadi angkat tangan, saya anggap kamu koordinatornya. Kenapa belum ada yang inisiatif ngatur jadwal diskusi?"
"Saya... saya kira ada yang lain yang mau jadi koordinator, Pak," jawab Kirana, mencoba menjelaskan meski suaranya makin kecil.
"Kalau semua orang mikirnya kayak gitu, kapan tugasnya selesai?" Alden melangkah mendekat ke arah barisan tengah, membuat seisi kelas semakin hening. "Saya nggak butuh alasan. Saya butuh hasil kerja."
Kirana menunduk, wajahnya terasa panas. Dia bisa merasakan tatapan seisi kelas tertuju padanya, dan itu membuat rasa malu semakin menjadi jadi.
"Besok sore, jam empat, kalian semua kumpul di ruang diskusi lantai dua," lanjut Alden, suaranya tegas tanpa ruang untuk dibantah. "Saya akan cek progress kalian langsung. Kalau masih nol, nilai kelompok ini otomatis saya potong."
"Baik, Pak," jawab beberapa anggota kelompok serempak, suara mereka terdengar pelan dan penuh rasa bersalah.
Alden kembali ke depan kelas, melanjutkan materi seolah interupsi tadi tidak pernah terjadi. Tapi Kirana masih terdiam, menahan malu yang menjalar sampai ke ujung telinga.
Tesa menyenggol lengannya pelan, berbisik,
"Kamu nggak apa apa?"
"Malu banget," bisik Kirana balik, menutup wajah dengan kedua tangan sebentar.
"Kenapa sih tadi aku angkat tangan duluan."
"Ya abisan Bagas nyuruh," Tesa menahan tawa. "Tapi tenang, besok kan udah ada rencana kumpul. Kamu tinggal atur aja."
"Gampang ngomong sih," Kirana mendengus pelan, meski dalam hati dia mulai memikirkan bagaimana caranya mengorganisir kelompok yang sepertinya tidak ada yang punya inisiatif sama sekali.
Sepulang kelas, Kirana mengumpulkan anggota kelompoknya di kantin untuk membahas rencana besok. Ada Bagas, lalu dua cewek bernama Nadia dan Ferra, serta satu cowok pendiam bernama Yusuf yang sejak tadi hanya menunduk memainkan ponselnya.
"Oke, jadi besok jam empat kita harus udah punya progress," Kirana membuka pembicaraan, mencoba terdengar tegas meski dalam hati masih deg degan. "Kalian udah baca materi belum?"
"Aku udah baca sekilas," jawab Nadia.
"Aku belum sih, kemarin sibuk," Bagas nyengir tanpa rasa bersalah.
"Bagas, serius deh," Kirana menghela napas,
"kita cuma punya waktu sampe besok sore. Kalau kamu belum baca, kapan bakal ngerti materinya?"
"Iya iya, nanti malem aku baca," Bagas mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
"Sori, Kir, td malem ketiduran abis maen game."
"Ya udah, gimana kalau kita bagi tugas aja," usul Ferra. "Kirana sama Nadia yang cari data perusahaan, aku sama Bagas yang bikin kerangka analisis SWOT-nya, Yusuf bagian nyusun slide."
"Setuju," jawab Kirana cepat, lega ada yang mengusulkan pembagian tugas yang jelas.
"Yusuf, kamu oke kan bagian slide?"
Yusuf mengangguk singkat tanpa mendongak dari ponselnya. "Oke."
"Terus kita kumpul lagi malem ini via grup chat, biar bisa cek progress masing masing sebelum besok ketemu Pak Alden," lanjut Kirana.
"Wah, kamu udah kayak koordinator beneran ya," celetuk Bagas sambil terkekeh.
"Ya abis tadi udah kena semprot di depan kelas, masa aku diem aja," jawab Kirana setengah bercanda setengah kesal.
"Pokoknya besok kita harus keliatan udah ada progress, jangan sampe nol lagi kayak tadi."
"Siap, Bos," Bagas memberi hormat main main, membuat yang lain tertawa kecil.
Malam itu, Kirana sibuk membalas pesan di grup chat kelompok, memastikan semua anggota mengerjakan bagian masing masing. Sesekali dia melirik jam, menghitung berapa lama lagi sampai deadline yang dijanjikan Alden.
"Nad, data perusahaannya udah dapet belum?" ketik Kirana di grup.
"Udah, ntar aku share," balas Nadia cepat.
"Bagas, gimana kerangka SWOT-nya?"
"Lagi dikerjain, tenang aja," balas Bagas, disusul emoji jempol.
Kirana menghela napas lega, meski masih ada rasa cemas mengendap di dadanya. Bayangan wajah Alden yang tegas saat menegurnya tadi di kelas terus terngiang, membuatnya semakin bertekad supaya besok tidak mengecewakan lagi.
"Kenapa sih tadi aku sampe segitu takutnya," gumamnya sendiri sambil menatap layar ponsel. "Padahal biasanya kalau ditegur orang lain, aku nggak segini panik."
Dia menggeleng, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai muncul lagi. Tapi entah kenapa, semakin dia mencoba tidak memikirkan Alden, semakin sering wajah tegas dosen itu muncul di kepalanya.
Keesokan sorenya, kelompok tiga berkumpul di ruang diskusi lantai dua, membawa laptop dan beberapa lembar catatan yang sudah mereka susun semalaman. Kirana duduk paling depan, jantungnya berdebar menunggu kedatangan Alden.
Tepat pukul empat, pintu ruang diskusi terbuka. Alden masuk dengan map di tangan, wajahnya seperti biasa datar dan sulit ditebak.
"Sudah siap?" tanyanya singkat, duduk di kursi yang tersedia di ujung meja.
"Sudah, Pak," jawab Kirana, suaranya lebih mantap dari kemarin. "Kami udah bagi tugas. Saya sama Nadia cari data perusahaan, Bagas sama Ferra bikin kerangka SWOT, Yusuf nyusun slide."
Alden mengangguk pelan, membuka laptop yang disodorkan Bagas, mengecek isi kerangka SWOT yang sudah dibuat. Matanya bergerak cepat membaca setiap poin.
"Analisisnya masih terlalu umum," katanya setelah beberapa saat, menunjuk salah satu poin di layar. "Kamu bilang kekuatan perusahaan ini di 'kualitas produk baik'. Baik itu gimana? Bandingkan sama kompetitor, kasih data konkret."
"Oh, iya, Pak, nanti kami perbaiki," jawab Ferra cepat, mencatat masukan itu di buku catatannya.
"Kirana," panggil Alden lagi, "data perusahaan yang kamu kumpulkan udah cukup lengkap. Tapi coba tambahin laporan keuangan tiga tahun terakhir, biar analisisnya lebih kuat."
"Baik, Pak, nanti saya cari lagi," jawab Kirana, mencatat cepat di bukunya.
"Progress hari ini lumayan," kata Alden akhirnya, menutup laptop dan mengembalikannya ke Bagas. "Lanjutkan sampai minggu depan. Saya harap nggak ada lagi yang datang tanpa persiapan kayak kemarin."
"Siap, Pak," jawab seluruh anggota kelompok serempak, nada suara mereka jauh lebih lega dibanding kemarin.
Sebelum keluar ruangan, Alden sempat melirik ke arah Kirana sekilas. "Kerja bagus hari ini."
Kirana terdiam, tidak menyangka akan mendengar pujian sesingkat itu dari dosen yang biasanya lebih banyak menyindir daripada memuji. "Terima kasih, Pak,"
jawabnya, mencoba menahan senyum yang tiba tiba muncul di bibirnya.
Begitu Alden keluar ruangan, Tesa yang kebetulan lewat dan mengintip dari jendela ruang diskusi langsung menghampiri Kirana dengan wajah penasaran.
"Eh, tadi aku denger Pak Alden muji kamu?" tanya Tesa, matanya berbinar jahil.
"Muji progress kelompok kali, bukan aku doang," Kirana buru buru meluruskan, meski pipinya mulai terasa hangat.
"Terserah deh, yang penting kamu keliatan seneng banget tuh," goda Tesa, membuat Kirana mendorong bahunya main main sambil tertawa kecil, mencoba menutupi debar aneh yang kembali muncul di dadanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!