Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Bab 1

Byur!

​Segelas air dingin mendarat tepat di wajah Anton.

​Air itu menetes dari rambutnya, membasahi kemeja usangnya yang sudah mulai pudar warnanya.

​Anton hanya bisa terdiam sambil menatap wanita di depannya dengan tatapan tidak percaya.

​"Rina, apa maksud semua ini?" tanya Anton dengan suara bergetar.

​"Kamu masih berani bertanya apa maksudnya?" balas Rina dengan nada tinggi.

​Wajah cantik Rina yang biasanya tersenyum manis kini hanya menampilkan ekspresi jijik yang luar biasa.

​Di sebelah Rina, berdiri seorang pria tampan dengan setelan jas mahal dan senyum meremehkan.

​"Kita putus, Anton," ucap Rina tanpa ragu sedikit pun.

​"Tapi kenapa?" Anton mencoba maju selangkah. "Aku sudah bekerja siang malam, menabung demi masa depan kita."

​"Masa depan apa?" Rina tertawa sinis. "Masa depan hidup miskin bersamamu di kontrakan sempit?"

​Pria berjas di sebelah Rina merangkul pinggang wanita itu dengan posesif.

​"Dengar ya, gembel," ucap pria itu sambil menatap Anton dari atas ke bawah.

​"Namaku Dimas, dan aku bisa memberikan Rina apa saja yang dia mau," lanjutnya dengan bangga.

​Anton mengepalkan tangannya kuat-kuat.

​"Rina, kamu meninggalkanku hanya karena uang pria ini?" tanya Anton, berharap ada sedikit penyesalan di mata Rina.

​"Tentu saja!" jawab Rina cepat. "Dimas membelikanku tas seharga gaji setahunmu."

​Dimas mengeluarkan sebuah kunci mobil dari sakunya dan memutarnya di jari.

​"Lihat ini? Aku baru saja membelikan Rina mobil baru untuk jalan-jalan," pamer Dimas.

​"Sementara kamu?" Dimas mendengus geli. "Kamu bahkan harus meminjam motor temanmu untuk menjemputnya."

​Dada Anton terasa sesak seolah dihantam batu besar.

​"Aku mengorbankan segalanya untukmu," gumam Anton, "Aku bahkan membeli cincin ini untuk melamarmu hari ini."

​Anton merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang sudah lusuh.

​Rina menatap kotak itu sebentar sebelum tertawa terbahak-bahak.

​Hahahaha... "Cincin murahan dari pasar malam?" Rina menepis tangan Anton dengan kasar.

​Brak!

​Kotak itu jatuh ke tanah beraspal dan cincin perak murahan di dalamnya menggelinding keluar.

​"Jangan membuatku tertawa, Anton," kata Rina dingin.

​"Pergilah dan jangan pernah mencari aku lagi," tambah Rina sambil memalingkan wajahnya.

​Dimas melangkah maju dan dengan sengaja menginjak cincin perak itu hingga penyok.

​Krak!

​"Ups, maaf," ucap Dimas tanpa rasa bersalah sama sekali.

​"Kamu!" Anton tidak bisa menahan amarahnya lagi dan berniat memukul wajah sombong Dimas.

​Namun, sebelum tinju Anton sampai, dua pengawal berbadan besar tiba-tiba muncul dari belakang Dimas.

​Bugh!

​Salah satu pengawal itu menendang perut Anton dengan sangat keras.

​Anton terpental ke belakang dan jatuh berguling di atas aspal yang basah oleh hujan gerimis.

​Kepalanya membentur trotoar dengan bunyi benturan yang mengerikan.

​Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, mengaburkan pandangannya.

​"Sampah tetaplah sampah," suara Dimas terdengar samar di telinga Anton.

​"Ayo sayang, kita pergi dari sini," ajak Dimas kepada Rina.

​"Tentu saja, udara di sini membuatku mual," balas Rina manja.

​Suara langkah kaki mereka dan deru mesin mobil mewah perlahan menjauh, meninggalkan Anton yang terkapar tak berdaya.

​Anton mencoba membuka matanya, tapi rasa sakit di kepalanya sungguh luar biasa.

​"Apakah hidupku akan berakhir menyedihkan seperti ini?" batin Anton dengan penuh kepahitan.

​Dia merasa sangat tidak berguna, direndahkan, dan dibuang seperti sampah jalanan.

​Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema di dalam kepalanya.

​[Mendeteksi gelombang otak tuan yang sangat kuat akibat penderitaan.]

​[Sistem Mata Dewa sedang melakukan sinkronisasi dengan tuan.]

​Anton terkejut bukan main.

​"Suara apa itu?" batin Anton kebingungan, mencoba menahan rasa sakit.

​[Sinkronisasi mencapai 50%... 80%... 100%.]

​[Sinkronisasi berhasil.]

​[Sistem Mata Dewa telah diaktifkan.]

​Rasa sakit di kepala Anton tiba-tiba menghilang, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

​Terutama di bagian kedua matanya, rasanya seperti ada energi asing yang mengalir masuk.

​Anton perlahan bangkit dan duduk di pinggir trotoar.

​Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.

​Saat dia membuka matanya kembali, dunia di sekitarnya tampak sangat berbeda.

​Pandangannya menjadi sangat tajam, bahkan dia bisa melihat butiran debu yang berterbangan di udara.

​[Tuan telah menerima kemampuan awal: Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1.]

​[Kemampuan ini memungkinkan tuan untuk melihat struktur internal benda mati dengan ketebalan maksimal 10 sentimeter.]

​Anton menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

​"Penglihatan tembus pandang?" gumam Anton pelan.

​Dia mencoba menatap sebuah tas ransel milik seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat di depannya.

​Fokuskan pikiran, perintah Anton dalam hati.

​Seketika itu juga, lapisan luar tas tersebut seakan menghilang dari pandangan Anton.

​Dia bisa melihat dengan jelas isi di dalam tas itu.

​Ada sebuah laptop, botol minum berwarna biru, dan sebuah dompet kulit berwarna cokelat.

​Anton mengucek matanya dengan keras.

​Dia kembali menatap tas itu dan isinya masih terlihat sangat jelas.

​"Ini nyata," batin Anton dengan detak jantung yang berpacu kencang.

​"Aku benar-benar bisa melihat menembus benda!" teriak Anton dalam hati.

​Senyum tipis mulai terbentuk di sudut bibirnya.

​Rasa sedih dan putus asa yang tadi menyelimuti hatinya perlahan menguap.

​Kekuatan ini adalah kunci, kunci untuk mengubah nasib buruknya selama ini.

​Dengan kemampuan melihat menembus benda, Anton tahu persis di mana dia bisa mendapatkan uang dengan cepat.

​"Pasar barang antik," gumam Anton sambil mengepalkan tangannya.

​Banyak barang berharga yang tersembunyi di balik lapisan lumpur atau cat kusam di pasar itu.

​Orang biasa hanya bisa menebak-nebak, tapi Anton kini bisa melihat kebenaran di baliknya.

​Dia menatap ke arah jalan raya tempat mobil Dimas dan Rina pergi.

​"Kalian merendahkanku karena aku tidak punya mobil dan uang," batin Anton dengan tatapan tajam.

​"Tunggu saja, Rina."

​"Aku akan membeli mobil yang bahkan tidak sanggup dibeli oleh pacar barumu itu."

​"Aku akan membuat kalian berdua berlutut dan memohon ampun di hadapanku."

​Anton mengusap darah di pelipisnya dan berdiri dengan tegap.

​Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap dari sebelumnya.

​Malam ini, sejarah baru dalam hidup Anton baru saja dimulai.

​Tujuan pertamanya besok pagi sudah sangat jelas.

​Dia akan pergi ke Pasar Loak dan Barang Antik Sudirman untuk menguji kehebatan mata barunya ini.

Bab 2

Kring!

Suara alarm dari ponsel retak milik Anton memecah keheningan pagi.

Dia segera terbangun dan mengusap wajahnya yang masih terasa sedikit kaku.

"Apakah kejadian semalam hanya mimpi?" gumam Anton sambil beranjak dari kasur lipatnya.

Dia menatap dinding triplek kamarnya dan mencoba memfokuskan pikirannya.

Tembus, batin Anton memberi perintah.

Seketika, dinding triplek itu seolah menghilang dari pandangannya.

Anton bisa melihat dengan jelas ibu kosnya sedang menyapu halaman di luar sana.

"Ini nyata," ucap Anton sambil tersenyum lebar.

Dia bergegas mandi, memakai pakaian rapi namun sederhana, dan langsung berangkat menuju Pasar Barang Antik Sudirman.

Brak!

Suara pintu angkot ditutup terdengar saat Anton turun di depan gapura besar.

Gapura itu bertuliskan Pasar Loak dan Barang Antik Sudirman.

Suasana pasar pagi itu sudah sangat ramai oleh para pedagang dan pemburu barang antik.

"Ayo dipilih, dipilih, barang peninggalan zaman Majapahit!" teriak seorang pedagang dengan semangat.

"Guci asli Dinasti Ming, murah saja untuk penglaris hari ini!" sahut pedagang lainnya di seberang jalan.

Anton tersenyum tipis mendengar teriakan-teriakan promosi yang berlebihan itu.

Dia tahu persis bahwa sembilan puluh sembilan persen barang di sini adalah barang palsu.

Anton berjongkok di depan sebuah lapak yang dijaga oleh pria paruh baya berkumis tebal.

"Anak muda, matamu sangat tajam," sapa pria berkumis itu sambil tersenyum licik.

"Silakan lihat-lihat, lapak Pak Kumis ini hanya menjual barang asli," tambahnya dengan penuh percaya diri.

Anton mengangguk pelan dan mengambil sebuah piring keramik bermotif naga.

"Piring ini terlihat bagus, Pak," ucap Anton sambil membolak-balik piring tersebut.

"Tentu saja!" seru Pak Kumis sambil menepuk dadanya.

"Itu adalah piring peninggalan kaisar dari zaman kuno yang kudapatkan dari seorang kolektor tua."

"Harganya lumayan, tapi khusus untukmu, aku kasih lima juta saja," ucap Pak Kumis menawarkan harga.

Anton hampir saja tertawa mendengar nominal yang disebutkan oleh pedagang itu.

Dia segera mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1] miliknya.

Dalam hitungan detik, struktur piring keramik itu terlihat jelas di mata Anton.

"Barang buatan pabrik modern, bahkan masih ada sisa cetakan mesin di bagian dalamnya," batin Anton geli.

"Terima kasih tawarannya, Pak, tapi aku sedang mencari barang yang lebih unik," tolak Anton dengan halus.

Dia meletakkan kembali piring itu dan bersiap untuk berdiri.

"Eh, tunggu dulu anak muda!" tahan Pak Kumis dengan cepat.

"Kalau kamu mencari yang unik, aku punya barang spesial di kotak ini," ucapnya sambil menarik sebuah kardus usang.

Pak Kumis mengeluarkan sebuah patung kayu berbentuk kuda yang sudah berdebu dan sebagian catnya mengelupas.

"Ini patung kuda dari kayu cendana asli, peninggalan keraton," jelas Pak Kumis dengan nada meyakinkan.

Anton kembali menggunakan kemampuannya untuk mengamati patung kuda tersebut.

Pandangannya menembus lapisan kayu yang terlihat rapuh itu.

Tiba-tiba, mata Anton terbelalak kaget.

Di dalam perut patung kuda kayu yang berongga itu, terdapat sebuah benda kecil yang disembunyikan.

Benda itu berbentuk seperti koin tebal, namun memancarkan aura hijau yang sangat pekat dan jernih.

"Itu bukan koin biasa, teksturnya seperti batu giok kualitas tinggi," batin Anton sambil menahan nafas.

Jantungnya berdebar kencang, tapi dia berusaha keras menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

"Patung yang jelek sekali," ucap Anton dengan nada meremehkan.

"Kayunya sudah keropos dan catnya juga sudah hancur begini," tambah Anton sambil membolak-balik patung itu.

Wajah Pak Kumis sedikit cemberut mendengar kritikan Anton.

"Anak muda, dalam dunia barang antik, penampilan luar itu tidak penting," bela Pak Kumis.

"Nilai sejarahnya yang membuat barang ini berharga," tambahnya bersikeras.

Anton meletakkan patung itu kembali ke dalam kardus dengan gerakan santai.

"Menurutku ini cuma kayu rongsokan biasa yang cocok untuk kayu bakar," ucap Anton.

"Aku pergi ke lapak lain saja," kata Anton sambil berdiri dan membalikkan badannya.

"Hei, hei, jangan buru-buru!" panggil Pak Kumis dengan panik.

Dia tidak ingin kehilangan calon pembeli pertamanya hari ini.

"Bagaimana kalau lima ratus ribu?" tawar Pak Kumis menurunkan harganya drastis.

Anton berhenti melangkah dan menoleh ke belakang dengan wajah datar.

"Lima puluh ribu," tawar Anton tanpa ragu sedikit pun.

"Apa?" mata Pak Kumis melotot lebar.

"Kamu merampokku, anak muda? Ini barang bersejarah!" protesnya dengan suara keras.

"Kalau begitu simpan saja barang bersejarah Bapak itu," balas Anton santai sambil melangkah pergi.

"Tunggu!" teriak Pak Kumis sambil menghela nafas panjang.

"Tiga ratus ribu, itu harga pas, aku sudah rugi bandar ini," keluh Pak Kumis dengan wajah memelas.

Anton kembali berjongkok dan menatap mata pedagang itu dalam-dalam.

"Seratus ribu," ucap Anton tegas.

"Ini tawaranku yang terakhir, kalau tidak mau ya sudah," tambahnya sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompet tipisnya.

Pak Kumis menatap uang merah itu dengan bimbang selama beberapa detik.

"Baiklah, baiklah, ambil sana!" ucap Pak Kumis sambil merebut uang dari tangan Anton.

"Dasar anak muda pelit, merusak harga pasar saja," gerutunya pelan.

Anton tersenyum lebar dan segera mengambil patung kuda kayu tersebut.

"Terima kasih, Pak, semoga dagangannya laris," ucap Anton sambil beranjak pergi.

Dia berjalan menjauh dari lapak Pak Kumis dengan langkah riang.

Tangan kirinya menggenggam erat patung kuda yang tampak tidak berharga itu.

"Dengan ini, nasibku akan segera berubah," batin Anton penuh semangat.

Dia berjalan mencari tempat yang sepi dan aman di sudut pasar.

Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, Anton mengeluarkan patung itu.

Dia memegang bagian kepala dan ekor patung kuda tersebut.

Krak!

Dengan sedikit tenaga, patung kayu yang sudah rapuh itu terbelah menjadi dua bagian.

Sebuah benda bulat pipih jatuh ke telapak tangan Anton.

Benda itu tertutup lapisan lumpur kering yang sangat tebal.

Anton mengikis lumpur itu perlahan-lahan menggunakan ibu jarinya.

Sedikit demi sedikit, warna hijau zamrud yang sangat memukau mulai terlihat.

Di bawah cahaya matahari pagi, benda itu memancarkan kilau yang luar biasa indah.

"Astaga," gumam Anton dengan suara bergetar.

Itu adalah sebuah liontin giok kekaisaran dengan ukiran naga yang sangat detail dan halus.

Walaupun Anton bukan ahli barang antik, dia tahu pasti bahwa giok dengan kejernihan seperti ini sangatlah langka.

"Ini giok kaca tingkat tinggi," ucap Anton tidak percaya.

Dia pernah melihat giok serupa di sebuah acara lelang televisi, dan harganya mencapai miliaran rupiah.

"Dimas, Rina, tunggu tanggal mainnya," batin Anton sambil menggenggam liontin giok itu dengan erat.

"Kalian pikir uang ratusan juta kalian sudah hebat?"

"Aku akan menunjukkan kepada kalian apa itu kekayaan yang sesungguhnya," seringai Anton.

Anton segera memasukkan liontin giok itu ke dalam saku celananya dengan hati-hati.

Tujuan selanjutnya adalah Toko Barang Antik Mustika, toko paling besar dan terpercaya di pasar ini.

Dia butuh ahli penilai sungguhan untuk mengubah giok ini menjadi uang tunai.

Kring!

Suara lonceng pintu berbunyi saat Anton melangkah masuk ke dalam Toko Mustika.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya, sangat kontras dengan cuaca panas di luar.

Interior toko ini sangat mewah, dengan rak-rak kaca yang memajang berbagai barang antik bernilai tinggi.

"Selamat datang di Toko Mustika," sapa seorang wanita muda dengan seragam kerja yang rapi.

Wanita itu memiliki wajah yang cantik natural dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi.

Namanya tertulis di tanda pengenal dadanya, Bella.

"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Bella dengan senyum ramah yang profesional.

Meskipun penampilan Anton terlihat kusam dan sederhana, Bella tidak menunjukkan sikap meremehkan sama sekali.

"Aku ingin menjual sebuah barang," jawab Anton dengan tenang.

"Apakah manajer atau ahli penilai di toko ini ada di tempat?" tanya Anton.

Bella mengangguk pelan.

"Tuan Hermawan, ahli penilai utama kami sedang ada di ruangannya," jawab Bella.

"Bolehkah saya melihat dulu barang yang ingin Mas jual?" pinta wanita cantik itu dengan sopan.

Anton tidak keberatan dan merogoh saku celananya.

Dia meletakkan liontin giok hijau zamrud itu di atas meja kaca etalase.

Mata Bella langsung tertuju pada liontin tersebut.

Awalnya dia hanya melihatnya dengan santai, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah drastis.

Mata indah Bella membesar dan dia menutup mulutnya karena terkejut.

"Ini... ini giok naga kekaisaran?" gumam Bella dengan suara terbata-bata.

Dia dengan hati-hati memakai sarung tangan putih sebelum menyentuh liontin itu.

"Warna hijau zamrud murni, transparansi setingkat kaca, dan tidak ada retakan sedikit pun," sebut Bella sambil mengamati giok itu dari jarak dekat.

"Mas, dari mana Anda mendapatkan barang seberharga ini?" tanya Bella sambil menatap Anton dengan pandangan tidak percaya.

Anton hanya tersenyum misterius.

"Itu rahasia dagang, Mbak Bella," jawab Anton santai.

"Jadi, apakah Tuan Hermawan bisa menilainya sekarang?" tanya Anton lagi.

Bella segera tersadar dari keterkejutannya.

"Tentu saja, tolong tunggu sebentar, saya akan segera memanggil Tuan Hermawan," ucap Bella dengan nada yang jauh lebih hormat dari sebelumnya.

Dia bergegas setengah berlari menuju sebuah ruangan di bagian belakang toko.

Anton bersandar santai di etalase toko sambil menunggu.

Tidak sampai dua menit, seorang pria paruh baya berkacamata tebal keluar dengan langkah terburu-buru.

Di belakangnya, Bella mengikuti dengan ekspresi wajah yang masih terlihat tegang.

"Mana? Mana giok naga kekaisaran yang kamu maksud?" tanya pria itu dengan suara keras dan tidak sabar.

Pria itu adalah Hermawan, salah satu ahli barang antik paling disegani di kota ini.

Mata Hermawan langsung tertuju pada liontin giok yang tergeletak di atas meja.

Dia mengeluarkan kaca pembesar dari saku jasnya dan mengamati giok itu dengan sangat teliti.

Tangan Hermawan tampak sedikit gemetar saat dia meraba ukiran naga pada giok tersebut.

"Sempurna... ini benar-benar mahakarya yang sempurna," gumam Hermawan dengan mata berbinar.

Dia menatap Anton dari atas ke bawah, merasa heran bagaimana pemuda miskin ini bisa memiliki barang sehebat ini.

"Anak muda, aku akan langsung ke intinya," ucap Hermawan dengan nada serius.

"Giok ini adalah Giok Kaca Hijau Zamrud asli dari akhir era Dinasti Qing," jelasnya panjang lebar.

"Toko Mustika bersedia membelinya dari tanganmu hari ini juga," tambah Hermawan.

Anton tetap tenang dan tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.

"Berapa harga yang berani Bapak berikan?" tanya Anton langsung pada intinya.

Hermawan terdiam sejenak, tampak sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

Suasana di dalam toko menjadi sangat hening.

Bahkan Bella yang berdiri di samping tampak menahan nafasnya.

"Lima ratus juta rupiah," ucap Hermawan memecah keheningan.

"Aku akan mentransfer lima ratus juta ke rekeningmu sekarang juga."

Mendengar angka tersebut, jantung Anton berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.

Namun, dengan cepat dia mengingat sebuah informasi yang pernah dia baca di internet tentang giok kelas atas.

Anton tersenyum tipis.

"Maaf, Pak Hermawan, sepertinya kita tidak bisa mencapai kesepakatan," ucap Anton sambil mengambil gioknya kembali.

"Aku yakin di rumah lelang kota sebelah, barang ini bisa dihargai minimal delapan ratus juta," ucap Anton dengan percaya diri.

Dia berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar toko.

Hermawan panik, dia tahu pemuda ini sama sekali tidak bodoh dan mengetahui harga pasaran yang sebenarnya.

"Tunggu! Jangan pergi dulu!" seru Hermawan dengan suara lantang.

Anton menghentikan langkahnya tapi tidak membalikkan badan.

"Tujuh ratus lima puluh juta!" tawar Hermawan dengan gigi terkatup.

"Itu harga tertinggiku, mengingat toko kami juga harus mengambil sedikit keuntungan," bujuk Hermawan.

Anton berbalik dan tersenyum puas.

"Sepakat," jawab Anton singkat.

Dalam sekejap mata, patung kayu rongsokan seharga seratus ribu telah berubah menjadi uang tunai ratusan juta rupiah.

Langkah pertama balas dendamnya kini telah dimulai.

Bab 3

Ting!

​Suara notifikasi dari ponsel Anton berbunyi.

​Dia membuka layar ponselnya dan melihat sebuah pesan notifikasi masuk dari bank.

​[Rekening Anda telah dikredit sebesar Rp 750.000.000,00 dari Toko Mustika.]

​Anton menatap angka nol di layar ponselnya dengan nafas terengah-engah.

​Uang sebanyak ini bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya selama hidup puluhan tahun.

​"Terima kasih atas transaksinya, Mas Anton," ucap Hermawan sambil mengulurkan tangannya dengan ramah.

​"Jika Mas Anton menemukan barang berharga lainnya, jangan ragu untuk datang ke Toko Mustika lagi," tambah Hermawan.

​Anton membalas jabat tangan itu dengan tenang.

​"Tentu saja, Pak Hermawan," jawab Anton santai.

​Dia menoleh ke arah Bella yang masih menatapnya dengan tatapan kagum dan sedikit penasaran.

​"Mbak Bella, terima kasih atas bantuannya," ucap Anton sambil tersenyum manis.

​Pipi Bella mendadak merona merah setelah mendapatkan senyuman dari Anton.

​"S-sama-sama, Mas Anton, itu sudah tugas saya," jawab Bella sedikit gugup.

​Bella bergegas merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berdesain elegan.

​"Ini kartu nama saya, Mas," ucap Bella sambil menyerahkannya dengan kedua tangan.

​"Kalau Mas Anton butuh bantuan atau ingin menjual barang lagi, bisa langsung menghubungi nomor pribadi saya," tambah Bella.

​Anton menerima kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.

​"Pasti," balas Anton singkat.

​Dia berbalik dan melangkah keluar dari Toko Mustika dengan dada terangkat busung.

​Langkah kakinya tidak lagi ragu-ragu seperti tadi pagi.

​Sekarang, dia memiliki modal yang sangat cukup untuk mengubah total penampilannya.

​Anton berjalan menuju sebuah mal mewah yang berada tak jauh dari kawasan pasar antik tersebut.

​Kring!

​Pintu kaca otomatis mal terbuka lebar menyambut kedatangan Anton.

​Namun, belum sempat dia melangkah jauh, dua satpam berbaju hitam mencegat posisinya.

​"Maaf Mas, area ini untuk pengunjung berbelanja," ucap salah satu satpam dengan pandangan meremehkan.

​Dia menatap kemeja usang Anton yang bernoda darah kering dari kejadian semalam.

​"Saya memang ingin berbelanja di sini," jawab Anton dengan nada dingin.

​"Jangan bercanda, Mas," cibir satpam yang satunya lagi.

​"Pakaianmu saja seperti pengemis jalanan, lebih baik kamu keluar sebelum kami usir," tegasnya.

​Anton tidak marah, dia hanya menghela nafas pelan.

​Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi mobile banking, dan memperlihatkan saldo rekeningnya tepat di depan wajah kedua satpam itu.

​Mata kedua satpam itu mendadak melotot seperti mau keluar dari kelopaknya.

​"Tuju ratus... lima puluh juta?!" bisik satpam itu dengan suara tercekat.

​Sikap kedua satpam itu berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata.

​Mereka membungkukkan badan dalam-dalam hingga sembilan puluh derajat.

​"M-maafkan kami, Tuan!" seru satpam itu dengan tubuh gemetar.

​"Kami tidak tahu kalau Tuan adalah orang kaya yang suka tampil sederhana!" tambahnya panik.

​"Silakan masuk, Tuan, selamat berbelanja!" seru satpam lainnya dengan nada penuh penghormatan.

​Anton hanya tersenyum sinis tanpa membalas ucapan mereka dan langsung masuk ke dalam mal.

​"Uang benar-benar bisa mengubah sikap orang dalam sekejap," batin Anton dengan pahit.

​Dia masuk ke sebuah toko pakaian pria ternama dari merek internasional.

​Seorang pelayan wanita langsung menyambutnya dengan sangat ramah setelah melihat gaya berjalan Anton yang begitu percaya diri.

​"Selamat datang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan sopan.

​"Pilihkan pakaian paling bagus, dari kemeja, celana, sampai sepatu," perintah Anton.

​"Ukuran saya sedang, dan ganti semua yang saya pakai sekarang," tambahnya.

​"Baik Pak, mohon tunggu sebentar!" jawab pelayan itu penuh semangat.

​Satu jam kemudian, Anton keluar dari ruang ganti pakaian.

​Kemeja hitam elegan menempel sempurna di tubuhnya yang atletis, dipadukan dengan celana kain berkulit halus dan sepatu kulit mewah.

​Rambutnya juga telah ditata rapi oleh penata gaya di dalam toko tersebut.

​Anton menatap dirinya di cermin besar.

​Pria lusuh dan kasihan semalam telah sepenuhnya menghilang dari pandangan.

​Kini yang berdiri di sana adalah seorang pria tampan, gagah, dan memancarkan aura ketampanan seorang miliarder muda.

​"Luar biasa Pak, Anda terlihat seperti seorang aktor ternama," puji pelayan toko itu jujur.

​"Berapa total semuanya?" tanya Anton sambil mengeluarkan kartu debit barunya.

​"Totalnya tiga puluh lima juta rupiah, Pak," jawab pelayan itu.

​"Gesek saja," ucap Anton tanpa mengedipkan mata sedikit pun.

​Setelah menyelesaikan pembayaran, Anton melangkah keluar dari mal dengan gaya yang sangat menawan.

​Banyak wanita muda yang berlalu-lalang menoleh ke arah Anton sambil berbisik-bisik kagum.

​Anton mengabaikan tatapan-tatapan itu dan langsung menyetop sebuah taksi di pinggir jalan.

​"Ke dealer mobil mewah terdekat," perintah Anton kepada sopir taksi.

​"Baik, Mas!" jawab sopir taksi meluncurkan kendaraannya.

​Tujuan Anton selanjutnya sudah sangat jelas.

​Dia ingat betul bagaimana Dimas dan Rina membanggakan mobil baru mereka semalam.

​Dia akan membeli mobil yang jauh lebih mahal dan jauh lebih mewah daripada milik Dimas.

​Beberapa menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah showroom dealer mobil sport impor ternama.

​Mobil-mobil mengkilap berharga miliaran rupiah terpajang rapi di balik kaca-kaca besar showroom tersebut.

​Anton melangkah masuk dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​Seorang sales pria berkemeja rapi langsung menghampirinya.

​"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu di dealer kami?" sapa sales tersebut dengan ramah.

​"Aku mencari mobil yang siap pakai hari ini juga," jawab Anton tegas.

​"Tentu saja Pak, mari saya tunjukkan koleksi terbaik kami," jawab sales itu mengarahkan Anton ke tengah ruangan.

​Mata Anton tertuju pada sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap dengan garis bodi yang sangat agresif.

​"Mobil ini menarik," ucap Anton sambil mendekati mobil tersebut.

​"Pilihan yang sangat luar biasa, Pak!" puji sales tersebut dengan mata berbinar.

​"Ini adalah Porsche 911 Carrera terbaru," jelaskannya.

​"Mesinnya sangat tangguh, dan interiornya menggunakan bahan kulit kualitas premium," tambah sales itu semangat.

​"Berapa harganya?" tanya Anton singkat.

​"Harga on the road untuk unit ini adalah tiga koma delapan miliar rupiah, Pak," jawab sales itu.

​Anton terdiam sejenak.

​Saldonya saat ini baru tujuh ratus jutaan, tentu saja belum cukup untuk membeli mobil seharga tiga miliar lebih ini secara tunai.

​"Apakah ada yang harganya di bawah delapan ratus juta tapi tetap terlihat sangat mewah dan sporty?" tanya Anton.

​Sales itu tidak berkecil hati sama sekali.

​"Tentu ada, Pak! Mari ikut saya ke area sebelah," ajak sales itu dengan ramah.

​Dia membawa Anton menuju sebuah mobil sedan sport mewah berwarna merah menyala.

​"Ini adalah BMW Seri 4 Coupé," tunjuk sales tersebut.

​"Tampilannya sangat sporty, bernuansa muda, dan harganya sekitar tujuh ratus dua puluh juta rupiah," jelas sales itu.

​Anton mengamati mobil sedan merah itu dari depan hingga belakang.

​Dia memfokuskan pikirannya dan mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1].

​Pandangan Anton menembus kap mesin dan bodi mobil merah tersebut.

​Dia memeriksa komponen mesin, kabel-kabel, hingga struktur dalam kendaraan tersebut untuk memastikan tidak ada cacat pabrik.

​Semua komponen mesin berada dalam kondisi seratus persen sempurna.

​"Mobil ini sangat bagus," batin Anton puas.

​Dia menatap sales di depannya dengan mantap.

​"Aku ambil mobil ini," ucap Anton tanpa ragu.

​"Baik Pak, mau diproses secara kredit atau cicilan?" tanya sales itu menyiapkan berkas.

​"Cash," jawab Anton tegas.

​"Saya akan bayar lunas sekarang juga."

​Sales tersebut terperanjat sampai pulpen di tangannya hampir terjatuh.

​"C-cash Pak? Langsung lunas hari ini?" tanya sales itu memastikan pendengarannya.

​"Iya, urus semua surat-suratnya sekarang, aku mau membawanya pulang hari ini juga," balas Anton santai.

​"Siap Pak! Segera saya proses sekarang juga!" seru sales itu dengan raut wajah sangat gembira.

​Sales itu bergegas mengurus seluruh dokumen kelengkapan mobil dengan kecepatan ekstra.

​Anton duduk di sofa empuk ruang tunggu sambil menikmati secangkir kopi mahal yang disajikan khusus untuknya.

​"Dimas, kamu pamer mobil lima ratus jutaan di depanku kemarin malam," batin Anton sambil tersenyum dingin.

​"Tunggu sampai aku melintas di depan matamu dengan mobil merah ini."

​"Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajahmu dan Rina nanti," bisik Anton pelan.

​Tiba-tiba, suara tawa yang sangat akrab dan sangat bising terdengar dari pintu masuk showroom dealer.

​"Sayang, aku mau beli mobil baru lagi untuk hadiah ulang tahunku bulan depan ya?" ucap suara seorang wanita dengan nada manja yang sangat dikenal Anton.

​Anton menoleh ke arah pintu masuk.

​Matanya menyempit tajam.

​Dua orang yang baru saja masuk ke dalam dealer mobil itu adalah Rina dan Dimas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!