Happy reading
Suara riuh dan sorakan para penonton yang di dominasi oleh gadis gadis di bangku penonton terdengar jelas sore itu, mereka lagi seru serunya nonton pertandingan basket yang para pemainnya di isi oleh para cogan SMA lentera putih dan yang makin buat menarik pertandingan sore itu lawan mereka ternyata cogan dari SMA lentera biru, itu kenapa tempat duduk penonton kebanyakan di isi oleh banyak siswi.
Sebenernya sekolah memberikan larangan untuk tidak beraktivitas setelah pulang sekolah kecuali itu hal penting dan memiliki keperluan, tapi masih banyak yang melanggar seperti saat ini.
Di saat para pemain basket tengah beristirahat sejenak sebelum melakukan pertandingan selanjutnya tiba tiba ada keributan yang datang dari pintu masuk lapangan basket, semua pandangan pun langsung tertuju ke arah di mana ada siswa yang sekarang berlari masuk dan di belakangnya ada dua siswi cantik mengejar.
" Minggu berhenti Lo! " Teriak siswi cantik berambut cokelat panjang, gadis itu membawa penggaris besi panjang di tangannya.
Semua tatapan langsung terfokus pada mereka tentunya, apalagi saat siswa bernama Minggu itu berlari ke dalam lapangan menghampiri para pemain basket yang tengah beristirahat.
siswi berambut cokelat itu berhenti di dekat para pemain yang sedang beristirahat itu dia atur nafasnya karna lelah juga mengejar satu pemuda super rese itu, gadis itu memperhatikan sekeliling lapangan basket indoor itu, beberapa siswi yang menonton langsung bergegas pergi melihat tatapan gadis itu.
Siapa yang tak takut jika mereka tahu kalau siswi yang ada di bawah itu anak dari guru BK SMA lentera putih.
kini siswi itu menunjuk pemuda bernama Minggu dengan penggarisnya " Lo ya! Udah yang keberapa kalinya sih gu " Ujar geram cewe itu, ini sudah teguran untuk yang kesekian kalinya, tapi si pemuda bernama Minggu itu tak ada kapoknya dan terus melanggar peraturan sekolah.
Minggu yang tengah bersembunyi mengintip di balik bahu salah satu pemain basket " Aduh Li sorry, masalahnya ini taruhan Li kalo kita kalah Lo mau nama tim basket lentera putih jadi jelek karna kalah " Ujar Minggu
Seluruh pemain basket kini bangkit termasuk tim lawan yang berasal dari SMA lentera biru.
" Udah bubar, Lo semua mau gue lapor kepala sekolah soal hari ini? " Ujar siswi itu.
Di sisi lain ada satu cowo yang tampangnya super songong lagi natap si cewe kesel, mereka lagi enak obrolin pertandingan selanjutnya tapi setelah cewe itu datang moodnya jadi hancur.
" Siapa tu cewe? " Tanya si cowo dengan wajah songong tadi, cowo dengan Jersey berwarna hitam dan biru itu bertanya pada pemain lain di sebelahnya.
cowo dengan Jersey putih hitam menolehkan wajahnya dan langsung jawab
" Liana anak guru BK "
Cewe yang di sebut Liana itu kini natap seluruh pemain basket yang terus natap ke arah dia " Udah deh bubar aja ga penting tau gak tanding kaya gini, kompetisi sekolah juga bukan " ujar Liana.
Cewe itu adelliana davienna, atau sering di sapa Liana, gadis cantik bak Barbie yang punya sikap bunglon, dia bisa baik dan kadang galak nan tegas seperti sekarang ini.
" Heh Lo gausah ribet deh tinggal tutup mulut apa susahnya sih! "
Liana langsung alihin padangan dia ke arah cowo yang baru saja angkat suara tadi, Mukanya super songong, so cool banget lagi.
Liana tiba tiba pengen nabok cowo itu rasanya.
" Kasar amat Lo jadi cowo, gue tabok juga Lo! " Serobot teman Liana 'Jihan' tak terima.
" Mulut Lo aja kasar Han " Balas Minggu.
Semua terkejut dan langsung natap ke arah cowo yang di tatap liana, pemuda bergigi kelinci itu berjalan mendekati Liana dengan wajah super songongnya.
" Bilang apa Lo barusan!? " Tanya Liana tak kalah songong, siswa dan siswi SMA lentera putih sudah tau bagaimana seorang Liana, Liana terkenal tegas dan galak jika menghadapi hal seperti itu, dia gak akan takut ini berkat ajaran ayahnya juga yang notabenenya guru BK di sekolah ini.
Liana maju selangkah mendekat ke arah cowo itu " Gue gak ada urusan sama lo! " Balas Liana ketus " Dan satu lagi, ini perintah dan kewajiban bukan kemauan gue " Dan juga mulutnya sedikit pedas.
" Anji- "
" Apa hah! Mau ngomong kasar Lo! " Potong Liana cepat, Liana berhasil buat cowo itu kesal, mata Liana beralih menatap Jersey yang di pakai pemuda itu " lentera biru, pantes,,,, " Liana menghentikan ucapannya sejenak.
Liana melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap cowo itu remeh
" Emang bener ya apa yang di bilang murid lain, cowo cowo lentera biru itu mulutnya jahat, ga punya hati! " Ujar Liana menekankan kalimat terakhir.
Liana berbalik cepat hingga tanpa sengaja kibasan rambutnya mengenai wajah tampan pemuda yang berdebat dengan Liana.
" Gue kasih waktu 5 menit kalau belum bubar gue laporin Lo Lo pada ke kepsek "
Ancam Liana, lalu setelah itu liana pergi, temen Liana alias Jihan yang ikut berlari mengejar bersama Liana tadi pun pergi.
Pemuda bergigi kelinci itu mengepalkan tangannya kesal, baru kali ini,,,, untuk pertama kalinya si cowo keras dan selalu menjaga baik imagenya di sekolah di perlakukan tak baik oleh seorang perempuan, gadis bernama Liana itu sudah merusak harga dirinya.
Joandra adhentha atau sering di sapa Joan, pemuda dengan julukan badboy itu merasa sudah di perlakukan tak baik hari itu.
Si penjunjung tinggi harga diri!
" Sialan tu cewe,,,, " umpatnya.
...----------------...
20:32
Malam ini Liana baru saja selesai membeli sesuatu di mini market yang jaraknya tak jauh juga tak dekat dengan rumahnya, ya daripada Liana bosan berada di rumah Liana memilih untuk keluar rumah membelikan sesuatu yang di pinta ayahnya itu.
Di saat Liana lagi santai santainya jalan on the way pulang kerumah tiba tiba langkah Liana terhenti waktu dia lihat ada seorang cowo dengan almamater berwarna biru berjalan kesakitan tak jauh di depannya depannya, tak lama setelah Liana merhatiin cowo itu dalam hitungan detik cowo lain datang, kini berjumlah tiga orang.
Melihat situasi saat itu Liana paham apa yang lagi terjadi, Liana lari ke arah si cowo yang keadaannya udah cukup parah.
Liana tarik tangan cowo itu kuat dan Liana simpen di pundaknya " Ayo lari buruan " seru Liana sembari terus tarik pria itu paksa, liana berusaha mastiin ketiga cowo yang lagi kejar si cowo yang lagi Liana tolong, mereka cukup jauh.
" Cari mati Lo, lelet buruan akh bego banget sih " Liana peluk pinggang cowo itu dengan tangan kirinya dan lari, masa bodo dengan keadaan si cowo mau kesakitan atau apa pun itu, yang penting sekarang mereka kabur, dua cowo di belakangnya ikut berlari setelah mendengar teriakan dari salah satu tiga pria di belakang mereka.
" Berhenti Lo! "
Liana sekuat tenaga memapah si cowo, Genggaman tangan Liana di pinggang cowo itu mencengkeram kuat sampe si cowo meringis kesakitan, ya mau gimana lagi niat Liana cuma satu, bantu cowo malang yang lagi dalam masalah.
Liana kepikiran aja, kan ngeri kalau besok tiba tiba ada berita yang mengerikan terjadi di sekitar rumahnya.
Liana akhirnya berhasil menolong si cowo malang itu, Liana mastiin kalau mereka berdua sampai di depan rumah Liana , Liana pun lepasin genggaman tangan dia dari pinggang si cowo dan memeriksa siapa cowo yang baru saja dia tolong itu.
" Heh Lo baik -,,,,, " Liana berhenti lanjutin ucapannya mendadak bisu sewaktu dia lihat si cowo itu menyisihkan rambutnya kebelakang dan Liana melihat dengan jelas wajah cowo yang terlihat luka luka lecet di wajahnya
Liana menutup mulutnya " anjir ternyata LO!! " Liana membelalak kaget waktu tau siapa cowo yang baru saja dia tolong sekarang .
Liana menjauhkan diri " Kalau tau Lo gue biarin aja deh sumpah " Ujar Aluna nada bicara Aluna ketus sekali.
Cowo itu berdecak kesal dan lepasin almamater yang dia pakai lalu menyimpan almamaternya di samping kanannya " gue ga minta Lo tolong gue " balasnya.
Liana mendelik heran " Gak tau berterimakasih banget Lo! Eh kalo Lo gak gue ajak lari Lo udah abis tadi! Udah bagus gue tolong " Seru Liana kesal.
Ya dia joandra, alias Joan yang berdebat dengan Liana sore tadi.
Joan tak menjawab, Joan lempar jas almamater nya ke bawah aspal lalu duduk di sana, memeriksa tangannya yang ada sedikit luka lebam, dan menahan rasa sakit di area pipi dan sudut bibirnya.
Liana yang berdiri di samping joan tiba tiba tak tega melihatnya, luka yang ada di badan Joan cukup banyak, apalagi darah yang ada di bagian ujung bibirnya.
Liana mendengus, menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu baik dan selalu tak tega melihat orang lain terluka.
" ga cocok jadi orang jahat gue " Gumam Liana.
Liana mendorong punggung joan pelan supaya Joan natap Liana dan Joan kebingungan sewaktu Liana tarik paksa tangan kirinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Joan bangkit dan tarik balik tangan miliknya yang di tarik Liana tadi " Apaan sih, ngapain tarik tangan gue " Ujar Joan tak santai.
Liana merotasikan matanya kesal, jika bukan karna joan sedang terluka Liana tak akan bersikap baik saat itu.
" Gausah banyak omong, ikut gue Kalau ngga gue teriak kalo Lo mau culik gue "
" Heh sembarangan lo- "
Liana melotot, natap Joan kesal
" Cepetan! "
...ADELLIANA DAVIENA...
...JOANDRA ADHENTHA...
...TO BE CONTINUED...
moga suka yaaa kalian🖤
Kalau ada typo atau kata yang kurang di mengerti tolong di tandain ya biar bisa langsung di revisi
Luvyalll-
Nana-
Joan lagi lagi berdecak, mau tak mau Joan berdiri dan ikutin tarikan tangan Liana yang bawa dia menuju teras rumah Liana.
" Duduk di sini, jangan kemana mana! "
" Ck, iya bawel Lo! " Ketus Joan lalu duduk di kursi besi dekat jendela.
Sedangkan Liana masuk kedalam rumah, Joan nunggu sekitar 2 menit hingga akhirnya Liana kembali dengan satu kotak putih yang di bawa Liana
Liana berjalan ke arah bangku yang ada di sebelah Joan lalu duduk di sana, Liana buka kotak putih dan keluarin alat, satu botol cairan dan plester dari kotak itu.
Liana menuangkan cairan putih pada tutup botolnya lalu mencelupkan kapasnya kesana, Liana mendongak menatap wajah Joan " Sini "
" Ngobatin luka gue? Gausah gue balik- "
" Obatin atau gak gue cari mereka buat gebukin Lo lagi! Pilih mana? " Ancam Liana, matanya membulat seperti ingin menunjukkan bahwa dirinya serius.
Joan menghela nafasnya, menolehkan wajahnya ke arah Liana " Cepet, gue mau balik "
Liana natap datar Joan " Sabar, mau gue colokin nih pinset ke mata Lo hah " ujar Liana lalu mulai mengobati luka di wajah Joan.
" Ck ck, Lo jadi cewe gak ada kalem kalemnya, kasian gue sama cowo cowo yang suka sama Lo " Ujar Joan, memperhatikan gerak gerik tangan Liana yang lagi sibuk obatin wajahnya " Anggun dikit gak bisa ya Lo?"
Liana menekankan kapasnya pada luka di wajah Joan sampai Joan meringis kesakitan.
" Akhh sakit Lo- hahhhh ikhlas gak sih Lo ngobatin gue! " Bentak Joan kesal.
Liana ambil kapas baru dan celupin kapasnya ke cairan tadi, Joan memperhatikan apa yang Liana lakukan, Joan tunggu apa tanggapan atau jawaban Liana.
Liana memegang dagu Joan dan menolehkan wajah Joan ke arah kiri, Liana lanjut mengoleskan kapasnya
" Denger, Hidup itu harus apa adanya,,,
gue bisanya jalanin hidup kaya gini ya tetep ga akan bisa merubah apapun, simplenya gausah maksain buat keliatan perpect di mata orang di saat kenyataannya itu gak cocok buat kita, hidup karna terpaksa itu ga enak " ujar Liana, Liana selesai obatin lukanya.
Joan terdiam mendengar jawaban Lisya, jawaban yang jarang dirinya dengar dari seorang perempuan yang pernah dia temui.
Liana memasangkan plasternya pada salah satu luka di wajah Joan " Ya memang nyatanya cowo cowo lebih suka cewe yang anggun kalem dan ya cantik pastinya, tapi apa kita harus maksain hal itu kalau justru kita gak bisa ada di salah satunya "
" Cowo jaman sekarang nyarinya pasti yang speknya kaya Lisa blackpink, Ariel tatum dan lain lain, cowo gak pernah puas kalo belum Nemu yang sempurna, walaupun gue tau gak semua cowo kaya gitu tapi yang kaya gitu pasti cowo " Liana rasanya ingin mengeluarkan apa yang jadi unek-uneknya selama ini juga para perempuan di luar sana mungkin, terutama dirinya paling membenci kata insecure walaupun kadang dirinya pun selalu merasa begitu.
" Lo pikir cewe gak gitu? " Tanya Joan tak terima, terutama dirinya adalah seorang laki laki, tentu Joan tak mau di cap jelek sebagai lelaki.
Liana mengangkat kotak putih itu lalu menyimpannya di bawah meja " Itu gue, soal cewe itu kan pandangan Lo dan cowo cowo, gimana masa lalu Lo, apa aja dan kaya apa waktu Lo ketemu cewe, banyak kan cewe lo? Ya Lo nilai sendiri aja " Ujar Liana sedikit menyindir.
" Sok tau Lo, Lo ga kenal gue, baru aja Lo bilang kalau gak semua cowo kaya gitu tapi kenapa Lo seakan samain gue sama yang brengsek "
Liana natap Joan, tatapannya seakan tak percaya jika Joan bukan seorang player atau playboy, yang dirinya tau Joan itu banyak di kelilingi perempuan buktinya saat di lapangan basket sore tadi.
" Oh ya, harus ya gue percaya sama Lo? " Ujar Liana mengejek, liana niatnya hanya bercanda namun respon Joan natap kearahnya se datar aspal di depan rumah dia " Bercanda,,,, "
Liana bersandar natap langit malam yang cukup terang karna bulannya hampir penuh malam itu " Telpon salah satu temen Lo gih, biar Lo balik aman "
" Udah barusan waktu Lo masuk, bentar lagi nyampe "
Liana ber oh ria, entah apa yang Liana pikirkan tiba tiba Liana penasaran gak tau apa alasannya tapi rasanya Liana pengen banget tanya beberapa hal, tapi waktu Liana lihat sikap Joan yang cukup dingin membuat Liana takut.
Namun penasaran tetap penasaran Liana tak mau jika nantinya harus bertanya pada Jihan soal Joan, bisa bisa Jihan beropini yang ngga ngga kaya berpikir Kalau Liana suka sama si cowo dingin Joandra karna tanya soal bagaimana joan di luar sekolah.
" Lo,,, suka berantem ya? " Liana memejamkan matanya, menyesal karena langsung menanyakan point utamanya.
Joan menoleh mengangkat kedua alisnya, Liana ini dukun atau apa pikir Joan, padahal kenal aja mereka engga tapi kenapa cewe di depannya itu tau " Penasaran banget ya Lo Soal gue? "
" Yaudah sih kalau gak mau jawab, jangan kepedean lo "
Joan memasukkan tangannya kedalam saku celana dan sandaran di bangku tempat dia duduk " Di bilang suka berantem gak juga, lingkungan gue itu tempatnya balap liar Lo pastinya tau lingkungan kaya apa di sana, banyak temen juga banyak musuh, di saat gue menang pasti ada salah satu orang yang gak terima dan berujung kaya tadi " Joan menolehkan wajahnya, melihat bagaimana reaksi Liana mendengar ceritanya.
" Dih gak banget, masa tiga lawan satu ya pasti kalah, terus Lo bisa kabur gimana caranya? " Balas Liana.
" Ya kabur tinggal kabur bodoh, lagian dunia malam memang gak jarang dan gak sedikit yang kaya gitu, berantem, minum minum Dan banyak lagi " Jawab Joan, melihat tatapan Liana membuat Joan mengerti apa yang sedang ada di pikiran Liana saat itu
" Iya gue tau itu salah, tapi susah buat ngerubah kebiasaan itu "
Liana angguk anggukin kepalanya mengerti, pantas aja Joan bisa berakhir kaya tadi.
Tiba tiba Joan berdeham buat Liana kembali natap kearah Joan " Btw,,, gue belum tau nama Lo, siapa nama Lo " Ujar Joan pelan.
Liana mengerutkan keningnya gak paham lebih tepatnya dia gak denger " Hah? Ngomong apa Lo gak kedengaran? "
Tanya Liana, Liana Sampai meninggikan nada suaranya.
" Nama Lo,,, " Ujar joan lagi, kali ini terdengar jelas oleh Liana.
" Adelliana, panggil Liana " Jawab Liana, Liana pun bertanya " Lo? "
" Joandra, Joan,,,, panggilan gue "
Malam itu pertama kalinya mereka berkenalan, sebuah kejadian yang di alami Joan dan Liana yang membantu Joan juga mengobati luka Joan, membuat keduanya sedikit lebih dekat malam itu.
Jika di pikir pikir pertemuan mereka pertama kali cukup tak baik, tapi pertemuan kedua kalinya berbeda.
...----------------...
Keesokkan harinya
Liana kipas kipas wajahnya yang terasa gerah akibat teriknya matahari siang ini, Liana sekarang lagi jalan keluar gerbang sekolah bareng Jihan sahabatnya, mereka dapat perintah dari ayah Liana untuk beli peluit yang di butuhkan guru olahraga, tempat toko fotocopy di luar sekolah yang jaraknya terbilang dekat yang jadi tujuan mereka.
Sewaktu mereka hampir sampai di toko fotocopy Liana melihat ada Jeffran di sana, cowo tampan berdimple yang sudah Liana suka sejak kelas dua, pemuda tampan, pintar dan punya attitude yang bagus, siapa yang tak menyukai sosok cowo yang amat sangat tampan itu.
Jihan menyenggol tangan Liana menyadarkan Liana yang terus menatap ke arah Jeffran si siswa tampan itu " udah Li, percuma Lo liatin dia ga akan sadar kalo Lo ga ngomong langsung "
Liana mencibir kesal " Ish rese Lo, ganggu aja gue lagi liat yang indah indah " Balas Liana kesal, mereka pun lanjut jalan.
" Indah indah mata Lo! " Cibir Jihan, Jihan kaitin tangannya ke tangan Liana " kalo dia udah suka sama cewe lain gimana hayo Lo Li, udah deh Lo berhenti aja suka sama dia dari pada nanti sakit hati, gue gak mau liat Lo yang lembut nan galak gini jadi sad girl " bisik jihan.
" Ish Lo! ya jangan lah, doain gue berjodoh sama dia gimana sih Lo jadi temen " Balas Liana mendadak geram, Jihan kalo ngomong atau bahas soal Jeffran selalu kaya gitu.
" Gue sih dukungannya Lo sama yang lain, doa gue yang terbaik pastinya kalo buat sahabat gue tecigtah "
" Dih, Siapa sih siapa hah? yang lain yang lain siapa? "
" Hmm, gue doain Lo berjodoh sama,,,, " ucapan Jihan terhenti, begitupun langkah kakinya.
Liana ikut menghentikan langkahnya, dirinya bingung tentunya, apalagi lihat arah mata Jihan menatap ke arah lain " Napa berhenti? " Tanya Liana, Liana melihat jari telunjuk Jihan menunjuk ke arah depan yang tepatnya di depan Liana.
Liana pun menoleh penasaran apa yang sebenarnya di tunjuk oleh Jihan " cowo,, "
Sewaktu Liana lihat siapa ternyata Itu Joan, cowo datar itu berdiri dengan tangan yang terulur pada Liana, joan tiba tiba menyodorkan box berukuran kecil yang dia pegang, Liana yang bingung natap tangan Joan dan wajah Joan bergantian
" Buat Lo " Ujar Joan.
" Hah? " Bingung Liana, Liana belum paham apa Yang lagi terjadi sekarang, otaknya loading terlalu lama " gue gak lagi ultah " kata Liana kaya orang bego.
Liana kaget waktu tangan Joan narik tangannya dan simpen box kecil itu di tangan Liana.
" Thanks buat semalem, ini balesanya " Jawab Joan tak bertele tele, lalu Joan memasukkan tangannya ke saku Hoodie, dan pergi tanpa berpamitan.
Jihan di samping Liana langsung menatap Liana dengan senyuman curiga, Jihan sampai nujukin wajah super ngeselin buat goda Liana " Apanih, ekhm, si cowo lentera biru baru aja kemaren debat kaya musuh bebuyutan lah sekarang,,, ada something ya Lo berdua " goda Jihan sambil colek colek tangan Liana.
" Dih ngga jangan ambil kesimpulan deh, nanti gue cerita di kelas " Balas Liana, terus dia lanjut jalan tinggalin Jihan menuju tempat fotocopy.
Jihan pun segera menyusuli Liana, Langkah Liana cukup cepat hingga tak terasa sudah sampai di tempat fotocopy nya, mata Jihan mendelik sewaktu dia liat si cowo bernama Jeffran itu sekarang jalan ke arah Liana.
" Eh Li, ngapain? fotocopy? "
Liana noleh sewaktu ada cowo yang ajak dia bicara, seseorang yang bertanya padanya adalah Jeffran, Liana saat ini kelewat senang waktu tau cowo itu adalah cowo yang begitu Liana sukai menyapa dan bertanya padanya, hal sesimpel itu saja sudah membuat Liana bertambah suka pada sosok bernama Jeffran itu.
Liana tak menyangka saja Jeffran bertanya padanya lebih dulu, sebelumnya selalu Liana yang memulai obrolan.
" Jeffran, ngga,,,ini di suruh ayah gue beli peluit buat guru olahraga,, rusak katanya " Jawab Liana, senyuman manis Liana berikan.
" oh gitu kirain " ujar Jeffran, Jeffran pun magambil tumpukan kertas yang sudah selesai di fotocopy " Gue udah selesai, duluan Li, Han "
Liana mengangguk, matanya terus mengikuti Jeffran yang berjalan menuju gedung sekolah.
Jihan mendorong tangan Liana " Heh, Seseneng itu Lo Li? Anjir cuma, eh Li, ngapain fotocopy?, oh gitu kirain, yaudah ya gue duluan, cuma itu Li cuma ITU asem banget anjir " Cerocos Jihan geram lihat tatapan Liana yang terkagum kagum lihat si cowo bernama Jeffran itu.
Liana menyenggol bahu Jihan " Ish ngerusak aja Lo, Lo aja dulu sama Darrel kaya gitu ya! "
" Oh sorry Darrel itu beda, cowo royal perhatian gue, bukan kek dia iya sih dia kaya tapi suka tebar pesona, ramah sana sini bikin anak orang berharap yang ternyata ujung ujungnya cuma harapan palsu "
Jleb, ucapan Jihan langsung menghantam hati Liana, pedas tapi apa yang di ucapkan Jihan memang benar adanya, namun Liana tak pernah sadar akan hal itu.
...TO BE CONTINUED ...
Mohon di tandai yaa kalo ada yang perlu di revisi
Liana berjalan sembari menghentak hentakan kakinya kesal, lagi lagi dirinya harus pulang berjalan kaki menuju rumahnya hanya karna ayahnya harus rapat terlebih dahulu.
Rumah Liana memang dekat dari sekolah, hanya melewati 9 rumah, 2 gedung dan 1 taman.
Tapi tetap aaja Liana lelah masa harus berakhir jalan kaki selesai sekolah, di tambah ponselnya lowbat hanya tersisa 5 persen, Liana sengaja tak memainkannya untuk berjaga jaga jika ada telpon penting.
Liana iseng iseng lirik ke kanan dan kiri supaya perjalanan pulangnya gak begitu membosankan.
Sewaktu Liana lewatin sebuah gang besar yang biasanya sepi kini terlihat ada kumpulan siswa dengan seragam yang berbeda dari sekolahnya, dan itu,,,
" Joan,,, "
Beberapa saat Liana mengucapkan nama Joan Liana terkejut bukan main sewaktu lihat salah satu siswa yang tak di kenal melayangkan pukulan pada Joan, dan setelah itu terjadilah perkelahian.
" Kenapa kalau dia lagi gini selalu ada gue sih ah, tolong jangan ya,,, "
Liana pun memilih untuk mendekat dan sembunyi di balik pohon terlebih dahulu, Liana menutup mulutnya terkejut meringis tak tega saat melihat perkelahian itu, Liana takut karna perkelahian itu bisa memakan korban.
Jahat banget.
Tiba tiba otak Liana muncul sebuah ide, Liana pun mengeluarkan ponselnya dan mencari suara sirine polisi untuk membuat 2 siswa yang tak di kenal itu panik dan pergi.
Saat suara sirine itu terdengar kedua siswa itu tak panik yang Liana lihat justru kedua siswa yang menghajar joan mencari keberadaan suaranya, Liana mendesah kecewa, salah satu dari mereka juga tau keberadaan Liana dan tentu Liana kaget dan cepat cepat kembali bersembunyi.
Liana simpan ponselnya di saku almamaternya " Ah, gimana dong " Gumam Liana.
" Woi keluar Lo! "
Liana tersentak mendengar suara bentakan Dari salah satu cowo jahat itu, Liana refleks ambil kayu panjang yang ada di dekat pohon itu, Liana natap kayu yang dia pegang sesaat " Anjir bodo amat "
Liana keluar dari persembunyiannya dan...
" AAAAAAAA AWAS LO! " Liana berlari membabi buta sembari mengangkat kayunya tinggi tinggi " Awas Lo sialan!! Pergi Lo pergi gak! " Teriak Liana sembari menodongkan kayunya mengancam memukul kedua lelaki itu.
" AYO SINI GUA TIMPUK PALA LO! MAU HAH!!! " Ancam Liana menipu akan memukulkan kayunya pada mereka.
" Gausah ikut campur deh ini urusan cowo, Lo mending ikut kita nanti ya gausah tolong dia " ujar salah satu lelaki berambut hitam pekat.
" Berisik Lo, pergi gak!! " Bentak Liana, buat Liana semakin menodongkan kayunya, masalahnya dia juga takut takut berani.
" Galak bener cantik cantik "
Tiba tiba tangannya di Genggam kuat Liana lihat Joan menggenggam pergelangan tangan dia, Joan pun dengan cepat menarik Liana dan berlari tanpa kasih sinyal atau aba aba buat Liana, kayu yang di pegang Liana terhempas dan mendarat tepat di kaki salah satu cowo tadi.
Joan terus menarik Liana berusaha melarikan diri, Liana melihat sekilas ke arah belakangnya untuk memastikan dan benar saja mereka masih mengejar.
Joan berbelok ke arah ruko Yang masih tertutup, Liana memperhatikan Joan yang sekarang naik ke atas motornya dan menyalakan mesin motornya.
" Cepet naik Li! " Sentak Joan, tanpa pikir lama Liana naik ke atas motor.
Lagi lagi Joan menancapkan gasnya tanpa aba aba sampai Liana hampir terjungkal dan berakhir memeluk badan Joan, Liana gak peduli sama apa yang dirinya lakukan sekarang, masa bodo soal pelukannya, Liana masih kebingungan setelah melarikan diri tadi.
Laju motornya begitu cepat, Joan sekarang kaya gak takut mati selama melarikan diri dengan motornya itu, sampai Liana tak bisa berpikir lain lain lagi selain memeluk erat badan Joan.
Joan menghentikan motornya, Liana segera melepaskan pelukannya dan turun, dirinya belum sadar ada dimana, demi apapun Liana merasa tak karuan otaknya mendadak error.
Joan turun dia buka helmnya sarkas, sewaktu Liana melihat joan mendekatinya Liana merasa Joan ingin sekali menerkam dan memakan Liana hidup hidup.
Liana tersentak kaget sewaktu Joan memegang kuat kedua bahunya sampai tubuh Liana bergoyang " Lo tau gak sih kalo itu bahaya! "
" Kenapa Lo muncul! Gue bahkan gak peduli gue selamat apa ngga, Kalo Lo yang kena gimana hah! "
" Mereka cowo sedangkan Lo cewe, mikir dong Lo, itu bahaya ngerti gak! " Ujar Joan bertubi tubi.
Liana cuma bisa membeku natap Joan, melihat joan semarah itu buat Liana terkejut bukan main " T-tapi Jo,, "
Joan menundukkan kepalanya, menghela nafasnya kasar " maaf,,, gue kelewatan " ujarnya lalu dia lepas cengkraman kedua tangannya dari bahu Liana.
Liana kebingungan saat Joan tiba tiba genggam tangannya dan bawa Liana masuk kedalam rumah tempat mereka berhenti, Liana cuma bisa mengikuti dari pada kena marah lagi, ingin protes tapi Liana kepalang takut apalagi setelah kejadian joan marah tadi.
Sesampainya di dalam rumah liana memperhatikan area dalam rumahnya, suasananya begitu sepi dan sama sekali tak melihat seorang pun yang lakuin aktivitas di dalam sana, Liana sedikit tak percaya melihat rumah sebesar itu namun dalamnya begitu sepi dan sunyi.
" Yolaaa! Ambil kotak p3k! " Teriak Joan seraya membawa Liana menuju ruang tengah, dan juga Joan yang belum lepasin genggaman tangannya, bahkan Liana masih terlihat nyaman nyaman saja tangannya ada di genggaman Joan.
Berselang beberapa detik seorang gadis muda datang, berjalan menghampiri mereka berdua.
" Kenapa kak? " Tanyanya, Yolla namanya, Yolla tersenyum ke arah Liana dan kasih lambaian tangan, Liana balas dengan lambaian tangan juga dan dia pun gak lupa untuk tersenyum ramah.
" P3k dimana, bawa sini " pinta Joan lalu duduk dan akhirnya genggaman itu terlepas.
Yolla adik Joan mengangguk lalu berjalan mencari apa yang di pinta Joan tadi.
Liana pun akhirnya memberanikan diri bersuara " p3k? Lo luka lagi? " Tanya Liana.
Joan menoleh menatap Liana sejenak sebelumnya akhirnya menarik tangan Liana lalu menunjukkan luka lecet di telapak tangan milik Liana.
Liana sendiri tak tahu dan baru sadar sewaktu Joan tujukin kalau di telapak tangannya ada luka lecet.
Tak lama Yolla kembali dan ikut duduk di sana, kotak p3knya Yolla simpan di atas meja " nih " Ujarnya, dan Yolla berdiri lagi.
Joan maupun Liana natap Yola bingung.
Yolla tiba tiba menepuk jidatnya, semakin buat Joan sama Liana yang memang memperhatikan yolla tambah bingung " Lupa bikin minum hehe " Kata Yolla dan pergi menuju dapur untuk membuat minuman.
Joan menggelengkan kepalanya heran, Dasar adiknya itu Joan kira apa.
lalu Joan pun lanjut buat cari plaster di dalam kotaknya, setelah menemukannya Joan memasangkan plasternya di telapak tangan Liana.
" Lain kali kalau ada dan Liat kejadian kaya gitu gausah Lo deketin, jangan berusaha tolong orang kalau hal itu juga bahaya buat diri Lo sendiri " Ujar Joan selesai memasangkan plasternya.
Liana menatap plaster di tangannya sejenak lalu melirik ke arah Joan Yang kesulitan memasang plaster di bahunya sendiri, Liana yang lihat keadaan Joan yang lagi kesulitan itu pun langsung mengambil alih plasternya dan bantu Joan.
" Gue reflek aja waktu liat itu Lo, ya seegaknya Lo bisa selamat hari ini dari pada Lo besok sekolah muka Lo babak belur " Ujar Liana, Liana selesai memasangkan plaster itu di bahu Joan lalu mengambil bungkus bekas plasternya.
" Intinya ga ada lain kali, gue gak akan tanggung jawab kalo itu terjadi lagi, Lo seharusnya mikir kalau di saat Lo tolong seseorang dan dia selamat sedangkan Lo ngga,,, apa dia bakal hidup tenang? Yang ada merasa bersalah karena buat Lo masuk kedalam masalah seseorang yang buat masalah itu "
" Iya dih, gatau berterima kasih banget " Liana bersandar kesal, lagi lagi kebaikannya di anggap seperti itu, lakuin hal itu pun agar tak ada kasus menyeramkan terjadi di dekat sekolahnya, dan juga Liana mengenal Joan bagaimana pun keadaan tadi darurat dan bahaya.
Liana juga tak mau kepikiran jika melihat hal seperti beberapa saat lalu terjadi tapi Liana hanya melihat dan pergi, sama saja Liana tak punya hati.
" Lagian kita gak begitu akrab dan hubungan Lo sama gue juga gak baik, kenapa Lo justru niat banget tolong gue " Liana hendak menjawab, tapi Joan lebih dulu melanjutkan ucapannya.
" Buat sementara waktu Lo harus ada di Deket gue, mereka pasti lagi incer Lo " Joan menolehkan kepalanya, menatap Liana yang tengah bersandar dengan raut wajah kebingungan.
Liana kembali menegakan tubuhnya
" Kenapa incer gue?, seharusnya mereka takut dong bisa aja mereka mikir gue lapor mereka kan? "
" Intinya ada- "
" Iya apa!? "
" Karna Lo cewe, gue ga akan diem aja kalau itu cewe, terlebih lagi lo cantik mereka pasti bakal cari dan jadiin Lo mainan mereka " Jawab Joan.
" Katanya gue gak ada kalemnya gak anggun, gak akan ada yang tertarik sama gue kenapa sekarang Lo bilang gue cantik, gengsi lagi pas sebut kalo gue cantik " Celoteh Liana tak mengerti mengapa Joan seperti itu, hari kemarin begini sekarang begitu.
" Bawel, mana no hp Lo biar gue save kalo ada apa apa dan ketemu mereka lagi telpon gue, jangan gegabah! " Ujar Joan lalu memberikan ponsel miliknya pada Liana.
Liana pun menurut dan segera meraih ponselnya untuk menyimpan nomor miliknya di kontak Joan, lalu memberikan ponselnya kembali pada Joan.
" Lo tunggu di sini nanti Yolla temenin Lo, gue ganti dulu abis itu gue anter Lo pulang " tanpa menunggu balasan Liana Joan pergi begitu saja meninggalkan Liana di ruang tengah.
Seperti apa yang Joan bilang, Yolla, Adik Joan kini menemani Liana di ruang tengah setelah beberapa saat Joan pergi.
" Yollanda, panggil aja Yolla kak " Yolla mengulurkan tangannya pada Liana saat hendak duduk di samping Liana.
Liana tersenyum sembari membalas uluran tangan Yolla " Liana, btw kelas berapa? "
Yola mengangkat kedua kakinya lalu duduk bersila di atas sofa " 10 kak " Jawab Yolla
Yolla mendekati Liana, matanya melirik ke arah kamar Joan yang terletak di lantai atas memastikan jika kakaknya belum keluar
" Oh iya ka Liana,,,, pacar ka Joan ya? "
...TO BE CONTINUED ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!