Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Misterius Sang Jenderal

Bab 1

Di balik tirai kamar di bagian paling belakang kediaman megah keluarga Volans, seorang wanita berambut ungu berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Namanya Arina Volans, putri sulung keluarga itu.

Sejak kecil, Arina telah dikucilkan oleh semua orang di rumah ini. Mereka menjauhinya, menganggapnya tidak pernah ada.

Bagi mereka, Arina hanyalah sampah yang tak memiliki arti. Kebencian itu bahkan membuat mereka berkali-kali mencoba menghabisi nyawanya.

Namun, mana mungkin mereka berhasil?

Arina adalah pedang tajam yang sengaja dibiarkan terkubur dan berkarat demi menyembunyikan rahasia masa lalu.

Sayangnya, mereka lupa bahwa suatu hari nanti pedang itu akan kembali muncul ke permukaan... dan menebas mereka tanpa ampun.

"Arina! Cepat siapkan makan malam! Putra Wali Kota Varendel akan datang malam ini untuk melamar adikmu!"

Suara keras yang arogan dan penuh perintah menggema dari balik pintu. Itu adalah Teresa Palmer, ibu tiri Arina. Dahulu ia hanyalah seorang budak yang dipungut ayahnya, tetapi kini bertindak seolah-olah dirinya adalah nyonya rumah.

"Lakukan saja sendiri," jawab Arina datar.

Ia tahu Teresa akan marah. Namun, ia juga tahu wanita itu tidak akan mampu berbuat apa-apa.

"Itu perintah ayahmu!"

"Kalau begitu suruh dia datang sendiri. Biarkan dia yang mengatakannya langsung kepadaku."

Suara tenang Arina menembus pintu hingga terdengar jelas di telinga Teresa.

Wanita itu mengepalkan tangan. Wajahnya memerah menahan amarah.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang menjauh terdengar di lorong. Teresa akhirnya pergi.

Arina duduk di dekat jendela sampai malam hari, ia bahkan tidak menghadiri makan malam. Biasanya begitu, ia selalu makan sendirian di kamarnya.

Arina merobek sedikit bagian dada gaunnya, memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna ungu. Cahaya samar memancar dari sana, seolah sepotong alam semesta tertanam di balik kulitnya.

"Sudah lama sekali... kenapa Ibu belum kembali?" gumamnya pelan.

Pikirannya kembali pada saat ia baru berusia empat tahun.

Malam itu, Lunar Mallorca membangunkannya di tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

"Ibu harus pergi. Saat kau dewasa nanti, Ibu akan menjemputmu."

Itulah perpisahan paling dingin yang pernah diterima Arina.

Tak ada senyum.

Tak ada pelukan.

Hanya suara datar yang terus teringat hingga kini.

Setelah itu, Lunar melompat keluar melalui jendela, berjalan menuju hutan, lalu menghilang ditelan kegelapan malam.

Dan...

Ia tidak pernah kembali. Semua orang seolah melupakannya. Tidak... mereka bukan lupa. Mereka hanya berpura-pura lupa.

Arina tahu, diam-diam para tetua keluarga masih sering membicarakan ibunya.

Ia pernah mendengar bisikan mereka, menyebut sebuah negeri yang sangat jauh, megah, dan agung.

Lunar telah kembali ke sana. Karena sejak awal, wanita itu memang berasal dari negeri tersebut.

"Kalau memang begitu... kenapa Ibu datang ke sini? Dan kenapa meninggalkan aku dan Ayah?" Tatapan mata biru kehijauan Arina, sebening langit setelah hujan, menatap bulan sabit di langit malam tanpa berkedip.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk tiga kali.

Arina langsung tahu siapa tamunya. Hanya Stella yang selalu mengetuk pintu sebelum masuk.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Seorang gadis berusia sembilan belas tahun melangkah masuk dengan anggun. Kulit Stella putih kemerahan, rambutnya hitam panjang, dan mata cokelatnya memancarkan kelembutan.

"Kak Arina."

"Ya." Arina mengangguk pelan.

Ia dan Stella sangat berbeda. Stella adalah pusat perhatian keluarga. Semua orang menyayanginya.

Sedangkan Arina adalah seseorang yang bahkan tak ingin didekati siapa pun.

"Aku akan menikah dengan Arcturus bulan depan," ucap Stella lirih.

"Kudengar dia putra Wali Kota Varendel. Tampan, terpandang, dan memiliki masa depan cerah. Apa yang membuatmu tidak senang?" tanya Arina.

"Aku mencintai Orion."

Arina sedikit terkejut. Nama itu bukan sesuatu yang boleh diucapkan sembarangan.

"Kau tahu siapa dia?" bisik Arina pelan. "Jangan sembarangan menyebut namanya. Dinding bisa mendengar. Jika sampai terdengar oleh orang yang salah, tak seorang pun akan mampu melindungimu."

Stella tersenyum tipis.

"Kami saling mencintai."

Ia menatap kakaknya penuh harap.

"Tidak bisakah kau menggantikanku menikah dengan Arcturus?"

"Kau ingin mengirimku ke ranjang kematian?" Arina menggeleng pelan. "Tak seorang pun bisa menentang keputusan Ayah."

"Tapi kau bisa."

"Aku tidak bisa."

Stella menundukkan kepala.

"Baiklah. Maaf sudah mengganggu malam kakak."

Ia berbalik dan meninggalkan kamar.

Arina memandangi punggung Stella hingga pintu tertutup rapat. Hubungan mereka tidak pernah dipenuhi kasih sayang. Namun, mereka juga tidak pernah saling membenci.

Mereka hanyalah dua saudari yang terikat oleh darah ayah yang sama, tetapi lahir dari ibu yang berbeda.

Setelah kamar kembali sunyi, Arina menutup tirai jendela lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

Ia mencoba memejamkan mata.

Namun, wajah seorang pria justru muncul di benaknya. Arina meletakkan telapak tangan di atas dadanya. Ia hanya pernah melihat pria itu beberapa kali, bahkan belum pernah berbicara dengannya.

Akan tetapi, entah mengapa wajah itu masih tersimpan jelas di dalam ingatannya.

...***...

...Like, komen dan vote....

Bab 2

Kamar Arina terletak di bagian paling belakang kediaman keluarga Volans. Pagi itu, Julius melangkah menyusuri lorong panjang hingga tiba di depan pintu kamar putri sulungnya itu.

Pencahayaan di dalam kamar selalu redup. Begitu pintu terbuka, aroma lavender yang lembut langsung menyambutnya.

Julius memandang sekeliling ruangan dengan tatapan rumit. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki ke kamar ini.

"Ayah?"

Arina yang baru keluar dari kamar mandi tampak sedikit terkejut melihat kedatangan ayahnya. Ia segera menghampiri Julius.

"Silakan duduk, Ayah."

Julius mengangguk. Keduanya duduk berhadapan di dekat jendela.

"Kemarin malam Arcturus sudah datang. Namun nanti siang, Arcturus akan datang untuk melamar Stella secara resmi."

Arina sudah mengetahui kabar itu dari Stella. Namun, ia tidak mengerti mengapa ayahnya sengaja datang hanya untuk menyampaikan hal tersebut. Apa hubungannya dengan dirinya?

Julius menghembuskan napas panjang, seolah beban berat menekan kedua pundaknya.

"Lalu..." katanya pelan, "Ayah juga sudah mengajukan lamaran kepada Orion. Ayah memintanya menjadi suamimu."

Ia menatap Arina sesaat sebelum melanjutkan. "Ayah harap kau bersedia."

Senyum tipis muncul di bibir Arina, tetapi tak sedikit pun menghangatkan wajahnya. Jika aku tidak memiliki hak untuk menolak, untuk apa Ayah datang meminta persetujuanku?

Namun, pikirannya seketika terhenti.

Orion?

Mata Arina sedikit membulat. Bukankah Orion adalah pria yang dicintai Stella?

Apa Stella akan membencinya jika ia menikah dengan Orion? Mungkin Stella akan mengira Arina menolak permintaannya semalam karena sejak awal memang menginginkan Orion.

"Tapi, Ayah, kenapa bukan Stella saja yang menikah dengan Orion?" tanya Arina pelan. Ada nada pasrah dalam suaranya.

Belum sempat Julius menjawab, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu.

"Apa maksudmu itu?" Teresa masuk tanpa permisi, menatap Arina dengan sorot mata tajam.

"Kenapa kau ingin Stella menikah dengan Orion?" ujarnya sinis. "Jangan-jangan kau sendiri yang bermimpi menjadi istri Arcturus?"

Arina berbalik perlahan. Tatapan birunya yang dingin tertuju pada ibu tirinya, tetapi wajahnya tetap datar.

"Dengarkan baik-baik, Arina. Stella tidak akan menikah dengan pria sekejam Orion." Senyum mengejek terukir di bibir Teresa. "Putriku pantas mendapatkan pria sebaik Arcturus, bukan seorang jenderal yang hidupnya hanya dipenuhi perang."

Ucapan itu seolah menegaskan bahwa Stella adalah permata keluarga Volans, sedangkan Arina hanyalah seseorang yang dapat dikorbankan kapan saja.

Arina mengalihkan pandangannya kepada Julius.

"Baik, Ayah," ucapnya tenang. "Aku akan menikah dengan Orion."

Ia menerima keputusan itu begitu saja, seolah pernikahan tersebut hanyalah urusan kecil yang tidak berarti apa-apa baginya.

Julius mengembuskan napas lega, sementara Teresa tersenyum puas. Tak seorang pun menyadari bahwa ketenangan Arina justru membuatnya menjadi sosok yang paling sulit ditebak.

...\=\=\=...

Siang itu, rombongan Arcturus Bootes, putra Wali Kota Varendel, tiba di kediaman keluarga bangsawan kelas satu, Volans. Ia datang bersama kedua orang tuanya, Stevanus Bootes dan Maurice Bootes.

"Selamat datang di kediaman sederhana kami," sambut Julius dengan ramah.

"Silakan, mari masuk." Teresa mempersilakan mereka menuju ruang tengah yang telah dihias dengan mewah. Berbagai hidangan kelas atas telah tersaji rapi di atas meja.

"Terima kasih, Tuan dan Nyonya Volans," ucap Stevanus setelah duduk.

Maurice mengambil tempat di samping kanannya, sementara Arcturus duduk di sisi kirinya.

"Kamilah yang seharusnya berterima kasih karena Tuan Wali Kota berkenan mengunjungi kediaman kami," balas Julius penuh hormat.

Teresa duduk anggun di sisi kanan Julius, sedangkan Stella duduk di sebelah kiri dengan kepala sedikit tertunduk.

Sementara para orang tua berbincang hangat, Arcturus dan Stella hanya duduk diam.

Arcturus adalah pria tampan berkulit putih dengan mata jingga yang mencolok serta rambut cokelat yang sedikit menutupi dahinya. Di seluruh Varendel, ia dikenal sebagai bangsawan muda yang ramah dan dermawan. Tak sedikit wanita yang mengaguminya.

Di sisi lain, Stella dikenal sebagai gadis yang anggun, pemalu, dan berpendidikan. Menurut Arcturus, Stella adalah pasangan yang sempurna. Karena itulah, saat ayahnya memutuskan untuk melamarnya, ia langsung menyetujuinya tanpa keberatan.

Di sudut ruangan, Arina berdiri membaur bersama para pelayan. Keberadaannya nyaris tak dianggap. Dengan tenang, ia mengamati setiap percakapan dan setiap gerakan Arcturus, terutama cara pria itu memandang Stella.

Entah mengapa, Arina merasa ada sesuatu yang ganjil.

Di permukaan, Arcturus tampak seperti pria yang sempurna. Namun, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Arina merasa tidak nyaman.

"Nona Stella benar-benar serasi dengan Tuan Acrux," bisik salah seorang pelayan. Acrux adalah panggilan akrab Arcturus.

"Tentu saja. Sampah keluarga ini pasti iri melihat keberuntungan Nona Stella," balas pelayan lain sambil melirik Arina.

"Hahaha... memangnya kalau iri kenapa? Dia cuma sampah. Tidak ada bangsawan yang mau menikahinya."

Mereka tertawa pelan, seolah Arina tidak sedang berdiri beberapa langkah dari mereka.

Arina membiarkan semua itu. Ia tidak tertarik meladeni orang-orang yang hanya pandai bergosip tanpa memahami kedudukan mereka sendiri.

Lagi pula, mereka hanya mampu menyakiti dengan kata-kata. Merasa tidak ada lagi yang perlu diperhatikan, Arina kembali ke kamarnya.

Setelah jamuan selesai, Stevanus menatap Stella dengan sorot penuh wibawa.

"Jadi, Stella, apakah kau bersedia menikah dengan Arcturus?"

Suasana ruangan mendadak hening.

Stella menelan ludah dengan susah payah. Di balik meja, Teresa diam-diam mencubit pahanya hingga terasa nyeri. Tak memiliki pilihan lain, Stella mengangguk pelan.

Maurice langsung tersenyum bahagia. Julius dan Teresa pun tampak lega. Hanya Stella yang tidak mampu membalas senyum mereka.

"Kalau begitu, pernikahan akan dilangsungkan satu minggu lagi," putus Stevanus.

Jantung Stella seakan berhenti berdetak.

Satu minggu lagi...? Bukankah kemarin, pernikahan ini akan dilangsungkan bulan depan?

Ini terlalu cepat.

Meski demikian, pembicaraan kembali berlangsung hangat seolah keputusan besar baru saja dibuat dengan sangat mudah.

Tak lama kemudian, Arcturus mengajak Stella berjalan-jalan di halaman samping.

Keduanya duduk di sebuah ayunan kayu di bawah rindangnya pepohonan.

"Kenapa wajahmu muram?" tanya Arcturus lembut. "Kalau kau sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan ini, aku tidak akan memaksamu. Aku bisa berbicara kepada Ayah dan Ibu untuk membatalkannya."

Suaranya terdengar hangat dan menenangkan. Namun entah mengapa, Stella justru tidak merasakan ketenangan sedikit pun.

"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Kita bisa menikah seperti yang semua orang inginkan."

"Jadi, bukan itu yang kau inginkan?"

Stella kembali terdiam. Andaikan ia benar-benar bebas memilih, tentu Arcturus bukanlah pria yang akan ia jadikan suami.

"Diam berarti dugaanku benar." Arcturus mengembuskan napas pelan. Anehnya, senyumnya tetap ramah tanpa sedikit pun menunjukkan rasa tersinggung.

Stella segera mengalihkan pembicaraan.

"Aku ingin mengenalkanmu pada kakakku. Bagaimana?"

"Boleh."

Mereka berjalan menuju bagian belakang kediaman Volans. Di sepanjang jalan, Stella menjelaskan berbagai tanaman obat yang tumbuh di kebun. Arcturus mendengarkannya dengan penuh perhatian.

"Kamarnya ada di sini," gumam Stella sambil berhenti di depan sebuah pintu tua di bagian paling belakang rumah.

Arcturus mengernyit.

Kenapa kakak Stella tinggal di tempat seperti ini? Bukankah bagian belakang rumah biasanya ditempati para pelayan?

Tok... tok... tok...

Stella mengetuk pintu tiga kali, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali menemui Arina.

"Kak, aku datang bersama Acrux untuk menyapamu."

Aneh... hubungan mereka tidak seperti kakak beradik pada umumnya, pikir Arcturus.

Pintu perlahan terbuka.

Seorang wanita berambut ungu muncul dari balik pintu. Mata birunya yang jernih menatap Arcturus dengan tenang, tetapi menyimpan kesan yang sulit dijelaskan.

"Kak," sapa Stella sopan.

"Salam, Nona Pertama Volans," ucap Arcturus sambil sedikit membungkukkan badan.

Ekspresi Arina tetap datar.

"Mari kita bicara di ruangan sebelah, Stella."

Tanpa menunggu jawaban, Arina berjalan lebih dulu. Stella dan Arcturus mengikuti di belakangnya.

"Dia benar-benar kakakmu?" bisik Arcturus pelan. "Maksudku... kalian sangat berbeda."

"Kami memiliki ayah yang sama, tetapi ibu yang berbeda," jawab Arina tanpa menoleh. Ia membuka pintu sebuah ruangan kecil di samping kamarnya.

"Silakan masuk."

Arcturus tersenyum canggung. Ia tidak menyangka Arina mendengar bisikannya.

Ketiganya duduk mengelilingi sebuah meja bundar.

Dengan gerakan anggun, Arina menuangkan teh ke dalam tiga cangkir, lalu menyodorkannya kepada Stella dan Arcturus.

"Aku Arina Volans."

"Arcturus Bootes," balas Arcturus sambil menerima cangkir teh. Meskipun namanya telah dikenal di seluruh Varendel, ia tetap memperkenalkan diri dengan sopan kepada Arina.

...***...

...like, komen dan vote...

Bab 3

Satu minggu kemudian, pernikahan Stella dan Arcturus digelar dengan meriah di kediaman megah keluarga Bootes. Berbagai kalangan menghadiri pesta tersebut. Tidak hanya para bangsawan dan pejabat kerajaan, rakyat biasa pun turut diundang untuk ikut merayakannya.

Sebulan kemudian, giliran pernikahan Jenderal Orion Wezen dan Arina Volans yang dilangsungkan di Istana Kerajaan. Upacara itu dipimpin langsung oleh Baginda Raja, sebuah kehormatan yang menunjukkan betapa besar dukungan kerajaan terhadap pernikahan tersebut.

Namun, berbeda dengan pernikahan Stella yang dipenuhi doa dan ucapan selamat, pernikahan Arina justru menjadi bahan perbincangan di seluruh Elarion.

Banyak orang menertawakannya.

Mereka menganggap hanya Arina yang cukup bodoh untuk bersedia menikahi pria seperti Orion Wezen. Selama bertahun-tahun, sang jenderal membangun reputasi sebagai sosok yang garang, temperamental, dan kejam di medan perang. Bagi sebagian besar masyarakat, Orion bukanlah pahlawan, melainkan monster yang ditakuti.

Tak seorang pun percaya bahwa pernikahan itu akan membawa kebahagiaan bagi Arina. Bahkan, banyak yang diam-diam menunggu kabar tentang berapa lama wanita itu mampu bertahan sebagai istri Sang Jenderal.

Sementara itu, menikah dengan Orion sang jenderal militer tertinggi Elarion tidak pernah ada dalam khayalan seorang Arina Volans. Apalah arti dirinya dibandingkan Stella, adiknya yang dicintai oleh Orion.

Arina dingin tak tersentuh, dia adalah wujud nyata dari balok es hidup. Wajahnya selalu datar dan cenderung murung. Orion berwajah tampan dan garang, rambut peraknya menjadi ciri khas sosok gagah itu.

“Mau sampai kapan kau berdiam diri di situ?” Suara berat Orion terdengar memenuhi kamar luas itu. Dia sedang berbaring di tempat tidur yang penuh taburan bunga.

Malam ini adalah malam pertama mereka setelah tiga hari tiga malam berpesta ria. Seharusnya Arina menemani suaminya di ranjang, tetapi tidak, wanita itu sudah berdiri di dekat jendela besar selama berjam-jam. Kakinya sudah mulai sakit, tetapi ia menahannya karena canggung berada satu ranjang dengan sosok ganas seperti Orion.

“Aku sedang menunggu bulan muncul,” jawab Arina pelan tanpa menoleh. Rambut ungu panjangnya yang tergerai sedikit bergoyang oleh angin yang menyeruak masuk melalui celah ventilasi.

Terdengar suara helaan nafas, lalu Orion turun dari ranjang. “Kau sungguh berbeda dari adikmu.”

Arina menoleh cepat. Ia sudah mendengar dari Stella bahwa Orion dan Stella memiliki hubungan spesial. Keduanya sempat ingin menikah tetapi ditentang oleh keluarga besar Volans. Kata mereka, Stella terlalu berharga untuk dibiarkan hidup bersama monster seperti Orion. Tapi mereka sangat rela melemparkan Arin ke sarang monster itu.

“Stella hangat, ceria dan yang terpenting dia bisa berbaur dengan siapa saja.” Bibir Orion melengkung membentuk senyum mengejek. “Sedangkan kau tidak memiliki sepersepuluh dari diri Stella. Kau menyedihkan.”

Itu adalah perbandingan kesekian yang ia dengar, jadi Arina tidak merasa sedih. Ia sudah menerimanya sejak dulu, bahwa Stella memang pusat perhatian semua orang.

“Tidurlah di ranjang, aku tidak tertarik menyentuhmu,” kata Orion angkuh, kemudian melenggang pergi keluar kamar.

Arina tersenyum tipis, setidaknya kata-kata yang baru saja ia dengar menyenangkan di telinganya. Ia juga tidak mau melayani pria, Arina tidak suka ada orang yang menyentuh tubuhnya.

Arina mulai melepas baju mewahnya, kemudian mengambil dress hitam selutut dari dalam lemari. Setelahnya, Arina merebahkan diri di ranjang empuk.

“Memang, keluarga militer sangat mampu. Ranjangnya bahkan sepuluh kali lebih baik daripada yang ada di kamarku,” gumam Arina mengelus alasnya yang terasa lembut.

Arina kembali bangkit. “Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk beristirahat,” gumamnya lalu turun dengan hati-hati, ia membiarkan rambutnya tergerai sambil menarik jubah dress dibawah lutut berlengan panjang.

Ia keluar dari kamar, menyusuri lorong panjang yang sudah sepi. Hanya ada beberapa tentara penjaga yang bertugas menjaga kediaman ini dari kejahatan yang mungkin akan dilakukan oleh musuh-musuh Orion.

Tentara penjaga yang melihatnya menundukkan kepala, namun hanya sekedar formalitas saja.

Arina terus berjalan hingga ia secara tidak sadar berada di taman belakang yang tertutup. Langkahnya seketika terhenti ketika melihat dua orang berdiri mengagumi bulan, mereka membelakanginya tetapi Arina masih mengenali keduanya. Orion dan Stella, sepasang kekasih yang terpisah karena restu.

Tanpa suara Arina mendekat, berdiri dibelakang bunga besar yang sepenuhnya menyembunyikan keberadaannya.

“Tak kusangka kita akan berakhir seperti ini, Orion,” suara Stella terdengar memecah keheningan. Tanpa menoleh, dia melanjutkan. “Aku menikah dengan lelaki pilihan orang tuaku, sementara kau menjadi kakak iparku. Aku selalu siap dengan pernikahanmu ketika aku juga memutuskan untuk mengkhianati cinta kita dengan menerima lelaki lain. Tapi, sungguh Orion, aku tidak siap saat aku tahu yang akan menjadi istrimu adalah kakakku.”

Orian melirik kekasihnya tidak senang. “Kenapa? Apa kau takut aku jatuh cinta padanya?”

Stella diam, tak menjawab.

“Itu tidak akan pernah terjadi, Stella. Dia dingin dan suram, tidak mungkin bisa membuatku tertarik.” Orion terdengar meyakinkan.

Arina yang mendengarnya tidak tersinggung. Ia sudah terbiasa, karena memang begitulah dirinya.

Tidak ingin mendengar pembicaraan mereka lebih jauh, Arina keluar dari persembunyiannya lalu dengan tatapan mata lurus ke depan ia menghampiri sepasang kekasih itu.

“Bulannya indah sekali,” celetuk Arina.

Keduanya kompak menoleh, Stella menatap kakaknya tidak enak. Merasa bersalah berduaan dengan suaminya. Orion tidak terlalu peduli, dia hanya memberi pandangan sekilas lalu kembali menatap bulan.

“Kakak, ini … kami hanya mengobrol,” kata Stella cemas.

“Jangan khawatirkan apapun, Stella. Selama berada di rumah ini, tidak akan ada yang berani mengomentari moral kita.” Orian merangkul lembut bahu Stella, menarik gadis itu mendekat.

Tentu saja perkataan Orion sepenuhnya benar. Tetapi, karena Stella sudah menikah dan ia datang ke sini bersama suaminya, apakah mereka tidak takut Arcturus melihat?

Namun, sepertinya Orion tidak takut. Bukankah dia terkenal tidak takut akan apapun?

“Ya, aku tidak tertarik mengumbar aib siapapun.” Arina mengangguk setuju. Sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, ia kembali berkata, “Tentu saja selama kita bertiga sama-sama bisa menyimpan rahasia.”

Orion mengerutkan keningnya, berusaha memahami maksud Arina.

“Kak Arin…” Stella juga terlihat ragu.

“Selamat malam.” Arina melemparkan pandangan penuh arti, lalu berbalik dan kembali ke kamarnya.

\=\=\=

Arina terbangun saat tengah malam. Orion sudah tertidur di sampingnya. Arina perlahan bangun dari tempat tidur. Ia meraih jubah hitamnya, dan mengenakannya tanpa suara.

Arina berdiri dekat jendela, menatap jauh keluar. Biasanya ia hanya akan melihat kegelapan malam, namun kali ini ia melihat nyala api di kejauhan.

“Seseorang membawa obor dan sedang berjalan ke sini,” gumam Arin, menajamkan matanya.

“Apa yang sebenarnya kau lihat di jendela itu? Ini sudah tengah malam.” Suara serak Orian terdengar dari ranjang.

“Aku melihat seseorang. Dia…” Arin tidak melanjutkan kalimatnya, karena dalam waktu singkat cahaya itu semakin terlihat jelas. Itu bukan obor, tetapi…

Orion bangun, menghampiri Arina. Ia ikut melihat keluar jendela.

“Kebakaran,” desis Orion, lalu tanpa banyak bicara mengambil pakaian kesatrianya. Dalam sekejap ia sudah mengenakan pakaian militer.

“Aku ikut.” Arin bergegas mengikuti Orion keluar kamar.

“Ini sama sekali bukan urusanmu.”

“Aku istrimu.” Arina tidak menyerah, meskipun agak kesulitan mengikuti langkah panjang Orion, ia tetap mengikutinya dari belakang.

Orion sampai di gerbang, para bawahannya sudah menunggu dalam barisan rapi. Arina tidak tahu darimana mereka semua tahu bahwa Orion akan pergi malam ini.

“Naik!” Orion mengangkat tubuh Arina, meletakkannya di punggung kudanya yang berwarna hitam legam. Setelah itu, ia juga naik dan duduk di depan Arina.

Ini pertama kalinya Arina naik kuda, ia hampir saja menjerit saat kuda itu berlari kencang. Tangannya refleks memeluk erat pinggang Orion.

Debu berterbangan namun kuda Orion dan bawahannya melaju cepat membelah keheningan malam.

Dalam waktu singkat mereka akhirnya tiba di lokasi kejadian. Ternyata itu ada di sebuah desa, rumah-rumah warga hampir habis dilalap api, dan tangisan para warga terdengar menyayat hati.

...***...

...Like, komen dan vote ...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!