Indonesia
NovelToon NovelToon

Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Kiara 1

"Kiara..." panggil Vino saat Kiara keluar dari lobby tempatnya bekerja untuk makan siang.

"Oh Vino, ada apa? Tumben datang ke sini?" tanya Kiara dengan tatapan dingin.

"Kiara... Tolong dengerin aku, maaf karena semalam aku nggak bisa jemput kamu. Shela semalam bilang ketakutan karena hujan deras dan petir! Kamu semalam pulang ke rumah bagaimana? Apa kamu kehujanan?"

Vino mencoba menjelaskan kejadian semalam saat Kiara tunangannya meminta untuk di jemput saat hujan deras di halte bus. Karena memesan layanan daring tak ada yang mengambil karena dalam kondisi hujan deras. Tapi Vino lebih memilih menemani Shela yang katanya adalah keponakannya, wanita yang beberapa bulan ini sudah menyita perhatian Vino.

Kiara tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis yang terasa sangat asing di mata Vino. Keduanya berdiri di bawah terik matahari siang yang terik, namun kehangatan di antara mereka sudah mati sejak semalam.

"Aku pulang naik mobil," jawab Kiara datar. Vino bernapas lega, mengusap dadanya.

"Syukurlah kalau begitu. Aku dari semalam khawatir banget sama kamu, Ki. Maaf ya, Shela itu penakut banget kalau ada petir. Dia kan belum terbiasa hidup sendirian di kota besar ini. Kamu tahu sendiri kan dia keponakanku satu-satunya di sini, aku bertanggung jawab atas dia."

"Mobil jemputan dari bengkel," potong Kiara tenang. Tatapannya lurus merajam manik mata Vino.

"Karena sepeda motor yang kupakai mogok di tengah jalan. Aku terpaksa mendorongnya sendirian sejauh dua kilometer mencari tempat berteduh, sampai akhirnya ada mobil derek yang mau menolong." masih dengan suara yang datar.

Raut lega di wajah Vino seketika lenyap, berganti kepucatan.

"Ki... aku..."

"Hpku mati kena air, Vino. Saat aku menghubungi dan minta jemput itu terakhir kali ponselku nyala," selak Kiara tanpa memberi ruang untuk pria itu bergeming.

"Dan kamu tahu apa yang menarik? Saat aku berteduh di teras toko yang tutup sambil menggigil menahan dingin, aku sempat melihat mobilmu lewat."

Vino menelan ludah kasar. Tenggorokannya terasa sangat kering.

"Itu... aku mau belikan Shela makanan hangat, Ki. Dia gemetaran..."

"Di dalam mobil itu, Shela duduk di kursi depan," Kiara tertawa kecil, suara tawa yang begitu hampa dan dingin.

"Dia tidak kelihatan gemetaran atau ketakutan, Vino. Dia malah tertawa sambil menyuapimu es krim. Di tengah hujan deras, saat tunanganmu sendiri terjebak banjir di halte bus."

"Kiara, dengar dulu! Itu nggak seperti yang kamu bayangkan!" Vino panik, mencoba meraih jemari Kiara. Namun wanita itu memundurkan langkahnya dengan cepat, menolak disentuh.

"Kia... tolong dengarkan dulu penjelasan aku. Aku benar-benar tak tahu kalau kamu... Kita makan siang ya!" ajak Vino.

"Maaf Vin, aku butuh sendiri, kamu urus saja keponakanmu itu. Dia lebih membutuhkan kamu di banding aku..." Ucap Kiara melangkah pergi saat mendengar ponsel Vino bergetar, dan Kiara yakin itu dari Shela.

"Kiara..."

"Dia menghubungimu. Pasti saat ini dia sedang merengek karena di kantormu tak ada staff yang mau menemaninya makan siang. Kasihan dia wanita kesepian, berbeda dengan aku yang sudah terbiasa di abaikan akhir-akhir ini..."

"Kiara, tunggu!" Vino memanggil, suaranya panik seraya menahan lengan Kiara dengan cengkeraman yang agak memaksa.

Namun, ponsel di saku celananya tak henti-hentinya bergetar nyaring. Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama Shela beserta foto gadis itu yang tersenyum manis.

"Vino, lepas," bisik Kiara pelan, namun nadanya sarat akan ancaman yang dingin. Matanya melirik ke arah ponsel Vino yang terus berdering tanpa henti.

"Angkat telepon dari 'keponakan' kesayanganmu itu. Jangan bikin dia menunggu, nanti es krimnya keburu meleleh lagi."

"Nggak, Ki! Aku nggak peduli telepon ini, aku mau kita selesaikan sekarang!" bentak Vino frustrasi. Dengan tangan gemetar, dia menolak panggilan tersebut dan mematikan layarnya.

Tapi baru hitungan detik, ponsel itu bergetar kembali. Panggilan masuk yang berulang-ulang, menunjukkan betapa 'mendesaknya' kebutuhan sang keponakan.

"Lihat?" Kiara tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kamu bahkan nggak bisa mematikan ponselmu demi aku, Vino. Refleksmu selalu mengutamakan dia."

"Aku..." Vino kehilangan kata-kata.

Dia akhirnya mengangkat telepon itu dengan gusar, menekan tombol speaker sengaja agar Kiara mendengar bahwa tidak ada yang aneh.

"Ada apa, Shela? Aku lagi sibuk!"

"Kak Vinooo... Kakak di mana sih?" terekam suara Shela yang merengek setengah menangis.

"Aku bingung mau makan siang apa. Makanan di kantin kantor, enggak enak semua, staff di sini juga cuek-cuek banget, enggak ada yang mau ngajak aku ngobrol. Kak cepat balik ke kantor dong, jemput aku, kita makan di luar ya? Perutku udah sakit banget nih..." Dari seberang telepon, suara manja Shela terdengar jelas, kontras dengan keramaian area lobby.

Vino membeku. Wajahnya yang semula pucat kini kian hilang warna. Niatnya membuktikan kejujuran justru berbalik menjadi senjata yang menghantamnya telak. Kata-kata Shela barusan seolah membenarkan setiap tuduhan Kiara.

Kiara menatap Vino dengan tatapan kasihan, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebodohan pria di hadapannya.

"Dengar kan?" bisik Kiara lembut, sebuah kelembutan yang justru terasa amat menusuk.

"Dia butuh kamu, Vino. Perutnya sakit, kasihan. Sedangkan aku? Aku cuma tunanganmu yang semalam hampir pingsan karena kedinginan masih bisa berdiri di sini dan bahkan masuk kantor. Aku sudah terbiasa bertahan hidup sendirian, tapi keponakanmu yang manja itu, dia tidak bisa hidup tanpa perhatianmu sedetik pun."

"Ki, bukan gitu... Shela, nanti Kakak telepon lagi!" Vino mematikan telepon secara sepihak dan melempar ponselnya ke dalam saku. Dia memajukan langkah, mencoba memeluk tubuh Kiara.

"Kiara, aku mohon... aku sadar aku salah. Aku cuma terlalu gampang kasihan sama dia, tapi cuma kamu yang aku cintai. Kita perbaiki ya? Tolong..."

Kiara memundurkan langkahnya lagi. Seolah tak ingin di sentuh oleh pria yang sudah bersamanya selama dua tahun ini. Pria yang awalnya selalu penuh perhatian dan juga sangat manis kepadanya. Tapi semua berubah semenjak Shela datang. Sudah lebih dari tiga bulan ini Vino berubah. Awalnya dia tak masalah apalagi Shela adalah keponakannya, namun lama kelamaan dia merasa Shela malah ingin merebut semua perhatian dari Vino. Bahkan waktu Vino untuknya hampir ta ada.

Dan semalam adalah hal yang paling menyakitkan untuk Kiara, bahkan Vino sekarang sudah berani berbohong padanya. Padahal selama ini Vino sellau jujur tentang apapun kepada Shela. Kini dia merasa sudah kehilangan Vino.

"Berapa kali lagi kamu berjanji akan memperbaiki semuanya, Vin? Jika aku sudah tak ada lagi artinya untuk kamu... Saat kamu minta maaf dan besoknya kamu akan kembali ingkar demi Shela!"

"Kiara... Aku mohon..."

Kiara 2

"Berapa kali lagi kamu berjanji akan memperbaiki semuanya, Vin? Jika aku sudah tak ada lagi artinya untuk kamu. Saat kamu minta maaf dan besoknya kamu akan kembali ingkar demi Shela! Lalu apa artinya aku dan cincin ini? Hanya simbol? Hanya lambang? Aku tak butuh Vino! Aku tak butuh pendamping yang masih memprioritaskan wanita lain, terlepas dia adalah sepupumu!"

"Kiara... Aku mohon..."

Di tengah usahanya memohon, saku celana Vino kembali bergetar hebat. Kali ini bukan hanya sekali dua kali ponsel itu bergetar bertubi-tubi, diselingi nada dering nyaring yang terus menuntut perhatian. Nama Shela kembali terpampang di layar, tak memberi jeda sedikit pun.

Vino terpaku. Matanya terbagi antara menatap Kiara dengan penuh penyesalan dan melirik sakunya yang terus bergetar. Gelisah yang luar biasa melingkupi dadanya, dia tahu jika tidak diangkat, Shela akan terus menelepon atau bahkan melakukan hal yang nekat, tapi dia juga tahu Kiara sedang menatapnya.

Kiara melirik ponsel di saku Vino, lalu menatap manik mata pria itu untuk terakhir kalinya. Senyum tipis yang sarat akan kekecewaan terukir di bibirnya.

"Angkatlah, Vino," ucap Kiara sangat pelan, hampir berupa bisikan.

"Dia tidak bisa menunggu, dan aku... sudah selesai menunggu."

Degh.

Sebelum Vino sempat membalas atau menahannya, Kiara berbalik arah. Dia tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak melempar cincin di jarinya. Dia hanya melangkah pergi dengan tenang namun pasti, membawa seluruh martabat dan rasa sakitnya masuk kembali ke dalam gedung kantor.

"Kiara! Tunggu, Ki!"

Ponsel di sakunya masih bergetar hebat tanpa henti, memekakkan telinga dan mengocok perutnya dengan rasa bersalah. Vino berdiri mematung selama dua detik yang menyiksa. Rasa cemas pada Shela dan ketakutan akan kehilangan Kiara bertarung hebat di kepalanya.

Namun melihat punggung Kiara yang semakin menjauh dan hampir menghilang di balik pintu kaca lobby, kesadaran menghantam Vino seperti gada berat. Bahkan Kiara mengurungkan niatnya untuk makan di luar dan memilih kembali ke kantor.

Jika hari ini aku membiarkannya pergi, aku akan kehilangan dia selamanya.

Dengan gerakan kasar dan penuh emosi, Vino merogoh sakunya, menarik keluar ponsel itu, lalu tanpa ragu menekan tombol Power lama-lama hingga layarnya mati total. Suara getaran yang mengganggunya seketika lenyap.

"Kiara! Dengarkan aku dulu!"

Vino berlari kencang memotong area depan lobby, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Dia mengejar Kiara yang baru saja mendorong pintu kaca, bertekad menyusul wanita itu sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Pintu kaca lobby terbuka pelan saat Kiara mendorongnya, namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup rapat, sebuah tangan menahannya dengan panik.

"Kiara, tolong!" Vino menyeruak masuk, napasnya memburu, terengah-engah setelah berlari. Wajahnya yang biasa rapi kini tampak berantakan, pancaran matanya menyiratkan keputusasaan yang amat sangat.

Kiara menghentikan langkahnya di tengah area lobby yang dingin ber AC. Dia berbalik memandang Vino tanpa ekspresi. Tidak ada amarah, tidak ada air mata, hanya tatapan kosong yang justru jauh lebih menakutkan bagi Vino dibanding makian.

"Ponselku sudah kumatikan, Kiara!" Vino mengangkat ponsel genggamnya yang kini berlayar hitam pekat, menunjukkannya pada Kiara seolah itu adalah bukti pengorbanan terbesarnya.

"Aku matiin! Aku nggak angkat telepon Shela lagi. Aku pilih kamu, Ki. Tolong... kasih aku kesempatan satu kali lagi."

Beberapa karyawan yang berada di lobby mulai melirik berbisik-bisik, namun Kiara sama sekali tidak terpengaruh oleh perhatian orang-orang. Tatapannya tertuju pada ponsel mati di tangan Vino.

"Kamu mematikan ponselmu bukan karena kamu sadar, Vino," suara Kiara terdengar mengalun tenang namun merajam tepat di ulu hati.

"Kamu mematikannya cuma karena kamu panik aku tinggalkan. Tiga bulan ini, berapa kali kamu mengabaikan aku demi dia? Dan baru sekarang, saat aku sudah benar-benar lelah, kamu pura-pura peduli?"

"Nggak, Kiara! Aku benaran sadar!" Vino berusaha maju, hendak mengikis jarak, namun langkahnya terhenti saat Kiara mengangkat satu tangannya, menyuruhnya diam di tempat.

"Jika hari ini kamu mematikan ponselmu demi aku, besok saat dia menangis lagi, kamu akan menghidupkannya kembali dan minta maaf padanya," lanjut Kiara datar.

"Kamu tidak bisa memilih, Vino. Dan aku menolak untuk jadi pilihan kedua di dalam hubungan yang seharusnya menjadikan aku yang utama dan satu-satunya."

"Kiara..." Suara Vino bergetar, air mata yang tertahan akhirnya menetes membasahi pipinya.

"Aku tunangan kamu... kita sudah merencanakan masa depan kita... Bahkan tanggal pernikahan kita sudah di tentukan."

"Pikirkan lagi masa depan itu," bisik Kiara pelan, menunjuk dadanya sendiri.

"Di sini sudah tidak ada kamu lagi. Kamu yang menghancurkannya sendiri, sedikit demi sedikit, setiap kali kamu berpaling pada Shela. Jika kamu lebih menjadikan dia prioritas, nikahi saja dia sekalian!"

Kiara kemudian berbalik arah, berjalan menuju deretan turnstile gate menuju area lift khusus karyawan. Dia menempelkan ID cardnya, dan pembatas besi itu terbuka dengan bunyi bip yang nyaring.

"Kiara! Jangan masuk, Kiara! Kiara!" Vino mencoba mengejar, namun petugas keamanan gedung yang bertubuh tegap dengan sigap langsung menghadang langkah Vino.

"Maaf, Pak. Yang tidak berkepentingan atau tidak memiliki access card dilarang masuk ke area lift," cegah petugas keamanan itu dengan tegas namun sopan.

"Pak, tolong Pak! Itu tunangan saya!" Vino berteriak frustrasi, mencoba menerobos namun dorongan petugas keamanan membuatnya tertahan di luar pagar pembatas.

Dari balik pembatas besi, Kiara berdiri sebentar menunggu pintu lift terbuka. Dia menoleh sedikit, menatap Vino untuk terakhir kalinya, menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, kini tampak begitu asing dan menyedihkan di matanya. Sudah cukup dia selalu mengalah dan memberi kesempatan juga maaf saat Vino kembali mengecewakanya karena wanita lain.

Pintu lift berdenting terbuka. Kiara melangkah masuk, membalikkan badan menghadap keluar. Saat pintu lift perlahan bergerak menutup, pandangan mereka saling terkunci untuk yang terakhir kalinya, sampai akhirnya paras Kiara hilang sepenuhnya di balik pintu besi yang tertutup rapat.

Vino terduduk lemas di lantai lobby yang dingin, memandangi pintu lift yang kini membawa pergi wanita yang baru saja ia sadari adalah hal terpenting dalam hidupnya yang kini telah hilang untuk selamanya.

Saat dia berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan, pikirannya berputar hebat.

'Bagaimana bisa semuanya hancur hanya dalam hitungan menit?' batinnya.

Dia teringat malam sebelumnya, saat dia tertawa bersama Shela di dalam mobil sambil menikmati es krim, menganggap rengekan gadis itu manis dan menggebu-gebu, sementara di tempat lain, wanita yang dia janjikan masa depan sedang mendorong sepeda motor sendirian di tengah derasnya hujan dan petir. Bahkan kedinginan menunggu dirinya datang menjemput. Dan sialnya Kiara melihat itu semua.

"Kenapa aku malah mau menuruti keinginan Shela untuk pergi menghilangkan rasa takutnya dengan membeli es krim? Di saat Kiara benar-benar membutuhkanku? Bodoh kamu Vino... Bodoh!" Upatnya pada diri sendiri.

Rasa penyesalan yang terlambat itu datang menghantamnya begitu telak, membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas.

Tiba di dalam mobil, Vino membanting pintu. Keheningan kabin terasa membungkamnya. Dia menatap ponsel mati di genggamannya. Dengan jemari yang gemetar, dia menekan tombol Power untuk menyalakannya kembali. Seperti yang di katakan oleh Kiara dia pasti akan menyalakannya kembali demi Shela.

Begitu layar menyala, puluhan notifikasi langsung menyerbu masuk. Pesan demi pesan, panggilan tak terjawab dari Shela, semuanya membanjiri layarnya tanpa henti.

Shela: Kak Vino di mana sih?!

Shela: Aku udah nungguin dari tadi lho! Kenapa HPnya dimatiin?!

Shela: Kakak jahat banget sih, aku kan sendirian di sini, perutku sakit! Jemput sekarang!

Shela: Apa Kak Kiara meminta kakak untuk mematikan ponsel?

Kiara 3

Melihat rentetan pesan itu, tidak ada lagi rasa iba atau kasihan yang biasa menyelimuti hati Vino. Yang ada hanyalah rasa muak yang luar biasa. Muak pada kepasifan dirinya sendiri, dan muak pada kemanjaan Shela yang telah menghancurkan hidupnya.

Ponselnya kembali berdering. Nama Shela berkedip-kedip di layar. Dengan napas memburu dan mata memerah, Vino menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

'Kak Vino! Akhirnya diangkat juga! Kakak dari mana aja sih?! Aku tuh dari tadi...'

"Shela, stop," potong Vino dengan suara dalam dan bergetar, menahan amarah yang hampir meledak.

'Lho, Kakak kenapa malah bentak aku? Aku kan cuma mau makan siang bareng! Lagian Kakak janji mau...'

"Mulai hari ini, belajar urus diri kamu sendiri," selak Vino dingin, setiap katanya sarat akan keputusasaan.

"Kamu sudah dewasa. Cari makan sendiri, naik taksi sendiri, selesaikan masalahmu sendiri. Jangan pernah telepon atau cari aku lagi cuma buat hal-hal tak berguna seperti ini."

'Kak... Kak Vino ngomong apa sih? Aku kan saudara kamu Kak! Aku di sini cuma punya kamu, Kak Vino... Hiks... Hiksss...'

'Hiks... hiksss... Kak Kiara cuci otak kamu, ya? Kenapa Kakak jadi jahat banget sama aku?!'

Suara Shela menangis terisak di ujung telepon, mencoba memainkan kartu keprihatinan yang biasanya selalu berhasil melunakkan hati Vino. Namun kali ini, benteng pertahanan Vino sudah runtuh, berganti menjadi benteng amarah yang tak tertembus. Apalagi melihat Kiara yang sudah benar-benar marah padanya. Tunangan yang selama ini bahkan tak pernah mengeluh, merengek apalagi marah padanya bersikap dingin seperti itu.

Vino tak bisa membiarkan Kiara meninggalkan dan pergi darinya begitu saja. Dia ingin Kiara kembali seprti dulu, kekasihnya yang manis penuh cinta dan menjadikannya pusat dunia. Apalagi mereka akan menikah, Vino sangat mencintai Kiara.

"Kiara nggak nyuci otak aku, Shela! Dia tunangan aku, dan saat ini dia sedang marah padaku karena kesalahanku semalam yang meninggalkanya dan malah pergi bersama kamu pergi membeli es krim di tegah hujan petir! Aku tak mau kalau sampai Kiara membatalkan rencana pernikahan kami! Aku sangat mencintai Kiara!" suara Vino meninggi, menggelegar memenuhi ruang kabin mobilnya yang sempit. Air mata penyesalan menetes ke atas roda kemudi.

"Tolong jangan seperti ini dan membuat Kiara salah paham padaku!"

"Tapi Kak... aku ini sepupu kamu! Masa Kakak lebih belain orang lain dibanding darah daging Kakak sendiri? Aku cuma mau..."

"Dia bukan orang lain! Dia calon istriku!" potong Vino dengan nada membentak yang belum pernah Shela dengar sebelumnya. Napas Vino memburu, dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul.

'Kak Vino beneran marah dan ingin aku pergi jauh dari kakak, demi Kak Kiara? Dia hanya salah paham dan membesarkan masalah! Aku... Kepada siapa lagi aku meminta tolong kalau bukan kepada Kak Vino!"

"Sudahlah. Tolong aku hanya ingin hubunganku dan Kiara kembali membaik. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi adikku, Rania!"

Di balik telepon, tangisan Shela mendadak terhenti sejenak, terkejut mendengar kemarahan Vino yang meledak-ledak. Dan bahkan dengan jelas Vino ingin menjauhi dirinya dan memintanya untuk meminta tolong kepada Rana saja. Tidak, Shela tak mau kalau sampai hal itu terjadi. Vino harus selalu ada di pihaknya dan bersama dengannya. Apapun yang terjadi.

"Kak Vino... hiks... aku minta maaf..." suara Shela mencicit, mulai panik karena menyadari Vino benar-benar sudah lepas kendali.

"Jangan pernah hubungi aku lagi. Mau kamu sakit perut, mau kamu takut sendirian, mau kamu kesepian, cari orang lain. Hubungi orang tuamu atau adikku!."

"Kak Vino, jangan gitu! Kak!"

Tanpa membiarkan Shela menyelesaikan kalimatnya, Vino mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Jari jemarinya yang gemetar langsung membuka profil kontak Shela, menekan tombol Block, lalu menghapus nomor telepon itu selamanya dari daftar kontak. Notifikasi dari media sosial Shela pun langsung dia bisukan dan blokir satu per satu tanpa tersisa.

"Kiara, aku sudah menjauhi Shela, tolong maafkan dan beri aku kesempatan, aku sangat mencintai kamu, Kiara!" Bisik Vino menatap ke arah gedung perkantoran tempat Kiara bekerja.

Vino mencengkeram kemudi dengan erat, menyandarkan dahinya di sana. Tangisnya pecah seketika, suara isakan laki-laki yang hancur dan terlambat menyadari kesalahannya. Semua memori tentang Kiara berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Cara Kiara tersenyum, cara wanita itu menyambutnya hangat meski lelah, dan bagaimana Kiara selalu sabar meredam cemburu sampai batas kesabarannya benar-benar habis.

Kemarahan yang membakar di dalam mobil berganti menjadi kehampaan yang dingin saat Vino melangkahkan kaki memasuki gedung kantornya. Langkahnya berat, matanya sembab dan kemerahan, sementara setelan jasnya tampak agak kusut. Beberapa staf yang berpapasan dengannya sempat menyapa, namun Vino hanya berlalu tanpa mengacuhkan mereka, pikirannya masih tertinggal di lobby tadi saat melihat tatapan dingin Kiara.

Baru saja Vino mendudukkan dirinya di kursi dan menyandarkan kepala yang terasa pening, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terdorong keras tanpa ketukan.

"Kak Vino! Hiks... Kakak jahat banget!"

Shela menyerobot masuk dengan wajah berantakan, maskara yang luntur membasahi pipinya, dan napas yang tersengal-sengal. Tanpa memedulikan etika kantor, gadis itu langsung menerobos menuju meja kerja Vino sambil menangis terisak-isak, memancing perhatian beberapa karyawan di luar yang mulai berbisik-bisik. Bahkan sekertaris Vino yang ada di depan pintu tak bisa menahan Shela. Apalagi selama Dua bulan terakhir setelah Shela bekerja di kantor yang sama, staff administrasi itu memang sering keluar masuk ruangan Vino yang menjabat sebagai Manager.

"Maaf Pak!" ucap sekretaris Vino merasa bersalah di ambang pintu.

"Kenapa Kakak blokir nomor aku?! Kenapa Kakak tega ngusir aku di telepon tadi?!" jerit Shela dramatis, mencoba menghampiri dan memegang lengan Vino.

"Aku ini sepupu Kakak! Aku tak punya siapa-siapa di sini selain kamu!"

Vino tidak bergeming. Dia bahkan tidak berkedip saat melihat Shela berdiri di hadapannya. Tatapan matanya yang dulu selalu memancarkan rasa iba, kini runtuh sepenuhnya, berganti menjadi tatapan dingin, kosong, dan tajam bak sembilu.

Dia berdiri perlahan, memotong jarak di antara mereka. Kehadiran Vino yang mendadak terasa mengintimidasi membuat isakan Shela perlahan mencicit.

"Kamu punya waktu tiga detik untuk keluar dari ruangan ini," ucap Vino dengan nada datar, namun begitu dingin hingga sanggup membekukan udara di ruangan itu.

"Kak... hiks... aku cuma mau..."

"Satu."

"Kak Vino, dengarin aku dulu! Kak Kiara itu cuma nyari alasan buat ngerusak hubungan keluarga kita! Masa cuma gara-gara es krim..."

"Dua." Vino meraih telepon interkom di mejanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Shela.

"Kak Vino! Jangan kaya gini! Aku takut... Aku akan menemui Kak Kiara dan meminta maaf juga menjelaskan semuanya! Jangan begini Kak Vino..." Shela mulai panik, tangisannya yang tadi dibuat-buat kini berubah menjadi ketakutan nyata saat melihat ketegasan di wajah sepupunya.

"Tiga."

Vino menekan tombol interkom. "Sekuriti, tolong ke ruangan saya sekarang. Ada orang luar tanpa kepetingan yang mengganggu ketertiban kerja."

"Kak Vino! Kamu gila ya?! Kamu mau usir adik kamu sendiri pake sekuriti?!" pekik Shela histeris, tidak percaya pria yang selama ini selalu memanjakannya tega bertindak sejauh ini.

"Ini kantor, tolong jaga etikamu! Jangan membuat keributan yang berpengaruh pada jabatanku di sini!" jawab Vino dingin.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!