Indonesia
NovelToon NovelToon

Menantu yang Diremehkan

Episode 1

Bab 1: Sepatu di Depan Pintu

Ban mobil menjerit di aspal basah.

Surya Prasetyo mundur setengah langkah. Kantong belanja di tangan kirinya terlepas, bawang merah dan cabai rawit berguling ke tepi jalan. Hanya satu detik. Kalau ia melangkah sedikit lebih cepat, bumper hitam mobil itu sudah menghantam lututnya, mungkin dadanya.

Mobil itu tidak berhenti.

Ia hanya melihat plat belakangnya sebentar sebelum kendaraan itu menghilang di tikungan Perumahan Bintaro. Napas Surya tertahan. Jantungnya memukul tulang rusuk seperti hendak keluar.

BRAK!

Sebuah Maserati perak berhenti mendadak tidak jauh darinya. Dari balik kaca gelap, seseorang seolah menatapnya. Tidak lama. Mobil itu hanya diam beberapa detik, lalu melaju pelan, meninggalkan bau rem panas dan rasa dingin di tengkuk Surya.

"Mas, hati-hati kalau nyebrang!" teriak tukang ojek dari warung seberang.

Surya memaksakan senyum. "Iya, Bang. Saya kurang fokus."

Kurang fokus?

Hari ini ulang tahun pernikahannya yang ketiga.

Ia sudah bangun sejak subuh, membersihkan dapur, mencuci baju Nadia, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan makan malam. Nadia bilang ia akan pulang lebih cepat. Surya ingin memasak ayam kecap, sup jagung, dan puding mangga, menu sederhana yang pernah membuat Nadia tersenyum sebelum mereka menikah.

Senyum itu sudah lama hilang.

Tiga tahun tinggal di rumah keluarga Kusuma membuat Surya hafal suara hinaan. Suara piring yang dilempar ke wastafel. Suara Nadia berkata, "Kamu tuh nggak ada apa-apanya tanpa keluarga aku." Suara ayah mertuanya yang paling ia benci, berat dan penuh jijik.

"Lebih baik pelihara anjing, setidaknya dia setia!"

Surya memungut belanjaannya satu per satu. Ia menahan rasa gemetar di jari, lalu berjalan pulang.

Rumah dua lantai keluarga Kusuma terlihat terang dari luar. Lampu teras menyala, tirai ruang tamu tertutup. Sepasang sandal Nadia ada di dekat pintu.

Dan di sebelahnya, ada sepasang sepatu laki-laki.

Sepatu kulit hitam. Mahal. Bukan milik Surya.

Tubuh Surya berhenti.

Ia menatap sepatu itu lama. Ujungnya mengilap, masih basah oleh sisa hujan. Ukurannya lebih besar darinya. Ada aroma parfum maskulin yang asing, tajam, bercampur bau kulit baru.

Surya menelan ludah. Pelan-pelan ia membuka pintu.

Rumah itu tidak terkunci.

Ruang tamu kosong. Pendingin ruangan menyala terlalu dingin. Di meja makan, ada dua gelas wine, satu lipstik merah menempel di bibir gelas. Nadia tidak pernah minum wine bersamanya. Ia selalu bilang minuman seperti itu mubazir kalau hanya diminum bersama suami yang tidak menghasilkan uang.

Dari lantai atas, terdengar suara.

Awalnya samar. Lalu jelas.

Tawa Nadia.

Kemudian suara laki-laki.

Surya berdiri di bawah tangga. Kantong belanja di tangannya menggantung seperti beban mati. Ia ingin memanggil nama istrinya. Namun, tenggorokannya mengering.

"Mas, pelan," suara Nadia terdengar manja, lembut dengan cara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia pakai pada Surya. "Dia bisa pulang kapan saja."

Laki-laki itu tertawa rendah. "Surya? Laki-laki itu bahkan kalau lihat bayangan sendiri saja takut. Kamu serius masih khawatir sama dia?"

Surya mencengkeram pegangan tangga.

Jari-jarinya memutih.

"Bukan khawatir," kata Nadia. "Aku cuma nggak mau rencana kita berantakan."

Rencana?

Surya naik satu anak tangga. Lalu satu lagi. Ia bergerak tanpa suara, tubuhnya hafal setiap bagian rumah yang selama ini ia bersihkan.

Pintu kamar utama tidak tertutup rapat. Dari celahnya, cahaya kuning lampu tidur jatuh ke koridor. Surya tidak melihat ke dalam. Ia tidak sanggup.

Ia hanya mendengar.

"Tadi orangmu hampir berhasil?" tanya Nadia.

"Hampir," jawab laki-laki itu. "Supirnya bilang Surya mundur mendadak. Ada mobil lain juga yang bikin situasi kacau."

Darah Surya seperti membeku.

Mobil hitam itu.

Maserati perak itu.

"Bodoh," desis Nadia. "Aku sudah capek lihat dia mondar-mandir di rumah ini. Tiga tahun aku tahan hidup sama laki-laki nggak berguna. Papa juga makin parah. Dokter bilang ginjalnya nggak bisa menunggu lama."

"Tenang, Sayang." Suara laki-laki itu tetap santai. "Polis asuransi jiwa lima miliar itu sudah aktif, kan?"

"Sudah. Penerima manfaatnya aku."

Surya hampir kehilangan pijakan.

Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar.

Ia ingat dua bulan lalu Nadia memaksanya menandatangani beberapa dokumen. Katanya untuk pengajuan kartu kredit dan administrasi keluarga. Surya tidak banyak bertanya. Sejak menikah, setiap kali ia bertanya, Nadia akan menatapnya seolah ia pembantu yang lupa diri.

"Kalau dia mati karena kecelakaan, uangnya cair," lanjut Nadia. "Setelah itu, aku bisa bayar semua biaya rumah sakit Papa. Sisanya kita mulai hidup baru."

"Dan ginjalnya?"

Nadia tertawa pelan. Suara itu menusuk lebih tajam daripada pecahan kaca.

"Hasil medical check-up kemarin cocok. Dokter bilang peluangnya bagus. Kalau kecelakaan dibuat rapi, donor organ bisa diurus. Surat persetujuan juga sudah aku siapkan. Tinggal cari cara supaya tanda tangannya lengkap."

Surya mundur satu langkah.

Punggungnya menabrak meja kecil di koridor. Sebuah map cokelat hampir jatuh. Ia menahannya dengan refleks.

Map itu terbuka.

Di dalamnya ada salinan polis asuransi. Nama tertanggung: Surya Prasetyo. Uang pertanggungan: Rp 5.000.000.000. Penerima manfaat: Nadia Kusuma.

Di bawahnya, selembar formulir lain.

Surat persetujuan donor ginjal.

Nama pasien: ayah Nadia.

Nama calon donor: Surya Prasetyo.

Tanda tangan calon donor masih kosong.

Surya menatap kertas itu. Matanya perih. Namun, air mata tidak keluar. Ada sesuatu yang lebih dingin dari tangis merayap dari dadanya ke seluruh tubuh.

Mereka tidak hanya mengkhianatinya.

Mereka sedang menghitung harga kematiannya.

"Setelah semuanya selesai," bisik Nadia dari dalam kamar, "kita menikah, ya?"

"Tentu," jawab laki-laki itu. "Tapi bersihkan dulu hidupmu dari sampah itu."

Sampah.

Kata itu menancap.

Surya menutup map dengan tangan gemetar. Ia meletakkannya kembali persis seperti semula. Setiap gerak harus pelan. Setiap napas harus ditahan.

Ia ingin menerobos masuk.

Ia ingin menyeret laki-laki itu keluar.

Ia ingin bertanya kepada Nadia, tiga tahun ini apa artinya. Semua nasi hangat yang ia siapkan. Semua pakaian yang ia cuci. Semua hinaan yang ia telan demi menjaga rumah tangga.

Namun bayangan mobil hitam tadi muncul lagi.

Polis itu.

Surat donor itu.

Kalau ia meledak sekarang, ia hanya memberi mereka alasan untuk menyelesaikan rencana lebih cepat.

Surya turun dari tangga tanpa suara. Ia mengambil kantong belanja yang tadi jatuh di ruang tamu. Cabai rawitnya tercecer. Satu butir tomat pecah, daging merahnya menempel di lantai marmer seperti luka.

Ia menatapnya sebentar.

Lalu ia pergi.

Pintu depan tertutup pelan di belakangnya.

Malam sudah turun. Hujan berubah menjadi gerimis tipis. Surya berjalan tanpa tujuan melewati jalan kompleks, pos satpam, minimarket, lalu trotoar besar menuju sungai. Handphone di sakunya bergetar berkali-kali. Nadia.

Ia tidak mengangkat.

Sekali lagi, layar menyala.

Nadia: Kamu di mana? Jangan bikin masalah. Pulang dan cuci piring.

Surya tertawa.

Suara itu keluar pendek, pecah, seperti benda rusak.

Ia terus berjalan sampai lampu kota memantul di air sungai yang gelap. Di bawah jembatan kecil, bau lumpur dan sampah basah naik bersama angin malam. Surya duduk di tepi beton. Sepatunya basah. Celananya kotor. Kantong belanja ia letakkan di samping, isi makan malam ulang tahun pernikahan mereka sudah tidak berarti apa-apa.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun, ia kira sabar adalah bentuk cinta.

Ternyata, di mata Nadia, sabarnya adalah tali yang enak ditarik. Diamnya adalah izin untuk diinjak. Hidupnya adalah uang lima miliar dan sepasang ginjal yang bisa dipakai menyelamatkan ayah orang lain.

"Ya Allah..." bisiknya, nyaris hilang ditelan suara air. "Kalau aku masih harus hidup, tunjukkan jalanku."

Tidak ada jawaban dari langit.

Hanya sungai yang mengalir.

Surya berbaring di beton dingin. Matanya terbuka menatap bagian bawah jembatan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar lagi suara Nadia. Mas. Sayang. Sampah itu.

Menjelang subuh, tubuhnya menggigil. Punggungnya kaku, tenggorokannya kering. Ia tidak tahu apakah ia tidur atau hanya pingsan sebentar.

Handphone-nya kembali bergetar.

Kali ini bukan Nadia.

Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nama yang sama sejak tengah malam.

Di layar yang retak oleh lembap, muncul nama yang membuat dada Surya akhirnya sakit seperti ditusuk.

Mbak Dewi.

Episode 2

Bab 2: Tamparan Kakak

"Angkat, Dik."

Suara Dewi Prasetyo terdengar serak dari pengeras kecil handphone. Di belakang suaranya ada deru kendaraan, napas terburu-buru, dan kepanikan yang ia paksa agar tidak pecah.

Surya menatap layar itu beberapa detik sebelum ibu jarinya bergerak.

"Kak..."

Hanya satu kata. Setelah itu tenggorokannya terkunci.

"Kamu di mana?" tanya Dewi. "Jangan bohong. Lokasi HP kamu berhenti di dekat sungai dari tadi malam. Kakak sudah di Jakarta."

Surya memejamkan mata.

Ternyata kakaknya sudah datang.

Sejak Surya menikah dengan Nadia, Dewi jarang meminta apa pun. Ia tetap tinggal di Solo, bekerja di pabrik, mengirim pesan singkat setiap akhir pekan, dan selalu bertanya apakah Surya makan cukup. Tetapi dulu, setelah handphone Surya pernah hilang di terminal, Dewi memaksa memasang fitur berbagi lokasi.

"Biar kalau kamu kenapa-kenapa, Kakak bisa cari," katanya waktu itu.

Surya pernah menertawakan itu.

Sekarang tawa itu terasa seperti dosa.

"Di bawah jembatan kecil," bisik Surya. "Dekat jalan masuk kompleks."

Telepon langsung mati.

Lima belas menit kemudian, suara langkah terburu-buru memecah pagi yang masih kelabu. Dewi muncul dari ujung trotoar dengan jaket tipis, tas kain pabrik tersampir di bahu, dan wajah pucat karena perjalanan malam. Rambutnya berantakan. Matanya merah.

Ia berhenti ketika melihat Surya.

Adiknya, lulusan hukum UNAIR yang dulu menjadi kebanggaan seluruh kampung, terbaring di beton sungai seperti orang buangan. Celananya kotor. Bibirnya pucat. Di sampingnya ada kantong belanja basah yang isinya sudah rusak.

Dewi berjalan cepat.

PLAK!

Tamparan itu mendarat di pipi Surya.

Suara kerasnya memantul di bawah jembatan.

Surya tidak menghindar. Kepalanya miring, pipinya panas. Namun, rasa sakit itu justru membuat matanya kembali fokus.

"Kamu mau mati di sini?" suara Dewi pecah. "Lalu aku gimana? Aku yang sudah korbankan segalanya supaya kamu bisa kuliah!"

Surya menatap kakaknya.

Dewi mencengkeram kerah bajunya, mengguncangnya sekali. "Jawab, Surya! Kamu pikir hidupmu cuma punya kamu? Kamu pikir kalau kamu hancur, Kakak bisa pulang ke Solo dan kerja seperti biasa?"

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan.

Dalam kepala Surya, gambar lama muncul beruntun. Dewi yang masih berseragam SMA, menangis diam-diam di depan kepala sekolah karena harus berhenti. Dewi yang pulang dari pabrik dengan tangan penuh luka kecil karena mesin jahit. Dewi yang menyembunyikan uang lembur di dalam kaleng biskuit supaya Surya bisa membayar biaya kos di Surabaya. Dewi yang tersenyum saat ia diterima di Fakultas Hukum UNAIR, padahal sandal yang dipakainya sudah hampir putus.

"Dik," kata Dewi lebih pelan. Namun, lebih sakit. "Kakak nggak membesarkan kamu supaya kamu kalah di depan orang-orang seperti mereka."

Surya menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, air matanya jatuh.

Bukan karena Nadia.

Karena ia hampir membuang hidup yang dibayar Dewi dengan masa mudanya.

"Nadia selingkuh," katanya.

Dewi membeku.

Surya menarik napas. Suaranya masih parau. Namun, setiap kata mulai menemukan bentuk. Ia menceritakan sepatu laki-laki di depan pintu. Suara dari kamar. Mobil yang hampir menabraknya. Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar. Surat persetujuan donor ginjal untuk ayah Nadia.

Makin lama Dewi makin diam.

Di akhir cerita, tangan kakaknya gemetar. Bukan karena takut. Karena marah.

"Kita lapor polisi," katanya.

Surya menggeleng.

"Belum."

"Belum?" Mata Dewi melebar. "Mereka mau bunuh kamu, Dik!"

"Aku tahu." Surya mengusap pipinya yang masih panas. "Tapi yang aku punya sekarang cuma omongan yang aku dengar sendiri dan salinan dokumen yang belum aku pegang. Mereka punya uang, rumah, koneksi, dan alasan untuk bilang aku suami miskin yang stres karena masalah rumah tangga."

Dewi menggigit bibir.

Surya berdiri perlahan. Lututnya hampir menyerah. Namun, ia menahan. Sungai di belakangnya terus mengalir, membawa bau lumpur dan sisa hujan.

"Kalau aku datang ke polisi sekarang tanpa bukti lengkap, mereka akan bersih-bersih. Polis dipindahkan. Surat donor hilang. Orang yang mau menabrakku kabur. Laki-laki itu menghilang." Tatapan Surya berubah dingin. "Aku nggak mau mereka takut. Aku mau mereka yakin aku masih bodoh."

Dewi menatapnya lama.

Ia mengenal adiknya. Surya yang dulu selalu menunduk jika dimarahi orang tua Nadia. Surya yang memilih diam saat dipermalukan di arisan keluarga. Surya yang memasak, mencuci, dan berkata semua baik-baik saja agar Dewi tidak khawatir.

Pria di depannya masih kurus dan basah.

Tetapi matanya berbeda.

"Apa rencanamu?" tanya Dewi.

Surya mengambil kantong belanja itu. Tomat pecah di dalam plastik. Ia menatapnya sebentar, lalu membuangnya ke tempat sampah dekat jembatan.

"Aku pulang."

"Apa?"

"Aku pulang ke rumah Nadia," kata Surya. "Aku minta maaf. Aku pura-pura takut. Aku biarkan mereka berpikir aku masih bisa dikendalikan."

Dewi mencengkeram lengannya. "Itu berbahaya."

"Lebih berbahaya kalau aku lari tanpa bukti." Suara Surya rendah. "Pertama, aku harus tahu semua dokumen mereka. Polis asuransi itu harus diubah. Surat donor itu harus jadi senjata balik. Setelah itu, aku cari rekaman CCTV kompleks. Mobil laki-laki itu pasti pernah masuk."

Dewi menatapnya seperti baru melihat seseorang yang tumbuh di depan matanya.

"Kamu yakin bisa menahan diri?"

Surya terdiam.

Bayangan Nadia dan suara laki-laki itu kembali menusuk kepalanya. Sampah. Bersihkan hidupmu dari sampah itu.

Jari Surya mengepal.

"Aku sudah menahan tiga tahun," katanya. "Sekarang aku menahan untuk menang."

Dewi menarik napas dalam. Lalu ia merapikan kerah baju Surya dengan tangan yang masih gemetar.

"Kalau kamu jatuh lagi, telepon Kakak. Jangan hilang seperti semalam."

Surya mengangguk. "Iya, Kak."

"Dan satu lagi." Dewi menatapnya tajam. "Jangan pernah lagi berpikir hidupmu murah. Bahkan kalau seluruh keluarga Kusuma bilang kamu nggak berharga, buat Kakak, kamu tetap adik yang Kakak besarkan dengan darah sendiri."

Dada Surya sesak.

Ia tidak memeluk Dewi. Kalau ia memeluknya sekarang, ia takut seluruh pertahanan yang baru ia bangun akan runtuh.

Maka ia hanya menunduk.

"Aku akan buat mereka semua berlutut," katanya pelan.

Dewi tidak menjawab.

Tetapi kali ini, ia tidak menamparnya.

Matahari mulai naik ketika Surya kembali ke rumah keluarga Kusuma. Dewi tidak ikut masuk. Ia berdiri di seberang jalan, mengawasi sampai Surya membuka pagar.

Di teras, sepatu laki-laki itu sudah tidak ada.

Nadia muncul dari ruang tamu dengan rambut rapi dan wajah kesal. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Seolah ia bukan perempuan yang baru saja menghitung harga nyawa suaminya.

"Kamu kemarin ke mana?" bentaknya. "HP ditelepon nggak diangkat. Kamu pikir kamu siapa bikin aku repot?"

Surya menunduk.

"Maaf," katanya.

Nadia menyipitkan mata, puas melihat kepalanya kembali rendah. "Drama banget. Cepat cuci piring. Dapur berantakan dari semalam."

Di meja dekat sofa, Surya melihat map cokelat yang sama. Di sebelahnya ada berkas lain dengan sampul putih.

Perjanjian pranikah.

Dokumen yang dulu dibuat keluarga Kusuma untuk memastikan Surya tidak berhak atas harta apa pun. Dulu, kertas itu adalah rantai di lehernya.

Sekarang, mungkin kertas itu juga bisa menjadi pisau yang membebaskannya dari utang mereka.

Surya berjalan ke dapur.

Air keran menyala. Piring kotor menumpuk. Nadia masih mengomel di ruang tamu, suaranya tajam seperti biasa.

Surya mencuci piring satu per satu.

Kepalanya tetap tertunduk.

Namun di sudut bibirnya, muncul senyum yang sangat tipis.

Itu bukan senyum seorang suami yang menyerah.

Itu senyum pemburu yang baru memilih mangsa pertama.

Episode 3

Bab 3: Tangan yang Mencengkeram

Itu senyum pemburu yang baru memilih mangsa pertama.

Senyum itu hilang sebelum Nadia sempat melihatnya.

Surya mematikan keran, menyusun piring basah di rak, lalu mengeringkan tangan dengan lap dapur. Dari ruang tamu, suara Nadia masih terdengar. Ia sedang menelepon seseorang, nadanya dibuat lirih, seolah perempuan paling malang di dunia.

"Iya, Papa belum stabil. Aku stres banget," katanya. "Surya? Dia pulang. Biasa, bikin masalah terus."

Surya menunduk. Namun, telinganya menangkap setiap kata.

Ketika Nadia menutup telepon, ia masuk ke dapur dengan wajah kesal. "Nanti siang ikut aku ke RS Medistra."

Surya mengangkat kepala sedikit. "Papa?"

"Kondisinya memburuk." Nadia menyilangkan tangan. "Dokter mau bicara soal donor keluarga. Kamu diam saja di sana. Jangan bikin malu."

Donor keluarga.

Kalimat itu seperti pintu yang memang sudah ia tunggu.

Surya mengusap sisa air di jarinya, lalu berkata pelan, "Kalau memang aku cocok, aku mau bantu."

Nadia terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya kehilangan kesal. Matanya melebar, lalu kilatan gembira muncul terlalu cepat untuk disembunyikan.

"Kamu serius?"

Surya menatap lantai. "Papa tetap orang tua kamu. Aku... aku cuma ingin rumah ini tenang lagi."

Nadia mendekat. Tangannya yang biasanya hanya menunjuk dan memerintah, kali ini menyentuh lengan Surya.

Sentuhan itu membuat perut Surya mual.

"Akhirnya kamu bisa berpikir benar," katanya, suaranya mendadak lembut. "Aku tahu kamu nggak sepenuhnya nggak berguna."

Surya hampir tertawa.

Tidak sepenuhnya tidak berguna.

Itulah harga kemanusiaannya di mata Nadia: satu ginjal.

Ia menunduk lebih dalam. "Aku perlu bawa KTP?"

"Bawa. Kartu BPJS juga kalau ada. Semua dokumen nanti aku urus."

Tentu saja.

Semua dokumen sudah ia urus sejak lama.

Satu jam kemudian, mereka berada di dalam mobil menuju RS Medistra. Nadia menyetir sendiri. Parfumnya memenuhi kabin, terlalu manis, membuat Surya kembali teringat gelas wine di meja makan.

Nadia beberapa kali meliriknya.

"Kamu jangan berubah pikiran," katanya.

"Aku tidak akan lari."

"Bagus. Papa selama ini memang keras sama kamu. Namun, itu karena dia ingin kamu jadi laki-laki yang berguna."

Surya menatap jalan lewat kaca depan. Di lampu merah, ia melihat bayangannya sendiri di kaca. Wajah pucat. Mata cekung. Pipi masih menyisakan panas tamparan Dewi.

Laki-laki yang berguna.

Kalimat itu dulu mungkin akan membuatnya merasa bersalah.

Sekarang, kalimat itu hanya menambah daftar utang yang harus dibayar keluarga Kusuma.

RS Medistra siang itu ramai. Bau antiseptik, kopi dari kafe lantai dasar, dan kecemasan keluarga pasien bercampur di udara. Nadia berjalan cepat menuju lift, tidak menunggu Surya. Ia hanya menoleh sekali.

"Cepat."

Surya mengikuti.

Di lantai perawatan, beberapa kerabat keluarga Kusuma sudah berkumpul di depan kamar VIP. Ada dua tante dengan tas branded, seorang om berperut besar, dan sepupu Nadia yang sedang memainkan handphone. Begitu Surya datang, percakapan mereka berhenti.

Lalu senyum mengejek muncul satu per satu.

Sebelum masuk kamar, Nadia berhenti di meja perawat untuk menanyakan jadwal pemeriksaan lanjutan. Perawat itu meminta KTP dan data keluarga. Nadia langsung menyerahkan map kecil dari tasnya, rapi, lengkap, seperti orang yang sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum hari ini.

"Calon donor?" tanya perawat.

Nadia menunjuk Surya dengan dagu. "Suami saya."

Perawat memandang Surya sebentar, lalu berkata dengan nada hati-hati, "Nanti tetap harus ada konseling dan persetujuan langsung dari Bapak. Donor organ tidak bisa hanya berdasarkan keputusan keluarga."

"Iya, Mbak, saya tahu," jawab Nadia cepat. Senyumnya tipis. "Tapi dia sudah setuju. Dia memang tinggal bersama keluarga kami. Selama ini kami yang urus dia. Jadi dia pasti mengerti kewajibannya."

Kewajiban.

Surya mendengar kata itu jatuh di lantai rumah sakit seperti koin kotor.

Perawat itu tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, seorang kerabat Nadia sudah mendekat dan menyelipkan komentar dengan suara cukup keras.

"Kalau bukan keluarga Kusuma, dia mungkin masih numpang hidup entah di mana. Masa untuk menyelamatkan mertua sendiri saja harus banyak mikir?"

Beberapa orang tertawa kecil.

Surya tetap diam.

Diamnya membuat Nadia makin yakin ia menang.

"Oh, ini suaminya Nadia?" kata salah satu tante, pura-pura lupa. "Yang di rumah ngurusin dapur itu?"

Sepupu Nadia tertawa. "Kirain pembantu baru, Tante."

Nadia tidak membela.

Ia malah berkata, "Sudah, jangan ribut. Dia mau bantu Papa."

Kalimat itu membuat semua mata menilai tubuh Surya dari kepala sampai kaki. Bukan seperti melihat keluarga. Seperti melihat barang cadangan.

Om berperut besar menepuk bahu Surya cukup keras. "Nah, akhirnya ada gunanya juga kamu tinggal di rumah Kusuma tiga tahun. Kalau Pak Kusuma selamat, kamu harus bersyukur. Hidupmu jadi ada manfaat."

Surya mengangkat wajah.

Untuk sesaat, om itu berhenti bicara.

Tatapan Surya terlalu tenang.

Lalu Surya menunduk lagi. "Saya hanya melakukan kewajiban."

"Dengar itu?" Tante yang pertama tertawa kecil. "Menantu memang harus tahu diri."

Nadia tampak puas. Ia membuka pintu kamar.

Pak Kusuma terbaring di ranjang dengan wajah pucat kekuningan. Selang infus menempel di tangan. Monitor di samping ranjang berbunyi teratur. Namun, setiap bunyinya terdengar seperti hitungan mundur.

Begitu melihat Surya, mata pria tua itu bergerak.

"Kamu," suaranya serak. "Ke sini."

Surya mendekat.

Pak Kusuma mengangkat tangan kurusnya, lalu mencengkeram pergelangan Surya dengan kekuatan mengejutkan.

"Tiga tahun kamu makan gratis di rumah kami," katanya, napasnya berat. "Sekarang baru bisa berguna."

Nadia berdiri di sisi ranjang, matanya berkaca-kaca dibuat-buat. Para kerabat berkumpul di pintu, menonton.

Surya merasakan kuku Pak Kusuma menekan kulitnya.

Genggaman itu bukan permintaan tolong.

Itu perintah.

Dulu, Surya mungkin akan gemetar. Ia mungkin akan mengangguk, merasa bersalah, merasa harus membayar setiap nasi yang ia makan di rumah itu.

Sekarang ia hanya melihat tangan itu.

Tangan yang selama tiga tahun menunjuk wajahnya.

Tangan yang pernah melempar sendok ke lantai dan menyuruhnya mengambilnya.

Tangan yang kini mencengkeramnya seperti orang tenggelam mencengkeram batang kayu.

"Saya akan bantu, Pak," kata Surya.

Nadia menarik napas lega. Beberapa kerabat langsung berbisik, memuji Nadia karena "berhasil membujuk suaminya". Tidak ada yang bertanya apakah Surya takut. Tidak ada yang bertanya apakah ia ingin hidup utuh.

Pak Kusuma menatapnya tajam. "Jangan coba-coba mundur."

Surya membungkuk sedikit, wajahnya dekat dengan ranjang. Dari luar, ia tampak seperti menantu patuh yang akhirnya sadar diri.

Di dalam dadanya, sesuatu menjadi dingin dan bersih.

Genggam erat-erat, Pak.

Karena ini terakhir kalinya.

Seorang dokter muda masuk bersama perawat, membawa beberapa formulir pemeriksaan. Nadia langsung menyambut mereka dengan senyum yang terlalu siap.

"Dok, suami saya bersedia. Apa bisa langsung proses?"

Dokter itu menatap Surya. "Bapak Surya, kami tetap perlu menjelaskan risiko medis dan memastikan persetujuan Bapak tanpa paksaan."

Surya hampir menghormati dokter itu karena satu kalimat tersebut.

Nadia cepat menyela, "Dia sudah setuju, Dok. Dari rumah dia sendiri yang bilang mau."

"Tetap harus ada penjelasan," kata dokter itu, profesional.

Surya mengangguk. "Saya mengerti, Dok."

Nadia menggigit bibir. Namun, tidak berani membantah di depan dokter. Ia membuka tas tangannya, mengeluarkan map putih yang sudah Surya lihat semalam.

Map itu diletakkan di meja kecil samping ranjang.

Pak Kusuma masih mencengkeram pergelangan Surya.

Nadia membuka halaman pertama.

Di sana, nama Surya Prasetyo sudah diketik rapi sebagai calon donor.

Di samping kertas itu, ia meletakkan sebuah pulpen hitam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!