Indonesia
NovelToon NovelToon

MY IDOL MY SUGAR DADDY

~PELANGGAN DI SUDUT KAFE

Musim gugur di kota Seoul terasa dingin menusuk. Daun berwarna jingga berjatuhan di sepanjang jalan raya, terbawa angin yang mulai kencang. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas, kafe bernama Nudake berdiri tenang dengan lampu yang hangat. Aroma biji kopi sangrai tercium hingga ke luar pintu.

Kafe ini lokasinya sangat strategis. Tak jauh dari sini berdiri gedung perkantoran dan beberapa agensi hiburan ternama. Sering ada orang yang menutupi wajah datang ke sini, mencari tempat sepi agar tidak dilihat penggemar atau kamera.

Di balik meja kasir, Disya Putri sedang sibuk menyusun pesanan. Gadis berusia dua puluh tahun itu tampak tergesa-gesa. Rambut hitamnya yang pendek sebahu diikat asal-asalan agar tak mengganggu pekerjaannya. Wajahnya yang mungil cantik dengan perpaduan darah Indonesia dan Korea. Matanya sipit seperti ibunya, warna kulitnya hangat seperti ayahnya yang sudah tiada. Saat ia tersenyum, dua lesung pipi yang indah terlihat jelas di pipinya.

Hari ini Disya terlihat lelah. Sejak pagi ia duduk berjam-jam di ruang kuliah Universitas Hayang, mendengarkan penjelasan dosen jurusan Ekonomi. Biaya hidup di Seoul mahal, termasuk sewa apartemen kecil dan kebutuhan lain. Ibunya hanya mengelola rumah makan kecil bernama Ga Ne di Pulau Jeju. Disya bekerja di sini agar tidak membebani ibunya.

"Disya, pelan-pelan saja," kata Lee Tae Hee, pemilik kafe. "Kau ini kadang ceroboh."

"Maaf Oppa Tae Hee," jawab Disya sambil tertawa. "Aku janji hati-hati."

"Jangan sampai jatuh ya," tambah Lee Mi Ran, kekasih Tae Hee yang bekerja sebagai psikolog. "Kau sudah makan belum?"

"Sudah sedikit Unnie Mi Ran, terima kasih," jawab Disya sopan.

Pintu kafe terbuka perlahan. Seorang pria bertubuh tinggi besar masuk. Ia memakai jaket hoodie hitam, topi hitam, masker hitam, dan celana hitam. Tidak ada warna lain di pakaiannya. Ia berjalan lurus tanpa menoleh, menuju meja paling pojok dan tersembunyi di balik tanaman hias.

Disya menghampirinya. "Selamat datang Oppa. Seperti biasa? Kopi hitam tanpa gula, suhu panas sedang, dan sepotong roti gandum panggang?"

Pria itu mengangkat kepala sedikit. Dari balik topi, sepasang mata tajam dan dingin menatapnya. "Benar. Jangan ganggu aku sampai pesanan datang."

"Baik Oppa." Disya pergi menyiapkan pesanan.

"Itu Min Jae atau Zelo ya?" bisik Tae Hee. "Katanya dia jarang keluar rumah, tidur adalah hal yang paling ia sukai."

"Iya Oppa," jawab Disya. "Dia diam saja, tapi tidak jahat."

Tak lama kemudian Disya mengantar pesanan. Ia melihat Min Jae menyandarkan punggung lemas ke kursi, matanya terpejam tampak sangat lelah. "Silakan dinikmati Oppa."

Min Jae membuka mata sebentar. "Terima kasih." Ia menyesap kopi pelan.

Tiba-tiba pintu didorong kasar. Alice, keponakan pemilik agensi Blue Sky, masuk sambil berbicara keras di telepon. Ia berjalan tergesa-gesa tanpa melihat ke depan, bahunya menabrak lengan Disya yang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk. Nampan terlepas, gelas jatuh dan pecah berantakan.

"Maaf Unnie! Aku tidak sengaja!" seru Disya panik berjongkok. "Biarkan aku bersihkan sekarang, aku akan ganti rugi bajamu!"

Alice menendang pecahan kaca hingga melayang ke arah Disya.

"Kau ini buta ya?! Kau tahu berapa harga baju ini? Kau takkan sanggup bayar walau bekerja seumur hidup! Orang rendahan memang tak tahu aturan!"

Disya menunduk diam menahan tangis. Ia tak berani membalas, takut dipecat.

Di sudut ruangan, Min Jae melihat semuanya. Tangannya yang memegang cangkir berhenti bergerak. Matanya menatap Alice dengan dingin, lalu beralih ke Disya yang gemetar menahan sedih. Ia tidak ikut campur, tapi memperhatikan gadis itu terus.

Setelah puas memaki, Alice mendengus kasar dan pergi. Disya membersihkan lantai dengan hati-hati, lalu meminta izin sebentar ke balkon belakang untuk menenangkan diri.

Di balkon yang berangin, ia menelepon Jack. Tak lama suara Jack terdengar. "Halo cantikku. Kenapa baru menelponku? Ada yang membuatmu kesal?"

Disya menghela napas panjang. "Ah, capek sekali hidup Oppa. Kerja keras dari pagi sampai malam, dapat uang sedikit, eh masih sering dimaki orang yang sombong begitu. Kadang aku berpikir... bagaimana caranya mendapatkan uang banyak tanpa harus secapek ini? Aku ingin sekali hidup tenang, tidak perlu pusing mikirin uang kuliah, sewa apartemen, atau kebutuhan Ibu di Jeju."

Jack tertawa renyah. "Mudah saja. Jadilah istriku saja. Kamu tidak perlu kerja lagi, semua terjamin."

Disya pura-pura batuk dan menutup mulut. "Eugh! Terima kasih Oppa, tapi aku tidak mau barang bekas!"

Keduanya tertawa lepas melupakan kesedihan tadi.

"Ya sudah," kata Jack. "Kalau butuh bantuan apa pun, panggil aku saja. Aku pasti datang."

"Iya Oppa. Sampai nanti," jawab Disya lalu menutup telepon.

Disya tidak tahu, Min Jae berdiri di balik pintu kaca balkon yang sedikit terbuka. Ia hendak mencari udara segar, dan mendengar seluruh percakapan itu dengan jelas.

Min Jae kembali ke meja pojoknya. Ia berpikir panjang. Ia tidak ingin menjalin cinta serius atau pernikahan, tapi hatinya sepi dan hasratnya tak bisa dilampiaskan ke sembarang wanita. Disya butuh bantuan hidup. Mungkin mereka bisa membuat perjanjian saling menguntungkan.

"Aku berikan apa yang dia butuhkan. Dia berikan apa yang aku butuhkan. Tanpa cinta, tanpa janji," batin Min Jae.

Malam itu takdir mulai menyatukan dua dunia yang berbeda.

~TAWARAN TAK TERDUGA

Jam kerja kafe Nudake berakhir pukul sebelas malam. Lampu ruangan dipadamkan satu per satu, menyisakan cahaya remang di ruang tengah. Disya melipat seragamnya rapi, menyimpannya ke dalam tas ransel yang sudah agak usang. Tubuhnya terasa pegal, namun pikirannya masih tertinggal pada kejadian tadi siang dan percakapan dengan Jack.

"Disya, kau pulang dulu ya? Hati-hati di jalan," kata Lee Tae Hee sambil mengunci pintu belakang. "Besok tak perlu buru-buru datang jika kuliahmu mulai siang."

"Terima kasih Oppa Tae Hee. Kau juga hati-hati," jawab Disya sambil tersenyum, lesung pipinya samar terlihat.

Udara malam Seoul makin dingin. Disya berjalan menuju halte tak jauh dari sana, berniat menunggu bus seperti biasa. Namun baru beberapa langkah, sebuah sedan hitam besar berhenti perlahan tepat di hadapannya. Mobil itu tampak sangat mewah, hitam pekat tanpa satu pun coretan.

Jendela sisi pengemudi turun perlahan. Terlihat wajah pria yang selalu bersembunyi di sudut kafe—Min Jae. Kini ia sudah melepas topi dan masker, memperlihatkan wajah aslinya yang tampan namun tetap dingin. Cahaya lampu jalan menyorot garis rahangnya yang tegas.

"Naiklah," ucapnya singkat. Suaranya tenang, tak memaksa namun sulit ditolak.

Disya tertegun. "Eh... Oppa? Ini... untuk saya?"

"Benar. Saya ingin membicarakan sesuatu. Naiklah, malam sudah larut," jawab Min Jae ringkas.

Ragu sejenak, Disya akhirnya membuka pintu dan masuk. Kabin mobil itu luas, hangat, dan berbau wangi lembut. Hanya ada mereka berdua. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan halaman kafe.

"Kau mau ke mana Oppa?" tanyanya pelan, sedikit gugup.

"Ke tempat yang tenang. Tak jauh dari sini," jawab Min Jae menatap jalan sepi. "Saya tak sengaja mendengar percakapanmu di balkon tadi."

Wajah Disya memerah seketika. "Maaf Oppa... saya tak bermaksud berbicara keras dan mengganggu ketenanganmu."

Min Jae menggeleng pelan. "Kau tak mengganggu. Saya justru tertarik dengan apa yang kau katakan. Kau ingin hidup tenang, tak perlu pusing soal uang, bukan?"

Disya menunduk menatap tas di pangkuannya. "Iya... tapi itu hanya angan-angan. Saya tahu saya harus berusaha keras."

Mobil berhenti di tepi danau buatan yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk. Lampu kota tampak samar di kejauhan. Min Jae mematikan mesin, suasana hening sejenak.

"Saya punya tawaran," buka Min Jae perlahan, menatapnya lekat dengan kesungguhan yang jarang terlihat. "Saya bisa penuhi semua kebutuhanmu. Biaya kuliah, sewa apartemen, uang saku lebih dari cukup, hingga kebutuhan ibumu di Jeju pun bisa saya tanggung sepenuhnya."

Disya melongo tak percaya. "Maksud Oppa?"

"Kau tinggal menemani saya," lanjutnya tenang. "Saya tak butuh janji cinta, tak butuh status, tak butuh janji masa depan. Saya hanya butuh tempat pulang yang aman, seseorang yang tulus, dan tak memanfaatkan nama saya sebagai Zelo. Sebagai gantinya, kau tak perlu lagi bekerja seberat ini. Kau bisa fokus kuliah dan hidup tenang."

Disya terpaku. Ia paham betul arti tawaran itu: ikatan tanpa nama, saling memberi apa yang dibutuhkan. Ia gadis realistis, namun mendengarnya langsung membuatnya bimbang.

"Kenapa... kenapa Oppa memilih saya?" tanyanya pelan. "Masih banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih kaya, lebih cocok."

Min Jae menatapnya tajam namun lembut. "Karena kau tampil apa adanya. Kau tak berusaha menyenangkan saya demi keuntungan sendiri. Saat dimaki Alice tadi, kau tak memelas, tak mencari perlindungan. Kau bertahan dengan caramu sendiri. Itu yang saya cari."

Ia berhenti sejenak. "Saya tak ingin menjalin cinta serius. Luka masa lalu masih ada. Tapi saya manusia biasa, saya butuh kehadiran. Saya tak mau melampiaskan perasaan pada sembarang orang. Kau butuh kenyamanan hidup, saya butuh kenyamanan hati. Ini perjanjian yang adil."

Disya menatap wajah pria di sebelahnya. Tak ada senyum palsu, tak ada niat tersembunyi. Pikirannya berputar: kuliah, sewa tempat, ibu yang tak perlu bekerja keras lagi. Namun hatinya bertanya—bisakah ia menjalani hubungan tanpa cinta?

"Berapa lama... perjanjian ini berlangsung?" tanyanya akhirnya.

"Sampai salah satu dari kita merasa tak butuh lagi," jawab Min Jae. "Kau bebas berhenti kapan saja. Saya takkan menahan."

Disya menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Ia menatap kembali ke mata Min Jae, lalu tersenyum tipis.

"Baik Oppa," ucapnya mantap. "Saya terima tawaran itu. Tapi saya punya satu syarat."

"Katakan."

"Jangan pernah berbohong padaku. Dan jangan pernah menyakiti saya dengan sengaja."

Sudut bibir Min Jae terangkat sedikit—senyum tipis yang nyaris tak pernah dilihat orang lain. "Sepakat."

Malam itu, di tepi danau yang tenang, dimulailah perjanjian tanpa nama antara gadis biasa dan idola ternama. Awalnya hanya hitam di atas putih, saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Namun tak ada yang tahu, benih perasaan yang tak direncanakan perlahan mulai tumbuh di antara mereka.

Mobil kembali melaju, membawa mereka menuju jalan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

~ATURAN MAIN YANG JELAS

Mobil mewah milik Min Jae melaju perlahan meninggalkan tepi danau. Lampu jalan berderet memantul di kaca jendela, menciptakan garis cahaya yang kabur. Di dalam kabin hening, hanya terdengar suara halus mesin dan desir angin. Disya duduk diam, kedua tangannya saling genggam erat di pangkuan. Jantungnya berdegup kencang—apa yang baru saja disepakati terasa seperti mimpi yang terlalu besar bagi gadis biasa sepertinya.

Min Jae menyetir dengan tenang, wajahnya datar. Ia tahu sebelum melangkah lebih jauh, segala hal harus diperjelas sampai ke akarnya. Tak boleh ada salah paham, tak boleh ada harapan palsu. Hubungan ini murni berdasarkan kebutuhan, jadi landasannya harus kokoh dan tegas.

"Saya tahu kau pasti masih banyak bertanya di hati," ucap Min Jae tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya rendah namun terdengar jelas. "Sebelum kita mulai, saya akan jelaskan aturan mainnya satu per satu. Dengarkan baik-baik, pastikan kau mengerti setiap poinnya. Tak ada paksaan. Jika ada satu hal saja yang tak kau setujui, kita batalkan semuanya sekarang juga."

Disya menoleh perlahan menatap sisi wajahnya. Cahaya lampu jalan sesekali menyinari garis rahangnya yang tegas. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap.

"Saya mendengarkan baik-baik, Oppa. Silakan jelaskan semuanya," jawabnya pelan namun tegas.

Min Jae melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan sepi. "Pertama, pahami inti hubungan kita. Saya tak mencari kekasih, tak mencari istri, tak mencari teman hidup. Saya hanya butuh seseorang yang bisa saya temui saat lelah, ada di dekat saya saat sepi, dan mau melayani saya sesuai kebutuhan. Sebagai gantinya, saya tanggung seluruh hidupmu: kuliah, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga kebutuhan ibumu di Jeju. Ini murni timbal balik: saya berikan kenyamanan hidup, kau berikan waktu dan kehadiranmu saat saya butuh."

Disya menelan ludah. Kata-katanya lugas, tajam, tak memberi ruang berharap lebih. Namun itulah kenyataan yang ia butuhkan. Ia mengangguk pelan. "Saya mengerti. Saya berikan waktu dan diri saya, Oppa tanggung semuanya. Begitu saja."

"Benar," jawab Min Jae singkat. "Kedua, aturan paling penting yang tak boleh dilanggar: tak boleh melibatkan perasaan. Jangan pernah jatuh cinta pada saya. Jangan berharap saya akan melihatmu sebagai wanita yang dicintai. Saya pun akan menjaga diri demikian. Hubungan ini soal kesepakatan, bukan hati. Jika saya lihat kau mulai berharap lebih atau menyimpan perasaan, perjanjian ini berakhir saat itu juga."

Udara di dalam mobil terasa mendadak lebih dingin. Ada perih kecil di dada Disya, namun segera ia usir. Ia tahu posisinya, tahu apa yang dipilihnya. "Saya janji, Oppa. Saya akan menjaga hati sekuat tenaga, tak menaruh harapan yang salah."

"Ketiga," lanjut Min Jae, "kita tak boleh ikut campur urusan masing-masing. Apa pun soal pekerjaan, masa lalu, atau keputusan saya—itu sepenuhnya hak saya. Kau tak boleh bertanya, tak boleh cemburu, tak boleh melarang. Begitu juga sebaliknya: kau bebas menjalani hidup, tapi jangan harap saya ikut campur atau melindungimu dari masalah pribadimu. Kita hanya saling melengkapi saat sepakat, selebihnya kita adalah dua orang asing dengan jalan masing-masing."

Disya menunduk. Perjanjian ini dingin, namun adil. "Baik Oppa. Saya tak akan bertanya hal yang bukan hak saya, dan tak akan mengganggu urusan pribadimu."

"Keempat, soal kerahasiaan," kata Min Jae lagi. "Dunia hiburan kejam. Nama saya Min Jae atau Zelo tak boleh tersangkut sama sekali denganmu. Di tempat umum, di depan siapa pun, kita pura-pura tak kenal. Jangan bercerita pada siapa pun, sekalipun sahabat terdekatmu, kecuali saya izinkan. Satu kesalahan kecil bisa hancurkan karir saya, dan bahayakanmu juga."

"Saya paham betul bahayanya, Oppa. Mulut saya akan tertutup rapat," janji Disya sungguh-sungguh.

"Kelima," tutup Min Jae, "mulai besok kau berhenti bekerja di kafe. Tak perlu lagi lelah berjalan kaki atau menunggu bus. Kau tinggal di tempat yang saya siapkan, fokus kuliah, dan bersiap saat saya panggil. Tak boleh menolak, kecuali ada hal darurat yang sangat mendesak."

Mobil berbelok masuk kawasan perumahan elit. Gedung apartemen tinggi menjulang megah, jauh berbeda dari tempat tinggal sederhana Disya. Pagar terbuka otomatis—tanda Min Jae sudah mengurus segalanya.

Mobil diparkir di lantai dasar. Mereka naik lift ke lantai dua puluh. Saat pintu terbuka, Min Jae membuka pintu unit di ujung lorong.

"Masuklah," katanya singkat.

Disya melangkah masuk perlahan, matanya terbelalak. Ruangan itu sangat luas, lebih besar dari rumahnya di Jeju sekalipun. Lantai marmer berkilau, jendela kaca besar menampakkan pemandangan kota Seoul yang berkelap-kelip. Ruang tamu nyaman, dapur lengkap, kamar tidur besar dengan kasur empuk, dan balkon pribadi. Semuanya siap pakai.

"Ini... tempat tinggal saya?" tanyanya berbisik, tak percaya tempat seindah ini sementara menjadi miliknya.

"Ya. Mulai sekarang kau tinggal di sini. Lebih aman, dekat kampus, dan jauh dari orang yang mungkin mengenal saya," jawab Min Jae meletakkan kunci di meja. "Besok asisten saya bantu pindahkan barangmu. Kau tak perlu repot."

Ia melangkah mendekat, menatap Disya lekat-lekat. "Ingat baik-baik semua yang saya katakan tadi. Tak ada cinta, tak ada janji, tak ada campur urusan. Kau menemani saya, saya menanggung hidupmu. Hanya itu. Jika siap, kita mulai besok. Jika ragu, katakan sekarang sebelum terlalu jauh."

Disya menatap balik. Ada ketegasan yang tak terbantahkan, namun tak ada ancaman. Ia teringat ibunya, tagihan kuliah, lelah berjuang sendiri. Ini pilihannya.

"Saya sudah siap, Oppa. Saya mengerti semua aturannya, dan akan menaatinya," ucapnya mantap.

Min Jae mengangguk pelan. "Bagus. Istirahatlah. Saya pulang dulu. Jika ada apa-apa, hubungi nomor yang sudah saya simpan di ponselmu."

Pria itu berbalik pergi. Pintu tertutup pelan, menyisakan Disya sendirian di ruangan mewah yang asing. Ia melangkah ke jendela besar, melihat mobil hitam itu perlahan menghilang di antara lampu kendaraan lain.

Disya duduk di tepi kasur empuk. Hatinya terasa kosong sekaligus lega. Pintu kehidupan nyaman terbuka lebar, namun di baliknya tak ada cinta—hanya aturan tegas dan perjanjian dingin. Mulai hari ini, ia bukan lagi gadis biasa yang berjuang sendiri, melainkan seseorang yang hidupnya disiapkan untuk menemani kesepian seorang idola ternama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!