Malam turun dengan kejam di Kota Daun Gugur. Angin musim dingin melolong seperti roh pendendam, menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, di halaman belakang kediaman Klan Lin yang terpencil, seorang pemuda bertelanjang dada tetap duduk bersila di atas batu es.
Pemuda itu adalah Lin Tian.
Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat. Otot-ototnya berkedut menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia sedang berusaha menyerap energi spiritual dari udara, mengalirkannya ke dalam tubuhnya. Namun, setiap kali energi itu memasuki meridiannya—saluran energi dalam tubuh manusia—rasa sakit seperti disayat ribuan pisau langsung menyerang.
Pftt!
Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam. Tubuhnya limbung dan ia jatuh bertumpu pada kedua tangannya, terengah-engah.
"Lagi-lagi gagal," gumamnya dengan senyum pahit. Ia menatap kedua tangannya yang gemetar. "Meridian yang hancur sejak lahir. Tubuh yang dikutuk oleh surga. Apakah aku, Lin Tian, benar-benar ditakdirkan menjadi sampah seumur hidupku?"
Di Benua Timur, kekuatan adalah segalanya. Seorang kultivator tingkat Pengembara Qi bisa menghancurkan batu dengan tangan kosong, sementara mereka yang mencapai tingkat Pondasi Bumi bisa berjalan di atas air dan memanipulasi elemen. Bagi Klan Lin, salah satu dari tiga klan besar di kota ini, memiliki keturunan yang tidak bisa berkultivasi adalah sebuah aib besar.
Sejak kedua orang tuanya menghilang dalam sebuah ekspedisi sepuluh tahun lalu, status Lin Tian di klan anjlok drastis. Dari seorang Tuan Muda yang dihormati, ia menjadi bahan tertawaan. Jatah sumber dayanya dipotong, pelayannya ditarik, dan ia diasingkan ke gubuk reyot di dekat Jurang Hukuman di belakang gunung klan.
Satu-satunya peninggalan orang tuanya hanyalah sebuah kalung dengan bandul mutiara hitam kusam yang kini melingkar di lehernya.
Lin Tian mengusap sisa darah di sudut bibirnya dan berdiri. Matanya tidak menunjukkan keputusasaan, melainkan tekad yang menyala-nyala. "Aku tidak akan menyerah. Jika langit tidak mengizinkanku berkultivasi, aku akan menghancurkan langit itu sendiri!"
Kresek.
Telinga Lin Tian berkedut. Suara ranting patah yang sangat pelan terdengar dari balik rimbunnya pohon bambu. Suasananya mendadak terasa terlalu sunyi; bahkan suara jangkrik pun berhenti.
Sebagai seseorang yang tidak memiliki Qi, Lin Tian melatih panca inderanya dan fisiknya hingga ke batas maksimal. Insting bertahannya menjerit.
Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan dirinya ke samping.
Brak!
Tepat di tempatnya berdiri sedetik yang lalu, sebuah pedang perak menancap dalam ke tanah, membelah batu es menjadi dua. Tiga sosok berpakaian hitam pekat muncul dari bayang-bayang pepohonan. Mata mereka memancarkan aura membunuh yang dingin.
"Reaksi yang lumayan untuk seorang sampah," desis salah satu pembunuh dengan suara parau. "Tapi sayang, malam ini adalah malam terakhirmu bernapas, Tuan Muda Lin."
Lin Tian mundur perlahan, menjaga keseimbangannya. Matanya memindai ketiga orang itu. Aura yang memancar dari tubuh mereka bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
"Pengembara Qi tingkat kelima," batin Lin Tian, hatinya tenggelam. Menghadapi satu saja sudah mustahil baginya, apalagi tiga. "Siapa yang mengirim kalian? Lin Feng? Atau Tetua Pertama?"
Pembunuh di tengah tertawa dingin. "Orang mati tidak perlu tahu. Bunuh dia!"
Ketiganya melesat secara bersamaan bak panah yang lepas dari busurnya. Pedang mereka berkilat di bawah cahaya bulan, mengincar titik-titik vital di tubuh Lin Tian.
Lin Tian mengertakkan gigi. Ia tidak memiliki Qi, namun ia hafal setiap gerakan bela diri dasar Klan Lin. Saat pedang pertama menebas ke arah lehernya, ia menunduk tajam, menggunakan momentum itu untuk menyapu kaki sang penyerang.
Bugh!
Pembunuh itu kehilangan keseimbangan sesaat. Namun, perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Sebelum Lin Tian bisa mendaratkan pukulan lanjutan, pembunuh kedua melayangkan tendangan berlapis energi spiritual yang bersarang telak di dada Lin Tian.
Krak!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar mengerikan. Lin Tian terlempar sejauh sepuluh meter, menghantam pohon pinus besar sebelum jatuh berguling-guling di tanah. Darah segar menyembur dari mulutnya, mewarnai pakaiannya menjadi merah pekat.
Pandangannya mulai mengabur. Rasa sakit yang melumpuhkan menjalar dari dadanya. Ia berusaha merangkak mundur, namun tanah di belakangnya perlahan menghilang. Ia telah terdesak hingga ke bibir Jurang Hukuman—lembah tak berdasar yang diselimuti kabut beracun. Legenda mengatakan, tidak ada satu pun makhluk hidup yang pernah kembali dari dasar jurang itu.
Ketiga pembunuh itu berjalan mendekat dengan santai, mengayunkan pedang mereka untuk membersihkan sisa darah.
"Waktunya mati, Sampah."
Pembunuh di tengah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap memenggal kepala Lin Tian.
Dalam detik-detik terakhir itu, Lin Tian tidak memejamkan mata. Ia menatap tajam ke arah ketiga pembunuh itu, mengukir wajah dan aura mereka dalam ingatannya. Matanya memancarkan keengganan dan kebencian yang sangat pekat.
Brak!
Pedang itu berayun turun, tetapi Lin Tian lebih dulu menjatuhkan dirinya ke belakang. Angin malam menderu di telinganya saat tubuhnya terjerembap ke dalam kegelapan jurang yang menganga.
"Jika aku selamat... aku bersumpah demi darahku, aku akan membasmi kalian semua hingga ke akar-akarnya!"
Gema suaranya memudar ditelan kabut hitam, meninggalkan ketiga pembunuh itu berdiri di tepi jurang.
"Dia melompat sendiri ke Jurang Hukuman. Jangankan manusia, tulang dewa pun akan hancur di bawah sana," kata salah satu pembunuh. "Ayo kembali dan laporkan bahwa tugas telah selesai."
Di bawah sana, Lin Tian terus jatuh. Angin kencang menyayat kulitnya, dan kesadarannya berada di ambang batas.
Apakah ini akhirnya? pikirnya getir. Aku mati sebagai sampah yang tak berdaya.
Tiba-tiba, kalung di lehernya putus akibat tebasan angin. Mutiara hitam kusam itu terlepas, jatuh tepat di atas dada Lin Tian yang bersimbah darah. Saat darah segar yang membawa keengganan luar biasa itu menyentuh permukaan mutiara, sebuah fenomena aneh terjadi.
Mutiara hitam itu bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaannya, memancarkan cahaya ungu keemasan yang menyilaukan. Cahaya itu menembus kegelapan jurang, menahan tubuh Lin Tian yang sedang jatuh dengan kekuatan yang lembut namun tak terbantahkan.
Di dalam pikiran Lin Tian yang hampir padam, sebuah suara kuno yang bergema dari ujung alam semesta meledak seperti guntur.
"Darah yang dipenuhi keengganan... Jiwa yang menolak tunduk pada takdir..."
Suara itu berat, membawa keagungan seorang kaisar yang memandang rendah jutaan dunia.
"Siklus sepuluh ribu tahun telah usai. Kunci menuju kehampaan telah terbuka. Engkau, bocah fana dengan meridian yang hancur... apakah engkau bersedia menanggung beban karma dari Mutiara Kehampaan?"
Lin Tian tidak bisa membuka matanya, namun kesadarannya merespons dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. "Beri aku kekuatan... kekuatan untuk membantai musuhku... dan aku akan menanggung beban apa pun!"
"Bagus! Maka terimalah warisan Dewa Kehampaan. Biarkan tubuh fanamu dihancurkan, agar tubuh sucimu dapat dilahirkan kembali!"
Mutiara hitam itu meledak menjadi untaian cahaya kosmis yang melesat masuk menembus dada Lin Tian. Seketika itu juga, rasa sakit yang jutaan kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya merobek kesadarannya. Cahaya ungu keemasan membungkus tubuh Lin Tian membentuk sebuah kepompong raksasa yang bercahaya di tengah-tengah kegelapan Jurang Hukuman.
Roda takdir Benua Timur, baru saja mulai berputar.
Kepompong cahaya ungu keemasan itu berdenyut lambat, memancarkan gelombang energi kosmis yang membuat udara di sekitar dasar Jurang Hukuman bergetar hebat. Kabut beracun yang tadinya pekat dan mematikan di dasar jurang seolah diserap masuk, berputar mengitari cahaya tersebut layaknya pusaran air kecil.
Di dalam kepompong, tubuh Lin Tian mengalami transformasi yang mengerikan sekaligus menakjubkan.
Tulang-tulangnya yang patah akibat hantaman pembunuh tadi hancur berkeping-keping, lalu direkatkan kembali oleh energi keemasan dengan struktur yang jauh lebih sempurna dan padat. Meridian di sekujur tubuhnya—yang sejak lahir tersumbat dan cacat—dibersihkan dari segala kotoran fana. Aliran darahnya kini mengalir dengan kecepatan luar biasa, memancarkan kilau keperakan yang menyerupai sungai bintang.
Boom!
Sebuah ledakan energi nirsuara terjadi di dalam kesadaran Lin Tian. Batas pikirannya seolah terbuka lebar, memperluas persepsinya hingga menembus dinding batu jurang dan melihat dunia luar dengan kejelasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di ruang kesadarannya, sebuah bayangan raksasa berbentuk mutiara mengapung megah. Di permukaannya terukir jutaan aksara kuno yang berputar membentuk formasi galaksi mini.
"Tubuh fana telah ditempa ulang. Selamat, pewaris Mutiara Kehampaan," suara kuno itu kembali bergema, kali ini terdengar lebih jernih di dalam benak Lin Tian.
Seketika itu juga, kepompong cahaya pecah berkeping-keping, menghamburkan serpihan energi murni ke udara. Lin Tian membuka matanya. Sepasang bola matanya tidak lagi berwarna hitam biasa; ada kilatan cahaya ungu tua yang berputar di kedalaman pupilnya, memancarkan aura agung yang mampu membuat makhluk hidup berlutut secara insting.
Lin Tian berdiri perlahan. Ia mengepalkan tangan kanannya dan melepaskan sebuah pukulan ke udara kosong.
Ledakan!
Angin badai tercipta seketika dari kepalan tangannya, menghantam dinding batu sejauh sepuluh meter hingga meninggalkan lubang selebar tiga kaki.
Lin Tian menatap tangannya dengan takjub. "Kekuatan ini... di mana posisiku sekarang?"
"Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit yang kau terima telah membersihkan tubuhmu. Saat ini, kau telah melompat melewati tingkat Pengembara Qi dan Pondasi Bumi. Kau berada di puncak tahap Pengembara Qi tingkat kesembilan, dan tubuh fisiknya setara dengan tingkat Pondasi Bumi awal," jawab suara di kepalanya.
Lin Tian menarik napas dalam-dalam. Dalam dunia kultivasi, orang biasa butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai tahap Pengembara Qi tingkat kesembilan melalui meditasi berat dan pil obat. Namun dirinya, hanya dalam waktu beberapa jam setelah kematian yang hampir merenggut nyawanya, kini telah berdiri di ambang gerbang tersebut.
Dan yang lebih penting: rasa sakit akibat meridian yang rusak telah lenyap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah aliran kekuatan tanpa batas yang siap diledakkan kapan saja.
"Terima kasih, senior," kata Lin Tian tulus sambil menangkupkan tangan ke dalam ruang kesadarannya. "Siapa sebenarnya dirimu, dan mengapa Mutiara Kehampaan memilihku?"
"Aku adalah sisa kesadaran dari entitas yang dilupakan oleh waktu. Mengenai alasan pemilihamu... darahmu membawa kebencian yang murni dan tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh takdir. Itu adalah bahan bakar terbaik bagi Mutiara Kehampaan," jawab entitas itu datar. "Namun, jangan merasa senang dulu. Kekuatan yang kuberikan ini baru permulaan. Setiap kali kau menerobos tingkat kultivasi yang lebih tinggi, segel di dalam tubuhmu akan terbuka satu persatu. Jika kau lemah, energi mutiara ini akan membalik dan mencabik-cabik jiwamu."
Lin Tian mengangguk tegas. Matanya menatap ke atas, ke arah langit malam yang hanya terlihat secuil dari dasar jurang yang gelap. "Aku tidak takut mati. Aku sudah mati satu kali malam ini. Tujuan hidupku sekarang hanya satu: kembali ke Kota Daun Gugur dan menagih utang darah kepada mereka yang mencoba membunuhku."
Sementara itu, di kediaman utama Klan Lin, suasana tampak tenang namun tegang.
Di ruang tamu utama, Lin Feng—pemuda jenius dari cabang utama Klan Lin yang juga sepupu jauh Lin Tian—sedang duduk menyilangkan kaki sambil menyesap teh berkualitas tinggi. Di hadapannya berdiri tiga pembunuh berpakaian hitam yang tadi malam mengejar Lin Tian.
"Kalian yakin dia sudah mati?" tanya Lin Feng dengan nada dingin, memainkan cincin giok di jarinya.
Pembunuh di tengah menunduk hormat. "Tuan Muda Feng, kami melihatnya melompat sendiri ke Jurang Hukuman. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari jurang itu, terlebih dia tidak memiliki kultivasi sama sekali. Mayatnya pasti sudah hancur berkeping-keping atau dimakan oleh binatang buas di bawah sana."
Lin Feng tersenyum miring, seringai kejam terukir di wajah tampannya. "Bagus. Sampah itu akhirnya membersihkan namanya sendiri dari klan kita. Hilangnya dia tidak akan meninggalkan jejak apa pun. Tetua Pertama tidak perlu tahu urusan kecil ini."
Ia melambaikan tangan, melemparkan kantong kain berisi koin emas ke lantai. "Ini bayaran kalian. Pergi dari kota ini dan jangan pernah kembali."
"Terima kasih, Tuan Muda Feng!" Ketiga pembunuh itu membungkuk gembira, lalu melompat keluar jendela, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Lin Feng berdiri, berjalan ke arah jendela dan memandang ke arah halaman belakang tempat gubuk Lin Tian berada dulu. "Lin Tian, jangan salahkan aku. Di dunia ini, orang lemah yang tidak berguna tidak pantas untuk hidup, apalagi mewarisi nama Klan Lin. Tempatmu memang di tempat sampah."
Ia tertawa kecil, merasa posisinya sebagai pewaris utama klan kini sudah aman tanpa ada halangan.
Namun, Lin Feng tidak tahu—dan tidak akan pernah membayangkan—bahwa sosok "sampah" yang ia buang ke jurang kini telah bangkit kembali dengan kekuatan yang siap menghancurkan dunia tempat mereka berpijak.
Kembali ke dasar Jurang Hukuman, Lin Tian mendongak ke atas. Ia memasang kuda-kuda. Dengan dorongan energi kosmis yang baru saja dikuasainya, ia menekuk lututnya, memusatkan seluruh Qi di telapak kakinya, lalu melompat ke atas.
Bum!
Batu tempatnya berpijak hancur berkeping-keping menjadi debu. Tubuh Lin Tian melesat ke udara bagaikan roket yang ditembakkan dari tanah, menembus lapisan kabut beracun dalam hitungan detik.
Brak!
Tanah di tepi Jurang Hukuman bergetar keras saat sepasang kaki mendarat dengan bobot yang luar biasa. Debu dan dedaunan kering berhamburan ke udara, membentuk lingkaran di sekitar sosok yang baru saja melesat dari kegelapan.
Lin Tian berdiri tegap. Angin malam berhembus menerpa rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin dan bersih memenuhi paru-parunya. Sensasi Qi yang mengalir di setiap inci pembuluh darahnya terasa begitu nyata, hangat, dan bergejolak.
Hanya beberapa jam yang lalu, ia didorong dari tempat ini sebagai sosok lemah yang tak berdaya. Kini, ia kembali dari kematian sebagai eksistensi yang sama sekali berbeda.
"Panca inderaku... luar biasa," gumam Lin Tian, menutup matanya sejenak.
Berkat penyucian dari Mutiara Kehampaan, ia bisa mendengar kepakan sayap burung hantu dari jarak ratusan meter, mencium aroma embun di ujung dedaunan, dan—yang paling penting—merasakan sisa-sisa fluktuasi Qi dari ketiga pembunuh yang belum lama meninggalkannya.
Jejak energi mereka memanjang ke arah pinggiran Kota Daun Gugur, menyusuri jalan setapak di dalam hutan bambu.
Mata Lin Tian terbuka, memancarkan kilatan ungu yang dingin dan mematikan. "Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja setelah mengambil nyawaku?"
Dengan satu tolakan ringan, tubuh Lin Tian melesat ke depan. Ia bergerak bagaikan bayangan hantu, nyaris tidak menyentuh tanah dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Kecepatannya melampaui batas wajar seorang kultivator Pengembara Qi biasa.
Di sisi lain hutan bambu, tidak jauh dari gerbang timur Kota Daun Gugur, tiga sosok berpakaian hitam sedang berjalan santai. Mereka telah melepaskan topeng penutup wajah, memperlihatkan raut gembira usai menerima bayaran yang besar.
"Tuan Muda Lin Feng benar-benar dermawan. Seratus keping emas hanya untuk menyingkirkan satu sampah yang bahkan tidak bisa melawan," tawa salah satu pembunuh sambil menimbang kantong kain di tangannya. Suara gemerincing logam terdengar merdu di telinganya.
Pemimpin kelompok itu tersenyum puas. "Ini adalah rezeki nomplok kita. Setelah ini, kita pergi ke Kota Batu Merah dan bersenang-senang selama beberapa bulan. Jauhi klan besar ini untuk sementara waktu."
"Ketua, apa menurutmu tidak akan ada yang mencari bocah itu?" tanya pembunuh ketiga yang bertubuh lebih kurus.
"Siapa yang peduli pada sampah yang tak bisa berkultivasi? Di dunia bela diri, yang lemah mati diinjak yang kuat. Kematiannya besok paling-paling hanya akan dianggap angin la—"
Kata-kata pemimpin itu terhenti tiba-tiba. Bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya mendadak turun beberapa derajat, membawa niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat darah mereka terasa membeku.
Di tengah jalan setapak yang diterangi cahaya bulan pucat, sesosok bayangan berdiri menghalangi jalan mereka. Pakaian pemuda itu compang-camping dan berlumuran darah kering, namun posturnya tegak seperti pedang yang baru dicabut dari sarungnya.
Ketiga pembunuh itu terbelalak. Wajah mereka pucat pasi seolah baru saja melihat iblis.
"K-Kau... Lin Tian?!" pekik pembunuh bertubuh kurus, suaranya bergetar hebat. "B-Bagaimana mungkin?! Kami melihatmu jatuh ke Jurang Hukuman!"
Lin Tian menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. "Jurang itu menolak menerimaku. Katanya, masih ada tiga ekor anjing yang nyawanya harus kubawa ke sana."
Pemimpin pembunuh menelan ludah, namun dengan cepat ia menekan rasa takutnya. Ia menghunus pedangnya, memancarkan aura Pengembara Qi tingkat kelima. "Jangan panik! Dia pasti tersangkut di dahan pohon saat jatuh! Dia tetaplah sampah yang tidak memiliki Qi. Kalau dia tidak mati karena jatuh, maka kita akan memotongnya menjadi beberapa bagian sekarang!"
Mendengar itu, dua pembunuh lainnya mendapatkan kembali keberanian mereka. Mereka bertiga melesat serentak, menggunakan formasi serangan segitiga yang sama persis dengan yang mereka gunakan sebelumnya. Tiga bilah pedang menebas ke arah kepala, jantung, dan kaki Lin Tian.
Namun, di mata Lin Tian yang sekarang, gerakan mereka terlihat begitu lambat.
Trang!
Sebuah suara logam yang beradu terdengar tajam. Mata ketiga pembunuh itu nyaris melotot keluar dari rongganya.
Lin Tian tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, dan dengan dua jari—telunjuk dan jari tengah—ia menjepit ujung pedang sang pemimpin pembunuh. Pedang yang dialiri energi spiritual itu tertahan seketika, tidak bisa maju satu milimeter pun.
"B-Bagaimana bisa... kekuatan fisik macam apa ini?!" Pemimpin pembunuh itu menjerit tertahan, berusaha menarik pedangnya, namun pedang itu seolah terjepit di antara dua gunung besi.
Kekuatan fisik Lin Tian saat ini telah ditempa hingga setara dengan tahap Pondasi Bumi awal berkat Mutiara Kehampaan. Senjata fana dan Qi tingkat rendah tidak akan bisa melukainya semudah itu.
"Gerakan yang sama tidak akan berhasil dua kali padaku," ucap Lin Tian dingin.
Krak!
Dengan satu jentikan jari, bilah pedang baja itu hancur berkeping-keping. Sebelum pemimpin pembunuh itu bisa bereaksi, Lin Tian melesatkan pukulan ke arah dadanya.
Bugh!
Pukulan itu tidak menggunakan teknik bela diri apa pun, murni hanya mengandalkan kekuatan fisik dan ledakan Qi dari tahap Pengembara Qi tingkat sembilan. Namun, efeknya sangat menghancurkan. Dada pemimpin pembunuh itu melesak ke dalam, tulang rusuknya hancur, dan tubuhnya terlempar sejauh belasan meter menabrak deretan bambu sebelum akhirnya tewas seketika.
Dua pembunuh yang tersisa membeku di tempat. Pedang mereka bergetar di tangan yang gemetar.
"M-Monster..." desis pembunuh bertubuh kurus. Ia menjatuhkan pedangnya dan berbalik untuk lari. "Lari!"
"Terlambat."
Lin Tian mengambil salah satu pecahan bilah pedang yang melayang di udara, lalu menyentilnya dengan ibu jarinya. Pecahan logam itu melesat membelah udara dengan suara siulan tajam, menembus tepat ke bagian belakang leher pembunuh yang mencoba kabur. Tubuhnya ambruk ke tanah tanpa suara.
Kini tersisa satu orang. Pembunuh terakhir itu jatuh terduduk, air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya. Ia bersujud berkali-kali ke arah Lin Tian.
"T-Tuan Muda Lin, ampuni saya! Kami hanya orang suruhan! T-Tuan Muda Lin Feng yang membayar kami seratus keping emas untuk membunuhmu! Semuanya adalah rencananya!" ia mengemis, berharap sisa-sisa belas kasihan.
Lin Tian berjalan mendekat perlahan. "Aku sudah tahu Lin Feng yang mengirim kalian. Kalian hanyalah pedang yang disewanya, tapi pedang yang diarahkan kepadaku... tetap harus dipatahkan."
Tanpa ampun, Lin Tian melayangkan tendangan kilat ke pelipis pembunuh terakhir. Sebuah bunyi retakan tumpul terdengar, dan tubuh pria itu jatuh tak bernyawa di atas rerumputan. Pertarungan itu berlangsung kurang dari sepuluh kali tarikan napas.
Malam kembali sunyi. Bau anyir darah menyengat di udara.
Lin Tian memungut kantong kain berisi seratus keping emas dari tubuh pemimpin pembunuh. Di dunia kultivasi, emas memang bukan mata uang utama, namun tetap berharga bagi kultivator tingkat bawah untuk membeli pil obat penyembuh luka atau bahan makanan berkualitas.
Ia menatap ke arah pusat Kota Daun Gugur, tempat kediaman utama Klan Lin berdiri megah.
Turnamen Bela Diri Klan Lin akan diadakan dalam waktu satu bulan. Tradisi itu adalah ajang pembuktian bagi generasi muda klan, sekaligus penentu siapa yang berhak memegang posisi pewaris utama dan mendapatkan sumber daya terbaik.
"Lin Feng... kau pikir kau sudah aman?" Lin Tian bergumam pelan, senyum dingin tersungging di bibirnya. "Aku akan membiarkanmu menikmati mimpimu sebagai pewaris utama selama satu bulan ini. Saat Turnamen Bela Diri tiba, aku akan menghancurkan kesombonganmu di hadapan seluruh klan."
Dengan kantong emas di tangannya, Lin Tian berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan hutan, bersiap mencari tempat yang aman untuk mulai menyerap ajaran sesungguhnya dari Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!