Udara pagi di desa terasa lebih berat dari biasanya. Debu pasir yang terbawa angin menyelimuti setiap sudut jalan tanah yang terpojok di antara hamparan sawah dan pepohonan kelapa yang menjulang tinggi. Cahaya matahari yang baru mulai menyingsing seolah-olah tidak berani menyentuh tubuh gadis muda yang duduk diam di sudut kamar kecil tanpa lantai yang hanya berisi tikar bambu dan sebuah kasur tipis. Yasmin Nayara yang akrab disapa Yaya, menatap cermin kayu yang retak di depannya, melihat bayangan diri yang selalu membuatnya merasa seperti beban bagi semua orang di sekitarnya.
Kulit putih seperti tepung yang tidak pernah berubah, rambut pirang kemerahan yang tumbuh lebat, dan mata biru muda yang selalu menjadi sasaran tatapan menghina dari setiap orang yang melihatnya. Albinisme yang menyertai dirinya sejak lahir bukan hanya menjadi ciri fisik, melainkan alasan bagi semua orang untuk memperlakukannya dengan kejam, termasuk pamannya sendiri, Pak Surya, dan istri nya Ibu Manda.
“Hehh, anak putih! Sudah siap belum?”
Suara kasar Ibu Manda menerjang kediaman kamar sempit itu, tanpa basa-basi dia membuka pintu dan memasuki ruangan dengan langkah yang berat. “Jangan bilang kamu masih ingin mengeluh lagi! Kita sudah mengurusmu sejak bayi, sejak orang tuamu mati. Jadi sudah sepantasnya kamu harus balas budi.”
Yaya menggigil sedikit, meraih kebaya putih yang kusam dan penuh dengan sobekan kecil di beberapa bagian.“Bibi... Juragan sudah punya tiga istri. Apakah benar tidak ada cara lain selain menikahkanku dengannya?” tawarnya penuh permohonan. "Atau Yaya bisa cari kerja saja dan membantu Bibi juga Paman untuk membayar hutang."
Ibu Manda mengejek dengan suara nyaring, mendekat dan menarik rambut Yaya dengan kuat sehingga gadis itu terpaksa berdiri. “Cara lain? Kamu pikir kita suka menyimpan beban seperti kamu di rumah? Kulitmu yang aneh saja sudah membuat banyak pelanggan toko kita pergi!" Sentaknya. "Kamu mau kerja apa dengan kulit cacat begitu, tidak akan ada yang mau menerimamu. Masih mending juragan rela membayar dua puluh juta selain pelunasan hutang untuk mengambilmu dari sini, itu adalah untung besar bagi kita!”
Sebelum Yaya bisa menjawab, suara Pak Surya yang lebih kasar lagi terdengar dari luar. “Manda! Apa dia masih menggumam-gumam saja? Mobil juragan sudah akan tiba dalam sepuluh menit! Jika kamu tidak bisa membuatnya siap, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri!”
Yaya merasakan tubuhnya gemetar hebat. Sejak Ibunya meninggal setelah melahirkannya dan Ayahnya menyusul beberapa bulan kemudian dalam kecelakaan kerja, Yaya ditinggalkan pada asuhan pamannya dan Ibu Manda. Namun bukan kasih sayang yang dia terima, melainkan perlakuan sebagai pembantu rumah tangga tanpa bayaran, selalu disebut dengan nama “anak putih” atau “makhluk aneh”, dan bahkan dilarang makan bersama mereka di meja makan karena alasan “akan merusak makanan”.
“Ganti sekarang juga!” Ibu Manda melemparkan kebaya kusam itu ke arah Yasmin dengan kasar. “Dan jangan berani membuat wajah jelek saat juragan datang. Jika kamu merusak kesepakatan ini, aku akan memukulmu sampai tidak bisa berdiri lagi!”
Yasmin menunduk, menangis diam-diam sambil mengenakan baju yang sudah tidak layak dipakai lagi. Di hatinya, sebuah keputusan sudah mulai terbentuk, keputusan yang mungkin akan membuatnya kehilangan satu-satunya tempat tinggal yang dia miliki, namun dia sudah tidak bisa menanggung lagi perlakuan yang menyakitkan itu.
*****>>>{}<<<*****
Setengah jam kemudian, suara musik dangdut yang keras dari sound system portable memenuhi halaman rumah pamannya. Beberapa tetangga berkumpul di luar pagar bambu, sebagian dengan tatapan penasaran, sebagian lagi dengan wajah yang penuh dengan kesenangan karena akhirnya mereka tidak perlu lagi melihat “anak aneh” itu berkeliaran di desa. Yaya berdiri di depan pintu rumah, mengenakan kebaya kusam yang sudah dikenakannya dengan terpaksa, rambutnya kusut karena tidak dirapikan dan wajahnya penuh bekas luka kecil akibat dipukul Ibu Manda beberapa hari yang lalu.
Mobil hitam mewah jenis SUV masuk ke dalam halaman, diikuti oleh dua mobil lain yang lebih kecil. Dari dalam mobil utama, seorang pria berbadan gemuk dengan rambut sudah mulai botak turun dengan langkah yang santai. Juragan Irwan, seorang juragan perdagangan kelapa sawit yang sudah berusia lima puluhan tahun, menatap Yasmin dengan mata yang penuh kesenangan, seperti melihat barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan.
“Wah, akhirnya aku melihatnya secara langsung,” ujarnya dengan suara yang berat, menyeringai lebar sehingga giginya yang kuning terlihat jelas. “Meski kulitnya aneh, tapi wajahnya masih bisa diterima saja. Kamu pasti akan menjadi istri yang patuh ya, nak?”
Yasmin merasakan muntahan mau naik ke kerongkongan. Dia ingin berlari, namun tangan Pak Surya sudah menyikut lengannya dengan erat, jari-jari nya menusuk ke dalam kulit Yaya hingga membentuk bekas merah. “Kamu jangan berani melakukan kesalahan yang nantinya akan kamu sesali, Yasmin,” bisik Pak Surya dengan nada ancaman yang menusuk. “Kamu sudah menjadi beban bagi kami cukup lama. Sekarang waktunya kamu membayarnya!”
Pada saat itu, Ibu Manda sedang sibuk mengambil uang yang diberikan juragan irwan dengan wajah yang penuh kesenangan. Dia menghitung uang tersebut dengan teliti, kemudian menunjukkan kepadanya sebuah surat. “Ini surat pernyataan bahwa hutang kami sudah lunas dengan kamu sebagai jaminannya,” ujarnya dengan suara riang. “Setelah kamu pergi dengan juragan Irwan, kamu tidak punya hak untuk kembali ke desa ini lagi.”
Yasmin melihat kesempatan ketika Pak Surya dan Ibu Manda sibuk berbicara dengan juragan Irwan tentang hal-hal lain. Dia perlahan melepaskan tangan pamannya yang sudah mulai mengendur, kemudian berlari dengan cepat menuju belakang rumah, melewati kebun sayuran yang dia sendiri yang selalu rawat setiap hari namun tidak pernah bisa menikmati hasilnya. Kakinya yang mengenakan sandal butut bergerak cepat melewati jalan tanah yang licin akibat genangan air hujan kemarin malam.
“Dia kabur!” Suara teriakan Ibu Manda membuat Yaya berlari lebih cepat lagi. Dia tidak melihat ke belakang, hanya fokus pada jalan yang menjurus ke arah jalan raya utama desa. Keringat mengalir deras di wajahnya, mencampur dengan air mata yang akhirnya berhasil keluar deras-deras dari matanya yang biru muda.
Setelah berlari selama hampir setengah jam, Yaya tiba di jalan raya. Dia melihat sebuah bis yang sedang melambat untuk mengantar penumpang, dan tanpa berpikir dua kali, dia melompat masuk ke dalam bis dengan hanya membawa uang seratus ribu rupiah yang dia sembunyikan di dalam jahitan rok dan kebaya yang masih dikenakannya.
“Tiket kemana, dek? Berapa uang yang kamu punya?” tanya supir bis dengan tatapan heran melihat penumpang baru yang mengenakan kebaya namun terlihat sangat buruk rupa.
Yaya menggeleng perlahan, matanya menatap jalan yang terus berjalan di luar jendela bis. “Ke kota saja, Pak. Sejauh mungkin dengan uang yang aku punya.”
*****>>>{}<<<*****
Bis berhenti di Terminal salah satu kota besar setelah perjalanan selama lebih dari dua jam. Yaya turun dari bis dengan kaki yang sudah mulai goyah. Kota yang penuh dengan gedung tinggi, kendaraan yang berlalu lalang dengan cepat, dan orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka membuatnya merasa kewalahan. Dia berjalan tanpa tujuan di sepanjang trotoar, masih mengenakan baju kebaya putih yang sudah kotor akibat berlari dan naik bis.
Beberapa orang menoleh melihatnya dengan tatapan sinis atau bahkan jijik. Ada yang mengucapkan kata-kata menyakitkan dengan suara pelan, ada yang bahkan menarik anak-anak mereka menjauh seolah-olah Yaya adalah penyakit yang bisa menular.
“Semua orang sama saja,” bisiknya pada diri sendiri, menekuk badan sedikit karena rasa lapar yang mulai menyerang.
*****>>>{}<<<*****
Ini karya pertama Author di NT. Jangan lupa dukungan dan kritikannya di kolom komentar!!
Yaya saat di terminal sebelum berhijab ..
jangan lupa follow IG: @queenmardhiahreal
baca juga karya lain author di Fizzo dengan nama pena yang sama...
Uang yang dimilikinya sisa lima puluh ribu rupiah dan kemungkinan hanya cukup untuknya bertahan selama beberapa hari jika hanya makan mie instan murah atau roti.
Yaya memutuskan membeli sebungkus roti di warung sudut jalan untuk mengganjal perutnya, lalu Dia memutuskan untuk mencari tempat yang bisa memberikan dia perlindungan sementara, dan melihat sebuah gang kecil yang tampaknya lebih sepi dari jalan utama.
Namun ketika dia hendak memasuki gang itu, pintu mobil yang terparkir di dekat gang terbuka. Keluar seorang pria yang tiba-tiba menariknya dengan paksa. seorang pria berbadan tinggi dengan wajah yang merah memerah karena pengaruh zat tertentu. Matanya penuh dengan hasrat yang tidak senonoh saat melihat Yaya.
“Bantu aku sekarang juga” ujar pria itu dengan suara yang berat, langkahnya tidak stabil saat mendekati Yaya dengan tangannya yang siap menjamah.
Yaya mundur perlahan, hatinya berdebar kencang hingga rasanya akan keluar dari dada. “Tolong... Jangan dekati saya! Saya tidak mengenal Anda!”
Tangan besar Pria menarik pergelangan tangan Yaya dengan kuat secara paksa menuju mobilnya. “kamu harus membantuku!” serunya dengan suara yang lantang.
“Jangan! Lepaskan Saya!” jerit Yaya dengan suara yang teredam, tubuhnya terus berjuang untuk melepaskan diri. Kakinya mencoba menendang bagian bawah mobil, namun kekuatan Baskara jauh lebih besar darinya. “Saya tidak kenal kamu... jangan sentuh Saya!”
Baskara tidak mendengar keluhan Yaya sama sekali. Otaknya yang sudah terganggu hanya fokus pada satu hal: membawa gadis itu pergi dari tempat ini untuk membantunya menuntaskan sesuatu. Dia menarik Yaya dengan lebih kuat lagi, hampir menjatuhkannya ke tanah sebelum berhasil memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Namun sebelum dia bisa menutup pintu, sebuah suara keras membentur telinganya.
“Hei... Sedang apa kamu!”
Seorang pria muda langsung menghentikan laju motornya di depan gang itu saat menyaksikan hal mencurigakan. Mata penuh kemarahan saat melihat Pria berjas itu sedang memaksa Yaya masuk ke mobil. Tanpa berpikir panjang, pria itu berlari cepat menghadang Baskara.
“Ngapain kamu paksa gadis ini masuk ke mobil?”
Dalam sekejap, suara tangisan Yaya dan teriakan pria itu menarik perhatian warga lain yang sedang lewat. Dalam waktu singkat, lebih dari sepuluh orang berkumpul di depan gang, semua dengan wajah marah melihat aksi Baskara yang dianggap sebagai penculik atau pelaku pemerkosaan.
“Dia mau membawa wanita itu pergi dengan paksa!” teriak seorang ibu rumah tangga yang sedang mengantarkan anaknya ke les. “Cepat panggil Pak RT dan beberapa pria lain!”
Sebelum Baskara bisa melakukan apa-apa, beberapa pria menarik tubuh Baskara yang sudah mulai goyah karena pengaruh obat, kemudian menghajarnya dengan pukulan dan tendangan yang membuatnya tidak berdaya. Hanya dalam beberapa detik, Baskara terjatuh ke tanah dengan wajah yang memar dan akhirnya pingsan sepenuhnya.
Yaya yang sudah terlepas dari genggaman Baskara duduk pelan di sudut gang, tubuhnya menggigil dan menangis deras. Seorang nenek yang membawa selendang segera mendekatinya, membungkus tubuhnya yang masih mengenakan baju pengantin kotor. “Tenang saja, nak,” ujar nenek itu dengan suara lembut, mengusap-usap punggung Yaya. “Kamu sudah aman sekarang.”
Tak lama kemudian, Pak RT yang telah memimpin wilayah ini selama lebih dari dua puluh tahun datang dengan membawa beberapa warga. Dia melihat keadaan Pria itu yang pingsan dan Yaya yang sedang menangis, kemudian memberikan perintah dengan tegas. “Bawa pria itu ke rumahku dan rawat dia sebentar. Dan bawa juga gadis ini untuk mengganti pakaian dan ditenangkan.”
*****>>>{}<<<*****
Rumah Pak RT yang terletak di ujung gang terasa jauh lebih hangat dari apa yang Yaya bayangkan. Dinding yang dicat putih bersih dan taman depan yang penuh dengan tanaman bunga membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Ibu Sri, istri Pak RT, mengantar Yaya ke kamar kecil di belakang rumah, memberikan dia gamis berwarna biru muda yang cukup longgar untuk dikenakannya.
“Kamu bisa pakai ini dulu, nak,” ujar Ibu Sri dengan senyum hangat, menyiapkan ember berisi air hangat untuknya. “Setelah mandi, kita makan dulu ya? Kamu pasti sudah lapar kan?”
Yaya hanya bisa mengangguk dengan hati yang penuh rasa syukur. Ini adalah pertama kalinya dia diperlakukan dengan baik oleh orang yang tidak kenalnya. Setelah mandi dan mengganti pakaian, dia keluar ke ruang tamu yang penuh dengan orang-orang yang masih berkumpul, membicarakan kejadian tadi dengan suara yang rendah.
Di sudut ruangan lain, Baskara sudah mulai sadar, ditopang oleh dua warga. Matanya masih sedikit kabur, namun dia sudah bisa melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia berada di rumah orang lain dengan wajah yang penuh rasa sakit akibat pukulan yang diterimanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Baskara dengan suara yang serak, menyentuh bagian dagunya yang sudah membengkak. “Kenapa Saya ada di sini?”
Pak RT mendekatinya dengan wajah yang tegas, menyilang tangan di depan dadanya. “Kamu masih ingat apa yang kamu lakukan tadi, anak muda? Kamu hampir membawa gadis itu pergi dengan paksa dalam keadaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan!”
Pria itu mengerutkan kening, mencoba mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Ingatan tentang jus yang diberikan oleh koleganya mulai muncul di benaknya, bersama dengan perasaan pusing dan hilangnya kendali diri setelah meminumnya.
"Saya... Saya dalam pengaruh obat,” ujarnya dengan suara yang jelas, melihat ke arah Yaya yang sedang duduk di dekat Ibu Sri. “Saya tidak sadar melakukan itu.”
“Siapa namamu?" Tanya Pak RT
Pria itu menatap Pak RT. "Saya Baskara Pratama Narendra." Jawabnya menekankan.
Beberapa warga yang mendengar namanya mulai berbisik. Siapa yang tidak mengenal nama Baskara Pratama Narendra, CEO muda dari salah satu perusahaan terbesar Indonesia. Pewaris Kerajaan bisnis dari keluarga Narendra. Pantas saja mereka seperti tidak asing dengan wajahnya.
“Kami melihat kamu memaksa gadis itu masuk ke mobilmu! Jika bukan karena kami yang datang tepat waktu, siapa tahu apa yang akan kamu lakukan padanya!”
Pak RT mengangkat tangan untuk menenangkan warga yang mulai naik pitam. “Tenang saja semua. Kita punya cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Kamu,” lanjutnya dengan menunjuk ke arah Baskara, “kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Dan satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik kamu dan menghormati gadis ini adalah dengan menikahinya!”
Baskara berdiri dengan cepat, mengabaikan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya. “Tidak mungkin! Saya bahkan tidak mengenalnya sama sekali! Dan saya tidak bisa menikah tanpa sepengetahuan orang tuaku yang saat ini sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis!”
“Kalau kamu tidak mau menikahinya, kami akan menyebarkan berita ini ke seluruh media!” ujar seorang warga dengan suara yang mengancam. “Kami akan membuat pernyataan bahwa CEO muda dari perusahaan besar itu mencoba memperkosa gadis muda di gang sempit! Dan reputasimu akan hancur!”
Baskara merasakan amarah meledak di dalam dirinya. Dia tahu bahwa ancaman mereka bukan omong kosong, sebuah skandal seperti itu bisa membuat semua usaha yang keluarganya bangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping. Namun dia juga tidak bisa menerima untuk menikahi seorang gadis yang tidak dikenalinya sama sekali dengan cara yang seperti ini.
“Baiklah!” seru Baskara dengan suara yang penuh kemarahan, meninju telapak tangannya ke atas meja kayu. “Aku akan menikahinya... Dan masalah ini jangan sampai bocor ke publik."
Pak RT mengangguk dengan puas setelah berdiskusi sebentar dengan beberapa warga lainnya. “Baiklah, itu sudah cukup untuk sekarang. Tidak jauh dari rumah ini ada Pak penghulu, akadnya akan dilakukan sebentar lagi. Dan kamu harus memberikan jaminan bahwa kamu akan menghargainya selayaknya istri!”
Baskara menoleh melihat Yaya yang sedang menatapnya dengan mata yang penuh dengan kebingungan dan rasa takut. Dia tahu bahwa dia sedang memasuki sebuah takdir yang tidak diinginkan oleh kedua pihaknya. Namun dengan keadaan yang ada, dia tidak punya pilihan lain selain menerima takdir yang sudah ditentukan untuknya.
Di dalam hati Yaya, rasa takut semakin besar. Dia yang baru saja melarikan diri dari pernikahan yang tidak diinginkan kini harus menikah dengan seorang pria asing yang penuh amarah dan bahkan tidak menginginkannya. Bagaimana mungkin dia bisa hidup bersama dengan Pria asing? Dan apa yang akan terjadi jika keluarga Baskara mengetahui tentang pernikahan ini?
*****>>>{}<<<*****
VISUAL BASKARA PRATAMA NARENDRA!!!
“Ilham! Segera datang ke gang belakang Jalan Merdeka, bawa perlengkapan yang diperlukan, beberapa uang tunai, dan jangan lupa bawa pakaian ganti untukku dan juga untuk gadis itu!” ucap Baskara dengan suara yang masih gemetar akibat amarah dan rasa sakit di tubuhnya.
Di ujung telefon, Ilham terkejut seketika. Dia baru saja hendak tidur bersama istrinya.
“Pak Baskara? Apa yang terjadi? Kenapa Bapak berada di tempat seperti itu dimalam hari? Bukannya Bapak harus bertemu dengan Pak Wijaya untuk urusan proyek?”
Baskara menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Itu masalahnya, Ilham. Pak Wijaya mencoba menjebak Saya dengan memberikan jus yang ternyata mengandung zat tidak diinginkan. Saya tidak bisa mengontrol diri dan hampir melakukan hal yang tidak seharusnya terhadap seorang gadis muda. Sekarang warga disini memaksa Daya menikahinya jika tidak ingin skandal ini keluar ke publik!”
Suara terkejut Ilham terdengar jelas dari telepon. “Tidak mungkin, Pak! Bagaimana bisa terjadi seperti itu? harusnya tadi Saya tetap mengikuti Bapak. Saya merasa sangat bersalah, Pak!”
“Jangan berpikir tentang itu sekarang, Ilham. Yang penting kamu cepat datang. Gadis itu hanya mengenakan baju gamis pemberian istri Pak RT,” ucap Baskara, menatap Yaya yang masih duduk diam di sisi Ibu Sri, matanya penuh kekhawatiran dan ketakutan.
“Baik, Pak! Saya akan siap dalam beberapa menit dan langsung berangkat. Mohon tunggu sebentar ya, Pak!” tutup Ilham sebelum mengakhiri panggilan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil mewah dengan plat nomor perusahaan Narendra masuk ke gang yang sudah tidak terlalu ramai lagi, hanya tinggal Pak RT, Ibu Sri, Yaya, Baskara, dan beberapa warga tua yang menjadi saksi. Ilham keluar dengan cepat membawa beberapa tas, matanya langsung mencari bosnya dan menunjukkan ekspresi khawatir saat melihat wajah Baskara yang memar.
“Maaf jika saya sedikit terlambat, bagaimana kondisi Bapak? Apakah Saya perlu menghubungi dokter?” tanya Ilham dengan cemas.
“Tidak perlu, Saya baik-baik saja. Urus dulu hal yang paling penting,” jawab Baskara dengan nada tegas. Dia kemudian memperkenalkan Ilham kepada Pak RT dan para warga. “Ini Ilham, asisten pribadi Saya. Dia akan membantu mengurus semua yang diperlukan untuk akad nikah ini.”
Ilham dengan sopan menyapa semua orang, kemudian mulai mengeluarkan perlengkapan dan beberapa surat pernyataan yang dia siapkan dengan cepat di jalan.
“Saya sudah bawa semua yang diperlukan untuk akad, Pak. Termasuk pakaian untuk Bapak dan juga untuk Nona... maaf, saya belum tahu namanya siapa,” ucap Ilham kepada Baskara dengan suara rendah.
Baskara menoleh ke arah Yaya, yang sedikit mengangkat kepala saat namanya disebut. “Yasmin Nayara. Biasa dipanggil Yaya,” ujarnya dengan suara tegas dan terbata.
Ilham mengangguk dengan senyum ramah. “Baik, Nona Yasmin. Saya sudah membawa beberapa pakaian wanita yang mungkin sesuai untuk Nona pakai saat akad. Silakan Nona berganti pakaian, Ibu Sri akan menemani.”
Saat Yaya pergi bersama Ibu Sri untuk mengganti pakaian, Ilham mendekati Baskara dengan wajah yang serius. “Pak, meskipun situasinya seperti ini, apakah Bapak benar-benar siap dengan keputusan ini? Kita masih bisa mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah tanpa harus menikah, lho. Misalnya dengan membuat kesepakatan tertulis atau melaporkan kasus pemakaian zat ilegal oleh Bapak Wijaya kepada pihak berwenang.”
Baskara menggeleng perlahan. “Aku sudah melakukan itu, Ilham. Tapi warga di sini sudah sangat marah dan mereka tidak mau mengambil risiko jika berita ini keluar. Mereka khawatir nama baik wilayah mereka akan tercemar karena ada kasus seperti ini. Selain itu, jika skandal ini sampai ke media, itu akan merusak nama baik keluarga dan perusahaan kita. Lebih baik aku menerima ini daripada kehilangan semua yang sudah dibangun keluargaku.”
Sebelum Ilham bisa menjawab, suara Pak penghulu yang baru saja tiba terdengar dari pintu. “Maafkan saya terlambat, Pak RT. Ada beberapa urusan kecil yang harus saya selesaikan terlebih dahulu.”
Baskara mengambil napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Akad nikah yang tidak diinginkan ini sebentar lagi akan dimulai, dan dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Sementara itu, Yaya baru saja keluar dari kamar dengan mengenakan baju yang diberikan Ilham, kebaya sederhana berwarna putih muda dengan renda halus yang membuatnya terlihat lebih tenang dan cantik, rambutnya pun telah disisir dengan rapih. Kedua belah pihak saling menatap, masing-masing dengan rasa tidak pasti tentang masa depan yang akan mereka lalui bersama.
*****>>>{}<<<*****
Pak penghulu memasuki ruangan dengan langkah santai, membawa tas kecil yang berisi kitab suci dan surat-surat untuk akad nikah. Dia menyapa semua orang dengan senyum hangat, kemudian menempatkan barang-barangnya di atas meja yang sudah disiapkan Ibu Sri.
Sebelum memulai prosesi, dia melihat ke arah Yaya dengan tatapan penuh perhatian. “Nak, untuk melangsungkan akad nikah, kita memerlukan seorang wali dari pihak perempuan. Dimana wali kamu, nak? Apakah ada keluarga laki-laki yang bisa menjadi wali nikahmu?”
Yaya menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Dia menggeleng perlahan sebelum menjawab dengan suara yang lembut namun jelas. “Tidak ada, Pak Penghulu. Orang tua saya sudah meninggal dunia sejak saya kecil. Paman yang mengasuh saya di kampung hanya saudara angkat ibu saya, bukan saudara kandung. Saat ini saya benar-benar sebatang kara, tidak ada keluarga lain yang bisa saya jadikan wali.”
Suasana ruangan menjadi sedikit sunyi. Pak RT mendekat dengan wajah yang penuh rasa iba. “Pak Penghulu, kalau begitu, bolehkah saya yang menjadi wali bagi gadis ini?. Saya dan istri saya bersedia menjadi wali.”
Ibu Sri mengangguk dengan erat, menjepit tangan Yaya dengan lembut. “Betul sekali, Pak Penghulu."
Pak penghulu mengangguk dengan senyum hangat. “Baiklah, sesuai dengan ketentuan, jika tidak ada keluarga sedarah yang bisa menjadi wali, maka seorang tokoh masyarakat yang terpercaya bisa melakukannya. Pak RT, jika Bapak benar-benar bersedia, maka bapak bisa menjadi wali untuk Yasmin Nayara.”
Yaya merasa air matanya mulai menetes, perasaan ya campur aduk. Seseorang secara sukarela mau menjadi Wali nikahnya. Dia melihat Pak RT dan Ibu Sri dengan rasa syukur yang mendalam..
“Sekarang sudah siapkah kedua mempelai?” tanya Pak penghulu sambil melihat ke arah Baskara dan Yaya.
Baskara mengangguk dengan wajah yang tegas, meskipun matanya menunjukkan keraguan. Yaya hanya bisa mengangguk perlahan, tangannya menggenggam ujung kebaya dengan erat, tubuhnya masih sedikit menggigil.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!