Indonesia
NovelToon NovelToon

Kebangkitan Sang Immortal

Bab 1 - Immortal

“Jing Yan, tindakanmu benar-benar tidak dapat dimaafkan!” Raungan penuh amarah menggema ke seluruh ibu kota kekaisaran. "Sebagai Penguasa negeri ini, bagaimana mungkin kau bersekongkol dengan iblis untuk mencelakai rakyatmu sendiri?!"

Pemilik suara itu adalah seorang pemuda berjubah pedang. Di bawah kakinya, sebilah pedang yang diselimuti aura keabadian membelah langit saat ia melesat di atas bentangan ibu kota.

"Jangan takut, wahai rakyat! Seorang Immortal telah datang! Aku akan menyelamatkan kalian dan menegakkan keadilan atas nama kalian!"

Mendengar itu, tak terhitung banyaknya rakyat yang menangis dan berlutut, sementara ratapan mereka memenuhi udara.

Seluruh ibu kota kekaisaran telah dipenuhi oleh ular-ular berbisa. Makhluk-makhluk itu menggigit dan menyerang rakyat jelata, menyebarkan racun kepada siapa pun yang mereka temui. Banyak orang tewas seketika. Darah mengalir di jalanan, sementara mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.

"Seorang Immortal Pedang?"

Di tengah lautan ular yang menggeliat berdiri seorang pemuda berjubah putih berhias sulaman naga, sedang bertarung melawan seekor iblis ular yang sangat ganas. Dialah Jing Yan, Kaisar muda Negeri Awan.

Hari ini seharusnya menjadi hari penobatan Permaisurinya.

Namun, hari yang semestinya dipenuhi sukacita dan perayaan itu justru diawali oleh serangkaian kejadian aneh.

Pertama, Fang Zhelan, putri Perdana Menteri, menghilang secara misterius.

Lalu, jutaan ular berbisa bermunculan dari seluruh saluran air di ibu kota kekaisaran dan mulai menyerang rakyat, termasuk seekor iblis ular berusia ratusan tahun yang sangat kejam.

Jing Yan segera memimpin para Pengawal Kekaisaran untuk bertempur melawan iblis ular beserta kawanan ular-ularnya.

Namun, tepat ketika kemenangan sudah berada di depan mata, kemunculan sosok yang menyebut dirinya Immortal Pedang itu justru membuat keadaan menjadi semakin rumit.

"Dia salah!" teriak Jing Yan. "Apa dia benar-benar baru saja mengatakan kalau semua ini ulahku? Bahwa aku telah bekerja sama dengan iblis ini untuk mencelakai rakyatku sendiri?!"

Merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil, matanya memancarkan kebingungan sekaligus tekad yang tak tergoyahkan.

Tiba-tiba, kilatan cahaya pedang melesat turun dari langit.

Cahaya dingin yang tajam itu menembus tepat ke dahi iblis ular tersebut, menghancurkannya seketika menjadi kabut darah dan daging yang beterbangan.

Percikan darah iblis itu menyiram seluruh tubuh Jing Yan.

"Sial... itu luar biasa." gumam Jing Yan, terpukau oleh kekuatan dahsyat yang baru saja ia saksikan.

Dan bukan hanya dirinya yang terkejut. Para pejabat dan rakyat Negeri Awan memandang pemandangan itu dengan campuran rasa takut dan hormat.

"Iblis ularnya sudah mati! K-kita selamat! Kita selamat!"

"Kekuatan sang Immortal benar-benar luar biasa!"

"Hidup penyelamat kita!"

...

Gelombang rasa syukur menyebar di antara rakyat yang berhasil diselamatkan. Banyak dari mereka kembali berlutut, mengucapkan terima kasih dengan penuh ketulusan.

Tiba-tiba, sebuah suara menggelegar menggema.

"Jing Yan!"

Sebelum Jing Yan sempat menyadari apa yang terjadi, Immortal Pedang telah muncul tepat di atasnya.

Alis Immortal Pedang berkerut dingin penuh penghinaan, sementara aura pedangnya berputar dengan begitu mendominasi. Hanya hembusan dari pedangnya saja sudah meninggalkan luka-luka berdarah di tubuh Jing Yan.

"Kau memerintah negeri ini, namun membiarkan monster-monster mencelakai rakyatmu sendiri. Kau harus mempertanggungjawabkan semua ini!" Tatapan tajam sang Immortal Pedang tidak bergeming sedikitpun saat mengucapkan kata-kata itu kepada Jing Yan.

"Apa...?" Jing Yan baru saja hendak berbicara, tetapi langsung disela oleh rentetan suara dari kerumunan.

"Dia yang memelihara iblis ular itu? Kaisar kita?"

"Kalau Immortal Pedang yang mengatakannya, pasti itu benar!"

"Aku tidak percaya... bagaimana mungkin dia mengkhianati kita seperti ini...?!"

...

Bisik-bisik penuh keterkejutan segera menyebar di tengah kerumunan.

Dari dalam istana, Perdana Menteri Negeri Awan, Fang Yutian, melangkah keluar dengan wajah dipenuhi amarah. Sambil menunjuk ke arah Jing Yan, ia meraung, "Jing Yan, kau benar-benar bodoh! Rakyat menjunjungmu sebagai Penguasa mereka, tetapi kau begitu buta dan ceroboh hingga membahayakan nyawa begitu banyak orang!"

Ia kemudian berlutut di tanah, air mata mengalir di wajahnya. "Yang Mulia Kaisar terdahulu! Bimbinganku telah gagal, hingga membiarkan Penguasa Muda menyimpang dan melakukan kesalahan sebesar ini. Kekacauan ini juga merupakan dosaku!”

Seketika itu juga, semua kesalahan seolah ditimpakan kepada Jing Yan.

"Immortal Pedang!" Ia mengertakkan gigi dan berteriak. "Berikan aku kesempatan untuk membela kehormatanku! Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan iblis ular ini..."

Sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, Immortal Pedang memotongnya dengan seringai dingin. "Diam! Persepsiku menjangkau langit dan bumi. Dosamu telah terlihat jelas. Tak perlu lagi mencari-cari alasan. Hari ini, aku akan menegakkan keadilan atas nama langit dan mengirimmu ke neraka!"

Jing Yan terhuyung mundur. Mata merahnya dipenuhi ketidakpercayaan dan amarah. "Persepsimu menjangkau langit dan bumi? Mungkin itu bisa membodohi rakyat biasa, tapi kau hanyalah seorang Kultivator Pedang! Aku yakin semua kekacauan dengan iblis ular ini memang ulahmu sejak awal! Kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya, jadi kenapa kau sengaja menjebakku!? Kalau sektemu mengetahui perbuatanmu, mereka pasti akan memenjarakanmu!"

Bagi rakyat biasa, para kultivator yang menggunakan pedang dianggap sebagai Immortal yang pantas dipercaya dan dipuja tanpa keraguan. Namun Jing Yan tidak semudah itu tertipu. Ia tahu para Immortal itu tak lebih dari orang-orang yang berpura-pura menjadi dewa.

"Jing Yan, tutup mulutmu!" bentak seorang pejabat.

"Kau sudah gila! Berani-beraninya berbicara seperti itu kepada Sang Immortal?" teriak yang lain.

"Ini sudah keterlaluan. Dia akan membawa kutukan kepada kita semua," seru seorang wanita dari tengah kerumunan.

Amarah orang-orang yang menyaksikan kejadian itu semakin memuncak. Rasa muak mereka terhadap Jing Yan terlihat begitu jelas.

Kultivator Pedang itu melihat kegaduhan tersebut lalu mendarat tepat di depan Jing Yan. Matanya dipenuhi ejekan. "Dengar itu?" katanya sambil terkekeh. "Bagi serangga sepertimu, aku memang tak ubahnya seorang Immortal! Namaku Tang Long! Ingatlah, atau lupakan saja. Tidak ada bedanya. Karena hari ini kau akan mati di tanganku!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, matanya menyipit dan ia mengacungkan dua jarinya seperti sebilah pedang, menusuk lurus ke arah dahi Jing Yan. Ia benar-benar berniat membunuh Jing Yan.

"Tunggu!" Sebuah suara wanita memecah ketegangan.

Bab 2 - Kau Ingin Aku Mati?

Pandangan semua orang beralih kepada seorang wanita cantik berkulit putih yang berjalan anggun mendekati mereka. Dia adalah Fang Zhelan, putri Perdana Menteri. Hari ini seharusnya ia dinobatkan sebagai Permaisuri, tetapi sejak fajar tadi ia menghilang tanpa jejak.

"Zhelan! Mundur!" Suara Jing Yan bergetar penuh kekhawatiran.

Namun yang membuat Jing Yan terkejut, Fang Zhelan justru melewatinya begitu saja dan berdiri di sisi Tang Long. Jelas sekali mereka saling mengenal.

"K-kalian berdua?" suara Jing Yan bergetar.

"Jing Yan, aku datang ke sini bukan untukmu," kata Fang Zhelan dengan nada dingin. "Justru, percobaan pembunuhan kecil hari ini adalah ideku."

"Kau ingin aku mati?" Jing Yan merasa seolah-olah disambar petir.

"Ya."

"Tapi kenapa?" Matanya menyala dipenuhi kemarahan dan ketidakpercayaan. Selama ini ia selalu bersikap baik kepada Keluarga Fang, terutama kepada Fang Zhelan.

"Karena ini." Fang Zhelan mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah pedang perak berkilauan sepanjang sekitar tiga inci yang sepenuhnya terbentuk dari energi murni.

Saat pedang itu melayang di atas telapak tangannya, pedang tersebut memancarkan aura dingin yang menusuk. Kehadirannya membuat suhu di sekitar istana kekaisaran turun drastis hingga orang-orang yang menyaksikan mulai menggigil.

"Jiwa Pedang!" Mata Jing Yan membelalak.

Fang Zhelan menyunggingkan senyum tipis. "Mengesankan. Rupanya kau mengenalinya. Benar, aku telah membangkitkan Jiwa Pedang Bulan Es dengan tingkatan Bintang!"

Sambil menatap Jiwa Pedang Bulan Es miliknya dengan penuh rasa terpukau, Fang Zhelan berkata, "Sebentar lagi Kakak Tang akan membawaku masuk ke Sekte Pedang Roh Biru. Aku akan menjadi seorang Immortal, sementara kau akan tetap menjadi manusia biasa. Sudah sewajarnya jalan hidup kita akan berpisah. Termasuk pertunangan kita."

"Di masa depan, orang-orang biasa sepertimu hanya akan bisa berlutut di hadapanku dengan penuh hormat!" tambahnya dengan sedikit kesombongan.

"Apa kau sudah gila?" Jing Yan meludah ke samping, amarahnya begitu jelas terlihat. "Baik, kalau memang kau punya bakat, pergilah berkultivasi. Aku tidak membutuhkanmu. Tapi kenapa kau harus menyeret begitu banyak orang yang tidak bersalah ke dalam rencanamu?"

Sebuah tragedi telah menimpa rakyat Negeri Awan. Tak terhitung banyaknya nyawa yang direnggut oleh ular-ular berbisa itu, dan sebagai penguasa mereka, setiap kematian terasa seperti anak panah yang menusuk jantung Jing Yan.

"Ada alasannya." Fang Zhelan mulai menjelaskan sambil menunjuk ke arah sosok di kejauhan, yaitu Perdana Menteri Fang Yutian.

"Kakak Tang mengatakan kepadaku bahwa mereka yang lahir dari keluarga kekaisaran akan mendapat perlakuan istimewa ketika memasuki sebuah sekte. Jadi, kupikir akan menjadi ide yang bagus jika ayahku menjadi penguasa Negeri Awan. Dengan begitu, bukan saja aku bisa menyingkirkanmu, tetapi nama dan warisanmu juga akan tercoreng selamanya!"

"Yang lama harus disingkirkan agar yang baru bisa menggantikannya. Bukankah itu alasan terbaik untuk mengganti sebuah dinasti?" ujarnya dengan seringai dingin.

Fang Zhelan sama sekali tidak khawatir percakapannya dengan Jing Yan akan didengar orang lain.

Bagaimanapun juga, Tang Long adalah murid dari sebuah sekte besar, dan ia memiliki cara untuk memastikan percakapan mereka tetap tersembunyi dari siapa pun.

"Menjatuhkan seorang Kaisar biasa sepertimu? Itu hanyalah permainan anak-anak bagi seorang kultivator." Suara Fang Zhelan dipenuhi kesombongan.

"Mulai hari ini, negeri yang kau pijak ini akan dikenal sebagai Negeri Fang dan berada di bawah perlindungan Sekte Pedang Roh Biru. Kekuasaan Keluarga Jingmu yang telah berlangsung selama lima ratus tahun berakhir di sini. Mulai sekarang, negeri ini akan berkembang di bawah perlindunganku. Terimalah nasibmu."

Fang Zhelan menyilangkan kedua lengannya, sikapnya menjadi semakin dingin.

"Bahkan sebelum Jiwa Pedang ini bangkit, sejak kita masih kecil, aku sudah tahu kalau aku ditakdirkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar! Sekarang setelah aku menapaki jalan menuju keabadian, aku sudah berada jauh di atas orang sepertimu!"

Jing Yan tertawa pahit, penuh amarah. "Di bawah perlindunganmu? Kau, seorang Immortal? Kalian yang penuh kebohongan murahan dan tipu daya keji masih berani menyebut diri kalian sebagai Immortal? Hahaha!"

Tang Long mendengus meremehkan. "Kenapa kita masih mau mendengarkan ocehan seorang manusia fana tentang apa itu Immortal?"

"Sudah, cukup bicara kakak Tang. Habisi dia!" Fang Zhelan mulai kehilangan kesabarannya.

Mata Jing Yan berkobar penuh perlawanan. "Walaupun seumur hidup ini aku tidak pernah menjadi seorang Immortal, kalian berdua tetap tidak lebih dari sampah yang menyalahgunakan kekuatan demi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah. Mungkin sekarang kalian bisa berbuat sesuka hati, tetapi jalan yang kalian pilih itu akan menjadi kehancuran kalian sendiri. Ingat kata-kataku. Suatu hari nanti kalian akan menemui kematian yang menyedihkan! Satu-satunya penyesalanku hanyalah aku tidak bisa membunuh kalian berdua sendiri demi membalaskan dendam rakyat Negeri Awan."

"Diam!" Tang Long membentak, wajahnya dipenuhi amarah. "Kau hanyalah setitik debu di alam semesta ini, tetapi masih berani berbicara tentang jalan para Immortal? Manusia fana sepertimu sama sekali tidak memahami kultivasi ataupun pantangan-pantangan di dalamnya!"

"Bahkan serangga yang hidup hanya sesaat pun mampu melintasi lautan luas dan langit yang tinggi. Jadi kenapa aku, seorang manusia, tidak bisa memahami Jalan seorang Immortal?" Jing Yan tersenyum sinis penuh tantangan.

Tang Long tertawa mengejek. "Kalau begitu, coba jelaskan padaku. Apa arti sebenarnya menjadi seorang Immortal?"

Sambil menggenggam pedangnya, Jing Yan berdiri tegak di atas bangkai iblis ular. Tatapannya menyala penuh semangat, sementara tekadnya tetap tak tergoyahkan. "Berani mengorbankan diri demi rakyat, serta memiliki hati yang menyatu dengan dunia. Itulah arti sebenarnya menjadi seorang Immortal.”

Jing Yan tahu dirinya bukan tandingan Tang Long.

Namun pada saat itu, dengan pedang di tangan dan tekad yang memenuhi hatinya, ia melangkahi mayat-mayat ular dan menerjang ke arah Tang Long sambil berteriak, "Membasmi iblis, memberkati umat manusia, serta melindungi Jalan Langit, itulah hakikat seorang Immortal!"

Suasana seketika menjadi tegang.

Cahaya pedang Jing Yan bergulung bagaikan ombak yang mengamuk, membuat semua orang yang menyaksikannya terperangah.

Tang Long justru merasa geli melihat keberanian manusia fana di hadapannya.

"Biar kuperlihatkan kepadamu apa arti sebenarnya menjadi seorang Immortal. Dengan satu serangan saja, aku akan mengakhiri hidupmu. Itulah arti menjadi seorang Immortal."

Hanya dengan satu jentikan jari, Jiwa Pedangnya melesat menembus dahi Jing Yan.

Penguasa muda yang sebelumnya dipenuhi semangat dan perlawanan itu langsung membeku di tempat, tubuhnya berhenti tepat di gerakan terakhirnya saat hendak menyerang.

Bahkan ketika darah terus mengalir dari luka di dahinya, kedua mata Jing Yan tetap menatap tajam ke arah mereka berdua.

"Jadi kau menganggap dirimu seorang pahlawan? Kau pikir kau akan selalu menang? Kau pikir dunia tidak mengakui kemampuanmu hanya karena usiamu masih muda?" Tang Long tertawa kecil.

Namun, bahkan setelah Jing Yan mati, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Tang Long tidak sanggup menatapnya terlalu lama.

Setelah semuanya berakhir, ia dan Fang Zhelan pun meninggalkan tempat itu.

~ ~ ~ ~ ~

Zaman telah berubah di Negeri Awan.

Fang Yutian naik takhta menjadi Kaisar, sementara nama serta warisan Jing Yan dicemarkan dalam catatan sejarah.

‘Apa sebenarnya seorang Immortal itu?’

‘Dan apa sebenarnya Jalan Keabadian itu?’

Setelah tusukan mematikan yang menembus kepalanya, Jing Yan terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu tanpa henti.

Konon katanya, setelah seseorang meninggal, jiwanya akan tetap tinggal. Dan Jing Yan sama sekali tidak berniat melepaskan semuanya begitu saja.

Ia mulai berlatih bela diri sejak usia enam tahun. Pada usia delapan tahun, seluruh meridiannya telah terbuka. Saat berusia dua belas tahun, semua orang telah menyebutnya sebagai seorang jenius Negeri Awan. Di usia lima belas tahun, hampir tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya.

Namun dunianya ternyata terlalu kecil.

Karena Tang Long berasal dari alam yang lebih tinggi, seluruh kerja keras, impian, dan usahanya seolah menjadi sesuatu yang tidak berarti.

"Kalau aku diberi kesempatan sekali lagi... aku akan mempertaruhkan segalanya demi mencapai tingkat Immortal." gumam Jing Yan.

Anehnya, setelah kematian menjemputnya, tekadnya justru menjadi semakin kuat.

Jiwanya melesat menembus angkasa raya.

"Ke mana sebenarnya aku sedang pergi?"

Jiwanya yang telah hancur berkeping-keping melayang di dalam kehampaan.

Dari sudut pandangnya, dunia tempat ia tinggal perlahan menjadi semakin kecil.

Tiba-tiba, ia melihat sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan.

Tanah tempat ia hidup selama enam belas tahun itu, jika dilihat dari kejauhan, ternyata menyerupai sebuah pemakaman raksasa yang tak berujung.

Di sana berdiri sebuah batu nisan yang luar biasa besar, diselimuti kabut keabadian. Batu nisan itu menjulang tinggi bagaikan tiang yang menopang langit sekaligus menahan bumi. Dan tepat di bawah pemakaman raksasa itu terdapat sebuah peti mati perunggu kuno yang ukurannya sangat besar.

"Jadi beginikah rasanya setelah mati? Apa ini hanya mimpi yang aneh?" pikir Jing Yan, merasa ketakutan sekaligus kebingungan.

Terlalu tenggelam dalam pikirannya, ia hampir tidak menyadari bahwa ada kekuatan mengerikan yang sedang menyeret jiwanya ke bawah.

Kekuatan itu menariknya tanpa bisa dilawan menuju peti mati perunggu kuno tersebut.

Raungan yang memekakkan telinga memenuhi pendengarannya.

Saat jiwanya memasuki peti mati itu, sebuah suara agung bergema di sekelilingnya.

"Peti mati ini menopang langit dan menahan dunia bawah, memurnikan jiwa-jiwa yang tak terhitung jumlahnya sepanjang zaman. Ia menelan alam-alam tertinggi dan melahirkan ribuan dunia. Dan di antara semua itu, hanya ada satu Jalan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi Pencipta Immortal.”

Bab 3 - Apakah Aku Benar-benar Bereinkarnasi?

"Apakah ini Pencipta Immortal?" Jing Yan terengah-engah saat jiwanya terseret ke dalam peti mati itu. Di sekelilingnya terbentang kabut hitam pekat yang menyeramkan, mengingatkannya pada dunia bawah.

"Ya ampun! Besar sekali!" serunya, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Di hadapannya terbujur sesosok mayat raksasa berbentuk manusia yang ukurannya nyaris melampaui batas pemahaman.

"Makhluk ilahi apa yang bersemayam di sini?" Namun sebelum Jing Yan sempat menemukan jawabannya, sebuah daya tarik yang kuat memancar dari tubuh itu dan menyeret jiwanya ke dalamnya. Dengungan yang dalam bergema, dan untuk sesaat ia merasakan dirinya hidup kembali.

"Aku... hidup kembali dengan menggunakan tubuh ini!" Saat membuka matanya, Jing Yan merasa seolah-olah seluruh dunia mengecil di bawah tubuh Immortal yang begitu besar itu. Namun sesaat kemudian, ia menyadari sesuatu.

"Ini... ini hanya kulitnya!" gumamnya dengan terbata-bata, benar-benar kebingungan.

Di dalamnya tidak ada tulang, tidak ada darah, tidak ada organ dalam—yang ada hanyalah kehampaan. Satu-satunya yang memenuhi kulit raksasa itu hanyalah kabut iblis yang pekat, dipenuhi serangga-serangga purba yang mengerikan, ular-ular berbisa, serta roh-roh gentayangan. Mereka berkeliaran dengan bebas, saling menggigit dan mengeluarkan jeritan menyeramkan yang bergema serempak, membuat bulu kuduk Jing Yan berdiri.

"Jangan-jangan hama-hama ini telah melahap tubuh Immortal itu hingga yang tersisa hanya kulitnya?" pikir Jing Yan. "Sial! Apa gunanya hidup kembali kalau begini?"

Seolah menjawab pikirannya, kulit Immortal itu tiba-tiba bergetar.

Di tengah cahaya yang berpendar, Jing Yan mendengar suara-suara kuno yang bergema. "Pencipta Immortal, sang tiran! Enam Dewa Leluhur telah mengorbankan tiga ribu alam keabadian dan membakar darah makhluk yang tak terhitung jumlahnya demi memenjarakannya di Neraka Kunlun!"

"Aku memikul peti mati ini, melahirkan Langit dan Bumi, menciptakan Enam Jalan, dan melahirkan umat manusia! Namun pada hari keberhasilanku yang agung, para makhluk hina itu justru berani melahapku?"

Pada akhirnya terdengar tawa dingin yang penuh penghinaan. "Hari ketika Pilar Ilahi lenyap adalah hari kebangkitan Pencipta Immortal! Wahai makhluk-makhluk rendahan dari Enam Alam, kehancuran sedang menanti kalian."

Begitu suara itu menghilang, kulit Immortal tersebut memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan hingga menerangi seluruh peti mati perunggu.

"Tubuhku... sedang menyusut!" gumam Jing Yan ketika ia merasakan kulit raksasa itu mulai mengempis dan menyusut mengelilinginya.

Cahaya yang menyilaukan memenuhi seluruh penglihatannya.

Dari tubuh Immortal yang tak bertepi itu, perlahan terbentuk sebuah bola cahaya yang diameternya tidak lebih dari delapan kaki, sementara dengungan yang berat bergema di dalam kehampaan.

Dari dalam cahaya itu muncul sebuah tubuh baru yang sangat mirip dengan tubuh Jing Yan sebelumnya.

Kulitnya sehalus batu giok, wajahnya tampan dengan garis-garis tegas, matanya sebening rembulan terang, dan rambutnya terurai seperti air terjun. Ia tampak jauh lebih tampan dibandingkan sebelumnya.

"Hahaha! Aku hidup lagi! Jing Yan telah kembali!"

Kulit Immortal yang begitu luas kini telah berubah menjadi daging, tulang, darah, dan organ dalam. Ukurannya memang kecil, tetapi tubuh itu telah sempurna.

Saat menatap kedua tangan dan kakinya yang bersih tanpa noda, jari-jarinya yang ramping, serta kulitnya yang putih, ia tiba-tiba panik dan buru-buru memeriksa bagian bawah tubuhnya.

"Syukurlah, aku masih laki-laki! Bahkan... lebih hebat daripada sebelumnya." Jing Yan menghela napas lega sambil mulai membiasakan diri dengan tubuh barunya. "Dantianku... energi itu... semuanya hilang?"

Pada tubuh lamanya, ia telah mencapai kesempurnaan dalam seni bela diri. Namun tubuh yang baru ini terasa seperti batu giok tanpa cacat yang belum pernah dipahat sedikit pun.

"Sepertinya aku harus mulai berlatih lagi dari awal... tapi setidaknya aku masih hidup."

Tiba-tiba, aura mengerikan yang luar biasa dahsyat menyelimuti Jing Yan.

"Apa itu?" Matanya membelalak ketakutan.

Di hadapannya berjajar sepuluh benda raksasa yang membentang sejauh mata memandang.

"Peti mati... di dalam peti mati?"

Benar saja, yang berdiri di sana adalah sepuluh peti mati kuno yang tersusun di dalam peti mati besar itu. Masing-masing begitu besar dan setiap peti memiliki warna yang berbeda.

Yang paling dekat dengan Jing Yan berwarna pucat, dengan dua karakter kuno yang terukir di permukaannya.

‘Mengubur Langit!’

Tiba-tiba terdengar ledakan yang memekakkan telinga.

Pada saat berikutnya, peti mati pucat yang bertuliskan ‘Mengubur Langit’ itu bergetar hebat sebelum meledak tepat di depan mata Jing Yan, menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.

Gelombang cahaya biru yang dahsyat langsung menelan tubuhnya.

Setelah peti mati itu hancur berkeping-keping, dari sisa-sisanya bermekaran sekuntum bunga teratai berwarna biru langit yang memenuhi seluruh pandangannya.

"Besarnya bunga ini..." bisik Jing Yan dengan jantung berdegup kencang.

Bersamaan dengan dengungan yang berat, bunga teratai itu perlahan melayang ke atas, sementara Jing Yan merasakan jiwanya ikut terseret bersamanya, melesat keluar dari peti mati perunggu kuno itu dan terbang melintasi daratan yang tak berujung.

Tiba-tiba, pandangannya kembali menjadi jernih.

Dalam keadaan sedikit linglung, Jing Yan merasa dirinya berdiri di hadapan batu nisan raksasa yang menopang daratan tempat ia tinggal.

Tepat di depan matanya, bunga teratai biru langit itu menghantam batu nisan tersebut, mewarnainya dengan cahaya biru yang sama misteriusnya. Bunga teratai dan batu nisan itu kemudian menyatu, berubah menjadi sebilah pedang raksasa berwarna biru yang menjulang hingga ke langit dan menancap kokoh ke dunia bawah.

Sebuah dengungan bergema. Seketika itu juga, Jing Yan kembali ke dalam tubuhnya sendiri dengan kepala yang terasa pusing dan pandangan yang masih berputar.

Saat menunduk, ia melihat cahaya biru yang cemerlang menyelimuti seluruh tubuhnya. Tubuh baru yang sempurna ini tampaknya sedang mengalami perubahan yang misterius.

"Apa ini..." Dari telapak tangannya yang terulur, muncul sebilah pedang cahaya berwarna biru langit sepanjang sekitar tiga inci. "Aku memiliki Jiwa Pedang!"

Saat diperhatikan lebih saksama, ia melihat sebuah kuncup bunga teratai biru yang sangat kecil tersegel di dalam Jiwa Pedang itu.

"Apakah bunga teratai biru dari peti mati yang lebih kecil itu dan batu nisan raksasa di luar sana berhubungan dengan Jiwa Pedang ini?" Pikirannya menjadi kosong ketika berusaha memahami semua kejadian yang mustahil itu. Ia kembali memikirkan sembilan peti mati lain yang masih berada di dalam peti mati perunggu purba tersebut. "Rahasia apa yang tersembunyi di dalamnya?"

Hanya dengan melihat peti mati kedua saja, sebuah peti mati ungu yang megah dan memancarkan aura purba yang membekukan, rasa takut yang berasal dari naluri terdalam langsung muncul dalam dirinya. Di atas peti mati itu terukir sebuah nama.

‘Penjaga Penjara.’

Suara gemuruh bergema.

Saat tatapan Jing Yan tetap tertuju padanya, peti mati itu seolah memberikan respons, bergetar perlahan.

"Hah? Apa kau juga akan menjadi Jiwa Pedangku?" Setelah mengalami begitu banyak kejadian aneh hari ini, rasa takut Jing Yan seolah telah menghilang.

Dengungan kembali terdengar. Peti mati ungu itu seakan memahami perkataannya dan tampak sangat tidak senang.

Boom!

Tiba-tiba peti mati itu langsung menerjang ke arahnya.

"Ugh... sial..." Saat benturan itu terjadi, Jing Yan merasa dunia berputar hebat sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Pikiran terakhir yang muncul sebelum kegelapan menelannya hanyalah sebuah pertanyaan.

"Apakah aku benar-benar bereinkarnasi melalui tubuh Immortal itu... atau semua ini hanyalah mimpi yang tidak masuk akal saat jiwaku menghilang?"

Dalam keadaan seperti mimpi itu, Jing Yan melihat sebuah dunia yang dipenuhi makam, sebuah peti mati perunggu kuno, Pencipta Immortal, sekuntum teratai biru, sebuah batu nisan raksasa, serta sepuluh peti mati kecil yang penuh misteri...

Tiba-tiba, Jing Yan terbangun!

Di tengah kegelapan malam, pandangannya tertuju pada langit yang dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip. "Ini... Bukankah ini wilayah Negeri Awan? Dekat dengan Ibu Kota Kekaisaran?"

Benar saja, tidak jauh darinya berdiri megah Ibu Kota Kekaisaran Negeri Awan.

"Ya ampun... Aku benar-benar telah hidup kembali." Saat melihat bayangannya pada kolam yang jernih di dekatnya, Jing Yan melihat sosok barunya sendiri. "Bahkan bakat kultivasiku... meningkat lebih dari sepuluh kali lipat!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!