Darah kental menetes dari ujung jubah hitam Sun Chen, membasahi batu-batu dingin di tepi tebing yang menjulang. Napasnya memburu, berat dan serak. Luka tusukan di dada kirinya menembus dalam, sementara bahu kirinya terkulai mati rasa akibat hantaman tenaga dalam berdaya hancur tinggi.
Di hadapannya, puluhan pendekar dari Aliansi Persilatan mengepung dalam formasi setengah lingkaran yang rapat. Baju zirah dan jubah mereka yang megah tampak berkilau di bawah naungan langit mendung. Di barisan paling depan, Pemimpin Sekte Pedang Langit berdiri tegak dengan pedang lurus terhunus, disandingkan oleh Pemimpin Sekte Gunung Suci yang menggenggam tasbih besar di tangannya.
"Hari ini adalah akhir perjalananmu, Sun Chen. Serahkan Kitab Naga Hitam... atau jurang di belakangmu akan menjadi makam tanpa nama," ancam Pemimpin Sekte Pedang Langit, suaranya dingin dan sarat ancaman yang mengintimidasi.
Sun Chen tidak langsung menjawab. Dengan sisa tenaganya, ia perlahan memutar pandangan, menoleh ke belakang melewati celah formasi musuh. Ia mencari sosok rekan-rekannya sesama Jenderal Demonic yang beberapa saat lalu bersumpah akan bertempur mati-matian bersamanya.
Kosong.
Tak ada seorang pun.
Rekan-rekannya telah meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun.
Sun Chen nyaris tertawa.
Beginilah wajah sejati Kultus Demonic. Selama puluhan tahun ia menyaksikan pengkhianatan demi pengkhianatan, tetapi ketika giliran dirinya menjadi tumbal, rasa pahit itu tetap menusuk jauh lebih dalam daripada luka di dadanya.
Meski begitu, wajah Sun Chen tidak menunjukkan sedikit pun kerapuhan. Sebagai Jenderal Demonic berusia lima puluh empat tahun yang ditakuti di seluruh benua, ia menolak memperlihatkan rasa sakit di hadapan para musuhnya. Tatapannya tetap dingin, tajam, dan penuh keangkuhan yang tak tergoyahkan.
"Menyerahkan kitab?" Sun Chen tertawa pelan. Darah segar menyembur kecil dari sudut bibirnya saat ia terkekeh. "Kalian bicara seolah-olah akan membiarkanku hidup jika aku menyerahkannya. Aku tahu betul bagaimana cara Aliansi Persilatan bekerja. Menyerahkan kitab hanya berarti mati perlahan di dalam penjara bawah tanah kalian setelah disiksa habis-habisan."
"Bicara omong kosong!" sahut Pemimpin Sekte Gunung Suci sembari melangkah maju. Tangannya mengangkat tasbih kayu, memancarkan gelombang tenaga dalam yang menekan udara di sekitar. "Tenggat waktumu sudah habis, Sun Chen! Pilih mati di tangan kami, atau serahkan kitab itu sekarang!"
Sun Chen menegakkan punggungnya yang terluka. Ia memandang para pendekar di depannya dengan tatapan mencemooh. Menghentak lantai batu di bawah kakinya, ia melangkah mundur satu kali. Tumitnya memijat udara kosong di tepi jurang.
Ia mendongak, menatap langit kelam yang tertutup awan hitam untuk terakhir kalinya.
"Aku tidak akan pernah berlutut pada kalian," bisik Sun Chen pelan.
Tanpa ragu sedikit pun, Sun Chen menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia meluncur ke dalam kegelapan jurang tanpa dasar. Teriakan kaget dan kepakan jubah para pendekar Aliansi Persilatan yang panik terdengar samar-samar dari atas, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap ditelan deru angin malam.
Rasa melayang menghantam Sun Chen saat tubuhnya meluncur turun dalam kecepatan tinggi. Angin tajam menyayat kulitnya yang terluka, namun rasa sakit itu perlahan menghilang. Sun Chen memejamkan mata, membiarkan tubuhnya pasrah menantikan saat-saat kegelapan menelan nyawanya.
Namun, rasa hantam tanah yang ia tunggu-tunggu tidak pernah berkunjung.
Kecepatan jatuh tubuhnya perlahan melambat. Kegelapan di sekelilingnya berubah. Ruang di sekitarnya mengembang tanpa batas, melenyapkan tebing, angin, dan gravitasi. Tidak ada atas maupun bawah di tempat ini.
Tiba-tiba, jauh di kedalaman kegelapan abadi itu, sepasang mata keemasan terbuka. Ukuran bola mata itu luar biasa besar, menyerupai dua gunung bercahaya yang memandang lurus ke arah jiwa Sun Chen. Di belakang sepasang mata tersebut, melilit wujud raksasa seekor naga hitam dengan sisik-sisik sekeras baja legendaris yang menyelimuti ruang kosong di sekitarnya.
"Jadi... akhirnya ada juga manusia yang berhasil datang ke sini..."
Sun Chen membeku.
Suara itu tidak terdengar melalui telinga. Ia langsung mengguncang jiwanya.
"Kitab yang kau rebut selama puluhan tahun hanyalah sepotong sisik yang kutinggalkan."
Mata naga itu perlahan menyipit.
"Dan kau mengira telah menyentuh puncak kekuatan."
Sun Chen berusaha keras menggerakkan tenaganya, membakar sisa Qi jahat di dalam dirinya untuk bertahan dari tekanan hebat ini. "Tunggu! Jelaskan padaku! Jika kau pemilik sejati kitab itu, apa yang kau inginkan dariku?!"
Naga raksasa itu mulai memejamkan matanya kembali. Wujudnya perlahan mengabur di dalam kegelapan, namun suaranya kembali bergemung menembus kesadaran Sun Chen.
"Ingat baik-baik..."
"Takdir memberimu satu kesempatan lagi."
"Jika kali ini kau tetap memilih jalan yang sama..."
"Bahkan kematian tidak akan mampu menyelamatkanmu."
Seketika, cahaya putih yang sangat menyilaukan meledak dari pusat kegelapan, merampas seluruh pandangan Sun Chen. Tubuhnya terasa menyusut secara tidak alami. Tulang-tulangnya berderak, memendek dan mengecil. Suara deru angin jurang yang sunyi mendadak berganti dengan derit kayu bergesekan dan getaran roda yang menghantam jalanan berbatu.
Sun Chen tersentak bangkit, matanya terbuka lebar.
Pemandangan di hadapannya berputar. Bau darah, lumpur, dan kotoran menyerbu hidungnya hingga membuat dadanya sesak. Ia menatap ke bawah dan membeku.
Yang terbentang di hadapannya adalah sepasang tangan kecil yang kurus, dipenuhi goresan dan bekas lumpur kering. Kakinya pendek, terikat erat bersama belasan anak kecil lainnya di atas jerami busuk. Mereka berada di dalam gerobak kayu tertutup yang bergoyang-goyang kasar.
Sun Chen mengertakkan gigi. Pikiran dan ingatan berusia lima puluh empat tahun bergolak hebat di dalam benaknya. Ia mengenali tempat ini. Ia mengenali bau busuk ini.
Ini adalah usianya yang ke-4.
Ingatan kelam yang selama puluhan tahun ia kubur di dasar hatinya mendadak mendobrak keluar. Hari ini adalah hari ketika desanya dibakar habis oleh kelompok perampok. Hari ketika ayah dan ibunya dibantai tepat di depan matanya sendiri, sebelum ia diseret dan dilemparkan ke dalam kereta budak ini.
Bayangan wajah ibunya yang bersimbah darah, menangis memohon agar Sun Chen kecil diselamatkan, membakar dadanya dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Air mata menetes di pipi mungil Sun Chen tanpa bisa ia tahan.
Sudah puluhan tahun ia mengira kenangan itu telah mati. Ternyata luka yang paling dalam tidak pernah benar-benar sembuh.
Namun, Sun Chen menghentakkan kepalanya ke dinding kayu kereta. Rasa sakit fisik itu membangkitkan kesadarannya.
"Cukup," bisik Sun Chen dalam hatinya, suaranya dingin dan tajam.
Ia memejamkan mata sejenak, menekan emosi liar itu dalam-dalam. Ia adalah Sun Chen, Jenderal Demonic yang telah melewati ribuan pertarungan mematikan. Ia bukan lagi anak kecil yang tidak berdaya. Pikirannya kembali jernih dan terkontrol, berganti menjadi ketenangan seorang ahli strategi yang telah melewati ratusan medan perang.
Ia tahu persis ke mana kereta budak ini bergerak. Kereta ini menuju ke Pasar Budak di perbatasan, di mana ia nantinya akan dibeli oleh utusan Kultus Demonic dan dibawa ke Lembah Terpencil. Di sana, ia dihantam latihan neraka yang mengubahnya menjadi mesin pembunuh dingin, membawanya pada takdir pengkhianatan dan kematian di tebing jurang.
"Aku tidak akan menempuh jalan yang sama," ikrar Sun Chen dalam batinnya. "Kali ini, aku yang menentukan takdirku sendiri."
Tanpa membuang waktu, Sun Chen mulai bergerak pelan, memastikan gerakan mungilnya tidak memancing perhatian anak-anak lain yang menangis sesenggukan di sekitarnya. Matanya yang tajam mengamati sekeliling.
Ia menghitung lima penjaga berkuda berjalan di samping dan belakang kereta. Dua penjaga duduk di kursi depan kereta memegang kendali kuda. Konstruksi kereta terbuat dari kayu tebal, namun saat mata Sun Chen meneliti sudut bawah dekat kakinya, ia menemukan celah kecil. Salah satu pasak kayu di sudut kanan bawah telah lapuk dan retak akibat erosi air.
Perlahan, Sun Chen menjatuhkan tangannya ke bawah jerami. Jari-jarinya yang mungil meraba-raba dasar kereta hingga menemukan sepotong batu kecil berujung tajam. Ia menggenggam batu itu erat-erat di dalam telapak tangannya.
Dengan ketelitian tinggi, Sun Chen mulai menempelkan ujung batu tajam itu ke celah pasak kayu yang lapuk. Setiap kali roda kereta menghantam batu jalanan dan menimbulkan suara getaran keras, Sun Chen mencungkil celah kayu itu secara berulang dan teratur, memperbesar keretakan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Klek. Pasak kayu itu semakin longgar.
Kereta budak bergoyang keras saat mulai melintasi sebuah jembatan kayu tua. Di bawah mereka, arus sungai deras menghantam bebatuan, menghasilkan buih putih yang bergemuruh di bawah jembatan, menutup derit kayu retak dari pengerjaan Sun Chen.
Sun Chen menahan napas, bersiap memanfaatkan kelonggaran papan kayu untuk merayap keluar begitu kereta mencapai pertengahan jembatan.
"Hei!"
Bentakan kasar itu membuat seluruh anak di dalam kereta tersentak.
Penjaga bertubuh besar menarik kudanya hingga sejajar dengan sisi kereta. Tatapannya berhenti tepat pada tangan kanan Sun Chen yang masih tersembunyi di balik jerami.
"Apa yang kau sembunyikan di sana, bocah?"
Sun Chen perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan seorang anak berusia empat tahun seharusnya dipenuhi ketakutan.
Namun yang menatap balik sang penjaga adalah sepasang mata sedingin pembunuh yang telah melewati ratusan medan perang.
Penjaga bertubuh besar itu melompat turun dari kudanya. Sepatu kulitnya menghantam lantai kayu jembatan dengan dentuman keras. Tatapannya menembus jeruji kayu kereta, terkunci lurus pada telapak tangan kanan Sun Chen yang masih merapat di atas jerami.
"Buka tanganmu, Bocah!" bentaknya seraya mencengkeram jeruji kereta.
Sun Chen menimbang situasi dalam hitungan detik. Di tubuh usia empat tahun ini, ia tidak memiliki Qi, tidak memiliki kekuatan fisik, dan jangankan membunuh, menangkis pukulan pria ini saja sudah dipastikan akan mematahkan lengannya. Jika ia kedapatan membawa batu tajam, penjaga ini akan langsung memukulnya hingga pingsan dan mengikat tangannya lebih kencang. Rencana kaburnya akan hancur total.
Seketika, mata Sun Chen yang tadi sedingin es mendadak berubah meredup. Otot-otot fisiknya yang mungil ia lemaskan. Batu kecil di telapak tangannya ia jatuhkan secara halus di celah-celah jerami bawah kakinya.
Sun Chen menyusutkan bahunya, menjatuhkan tubuhnya ke depan, dan mulai menangis sesenggukan. Bahunya berguncang hebat, memperlihatkan kepanikan dan ketakutan murni layaknya anak balita yang terpojok.
"A-aku takut... Ibu..." cicit Sun Chen dengan suara serak, sengaja menyembunyikan telapak tangannya yang kini sudah kosong di bawah lututnya yang gemetar.
Penjaga itu menyipitkan mata, mendengus kasar melihat reaksi Sun Chen. Ketegangan di wajahnya sempat mereda saat melihat tangisan anak mungil itu. Namun sebelum penjaga itu melangkah mundur, penjaga kedua yang berkuda di sisi sebelah kanan berteriak nyaring.
"Tunggu, Brother! Lihat bagian bawah kereta di dekat kakinya!"
Penjaga kedua menunjuk ke arah sudut bawah kereta. "Papan kayu di sudut itu terpisah dari pasaknya. Anak itu dari tadi bergerak-gerak di sana!"
Mata penjaga bertubuh besar kembali menyala marah. Ia mengangkat kaki kanannya yang terbalut sepatu kulit tebal, lalu menendang keras bagian bawah kereta tepat di mana pasak kayu yang diserut Sun Chen berada.
Brak!
Hantaman keras itu menjadi pemicu terakhir bagi kayu yang sudah lapuk. Bukannya sekadar memeriksa, benturan kuat dari sepatu tebal sang penjaga justru membuat pasak yang telah longgar itu patah total. Papan dasar kereta berderak hebat, lalu jebol dihantam beban jerami dan tubuh anak-anak di atasnya.
Lantai kereta rubuh seketika tepat di pertengahan jembatan.
Jeritan histeris melengking memecah gemuruh air sungai saat bagian bawah kereta terbuka lebar. Jerami, pecahan kayu lapuk, dan lima anak kecil—termasuk Sun Chen—langsung meluncur jatuh bebas dari atas jembatan.
"Sialan! Kereta jebol!" teriakan para penjaga di atas jembatan terdengar kacau, diikuti ringkikan kuda-kuda yang panik.
Bruk!
Tubuh mungil Sun Chen menghantam permukaan air sungai yang dingin membekukan. Air masuk membanjiri hidung dan tenggorokannya seketika. Arus deras menghantamnya tanpa ampun, memutarbalikkan tubuhnya yang tak berbobot seperti selembar daun kering di tengah badai.
Dalam kepanikan bawah air, insting alami anak kecil akan memaksa mereka mengepakkan tangan dan melawan arus, yang hanya akan menguras napas dan membuat mereka tenggelam lebih cepat. Namun Sun Chen adalah seorang veteran perang yang telah melewati ratusan pertempuran mematikan.
Ia menahan napasnya rapat-rapat. Ia sengaja melemaskan seluruh persendian tubuhnya, membiarkan arus membawanya mengikuti aliran sungai alih-alih melawan dorongan air yang mahadahsyat. Kedua tangan mungilnya ia silangkan di atas kepala, melingkungi tengkorak dan lehernya dari ancaman benturan cadas sungai.
Di sekitarnya, samar-samar ia melihat pecahan papan kayu dan bayangan anak-anak lain yang tersapu arus deras. Sun Chen memanfaatkan dorongan gelombang untuk menyiku pecahan papan kayu di dekatnya, menggunakannya sebagai penahan benturan samping.
Meskipun pengalaman tempurnya puluhan tahun membimbing setiap pergerakannya di dalam air, fisik anak empat tahun memiliki keterbatasan mutlak. Paru-parunya yang kecil mulai terasa membakar hebat karena kehabisan oksigen. Kesadarannya perlahan buram saat tubuhnya terus diseret ke hilir.
Gelombang besar mendadak memutar tubuh Sun Chen, melemparnya ke arah belokan sungai yang dipenuhi bebatuan hitam tajam.
Brak!
Punggung dan kepala belakang Sun Chen menghantam keras sebuah batu kali yang mencuat di dalam kegelapan air. Rasa sakit menjalar hebat di dadanya sebelum pandangannya sepenuhnya menguap menjadi hitam.
Sun Chen terbatuk-batuk hebat. Air sungai yang tertelan menyembur keluar dari mulutnya saat dadanya naik turun menghirup udara secara kram.
Rasa dingin yang menusuk tulang melingkupi seluruh tubuhnya. Sun Chen membuka mata secara perlahan, mendapati dirinya telentang di atas pasir basah di tepi sungai. Cahaya matahari yang samar menembus celah-celah pepohonan di sekitarnya.
Di sampingnya, seorang pria tua duduk bersila di atas batu datar. Pria itu mengenakan jubah abu-abu lusuh yang dipenuhi tambalan kain kasar. Rambutnya yang memutih diikat asal-asalan ke belakang.
Sebelum Sun Chen sempat menggerakkan fisiknya, pria tua itu merapatkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, lalu menekan lembut bagian ulu hati Sun Chen.
Srrrt.
Sebutir gelombang hangat yang kasar namun sangat terkontrol menjalar masuk ke dalam pembuluh darah Sun Chen. Tenaga dalam itu mengalir cepat, mendorong sisa-sisa air di dalam paru-paru Sun Chen keluar melalui mulutnya, sekaligus menghangatkan aliran darahnya yang membeku.
Sun Chen menahan napasnya, tidak bergerak sedikit pun.
Dengan mata seorang ahli strategi yang terlatih puluhan tahun, Sun Chen membedah aliran Qi yang baru saja menyentuh organ dalamnya. Tenaga dalam pria tua ini terasa sangat padat, memiliki karakter berat dan bergetar seolah sanggup meremukkan batu hanya dengan satu sentuhan telapak tangan.
Ini adalah ciri khas ilmu tinju destruktif.
Sun Chen menatap pria tua di hadapannya dengan cermat. Tenaga dalam murni yang dimiliki pria lusuh ini jauh melampaui para penjaga kereta budak, bahkan mungkin setara dengan ahli tingkat menengah dari sekte-sekte persilatan ternama.
"Kau sudah sadar, Bocah?" tanya pria tua itu dengan suara serak namun bernada santai. Ia menarik kembali tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke batu. "Napasmu cukup tangguh untuk ukuran anak sekecil ini. Bagaimana bisa kau terapung di sungai deras sendirian?"
Sun Chen perlahan mendudukkan tubuhnya yang masih gemetar. Otaknya berputar cepat. Ia harus menyusun cerita yang masuk akal. Jika ia mengaku sebagai korban selamat dari pembantaian desa, pria ini mungkin akan mengantarkannya ke pejabat lokal—hal yang justru akan mempermudah Kultus Demonic melacak keberadaannya kembali.
Ia butuh pria ini membawanya pergi jauh dari wilayah perbatasan ini.
"Aku..." Sun Chen merendahkan suaranya, memancarkan kepolosan dan kerapuhan anak kecil yang trauma melalui matanya, namun tetap mempertahankan sedikit keteguhan. "Kereta kami... jatuh dari jembatan."
Pria tua itu menyipitkan mata. "Kereta? Kereta apa yang melintas di jembatan atas dalam cuaca seperti ini?"
Sun Chen menggigit bibir bawahnya, meremas jemari kakinya di atas pasir basah seolah mengingat kejadian mengerikan. "Orang-orang berkuda... mereka mengikatku dan anak-anak lain di dalam gerobak kayu. Mereka membawa cambuk..."
Raut wajah pria tua itu berubah pelan. Kerutan di dahinya makin dalam. "Kereta budak..." gumamnya dingin.
Sun Chen mengatur helaan napasnya. Ia hendak melanjutkan kebohongannya untuk memancing iba pria tua tersebut agar bersedia membawanya sebagai murid atau pengikut.
Namun sebelum kata berikutnya keluar dari mulut mungil Sun Chen, telinganya yang tajam menangkap getaran samar dari permukaan tanah di bawah sandaran tangannya.
Pria tua itu ikut menegakkan kepalanya. Tangan kanannya dengan refleks mengepal erat, memancarkan getaran Qi tipis yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Di kejauhan, dari balik rimbunnya hutan di sepanjang tepi sungai, suara derap kaki kuda yang dipacu cepat terdengar semakin mendekat. Suara teriakan para penjaga budak yang menyisir area hilir bergema keras, memecah kesunyian tepi sungai.
Lima ekor kuda melompat keluar dari rimbunnya semak belukar, menggerus pasir basah di tepi sungai. Para penjaga budak menarik tali kekang hingga kuda-kuda mereka meringkik keras, memercikkan air dangkal ke udara.
Mata pemimpin penjaga menyipit saat menatap jejak-jejak basah di atas pasir, lalu pandangannya terkunci rapat pada sosok Sun Chen yang duduk di samping seorang pria tua berjubah abu-abu lusuh.
"Ternyata ada satu yang selamat," cetus pemimpin penjaga sambil menyeringai kasar. Ia mengibaskan cambuk kulit di tangannya, menimbulkan suara lecutan nyaring yang membelah keheningan sungai.
Ia mengamati pria tua yang bersila santai di atas batu datar. Pria itu tampak seperti pengemis tua berpenampilan berantakan dengan pakaian penuh tambalan.
"Hei, Tua Renta!" bentak sang pemimpin penjaga dari atas kudanya. "Serahkan bocah itu sekarang! Dia adalah barang dagangan kami yang hanyut dari gerobak!"
Sun Chen tetap bergeming di tempatnya. Ia sama sekali tidak menangis atau menjerit meminta pertolongan. Pikirannya melayang jauh, mengamati setiap detail kecil dari pria tua di sisinya.
Napas pria tua itu teratur tanpa celah, seirama dengan deru angin malam yang berembus pelan. Postur duduknya sangat stabil, dengan pusat berat yang menghujam dalam ke bumi. Ketenangan ekstrem di tengah ancaman lima pria bersenjata ini membuat Sun Chen semakin yakin bahwa pria tua ini adalah seorang ahli tingkat tinggi.
Sun Chen memutar ingatan masa lalunya. Sebagai mantan Jenderal Demonic berusia lima puluh empat tahun, ia menyimpan perpustakaan pengetahuan yang sangat luas di kepalanya. Puncak tenaga dalam murni bertipe berat, gerakan tangan yang minim namun sarat getaran, dan aura menghancurkan yang terselubung rapat.
Sebuah ingatan puluhan tahun lalu mendadak melintas di benak Sun Chen. Di masa lalu, ada sebuah legenda tentang seorang pendekar tinju pengembara yang dijuluki Setan Tinju. Orang itu menghilang secara misterius dari persilatan puluhan tahun lalu setelah mengguncang benua dengan kekuatannya.
Apakah pria tua lusuh ini adalah orang yang sama?
"Kenapa kau diam saja, Tua Renta?!" teriak salah satu penjaga yang bertubuh kerdil dengan wajah dipenuhi bekas luka. Ia memutar kudanya mendekat, mengacungkan parang tajam ke arah wajah pria tua itu. "Kau tuli, ya? Jika kau ikut campur urusan kami, parang ini akan memisahkan kepalamu dari lehermu!"
Sun Chen sengaja terus menyembunyikan suaranya. Ia menatap telapak kakinya yang mungil, membiarkan situasi memanas untuk menguji reaksi pria tua itu secara langsung.
Pria tua itu perlahan mendongak. Matanya yang suram menatap kelima penjaga dengan sangat tenang, seolah sedang melihat tumpukan kayu bakar.
"Anak ini sudah hanyut dan hampir mati di sungai," ucap pria tua itu dengan suara serak yang datar. "Tinggalkan dia dan pergilah dari sini. Jangan membuatku mengotori tanganku."
Kelima penjaga itu saling pandang sejenak sebelum meledak dalam tawa terbahak-bahak.
"Dengar pengemis tua ini bicara!" seru penjaga berkulit gelap sambil tertawa kegirangan. "Dia pikir dia siapa?!"
"Cari mati!" bentak penjaga berwajah bekas luka. Tanpa membuang waktu lagi, ia melompat turun dari kudanya, memutar parang di udara, lalu menebaskannya lurus ke arah leher pria tua itu dengan kekuatan penuh.
Pria tua itu tidak melompat. Ia bahkan tidak berdiri dari posisinya yang bersila.
Ia hanya menggeser tubuh bagian atasnya setengah langkah ke kiri.
Angin tebasan parang meleset hanya beberapa milimeter dari bahunya. Di saat yang bersamaan, pria tua itu melayangkan satu pukulan lurus yang sangat sederhana dengan tangan kanannya. Kepalan tangannya menghantam tepat di tengah-tengah bilah besi parang lawan.
Brak!
Udara di sekitar mereka bergetar hebat. Gelombang tenaga dalam yang sangat padat meledak secara kasat mata. Parang besi yang tebal itu hancur berkeping-keping menjadi puluhan serpihan kecil.
Belum sempat penjaga itu menyadari apa yang terjadi, gelombang kejutan dari pukulan tersebut menembus dadanya. Pria itu menjerit pendek, tubuhnya terpental sejauh lima meter ke belakang, menghantam pohon cemara hingga tumbang, sebelum akhirnya tergeletak tak sadarkan diri dengan mulut berdarah.
Sun Chen menahan napasnya. Matanya yang kecil melebar penuh keterkejutan.
Tinju Penghancur Gunung!
Itu adalah jurus legendaris yang memadukan getaran fisik dan Qi murni untuk menghancurkan pertahanan terkeras dari dalam. Teknik ini telah lama punah dari dunia persilatan setelah hilangnya Sang Setan Tinju.
Keempat penjaga lainnya membeku di atas kuda masing-masing. Wajah mereka pucat pasi dalam hitungan detik.
"S-Setan!" teriak sang pemimpin penjaga dengan suara gemetar. "Serang! Serang dia bersama-sama!"
Empat pria itu langsung melompat turun dari kuda, menghunus senjata mereka dan menyerang secara bersamaan dari empat penjuru angin.
Pria tua itu akhirnya berdiri pelan. Jubah lusuhnya berkibar pelan tertiup angin yang tercipta dari gerakan tenaganya sendiri. Langkah kakinya begitu santai, mengelak dari tebasan pedang dan tusukan tombak secara presisi tanpa ada satu gerakan pun yang terbuang sia-sia.
Ia tidak berniat membunuh.
Plak! Plak!
Dua sentuhan ringan dari telapak tangannya menghantam pergelangan tangan dua penyerang, mematahkan tulang mereka seketika. Di saat yang sama, ia menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah.
Brak!
Getaran tanah membuat dua penjaga sisanya kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang. Sebelum mereka sempat bangkit, ujung sepatu lusuh pria tua itu sudah menutuk titik saraf vital di leher mereka.
Hanya dalam waktu kurang dari lima hitungan napas, empat penjaga itu telah lumpuh di atas pasir. Mereka merayap ketakutan dengan tubuh berdarah, merangkak cepat menuju kuda-kuda mereka yang panik.
"Lari! Lari!" jerit sang pemimpin penjaga yang bahunya terkulai patah. Mereka memaksakan diri naik ke atas kuda lalu memacu hewan-hewan itu pergi secepat mungkin, meninggalkan debu yang membumbung tinggi di sepanjang tepi sungai.
Suasana tepi sungai kembali hening. Hanya ada suara deburan air sungai dan desir angin malam.
Pria tua itu mendengus pelan, menepuk-nepuk debu yang menempel di jubahnya, lalu berbalik hendak berjalan meninggalkan tepi sungai.
Sun Chen sadar, inilah momen yang akan menentukan jalan hidupnya. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mempelajari seni bela diri sejati dari seorang guru yang hebat. Ia hanya dipaksa menjadi mesin pembunuh Kultus Demonic melalui latihan neraka yang merusak fondasinya.
Tanpa ragu sedikit pun, Sun Chen berlutut di atas pasir basah. Ia membungkukkan tubuh mungilnya, menempelkan dahi kecilnya ke tanah.
"Senior! Tolong terima saya sebagai murid Anda!" seru Sun Chen dengan suara yang bulat dan mantap, sama sekali tidak terdengar seperti suara anak kecil berusia empat tahun.
Pria tua itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit, menatap Sun Chen dari balik bahunya dengan tatapan dingin.
"Bangunlah, Bocah," ujar pria tua itu datar. "Aku tidak tertarik memiliki murid. Latihan dariku hanya akan membunuh anak kecil yang lemah sepertimu. Pergilah ke kota dan carilah kehidupan yang normal."
Pria tua itu kembali melangkah menjauh.
Sun Chen tidak bergeming dari posisinya yang berlutut. Ia mendongak, menatap punggung pria tua itu dengan mata yang tajam.
"Satu pukulan lurus, mengandalkan getaran ulu hati untuk memecah ketahanan besi," ujar Sun Chen dengan suara tenang dan jernih. "Gerakan kaki mengunci tiga titik bumi, memanfaatkan sudut gravitasi untuk melipatgandakan bobot tubuh."
Langkah pria tua itu terhenti seketika.
Sun Chen melanjutkan kalimatnya tanpa jeda. "Teknik yang Senior gunakan adalah Tinju Penghancur Gunung. Namun..."
Sun Chen memberi jeda satu detik. "...aliran tenaga dalam Senior terlalu kaku dan keras. Setiap kali Senior menghentakkan Qi murni untuk menghancurkan pertahanan lawan, ada sepuluh persen getaran balik yang tertahan di saluran meridian dada kanan Senior. Jika saya tidak salah, setiap malam saat bulan purnama, Senior pasti merasakan nyeri membakar di ulu hati."
Pria tua itu berbalik dengan kecepatan yang tak kasat mata. Dalam sekejap mata, ia sudah berdiri tepat di depan Sun Chen. Hawa panas yang luar biasa memancar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar mereka hingga terasa sesak.
Mata pria tua itu menyipit tajam, menatap lurus ke dalam sepasang mata Sun Chen. Rahasia nyeri meridian di dada kanannya adalah cedera lama yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun di dunia ini. Bahkan tabib terbaik pun tidak akan bisa mengetahuinya hanya dari melihat satu pertarungan singkat.
Untuk pertama kalinya, pria tua itu benar-benar memperhatikan anak kecil berusia empat tahun yang berlutut di hadapannya. Ia tidak melihat ketakutan atau kepanikan di mata anak itu. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak dan kedalaman pengetahuan yang mustahil dimiliki oleh seorang balita.
"Bagaimana kau bisa tahu hal itu?" tanya pria tua itu dengan suara berat dan dalam.
"Saya hanya mengamati aliran tenaga dalam Senior saat bertarung tadi," jawab Sun Chen jujur, mempertahankan tatapan matanya tanpa rasa gentar sedikit pun.
Pria tua itu diam seribu bahasa. Ia mengelus janggut putihnya yang berantakan, menimbang-nimbang situasi gila ini dalam pikirannya.
Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, pria tua itu melangkah ke tepi sungai. Ia membungkuk dan mengangkat sebuat batu kali berukuran raksasa—hampir tiga kali lebih besar dari tubuh mungil Sun Chen. Dengan satu sentakan tangan, ia melempar batu itu ke kaki bukit kecil di dekat mereka.
Brak!
Batu besar itu tertancap dalam di atas tanah.
"Aku masih belum percaya padamu, Bocah," kata pria tua itu sambil bersedekap tangan. "Jika kau ingin menjadi muridku, dorong batu itu sampai ke puncak bukit sebelum matahari benar-benar tenggelam."
Sun Chen menatap batu raksasa itu, lalu menatap bukit kecil yang curam di hadapannya.
Secara logika fisik, anak berusia empat tahun tidak akan pernah sanggup memindahkan batu sebesar itu. Namun Sun Chen mengerti betul maksud di balik perintah ini. Pria tua ini tidak sedang menguji kekuatan fisiknya, melainkan sedang menguji tekad dan ketahanan jiwanya.
"Baik, Guru," jawab Sun Chen pendek.
Tanpa mengeluh sepatah kata pun, Sun Chen bangkit berdiri dengan kakinya yang masih gemetaran. Ia melangkah mendekati batu raksasa tersebut, menempelkan kedua telapak tangan mungilnya ke permukaan batu yang kasar dan dingin, lalu mulai mengerahkan seluruh beban tubuhnya untuk mendorong.
Ugh!
Batu itu tidak bergeser satu milimeter pun. Otot-otot kecil di lengan Sun Chen terasa tegang dan menyakitkan.
Namun Sun Chen tidak berhenti. Ia mengertakkan giginya rapat-rapat, menancapkan kedua kaki telanjangnya ke dalam tanah, dan terus mendorong dengan seluruh tekad yang tersisa dari jiwa lima puluh empat tahunnya.
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.
Matahari perlahan mulai tenggelam di garis ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang membakar langit malam.
Kulit di kedua telapak tangan mungil Sun Chen telah terkelupas. Darah segar mengalir membasahi permukaan batu kasar yang didorongnya. Napasnya berbunyi serak dan berat, dadanya naik turun dengan kasar, dan kakinya sudah gemetaran hingga nyaris roboh.
Namun, batu raksasa itu telah berpindah sejauh belasan meter, merayap perlahan menaiki lereng bukit kecil tersebut. Sun Chen tidak mengeluh. Ia tidak menangis. Matanya tetap memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Pria tua yang berdiri di atas dahan pohon tak jauh dari sana memperhatikan setiap tetes keringat dan darah anak itu.
Untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis muncul di wajah pria tua yang kaku itu.
Ia melompat turun dari dahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, mendarat tepat di samping Sun Chen yang masih terus mendorong batu tanpa henti.
"Cukup, Nak," ujar pria tua itu pelan.
Sun Chen menghentikan dorongannya. Tubuh mungilnya hampir ambruk ke atas tanah karena kelelahan ekstrem, tetapi ia menyangga fisiknya dengan menempelkan punggung ke batu.
Pria tua itu menatap lurus ke dalam mata Sun Chen yang bernyala-nyala di tengah kegelapan malam yang mulai turun.
"Nak..." tanya pria tua itu dengan nada heran sekaligus kagum. "Siapa sebenarnya dirimu?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!