Indonesia
NovelToon NovelToon

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bab. 1

***

Hawa dingin yang menusuk dari pendingin udara di ruangan berukurang lima kali enam meter itu tak mampu mendinginkan gejolak yang membakar dada Melani. Di hadapannya, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak kaku di atas meja kayu jati yang mengkilap, seolah siap menerkam masa depannya kapan saja.

"Kamu tahu persis konsekuensi menolak saya, Melani," suara Pak Pramono—Kepala Dinas Kesehatan kabupaten yang berusia lima puluh tahunan dengan perut membuncit—terdengar begitu dingin dan sarat intimidasi. Tangannya yang dipenuhi cincin batu akik mengetuk-ngetuk permukaan meja. "Statusmu di sini masih pegawai honorer daerah. Rentan. Satu goresan tinta dari tanda tangan saya, masa depan yang kamu impikan itu selesai detik ini juga."

Melani, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki paras cantik alami, mata jernih, dan senyum manis yang mampu menenangkan siapa saja, mengepalkan jemarinya di balik lipatan rok kemeja putihnya. Wajah anggun yang kerap dipuji teman-teman sejawatnya itu kini tampak tegang, namun tak ada sedikit pun keraguan di matanya.

Usulan gila untuk menjadi istri siri yang disampaikan Pak Pramono dua hari lalu masih terasa menyengat di ingatannya. Pria itu menjanjikan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil jalur cepat, rumah dinas, dan fasilitas mewah. Sebuah penawaran yang dibungkus rapi, tetapi baunya busuk. Melani menolaknya mentah-mentah saat itu, dan hari ini, pembalasan dendam itu disodorkan tepat di depan matanya.

"Saya menjadi bidan untuk menolong orang, Pak. Untuk melayani masyarakat, bukan untuk menjual diri," jawab Melani lugas. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Ia menatap lurus ke dalam manik mata pria di depannya tanpa ada rasa gentar.

Senyum sinis dan penuh keangkuhan terukir di bibir Pak Pramono. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya, lalu mendorong amplop cokelat itu hingga berhenti tepat di tepi meja, di hadapan Melani.

"O ya? Begitu rupanya idealisme seorang anak muda," terkekeh pelan Pak Pramono, sebuah kekehan yang membuat bulu kuduk merinding. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa tinggi idealismemu itu bisa bertahan. Buktikan pengabdianmu. Desa Hulu Rawa. Posisimu dipindahkan ke sana, efektif mulai besok pagi."

Melani menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dada. "Hulu Rawa? Tapi Pak, di daftar pendaftaran Pustu, daerah itu—"

"Daerah itu membutuhkan bidan, Melani!" potong Pak Pramono cepat, menepuk meja dengan cukup keras. "Atau kamu mau mengundurkan diri saja sekarang? Serahkan surat pengunduran dirimu, dan kamu boleh pergi dari kantor ini tanpa membawa apa-apa."

"Tidak. Saya akan menerima tugas ini," tegas Melani seraya meraih amplop cokelat tersebut.

"Bagus. Jangan salahkan saya kalau kamu menangis minta pulang dalam hitungan hari. Di sana tidak ada fasilitas yang biasa kamu nikmati. Selamat bertugas, Bidan Melani," ucap Pak Pramono dengan tatapan cemooh.

Melani membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan ber-AC itu tanpa mengucap sepatah kata pun lagi. Hulu Rawa—sebuah desa terpencil di ujung kabupaten yang bahkan tidak terdaftar dengan jelas di peta digital. Desa yang rumornya telah ditinggalkan oleh bidan terdahulu karena aksesnya yang sangat berbahaya, serta masyarakatnya yang terkenal sangat tertutup bagi orang asing.

Keputusan itu berjalan dengan sangat cepat, seolah penolakan Melani atas niat bejat Pak Pramono adalah sebuah kejahatan besar yang harus segera dihukum. Hanya dalam kurun waktu dua puluh empat jam setelah ia melangkah keluar dari ruangan Kepala Dinas, proses administrasi penugasan khususnya diterbitkan tanpa hambatan.

**

Hari berikutnya, perjalanan panjang yang menguras fisik dan mental pun dimulai. Berjam-jam menumpangi bus antarkota yang sarat penumpang, dilanjutkan dengan naik ojek yang membelah jalanan tanah berlumpur, hingga akhirnya Melani sampai di sebuah dermaga kecil di pinggir sungai yang berarus deras.

Suara mesin perahu kayu meraung pelan menembus kabut pagi yang masih menggantung rendah di atas permukaan air. Melani duduk di bagian tengah perahu, merapatkan mantelnya untuk menghalau dingin yang menusuk tulang. Di pangkuannya, sebuah tas medis dari kulit berwarna cokelat tua ia dekap erat-erat—satu-satunya 'senjata' dan barang paling berharga yang ia bawa.

Pengemudi perahu, seorang pria paruh baya bertopi caping yang dipanggil Paman Aris, melirik ke arah Melani dari belakang sambil mengemudikan setir kayu.

"Mba Bidan yakin mau bertugas di Hulu Rawa sendirian?" tanya Paman Aris, setengah berteriak agar suaranya terdengar di antara deru mesin perahu.

Melani menoleh dan mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Yakin, Paman. Itu sudah menjadi kewajiban saya."

Paman Aris menggeleng-gelengkan kepala, ada rasa kasihan yang terpancar dari raut wajahnya yang berkerut. "Anak muda semanis Mba ini... kasihan betul. Tempat itu bukan sekadar jauh dari kota, Mba Bidan. Orang-orang di sana lebih percaya dukun beranak dan mantra-mantra tua dibanding obat-obatan medis. Bidan yang dulu cuma bertahan satu minggu sebelum akhirnya kabur tengah malam."

"Kabur? Kenapa Paman?" Melani memiringkan kepalanya, penasaran.

"Ya karena tidak diabaikan, juga dinilai merusak tradisi," jawab Paman Aris lugas. "Apalagi Ketua Adat mereka... pria itu masih muda, tapi pengaruhnya luar biasa besar. Pria itu sangat keras, tegas, dan paling tidak suka kalau ada orang luar yang mencampuri urusan desanya. Kalau Mba Bidan tidak dapat izin dari dia, jangankan membuka klinik, tinggal di sana pun Mba bakal kesulitan."

Melani makin mendekap tas medisnya. Hatinya sempat menciut membayangkan penolakan yang mungkin akan ia hadapi. Namun, bayangan wajah sombong Pak Pramono kembali berkelebat di benaknya. Rasa bangga dan harga dirinya sebagai seorang tenaga medis menolak untuk menyerah begitu saja pada keadaan.

"Saya paham, Paman. Tapi saya datang ke sini bukan untuk merusak tradisi mereka. Saya hanya ingin membantu," gumam Melani penuh keyakinan.

"Semoga niat baik Mba Bidan dilindungi Tuhan," balas Paman Aris iba. "Tapi saya cuma bisa mengantar Mba sampai di desa sebelah, Desa Karang Anjar. Perahu saya tidak bisa melewati jeram terjal yang membatasi Karang Anjar dan Hulu Rawa."

Dua jam berlalu, perahu kayu itu akhirnya menepi di sebuah dermaga kayu yang sudah lapuk dan bertali pasak bambu.

"Kita sudah sampai, Mba. Ini dermaga Desa Karang Anjar. Dari sini, Mba harus jalan kaki menyusuri jalan setapak di tepi hutan untuk sampai ke Hulu Rawa," kata Paman Aris seraya membantu menurunkan dua tas besar milik Melani.

Melani melangkah turun ke atas kayu dermaga yang berderit menahan bebannya. Setelah membayar ongkos perahu dan mengucapkan terima kasih, ia berdiri sendirian di tepi sungai. Perahu Paman Aris perlahan memutar balik dan kembali meluncur menjauh, meninggalkannya dalam hening yang mencekam.

Dua hari perjalanan yang melelahkan telah membawanya sejauh ini. Di sekeliling Melani, pepohonan hutan hujan tropis menjulang tinggi, menyisakan jalur setapak sempit yang tertutup dedaunan basah. Kabut tebal tampak menggantung tipis di kejauhan, menutupi area yang menjadi batas antara desa ini dan Desa Hulu Rawa.

Sambil menyapu keringat tipis di dahi dan merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin, Melani memandangi keabadian hutan di hadapannya. Ia sendirian, tanpa teman sejawat, tanpa sinyal ponsel, dan tanpa kepastian bagaimana masyarakat setempat akan menyambutnya. Namun, melangkah mundur bukanlah pilihan.

Dengan menghela napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Melani menjinjing tas medis di tangan kanan dan menggendong tas perbekalannya, lalu mulai menjejakkan kaki menyusuri jalan setapak yang dingin berembun.

Bersambung

Bab. 2

****

Langkah kaki Melani makin terasa berat. Sepatu boots khusus lapangannya kini terlapisi tanah merah yang lengket dan pekat. Hutan hujan tropis yang menyelimuti perbatasan antara Desa Karang Anjar dan Desa Hulu Rawa seolah tak berujung. Bau basah dedaunan, suara gersik serangga hutan, dan deru arus sungai yang memotong lembah menjadi satu-satunya kawan dalam kesendiriannya.

Setengah jam menembus kabut tipis yang merayap turun dari perbukitan, pemandangan hutan akhirnya mulai melonggar. Jalur setapak yang semula tertutup semak belukar berganti menjadi gapura sederhana yang terbuat dari jalinan kayu hutan utuh dan bambu hitam. Di atasnya, ukiran-ukiran khas suku setempat terpahat rapi, menyambut siapa pun yang berani melangkah melintasi batas tersebut.

Melani menghentikan langkahnya sejenak tepat di bawah gapura. Wajah cantiknya yang biasa berseri kini dipenuhi peluh halus, dengan helai-helai rambut hitamnya yang menempel lekat di dahi dan pipi. Pakaian kemejanya berbercak lumpur di bagian bawah, sementara jemarinya memerah karena terus menjinjing tas medis kulit yang berbobot cukup berat.

Saat kakinya memijak pelataran tanah keras Desa Hulu Rawa, deretan rumah panggung kayu bersatap ijuk menyambut pandangannya. Namun, hal pertama yang paling menusuk perasaan Melani bukanlah pemandangan desa yang eksotis itu, melainkan keheningan mendadak yang merayap di sekelilingnya.

Ibu-ibu yang tadinya sedang menumbuk padi di bawah kolong rumah panggung mendadak menghentikan alu mereka. Anak-anak kecil yang sedang bermain gundu menghentikan langkah, bersembunyi di balik dinding-dinding kayu sambil mengintip takut-takut. Tatapan-tatapan asing, curiga, dan penuh jarak terhunus tepat ke arah Melani.

"Lihat itu... siapa perempuan itu?" bisik seorang wanita setengah baya dengan selendang tenun terikat di kepalanya, suaranya terdengar jelas di antara keheningan.

"Perempuan kota lagi. Lihat pakaiannya... tas yang dibawanya sama seperti orang asing yang dulu," sahut wanita di sebelahnya dengan nada tidak bersahabat.

Melani berusaha menyunggingkan senyum terramahnya. Ia mengangguk sopan ke arah warga yang berdiri di pinggir jalan setapak. "Selamat siang, Bapa, Ibu... Saya Melani, bidan baru yang ditugaskan di sini—"

Belum sempat Melani menyelesaikan kalimatnya, warga yang disapanya justru memalingkan muka dan melangkah masuk ke dalam rumah, menepuk pintu kayu mereka hingga tertutup rapat. Melani menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Penolakan yang disampaikan Paman Aris di perahu tadi rupanya bukan sekadar gertakan.

"Kalau mau melapor, jalan terus ke ujung jalan ini. Rumah panggung yang paling besar dengan patung kayu di halamannya. Itu rumah kepala Adat," cetus seorang pria tua yang sedang meraut bambu di teras tanpa memandang wajah Melani.

"Ah... terima kasih banyak, Bapa," balas Melani, mencoba menjaga nada suaranya tetap hangat meski hatinya bergetar.

Melani menguatkan genggaman tangannya pada gagang tas medis, lalu kembali melangkah menuju ujung desa. Rumah panggung yang dimaksud tampak anggun dan megah. Tiang-tiang kayunya besar berukir rumit, dan di teras depannya, beberapa tetua adat berambut perak berpakaian kain tenun gelap sedang duduk melingkar.

Saat Melani menaiki tangga kayu rumah adat yang berderit, para tetua itu mendongak. Tatapan mereka dingin, penuh selidik, dan sarat akan dominasi.

"Selamat siang, Bapak-Bapak yang terhormat," ujar Melani seraya menundukkan kepala penuh hormat. "Nama saya Melani. Saya bidan yang dikirim dari Dinas Kesehatan kabupaten untuk bertugas di Puskesmas Pembantu Hulu Rawa."

Seorang tetua berjanggut putih mengelus janggutnya pelan. "Kami tidak pernah meminta bidan baru dari kota, Nak," jawabnya datar. "Bidan yang dulu datang ke sini hanya membawa kebingungan dan merusak apa yang sudah dijaga leluhur kami ratusan tahun."

"Tapi saya datang untuk membantu, Mbah... Saya membawa obat-obatan dan—"

"Cukup, Mbah Baya," sebuah suara berat, dalam, dan penuh wibawa memotong ucapan Melani dari arah pintu utama rumah adat.

Melani menghentikan kata-katanya. Dari dalam kegelapan daun pintu, melangkah keluar seorang pria.

Melani sempat menahan napasnya selama beberapa detik. Pria itu sama sekali tidak seperti gambaran tetua adat berumur yang ada di pikirannya. Pria itu masih muda—mungkin berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Parasnya sangat tampan dan tegas, dengan garis rahang yang keras, kulit cokelat hangat eksotis, serta rambut hitam yang sebagian diikat rapi dengan kain tenun khas desa. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut kemeja kain kasar berwarna gelap dan kain adat yang melilit pinggangnya.

Namun, yang paling mengintimidasi Melani adalah matanya. Manik mata pria itu sehitam malam, tajam dan menembus, seolah bisa membaca setiap ketakutan yang disembunyikan Melani di balik paras cantiknya.

"Saya Rangga Wira. Ketua Adat Hulu Rawa," ucap pria itu pelan namun suaranya bergetar penuh otoritas. Ia melangkah turun satu anak tangga, berdiri memandang Melani dari ketinggian.

Meskipun terpesona sejenak oleh ketampanan dan aura wibawa yang memancar dari pria bernama Rangga Wira itu, Melani merasakan intimidasi yang nyata. Berdiri di bawah tatapan tajam Rangga Wira membuat udara di sekitarnya mendadak terasa makin dingin dan menyesakkan.

"Selamat siang, Pak Rangga," Melani berusaha menetralkan getar di suaranya, menyodorkan amplop tugas berstempel dinas. "Saya Bidan Melani. Ini surat tugas resmi saya untuk bertugas di desa ini."

Rangga Wira tidak langsung meraih surat itu. Matanya menyapu penampilan Melani dari ujung kepala hingga ujung kaki—menilai kemeja putihnya yang kotor, tas kulit tua yang ia dekap, dan guratan kelelahan di wajah ayunya.

"Surat kertas dari kota tidak berlaku di tanah ini, Bidan Melani," kata Rangga Wira dingin. Sikapnya begitu tertutup, seolah ada dinding es tebal yang membentang di antaranya dan Melani. "Kami menghargai usahamu berjalan jauh menembus hutan sampai ke desa kami. Tapi Hulu Rawa punya hukum dan cara hidup sendiri. Masyarakat kami tidak membutuhkan pengobatan orang luar."

"Tapi Pak Rangga, kesehatan warga adalah hal dasar!" protes Melani, keteguhan hatinya kembali membakar keberaniannya. "Saya tahu bidan sebelumnya mungkin membuat kesalahan atau tidak memahami tradisi di sini, tapi berikan saya kesempatan. Saya berada di sini untuk melayani, bukan untuk menggantikan adat kalian."

Rangga Wira bersedekap dada, menatap Melani tanpa wawasan emosi. "Pilihanmu hanya satu, Bidan. Istirahatlah malam ini di rumah singgah di perbatasan Karang Anjar. Besok pagi saat matahari terbit, kembalilah ke kota. Itu keputusan kami. Para tetua sudah sepakat."

"Pak Rangga, tolong dengarkan dulu—"

"Keputusan Adat tidak bisa diganggu gugat," potong Mbah Baya, tetua berjanggut putih, dengan nada final.

Melani mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa kecewa, lelah, dan rasa ketidakadilan akibat ulah Pak Pramono seolah menumpuk di dadanya. Apakah perjuangannya menembus hutan dan menolak pelecehan pejabat itu hanya akan berakhir dengan pengusiran dingin seperti ini?

Namun, tepat di saat ketegangan di teras rumah adat itu mencapai puncaknya, dari arah jalanan desa terdengar teriakan histeris seorang pria yang berlari terengah-engah.

"Ki! Ki Rangga! Tolong!" jerit pria muda itu, tubuhnya berlumur keringat dan napasnya berburu cepat. Ia hampir tersandung di tangga rumah adat.

Sikap dingin Rangga Wira seketika runtuh, berganti dengan kesiapan siaga. "Ada apa, Seno? Kenapa kamu berteriak-teriak?"

"Nyai Sunti, Ketua! Istri saya... Nyai Sunti!" pria bernama Seno itu menangis histeris, mencengkeram lutut Rangga Wira. "Bayinya... bayinya mau lahir, tapi Nyai Sunti pingsan! Darah... darahnya keluar banyak sekali! Dukun Bi Naya sudah membaca mantra dan memberi ramuan, tapi darahnya tidak berhenti! Nyai Sunti sudah tidak bernapas dengan benar!"

Raut wajah Rangga Wira berubah drastis. Matanya melotot tajam penuh kekhawatiran. "Bi Naya tidak bisa menghentikan pendarahannya?!"

"Tidak bisa, Ketua! Bi Naya bilang... Bi Naya bilang Nyai Sunti diserang roh jahat dan sudah tidak bisa ditolong lagi!" tangis Seno pecah, meratap di tanah.

Para tetua adat langsung saling pandang dengan wajah panik dan penuh kecemasan. Mbah Baya komat-kamit membaca doa, sementara warga mulai berdatangan dan berkumpul dengan raut wajah ketakutan.

Di tengah kepanikan itu, jantung Melani berdegup kencang. Naluri medisnya membunyikan alarm bahaya yang sangat nyaring. Pendarahan postpartum atau retensio plasenta! Pingsan dan syok hipovolemik! Ini bukan karena roh jahat—ini adalah kondisi gawat darurat medis yang bisa merenggut dua nyawa sekaligus dalam hitungan menit jika tidak segera ditangani!

Tanpa memikirkan status penolakannya, tanpa peduli bahwa beberapa detik lalu ia baru saja diusir secara resmi, Melani langsung mengeratkan pegangan pada tas medisnya.

"Bawa saya ke sana sekarang!" seru Melani tegas, suaranya membelah kepanikan di halaman rumah adat.

Rangga Wira menoleh cepat, menatap Melani dengan raut terkejut. "Apa yang mau kamu lakukan? Ini urusan internal desa kami!"

Melani melangkah maju, menatap lurus tepat ke dalam mata hitam Rangga Wira yang tajam. Wajah cantiknya tak lagi menunjukkan kelelahan, melainkan ketegasan seorang tenaga medis yang siap bertaruh nyawa.

"Wanita itu sedang pendarahan hebat, Pak Rangga! Kalau ditunggu sampai besok atau hanya diberi mantra, dia dan bayinya akan meninggal dalam hitungan jam!" tegas Melani tanpa nada ragu sedikit pun. "Kamu boleh mengusir saya besok pagi, kamu boleh membenci saya sebagai orang luar, tapi detik ini... biarkan saya menyelamatkan warga kalian!"

Rangga Wira terpaku. Untuk pertama kalinya, sikap dingin dan penuh kendali dari sang Ketua Adat bergoyang. Ia menatap mata Melani yang membara oleh tekad, lalu beralih menatap Seno yang meraung kesakitan memohon bantuan.

Dua dunia yang bertolak belakang kini berbenturan di bawah langit Hulu Rawa yang mulai menggelap.

Bersambung..

Bab. 3

****

Hening sejenak mencekam teras Rumah Adat. Tatapan mata Rangga Wira yang sehitam malam beradu tajam dengan mata jernih Melani. Di bawah mereka, Seno masih meraung pasrah, meratapi nasib istrinya yang di ambang maut.

"Baik," keluar kata itu dari bibir Rangga Wira, berat dan penuh risiko. "Saya izinkan kamu masuk ke rumah Seno, Bidan Melani. Tapi dengarkan saya baik-baik."

Rangga menunjuk tepat ke dada Melani dengan telunjuknya, melangkah selangkah lebih dekat hingga Melani bisa mencium aroma kayu cendana dan hutan basah yang menguar dari tubuh pria itu.

"Hukum adat kami tidak mengenal kata 'coba-coba'. Jika kamu menyentuh Nyai Sunti dan wanita itu beserta bayinya meninggal di tanganmu... kamu akan menanggung sanksi adat tertinggi Hulu Rawa. Kamu tidak akan bisa keluar dari desa ini. Apakah kamu masih berani?"

Mbah Baya terperanjat. "Ki Rangga! Bagaimana mungkin kita menyerahkan nyawa warga kita pada orang luar—"

"Cukup, Mbah!" potong Rangga Wira tanpa memalingkan pandangannya dari Melani. "Bi Naya sudah menyerah. Tidak ada opsi lain."

Jantung Melani berdegup kencang. Sanksi adat? Ia tahu risiko hukum adat di desa terisolasi seperti ini bisa berarti diasingkan selamanya atau hukuman fisik yang berat. Namun, membayangkan seorang ibu dan bayinya tewas sia-sia membuat naluri kemanusiaannya mengalahkan rasa takut.

"Saya terima syarat itu," jawab Melani lugas, tanpa berkedip. "Sekarang, tunjukkan jalannya!"

Rumah panggung Seno berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah adat. Bau amis darah melayang pekat di udara malam yang mulai merayap dingin begitu Melani menerobos masuk menaiki tangga kayu. Di dalam ruangan bermandikan cahaya remang dari dua buah pelita minyak tanah, suasana nampak kacau balau.

Di atas tikar pandan, seorang wanita muda—Nyai Sunti—terbaring pucat bagai mayat. Pakaian bagian bawahnya telah bersimbah darah segar yang terus mengalir, membasahi kain dan celah-celah papan lantai kayu. Di sampingnya, seorang wanita tua dengan wajah keriput dan pupur beras basah di dahinya—Bi Naya, sang dukun desa—duduk terpaku. Tangannya yang memegang mangkuk tanah berisi ramuan dedaunan gemetar hebat. Bi Naya membeku, matanya menyiratkan ketakutan luar biasa.

"Sunti! Sunti!" Seno yang berlari di belakang Melani langsung menjatuhkan diri di samping istrinya. Namun, menyaksikan banyaknya darah dan wajah istrinya yang tak lagi merespons, kesadaran pria muda itu tak sanggup bertahan. Tubuhnya lunglai dan Seno pingsan seketika, ambruk di samping Nyai Sunti.

"Seno!" teriak beberapa warga di luar pintu, namun tak ada yang berani mendekat.

"Jangan sentuh dia! Dia diserang roh jahat!" pekik Bi Naya histeris saat melihat Melani berlutut di sebelah Nyai Sunti. "Perempuan asing, pergi dari sini! Kamu akan membawa kutukan!"

"Buka matamu, Bi Naya! Ini bukan roh jahat, ini pendarahan melahirkan!" bentak Melani nyaring, menyapu bersih keraguan di ruangan itu.

Melani dengan sigap memeriksa denyut nadi di leher Nyai Sunti. Sangat lemah dan cepat. Syok hipovolemik. Ia membuka tas medis kulitnya, mengeluarkan sarung tangan steril, kasa, cairan infus, selang, dan set peralatan persalinan darurat.

" Pak Rangga! Bantu saya!" panggil Melani tegas.

Rangga Wira yang berdiri di ambang pintu terpaku sejenak. Sepanjang sejarah Desa Hulu Rawa, tidak pernah ada satu orang pun—bahkan tetua paling senior sekalipun—yang berani memerintah seorang Ketua Adat dengan nada sekeras itu. Apalagi seorang perempuan muda dari luar desa.

"Bantu apa?" suara Rangga memecah kekagetannya, melangkah mendekat.

"Singkirkan pria ini dari sini agar saya punya ruang bergerak! Lalu ambil cahaya itu, pegang di atas saya supaya terangnya pas! Cepat!" perintah Melani tanpa menoleh, jemarinya sibuk memasang sarung tangan lateks.

Rangga Wira menahan napas. Rasa harga dirinya bergejolak, namun melihat jemari Melani yang bekerja begitu cekatan dan mata gadis itu yang memancarkan fokus luar biasa, Rangga menekan gengsi pimpinannya. Dengan sigap, ia menggeser tubuh Seno yang pingsan ke sudut ruangan, lalu meraih sentir minyak tanah dan berlutut tepat di samping Melani, memegang sumber cahaya itu sejajar dengan area tindakan.

"Bi Naya, minta warga di luar rebus air panas sekarang! Saya butuh kain bersih dan air hangat!" seru Melani pada dukun tua yang masih membatu.

"S-saya... ramuan saya—"

"Lakukan apa yang dia katakan, Bi Naya!" potong Rangga Wira dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat Bi Naya tersentak dan langsung terbirit-birit keluar kamar.

Kini, di dalam kamar berukuran kecil itu, hanya ada Nyai Sunti yang tak sadarkan diri, Melani, dan Rangga Wira. Jarak mereka begitu dekat hingga Rangga bisa melihat butiran keringat dingin merembes di pelipis halus Melani, serta mendengar napas gadis itu yang teratur namun penuh tekanan.

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Rangga pelan, matanya memperhatikan jemari Melani yang meraba perut Nyai Sunti dengan lembut namun mantap.

"Plasentanya belum keluar sempurna, ada sisa jaringan yang tertinggal sehingga rahimnya tidak bisa berkontraksi untuk menghentikan pendarahan," jelas Melani cepat sambil menyiapkan jarum infus. "Saya harus memasang jalur infus untuk mengganti cairannya, lalu melakukan eksplorasi rahim secara manual. Ini akan sangat menyakitkan jika dia sadar, tapi sekarang dia pingsan karena kehabisan darah."

Melani menatap mata Rangga Wira. "Pak Rangga, saya butuh bantuanmu lagi. Pegang bahu dan tahan posisinya. Jangan biarkan dia bergerak jika dia tiba-tiba tersadar karena rasa sakit."

Rangga Wira menatap wajah ayu Melani. Di bawah pendar kuning pelita, kilau kecantikan Melani tidak memudar sedikit pun meski tertutup noda lumpur dan peluh. Ada keteguhan yang begitu murni di sana—sebuah dedikasi tanpa pamrih yang belum pernah Rangga lihat dari orang-orang kota yang pernah mengunjungi desanya.

"Baik," bisik Rangga. Ia meletakkan pelita di tatakan kayu yang aman, lalu berlutut di kepala Nyai Sunti, memegang kedua bahu warga desanya itu dengan kokoh. Tangannya yang kekar dan berurat kontras dengan jemari lentik Melani yang mulai bekerja.

"Bertahanlah, Nyai Sunti..." gumam Melani lembut, menyeka kening pasiennya sebelum memulai tindakan medis.

Dengan keahlian yang teruji, Melani memasang infus di vena lengan Nyai Sunti. Bidan muda itu kemudian melakukan manuver kompresi bimanual dan pembersihan sisa plasenta. Momen itu begitu tegang. Darah menyembur merembas sarung tangan Melani, membasahi lengan kemeja putihnya.

Nyai Sunti mendelik dan merintih kesakitan di tengah ketidaksadarannya. Tubuh wanita itu kejang kecil.

"Tahan, Pak Rangga! Jangan lepas!" seru Melani.

"Saya tahan! Lakukan tugasmu!" balas Rangga, mempererat cengkeramannya di bahu Nyai Sunti, matanya terus berpindah antara wajah Nyai Sunti dan paras tegang Melani.

Dalam hening yang hanya diisi suara gesekan kain dan napas berburu, Melani bekerja tanpa henti selama hampir empat puluh menit. Ia memijat fundus uteri Nyai Sunti dengan teknik yang benar, menyuntikkan uterotonika yang ia bawa di tas medisnya untuk merangsang kontraksi rahim.

Perlahan namun pasti, pendarahan yang semula mengalir deras mulai merembes pelan, lalu akhirnya... berhenti. Perut Nyai Sunti yang semula lembek kini terasa mengeras—tanda rahimnya telah berkontraksi kembali.

Melani menghela napas panjang, sebuah desahan lega yang terdengar begitu manis di telinga Rangga Wira.

"Pendarahannya berhenti..." bisik Melani. Suaranya terdengar sangat lelah, namun sepasang matanya berbinar bahagia. Ia menatap Rangga Wira, menyunggingkan senyum tipis—senyum pertama yang ia tunjukkan pada Ketua Adat itu. "Nadinya mulai stabil. Dia selamat, Pak Rangga."

Rangga Wira terpaku. Tatapannya terkunci pada senyum manis di wajah lelah Melani. Dada pria tegap itu berdesir hebat oleh sebuah perasaan asing yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Pria yang ditakuti dan dihormati oleh seluruh pelosok desa itu mendadak kehilangan kata-kata.

Tepat saat itu, Bi Naya dan beberapa ibu-ibu masuk membawa baskom berisi air hangat. Mbah Baya dan warga yang mengintip dari pintu melongo tak percaya melihat pendarahan Nyai Sunti telah usai, dan napas wanita itu kini kembali teratur.

Melani melepas sarung tangannya yang berdarah, lalu terduduk lemas di lantai kayu. Rasa lelah luar biasa akibat berjalan menyusuri hutan berjam-jam dan tekanan mental dalam tindakan medis darurat ini akhirnya merobohkan pertahanannya. Pandangannya mendadak mengabur.

"Bidan Melani!"

Sebelum tubuh halus Melani menyentuh lantai kayu yang kotor, sepasang lengan kekar Rangga Wira dengan sigap menangkap tubuhnya.

Melani terkulai di dada tegap Rangga Wira. Aroma asap kayu dan maskulinitas hangat menyergap indramu yang mulai memudar. Dalam samar kesadarannya, Melani merasakan jemari kasar Rangga merapikan helai rambut hitam yang menempel di pipinya dengan sangat lembut—sebuah sentuhan yang berbanding terbalik dari sikap dingin sang Ketua Adat beberapa jam lalu.

"Kamu sudah bertaruh nyawa untuk warga saya..." suara berat Rangga Wira terdengar begitu dekat di telinga Melani, getar kekhawatiran yang amat sangat membedah keheningan malam. "Istirahatlah. Tidak ada seorang pun yang boleh mengusirmu dari desa ini."

Melani tersenyum kecil sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan kegelapan merenggut kesadarannya dalam dekapan hangat sang Ketua Adat.

Bersambung..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!