Bunyi ketukan heels dan sepatu kulit yang beradu cepat dengan lantai marmer yang mengilap memecah keheningan lantai paling atas gedung Elang Group. Semua pegawai yang berpapasan langsung menunduk seratus delapan puluh derajat, tak ada yang berani menatap mata pria yang baru saja melangkah keluar dari lift privat tersebut.
Kian Elang Baskara.
Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, ia sudah memikul takdir yang amat berat. Tiga tahun lalu, kematian mendadak sang ayah akibat serangan jantung memaksa Kian memotong masa mudanya. Sebagai anak semata wayang, seluruh kekaisaran bisnis Elang Group jatuh penuh ke tangannya. Tidak hanya menahkodai perusahaan induk yang bergerak di bidang startup dan teknologi, Kian juga memegang posisi sebagai Direktur Utama di yayasan pendidikan keluarga—sebuah kampus ternama dan SMP swasta elit di pusat kota.
"Jadwal hari ini, Pak Kian," ujar Rian, sekretaris pribadinya, seraya berjalan cepat menyamai langkah lebar sang CEO. "Jam sepuluh rapat evaluasi anggaran dengan dewan direksi Elang Group. Jam satu siang peninjauan fasilitas laboratorium baru di Kampus Elang Utama, dan jam tiga sore ada rapat dengan kepala sekolah SMP Elang Bangsa terkait insiden salah satu siswa kemarin."
Kian tidak berhenti melangkah. Jemarinya yang kokoh membetulkan posisi dasi yang sedikit melonggar.
"Laporan anggaran dari divisi pemasaran sudah kamu revisi?" suara Kian terdengar dingin, tegas, dan tanpa hembusan emosi.
"Sudah, Pak. Tapi... Manajer Pemasaran meminta waktu untuk menjelaskan alasan keterlambatan—"
"Tidak ada penjelasan," potong Kian dingin seraya mendorong pintu ruang kerjanya yang megah. "Satu persen kesalahan angka adalah kelalaian. Potong bonus divisinya sepuluh persen."
Rian meringis pelan, namun hanya bisa mengangguk pasrah. Satu lagi korban dari Sang Pangeran Es.
Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, seorang wanita paruh baya bertubuh anggun sedang duduk meminum teh hangat di sofa kulit. Ibu Eleanor, ibu kandung Kian sekaligus komisaris utama yayasan. Sejak peninggalan almarhum suaminya, Eleanor-lah satu-satunya alasan Kian masih mau tersenyum—itu pun sangat jarang.
"Kian, duduklah sebentar," panggil ibunya lembut.
Kian menghela napas pendek, lalu melunak sedikit. Ia mendekati ibunya dan mencium tangannya penuh hormat. "Ibu kenapa sudah di kantor pagi-pagi begini? Kesehatan Ibu belum stabil."
"Ibu ke sini bukan untuk bahas kesehatan, Kian," ujar Eleanor menatap putra tunggalnya dengan pandangan prihatin. "Ibu baru saja menerima laporan dari dewan direksi dan para dekan di kampus."
Kian mengernyitkan dahi. "Laporan apa? Semua dividen naik, efisiensi kampus meningkat lima belas persen."
"Tapi kamu memecat dua dosen senior minggu lalu hanya karena mereka terlambat menyerahkan modul lima menit, Kian!" tegas Eleanor. "Di SMP juga sama, para guru ketakutan setiap kali kamu datang meninjau. Kamu memimpin tempat usaha dan lembaga pendidikan seperti menjalankan kamp militer. Kian, manusia itu punya perasaan, bukan sekadar angka di atas kertas laporan keuangan."
"Disiplin adalah kunci efisiensi, Bu," balas Kian kaku. "Ayah mengajari saya untuk tidak pernah membawa perasaan ke dalam bisnis."
"Ayahmu tegas, tapi dia punya empati! Itu bedanya," potong Eleanor lembut namun menusuk. "Dewan direksi mulai resah dengan citra publikmu yang dingin dan kaku. Ini bisa berdampak buruk pada saham perusahaan dan reputasi yayasan."
Eleanor meletakkan sebuah cangkir tehnya, lalu mengambil sebuah brosur dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Ibu sudah mendaftarkanmu ke sebuah program privat komunikasi dan pengembangan karakter. Ini wajib."
Kian menatap brosur itu dengan kening berkerut dalam. "Kelas komunikasi? Ibu bercanda? Saya seorang CEO Elang Group dan Direktur Utama dua lembaga pendidikan. Saya tidak butuh kelas anak kecil seperti ini."
"Kamu butuh, Kian. Atau Ibu akan mencabut hak veto kamu di rapat dewan direksi minggu depan," ancam Eleanor tenang, namun mematikan.
Kian mengepalkan tangannya.itu, ia tak punya pilihan lain. Dengan perasaan gusar dan harga diri yang terluka, Kian menyambar kertas brosur tersebut.
Di sana tertera nama sebuah bimbingan privat khusus dengan satu nama pengajar di bawahnya: Maya Saraswati, S.Pd., M.Hum.
Siapapun "Maya" ini, Kian berjanji dalam hati akan membuat wanita itu menyerah dan membubarkan kelas konyol ini pada hari pertama.
Langkah kaki Kian meninggalkan ruang kerja ibunya dengan ketukan yang jauh lebih berat dan gusar. Brosur di genggamannya sudah agak remuk. Nama Maya Saraswati, S.Pd., M.Hum. yang tertera di sana terus menari-nari di ingatan Kian, memicu kekesalan yang kian membakar harga dirinya.
Sore itu juga, Kian memutuskan untuk langsung mendatangi lokasi bimbingan privat tersebut—bukan untuk belajar, melainkan untuk memberi pelajaran pada si pengajar dan menyelesaikan "formalitas" ini secepat mungkin.
Perjumpaan di Ruang Kaca
Mobil sedan hitam Kian berhenti di depan sebuah bangunan tua berarsitektur kolonial yang dipenuhi pepohonan rindang di kawasan Jakarta Pusat. Tidak ada papan nama megah, hanya plang kayu kecil bertuliskan “Lentera Bahasa & Karakter”.
Kian melangkah masuk dengan gaya angkuhnya, bersiap menghadapi sesosok wanita yang ia bayangkan akan gemetar atau membungkuk hormat saat melihat Kian Elang Baskara.
Namun, pemandangan di dalam ruang kelas berdinding kaca itu justru menghentikan langkah Kian.
Seorang wanita berbalut kemeja linen putih dan kain batik modern sedang berdiri di depan lima anak remaja dari latar belakang kurang mampu—program sosial yang dikelola Maya di luar kelas privatnya. Suara wanita itu merdu, namun terpancar wibawa yang luar biasa kuat saat ia membimbing anak-anak itu membacakan puisi.
Saat pandangan mereka beradu melewati dinding kaca, tidak ada rasa terkejut, silau, apalagi takut di mata wanita itu. Maya Saraswati hanya menatap Kian tenang, lalu memberikan isyarat dengan jemarinya agar Kian menunggu di luar hingga kelasnya selesai.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, seorang Kian Elang Baskara diperintahkan untuk menunggu.
Benturan Dua DuniaLima belas menit kemudian, pintu kaca terbuka. Maya melangkah keluar, merapikan beberapa lembar kertas analisis bahasa di tangannya, lalu menatap Kian dari atas ke bawah secara tenang.
"Pak Kian Elang Baskara. Tiga belas menit lebih awal dari jadwal privat yang disepakati," ujar Maya datar, suara dan intonasinya begitu tertata, khas seorang pakar bahasa dan sastra. "Tepat waktu adalah bentuk rasa hormat, tetapi datang terlalu awal dan mengganggu fokus orang lain adalah bentuk dominasi yang tidak perlu."
Kian menyipitkan mata, rahangnya mengetat. "Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi, Bu Maya. Saya datang ke sini karena paksaan ibu saya. Jadi, sebutkan berapa tarif yang Anda inginkan untuk menandatangani sertifikat kelulusan saya tanpa perlu saya menghadiri kelas konyol ini."
Maya menghentikan gerak jemarinya. Ia menatap Kian lurus ke dalam manik matanya—sebuah tatapan yang biasanya membuat para manajer di Elang Group berkeringat dingin. Namun Maya justru tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang terasa lebih dingin dari AC ruang kerja Kian.
"Uang Anda bisa membeli saham dan gedung, Pak Kian. Tapi di ruang kelas saya, uang Anda tidak lebih dari sekadar kertas," balas Maya santai seraya berjalan menuju meja kerjanya. "Ibu Eleanor membayar saya untuk membentuk kembali cara Anda berkomunikasi dan berempati, bukan untuk menjual tanda tangan."
"Saya memimpin puluhan ribu karyawan dan ribuan siswa!" tegas Kian, langkahnya mendekati Maya, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang tinggi. "Komunikasi saya tidak ada masalah."
Maya balik memutar badan, menatap Kian tanpa jarak.
"Memerintah bukanlah berkomunikasi, Pak Kian," potong Maya lembut namun menohok. "Anak buah Anda patuh karena takut, bukan karena hormat. Anda membangun benteng es untuk melindungi diri Anda sendiri sejak kehilangan ayah Anda, dan tanpa Anda sadari, es itu mulai menghancurkan kekaisaran yang Anda pimpin."
Kata-kata Maya bagai petir di siang bolong. Kian terpaku. Bagaimana mungkin wanita yang baru ditemuinya lima menit lalu bisa membaca luka mendalam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik jas mewahnya?
Permainan Dimulai. "Anda tidak tahu apa-apa tentang saya atau bisnis saya," desis Kian dengan suara rendah yang berbahaya.
"Saya tahu cukup banyak dari cara Anda berdiri, bernapas, dan memotong kalimat orang lain," sahut Maya tenang seraya menyerahkan sebuah buku catatan kosong dan sebuah pulpen sederhana kepada Kian.
"Apa ini?" Kian menatap benda murah di tangannya dengan dahi berkerut.
"Tugas pertama Anda," jawab Maya sambil tersenyum tenang. "Mulai besok pagi, lepaskan jas mahal Anda. Selama dua jam setiap harinya sebelum jam kantor, Anda bukan CEO Elang Group. Anda adalah murid saya. Jika Anda mangkir satu kali saja, saya sendiri yang akan menyerahkan laporan evaluasi kegagalan Anda langsung ke tangan Ibu Eleanor."
Kian mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Maya yang kini sudah kembali sibuk memeriksa tugas-tugas muridnya, sama sekali tak lagi memedulikan kehadiran sang pangeran es.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Kian, ia bertemu dengan lawan yang tidak bisa ditaklukkan dengan uang ataupun kekuasaan. Perang dingin antara CEO berhati es dan guru sastra bersuara lembut itu resmi dimulai.
Pukul 05.45 WIB. Suasana di depan bangunan tua berarsitektur kolonial itu masih diselimuti embun tipis dan suara burung gereja. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di pinggir jalan, namun pintunya tidak kunjung terbuka selama hampir lima menit.
Di dalam mobil, Kian Elang Baskara sedang mengalami krisis eksistensial tingkat tinggi.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion tengah. Tidak ada jas Armani berserat emas. Tidak ada jam tangan Patek Philippe bernilai ratusan juta. Yang melekat di tubuhnya pagi ini adalah sebuah kemeja katun polos warna krem seharga seratus ribuan yang dibeli asisten pribadinya kemarin sore di pasar swalayan—Luki, sang asisten, bahkan sempat menangis terharu saat membelinya karena mengira bosnya akhirnya bangkrut dan pasrah.
"Ingat Kian, ini cuma dua jam. Cuma dua jam," gumam Kian pada dirinya sendiri, merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit gatal di kulit mulusnya. "Setelah dua jam, kamu kembali jadi penguasa kekaisaran bisnis."
Kian melangkah turun, mencoba mempertahankan gaya berjalan khas CEO yang angkuh dan megah. Namun, langkah gagah itu langsung ternoda saat sepatu leather miliknya yang mengkilap menapak tepat di atas genangan air hujan sisa semalam.
Ciprat!
Noda lumpur cokelat sukses menghiasi bagian bawah celana bahannya. Kian menggeram pelan, mengutuk dalam hati.
Ketika Kian membuka pintu kaca berkode "Lentera Bahasa & Karakter", aroma kopi tubruk yang pekat langsung menyambut indra penciumannya—bukan aroma espresso double shot berbiji kopi Guatemala langka yang biasa disiapkan sekretarisnya.
Di sudut ruangan, Maya Saraswati sedang duduk santai sambil menyesap cangkir seng berukir hijau. Ia tampil anggun seperti biasa dengan blouse linen hijau sage, memegang sebuah kipas anyaman bambu kecil.
"Tepat pukul enam kurang tiga menit. Kemajuan yang cukup menghibur, Pak Kian," puji Maya tanpa berpaling dari buku yang dibacanya. "Dan celana Anda dapat aksen artistik baru rupanya."Kian menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubun. Ia berjalan mendekati meja kayu besar di tengah ruangan dan menduduki kursi kayu tanpa bantalan empuk. Punggungnya langsung menjerit protes.
"Saya sudah menuruti permainan konyol Anda, Bu Maya," ujar Kian seraya meletakkan buku catatan kosong dan pulpen murah dari Maya kemarin di atas meja. "Tanpa jas mahal. Tanpa pengawal. Sekarang, cepat selesaikan apa pun tugas absurd yang ingin Anda berikan."
Maya meletakkan cangkir sengnya dengan dentingan halus. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang kini disadari Kian adalah sinyal bahaya tingkat tinggi.
"Tugas pertama Anda amat sederhana, Pak Kian," Maya mendorong sebuah wadah plastik berisi bahan-bahan kopi tubruk murah dan teko berisi air panas ke hadapan Kian. "Buatkan saya secangkir kopi. Kopi tubruk, dua sendok gula, tanpa krimer."
Kian melotot. Matanya hampir melompat keluar dari kelopak. "Apa?! Anda menyuruh CEO Elang Group—pria yang menguasai saham properti terbesar di kota ini—untuk jadi barista Anda?!"
"Di ruang kelas ini, Pak Kian, Anda adalah murid yang sedang belajar dasar-dasar melayani dan menurunkan ego," sahut Maya tenang, tatapannya selembut sutra namun sekeras baja. "Atau Anda prefer saya menelpon Ibu Eleanor sekarang untuk memberitahu bahwa putra bahagianya bahkan tidak tahu cara menyeduh air panas?"
Kian mengepalkan jemarinya. Bayangan ibunya yang mengancam akan membekukan aset dan mencabut posisi CEO-nya langsung menari-nari di kepala. Dengan dentuman napas gusar, Kian menarik teko air panas itu.
"Fine!" desis Kian.
Proses pembuatan kopi itu menjadi pertunjukan paling tragis sekaligus komedi dalam sejarah bangunan kolonial tersebut. Seorang Kian Elang Baskara, yang biasa menanda-tangani dokumen akuisisi bernilai triliunan rupiah, kini tampak ketakutan menumpahkan bubuk kopi hitam dari kemasan saset murah.
Srettt!
Kian merobek bungkusnya terlalu kuat. Bubuk kopi hitam beterbangan di udara, mendarat dengan sukses di hidung mancung dan pipi Kian.
"Achoo!" Kian bersin hebat, membuat sisa bubuk kopi di meja semakin berantakan.
Maya menutup mulutnya dengan kipas bambu, mencoba menahan tawa yang hampir meledak melihat sang pangeran es kini terlihat seperti pekerja tambang batu bara berwajah tampan.
"Bentuk komunikasi yang sangat ekspresif, Pak Kian," sindir Maya halus.
Kian mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan loreng-loreng hitam di pipinya. "Diam Anda, Bu Maya."
Setelah perjuangan berdarah-darah (dan berdebu kopi) selama lima belas menit, secangkir kopi tubruk hitam akhirnya tersaji di depan Maya.
Maya menyesapnya sedikit, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Agak terlalu pahit. Sama seperti kepribadian Anda saat ini. Tapi tidak apa-apa, dapat poin lima dari sepuluh untuk usaha tidak membakar kelas saya."
"Sekarang, tugas intinya," Maya mengambil pulpen murah yang dibawa Kian dan membukanya. "Tuliskan satu paragraf ucapan terima kasih yang tulus kepada seseorang yang paling Anda benci di dunia ini di dalam buku catatan itu. Gunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan menyentuh."
Kian menatap buku catatan kosong itu dengan pandangan tidak percaya. "Menulis ucapan terima kasih? Untuk orang yang saya benci? Ini pelatihan kepemimpinan atau terapi kelompok anak TK?"
"Bahasa adalah cerminan jiwa, Pak Kian. Orang yang tidak bisa mengekspresikan rasa terima kasih kepada musuhnya adalah orang yang emosinya masih dipenjara oleh rasa gengsi," jawab Maya santai seraya menyodorkan pulpen itu.
Dengan gusar, Kian menyambar pulpen murah berwarna hitam tersebut. Ia bertekad untuk menyelesaikan tugas bodoh ini dalam sepuluh detik agar bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini.
Ia mulai menekan mata pulpen ke atas kertas putih dengan sekuat tenaga, mencurahkan seluruh kekesalannya pada lembaran kertas tersebut.
Crrttt...
Tiba-tiba, pulpen murah seharga dua ribu rupiah itu tidak kuat menahan tekanan jari-jari sang CEO yang penuh amarah. Badannya retak, dan dalam sekejap mata—
SPLASH!
Tinta hitam pekat menyembur keluar dari tabung pulpen, membuncah tepat ke arah wajah Kian dan mengenai kerah kemeja krem barunya.
Kian membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Tinta hitam menetes dari ujung hidungnya, menetes perlahan menimpa kemejanya yang kini penuh noda kopi dan tinta.
Hening merayap di dalam ruangan selama tiga detik penuh.
Pfft.
Maya yang biasanya begitu anggun, teratur, dan penuh wibawa pakar bahasa, akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun bahunya bergetar hebat. Tawa renyah yang amat nyaring pecah membasahi ruangan kaca itu.
"Bwahahaha! Maaf... pfft... Maafkan saya, Pak Kian," Maya tertawa sampai matanya berair, memegangi perutnya. "Saya tahu Anda ingin 'mewarnai' hari Anda, tapi tidak perlu secara harfiah seperti ini!"
Kian menatap Maya dengan pandangan membunuh—atau setidaknya berusaha membunuh, karena dengan noda kopi di pipi dan tinta hitam di hidung, ia lebih mirip beruang panda yang sedang merajuk daripada seorang penguasa bisnis yang menakutkan.
"Bu. Ma. Ya." Kian mengeja nama wanita itu dengan suara tertahan.
"A-ada apa, Pak Kian?" Maya mencoba merapikan napasnya, mengusap sudut matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa, meski bibirnya masih mengukir senyum lebar yang sangat renyah. "Apakah itu bentuk komunikasi baru dari spesies pangeran es?"
Kian berdiri dari kursinya, membuat kursi kayu itu berdecit nyaring. Ia menyapu noda tinta di wajahnya dengan sapu tangan sutra dari saku celananya—yang kini ikut hancur terkena noda.
"Besok," tunjuk Kian dengan jari yang juga ternoda tinta ke arah Maya. "Besok saya akan datang tepat waktu lagi. Dan pastikan Anda menyiapkan pulpen yang tidak gampang meledak!
Maya menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Kian dengan tatapan jenaka penuh kemenangan. Ia mengambil selembar tisu dan menyodorkannya ke arah Kian.
"Sampai jumpa besok pagi pukul enam tepat, Pak CEO," ujar Maya lembut, suaranya kembali tertata namun matanya masih berkilat penuh rasa humor. "Jangan lupa cuci muka sebelum Anda memimpin rapat direksi Elang Group pagi ini. Saya tidak yakin para investor Anda siap melihat maskot baru perusahaan."
Kian merebut tisu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memutar badannya, dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruang kaca dengan langkah sengit.
Namun, saat ia melangkah menuju mobilnya di bawah rindangnya pohon kolonial, Kian menyadari satu hal yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun terakhir: jantungnya berdegup kencang, bukan karena amarah bisnis atau tekanan saham... melainkan karena tawa renyah seorang wanita bersuara merdu yang baru saja menghancurkan harga dirinya sampai ke titik nol.
Perang dingin ini jelas baru saja memanas dengan cara yang sangat konyol.
Pukul 05.50 WIB.
Kian Elang Baskara melangkah masuk ke ruang kaca dengan kepercayaan diri yang terestorasi 100%. Pagi ini ia tampil mengenakan kemeja katun polos biru muda yang pas di badannya, celana bahan kasual, serta sepatu sneakers putih bersih. Tidak ada genangan air, tidak ada bubuk kopi melayang, dan yang paling penting: ia membawa pulpen gel kualitas premium seharga tiga ratus ribu rupiah yang ia beli sendiri.
"Selamat pagi, Bu Maya," sapa Kian dengan nada sesantai mungkin, mencoba menunjukkan bahwa insiden "Panda Tinta" kemarin tidak mempengaruhi mentalnya sama sekali.
Maya yang sedang menata beberapa piring kecil di atas meja kayu menengadah. Matanya berbinar jenaka. "Selamat pagi, Pak Kian. Senang melihat Anda hadir dalam wujud manusia utuh tanpa corak tinta hari ini."
Kian mengabaikan sindiran itu dan langsung duduk. Namun, penciumannya mendeteksi aroma harum gurih yang sangat menggoda selera. Di atas meja, terhidang se piring pisang goreng kipas yang masih mengepul panas dan dua cangkir teh melati.
"Apa lagi ini? Ujian menyeduh teh?" tanya Kian curiga, melipat dadanya.
"Bukan. Ini sarapan," jawab Maya santai seraya menduduki kursinya. "Ibu Anda menelepon saya tadi malam. Beliau bilang Anda selalu melewatkan sarapan karena terlalu sibuk bersikap dingin pada dunia. Jadi, syarat masuk kelas hari ini: habiskan dua buah pisang goreng ini."
Kian mengerutkan kening, menatap pisang goreng berbalut tepung renyah itu seperti melihat benda asing dari planet lain. "Saya tidak makan makanan berminyak di pagi hari. Kalori dan kadar kolesterolnya—"
"Satu gigitan pisang goreng, atau satu laporan kegagalan ke Ibu Eleanor?" potong Maya tenang, menyerahkan sebuah garpu kecil.
Kian menggeram pelan. Dengan enggan, ia menyambar garpu tersebut, memotong sepotong kecil pisang goreng, dan memasukkannya ke dalam mulut.
Ia siap menyumpahi rasanya. Ia siap bilang bahwa ini makanan tidak sehat. Tapi begitu lidahnya mengecap perpaduan manisnya pisang raja yang lumer dan renyahnya adonan berbumbu wijen itu... Kian terpaku. Matanya sedikit membesar.
Enak banget. Sialan, batin Kian menjerit.
Maya yang mengamati perubahan ekspresi Kian hanya tersenyum tipis, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Bagaimana? Apakah rasa pisang goreng ini cukup merusak tatanan oligarki Anda?"
Kian dengan cepat menetralkan raut wajahnya, mengunyah perlahan seolah sedang menilai kualitas keju mahal dari Prancis. "Biasa saja. Tepungnya sedikit terlalu tebal." Tapi tangannya, tanpa sadar, justru memotong potongan kedua yang jauh lebih besar.
Maya menahan senyum. "Baiklah. Sambil Anda 'menikmati' pisang goreng yang biasa saja itu, mari kita masuk ke materi hari ini: Apresiasi dan Pujian."
Kian hampir tersedak. "Pujian?"
"Ya. Seorang pemimpin yang hebat tidak hanya tahu cara mengkritik, tapi juga tahu cara memuji," jelas Maya seraya mengambil sebuah kertas dari folder-nya. "Tugas Anda pagi ini adalah memberikan tiga pujian yang tulus dan spesifik kepada orang-orang di sekitar Anda. Kita mulai dari simulasi. Pujilah saya.
Kian menghentikan kunyahannya. "Memuji Anda?"
"Ya. Bebas. Penampilan saya, cara mengajar saya, atau apa saja. Tapi harus tulus dan spesifik. Tanpa kata 'tapi', tanpa sarkasme."
Kian berdeham, merapikan duduknya. Memuji bawahan atau mitra bisnis adalah hal biasa baginya, tapi memuji wanita di depannya ini terasa seperti diminta memanjat Monas tanpa tali.
"Ehem. Baiklah," Kian menatap Maya. Wanita itu mengenakan kemeja batik katun berpotongan elegan dengan rambut disanggul modern. Matanya yang jernih menatap Kian penuh antisipasi.
"Bu Maya... Anda..." Kian menggantung kalimatnya. Tenggorokannya mendadak kering. "Anda... punya gaya berpakaian yang... tidak merusak pemandangan."
Maya mengedipkan mata. "Tidak merusak pemandangan? Itu pujian atau deskripsi kelayakan bangunan dinas tata kota, Pak Kian?"
"Maksud saya, Anda terlihat... anggun!" seru Kian agak menaikkan nada suaranya karena panik. "Warna baju Anda cocok dengan warna kulit Anda. Puas?"
"Nilai lima dari sepuluh. Agak tertekan, tapi ada kemajuan," kekeh Maya. "Sekarang, coba pujian kedua. Kali ini telepon asisten pribadi Anda, Pak Luki."
Kian melotot. "Luki?! Kenapa harus Luki?"
"Karena beliau adalah orang yang paling sering menerima amukan Anda setiap hari. Buka HP Anda, loudspeaker, dan puji dia."
Dibawah tatapan mengintimidasi namun penuh kehangatan dari Maya, Kian akhirnya mengeluarkan ponselnya dengan jemari gemetar. Ia mencari kontak 'Luki Asisten' dan memanggilnya.
Hanya dalam satu detik, panggilan diangkat.
"Selamat pagi, Pak Kian! Ada yang bisa saya bantu? Mobil sudah siap, berkas rapat jam sembilan sudah di meja, dan saya sudah memesan kopi Guatemala kesukaan Bapak!" suara Luki terdengar sangat sigap namun penuh kecemasan dari seberang telepon.
Kian menarik napas panjang. Maya memberi isyarat tangan agar Kian mulai bicara.
"Luki," panggil Kian berat.
"Ya, Pak?! Ada yang salah?! Saya minta maaf Pak kalau ada dokumen yang keliru, jangan potong bonus saya Pak!" Luki langsung panik.
"Tidak. Tidak ada yang salah," Kian mengusap tengkuknya yang terasa panas. Wajahnya mulai memerah. "Saya... cuma mau bilang..."
"Bilang apa, Pak?"
"Kerja kamu... sangat bagus pagi ini. Terima kasih sudah mempersiapkan semuanya dengan teliti. Kamu... asisten yang sangat diandalkan."
Hening.
Tidak ada suara dari seberang telepon selama lima detik penuh. Maya menahan tawa sambil menutupi mulutnya dengan buku.
"P-Pak Kian...?" suara Luki terdengar bergetar hebat dari telepon.
"Ya?"
"Bapak... Bapak di mana sekarang? Bapak diculik? Atau Bapak lagi disandera babi ngepet Pak?! Tolong jangan macam-macam Pak, sebutkan tebusannya berapa, saya transfer sekarang juga asal Bapak selamat!!" histeris Luki dari seberang telfon.
Kian membelalakkan mata, harga dirinya yang sempat terkumpul langsung hancur berkeping-keping. "LUKI! Saya serius! Saya cuma mau memuji kamu!"
"Akal-akalan pemeras ini pasti! Pak Kian tidak mungkin memuji saya kecuali dunia mau kiamat! Halo?! Penjahat?! Jangan apa-apakan bos saya!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Luki.
Ruang kaca itu seketika pecah oleh tawa Maya. Guru sastra itu tertawa sampai harus menyandarkan kepalanya ke meja, bahunya naik turun. Tawa melengking yang begitu lepas dan merdu hingga membuat dinding kaca seolah ikut bergetar.
"Bwahahaha! Babi ngepet?! Pak Kian, asisten Anda berpikir Anda disandera babi ngepet!" gelak Maya dengan air mata menetes di sudut matanya.
Kian menatap ponselnya dengan ekspresi tidak percaya, lalu menatap Maya yang masih tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Kian merah padam, campuran antara malu setengah mati dan kejengkelan yang luar biasa.
"Asisten bodoh. Nanti jam sembilan langsung saya surat pemecatan dia," sungut Kian, membuang mukanya ke samping.
"Jangan dipecat," ujar Maya sambil mencoba merapikan napas dan mengusap air matanya. Ia menatap Kian dengan binar mata yang hangat. "Itu buktinya, Pak Kian. Selama ini Anda begitu kaku dan menakutkan, sampai-sampai satu kalimat tulus dari Anda justru dianggap sebagai musibah oleh orang terdekat Anda."
Kata-kata Maya kembali mendarat tepat di sasaran, namun kali ini tidak terasa menyakitkan. Ada rasa hangat yang aneh merayap di dada Kian.
Maya menyodorkan cangkir teh hangat ke hadapan Kian. "Tapi, usaha Anda tadi patut diacungi jempol. Anda mau mencobanya, dan itu langkah besar untuk seorang 'pangeran es'."
Kian menerima teh itu, menatap uap tipis yang membumbung. Tanpa sadar, sebuah sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah ukiran senyum tipis yang amat langka, bukan senyum sinis atau angkuh, melainkan senyum yang jujur.
"Pisang gorengnya..." gumam Kian pelan sambil menatap piring yang kini sudah kosong. "...Sebenarnya sangat enak."
Maya tertegun sejenak melihat senyuman tipis Kian. Ruangan itu mendadak terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Maya tersenyum manis, membalas tatapan Kian.
"Saya tahu," sahut Maya pelan. "Besok saya suruh bikinkan lagi. Tapi dengan syarat: besok Anda harus belajar cara meminta maaf, bukan cuma memuji."
Kian mendesah pasrah, tapi kali ini, tidak ada lagi rasa gusar di langkahnya saat ia beranjak berdiri untuk bersiap menuju kantor. Perang dingin mereka tampaknya mulai meleleh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa penasaran yang kian membesar.
Keheningan pagi di kediaman Maya pecah seketika ketika sosok Mbak Wulan—asisten rumah tangga Maya yang energik dan punya bakat alami drama bak aktris opera sabun—datang membawa nampan berisi pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan.
Namun, bukan sekadar menyajikan camilan, Wulan berdiri tegak di samping meja makan dengan kedua tangan bertengger di pinggang, memicingkan mata penuh selidik ke arah Kian.
"Mas Pangeran Es..." cetus Wulan tanpa ragu. "...kata Bu Maya, kemarin Mas memuji pisang goreng buatan saya enak banget sampai ludes, tapi belakangan ini muka Mas kalau datang ke sini tekuk tujuh kayak dompet tanggal tua. Mana kata Bu Maya hari ini Mas mau belajar 'minta maaf'?"
Kian, yang baru saja hendak menyesap tehnya, hampir menyemburkan isi mulutnya. Sebagai CEO yang terbiasa disembah para direktur board, diperlakukan seperti murid SD yang nakal oleh ART berdasar instruksi seorang guru Bahasa Indonesia benar-benar di luar kalkulasi bisnisnya.
Misi Utama: Latihan "Maaf" Tingkat Tinggi
Maya menahan tawa, mengetuk pelan pulpennya ke meja kaca.
"Kian, ingat materi hari ini," ujar Maya tegas namun dengan sudut mata yang berbinar jenaka. "Kita mulai dari latihan paling dasar: meminta maaf secara tulus kepada orang yang sudah memasakkan pisang goreng favorit Anda."
Kian berdehem, membenarkan letak dasi mewahnya yang mendadak terasa mencekik. Ia menatap Mbak Wulan, lalu mencoba mengeluarkan suara terbaiknya—suara bariton tegas yang biasanya dipakai untuk memotong anggaran perusahaan.
"Saya... meminta maaf atas kelakuan saya yang kurang bersahabat belakangan ini, Mbak Wulan," ujar Kian kaku, tangannya terkepal di samping paha seolah sedang melakukan sumpah jabatan. "Dan... terima kasih atas pasokan karbohidrat gorengnya.
Mbak Wulan mengedipkan mata tiga kali, lalu menoleh ke arah Maya dengan ekspresi dramatis.
"Aduh, Bu Maya! Ini maap apa ajakan perang? Muka Mas Kian kenceng banget kayak karet gelang baru! Nggak ada manis-manisnya!" keluh Wulan sambil menepuk dada.
"Coba ulang, Kian. Senyumnya mana? Otot wajahnya dilemaskan, bukan mau nego akuisisi bank," goda Maya seraya menyerahkan cermin kecil ke tangan Kian.
Bencana Senyum Kian
Kian menatap bayangannya di cermin. Ia mencoba menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Hasilnya? Lebih mirip penjahat di film kartun yang baru saja berhasil mencuri resep rahasia daripada orang yang tulus meminta maaf.
"Mbak Wulan, maafin saya ya..." cengir Kian kaku.
Mbak Wulan justru melangkah mundur setengah meter, memegang dadanya seolah terkejut. "Aduhh! Jangan nyengir begitu Mas, saya malah takut! Kayak mau numbalin saya ke pemegang saham!"
Maya akhirnya tidak sanggup menahan tawa. Tawa renyahnya membumbung di dalam ruangan, membuat Kian mengacak rambutnya sendiri dengan gusar—sebuah gestur langka dari seorang CEO yang biasa tampil sempurna tanpa sehelai rambut pun mencolok keluar.
"Kian," potong Maya di sela tawanya, "meminta maaf itu bukan soal pamer gengsi atau formalitas. Itu soal menurunkan sedikit ego Anda. Coba tatap Mbak Wulan, bayangkan pisang gorengnya habis, dan Anda tulus menyesal."
Kian menghela napas panjang. Ia mengamati Mbak Wulan yang masih memasang muka curiga, lalu beralih menatap Maya yang tersenyum hangat mendukungnya. Ada rasa hangat aneh yang menyelusup di dada Kian—perasaan yang membuatnya rela melepaskan jubah "Pangeran Es"-nya sebentar saja.
Titik Balik Sang CEO
Kian mengembuskan napas, menatap Mbak Wulan dengan mata yang jauh lebih teduh. Kali ini, tanpa paksaan, tanpa senyum kaku yang menakutkan.
"Mbak Wulan... maaf ya kalau selama datang ke sini saya ketus dan jutek banget," kata Kian pelan, suaranya benar-benar tulus. "Pisang goreng buatan Mbak Wulan jujur enak banget. Bikin saya kangen rumah."
Hening sejenak.
Mbak Wulan mendadak membisu. Matanya berkaca-kaca dramatis.
"Waduh... Bu Maya... Mas Kian kalau ngomong tulus ternyata gantengnya nambah seribu persen!" seru Wulan heboh sambil menutupi wajahnya dengan serbet dapur. "Ya sudah! Maaf diterima! Besok tak buatkan pisang goreng keju susu spesial super premium!"
Wulan langsung meleset balik ke dapur dengan langkah penuh kemenangan, meninggalkan Maya dan Kian yang saling pandang.
"Lihat?" goda Maya pelan sambil menyodorkan piring pisang goreng yang baru. "Tidak susah, kan?"
Kian mengambil satu potong pisang goreng, lalu menatap Maya dengan sudut bibir yang terangkat tipis—senyum alami yang kali ini benar-benar menghangatkan suasana pagi itu.
"Lulus untuk hari ini, Bu Guru?" bisik Kian.
"Baru Lulus Level 1," balas Maya jenaka. "Besok kita belajar cara memuji tanpa terlihat gengsi.
Pagi berikutnya, Kian datang lebih awal sepuluh menit. Langkah kakinya yang mantap menggelegar di teras rumah Maya, tetapi ekspresi wajahnya kali ini sedikit berbeda. Tidak ada lagi raut muka ditekuk. Sebagai gantinya, ada raut muka pasrah seorang CEO yang tahu dirinya akan masuk ke "medan tempur" baru.
Begitu pintu terbuka, Mbak Wulan sudah berdiri tegak menyambutnya dengan apron bunga-bunga dan centong kayu yang diangkat bak pedang prajurit.
"Selamat pagi, Mas Pangeran Es!" sapa Wulan ekstra ceria. "Gimana? Sudah siap naik level memuji hari ini, atau mau menyerah terus bayar denda?"
Kian menghela napas, menatap Maya yang duduk santai di ruang tamu sambil menyesap kopi. Maya memberikan isyarat dengan mengangkat jempolnya, seolah berkata: Ayo, Kian, tunjukkan kemampuanmu.
Level 2: Kurikulum Memuji Tanpa Gengsi
"Baik," Kian memulai sesi dengan gaya formal seperti sedang presentasi laporan keuangan kuartalan. "Hari ini agenda kita adalah memberikan apresiasi verbal secara jujur. Mbak Wulan, penampilan Anda pagi ini... sangat efisien."
Mbak Wulan mendelik, menatap centong kayunya lalu menatap Kian.
"Efisien?!" seru Wulan dramatis. "Mas, saya ini dandan setengah jam biar kelihatan seger, disamain sama mesin cetak kantor! Bu Maya, ini mah bukan muji, ini inspeksi pabrik!"
Maya tertawa kecil, menutup mulutnya dengan telapak tangan sebelum melangkah mendekat.
"Kian, memuji itu bukan bikin analisis dampak bisnis," sahut Maya gemas. "Coba puji sesuatu yang nyata. Warna apronnya, aroma masakannya, atau... kerapian sanggulnya?"
Kian berdehem keras. Tenggorokannya mendadak kering. "Oke. Daur ulang kata-kata..." Kian menatap sanggul Mbak Wulan yang menjulang tinggi seperti menara pemancar. "...Sanggul Mbak Wulan pagi ini sangat... aerodinamis. Presisinya luar biasa."
"AERODINAMIS?!" jerit Wulan, kali ini hampir menjatuhkan centongnya. "Bu Maya, tolong! Mas Kian kira kepala saya lapangan terbang!"
Insiden Bumbu Dapur dan Teror Kompor
Melihat situasi semakin kacau, Maya bermaksud menyelamatkan suasana dengan mengajak mereka semua ke dapur untuk melihat proses pembuatan menu baru: martabak tahu spesial.
"Mari kita belajar dari praktik langsung," ujar Maya. "Kian, coba bantu Mbak Wulan memecahkan telur sambil memberikan pujian atas keahlian memasaknya."
Namun, memasukkan seorang CEO yang seumur hidupnya hanya tahu menekan tombol touchscreen dan menandatangani dokumen miliaran rupiah ke dalam dapur sederhana adalah sebuah keputusan yang sangat berisiko.
Saat Kian memegang telur pertama:
Kian: "Keterampilan Mbak Wulan membalik martabak ini sungguh... fantastis." (CRACK! Telur di tangannya remuk total, cangkangnya masuk ke dalam adonan).
Wulan: "Aduuh! Mas Kian! Itu cangkang telur ikut nyemplung! Nanti pelanggan kita kena radiasi kalsium berlebih!"
Kian: (Panik) "Tenang, saya ambil pakai sendok—" (Tangannya malah menyenggol botol kecap asin hingga tumpah membasahi apron Bunga-bunga Mbak Wulan).
"MAS KIANNN!" jerit Wulan histeris menatap apron kesayangannya yang kini berbercak hitam kecap. "Ini apron limited edition hadiah jalan-sehat RT tahun lalu!"
Puncak Kekacauan dan Tawa yang Meledak
Kian berdiri terpaku dengan kedua tangan berlepotan telur dan kecap asin. Wajahnya yang biasa dingin kini dihiasi coretan jelaga tipis dari pinggiran wajan karena ia sempat mencoba menahan wajan yang bergeser.
Maya, yang awalnya panik, justru berdiri membeku di ambang pintu dapur. Melihat seorang pria berjas mahal, pemegang saham mayoritas, dengan muka belepotan telur dan memegang apron bunga-bunga yang ternoda kecap, pertahanannya runtuh seketika.
Maya tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. Tawa lepas yang begitu bening dan menular.
Kian yang tadinya merasa sangat malu dan frustrasi, perlahan menatap Maya. Tawa wanita itu seperti sihir yang meruntuhkan sisa-sisa tembok gengsinya. Tanpa sadar, Kian ikut tertawa—bukan sekadar senyum tipis, tapi tawa lepas yang belum pernah terdengar dari mulutnya selama bertahun-tahun.
"Maaf, Mbak Wulan..." ujar Kian di sela tawanya, menatap Wulan dengan pandangan benar-benar tulus dan geli pada dirinya sendiri. "Saya ganti apronnya sepuluh biji besok. Tapi jujur... rasa panik Mbak Wulan tadi luar biasa menghibur."
Wulan yang tadinya mau marah besar, mendadak luluh melihat dua orang di hadapannya tertawa bersama.
"Duh, ya ampun..." gumam Wulan sambil menggeleng-gelengkan kepala, menyapu sisa kecap di meja. "Baru kali ini lihat Pangeran Es ketawa sampai matanya hilang separuh. Ya sudahlah, apron melayang, yang penting Es-nya resmi cair."
Janji di Luar Jam Kelas
Setelah dapur berhasil diselamatkan dan Kian membersihkan diri di wastafel, kelas darurat pagi itu berakhir. Kian berdiri di ambang pintu, bersiap menuju mobilnya yang sudah menunggu.
"Terima kasih untuk pelajaran 'memuji' hari ini, Bu Guru," ujar Kian, kini menatap Maya dengan binar mata yang jauh lebih hangat dan santai. "Meskipun korban jiwa pagi ini adalah satu apron dan tiga butir telur."
"Kemajuan besar, Kian," balas Maya seraya tersenyum manis. "Anda sudah bisa tertawa dan mengakui kesalahan tanpa gengsi. Itu nilai A plus."
Kian melangkah satu tingkat turun ke halaman, lalu menoleh kembali ke arah Maya.
"Sebagai ganti rugi dapur yang berantakan..." ujar Kian pelan, nada suaranya berubah sedikit lebih dalam. "...malam ini, maukah Anda makan malam dengan saya? Bukan sebagai murid dan guru, tapi... cuma Kian dan Maya."
Maya tertegun sejenak, menangkap ketulusan—dan rasa penasaran yang kian dalam—di mata pria itu.
"Tanpa materi pelajaran?" goda Maya.
"Tanpa materi," jawab Kian mantap. "Tapi pisang goreng tetap wajib ada."
Maya tertawa pelan, menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Kian masih sempat-sempatnya menyelipkan syarat pisang goreng di tengah ajakan yang begitu intim. Namun, justru di sanalah letak pesonanya—pria yang biasanya kaku seperti patung granit itu kini menunjukkan sisi rentan dan humoris yang sangat manusiawi.
"Baiklah," jawab Maya lembut, menatap lurus ke dalam iris mata Kian yang hangat. "Malam ini. Tanpa materi, tanpa denda, hanya pisang goreng dan... kita."
Sebuah ukiran senyum tipis—kali ini sungguhan, bukan sekadar basa-basi korporat—terbit di bibir Kian. Ia mengangguk pelan sebelum berbalik menuju mobil mewahnya. Langkah kakinya tak lagi berat seperti prajurit yang diseret ke medan perang, melainkan ringan, seolah beban gengsi ribuan ton telah menguap bersama aroma kecap asin dan telur kocok di dapur Maya.
Malam: Batas yang Mengabur Pukul tujuh malam tepat, sebuah sedan hitam meluncur halus dan berhenti di depan pagar. Tak ada klakson yang dibunyikan. Kian memilih turun sendiri, berjalan mengetuk pintu kayu rumah Maya.
Ketika pintu terbuka, langkah Kian sempat terhenti sepersekian detik.
Maya berdiri di sana, membelakangi remang cahaya lampu teras. Ia tidak mengenakan pakaian formal guru pelatihan atau gaun malam yang megah. Hanya blouse kain linen warna cream yang jatuh pas di tubuhnya, dipadu celana kulot santai dan rambut yang diikat asal namun justru membingkai wajahnya dengan sangat manis. Sederhana, tapi ada kehangatan yang mendadak menabrak dada Kian dengan begitu telak.
"Lepat waktu seperti biasa, Mr. CEO," sapa Maya halus, menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga.
Kian menelan ludah. Ada dorongan di dalam dirinya untuk mengucapkan kalimat formal seperti "Penampilan Anda sangat optimal malam ini", namun memorinya langsung melayang pada insiden 'sanggul aerodinamis' tadi pagi. Kian terkekeh pelan pada dirinya sendiri, membungkam lidah kaku itu.
"Saya berusaha tidak terlambat untuk janji paling penting hari ini," ujar Kian rendah. Suaranya tidak lagi menggunakan intonasi rapat direksi, melainkan nada bariton yang dalam dan hangat.
Maya tersenyum, merasakan desir aneh yang mendadak merayapi dadanya. Ada chemistry yang pelan-pelan bergeser—dari dinamika dominasi guru-murid menjadi tarian halus antara pria dan wanita yang saling tertarik.
Bukan Restoran Bintang Lima
Kian tidak membawa Maya ke restoran fine dining di puncak gedung pencakar langit. Ia membawanya ke sebuah kedai kecil berkonsep terbuka di pinggir kota yang tenang, terletak di atas bukit kecil dengan pemandangan kelap-kelip lampu kota (city lights) di bawahnya.
Suasana kedai itu sunyi, hanya dihiasi alunan musik akustik pelan dan aroma adonan gorengan yang harum menggoda.
"Saya pikir Anda akan membawa saya ke restoran yang perlu reservasi tiga bulan sebelumnya," goda Maya saat mereka duduk di meja kayu melingkar dekat pembatas pagar kayu.
"Itu Kian yang dulu," sahut Kian sambil melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku, menampilkan urat-urat tegas di tangannya yang maskulin. "Kian yang sekarang tahu kalau restoran bintang lima tidak punya pisang goreng wijen sebagus tempat ini."
Pelayan datang membawa piring berisi pisang goreng hangat bertabur gula palem dan dua cangkir kopi hitam yang mengepulkan asap tipis.
Kian mengambil satu potong pisang, meniupnya sebentar, lalu menyodorkannya sedikit ke arah Maya. "Cobalah. Kalau ini gagal memenuhi standar Bu Guru, saya siap bayar denda lagi."
Maya tertawa, mengambil potongan itu dan menggigitnya. Renyahnya adonan berpadu dengan manisnya pisang yang lumer di lidah.
"Lolos," puji Maya dengan mata berbinar. "Nilai sembilan dari sepuluh."
"Kenapa tidak sepuluh?" tanya Kian dengan alis terangkat, berpura-pura menuntut.
"Satu poinnya hilang karena Kian belum menceritakan alasan sebenarnya kenapa dia mau repot-repot ikut kelas 'Apresiasi Verbal' ini," jawab Maya pelan, memajukan tubuhnya sedikit ke atas meja. Pandangannya menatap dalam, menembus retakan dinding pertahanan Kian yang tersisa.
Luka di Balik Jas Mahal
Atmosphere di sekitar mereka mendadak berubah. Gemericik angin malam meniup helai rambut Maya, sementara Kian terdiam sejenak. Ia memutar-mutar cangkir kopinya, menatap cairan hitam di dalamnya seolah mencari kata-kata yang tepat.
Gengsinya berontak untuk menghindar, tapi mata Maya yang jernih dan penuh empati membuatnya merasa aman untuk jujur.
"Dunia bisnis itu dingin, Maya," tutur Kian pelan, suaranya sarat dengan keletihan yang terendam bertahun-tahun. "Sejak ayah saya meninggal, saya diajarkan bahwa perasaan adalah kelemahan. Pujian adalah celah yang bisa dimanfaatkan musuh, dan senyuman adalah tanda Anda sedang menurunkan pertahanan."
Maya mendengarkan tanpa menyela, mengamati perubahan ekspresi di wajah pria di hadapannya.
"Bertahun-tahun saya hidup dengan pola pikir itu. Saya membangun benteng yang begitu tinggi sampai-sampai... saya lupa bagaimana caranya menyapa karyawan saya tanpa membuat mereka ketakutan. Saya lupa cara berinteraksi dengan manusia tanpa memikirkan untung-rugi," Kian mengangkat pandangannya, mengunci matanya pada Maya. "Sampai saya bertemu Kamu. Wanita yang dengan beraninya menatap mata saya dan bilang bahwa saya butuh 'sekolah kepribadian'."
Maya mengulas senyum tipis yang sarat akan pemahaman. "Dan bagaimana rasanya? Setelah benteng itu sedikit runtuh tadi pagi?"
Kian terkekeh rendah, mengingat kembali wajahnya yang belepotan telur dan raut histeris Mbak Wulan.
"Rasanya... lega," aku Kian tulus.Tangannya bergerak di atas meja, secara perlahan dan ragu-ragu menangkup jemari Maya yang terbaring santai. Kulit mereka bersentuhan, menyalurkan rasa hangat yang menyengat langsung ke dada masing-masing.
Maya tidak menarik tangannya. Ibu jarinya justru mengelus lembut punggung tangan Kian yang hangat dan kasar.
"Kamu tidak perlu menjadi 'Pangeran Es' untuk dihormati, Kian," bisik Maya, suaranya sehalus angin malam. "Orang-orang menghormati pemimpin karena ketegasannya, tapi mereka menyayangi manusia karena kehangatannya. Dan pagi ini... saya melihat seorang manusia yang luar biasa di balik jas mahal itu."
Pujian Pertama yang Sempurna
Kian terpaku. Kalimat Maya barusan bukan lagi materi pelajaran, melainkan sebuah pengakuan yang meruntuhkan sisa-sisa jarak di antara mereka. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya—sebuah sensasi yang tak pernah ia rasakan bahkan saat memenangkan tender triliunan rupiah.
Kian menggegam jemari Maya sedikit lebih erat, menyatukan jemari mereka di atas meja kayu di bawah naungan cahaya lampu temaram.
"Kalau begitu, bisakah saya mencoba satu pujian lagi?" tanya Kian, suaranya sangat dalam dan intens.
Maya menaikkan sebelah alisnya, tersenyum goda. "Coba saja. Tapi ingat, kalau pakai kata 'efisien' atau 'aerodinamis', saya akan langsung pulang."
Kian tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. Pandangannya mengunci mata Maya, menatap lurus ke dalam jiwanya tanpa ada lagi topeng CEO atau gengsi yang menutupi.
"Maya..." panggil Kian pelan. "Tawa kamu pagi ini... adalah suara paling indah yang pernah saya dengar setelah sekian lama. Dan malam ini, duduk di depan kamu seperti ini... membuat saya sadar kalau saya tidak ingin kelas kita pernah berakhir."
Maya terpana. Napasnya tertahan sejenak. Pujian itu sederhana, tanpa metafora rumit atau analisis data, tapi disampaikan dengan ketulusan yang begitu telanjang hingga mampu membuat desiran hangat membakar kedua pipinya.
Maya menyunggingkan senyum paling manis yang pernah Kian lihat, lalu membalas genggaman tangan pria itu.
"Satu poin tambahan untuk Kian," bisik Maya pelan dengan mata berbinar. "Nilaimu malam ini... sepuluh sempurna."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!