Sejak subuh, Halimah sudah turun ke dapur, mengawali pagi sebagai seorang istri.
Suara pisau beradu cepat di atas talenan, denting panci yang dipindahkan, air keran yang mengalir deras, uap yang mengepul, hingga tetesan air yang membasahi lantai keramik. Sedikit gambaran suasana pagi yang tak pernah tenang.
Nur Halimah bergerak cepat tanpa henti, membalik masakan, menyendok bumbu, menata piring, sekaligus mengingat-ingat apa yang belum selesai. Sesekali punggung tangannya menyapu keringat di dahi yang mulai membasah.
Ditengah kesibukannya, suara lantang suaminya terdengar memanggil dari dalam kamar. "Halimah, di mana kaos kakiku?" Rangga tampak gelisah, mengacak-acak isi keranjang pakaian yang belum sempat dilipat.
Halimah mendongak ke arah pintu kamar. "Di atas rak sepatumu, Mas!" sahutnya lantang.
Mata Rangga menyusuri setiap sudut kamar, hingga akhirnya melihat sepasang kaos kaki yang tergantung di pinggir rak sepatu.
Tidak lama kemudian, suara teriakan terdengar lagi. "Halimah, blouse biruku sudah kamu setrika belum?"
Itu Rengganis, kakak iparnya yang baru saja selesai mandi. Seperti biasa, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai tank top dan celana pendek.
"Sudah, Mbak. Blouse-nya ada di lemari depan kamar Mama," jawab Halimah, meski suaranya agak tertutup suara percikan minyak saat mencelupkan ikan ke dalam wajan panas.
"Mbak Halimah, baju olahragaku mana?" seru Rita dari ujung lorong.
"Di jemuran belakang. Sudah Mbak cuci kok, cuma tadi malam masih agak sedikit lembab!"
Gadis tomboy itu langsung melangkah menuju halaman belakang yang berarti harus melewati dapur tempat Halimah sedang sibuk memasak.
"Mbak masak apa?" tanyanya sekilas, lalu mengerutkan kening melihat isi wajan. "Ikan lagi, ikan lagi. Bosan ah," ketusnya berlalu melanjutkan langkah menuju halaman belakang.
Halimah tersenyum tipis, "Memangnya Rita mau Mbak masakkan apa hari ini?"
"Gak usah, aku makan di luar aja nanti." Rita berjalan pergi setelah memakai baju olahraganya.
Di antara keluarga suaminya, Rita jauh lebih sopan dan tidak pernah berbicara kasar padanya. Mungkin karena dia adik bungsu, pikir Halimah dalam hati.
Langkah kaki sayup terdengar mendekat ke arah dapur, "Masih belum siap juga?" ketus Bu Ramlah, mertua yang berprofesi bak juri di setiap sesi memasaknya.
"Bentar lagi, Ma," sahut Halimah hendak membalik ikan di wajan.
"Kamu tu ya, gak bisa dibilangin!" bentaknya sambil mendorong kepala Halimah. "Goreng ikan itu minyaknya dikit aja. Pemborosan."
"Maaf, Ma. Tadi, aku buru-buru..."
"Ngejawab! Jawab aja terus. Dasarnya kalau kebiasaan melawan orang tua, ya gitu. Di kasih tau, malah ngejawab." Bu Ramlah ngedumel sambil menunjuk wajah Halimah.
Halimah menunduk diam, menatap ikan yang baru saja ia balik di dalam wajan. Sementara Bu Ramlah sudah kembali ke ruang tengah dengan masih terus berceloteh tidak jelas yang intinya menyalahkan Halimah.
Lima tahun sudah Halimah mengabdikan dirinya menjadi istri rumah tangga dan menantu yang berbakti untuk keluarga suaminya. Namun, belum pernah sekalipun ia mendengar ucapan terima kasih dari mereka, termasuk dari suaminya sendiri.
Mereka menganggap apa yang Halimah lakukan memang sudah kewajiban mutlak seorang istri dan menantu. Untuk apa berterima kasih pada hal yang seharusnya memang sudah menjadi tugasnya, bukan?
Halimah tidak berkecil hati sama sekali. Ia paham betul, sejak awal menjalin hubungan dengan Rangga, keluarga pria itu memang sudah tidak menyukainya.
Halimah bertahan sampai akhirnya mereka menikah karena Rangga yang memohon-mohon, bersumpah tidak bisa hidup tanpanya, dan menolak menikah dengan wanita lain selain dirinya.
Diawal pernikahan, Rangga sangat baik. Ia penuh kasih sayang, selalu membelanya saat dicaci maki oleh ibu mertua dan kakak iparnya.
Namun, setelah dua tahun berlalu dan Halimah belum juga dikaruniai keturunan, perlahan sikap Rangga berubah. Ia menjadi dingin, sering mendiamkan Halimah dan jarang menatap wajah Halimah.
Meski diperlakukan tidak adil, Halimah tetap bertahan. Tidak ada pilihan lain, karena sudah tidak ada tempat kembali selain rumah ini.
Kedua orang tua Halimah sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Kalau pun mereka masih ada, rasanya Halimah juga enggan untuk kembali setelah dengan percaya dirinya ia lebih memilih tinggal bersama Rangga dari pada tetap tinggal bersama orang tuanya.
Meski begitu, Halimah tetap tulus melakukan semuanya, walau memang akhir-akhir ini ada perasaan lelah yang tak kunjung usai.
Namun, Halimah tidak pernah sekalipun berpikir untuk membenci mertua dan iparnya yang sering mencaci makinya, mengatainya mandul.
Disela-sela kesibukan mengurus rumah, Halimah bahkan mulai rutin berobat ke dokter spesialis kandungan. Namun setahun terakhir, Rangga justru melarangnya.
"Berobat itu cuma buang-buang uang saja!" tegur Rangga dengan nada tinggi.
"Sekali berobat habis jutaan, tapi hasilnya nihil. Kamu itu bisanya cuma ngabisin uang suami. Udah, gak usah berobat-berobat lagi. Memang dasarnya kamu gak bisa kasih anak!"
Halimah terdiam membisu. Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut pria yang paling dicintainya. Kalimat itu terasa tajam seperti belati yang menyayat hati. Air matanya jatuh, namun tidak ada satu pun yang peduli.
Rangga makin berubah. Enam bulan terakhir, ia bahkan jarang pulang, dengan alasan harus mengerjakan proyek di luar kota hingga harus menginap.
Setiap kali Halimah menelepon, panggilannya selalu diabaikan. Rangga bahkan tidak pernah memberi kabar padanya, kecuali pada ibunya.
Saat Halimah memberanikan diri bertanya pada ibu mertua, yang didapat hanyalah makian.
"Resiko wanita mandul itu ya begini! Lagian mana mungkin suami betah di rumah kalau anak juga gak ada? Kalau mau suami sering pulang, ya kasih anak lah!" sindir Bu Ramlah tanpa peduli perasaan Halimah yang semakin hancur.
Dada Halimah sesak, bulir bening menumpuk di kelopak matanya. Namun, belum sempat air matanya jatuh, Bu Ramlah meraih tas di meja, lalu melemparkan selembar kertas ke hadapannya.
Kertas itu meluncur, berhenti tepat di atas pangkuan Halimah.
"Tanda tangani itu secepatnya," ucapnya dingin, "Anakku sudah tidak sudi punya istri mandul sepertimu!"
Halimah menunduk, perlahan tangannya menyentuh kertas itu, matanya mulai menatap tulisan di atas kertas putih dengan tulisan hitam tebal SURAT GUGATAN PERCERAIAN.
Bersambung...
Ditengah hiruk-pikuk ibu kota, kendaraan berlalu-lalang memadati jalan raya yang tidak pernah sepi, meski waktu sudah lewat tengah malam.
Daffa Nugraha Surya, pria berusia 33 tahun, baru saja melangkah keluar dari Bar. Tangannya merangkul erat pinggang seorang wanita yang berpakaian cukup terbuka yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.
Daffa yang setengah mabuk, membimbing wanita itu masuk ke dalam kursi belakang mobil mewahnya.
"Ke kediaman utama, Pak!" perintahnya singkat pada Pak Jamal, supir pribadinya. Ia tidak menoleh sedikit pun, matanya masih terpaku pada wanita di sampingnya.
"Baik, Tuan Muda." Pak Jamal menyalakan mesin dan melajukan mobil perlahan keluar dari area parkir.
Mobil itu melaju membelah jalanan gelap menuju kediaman utama keluarga Surya. Rumah megah yang berdiri kokoh di kawasan elit itu telah menjadi tempat tinggal Daffa sejak lahir.
Namun, tidak pernah sekalipun tempat itu terasa seperti rumah baginya, hanya sebuah tempat yang di dalamnya penuh dengan dendam, kebencian dan amarah dari penghuninya.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di halaman depan yang luas.
"Tuan Muda, kita sudah sampai," ucap Pak Jamal pelan, berusaha tidak mengganggu. Dari kaca spion, ia melihat Daffa sedang sibuk mencium leher wanita itu.
Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi Pak Jamal. Hampir setiap malam, Daffa pulang membawa wanita yang berbeda.
Padahal, ia bisa saja menghabiskan waktu di hotel, namun pria itu seolah sengaja membawa wanitanya pulang, memperlihatkan kelakuannya pada seluruh penghuni rumah besar ini.
Daffa membuka pintu mobil sendiri, lalu menarik wanita itu keluar, berjalan beriringan menuju teras luar rumah, tangannya masih melingkar erat di pinggang wanita itu.
"Mas Daffa... cepatlah," bisik wanita itu sambil tersenyum genit.
Daffa menyeringai, menggigit pelan telinga wanita itu. Tangannya dengan cepat mendorong pintu utama yang memang belum di kunci. "Tenang saja. Aku pun sudah tak sabar."
Saat langkah Daffa baru menyentuh anak tangga pertama, suara bentakan memecah keheningan malam. "CUKUP!"
Daffa berhenti, ia mendongak ke arah atas tangga. Di sana, Amanda berdiri tegap dengan tatapan tajam dan wajah merah padam. Kedua tangan menyilang erat.
"Apa lagi, sih! Lagi gak mood bertengkar." ujar Daffa datar, tangannya masih betah meraba punggung wanita di pelukannya.
Dengan langkah pelan, Amanda menuruni tangga. Matanya menatap jijik ke arah wanita yang terus mengendus ceruk leher Daffa.
"Kamu pikir rumah ini hotel? Tiap malam bawa perempuan! Memalukan! Kelakuan buruk kamu itu, telah mencoreng nama baik keluarga Surya! Memalukan punya anak sepertimu." makinya berteriak penuh kebencian.
Daffa menyeringai geli mendengar makian yang keluar dari mulut wanita yang telah melahirkannya itu. Sebentar Daffa melepas pelukannya dan mendorong tubuh wanita di pelukannya sedikit menjauh darinya.
"Loh. Aku kan sengaja meniru Anda. Bukankah Dulu Anda juga dipaksa melayani demi harta..."
PLAK!
Tamparan mendarat di pipi Daffa.
Suasana mendadak hening, menyisakan suara deru napas yang tak beraturan dan suara jam dinding.
Amanda gemetar hebat setelah menampar Daffa. Air matanya keluar, tapi bukan karena merasa bersalah telah menampar Daffa, melainkan Karena kebencian yang semakin memuncak.
"Jangan pernah samakan aku dengan wanita-wanita mu! Aku jauh lebih bermartabat dari mereka!" bentak Amanda sambil menahan luapan tangisannya.
"Aku sangat membenci mu! Harusnya sejak awal aku tidak perlu mempertahankan manusia menjijikkan seperti kamu!" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya. Air mata masih terus berjatuhan di pipinya.
34 tahun yang lalu, Amanda baru saja berusia 20 tahun hari itu. Ia menangis sejadi-jadinya memohon agar Ayahnya, berhenti memaksanya menikah dengan pria tua yang tidak dia sukai sama sekali.
"Aku mohon, Pa. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku sudah punya pacar, Pa..."
"Papa tidak peduli. Kamu tetap harus nikah dengan Dimas. Dia anak baik, jujur dan Setia. Papa hanya ingin menjadikan Dimas menantu Papa. Bukan orang lain!"
"Aku tidak mencintainya. Aku tidak sudi menikah dengan anak sopir itu!"
"Cinta tidak mengisi perut, Amanda. Ini demi nama baik keluarga. Ingat satu hal! Meski Dimas hanya anak sopir, dia jauh lebih punya harga diri dari pacar kamu itu."
Hari berikutnya, Amanda masih ingat jelas, bagaimana pernikahan itu tetap berlangsung diatas ribuan tetesan air matanya.
Amanda menunjuk tepat wajah Daffa, dengan sorot mata merah padam. "Aku masih ingat, hari di mana aku di paksa menikah dengan anak Sopir, miskin itu!"
Daffa membalas tatapan itu tanpa merasa gentar sedikitpun.
"Setiap kali melihat wajah ini... ingatan saat lelaki jahanam itu memperkosa ku... Aku tidak akan pernah bisa lupa seumur hidupku!" Bentak Amanda sambil menjerit histeris menarik kuat rambutnya sendiri.
Wanita yang berada di samping Daffa menatap takut pada Amanda. Langkahnya perlahan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding tembok yang dingin.
"Kamu bukan anak yang aku harapkan! Kamu kutukan!" jeritnya lantang memenuhi seluruh ruangan sunyi itu.
Tangan Daffa perlahan meraba pipinya yang merah, tidak ada kemarahan di matanya, yang ada tawanya menggelegar menyahut jeritan itu, "Jadi selama ini aku hidup cuma untuk jadi tempat melampiaskan gagalnya hidup Anda?"
Daffa melangkah mendekat. Lalu berbisik pelan, "Tenang saja. Aku akan mengambil semuanya. Harta Kakek. Nama keluarga ini. Supaya Anda bisa melihat... kutukan ini yang akan jadi raja di tempat ini!"
Daffa meraih tangan wanita yang tertunduk bersandar di dinding, membawanya naik ke lantai atas. Meninggalkan Amanda yang terduduk lemas mengepalkan tangan meluapkan kebenciannya.
Dari balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Abimanyu, kakek Daffa hanya bisa menggeleng perlahan. Tatapannya penuh kekecewaan menyaksikan pertengkaran yang tak pernah usai antara Ibu dan Anak itu.
"Han," panggilnya pelan pada pria yang berdiri di samping meja.
Dia adalah Hanif, penasihat hukum sekaligus asisten pribadinya yang sudah bekerja puluhan tahun.
"Siapkan semuanya sesuai rencana yang kita susun awal tahun lalu."
Hanif mengangguk mantap. "Baik, Bapak. Semua dokumen sudah lengkap. Besok pagi Bapak bisa langsung berbicara dengan Nyonya Amanda dan Tuan Muda Daffa."
Abimanyu kembali menatap ke arah putri sulungnya, sebelum ia menatap ke arah lorong atas, tempat langkah kaki Daffa perlahan menghilang. Sekali lagi ia menghela napas panjang.
"Saya harap, keputusan ini sudah tepat."
Bersambung....
Pagi ini meja makan terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya ada Halimah dan Bu Ramlah. Sarapan yang dimasaknya dari jam 5 pagi, tidak ada yang menyentuh.
Rengganis tidak pulang tadi malam, wanita janda itu menginap di apartemen kekasihnya. Sementara Rita, menginap di kantor, karena pekerjaannya menumpuk minggu ini.
Bu Ramlah meletakkan cangkir teh dengan bunyi keras seperti di banting, "Masih betah duduk di situ? Malu nggak sih, sudah di gugat cerai, masih nyaman tinggal di sini!"
Halimah menunduk, tangannya meremas ujung jilbabnya, "Aku belum tanda tangan surat itu, Ma. Aku mau nunggu Mas Rangga pulang dulu. Aku mau dengar langsung dari mulut mas Rangga."
Bu Ramlah menyeringai, lalu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Halimah, "Nih! Baca sendiri kalau nggak percaya! Rangga sendiri yang mengirim surat gugatan cerai itu, dia yang memintaku untuk memberikan surat itu sama kamu."
Mata Halimah membaca isi pesan di layar ponsel mertuanya. Di sana, sangat jelas Rangga mengatakan perihal ia yang sudah menggugat Halimah.
"Rangga udah capek, dia udah bosan sama kamu! 5 tahun nikah nggak ngasih cucu! Dia udah nemu yang bisa ngasih dia anak dan ngasih saya cucu!"
"Maaf, Ma. Tapi, selama Mas Rangga belum bicara apapun sama aku... surat ini cuma kertas, Ma. Aku masih istri Mas Rangga. Aku punya hak untuk dengar langsung dari mulutnya." jawab Halimah dengan suara gemetar.
Mendengar jawaban itu, membuat Bu Ramlah naik pitam. Ia membanting sendok dengan kuat ke hadapan Halimah, "Hak?! Kamu nggak punya hak apa-apa di rumah ini! Kalau seminggu lagi kamu nggak tanda tangan juga, aku yang akan usir kamu dari rumah ini!"
Setelah berteriak memaki Halimah, Bu Ramlah langsung pergi meninggalkan meja makan dengan banyak lauk yang belum tersentuh sedikit pun.
Suasana mendadak hening. Hanya suara jam dinding yang mengisi telinga Halimah. Perlahan ia mengambil surat itu, melipatnya rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku dasternya.
"Aku akan menunggu kamu, Mas." lirihnya pelan.
Halimah berdiri, membereskan meja seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi begitu sampai di dapur, tubuhnya lemas bahkan hampir luruh ke lantai jika tangannya tidak berpegangan erat di wastafel.
"Ya Allah... astaghfirullah," jeritnya tertahan di ikuti air mata yang jatuh ke wastafel.
Sementara itu, di ruang makan keluarga Surya justru terasa sedikit mencengkam pagi ini. Amanda bahkan belum mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya. Padahal, biasanya ia akan banyak berbincang dengan Wulan, adik iparnya.
Pertengkaran hebat dengan Daffa tadi malam, sangat menguras energinya. Bahkan hampir semalaman Amanda tidak bisa memejamkan matanya.
Di hadapannya duduk seorang pria yang dua tahun lebih muda darinya, yaitu Ahmad Nugraha Surya, adik bungsunya yang duduk bersampingan dengan istrinya, Wulan.
"Kapan kalian berangkat ke Swiss?" tanya Abimanyu memecah sunyi.
Ahmad menoleh, tersenyum lembut sambil menuang air ke dalam gelas istrinya. "Rencana minggu depan, Pa. Sekalian Wenny sama Winda juga libur kuliah."
Abimanyu mengangguk paham, tangannya mulai menyendok bihun goreng kedalam piringnya.
"Mbak Manda, juga mau ke Singapura, kan?" ucap Wulan mengajak kakak iparnya ngobrol.
Namun, Amanda hanya mengangguk acuh. Membuat Wulan menghela napas dengan memalingkan wajah agar ekspresi kesalnya tidak terlihat jelas oleh Kakak Iparnya.
Tidak lama kemudian Daffa turun dengan langkah santai seolah tidak ada yang terjadi tadi malam. Ia duduk di kursi samping Amanda, sementara di seberangnya duduk kedua sepupunya, Wenny dan Winda.
"Seger ya, setiap pagi selalu keramas," sindir Wulan pada Daffa yang membuatnya mendapat cubitan pelan di paha oleh suaminya.
"Buah memang tidak pernah bisa jatuh jauh dari pohonnya. Bukan begitu, Wulan?" celetuk Amanda ikut menyindir Daffa.
"Ya, tentu saja, Mbak Amanda," sahut Wulan pelan dengan bibir bersungut kesal karena mendapat cubitan dari suaminya tadi.
Daffa tersenyum sinis menanggapi sindiran dua wanita yang sangat tidak menyukainya di rumah ini.
Setelah seluruh anggota keluarga berkumpul dan suasana hening, Abimanyu memberi isyarat pada Hanif. Asisten pribadinya itu pun berdiri dan membuka berkas di tangannya.
"Sebelum kita sarapan," ujar Abimanyu dengan suara berat, "Hanif akan membacakan poin penting dari surat wasiat terbaru saya, terkait kepemilikan Surya Holding."
Semua mata tertuju pada Hanif.
"Berdasarkan isi dokumen ini," bacanya tegas, "Surya Holding selaku induk perusahaan akan diserahkan sepenuhnya kepada Tuan Muda Daffa Nugraha Surya. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam waktu empat bulan ke depan yaitu Tuan Muda Daffa wajib menikah secara sah."
Suasana hening sejenak, sebelum Hanif melanjutkan.
"Selain itu, surat wasiat ini juga menegaskan bahwa pernikahan kontrak tidak diakui sebagai syarat sah. Jika terbukti Tuan Muda Daffa melakukan hal tersebut, maka hak warisnya gugur seketika dan Surya Holding akan diserahkan seutuhnya kepada Tuan Ahmad Nugraha Surya."
Suasana meja makan mendadak hening total. Hanya suara denting sendok yang terlepas dari tangan Wulan dan kedua putrinya yang terdengar nyaring memecah keheningan.
Daffa menatap kakeknya dengan tatapan tidak percaya, lalu tertawa pendek yang terdengar sinis, "Kek?! Apa saya tidak salah dengar? Menikah? Dalam waktu empat bulan?"
Abimanyu menatapnya tajam tanpa berkedip, "Kamu tidak salah dengar, Daffa. Itu syarat mutlak hak waris."
"Konyol," cibir Daffa sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di dada.
"Ini syarat sah waris," balas Abimanyu tegas. "Bukankah Kamu ingin diakui dan dihargai sebagai pemimpin? Maka mulailah dengan kesempatan yang Kakek berikan ini."
Amanda yang sedari tadi diam akhirnya menyahut lembut namun menusuk, "Dia tidak akan bisa, Papa. Buat apa membuang waktu memberi kesempatan padanya. lebih baik menyerahkan perusahaan pada Ahmad. Lagi pula, dia hanya ingin menghabiskan seumur hidupnya bermain-main dengan wanita-wanita murahan sama seperti bajingan itu."
Rahang Daffa mengeras, sorot matanya tajam menatap wajah Amanda, "Jangan pernah menyebut Papa saya bajingan. Dia bukan lelaki seperti yang Anda tuduhkan!" tegasnya penuh penekanan.
Di ujung meja, Wulan menyeringai kecil, berbisik pelan pada suaminya namun cukup terdengar, "Daffa terlalu sombong, kan Mas?"
Ahmad menepuk pelan punggung tangan istrinya, lalu menatap Daffa, "Tenanglah dulu Daffa. Lagi pula, kamu punya cukup waktu untuk menemukan calon istri, bukan?"
Seringai sombong terlihat di wajahnya, "Menikah dalam waktu empat bulan kedepan? Ide yang bagus."
Sorot matanya melirik ke samping, melihat reaksi Amanda yang ternyata wanita itu tampak tenang dengan menyuap bihun goreng di piringnya.
"Saya terima syarat dari Kakek. Saya akan menikah secara sah. Jika perlu, kurang dari empat bulan," ucap Daffa lantang. Dagunya terangkat, matanya menantang semua orang di ruangan itu.
Abimanyu mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sorot matanya melembut saat menatap cucunya, "Kakek percaya. Kamu bisa, Daffa."
Di kursi sampingnya, Amanda menyandarkan punggung ke kursi. Senyumnya sinis sebelum ia terkekeh pelan, cukup keras untuk didengar semua orang. "Oh... berani sekali!"
Dalam hati Amanda berkata lirih, "Kita lihat saja, anak kucing. Seberapa jauh kamu bisa bertaruh... sebelum aku yang menghabisi mu."
Bersambung....
...S****elamat membaca!! ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. 🤗✌️🙏...
...Like, Komen dan Subscribe ya 😁😀...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!