Indonesia
NovelToon NovelToon

Di Buang Keluarga,Di Pungut Tuan Mafia

Luka Yang Tak Pernah Sembuh

​Suara tangisan bayi melengking memecah keheningan koridor rumah sakit malam itu. Di dalam ruang bersalin yang dingin dan dipenuhi aroma antiseptik yang menyengat, para medis bernapas lega setelah berjam-jam berjuang. Namun, bagi Husein, jeritan napas pertama putri kecilnya bukanlah sebuah pengumuman kebahagiaan, melainkan sebuah pertanda kehancuran hidupnya.

​Di atas ranjang bersalin, wanita yang paling dicintainya terbaring pucat. Husein menggenggam erat jemari istrinya yang kian mem hisap dingin, menyaksikan bagaimana sinar kehidupan perlahan-lahan padam dari matanya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi membawa kehidupan baru ke dunia ini. Dunia Husein runtuh seketika. Seluruh impian indah yang mereka susun bersama musnah, digantikan oleh kehampaan yang luar biasa besar.

​Seorang perawat mendekati Husein dengan hati-hati, membawa sesosok bayi kecil yang telah dibersihkan dan dibungkus kain lembut. "Tuan Husein... putri Anda selamat. Siapa nama yang ingin Anda berikan padanya?" tanya perawat itu dengan suara pelan dan penuh empati.

​Husein tidak bergeming. Matanya yang sembab dan memerah terpatri pada wajah kaku sang istri. Ia merengkuh tubuh yang tak bernyawa itu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya sambil terisak tanpa suara.

​"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara parau dan bergetar, memeluk erat tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi tersebut. Bagi Husein, kata 'Kirana' yang berarti sinar keindahan terasa sangat ironis, sebab saat gadis kecil itu lahir, sinar hidupnya justru padam untuk selamanya.

​Sejak hari yang terkutuk itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta dari sebuah pernikahan yang bahagia, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Waktu berjalan, namun luka di hati Husein tak pernah mengering. Setiap kali Kirana melangkah di dalam rumah, setiap kali tawa atau tangis bocah kecil itu terdengar, hati Husein seperti diiris sembilu. Dan yang paling menyiksa bagi Husein adalah saat ia melihat wajah Kirana—setiap lekuk bibir, tatapan mata, dan bentuk alis anak itu adalah cerminan sempurna dari almarhum istrinya.

​Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar dan menjalar rapuh di dada Husein. Dalam kegelapan duka yang menutupi akal sehatnya, Husein menyalahkan Kirana. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya harus pergi meninggalkannya. Setiap kali melihat Kirana, yang terbayang di benaknya bukanlah rasa sayang seorang ayah, melainkan rasa sakit atas detik-detik mengerikan di ruang bersalin itu.

​Tak sanggup lagi menahan rasa sakit setiap kali bersimpangan jalan dengan putrinya sendiri, Husein mengambil keputusan tegas. Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sebuah sekolah asrama berasrama penuh di tempat yang sangat jauh dari kota mereka, tepat saat usia Kirana masih sangat belia dan masih membutuhkan dekapan hangat seorang parent.

​Di sekolah asrama itu, Kirana tumbuh dalam lingkungan yang amat asing. Secara materi, Husein tidak pernah membiarkan Kirana kekurangan. Segala fasilitas terbaik, pakaian mewah, buku-buku mahal, hingga dana pendidikan selalu dikirimkan tanpa terlambat sepeser pun. Namun, di balik semua kemewahan yang kasat mata itu, hidup Kirana berjalan dalam kekosongan yang membeku. Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dipeluk saat menangis, dininabobokkan saat sakit, atau dipuji saat mendapatkan nilai yang bagus.

​Di tengah kemewahan fasilitas asrama yang sepi dan dingin itu, satu-satunya penawar rasa sepi bagi Kirana adalah sebuah foto berbingkai kayu sederhana yang sengaja dititipkan oleh ayahnya saat mengantarnya pertama kali. Foto itu memperlihatkan seorang wanita berwajah anggun dengan senyuman yang sangat lembut—mendiang ibunya. Setiap malam sebelum tidur, Kirana akan duduk di tepi ranjang, memandangi wajah cantik ibunya di bawah lampu temaram, mengusap permukaan kaca bingkai itu seolah-olah ia sedang menyentuh pipi ibunya sendiri.

​Ajaibnya, meski tumbuh di bawah bayang-bayang kesepian yang mencekat dan tanpa kehangatan keluarga, Kirana tidak tumbuh menjadi anak yang murung atau penuh amarah. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang manis, sopan, dan luar biasa ceria. Senyuman hangat dan tutur kata yang lembut selalu menjadi ciri khasnya. Teman-teman dan para pengajarnya menyayangi Kirana karena kepribadiannya yang bagaikan sinar matahari di musim dingin. Kirana menyembunyikan rapat-rapat luka hatinya di balik tawa dan kebaikan yang ia bagikan kepada orang lain.

​Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kirana tetap menyimpan sebuah harapan kecil yang terus ia jaga kehangatannya: ia percaya bahwa suatu hari nanti, jika ia menjadi anak yang pintar, berprestasi, dan membanggakan, ayahnya akan melupakan rasa sakit masa lalu dan mau membuka pintu hati untuk memeluknya kembali.

Rumah Tanpa Ruang

​Dua puluh tahun berlalu dalam pengasingan terselubung yang tertata rapi. Di usianya yang kini menginjak 25 tahun, Kirana akhirnya menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas bergengsi di Australia dengan predikat kelulusan terbaik. Masa-masa kuliah yang berat ia lalui dengan satu cita-cita tunggal: pulang ke tanah air dan membawa ijazah itu kepada ayahnya sebagai bukti bahwa ia layak dicintai.

​Dengan dua koper besar di tangan dan dada yang bergemuruh oleh rasa rindu serta harapan yang membumbung tinggi, Kirana melangkah menyusuri pelataran rumah masa kecilnya. Halamannya masih tampak sama, rindang dan megah, namun ada atmosfer asing yang menggantung di udara. Kirana menghela napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang, lalu memberanikan diri mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu.

​Pintu terbuka pelan. Namun, bukannya pelukan hangat atau tatapan kerinduan yang menyambutnya, Kirana justru dihadapkan pada pemandangan yang seketika menghentikan aliran darahnya.

​Di dalam ruang tamu yang diterangi lampu gantung kristal yang mewah, Husein sedang duduk di sofa kulit. Wajah ayahnya yang selama puluhan tahun selalu tampak dingin dan datar kini dihiasi oleh senyuman yang begitu hangat—sebuah senyuman tulus yang belum pernah sekalipun Husein perlihatkan pada Kirana sepanjang hidupnya. Dan senyuman itu ditujukan kepada seorang wanita paruh baya bermakeup tebal yang duduk di sampingnya, serta seorang gadis muda modis berusia sekitar 20 tahun yang sedang tertawa manja.

​Kehadiran Kirana di ambang pintu membuat gelak tawa di ruang tamu itu terhenti seketika. Suasana berubah menjadi kaku dan mencekam.

​"Ayah..." suara Kirana bergetar menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di dadanya. "Siapa... siapa mereka?"

​Husein berdiri perlahan. Raut wajahnya yang tadinya penuh kehangatan berubah menjadi sangat dingin dan berjarak, seolah-olah Kirana adalah seorang tamu tak diundang yang merusak suasana bahagianya.

​"Kau sudah pulang," kata Husein datar, tanpa ada nada kerinduan sedikit pun dalam intonasinya. Ia lalu menunjuk wanita di sampingnya. "Kenalkan, ini Ibu Tirimu, Murni. Dan ini adikmu, Nara Malan. Kami sudah menikah tiga tahun yang lalu saat kau masih sibuk dengan kuliahmu. Mulai sekarang, mereka adalah pemilik rumah ini juga."

​Kata-kata itu menghantam dada Kirana bagaikan pukulan benda tumpul. Hatinya hancur berkeping-keping. Selama bertahun-tahun ia berjuang sendirian di negeri orang demi mendapatkan sedikit perhatian ayahnya, ternyata sang ayah telah membangun keluarga baru dan membagikan kasih sayang yang selama ini ia idam-idamkan kepada orang asing.

​"Pernikahan? Adik tiri?" Kirana menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku? Kenapa Ayah menggantikan posisi Ibu tanpa pernah bicara padaku?!"

​"Jaga bicaramu, Kirana! Aku tidak perlu meminta izin darimu untuk mengatur hidupku!" bentak Husein keras, membuat wanita paruh baya itu tersenyum tipis sarat kemenanga di belakang punggung Husein.

​Dengan hati yang hancur dan napas tersengal menahan tangis, Kirana menolak menerima kenyataan pahit itu. Ia membutuhkan tempat untuk menenangkan diri, sebuah sudut yang terasa akrab baginya. Kirana memutar badan dan berlari menaiki tangga menuju lantai dua, mengarah ke kamarnya—satu-satunya ruangan yang menyimpan memori dan kenangan berharga tentang mendiang ibunya, tempat di mana barang-barang peninggalan sang ibu disimpan.

​Namun, begitu Kirana mendorong pintu kamar tersebut, langkahnya terhenti secara mendadak.

​Kamar itu telah berubah total. Cat dinding abu-abu lembut kesukaannya telah diganti menjadi warna merah muda cerah. Lemari kayu antik peninggalan ibunya hilang, digantikan oleh meja rias modern yang dipenuhi dengan produk kosmetik mahal dan pakaian-pakaian bermerek milik orang lain. Segala jejak keberadaan ibunya telah dimusnahkan tanpa sisa.

​Gadis muda berusia 20 tahun yang tadi duduk di bawah—Nara Malan—berjalan santai menyusul Kirana dan bersandar di ambang pintu dengan senyuman sinis.

​"Ini kamarku! Kenapa kalian menyentuh barang-barangku?! Di mana barang-barang ibuku?!" teriak Kirana histeris. Ia menghampiri Nara, matanya menatap tajam penuh ketidakpercayaan. "Siapa yang memberimu izin menguasai kamar ini?!"

​Nara hanya melipat kedua tangannya di dada, menatap Kirana dari atas ke bawah dengan tatapan dingin dan penuh rasa superioritas. "Kamar ini milikku sekarang, Kak. Papa yang memberikan kamar ini padaku karena ini kamar terbesar di rumah ini. Lagipula, barang-barang lama yang berdebu itu sudah dibuang ke gudang... atau mungkin sudah dibakar, aku tidak peduli."

Bayangan Di Bawah Salju

​Kata-kata Nara bagaikan percikan api yang menyambar bensin. Amarah dan rasa sakit yang dipendam Kirana selama puluhan tahun akhirnya meledak. Kirana mencoba menerobos masuk untuk menyelamatkan apa pun yang tersisa dari kenangan ibunya, namun Nara sengaja mendorong bahu Kirana hingga Kirana hampir terjatuh. Pertengkaran hebat dan saling dorong pun tidak dapat dihindarkan di lorong lantai dua tersebut.

​Husein yang mendengar kegaduhan itu langsung berlari menaiki tangga. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Nara yang sengaja menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai sambil meringis kesakitan dan menangis buatan.

​"Ada apa ini?!" bentak Husein dengan suara menggelegar.

​"Papa... Kak Kirana marah-marah dan mendorongku. Dia tidak mau menerima kami di rumah ini," aduh Nara dengan suara memelas, menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya menyunggingkan senyum kemenangan.

​Mata Husein mendelik penuh amarah menatap Kirana. Tanpa mendengarkan penjelasan atau bertanya apa yang sebenarnya terjadi, rasa benci mendalam yang selama ini terpendam kembali mencuat ke permukaan. Bagi Husein, Kirana selalu menjadi pembawa masalah dan pengganggu ketenangannya.

​"Cukup, Kirana! Kau baru saja kembali dan sudah membuat kekacauan di rumah ini!" teriak Husein seraya mencengkeram lengan Kirana dengan sangat kuat hingga membuat gadis itu meringis.

​"Ayah, dengarkan aku dulu! Dia mengubah kamarku, dia membuang barang-barang peninggalan Ibu!" tangis Kirana pecah. "Kenapa Ayah selalu membela mereka? Aku ini putri kandung Ayah!"

​"Kau bukan siapa-siapa bagiku selain pembawa sial!" kata-kata kejam itu meluncur mulus dari mulut Husein tanpa rasa iba sedikit pun. "Ibumu mati gara-gara kau lahir ke dunia ini! Dan sekarang kau mau merusak kebahagiaan baruku? Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!"

​Husein menyeret Kirana turun dari tangga secara kasar. Kirana mencoba bertahan, menangis dan memohon, namun tenaga ayahnya jauh lebih kuat. Husein menyambar koper-koper Kirana yang masih tergeletak di lorong depan, lalu membuka pintu utama rumah lebar-lebar.

​"Keluar dari rumahku! Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi!" bentak Husein murka.

​Dengan sekali dorongan keras, Husein melempar Kirana keluar ke pelataran rumah, disusul dengan koper-kopernya yang dijatuhkan kasar ke tanah. Pintu kayu yang kokoh itu kemudian ditutup dengan dentuman keras dan dikunci dari dalam.

​Malam itu, cuaca sedang berada pada puncaknya yang paling ekstrem. Angin malam berhembus sangat kencang, membawa serta bulir-bulir salju lebat yang turun menyelimuti kota. Suasana di luar begitu membekukan dan mencekam. Kirana terduduk di atas tanah yang dingin, terpaku menatap pintu rumahnya sendiri yang kini tertutup rapat baginya.

​Ia mengenakan pakaian tipis—hanya sweater rajut sederhana yang tak mampu menahan gigitan udara membeku yang menusuk hingga ke tulang. Air matanya menetes deras, mengalir membasahi pipinya yang kian pucat, sebelum akhirnya membeku karena cuaca yang luar biasa dingin.

​Dengan tubuh yang gemetar hebat dan gigi yang berjelatuk, Kirana berusaha bangkit. Ia menarik kopernya dengan jemari yang mulai mati rasa, mencoba berjalan menyusuri jalanan kompleks yang sepi menembus tumpukan salju yang semakin tebal. Namun, ke mana ia harus pergi? Ia tidak memiliki siapa-siapa di kota ini. Rumah yang ia harapkan menjadi tempat pulang kini telah mengusirnya tanpa belas kasihan.

​Rasa dingin yang ekstrem perlahan-lahan menggerogoti pertahanan tubuhnya. Kesadaran Kirana mulai mengabur, pandangannya berbayang, dan rasa pusing yang teramat sangat menusuk kepalanya. Langkah kakinya semakin lambat dan berat hingga akhirnya kedua lututnya menyerah pada gravitasi. Kirana roboh di tepi jalanan yang sepi, meringkuk pasrah di atas tumpukan salju yang dingin. Dalam keputusasaan yang mendalam, Kirana memejamkan matanya, membiarkan kegelapan perlahan-lahan merenggut kesadarannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!