Suara gesekan angin malam yang menabrak dedaunan pohon jati di samping rumah selalu membawa hawa dingin yang tak menyenangkan di pinggiran Madiun. Namun, malam ini rasa dingin itu terasa berbeda.
Udara yang meresap masuk melalui celah-celah ventilasi kayu rumah keluarga Pak Broto tidak hanya membawa embun pertengahan Juli, tetapi juga bau tanah basah yang teramat pekat—padahal hujan tidak turun tiga hari terakhir.
Di dalam kamar berukuran empat kali empat meter yang berdinding tembok kusam, Pak Broto terbaring tegang di atas kasur kapuknya. Napas pria 50 tahun itu terdengar seperti suara gergaji tumpul yang dipaksakan memotong kayu basah.
Grak ... grak ... grak ....
Bunyi itu begitu berat, merayap keluar dari tenggorokannya yang tampak kaku dan membengkak secara tidak wajar.
"Bapak ... minum dulu, Pak," bisik Galang sambil menyodorkan segelas air hangat yang asapnya masih mengepul halus.
Galang, anak ketiga yang berusia 19 tahun, duduk bersimpuh di sisi kiri tempat tidur. Tangannya gemetar hebat. Selama tiga jam terakhir, ia menyaksikan ayahnya bertarung melawan sesuatu yang tak kasat mata.
Tidak ada riwayat penyakit jantung, tidak ada riwayat asma. Pukul delapan malam tadi, Pak Broto masih sempat duduk di depan warung nasi mereka, menghitung lembaran uang kembalian dan bersenda gurau dengan para pengemudi truk yang mampir makan.
Namun, tepat ketika jam dinding di ruang tamu berdentang sembilan kali, Pak Broto mendadak ambruk menabrak meja kayu.
Pak Broto tidak menyentuh gelas yang disodorkan Galang. Matanya yang memerah dan dipenuhi urat-urat darah liar melotot lurus ke arah langit-langit kamar. Kelopak matanya membuka lebar, begitu lebar hingga Galang takut bola mata ayahnya akan terlepas.
Jemari tangan kanan Pak Broto meremas sprei kain blaco hingga robek, sementara tangan kirinya mencengkeram dada kirinya sendiri dengan sangat kuat—begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Galang ... panggilkan Mas Bayu sama Mba Tiwi!" perintah Bu Retno bergetar dari ambang pintu kamar. Wajah wanita itu sepucat kain kafan. Rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini terurai berantakan di bahunya.
Di belakang tubuh Bu Retno, tiga anak mereka yang lebih kecil—Mia, Rian, dan si bungsu Gilang—terpaku ketakutan di ruang tengah, saling berpelukan tanpa berani bersuara.
"Mas Danu lagi nyari mobil sewaan buat bawa Bapak ke rumah sakit, Bu! Mbak Tiwi lagi nemenin adek-adek di depan!" sahut Galang dengan suara yang hampir pecah oleh kepanikan. "Bapak kenapa, Bu? Bapak kenapa kok tiba-tiba begini?!"
Bu Retno tidak menjawab. Matanya tidak tertuju pada wajah suaminya, melainkan melirik liar ke sudut atas kamar—ke arah bayangan gelap yang tercipta oleh pendar redup bola lampu lima watt.
Di sudut itu, udara malam terasa bergetar, seolah-olah ada sesuatu yang amat berat sedang bergelantung di sana, menatap balik ke arah pembaringan Pak Broto.
"Pak ... nyebut, Pak ... eling ...," gumam Bu Retno setengah berbisik. Langkah kakinya mendekati tempat tidur, namun gerakannya begitu pelan, penuh keraguan yang tak masuk akal bagi seorang istri yang melihat suaminya sekarat.
Tiba-tiba, tubuh Pak Broto terangkat. Punggungnya melengkung ke atas hingga hanya kepala dan tumitnya yang menyentuh kasur. Suara lenguhan panjang keluar dari mulutnya yang terbuka lebar.
Bau busuk—campuran antara bangkai unggas dan bau bauken minyak tanah yang terbakar—mendadak memenuhi ruangan, begitu menyengat hingga membuat mata Galang berair dan tenggorokannya mual.
"Bapak!" teriak Galang refleks memegang kedua bahu ayahnya, mencoba menahan tubuh Pak Broto agar kembali berbaring datar.
Namun, otot-otot tubuh ayahnya terasa sekeras batu jalanan. Kekuatan pria yang biasanya hanya sibuk mengaduk kuah rawon di warung itu kini terasa sepuluh kali lipat lebih kuat dari manusia biasa.
"G-Galang ...."
Sebuah suara keluar dari mulut Pak Broto. Itu bukan suara aslinya. Suara itu terasa ganda, seolah ada suara parau lain yang berbisik tepat di belakang pita suaranya.
"Iya, Pak! Ini Galang, Pak! Istighfar, Pak!" jerit Galang, air matanya kini benar-benar menetes menimpa pipi ayahnya yang terasa dingin membeku—dingin yang tidak masuk akal untuk seseorang yang dadanya sedang memburu cepat.
Pak Broto memalingkan kepalanya secara patah-patah ke arah Galang. Gerakan lehernya terdengar berderak tajam, seperti rantai besi yang dipaksa berputar tanpa minyak pelumas.
Mata merah itu mengunci tatapan Galang. Ada rasa takut yang teramat sangat memancar dari manik mata sang ayah—sebuah ketakutan murni dari seorang manusia yang menyadari dirinya sedang diseret ke dalam jurang tanpa dasar.
"G-garis ... keturunan ...," bisik Pak Broto. Lidahnya tampak membengkak dan berwarna kehitaman di bagian tengah. "J-jangan ... biarkan ... i-ibumu ...."
"Apa, Pak? Apa?!" Galang mendekatkan telinganya ke bibir ayahnya yang gemetar dan menghitam. "Jangan biarkan Ibu apa, Pak?! Galang gak denger."
Tangan kanan Pak Broto yang semula meremas sprei mendadak melayang di udara, meraih kerah baju kaos yang dikenakan Galang. Cengkeramannya begitu mencekik. Pak Broto menarik tubuh Galang hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. Galang bisa merasakan hawa napas ayahnya yang membakar dan berbau amis busuk.
"K-kau ... kau bukan ..."
Kalimat itu terputus.
Mata Pak Broto membelalak puncak. Dadanya naik tinggi sekali, menahan napas yang tak kunjung dihembuskan kembali. Dari dalam tenggorokannya, terdengar suara gemerotok gigi yang saling berbenturan dengan kencang, disusul suara tak tajam seperti patahan ranting kering.
Seketika itu juga, cengkeraman tangan Pak Broto di kerah baju Galang terlepas. Tangannya jatuh terhempas ke atas kasur dengan tidak berdaya. Kepala pria itu terkulai miring ke kanan, matanya tetap terbuka lebar menatap kosong ke arah dinding kayu yang berdebu.
Hening.
Keheningan yang datang begitu mendadak itu terasa menghantam dada Galang lebih keras daripada jeritan mana pun. Angin di luar rumah berhenti berhembus seketika. Suara jangkrik dan serangga malam yang biasanya ramai menyelimuti desa terdiam total. Hanya ada suara detak jam dinding tua yang terus berjalan: tik ... tok ... tik ... tok ....
"Pak ...?" bisik Galang pelan. Ia menyentuh dada ayahnya. Tidak ada gerakan. Tidak ada hembusan napas. Tidak ada denyut nadi di leher kaku itu. "Pak ... bangun, Pak ...."
Di ambang pintu, Bu Retno tidak menjerit. Ia tidak berlari memeluk jasad suaminya. Wanita itu hanya berdiri terpaku, memegang daun pintu kayu dengan jemari yang bergetar.
Wajahnya tidak memancarkan duka melainkan sebuah ketakutan yang teramat sangat—ketakutan seseorang yang baru saja menyaksikan sebuah penagihan janji dimulai.
"Ibu ... Bapak udah nggak ada, Bu ...," ujar Galang dengan suara bergetar parau, memandang ibunya dengan tatapan meminta pertolongan.
Namun, Bu Retno justru melangkah mundur satu langkah. Matanya perlahan terangkat dari jasad Pak Broto, lalu beralih menatap lurus ke arah Galang.
Tatapan wanita itu terasa begitu asing, seolah-olah ia sedang melihat seorang asing yang berdiri di tengah reruntuhan rumahnya.
"Utangnya ...," bisik Bu Retno sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara langkah kaki Bayu dan Pertiwi yang panik berlari dari arah lorong depan. "Utangnya ... harus dibayar."
Pintu kamar terdorong lebar. Bayu, anak sulung keluarga itu, menerobos masuk dengan napas terengah-engah. "Lang! Mobil Pak RT udah siap di depan! Ayo bawa Bapak—"
Kata-kata Bayu terhenti di udara saat matanya menangkap sosok ayahnya yang terbaring kaku dengan mata melotot. Pertiwi yang menyusul di belakangnya langsung menjerit histeris, menutupi mulutnya dengan kedua tangan sambil merosot jatuh di lantai papan.
Di tengah jeritan adik-adiknya yang mulai pecah dari ruang tengah dan tangisan Pertiwi yang memecah malam, Galang tetap terduduk kaku di sisi jasad ayahnya. Kalimat terakhir Pak Broto terus bergema di dalam kepalanya, berulang-ulang seperti kutukan yang baru saja diucapkan.
K-kau ... kau bukan ....
Galang memandang telapak tangannya sendiri yang dingin dan gemetar. Di atas kasur itu, jasad Pak Broto perlahan-lahan mulai mengeluarkan warna kebiruan yang tidak alami pada kulit lehernya, sementara bau tanah basah dan kemenyan semakin pekat memenuhi ruangan—menandakan bahwa malam ini, di rumah pinggir jalan Madiun itu, sebuah pintu kegelapan telah resmi terkuak lebar.
Pagi baru saja merambat di atas langit Madiun. Warna jingga pucat menembus sela-sela rimbun daun jati, membiaskan cahaya dingin ke halaman belakang rumah keluarga Pak Broto.
Udara pagi yang biasanya menyegarkan, kali ini terasa berat dan berjelut. Di pelataran tanah keras dekat sumur timba, sebuah bale-bale kayu jati berukuran besar telah disiapkan. Kain batik berkain panjang menutupi bilah-bilah kayunya, siap menjadi tempat pemandian terakhir bagi sang pemilik rumah.
Kabar kematian Pak Broto yang mendadak menyebar cepat dari mulut ke mulut. Tetangga sekitar dan beberapa kerabat dekat mulai berdatangan sejak subuh.
Namun, alih-alih dipenuhi suasana duka yang hangat oleh doa-doa, pelataran belakang itu diliputi kecanggungan yang aneh.
Mbah Sastro, mudin desa berusia 70 tahun yang biasa memimpin prosesi pemandian jenazah di kampung itu, berdiri di samping gentong tanah liat besar. Tangan tuanya yang keriput memegang gayung batok kelapa.
Di sampingnya, Bayu, Galang, serta Pak RT dan dua warga senior desa—Pak Karso dan Mbah Dul—sudah mengenakan sarung yang digulung hingga ke lutut.
"Mas Bayu, Mas Galang ... ayo diangkat bapaknya dari dalam," bisik Mbah Sastro pelan. Suaranya serak, penuh kehati-hatian yang tak biasa. Sejak melangkah masuk ke rumah itu sejam lalu, mata Mbah Sastro yang sudah kabur terus melirik ke arah atap dapur.
Galang mengangguk kaku. Bersama Bayu, Pak Karso, dan Mbah Dul, ia kembali masuk ke kamar utama tempat jasad Pak Broto dibaringkan.
Bu Retno sendiri duduk terdiam di sudut meja makan ruang tengah. Wanita itu hanya memangku tangannya, menatap kosong ke lantai semen tanpa mengalirkan air mata sedikit pun.
Pertiwi dan adik-adiknya yang lain menangis sesenggukan di kamar samping, ditenangkan oleh para tetangga wanita.
Saat Galang menyusupkan kedua tangannya ke bawah punggung dan paha ayahnya, rasa dingin yang menusuk langsung merayapi telapak tangannya. Ini bukan sekadar dinginnya mayat yang sudah beberapa jam meninggal. Itu terasa seperti memegang bongkahan es batu yang baru dikeluarkan dari dalam freezer, keras dan membeku tajam.
"Satu ... dua ... tiga ... angkaaat," aba-aba Pak Karso terdengar pelan.
Keempat pria dewasa itu mengerahkan tenaga. Namun, terjadi sesuatu yang tidak masuk akal.
Jasad Pak Broto tidak bergeming sedikit pun dari kasur kapuknya.
Pak Karso tersentak, alis tebalnya bertaut. "Lho? Kok berat banget? Mas Bayu, ayo diangkat sing bener!"
"Ini udah sekuat tenaga, Pak!" sahut Bayu dengan napas mendadak memburu. Peluh dingin langsung membasahi dahinya.
Tubuh Pak Broto semasa hidupnya tergolong sedang, tidak terlalu gemuk, hanya sekitar enam puluh kilogram. Namun sekarang, saat empat orang pria dewasa mengangkatnya bersamaan, bobot tubuh itu terasa seperti berkuintal-kuintal batu cadas yang tertanam kuat ke dalam bumi.
"Bismillah ... ayo coba lagi," bisik Mbah Dul sambil membaca salawat pendek di samping telinga jasad.
Mereka kembali mencengkeram kain dan bagian bawah tubuh Pak Broto. Galang mengejan, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol.
Di tengah usaha keras itu, Galang merasakan sesuatu yang mengerikan: dari dalam bagian dada ayahnya, ada getaran halus—seolah-olah ada beban tak berwujud yang amat berat sedang menindih dada Pak Broto dari atas, menahannya agar tetap menempel di pembaringan.
Dengan dengus napas yang terengah-engah dan pengerahan tenaga yang tidak wajar, jasad itu akhirnya berhasil terangkat beberapa senti. Langkah mereka memburu, gontai dan tatih-tatih keluar menyusuri lorong menuju pintu belakang.
Setiap kali kaki mereka melangkah, sendi-sendi tulang Pak Broto terdengar mengeluarkan bunyi klek ... klek ... yang kaku, seolah-olah tendon dalam tubuhnya dipaksa membengkok.
Saat jasad Pak Broto akhirnya dibaringkan di atas bale-bale kayu di dekat sumur, bale-bale tebal itu sampai mendecit keras, menahan beban yang seakan-akan terlampau masif.
Mbah Sastro menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang berkerut sebelum mencelupkan gayung batok kelapa ke dalam gentong air yang sudah dicampur bunga setaman dan irisan daun pandan.
"Niatkan memandikan, membersihkan dari hadas besar ...," gumam Mbah Sastro.
Air pertama disiramkan ke atas dada Pak Broto.
Srrr ....
Seketika itu juga, fenomena aneh berikutnya terjadi. Air bunga yang jernih dan segar itu, begitu menyentuh kulit dada Pak Broto, mendadak berubah warna. Cairan bening itu berubah menjadi agak keruh kehitaman, lalu mengalir turun melewati rusuk jasad dan menetes ke tanah di bawah bale-bale.
Bau wangi mawar dan kantil yang semula menyeruak dari gentong langsung hilang menguap, berganti dengan bau amis darah bercampur tanah liat basah yang menyengat paru-paru.
Warga yang berdiri melingkar di sekitar area pemandian bagian luar mendadak mundur selangkah. Bisik-bisik ketakutan mulai merayap di antara mereka.
"Bumbui airnya lagi, Mbak!" seru Pak RT dari dalam kubik pada seorang warga wanita yang memegang nampan bunga.
"Ini air bersih kok dari sumur sendiri, tadi saya yang numpahin!" bisik wanita itu dengan bibir gemetar ketakutan.
Galang berdiri tepat di sisi kepala ayahnya. Tugasnya adalah memegangi kepala Pak Broto saat disiram. Namun, ketika Mbah Sastro mulai mengusap wajah jasad dengan kain halus, mata Pak Broto yang semula sudah dipejamkan oleh Danu saat di dalam kamar tadi, perlahan-lahan terbuka kembali.
Tidak lebar, hanya celah tipis. Namun melalui celah tipis itu, manik mata hitam yang mati itu seolah melirik tajam ke arah Galang.
Bukan hanya itu. Bibir Pak Broto yang membiru pucat perlahan tertarik ke belakang di sudut kirinya. Sebuah senyuman miring yang kaku dan ganjil terukir di wajah mayat itu.
Galang terperanjat hingga hampir melepaskan pegangan tangannya di kepala ayahnya. "M-Mbah ... matanya ...."
"Jangan dipikirkan, Mas Galang! Pegang yang kuat!" pangkas Mbah Sastro cepat, meski tangan tua Mbah Sastro sendiri kini tampak bergetar hebat saat menyiramkan air berikutnya.
Mbah Sastro dengan cepat mengusap wajah itu lagi, mencoba memejamkan mata Pak Broto dengan jempolnya, namun kelopak mata itu kembali mendelik sedikit begitu tangan Mbah Sastro terangkat.
Prosesi pemandian itu terasa berjalan bertahun-tahun bagi Galang. Setiap kali air disiramkan, tubuh Pak Broto mengeluarkan hawa panas yang mengepulkan asap tipis—sebuah kontradiksi mengerikan dari kulitnya yang terasa membeku.
Tanah di bawah bale-bale tempat air bekas mandinya jatuh mendadak menghitam dan menyerap cairan itu dengan cepat, seolah-olah tanah itu sendiri sedang kehausan mendalam.
"Sudah ... cukup. Sudah bersih," ucap Mbah Sastro akhirnya dengan suara tergesa-gesa. Ia bahkan tidak membasuh tubuh Pak Broto hingga putaran ketiga seperti tata cara lazimnya. Pria tua itu tampak ingin segera menyelesaikan prosesi ganjil ini sebelum hal yang lebih buruk terjadi di depan mata warga.
Ketika kain sarung penutup diganti untuk mengeringkan jasad, Danu mencoba melipat kedua tangan Pak Broto di atas dada dalam posisi bersedekap.
Sreeek ....
Tangan kanan Pak Broto justru kembali terhempas lurus ke samping, menolak diposisikan. Bayu mencoba memaksanya lagi, menekannya dengan kedua tangan. Namun otot siku jasad itu mengeras seperti batang kayu tua yang tak bisa dibengkokkan. Jika dipaksa lebih keras, tulang lengannya rasanya akan patah.
"Sudah, Mas Bayu ... biarkan posisinya begitu kalau memang tidak mau," bisik Mbah Sastro lirih. Dahinya dipenuhi keringat dingin. "Ambilkan kain kafan. Cepat."
Dari arah pintu dapur, Bu Retno berjalan keluar membawa gulungan kain kafan putih yang sudah dipotong-potong. Langkah kakinya begitu pelan, tanpa alas kaki. Wajahnya tetap datar, tak tersentuh oleh kehebohan dan bau busuk yang merebak di pelataran.
Saat melewati Galang, Bu Retno sempat berhenti sejenak. Tangannya yang dingin menyentuh bahu Galang, mencengkeramnya sedikit terlalu erat untuk ukuran seorang ibu yang sedang berduka.
"Ibu ... tadi mata Bapak ...," bisik Galang dengan suara tercekat di tenggorokan.
Bu Retno tidak menatap wajah Galang. Matanya tertuju lurus pada jasad suaminya yang terbaring kaku di atas bale-bale, dengan satu tangan terentang dan mulut yang menyeringai tipis.
"Bapakmu sudah menyerahkan apa yang harus diserahkan, Galang," bisik Bu Retno sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain di sekitar mereka. "Sekarang tinggal kita ... yang harus menanggung sisanya."
Gulungan kain kafan putih yang dibawakan Bu Retno kini terbentang di atas tikar pandan di dalam ruang tamu. Udara pagi yang kian meninggi sama sekali tidak membawa kehangatan ke dalam rumah.
Justru, aroma yang keluar dari serat-serat kain putih itu mendadak membebankan atmosfer ruangan, seolah-olah kain itu bukan baru dibeli dari toko perlengkapan jenazah di pasar, melainkan baru digali dari tempat penyimpanan yang teramat lembap dan lapuk.
Mbah Sastro merentangkan tiga lembar kain kafan secara berurutan, disusul tali-tali pengikat dari perca kain yang sama. Di sekeliling ruangan, beberapa pelayat berdiri merapat ke dinding.
Tidak ada yang berani bersuara keras. Semua orang menahan napas, terpaku oleh kombinasi bau yang bertabrakan di udara: wewangian kayu cendana yang ditabur warga, bercampur dengan bau kemenyan yang sangat pekat dan jelut tanah basah yang kian menguat.
"Mbah ... ini bau kemenyan dari mana?" bisik Pak RT yang berdiri di dekat pintu depan, dadanya kembang-kempis menahan mual. "Di rumah ini tidak ada yang menyalakan tungku perapian atau membakar dupa, kan?"
Mbah Sastro tidak menjawab. Jemarinya yang gemetar sibuk merapikan serbuk cendana dan irisan daun pandan di atas kain kafan. Namun, matanya terus melirik tajam ke arah jasad Pak Broto yang baru saja dibopong masuk dari pelataran belakang dan dibaringkan di atas bentangan kain.
Galang berdiri paling dekat dengan sisi kepala ayahnya. Hidungnya berkedut pelan. Bau kemenyan itu tidak bertiup dari luar rumah, tidak pula berasal dari sudut ruangan tempat Bu Retno terduduk kaku. Bau itu merembes langsung dari pori-pori kulit Pak Broto sendiri.
Setiap kali uap dingin menguar dari dada jasad yang membeku itu, bau asap kemenyan yang manis-mencekam bertambah pekat, melapisi aroma tanah basah yang menyengat.
"Mas Bayu, Mas Galang ... bantu saya membalutkan lapisan pertama," titah Mbah Sastro dengan suara pelan yang terdengar sangat tertekan.
Bayu memegang lipatan kain bagian kanan, sementara Galang memegang bagian kiri. Saat kain putih itu ditarik melingkupi tubuh Pak Broto, kain itu mendadak terasa begitu dingin dan berat—seperti kain kasa tebal yang disiram air es.
Begitu kain kafan menyentuh kulit dada Pak Broto, serat-serat kain putih yang mulus itu secara perlahan mulai menampakkan noda. Bukan noda darah, melainkan rembesan cairan keruh berwarna kecokelatan yang menyerupai air tanah liat yang pekat. Noda itu merembes meluas dari bagian tengah dada, membentuk pola melingkar yang kian melebar.
"Lho, ini kainnya kok basah?" Bayu tersentak, refleks menarik jemarinya mundur.
"Jangan dilepas, Mas Bayu!" tegur Mbah Sastro cepat, nada suaranya ketus dan panik. "Tarik terus! Tutup cepat!"
Galang mencoba mengabaikan rembesan air keruh itu dan membalutkan kain bagian kiri hingga menutupi lengan ayahnya. Namun, tatkala kain itu menutupi leher Pak Broto, bau kemenyan mendadak merebak begitu keras hingga beberapa tetangga wanita di ambang pintu terbatuk-batuk sambil menutupi hidung dan mulut mereka.
"Aneh ... baunya kok menyengat banget ya?" bisik seorang warga di pojokan. "Kaya bau di makam-makam tua kalau malam Kliwon."
"Hush! Jangan bicarakan yang enggak-enggak di depan jenazah!" bisik Pak RT menepis cepat, meski wajahnya sendiri sudah memucat.
Galang menatap kain yang menutupi wajah ayahnya. Sebelum Mbah Sastro mengikat simpul bagian atas kepala, kain putih tipis di atas wajah Pak Broto mendadak menegang.
Dari bentuk lekukan kain di area mulut, Galang bisa melihat jelas bahwa bibir ayahnya di bawah sana kembali tertarik lebar—membentuk senyuman ganjil yang kaku dan tidak alami. Bahkan, bagian kain di sekitar mata sedikit melekuk masuk, seolah-olah mata di balik kain itu sedang terbelalak menatap lurus ke arah serat kain kafan yang menghalanginya.
Klek.
Suara itu terdengar sangat tipis dari dalam dada Pak Broto. Sebuah getaran kecil merambat dari jasad tersebut ke lantai papan, membuat ujung jemari kaki Galang yang bertelanjang merasakan sensasi seperti ada sesuatu yang bergerak melingkar di bawah tanah rumah mereka.
"Ikat bagian kakinya dulu, Mas Galang," instruksi Mbah Sastro dengan tangan bergetar hebat. Pria tua itu meraih tali kafan pertama, lalu melilitkannya di area pergelangan kaki Pak Broto.
Saat simpul mati diikatkan pada pergelangan kaki, kain kafan di bagian itu mendadak mengerut kencang. Bau tanah basah yang tadinya samar kini menjelma menjadi bau yang sangat menusuk—seperti bau lumpur pembusukan dari dalam liang kubur tua yang tergenang air hujan bertahun-tahun.
"Ibu ...." Pertiwi, anak kedua yang berdiri di dekat pintu lorong, mendadak menangis lagi. Namun kali ini bukan tangisan duka biasa. Tangannya menunjuk ketakutan ke arah bawah bale-bale tempat kain kafan dibentangkan.
"Ibu ... itu apa di bawah?"
Semua mata seketika tertuju ke arah yang ditunjuk Pertiwi.
Dari celah kain kafan bagian bawah yang menjuntai menyentuh tikar pandan, tampak tetesan air keruh berwarna cokelat kehitaman menetes bertahap.
Tes ... tes ... tes ....
Cairan itu merembes merusak tikar pandan yang bersih, membentuk genangan kecil di atas lantai semen.
Yang mengerikan, genangan air itu tidak melebar secara acak, melainkan terserap cepat ke dalam semen lantai, seakan-akan ada celah ghaib di bawah rumah yang siap menampung setiap tetes cairan dari jasad Pak Broto.
"Ibu, ini kenapa?" Galang akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia berbalik memandang ibunya yang sejak tadi diam seperti patung batu di sudut ruangan.
Bu Retno mengangkat wajahnya pelan. Matanya yang sembap tidak menatap Galang, melainkan menatap lurus pada tiga simpul ikatan kain kafan yang baru saja selesai diikat oleh Mbah Sastro.
"Itu kainnya ... tidak menolak," suara Bu Retno terdengar sangat datar, hampir tanpa nada emosi. "Kainnya cuma merekam apa yang dibawanya dari luar."
"Bicara apa sih, Bu?!" Bayu memotong dengan nada tinggi yang dilandasi rasa takut yang amat sangat. "Bapak itu meninggal kena serangan jantung! Kenapa jadi aneh begini semua?! Kenapa kainnya juga bau kemenyan begini?!"
Bu Retno tidak menjawab pertanyaan Bayu. Ia hanya mengusap kain sampingnya dengan telapak tangan yang kurus kering, lalu berbisik sangat pelan pada dirinya sendiri, "Kemenyan itu bukan buat Bapak kalian ... kemenyan itu buat menyambut yang menjemputnya."
Mbah Sastro dengan tergesa-gesa menyiramkan sedikit minyak wangi non-alkohol ke atas kain kafan yang sudah terikat sempurna. Namun bukannya tersamarkan, wewangian bunga itu justru terkikis habis, kalah total oleh dominasi bau tanah liat basah dan asap kemenyan yang terus menguar dari tubuh kaku itu.
Kini, jasad Pak Broto sudah terbungkus rapi seperti pocong di atas tikar. Bentuk tubuhnya di dalam balutan kain tampak begitu kaku dan aneh—bahu kanannya agak terangkat ke atas, sementara dadanya membusung tidak wajar, menciptakan siluet yang mengerikan di bawah pendar lampu ruang tamu yang remang-remang.
"Keranda! Bawa masuk kerandanya sekarang!" seru Mbah Sastro kepada para pemuda di luar rumah. Suaranya penuh kepanikan yang coba ditutupi. Ia tampak sudah tidak tahan ingin segera memindahkan jasad ini keluar dari dalam rumah.
Keranda kurung besi berlapis kain hijau berlafaz ayat suci dibawa masuk oleh empat orang warga. Saat jasad Pak Broto dibopong untuk dimasukkan ke dalam keranda, kejadian berat yang tak masuk akal itu terulang lagi.
Keranda besi itu mendecit sangat keras tatkala tubuh kaku berselimut kain kafan itu dibaringkan di dalamnya. Salah satu batang besi penyangga keranda bahkan sedikit melengkung ke bawah, seolah-olah jasad di dalamnya terbuat dari besi padat.
"Astagfirullahaladzim ...," bisik salah satu pemuda pembawa keranda sambil menyapu dahi dengan lengan bajunya. Wajah pemuda itu mendadak pucat pasi. "Kenapa berat banget ya Allah ...."
Galang memegangi tepi keranda besi itu saat kain hijau ditutupkan ke atasnya. Bau tanah basah dan kemenyan itu kini terperangkap di dalam kurungan keranda, namun baunya tetap merembes keluar melalui serat-serat kain hijau, menusuk hidung siapa saja yang berdiri di sekitarnya.
Di luar rumah, matahari pagi telah sepenuhnya terbit di atas pepohonan jati, memancarkan sinar kuning cerah.
Namun di dalam ruang tamu rumah keluarga Pak Broto, kegelapan dan aroma masa lalu yang kelam terasa begitu pekat menyelimuti udara—menandakan bahwa perjalanan menuju liang lahat baru saja dimulai, dan teror sesungguhnya belum sedikit pun berkurang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!