Langkah Lukas terasa berat seiring ia melintasi lorong marmer yang mengkilap di kediaman keluarga Chandra. Udara di dalam rumah besar itu selalu terasa dingin—bukan hanya karena pendingin ruangan yang disetel sangat rendah, melainkan karena keheningan yang kaku, seolah setiap sudutnya menyimpan pandangan yang menghakimi. Di tangannya, ia masih memegang segelas air putih yang baru dituangnya lima menit lalu; ibu angkatnya, Nyonya Chandra, memanggilnya dengan nada yang belum pernah ia dengar sebelumnya: dingin, tajam, dan tak menyisakan ruang untuk ragu.
“Masuk. Orang tuamu ingin bicara.”
Kata-kata itu diucapkan tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap terpaku pada layar tablet di pangkuannya, seolah keberadaan Lukas hanyalah debu yang tak layak diperhatikan.
Lukas menarik napas panjang sebelum mendorong pintu ruang tamu utama yang berukuran besar itu terbuka. Ruangan itu biasanya hanya digunakan untuk menyambut tamu penting—rekan bisnis, pejabat, atau kerabat jauh yang datang membawa hadiah mewah. Hampir sepanjang hidupnya di sini, Lukas hanya pernah duduk di sudutnya sekali atau dua kali, dan selalu dengan perasaan segan seolah ia tak berhak menapakkan kakinya di atas karpet tebal berwarna krem itu.
Kini, Tuan Chandra sudah duduk di kursi utama, punggungnya tegak kaku, wajahnya tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Nyonya Chandra telah duduk dengan tangan saling bertaut di pangkuan, bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus yang keras. Di hadapan mereka, di atas meja kayu jati yang mengkilap, hanya ada satu tas ransel usang tas yang dulu dibawanya dari panti asuhan saat diadopsi sepuluh tahun lalu. Tas itu sudah kusam, jahitan di bagian bahu kanannya sudah mulai lepas, dan logo di bagian depannya sudah pudar tak terbaca.
“Duduk,” ucap Tuan Chandra singkat, menunjuk kursi tunggal di hadapan mereka.
Lukas duduk perlahan, jantungnya berdegup kencang di dalam dada. Ia berusaha menenangkan diri, berpikir mungkin mereka hanya ingin menegurnya karena nilai ujiannya yang turun sedikit bulan lalu, atau karena ia lupa menyiram tanaman di halaman belakang seperti yang disuruh. Namun saat matanya bertemu dengan tatapan tajam pria yang selama ini ia panggil “Ayah” itu, ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih buruk sedang terjadi.
“Kami sudah memikirkannya lama,” buka Tuan Chandra, suaranya datar tanpa nada perasaan sedikit pun. “Kamu tidak pantas tinggal di sini.”
Lukas tertegun sejenak, tak yakin apakah telinganya mendengar dengan benar. “Apa… maksud Ayah?”
“Dengar baik-baik,” potong Nyonya Chandra, suaranya melengking sedikit, seolah menahan rasa jijik. “Keluarga Chandra tidak pernah memelihara orang yang tidak berguna. Selama sepuluh tahun ini kami sudah memberimu tempat tinggal, makanan, dan pakaian—lebih dari yang pantas kamu dapatkan. Tapi apa balasanmu? Kamu hanya membebani kami. Kamu tidak punya bakat, tidak punya koneksi, dan yang paling penting… kamu tidak membawa keberuntungan sama sekali.”
Kata-kata itu menghantam Lukas seperti pukulan berat. Ia ingin membantah, ingin bertanya sejak kapan ia dianggap membebani—ia selalu membantu pekerjaan rumah tanpa disuruh, belajar hingga sering mendapat nilai tertinggi di kelas, tak pernah meminta barang mewah seperti yang diminta anak-anak lain. Namun sebelum sempat kata keluar dari mulutnya, Tuan Chandra kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih keras dan tak terbantahkan.
“Jangan berpura-pura tidak tahu. Sejak kamu datang ke rumah ini, bisnis kami mengalami banyak kendala. Kerugian, persaingan yang makin ketat, bahkan kesepakatan yang seharusnya pasti batal begitu saja. Semua orang bilang kamu membawa nasib buruk. Dan kami tidak akan membiarkanmu merusak nama baik serta kekayaan keluarga Chandra lebih jauh lagi.”
“Itu tidak benar…” suara Lukas keluar pelan, hampir bergetar. “Saya tidak pernah bermaksud merusak apa pun. Saya selalu berusaha menjadi anak yang baik…”
“Cukup!” bentak Nyonya Chandra, matanya menyala marah seolah kata-kata itu adalah penghinaan terbesar. “Kamu bukan anak kami! Kami hanya mengasihanimu dulu, tapi ternyata kami salah besar. Sekarang waktunya kamu pergi. Dan jangan pernah kembali lagi ke sini, atau berani-berani menyebut dirimu bagian dari keluarga Chandra di depan siapa pun.”
Udara di ruangan itu terasa semakin menyesakkan. Lukas menatap wajah kedua orang yang selama ini ia anggap orang tuanya, berharap melihat sedikit pun keraguan, sedikit pun rasa bersalah di sana. Namun yang ia temukan hanyalah kedinginan yang tak tertembus, seolah mereka sedang berbicara dengan orang asing yang tak berharga sama sekali.
“Kenapa tiba-tiba begini?” tanyanya, matanya mulai berkaca-kaca meski ia berusaha menahannya. “Apakah ada hal lain yang Ayah dan Ibu sembunyikan? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Tuan Chandra berdiri perlahan, lalu mendorong tas ransel usang itu ke pinggir meja hingga hampir jatuh ke lantai.
“Tidak ada yang perlu kamu ketahui. Semua yang perlu kamu tahu sudah kukatakan. Ini semua barangmu. Kami tidak menyisakan apa pun—karena kamu memang tidak berhak atas apa pun yang ada di rumah ini.” Ia berhenti sejenak, menatap Lukas dengan tatapan yang tajam namun sekilas tampak gelisah, seolah ada sesuatu yang ia hindari untuk dilihat lebih dalam. “Pergilah sekarang. Pintu depan sudah terbuka. Jangan buat kami memanggil satpam untuk mengusirmu dengan kasar.”
Lukas menatap tas itu, lalu kembali menatap mereka. Ada begitu banyak pertanyaan yang menumpuk di kepalanya—mengapa pengusiran ini begitu tiba-tiba? Mengapa mereka berbicara seolah membuang sampah? Mengapa tatapan Tuan Chandra tadi terlihat seperti orang yang sedang berusaha menyembunyikan ketakutan? Namun ia sadar, tidak ada gunanya bertanya lebih lama lagi. Mereka sudah mengambil keputusan, dan tak ada satu pun kata yang bisa mengubahnya.
Dengan tangan gemetar, Lukas berjalan mendekati meja, mengambil tas ransel itu. Tali tas itu terasa kasar di telapak tangannya, seolah mengingatkannya pada satu-satunya hal yang masih menjadi miliknya di dunia ini. Ia tidak tahu apa saja yang ada di dalamnya—mungkin hanya beberapa pakaian lama, buku catatan sekolahnya, dan foto kecil yang ia ambil diam-diam dari panti asuhan dulu.
Ia berjalan menuju pintu keluar, langkahnya terasa berat seolah ada beban berat di pundaknya. Saat ia melintasi ambang pintu ruang tamu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih untuk sepuluh tahun ini,” ucapnya pelan, suaranya tak lagi bergetar, namun penuh kepahitan yang tak sempat ia tumpahkan. “Semoga Ayah dan Ibu tidak menyesali keputusan ini suatu hari nanti.”
Nyonya Chandra hanya mendengus dan memalingkan wajah. Tuan Chandra diam saja, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya—sebuah gerakan kecil yang tak disadari Lukas, yang mengungkapkan bahwa di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang sedang ia perjuangkan untuk ditutupi.
Lukas keluar dari ruangan itu, melangkah menuju pintu depan yang besar dan megah itu. Satpam yang biasanya menyapanya dengan senyum kini hanya menundukkan pandangan, tak berani menatapnya—seolah mereka juga sudah diberi perintah untuk tak menghiraukannya lagi.
Saat pintu depan itu terbuka lebar, angin sore yang kencang menerpa wajahnya. Langit di atas kota Palu tampak kelabu, awan gelap berkumpul rapat seolah akan segera turun hujan deras. Di belakangnya, pintu besar itu ditutup perlahan, lalu terdengar bunyi klik yang berat—kunci pintu diputar rapat.
Bukan hanya pintu rumah yang tertutup. Pintu satu-satunya tempat yang ia sebut rumah selama ini, kini tertutup rapat di belakangnya. Tanpa jalan kembali.
Lukas berdiri di depan pagar besi tinggi yang mengelilingi kediaman keluarga Chandra, menatap bangunan besar itu sekali lagi. Dulu ia sering membayangkan suatu hari nanti ia akan berjalan keluar dengan kebanggaan, membawa kesuksesan untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang berguna. Namun kini ia keluar sebagai orang yang dibuang, dianggap tidak berharga, dan tak tahu harus melangkah ke mana.
Ia meraba saku tasnya—tidak ada sepeser pun uang di sana. Tidak ada kartu identitas baru, tidak ada alamat kerabat yang bisa ia tuju. Semua jejak yang menghubungkannya dengan masa lalu seolah sengaja dihapus.
Hujan mulai turun perlahan, tetesnya dingin menyentuh kulit. Lukas memeluk tas ranselnya erat-erat, lalu berjalan perlahan menjauhi pagar itu. Langkahnya tak memiliki tujuan, tak memiliki arah—hanya berjalan terus, menjauhi tempat yang telah memberinya tempat berlindung sekaligus mengucilkannya dari dunia luar.
Di kejauhan, dari balik jendela lantai dua, sepasang mata mengawasi sosok yang berjalan menjauh itu. Tuan Chandra berdiri diam di balik tirai, napasnya berat. Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan adalah salah besar. Ia tahu kata-kata yang diucapkannya tadi hanyalah alasan yang dibuat-buat—alasan untuk menutupi kenyataan yang jauh lebih mengerikan.
Namun ia tak punya pilihan. Jika Lukas tetap tinggal di sini, bahaya yang mengancamnya akan jauh lebih besar daripada sekadar dibuang ke jalanan.
“Maafkan aku, Lukas,” bisiknya pelan, hanya bisa didengar oleh angin yang masuk melalui celah jendela. “Bertahanlah. Dan temukanlah kebenaran yang kami sembunyikan darimu.”
Sementara itu, Lukas terus berjalan di bawah guyuran hujan yang makin deras. Ia belum tahu bahwa pengusiran ini bukanlah akhir dari hidupnya—melainkan awal dari perjalanan panjang untuk menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya, dan mengapa dunia ini berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan identitas aslinya.
Pintu yang baru saja tertutup rapat itu, kelak akan terbuka kembali—bukan untuk membiarkannya masuk sebagai anak yang dibuang, melainkan sebagai pemilik hak yang selama ini dirampas darinya.
Hujan turun semakin deras seiring langkah Lukas menjauhi pagar besi kediaman keluarga Chandra. Tetesan air menghantam aspal dengan bunyi riuh, membasahi pakaiannya hingga ke kulit dalam hitungan menit, namun ia tak berhenti. Kakinya bergerak otomatis, seolah tahu harus menjauh sejauh mungkin dari tempat yang baru saja mengusirnya tanpa ampun, meski pikirannya masih kosong tak berarah. Di tangannya, tas ransel usang itu kini terasa berat—bukan karena isinya, melainkan karena itulah satu-satunya benda yang tersisa sebagai bukti bahwa ia pernah memiliki tempat untuk pulang.
Ia berjalan melewati gerbang perumahan elit itu, di mana lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kemerahan di permukaan air hujan. Beberapa mobil mewah melintas pelan, kaca jendelanya tertutup rapat seolah tak ingin melihat dunia luar. Lukas menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang basah dan matanya yang berkaca-kaca. Ia tak ingin dikenali—meski siapa pula yang akan mengenali anak yang baru saja dinyatakan tak berharga oleh keluarga paling terpandang di kota ini?
Setelah berjalan hampir dua jam, kaki yang lelah akhirnya membawanya keluar dari kawasan perumahan itu. Di hadapannya kini terbentang jalan raya utama kota Palu, lebih ramai dan bising. Lampu kendaraan menyilaukan matanya, suara klakson bersahut-sahutan, dan orang-orang berlarian mencari tempat berteduh di bawah atap ruko atau halte bus. Lukas berdiri di pinggir trotoar, memandang ke kiri dan ke kanan tanpa tahu harus melangkah ke mana.
Ia mencoba meraba setiap saku celananya, berharap mungkin ada koin yang tertinggal—meski tahu mustahil. Keluarga Chandra tidak pernah memberinya uang saku lebih dari yang dibutuhkan untuk keperluan sekolah, dan hari ini ia bahkan tidak sempat pergi ke sekolah. Saku kosong. Saku lain pun kosong. Hanya ada selembar kertas tugas sekolah yang terlipat rapi, tulisannya sudah luntur terkena air.
Lukas menelan ludah yang terasa pahit. Tidak ada kerabat yang bisa ia tuju. Saat diadopsi sepuluh tahun lalu, petugas panti asuhan hanya mengatakan bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia dalam kecelakaan, dan tidak ada sanak saudara lain yang bersedia merawatnya. Tak ada nama alamat, tak ada nomor telepon, tak ada satu pun petunjuk tentang siapa orang-orang yang melahirkannya. Selama ini ia berharap keluarga Chandra akan menjadi rumah barunya—namun hari ini harapan itu hancur bersamaan dengan pintu yang dikunci rapat di belakangnya.
Perutnya mulai terasa perih lapar. Sejak pagi ia hanya minum segelas teh hangat, dan kini tenaganya semakin terkuras oleh hujan serta langkah panjang yang tak berujung. Ia melihat warung makan kecil di seberang jalan, aroma nasi goreng dan sate tercium hingga ke tempatnya berdiri, namun ia hanya bisa menelan ludah. Tanpa uang sepeser pun, ia tak berani mendekat, apalagi meminta makanan.
Langit semakin gelap. Hujan tak kunjung reda, malah semakin lebat hingga jarak pandang menjadi terbatas. Lukas memutuskan untuk berjalan menyusuri pinggiran sungai Palu, berharap menemukan tempat yang lebih teduh. Di sepanjang jalan itu, ia melihat orang-orang yang bergegas pulang ke rumah masing-masing—seorang ayah yang menggendong anaknya di pundak sambil berlari, sepasang suami istri yang berbagi satu payung, kakek tua yang berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Setiap pemandangan itu bagaikan pisau yang mengiris hatinya pelan-pelan. Semua orang punya tempat untuk berlindung dari hujan, kecuali dia.
Setelah berjalan sekitar satu jam lagi, akhirnya ia melihat tiang-tiang beton besar yang menjulang ke langit—jembatan layang yang melintasi sungai. Di bawahnya, terdapat ruang yang cukup luas dan kering, dilindungi oleh lantai jembatan di atasnya dari guyuran air. Lukas mempercepat langkahnya, melangkahi genangan air dan bebatuan kecil, hingga akhirnya ia berdiri di bawah bayang-bayang jembatan itu.
Udara di sini terasa lebih dingin, berbau tanah basah dan lumut, namun setidaknya ia tidak lagi terkena hujan. Ia melihat ada beberapa orang lain yang juga berteduh di sana—seorang pemulung yang sedang merapikan karungnya, dua orang anak jalanan yang sedang berbagi sepotong roti, dan seorang pria paruh baya yang tertidur menyandar pada tembok beton. Mereka semua menoleh sejenak saat melihat kedatangan Lukas, namun tidak ada yang menyapa atau mengusir. Hanya tatapan dingin orang-orang yang sama-sama tak memiliki tempat pulang.
Lukas memilih sudut yang agak jauh dari mereka, duduk melipat kedua kakinya di atas tumpukan kardus bekas yang sedikit kering. Ia meletakkan tas ranselnya di pangkuan, lalu memeluknya erat seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Tubuhnya menggigil kedinginan, pakaiannya masih basah kuyup menempel di kulit, dan kakinya terasa nyeri hingga ke tulang.
Perlahan ia membuka tas ransel itu, ingin melihat apa saja yang dikemas orang tua angkatnya untuknya—atau mungkin sengaja tidak dikemas. Di dalamnya hanya ada tiga helai baju kaos lusuh, dua pasang celana panjang, buku tulis pelajaran sekolah, satu buku cerita yang sangat ia sukai, dan sebuah amplop cokelat tua yang terlipat di bagian paling bawah. Lukas mengernyitkan dahi—ia tidak ingat pernah menaruh amplop itu di sana.
Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Kertasnya terasa kasar dan sudah agak lembap di ujungnya. Saat ia membukanya, di dalamnya hanya ada selembar kertas buram bertuliskan tangan yang samar, dan sebuah foto kecil yang warnanya sudah memudar. Foto itu menampilkan sepasang suami istri muda yang tersenyum bahagia, di tengah-tengah mereka berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun dengan mata yang bersinar cerah—itu adalah dirinya.
Lukas menahan napas. Di belakang foto itu tertulis tulisan tangan yang indah namun sedikit bergetar: “Untuk Lukas kami yang berani. Jangan pernah takut mencari kebenaran, walau jalanmu sepi.”
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang dingin. Ia belum pernah melihat foto ini sebelumnya, belum pernah melihat tulisan ini. Mengapa benda ini ada di dalam tasnya? Apakah orang tua angkatnya sengaja memasukkannya? Atau ada orang lain yang diam-diam menaruhnya sebelum ia diusir? Pertanyaan itu membuat dadanya semakin sesak. Jika mereka benar-benar menganggapnya tidak berguna dan membawa nasib buruk, mengapa masih menyisakan jejak masa kecilnya yang hilang ini?
Ia memandang ke arah sungai yang airnya berwarna keruh dan bergerak deras, membawa ranting serta sampah yang tersapu arus. Seperti dirinya, pikirnya—terbawa ke mana saja tanpa kendali, tak tahu di mana akan berakhir. Hujan di atas sana masih terdengar bunyi riuh menghantam lantai jembatan, menciptakan irama yang menenangkan sekaligus menyedihkan.
Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala terang, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air sungai. Terlihat gedung-gedung bertingkat, hotel mewah, dan kantor perusahaan yang jendelanya masih menyala—tempat di mana orang-orang bekerja, berjuang, dan membangun kehidupan. Dulu ia sering berharap suatu hari nanti ia bisa masuk ke dalam gedung-gedung itu, menjadi orang yang berguna dan membanggakan. Namun kini ia hanya bisa melihatnya dari bawah sini, seolah dunia gemerlap itu terpisah jauh oleh tembok yang tak bisa ia tembus.
Beberapa saat kemudian, anak jalanan yang tadi berbagi roti mendekat ke arahnya. Salah satu dari mereka, anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun dengan rambut diikat asal-asalan, menyodorkan sepotong roti yang masih tersisa.
“Kamu belum makan, kan?” tanyanya pelan, suaranya serak namun ramah. “Ini masih ada sedikit. Ambil saja.”
Lukas menatap roti itu, lalu menatap wajah anak itu. Ia teringat bagaimana keluarga Chandra selalu menekankan agar ia tidak bergaul dengan orang jalanan, menyebut mereka kotor dan tidak berpendidikan. Namun saat ini, di saat ia paling terpuruk, justru anak kecil inilah yang menawarkan kebaikan kepadanya.
“Terima kasih,” ucap Lukas pelan, mengambil roti itu dengan hati-hati. Ia membaginya menjadi dua bagian, lalu menyodorkan kembali separuhnya. “Kita makan berdua saja.”
Anak itu tersenyum lebar, lalu duduk di sebelahnya. Namanya Sari, ia bercerita bahwa ia sudah tinggal di bawah jembatan ini selama dua tahun sejak ibunya sakit keras dan ayahnya pergi tanpa kabar.
“Kamu tidak perlu takut,” kata Sari sambil mengunyah roti. “Banyak orang yang lewat sini dan bilang mereka akan berubah nasib. Kadang mereka kembali dengan mobil bagus, kadang tidak. Tapi yang penting, jangan pernah berhenti berjalan. Kalau kamu berhenti, berarti kamu sudah kalah.”
Kata-kata sederhana itu menembus hati Lukas. Ia menyelesaikan makanannya perlahan, merasakan sedikit tenaga yang kembali mengalir ke tubuhnya. Ia menatap langit yang mulai menipis awan gelapnya, dan pikiran tentang jalan tanpa tujuan itu perlahan berubah. Mungkin saat ini ia belum tahu ke mana harus pergi, tapi ia tahu satu hal: ia tidak boleh menyerah. Ia harus mencari tahu siapa orang tua aslinya, mengapa ia disembunyikan, dan mengapa keluarga Chandra begitu takut jika ia mengetahui kebenaran itu.
Malam semakin larut. Sari dan temannya sudah tertidur di sudut lain, sementara pemulung dan pria paruh baya itu juga sudah terlelap. Lukas tetap duduk terjaga, memeluk tas ranselnya erat-erat, dengan foto lama itu diselipkan di saku dada dekat jantungnya. Di kejauhan, lampu kendaraan sesekali melintas, memancarkan cahaya yang sebentar menerangi tempatnya berteduh.
Ia belum tahu bahwa beberapa jam lagi, sebuah mobil hitam berwarna gelap akan melaju perlahan menuju jembatan ini, dengan pengemudi yang memegang erat peta kota dan sebuah berkas foto yang menampilkan wajahnya. Ia belum tahu bahwa ia tidak ditinggalkan sepenuhnya—bahwa selama ini ada seseorang yang diam-diam mencari jejaknya, menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka.
Saat bintang mulai muncul di celah awan, Lukas menutup matanya sejenak, membayangkan wajah kedua orang tua di foto itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri: walau jalan ini panjang dan sepi, walau ia harus berjalan sendirian melintasi kota yang asing ini, ia akan terus melangkah. Suatu hari nanti, ia akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang menyelimuti hidupnya—dan ia akan kembali bukan sebagai anak yang dibuang, melainkan sebagai orang yang berhak mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya.
Di bawah jembatan yang dingin itu, di tengah kota yang tak pernah tidur, benih harapan mulai tumbuh perlahan di hati Lukas. Ia tidak tahu ke mana kaki ini akan membawanya besok, namun ia tahu satu hal dengan pasti: jalan tanpa tujuan ini, suatu saat akan berujung pada tempat di mana ia seharusnya berada.
Malam semakin larut, dan udara di bawah jembatan semakin dingin menusuk tulang. Hujan sudah berhenti, menyisakan kelembapan yang menempel di setiap permukaan beton dan tanah. Lukas menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga yang kasar, memeluk lututnya erat-erat untuk menahan getaran tubuhnya. Sari dan teman-temannya sudah tertidur pulas di sudut lain, napas mereka teratur di tengah keheningan malam. Namun Lukas tak bisa memejamkan mata—setiap kali ia mencoba, bayangan pintu yang dikunci rapat dan kata-kata tajam orang tua angkatnya kembali menghantui pikirannya.
Perutnya kembali terasa kosong, dan rasa lelah yang luar biasa mulai menyelimuti kesadarannya. Ia menatap ke arah sungai yang airnya berkilau samar diterangi cahaya lampu kota di kejauhan. Rasanya seolah seluruh dunia telah melupakannya, seolah ia hanyalah satu titik kecil yang tak berarti di tengah ribuan orang yang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Untuk pertama kalinya, keraguan yang mendalam merayap masuk ke dalam hatinya: apakah benar ia tidak berguna seperti yang dikatakan keluarga Chandra? Apakah memang tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang pantas ia tempati?
Ia merogoh saku dadanya, menyentuh foto lama yang ia temukan di dalam tas. Ujung jarinya mengusap wajah ayah dan ibunya yang tersenyum di sana. Namun kali ini, harapan yang biasanya muncul bersama bayangan mereka terasa semakin tipis. Bagaimana ia bisa mencari kebenaran jika ia bahkan tidak punya uang untuk makan, tidak punya tempat untuk berteduh, tidak punya satu pun orang yang bisa ia percaya?
“Mungkin… memang begitulah takdirku,” bisiknya pelan pada angin malam. “Mungkin aku memang hanya pantas berjalan sendirian tanpa tujuan.”
Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini ia tak berusaha menahannya lagi. Ia membiarkan butiran bening itu jatuh membasahi pipi, membawa serta keputusasaan yang selama ini ia tahan. Rasanya melepaskan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Tepat saat itu, terdengar suara deru mesin halus namun tegas yang memecah keheningan. Suara itu semakin lama semakin dekat, berbeda dengan suara truk atau bus yang biasanya lewat di jalan raya di atas jembatan—suaranya jauh lebih halus, seolah kendaraan itu dirancang untuk bergerak tanpa mengundang perhatian.
Lukas mendongak perlahan. Dari arah jalan menuju pinggir sungai, sepasang lampu sorot putih bergerak perlahan, membelah kegelapan hingga akhirnya berhenti tepat di seberang jalan tanah tempat ia berteduh. Sebuah mobil sedan berwarna hitam pekat, bodi mobilnya mengkilap bersih tanpa satu pun noda debu, tampak kontras dengan lingkungan kumuh di bawah jembatan itu. Logo di bagian depan grilnya adalah merek yang sering ia lihat di majalah bisnis—mobil yang harganya setara dengan harga satu rumah sederhana.
Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria berjas hitam rapi keluar lebih dulu, berjalan ke sisi kanan belakang mobil lalu membukakan pintu dengan sikap hormat. Pintu itu terbuka lebar, dan sesosok wanita melangkah turun.
Lukas tertegun. Ia belum pernah melihat wanita seindah sekaligus seberwibawa ini di dekatnya. Ia mengenakan setelan jas berwarna krem yang dipadukan dengan rok selutut, kainnya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya tanpa berlebihan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menampakkan garis rahang yang tegas dan mata yang tajam namun penuh perhitungan. Setiap langkahnya mantap, seolah ia terbiasa memimpin ruangan di mana pun ia berada. Meskipun ia mengenakan sepatu hak tinggi yang halus, ia sama sekali tidak terlihat canggung berjalan di atas tanah yang masih becek dan berbatu.
Wanita itu berhenti beberapa langkah di depan Lukas. Ia menatapnya lekat-lekat, seolah sedang membandingkan wajah Lukas dengan sebuah gambaran yang tersimpan di ingatannya. Tidak ada jejak rasa jijik atau kasihan di wajahnya—hanya ketertarikan yang mendalam, seolah ia telah menunggu momen ini sejak lama.
“Lukas Wijaya,” ucapnya.
Suaranya lembut namun berwibawa, terdengar jelas di tengah keheningan malam. Dan yang paling mengejutkan: ia menyebutkan namanya dengan tepat, bahkan nama belakang yang tak pernah ia gunakan selama sepuluh tahun terakhir.
Jantung Lukas berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap wanita itu tak percaya.
“Anda… siapa?” tanyanya, suaranya terdengar parau dan goyah. “Bagaimana Anda tahu nama saya?”
Wanita itu melangkah maju satu langkah lagi, matanya tak lepas dari wajah Lukas. Di balik tatapan tajam itu, terselip sedikit rasa lega yang cepat sekali ia sembunyikan.
“Namaku Kirana,” jawabnya singkat namun tegas. “Kirana Anindya, Direktur Utama Grup Kirana. Dan aku sudah lama mencarimu.”
Nama itu terngiang di telinga Lukas. Grup Kirana adalah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang pengembangan properti dan perdagangan komoditas, salah satu yang paling berpengaruh di Sulawesi Tengah—bahkan keluarga Chandra pun pernah berusaha bekerja sama dengan mereka namun selalu ditolak. Bagaimana mungkin CEO sebesar itu tahu siapa dirinya, anak yang dibuang dan tak dikenal ini?
“Mencari saya?” ulang Lukas pelan, seolah tak percaya pada apa yang didengarnya. “Kenapa? Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya orang yang baru saja diusir dari rumahnya, tidak punya uang, tidak punya tempat tujuan… Apa yang bisa Anda cari dari saya?”
Kirana tersenyum tipis—bukan senyum meremehkan, melainkan senyum yang memahami. Ia menunjuk ke arah tumpukan kardus tempat Lukas duduk, memberi isyarat apakah ia boleh duduk di sana juga. Lukas mengangguk pelan, masih belum bisa menguasai rasa kagetnya.
Kirana duduk dengan tenang, meskipun setelan mahalnya kini bersentuhan dengan kardus bekas yang kotor. Ia tidak peduli sama sekali.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang,” ucapnya pelan, menatap lurus ke mata Lukas. “Aku tahu kamu merasa ditinggalkan, merasa tidak berharga, dan bingung harus melangkah ke mana. Tapi percayalah, Lukas—kamu bukan orang yang tidak berharga. Justru kamu adalah satu-satunya kunci untuk membuka kebenaran yang selama ini tertutup rapat.”
Ia mengeluarkan sebuah berkas dari tas kulit kecil yang ia bawa, lalu menyodorkannya kepada Lukas. Dengan tangan gemetar, Lukas menerimanya. Di dalamnya terdapat berkas data lengkap tentang dirinya: catatan kelahiran, riwayat masuk ke panti asuhan, hingga dokumen adopsi oleh keluarga Chandra yang tertandatangani resmi. Namun yang paling membuatnya terkejut adalah dokumen tertambahan—catatan tentang keluarga Wijaya, keluarga besar yang namanya dicoret dari berkas kelahirannya, serta laporan mengenai kepemilikan aset yang sempat tercatat atas nama ayahnya.
“Keluarga Chandra tidak mengusirmu karena kamu miskin atau membawa nasib buruk,” lanjut Kirana dengan nada yang serius. “Mereka mengusirmu karena ada orang lain yang takut jika kamu tumbuh dewasa dan mulai bertanya tentang hakmu. Selama ini mereka menyembunyikan identitas aslimu dengan sengaja—dan aku butuh bantuanmu untuk membongkar semuanya.”
Lukas menatap berkas itu berkali-kali, matanya tak berhenti bergerak dari satu baris ke baris lain. Semua pertanyaan yang selama ini mengganggunya perlahan mulai menemukan jawaban. Alasan di balik sikap dingin orang tua angkatnya, alasan mengapa mereka melarangnya bergaul dengan orang luar, alasan mengapa mereka seolah takut ia tahu siapa dirinya sebenarnya—semuanya tersambung menjadi satu benang merah yang mengerikan.
Ia kembali menatap Kirana. Wanita ini tampak begitu percaya diri, seolah ia sudah memegang sebagian besar teka-teki tersebut. Namun di balik ketegasannya, Lukas bisa melihat ada beban berat yang juga sedang ia pikul.
“Mengapa Anda mau membantu saya?” tanyanya hati-hati. “Apa yang Anda dapatkan jika kebenaran itu terungkap?”
Kirana terdiam sejenak, menatap ke arah air sungai yang bergerak perlahan.
“Karena kebenaran itu juga menyangkut masa lalu keluargaku,” jawabnya akhirnya pelan namun tegas. “Ayahku dan ayahmu adalah sahabat karib. Keduanya tewas dalam kecelakaan yang sama—kecelakaan yang sama sekali bukan kecelakaan biasa. Selama bertahun-tahun aku berusaha mencari bukti, dan semua jejak itu mengarah padamu. Kamu adalah satu-satunya orang yang tersisa yang bisa menghubungkan semua potongan teka-teki ini.”
Angin malam berhembus sedikit lebih kencang, mengibaskan ujung rambut Kirana. Di kejauhan, burung hantu memanggil dengan suaranya yang khas. Lukas merasakan perubahan besar dalam dirinya—rasa putus asa yang tadi begitu kuat perlahan tergantikan oleh rasa penasaran yang membara, sekaligus rasa tanggung jawab yang tiba-tiba hadir.
Ia menatap wajah wanita di sampingnya. Ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayainya sepenuhnya, namun ia tahu satu hal: ini adalah satu-satunya jalan yang terbuka baginya. Jika ia kembali menyerah pada keputusasaan, maka kebenaran itu akan selamanya terkubur, dan pengorbanan kedua orang tuanya akan sia-sia.
Lukas menutup berkas itu perlahan, lalu menatap mata Kirana dengan tatapan yang kini jauh lebih tegas.
“Baiklah,” ucapnya. “Saya akan ikut Anda. Saya ingin tahu siapa saya sebenarnya, dan siapa yang berani merampas hak saya serta nyawa orang tua saya.”
Sudut bibir Kirana terangkat sedikit, kali ini senyumnya tampak lebih tulus—senyum lega karena akhirnya ia menemukan orang yang selama ini dicarinya. Ia berdiri perlahan, lalu mengulurkan tangannya kepada Lukas.
“Terima kasih, Lukas. Kamu tidak akan menyesalinya. Mulai hari ini, kamu tidak lagi berjalan sendirian.”
Lukas meraih tangan itu. Tangannya hangat dan kuat, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ia berdiri perlahan, memungut tas ransel usang miliknya—satu-satunya benda yang tersisa dari masa lalunya yang kelam—lalu berjalan bersama Kirana menuju mobil hitam yang menunggu.
Saat pintu mobil ditutup rapat di belakangnya, Lukas menoleh ke belakang sekali lagi ke arah tempat berteduh di bawah jembatan itu. Tempat yang sempat menjadi saksi keputusasaannya kini menjadi saksi awal dari perjalanan barunya. Ia tidak tahu ke mana mobil ini akan membawanya, tidak tahu apa bahaya yang menanti di depan, namun ia sudah tidak lagi merasa takut.
Karena kini ia tahu: ia bukanlah orang yang dibuang begitu saja. Ia adalah orang yang dicari, yang ditunggu, dan yang memegang kunci kebenaran yang besar. Dan di sampingnya, ada sosok yang tak terduga—seorang wanita yang bukan sekadar CEO sukses, melainkan satu-satunya orang yang siap berjuang bersamanya menembus kegelapan masa lalu.
Mobil hitam itu melaju perlahan menjauhi pinggir sungai, meninggalkan jembatan tua yang kini hanya menjadi bagian dari kenangan. Di balik kaca jendela yang gelap, kota Palu bergerak menjauh, berganti dengan pemandangan jalan raya yang lebih terang. Dan di dalam mobil itu, dua orang yang nasibnya terjalin sejak lama kini mulai melangkah bersama menuju takdir yang telah menanti mereka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!