Bab 1: Sampah
Panas bulan Juli menggantung rendah di atas Kota Cakrawala.
Di depan gerbang RSUD Harapan Bangsa, Rangga Aditya Wijaya berdiri dengan satu tas ransel lusuh di bahu kiri dan map cokelat di tangan kanan. Kemeja putihnya sudah mulai lembap oleh keringat. Sepatu hitamnya bersih, tapi bagian solnya menipis. Dari luar, ia tampak seperti dokter muda lain yang datang untuk hari pertama kerja.
Hanya ia sendiri yang tahu, di dalam saku celananya, ponsel murah dengan layar retak menyimpan satu angka yang terasa lebih tajam daripada jarum suntik.
Saldo: Rp 1.930.000.
Kos-kosan dekat rumah sakit menelan Rp 800.000 per bulan. Uang makan, pulsa, ongkos ojol, dan sedikit kiriman untuk rumah di Kabupaten Sukamakmur harus diatur dari sisa itu. Ayahnya, Pak Slamet, masih bekerja sebagai buruh pabrik. Ibunya, Bu Suryani, selalu berkata jangan mengirim uang dulu, tapi suara batuk yang ia tahan setiap kali menelepon tidak bisa dibohongi.
Rangga mengunci layar ponsel.
"Mulai hari ini," gumamnya pelan, "jangan banyak mengeluh."
Ia melangkah masuk.
Aula RSUD Harapan Bangsa tidak mewah. Cat dindingnya mulai pudar, kipas angin berputar lambat di langit-langit, dan antrean pasien BPJS memenuhi kursi plastik biru di dekat loket. Bau disinfektan bercampur obat, keringat, dan kopi sachet dari kantin kecil di ujung lorong.
Di papan informasi tertulis jelas: RSUD Harapan Bangsa, Rumah Sakit Tipe C.
Tipe C.
Bagi sebagian orang, itu hanya rumah sakit daerah yang fasilitasnya terbatas. Bagi Rangga, tempat ini adalah pintu pertama untuk keluar dari hidup yang selalu sempit.
Ia menuju meja administrasi pegawai baru.
"Nama?" tanya petugas perempuan tanpa mengangkat kepala.
"Rangga Aditya Wijaya. Dokter muda, Bu. Hari ini mulai orientasi di UGD."
Petugas itu mengambil mapnya, memeriksa satu per satu berkas: fotokopi KTP, ijazah, surat pengantar dari kampus, bukti lulus tahap profesi. Tangannya bergerak datar, seolah setiap orang di hadapannya hanyalah nomor antrean.
"Duduk dulu. Nanti dipanggil."
"Baik, Bu."
Rangga baru hendak menepi ketika suara tawa yang terlalu keras terdengar dari pintu utama.
"Wah, wah. Lihat siapa ini."
Langkah Rangga berhenti.
Bimo Adiwirya Santoso masuk ke aula dengan kemeja mahal yang lengannya digulung rapi. Jam tangannya berkilat di bawah lampu. Di sampingnya berdiri Nadia Anggraini, rambutnya tertata halus, mengenakan blazer krem yang membuatnya tampak seperti bagian dari dunia yang tidak pernah benar-benar dimiliki Rangga.
Nadia melihat Rangga.
Sesaat, matanya goyah.
Lalu ia menunduk.
Bimo menangkap gerakan itu. Senyumnya melebar.
"Rangga?" Bimo melangkah mendekat, suaranya sengaja dibuat cukup keras agar orang-orang sekitar menoleh. "Gue kira lo masih sibuk cari kos murah. Ternyata beneran diterima di sini?"
Rangga menatapnya tenang. "Saya datang untuk melapor kerja."
"Saya?" Bimo tertawa kecil. "Formal banget. Santai aja, Ga. Kita kan teman lama."
Teman lama.
Dulu di kampus, Bimo datang dengan mobil Alphard, traktiran kopi mahal, dan cerita liburan ke luar negeri. Rangga datang dengan jaket yang sama selama tiga semester, sering menahan lapar agar bisa membeli buku bekas. Nadia pernah berjalan di sampingnya, memegang payung yang sama saat hujan, berkata bahwa ia tidak butuh orang kaya.
Lalu suatu hari, ia berkata lelah.
Lelah menunggu hidup Rangga membaik.
Setelah itu, Bimo mulai menjemputnya.
"Nadia," kata Rangga pelan.
Nadia mengangkat wajah, bibirnya bergerak sedikit. "Rangga..."
Bimo langsung merangkul bahu Nadia, ringan tapi penuh tanda kepemilikan.
"Jangan bikin suasana canggung," katanya. "Nadia sekarang sama gue. Lo harusnya ikut senang. Setidaknya dia akhirnya sadar, hidup enggak bisa dibayar pakai idealisme kosong."
Beberapa orang di kursi tunggu melirik.
Rangga merasakan map cokelat di tangannya mulai tertekuk. Ia melonggarkan jari.
"Saya tidak punya urusan dengan kalian," katanya.
"Oh, punya." Bimo mendekat setengah langkah. Aroma parfum mahalnya menusuk hidung. "Lo tahu kenapa gue senang lihat lo di sini? Karena mulai hari ini, lo akan belajar posisi lo."
Ia menunjuk lantai aula dengan ujung sepatunya.
"Di bawah."
Nadia menarik napas pelan. "Bimo, sudah..."
"Kenapa? Gue salah?" Bimo menoleh ke Nadia, lalu kembali ke Rangga. "Lihat dia. Dokter muda miskin, saldo mungkin enggak cukup buat bayar makan sebulan, tapi gayanya masih sok punya harga diri."
Suara Bimo turun, tapi cukup jelas untuk mereka bertiga.
"Sampah tetap sampah, Ga. Mau pakai jas putih pun, baunya tetap sama."
Kata itu jatuh seperti tamparan.
Sampah.
Rangga tidak bergerak. Di dadanya, sesuatu mengejang panas. Tapi ia ingat wajah ibunya di layar panggilan video. Ia ingat ayahnya yang pulang kerja dengan tangan penuh oli, tetap tersenyum saat berkata, "Yang penting kamu jadi dokter yang baik, Nak."
Ia tidak boleh hancur di hari pertama.
"Kalau sudah selesai bicara," ujar Rangga, suaranya rendah, "saya mau menunggu panggilan."
Senyum Bimo mengeras. Ia tidak mendapatkan ledakan yang ia inginkan.
Sebelum ia bicara lagi, seorang pria berkacamata keluar dari koridor administrasi. Jas dokternya rapi, wajahnya dingin, langkahnya membuat beberapa pegawai langsung berdiri lebih tegak.
dr. Herman Gunawan, Sp.PD.
"Bimo," kata dr. Herman dengan senyum yang langsung berbeda dari wajahnya saat melihat antrean biasa. "Maaf menunggu. Pak Santoso sudah menghubungi saya tadi pagi."
Bimo menoleh ke Rangga dengan tatapan menang.
"Tidak apa-apa, Dokter Herman. Kami baru bertemu teman lama."
dr. Herman melirik Rangga. Hanya sekilas, seperti memeriksa noda kecil di lantai.
"Anda pegawai baru?"
"Rangga Aditya Wijaya, Dokter. Dokter muda untuk UGD."
"Hm." dr. Herman mengambil map dari tangan petugas, melihat namanya, lalu mengembalikannya tanpa minat. "Ikuti prosedur normal. Orientasi Anda menunggu jadwal dari bagian SDM."
Setelah itu ia berbalik kepada Bimo.
"Silakan lewat sini. Berkas Anda bisa kami proses langsung di ruang saya. Nadia juga ikut?"
Bimo tersenyum lebar. "Tentu, Dok."
Nadia sempat menatap Rangga sekali lagi.
Ada sesuatu di matanya. Rasa bersalah, mungkin. Atau takut. Tapi ia tetap melangkah mengikuti Bimo dan dr. Herman melewati pintu kaca yang tidak boleh dimasuki orang lain tanpa izin.
Rangga berdiri di depan loket.
Petugas administrasi berdeham canggung. "Mas Rangga, silakan tunggu dulu di kursi sana, ya."
"Baik, Bu."
Ia berjalan ke bangku panjang di dekat lorong UGD. Di ujung lain, seorang dokter muda lain bersandar pada dinding sambil membuka tablet. Nama di kartu identitasnya terbaca: dr. Yoga Pratama.
dr. Yoga memandang Rangga dari ujung kepala sampai kaki.
"Hari pertama?" tanyanya singkat.
"Iya."
"UGD bukan tempat buat cari panggung." Nada dr. Yoga datar. "Kalau belum bisa apa-apa, jangan menghalangi."
Rangga menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Saya mengerti."
dr. Yoga kembali melihat tabletnya, seolah percakapan selesai.
Rangga duduk.
Bangku plastik itu keras. Lampu lorong terlalu putih. Dari balik pintu UGD, terdengar suara roda brankar, perawat memanggil dokter, dan anak kecil menangis. Hidup dan mati lewat hanya beberapa meter dari tempat ia duduk, tetapi hari itu ia belum punya kuasa apa pun. Ia hanya nama baru di daftar orientasi.
Ponselnya bergetar.
Dedi.
Rangga mengangkat panggilan. "Ded."
"Bro! Hari pertama jadi penghuni neraka UGD gimana?" suara Dedi terdengar riang, terlalu riang untuk lorong yang dingin itu.
"Baru duduk."
"Lho, kok nadanya kayak orang kalah judi?"
Rangga menatap pintu kaca tempat Bimo menghilang. "Ketemu Bimo."
Di seberang sana, Dedi langsung diam.
"Sama Nadia?"
"Iya."
"Dia ngapain?"
"Bimo biasa. Nadia diam."
Dedi menghela napas panjang. "Ga, dengar. Lo enggak perlu buktiin apa-apa ke orang kayak dia."
Rangga tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Aku tahu."
"Saldo masih aman?"
Pertanyaan itu membuat Rangga menunduk ke ponselnya.
"Cukup."
"Cukup versi lo itu bahaya. Kalau butuh pinjam..."
"Jangan." Jawaban Rangga cepat. Lalu ia melembutkan suara. "Terima kasih. Aku masih bisa atur."
"Pak Slamet sama Bu Suryani tahu lo mulai hari ini?"
"Tahu. Ibu kirim pesan tadi pagi. Katanya jangan lupa sarapan."
"Lo sarapan?"
Rangga diam.
Dedi mendengus. "Dasar. Nanti gue bawain nasi padang kalau sempat."
"Jangan berlebihan."
"Berlebihan apanya? Dokter muda kalau tumbang di hari pertama, pasiennya siapa yang nolong?"
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, dada Rangga sedikit menghangat.
Ia baru hendak menjawab ketika lorong UGD tiba-tiba berubah gaduh.
Seorang perawat berlari keluar. Di belakangnya, dua petugas mendorong brankar kosong. Telepon meja di pos perawat berdering bertubi-tubi. dr. Yoga yang tadi tampak acuh langsung menegakkan badan.
Lalu pengeras suara rumah sakit menyala dengan bunyi berderak.
"Perhatian. Panggilan darurat untuk seluruh tenaga medis UGD. Terjadi insiden penyanderaan di Jalan Cahaya Bangsa. Korban luka banyak, satu pasien anak dilaporkan mengalami perdarahan berat. Seluruh tenaga medis yang tersedia segera berkumpul di UGD."
Suara itu berulang.
Lorong yang tadi dingin mendadak mendidih.
Rangga berdiri.
Di telepon, Dedi berseru, "Ga? Itu apa? Lo di UGD?"
Rangga menutup panggilan tanpa sadar. Jarinya masih menggenggam ponsel, tapi matanya sudah tertuju pada pintu UGD yang terbuka lebar.
dr. Yoga melewatinya cepat. "Kamu dokter muda baru? Jangan bengong. Kalau disuruh bantu, bantu. Kalau tidak, minggir."
Rangga memasukkan ponsel ke saku. Map cokelatnya ia letakkan di kursi.
Kata Bimo masih berdengung di kepalanya.
Sampah.
Tapi dari arah UGD, suara lain lebih keras: roda brankar, alarm monitor, langkah perawat, dan panggilan hidup yang tidak peduli siapa miskin, siapa kaya, siapa punya koneksi.
Rangga menarik napas.
Lalu ia berlari.
Ia berlari ke arah UGD, sementara kata sampah yang barusan dilemparkan Bimo masih terbakar di dadanya.
Bab 2: Sistem Check-in Dokter Dewa
Ia berlari ke arah UGD, sementara kata sampah yang barusan dilemparkan Bimo masih terbakar di dadanya.
Pintu otomatis UGD terbuka sebelum Rangga sempat menyentuhnya.
Di dalam, suasana sudah berubah menjadi medan perang kecil. Perawat menarik troli obat. Petugas ambulans mengenakan rompi oranye. Seorang dokter perempuan dengan rambut terikat rapi berdiri di depan papan koordinasi, membaca laporan dari telepon dengan suara cepat tapi terkendali.
"Lokasi tepat di Jalan Cahaya Bangsa, depan minimarket Sinar Jaya. Pelaku membawa pisau. Satu sandera perempuan, usia sekitar tujuh belas sampai dua puluh tahun. Ada luka leher. Perdarahan aktif."
Rangga langsung mengenali kartu namanya.
dr. Alya Ratnasari, Sp.EM.
Di sebelahnya, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan jas dokter yang lengannya sudah digulung. Sorot matanya tajam, tubuhnya bergerak tanpa ragu.
"Dua ambulans berangkat sekarang," kata pria itu. "Alya, kamu ikut mobil pertama. Yoga, bawa kit trauma. Suster, siapkan cairan, kasa tekan, klem hemostat, dan suction portable."
dr. Yoga mengangkat tas trauma. "Siap, Pak Bambang."
Pak Bambang.
dr. Bambang Sutrisno, Sp.EM(K). Kepala UGD RSUD Harapan Bangsa.
Rangga baru setengah langkah masuk ketika dr. Yoga melihatnya.
"Kamu lagi?" dr. Yoga mengernyit. "Ini bukan orientasi."
"Saya bisa bantu, Dok."
"Bantu di sini saja. Jangan ikut ke lapangan kalau belum diperintah."
Pak Bambang menoleh. Tatapannya menyapu Rangga dalam satu detik, dari sepatu murah sampai kartu dokter muda yang masih baru.
"Nama?"
"Rangga Aditya Wijaya, Pak. Dokter muda baru di UGD."
"Pernah menangani trauma leher?"
Jujur atau sok tahu.
Rangga memilih yang pertama.
"Belum pernah langsung, Pak. Tapi saya tahu prosedur dasar kompresi, stabilisasi jalan napas, dan rujukan operasi."
dr. Yoga mendengus kecil.
Pak Bambang tidak ikut mengejek. Ia hanya menunjuk ambulans pertama. "Naik. Pegang tas cairan dan jangan menghalangi. Di lapangan, kalau saya bilang mundur, kamu mundur."
"Siap, Pak."
Rangga naik ke ambulans.
Mesin meraung.
Sirene menjerit membelah jalan Kota Cakrawala.
Dari jendela kecil ambulans, gedung-gedung dan warung kaki lima melesat mundur. Panas di luar bercampur debu jalanan. Motor-motor menepi dengan panik. Di depan, mobil polisi membuka jalan, lampu birunya memantul di kaca toko dan helm pengendara ojol.
dr. Alya duduk di hadapan Rangga, memeriksa isi tas trauma sekali lagi.
"Pertama kali ikut respons lapangan?" tanyanya.
"Iya, Dokter."
"Kalau panik, tarik napas. Jangan pegang pasien tanpa instruksi."
"Baik."
Nada suaranya lembut, tapi matanya tidak main-main.
Pak Bambang, yang duduk di dekat pintu belakang, menerima laporan dari radio polisi.
"Pelaku tidak kooperatif. Tim taktis sedang negosiasi. Korban masih berdiri, tapi perdarahan makin banyak."
Rangga merasakan telapak tangannya dingin.
Leher. Perdarahan aktif. Sandera.
Di kampus, semua itu pernah muncul di buku dan simulasi. Di layar presentasi, darah selalu berupa diagram merah yang rapi. Di dunia nyata, satu arteri yang robek bisa mengosongkan hidup seseorang dalam hitungan menit.
Ambulans berhenti mendadak.
"Turun!"
Begitu pintu dibuka, suara kota menghantam wajah Rangga.
Jeritan.
Sirene.
Perintah polisi melalui pengeras suara.
Kerumunan warga tertahan di belakang garis kuning. Beberapa orang mengangkat ponsel, merekam dengan tangan gemetar. Di depan minimarket, seorang pria kurus dengan rambut acak-acakan memegang pisau dapur di tangan kanan. Tangan kirinya mencengkeram leher seorang gadis muda.
Seragam sekolah gadis itu basah merah.
"Jangan dekat!" pria itu berteriak parau. Matanya liar, tubuhnya bergetar. "Kalian semua mau bunuh saya!"
Seorang polisi mengangkat kedua tangan. "Tenang, Pak. Kami tidak akan menyakiti Anda. Lepaskan pisaunya."
Gadis itu menangis tanpa suara. Bibirnya pucat. Setiap kali ia mencoba bernapas, darah merembes lebih deras dari sisi lehernya.
Rangga berhenti di belakang Pak Bambang.
Panas aspal dan penghinaan Bimo lenyap dari pikirannya. Seluruh fokusnya tertuju pada darah.
Pak Bambang mengamati cepat. "Luka di sisi kiri leher. Kalau pisau masuk lebih dalam, carotis bisa kena."
dr. Alya berbisik, "Tekanan darahnya pasti sudah jatuh."
"Kita butuh korban lepas dalam tiga menit."
Tiga menit itu tidak pernah sampai.
Pria itu tiba-tiba berteriak, pisaunya bergerak. Gadis itu menjerit. Pada saat yang sama, dua anggota tim taktis menyergap dari samping. Satu tembakan terdengar pendek, disusul tubuh pelaku roboh ke aspal.
Gadis itu jatuh.
Darah menyembur dari lehernya mengikuti denyut nadi.
Merah terang, berdenyut mengikuti detak jantung yang makin kacau.
"Masuk!" Pak Bambang berlari lebih dulu.
dr. Alya menekan kasa tebal ke leher korban. Darah langsung merembes menembus sarung tangannya.
"Nadi cepat, lemah!" teriak dr. Yoga. "Pasien mulai tidak sadar!"
"Klem!"
Rangga membuka tas trauma dan menyerahkan klem hemostat. Pak Bambang mengambilnya, menyingkap kasa sesaat, mencoba mencari ujung pembuluh yang robek.
Darah menyembur mengenai pipinya.
"Suction!"
dr. Alya memasukkan selang suction. Suaranya bergetar halus meski tangannya tetap bekerja.
"Lapangan terlalu kotor. Saya tidak bisa lihat jelas."
Pak Bambang menggerakkan klem lagi.
Gagal.
Darah kembali menyemprot.
"Kompresi lebih kuat!"
dr. Yoga menekan, tapi tekanan itu hampir membuat jalan napas korban tercekik.
"Jangan sampai trakea tertekan!" Pak Bambang membentak.
"Pak, saturasi turun!"
Kerumunan di belakang garis polisi mulai gelisah. Seseorang menangis. Seorang perempuan setengah baya, mungkin ibu korban, berusaha menerobos sambil berteriak, "Anak saya! Tolong anak saya!"
Polisi menahannya.
Rangga berlutut di aspal, tas trauma terbuka di sampingnya. Lutut celananya basah oleh darah yang mulai mengalir ke selokan kecil.
Ia melihat Pak Bambang mencoba lagi.
Gagal lagi.
Hanya ada terlalu banyak darah. Terlalu cepat. Terlalu kacau.
"Kalau tidak bisa dikontrol di sini, dia tidak akan sampai rumah sakit," kata dr. Alya pelan.
Kalimat itu bukan keluhan.
Itu vonis.
Rangga merasakan sesuatu menghantam kepalanya.
Suara.
Benturan itu datang dari dalam kepalanya, menenggelamkan sirene, teriakan polisi, dan tangis ibu korban.
Suara itu muncul dari dalam pikirannya, dingin, jernih, dan sama sekali tidak manusiawi.
[Sistem Check-in Dokter Dewa telah aktif. Selamat datang, Host.]
Rangga membeku.
Waktu seolah berhenti setengah detik.
Di depannya, darah tetap menyembur. Pak Bambang tetap berjuang. dr. Alya tetap menekan kasa. Namun di dalam kesadaran Rangga, baris huruf asing muncul seperti layar transparan.
[Terdeteksi pasien kritis: carotis eksterna ruptur.]
[Risiko kematian sangat tinggi.]
[Aktifkan check-in?]
Rangga hampir lupa bernapas.
Apa ini?
Apakah ia pingsan? Apakah suara ini hanya akibat stres? Tapi setiap detail di hadapannya terlalu nyata: bau darah besi, panas aspal, suara monitor portable yang baru dipasang dr. Yoga.
"Rangga!" dr. Yoga membentak. "Kasa tambahan!"
Tangan Rangga bergerak otomatis mengambil kasa.
Sistem itu masih menunggu.
[Aktifkan check-in?]
Gadis itu membuka mata setengah. Tatapannya kosong, tapi bibirnya bergerak seperti meminta tolong.
Rangga tidak punya waktu untuk takut.
Di dalam pikirannya, ia menjawab satu kata.
Ya.
[Check-in berhasil.]
[Anda telah memperoleh: Teknik Hemostasis Kelas Dunia.]
[Paket pemula terbuka: penguatan pengetahuan dasar anatomi, fisiologi, farmakologi, dan prosedur kedaruratan.]
Rasa sakit tajam menembus pelipis Rangga.
Tubuhnya melemah seolah ribuan halaman buku dibakar dan abunya dituang langsung ke otak. Struktur leher manusia terbuka di benaknya: lapisan kulit, otot sternokleidomastoideus, posisi arteri, vena, saraf, trakea, sudut klem, tekanan jari, serta batas antara menyelamatkan dan membunuh.
Semua yang dulu ia baca dengan susah payah kini menjadi sesuatu yang bisa ia rasakan.
Tangannya berhenti gemetar.
Matanya berubah tenang.
"Pak Bambang," kata Rangga.
Di tengah kekacauan, suaranya terdengar anehnya stabil.
Pak Bambang tidak menoleh. "Apa?"
"Tekanan kompresinya terlalu medial. Kalau terus begitu, jalan napasnya kolaps."
dr. Yoga menatapnya tajam. "Kamu pikir kami tidak tahu?"
Rangga mengulurkan tangan.
"Berikan klemnya, Pak."
Udara mendadak sepi satu detik.
dr. Alya menatapnya seakan memastikan ia tidak salah dengar.
dr. Yoga langsung marah. "Kamu gila? Ini carotis! Dokter muda hari pertama mau pegang?"
Pak Bambang menatap Rangga.
Dalam mata dokter senior itu ada kemarahan, tekanan, dan satu hal lain: perhitungan. Ia tahu waktunya habis.
Darah korban menyembur lagi, lebih lemah dari sebelumnya. Itu bukan kabar baik. Itu tanda jantungnya mulai kalah.
Rangga tidak menarik tangannya.
"Saya bisa melihat jalurnya, Pak."
"Melihat?" dr. Yoga hampir tertawa karena tegang. "Di darah sebanyak ini?"
Rangga menatap Pak Bambang. "Kalau kita menunggu, dia mati sebelum masuk ambulans."
Kalimat itu menghantam semua orang.
Pak Bambang mengertakkan rahang.
Lalu ia menyerahkan klem.
"Sepuluh detik," katanya dingin. "Kalau gagal, mundur."
Rangga mengambil klem.
Logam dingin itu menyentuh sarung tangannya.
Ia maju, berlutut tepat di samping kepala korban. Lututnya menekan aspal panas. Darah merendam ujung jas putihnya. Ia tidak peduli.
"Dokter Alya, kompresi sedikit ke lateral. Jangan tekan trakea. Dokter Yoga, suction dari arah bawah, jangan menutup bidang pandang."
dr. Yoga terdiam.
Karena nada itu bukan nada dokter muda yang meminta izin.
Itu nada seseorang yang tahu persis apa yang harus dilakukan.
dr. Alya bergerak lebih dulu. "Yoga."
dr. Yoga mengumpat pendek, tapi mengikuti instruksi.
Bidang luka terbuka sesaat.
Darah kembali menyembur.
Rangga tidak berkedip.
Di matanya, aliran merah itu bukan lagi kekacauan. Itu pola. Denyut. Arah. Ruang sempit di antara hidup dan mati.
Tangannya masuk.
Klem bergerak.
Cepat.
Tepat.
Klik.
Semburan darah berhenti sepenuhnya.
Seluruh jalan seperti kehilangan suara.
Pak Bambang, yang tiga puluh tahun hidup di ruang gawat darurat, menatap tangan Rangga dengan mata melebar.
dr. Alya menahan napas.
dr. Yoga lupa memaki.
Rangga tidak mengangkat wajah. "Tekanan tetap. Kita belum selesai. Ini hanya kontrol sementara."
Pak Bambang tersentak kembali.
"Brankar! Sekarang!"
Para petugas bergerak seperti baru dilepaskan dari ikatan. Korban diangkat ke brankar dengan hati-hati. Rangga tetap berlutut, satu tangan memegang posisi klem, tangan lain menjaga agar leher korban tidak bergerak.
"Jangan tarik tangan saya," katanya. "Kalau klem bergeser, perdarahan ulang."
"Dia ikut ambulans," kata Pak Bambang cepat. "Alya, pantau airway. Yoga, cairan dan monitor. Kita langsung ke ruang operasi."
Saat mereka mendorong brankar ke ambulans, perempuan yang tadi ditahan polisi jatuh berlutut di tepi jalan.
"Dokter! Tolong selamatkan anak saya!"
Rangga hanya sempat menoleh sedikit.
"Kami akan berusaha, Bu."
Itu bukan janji kosong.
Untuk pertama kalinya hari itu, kalimatnya memiliki bobot yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Pintu ambulans ditutup.
Sirene menyala lagi.
Di dalam ruang sempit yang bergetar, Rangga duduk miring di sisi brankar, kedua tangannya menjaga klem di leher korban. Darah mengering di pergelangan tangannya. Napas gadis itu dangkal. Monitor portable menunjukkan angka yang naik turun seperti benang tipis tertiup angin.
dr. Alya memasang oksigen. "Tekanan darah 70 per palpasi. Nadi 142."
dr. Yoga menggantung cairan. "Akses intravena masuk."
Pak Bambang menatap jam, lalu menatap Rangga.
Kali ini tidak ada lagi tatapan meremehkan.
Hanya keterkejutan yang belum sempat ia sembunyikan.
"Anak muda," katanya rendah, "siapa yang mengajarimu memegang klem seperti itu?"
Rangga tidak bisa menjawab.
Di dalam kepalanya, sistem telah diam. Seolah semua yang terjadi barusan hanyalah rahasia antara dirinya dan suara dingin itu.
Ia menatap monitor.
Angkanya turun lagi.
Pak Bambang menarik napas tajam.
"Kita punya waktu tiga puluh menit. Kalau tidak sampai ke ruang operasi dalam tiga puluh menit..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Tidak perlu.
Di layar monitor, angka tekanan darah berkedip lemah.
Rangga mengencangkan pegangan pada klem, tidak berani bergerak sedikit pun.
Ambulans melesat di tengah sirene, membawa mereka menuju ruang operasi yang terasa terlalu jauh.
Bab 3: Apa Itu 'Mengalir Seperti Air'
Ambulans melesat di tengah sirene, membawa mereka menuju ruang operasi yang terasa terlalu jauh.
Di dalamnya, Rangga tidak berani mengubah posisi jari.
Klem hemostat di tangannya menjadi satu-satunya pintu yang menahan kematian di luar tubuh gadis itu. Setiap guncangan ambulans membuat seluruh otot lengan Rangga menegang. Sekali saja ujung klem bergeser, darah bisa menyembur lagi, dan semua yang mereka perjuangkan di Jalan Cahaya Bangsa akan runtuh sebelum pintu rumah sakit terbuka.
"Tekanan darah?" Pak Bambang bertanya.
"Masih rendah. Enam puluh delapan per palpasi," jawab dr. Alya. "Nadi 150. Saturasi naik sedikit dengan oksigen."
dr. Yoga menekan kantong cairan dengan kedua tangan. Wajahnya sudah tidak menyisakan sikap meremehkan. Matanya berkali-kali turun ke klem di tangan Rangga, lalu naik ke wajah Rangga yang terlalu tenang untuk seorang dokter muda hari pertama.
"Lima menit lagi sampai RS," kata sopir ambulans dari depan.
Pak Bambang menunduk dekat ke telinga korban. "Dik, bertahan. Kamu sudah dekat rumah sakit."
Gadis itu tidak menjawab. Kelopak matanya bergetar lemah.
Rangga menatap monitor.
Angka itu seperti berjalan di tepi jurang.
Di dalam kepalanya, pengetahuan baru yang baru saja menghantamnya masih bergerak seperti arus besar. Teknik Hemostasis Kelas Dunia bukan sekadar cara menjepit pembuluh darah. Ia bisa membayangkan jaringan yang robek, pola tekanan, arah jahitan, urutan perbaikan, bahkan kemungkinan komplikasi dalam beberapa menit berikutnya.
Rangga menelan napas pelan.
Ini bukan mimpi.
Kalau ini mimpi, darah di sarung tangannya tidak akan sehangat ini.
Ambulans berhenti di depan UGD.
Pintu belakang dibuka. Cahaya lampu rumah sakit menerobos masuk.
"Langsung IBS satu!" Pak Bambang berteriak. "Hubungi bank darah. Siapkan transfusi O negatif dulu sambil tunggu crossmatch. Tim anestesi sudah di tempat?"
"Sudah, Pak!" seorang perawat menjawab dari koridor.
Brankar meluncur cepat.
Rangga ikut bergerak di sisi kepala pasien, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya tetap menjaga klem. Beberapa perawat yang melihat jas putihnya penuh darah otomatis menyingkir. Seseorang sempat berbisik, "Itu dokter muda baru?"
Tidak ada yang menjawab.
Di depan pintu ruang operasi, seorang petugas administrasi berlari membawa formulir.
"Pak Bambang, keluarga pasien baru tiba di lobi. PTM belum ditandatangani."
Pak Bambang tidak memperlambat langkah. "Ini tindakan penyelamatan nyawa. Catat emergency life-saving procedure. Minta keluarga tanda tangan begitu sampai. Kalau kita tunggu kertas, anak ini mati."
"Baik, Pak."
Pintu Ruang Operasi Satu terbuka.
Udara dingin menghantam wajah Rangga.
Lampu operasi menyala putih menyilaukan. Bau antiseptik tajam menggantikan bau aspal dan debu. Tim perawat bergerak cepat, memindahkan pasien ke meja operasi tanpa menarik tangan Rangga.
"Jangan sentuh klem," kata Rangga.
Suaranya rendah, tapi semua orang mendengar.
Pak Bambang meliriknya.
Anak muda ini masih berani memberi instruksi di ruang operasi.
Dan anehnya, instruksi itu benar.
"Alya, bantu buka area. Yoga, suction. Suster, siapkan benang vaskular halus. Kita lakukan kontrol perdarahan dan reparasi pembuluh sekarang."
"Siap."
Anestesi bekerja cepat. Masker oksigen, jalur obat, monitor, tekanan darah, saturasi. Waktu terasa diremas menjadi detik-detik kecil.
Rangga berdiri di sisi meja operasi.
Pak Bambang sudah mencuci tangan dan mengenakan sarung steril. Secara jabatan, operasi itu jelas miliknya. Secara pengalaman, tidak ada orang di ruangan itu yang lebih layak memimpin.
Tetapi ketika ia menatap luka di leher pasien, lalu menatap klem yang dipegang Rangga, sesuatu menahan kata-katanya.
"Rangga," katanya akhirnya, "kamu tahu apa yang kamu lakukan?"
Rangga menatap bidang operasi.
"Saya tahu, Pak."
"Kalau saya minta kamu lepaskan klem, perdarahan bisa kembali. Kalau kamu salah jahit, pasien stroke atau meninggal di meja."
"Saya mengerti."
dr. Yoga tidak tahan. "Pak, ini terlalu berisiko. Dia dokter muda."
Pak Bambang menatap dr. Yoga tajam. "Saya tahu."
Lalu ia melihat Rangga lagi.
"Tapi tadi di jalan, tangan dia yang menghentikan perdarahan."
Kalimat itu membuat ruang operasi diam.
Pak Bambang mengambil posisi sebagai operator utama, tetapi ia tidak merebut klem. "Kamu lakukan bagian yang kamu mulai. Saya dampingi. Satu kesalahan, saya ambil alih."
Rangga mengangguk.
"Baik, Pak."
Di luar kesadaran semua orang, suara sistem tidak terdengar lagi. Tidak ada petunjuk tambahan. Tidak ada kalimat baru.
Namun teknik itu sudah ada di tangan Rangga.
Ia menarik napas sekali.
"Suction sedikit ke kanan. Dokter Alya, retraktor jangan terlalu dalam. Dinding pembuluhnya rapuh."
dr. Alya memandangnya sekilas, lalu mengikuti.
Bidang operasi terbuka.
Robekan arteri tampak jelas, kecil tapi mematikan. Pinggirannya tidak rapi akibat sayatan pisau. Di bawah lampu operasi, darah yang tadi seperti banjir kini menjadi garis merah yang bisa dipahami.
Rangga mulai menjahit.
Jarum bergerak masuk.
Keluar.
Menarik benang.
Mengikat.
Gerakannya tidak cepat secara membabi buta. Justru terlalu stabil. Setiap tusukan berada pada jarak yang pas, tidak merobek dinding pembuluh, tidak terlalu dangkal, tidak terlalu dalam. Tangannya seperti sudah melakukan operasi semacam ini ratusan kali.
dr. Yoga berdiri kaku.
dr. Alya lupa berkedip.
Pak Bambang, yang semula siap mengambil alih kapan saja, perlahan menurunkan ketegangan di bahunya.
Tiga puluh tahun di UGD.
Selama itu, ia pernah melihat dokter hebat dan profesor bedah vaskular dengan tangan cepat, berani, serta terlatih.
Tapi tangan Rangga berbeda.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Seperti air yang menemukan jalannya sendiri.
"Kasa," kata Rangga.
Suster memberikannya tanpa sadar lebih cepat dari biasanya.
"Bilas."
Cairan saline mengalir. Darah tipis tersapu. Garis jahitan terlihat rapi, rapat, hampir tidak masuk akal untuk operasi darurat yang dimulai dari aspal jalanan.
"Lepas klem perlahan," kata Pak Bambang.
Rangga tidak langsung melepas. Ia mengubah sudut sedikit, memastikan tekanan balik tidak menghantam jahitan.
Klik.
Klem terbuka.
Semua orang menahan napas.
Tidak ada semburan.
Hanya rembesan kecil yang segera dikontrol dengan kasa.
dr. Alya menghembuskan napas panjang. "Perdarahan terkendali."
Di mata dr. Yoga, sesuatu runtuh dengan diam-diam.
Namun sebelum siapa pun sempat merasa lega, monitor menjerit.
Tit-tit-tit-tit-tit.
Lalu garis irama berubah kacau.
"V-fib!" teriak anestesi. "Pasien fibrilasi ventrikel!"
Tubuh gadis itu tersentak halus di meja.
"Tekanan darah hilang!"
Ruang operasi meledak lagi.
dr. Yoga mundur setengah langkah. dr. Alya langsung bergerak ke posisi RJP, tapi meja operasi dan area steril membuat ruang sempit.
Pak Bambang bersuara keras. "Defibrillator!"
Perawat mendorong alat. Gel ditempelkan. Pad disiapkan.
Rangga melihat monitor.
Irama itu kacau, liar, seperti jantung yang tidak lagi tahu cara memukul pintu kehidupan.
Di kepalanya, paket pengetahuan dasar yang tadi terbuka menyusun langkah-langkah dengan sangat jelas.
Defibrilasi. RJP. Evaluasi ritme. Epinefrin bila perlu. Jangan panik. Jangan terlambat.
"Charge 200 joule," kata Rangga.
Pak Bambang menoleh cepat.
Rangga sudah meletakkan tangan di posisi yang benar.
"Clear!"
Semua orang mundur.
Tubuh gadis itu terangkat sesaat saat listrik masuk.
Monitor masih kacau.
"RJP," kata Rangga.
Ia naik ke sisi meja dengan gerakan yang membuat seorang perawat terbelalak. Kedua tangannya menekan sternum korban, ritme stabil, kedalaman tepat. Bukan tekanan panik seorang pemula. Bukan pula gerakan kasar yang mematahkan segalanya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Setiap kompresi seperti memaksa jantung itu mengingat tugasnya.
"Ventilasi."
dr. Alya membantu anestesi. "Masuk."
"Charge lagi. 200 joule."
Pak Bambang menatap monitor. "Rangga..."
"Sekarang, Pak. Ritmenya masih shockable."
Nada itu tidak menantang.
Nada itu memastikan.
Pak Bambang mengangkat tangan. "Charge!"
"Clear!"
Kejutan kedua.
Monitor melompat.
Satu detik.
Dua detik.
Garis kacau itu berubah.
Tit... Tit... Tit.
Irama sinus kembali muncul, lemah tapi teratur.
"Nadi ada!" teriak anestesi. "Nadi kembali!"
dr. Alya memejamkan mata sesaat.
Seorang perawat di sudut ruangan berbisik, "Astaga..."
Rangga turun dari posisi RJP. Napasnya berat, tapi tangannya tetap stabil.
"Lanjut tutup luka. Pastikan tidak ada perdarahan ulang."
Kali ini tidak ada yang mempertanyakan perintahnya.
Operasi berlanjut.
Dua puluh menit kemudian, jahitan terakhir selesai.
Leher gadis itu dibalut bersih. Monitor menunjukkan irama yang masih lemah, tetapi hidup. Transfusi berjalan. Tekanan darah perlahan naik.
Pak Bambang melepas sarung tangan dengan gerakan lambat.
Tidak ada tepuk tangan besar seperti panggung hiburan. Ruang operasi bukan tempat untuk itu. Tapi satu per satu, para perawat menatap Rangga dengan mata yang berbeda. dr. Yoga menunduk, mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada kata yang keluar.
Lalu Pak Bambang mulai bertepuk tangan.
Sekali.
Dua kali.
Suara itu pendek, tertahan, tapi di ruangan yang baru saja merebut satu nyawa dari tepi kematian, suara itu seperti palu yang memutuskan vonis.
dr. Alya ikut bertepuk tangan.
Perawat menyusul.
dr. Yoga akhirnya mengangkat kedua tangan, pelan, wajahnya masih sulit percaya.
Rangga berdiri di tengah ruangan dengan jas putih berlumur darah. Ia tidak tahu harus berkata apa. Panas yang tertinggal sejak Bimo menyebutnya sampah berubah menjadi tekad yang belum ia beri nama.
Ini sesuatu yang lebih tenang.
Harga diri yang baru menemukan pegangan.
Saat pasien dipindahkan menuju ICU, Pak Bambang menepuk bahu Rangga.
"Cuci tangan. Setelah itu ikut saya keluar."
Di lorong depan ruang operasi, seorang pria dan perempuan paruh baya menunggu dengan wajah pucat. Perempuan itu masih memakai sandal rumah, rambutnya berantakan, kedua tangannya menggenggam formulir PTM yang sudah basah oleh air mata.
"Dokter!" ia langsung berlari ke arah Pak Bambang. "Anak saya bagaimana?"
Pak Bambang menjawab pelan, jelas. "Operasi selesai. Perdarahan sudah dikontrol. Kondisinya masih harus dipantau di ICU, tapi untuk sekarang, anak Ibu selamat."
Bu Yuliana menutup mulutnya, lalu tubuhnya ambruk berlutut.
Pak Rudi ikut menunduk, air mata jatuh tanpa suara.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih..." Bu Yuliana mencoba meraih tangan Pak Bambang.
Pak Bambang cepat menahan bahunya. "Bu, jangan begitu."
"Dokter menyelamatkan anak kami..."
Pak Bambang menoleh ke samping.
Rangga berdiri setengah langkah di belakang, masih merasa lebih pantas menjadi bayangan.
"Bukan saya yang pertama menghentikan perdarahan," kata Pak Bambang.
Bu Yuliana dan Pak Rudi mengikuti arah tatapannya.
Mereka melihat Rangga.
Muda. Terlalu muda. Jasnya belum rapi, rambutnya basah oleh keringat, matanya tampak lelah. Jika tidak ada darah di lengan bajunya, mereka mungkin mengira ia hanya asisten.
"Dia," kata Pak Bambang. "Dokter Rangga yang membuat anak Ibu sampai ke ruang operasi dalam keadaan masih hidup."
Lorong itu hening.
Bu Yuliana merangkak setengah langkah mendekat, lalu menundukkan kepala di depan Rangga.
"Dokter... terima kasih. Maaf, saya tadi tidak tahu. Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya."
Pak Rudi juga membungkuk dalam. "Kami tidak punya apa-apa sekarang, Dok. Tapi seumur hidup, keluarga kami akan ingat nama Dokter."
Rangga buru-buru membantu mereka berdiri.
"Bu, Pak, jangan berlutut. Anak Bapak dan Ibu masih perlu doa dan pemantauan. Kami hanya melakukan tugas."
"Tidak," kata Pak Rudi, suaranya pecah. "Kalau Dokter terlambat sedikit saja, anak kami..."
Ia tidak sanggup melanjutkan.
Rangga melihat tangan lelaki itu gemetar. Tangan seorang ayah yang hampir kehilangan dunia kecilnya.
"Dia kuat," kata Rangga. "Sekarang Bapak dan Ibu juga harus kuat."
dr. Alya yang berdiri di dekat pintu memperhatikan kalimat itu. Tidak manis, tidak dibuat-buat. Justru karena itulah terasa menenangkan.
Beberapa staf UGD yang berkumpul di lorong mulai berbisik.
"Itu dokter muda baru?"
"Yang tadi dari jalan?"
"Dia yang pegang klem?"
dr. Yoga mendengar semuanya. Wajahnya panas, tapi kali ini ia tidak membantah.
Pak Bambang hanya melihat Rangga seperti seseorang baru menemukan batu permata di tumpukan kerikil.
"Rangga," katanya.
"Ya, Pak?"
"Ke ruangan saya."
Perintah itu pendek, tapi seluruh lorong menangkap bobotnya.
Rangga mengikuti Pak Bambang melewati koridor UGD. Di belakang mereka, suara rumah sakit kembali bergerak: pasien dipanggil, roda brankar berdecit, perawat memberi instruksi. Dunia tidak berhenti hanya karena satu nyawa berhasil ditarik kembali.
Namun bagi Rangga, langkah-langkah itu terasa berbeda.
Pagi tadi ia duduk di bangku plastik sebagai dokter muda miskin yang bisa disalip oleh hubungan keluarga.
Sekarang, orang-orang membuka jalan.
Di ruang kerja Pak Bambang, pintu ditutup.
Ruangan itu sederhana. Rak buku medis, foto tim UGD, satu cangkir kopi hitam yang sudah dingin, dan papan jadwal jaga yang penuh coretan.
Pak Bambang tidak langsung duduk.
Ia berdiri di depan meja, menatap Rangga lama sekali.
"Saya sudah tiga puluh tahun di UGD," katanya pelan. "Belum pernah saya lihat tangan seperti itu."
Rangga diam.
"Kamu tahu kenapa saya marah tadi?"
"Karena saya dokter muda hari pertama dan meminta klem di tengah kasus carotis ruptur, Pak."
"Benar." Pak Bambang menyipitkan mata. "Itu tindakan nekat. Kalau salah, kamu bisa menghancurkan hidup pasien, hidupmu sendiri, dan reputasi rumah sakit."
Rangga menunduk. "Saya mengerti."
"Tapi kamu tidak salah."
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada tepuk tangan di ruang operasi.
Pak Bambang akhirnya duduk, tapi punggungnya tetap tegak.
"Saya tidak tahu dari mana kamu belajar. Saya juga tidak akan memaksamu menjawab sekarang. Setiap dokter punya jalan masing-masing. Tapi kemampuan seperti itu tidak boleh disia-siakan."
Rangga mengangkat wajah.
Pak Bambang mengetuk meja dengan jarinya.
"Saya ingin kamu jadi anak didik saya."
Dada Rangga terasa berhenti sesaat.
"Pak?"
"Di UGD ini, kamu akan ikut saya. Saya akan pastikan administrasimu tidak dikubur orang yang lebih suka koneksi daripada kemampuan. Tiga bulan lagi, kalau kamu membuktikan diri, saya akan usahakan kamu diangkat jadi dokter tetap."
Dokter tetap.
Dua kata itu pernah terasa jauh, seperti gedung tinggi yang hanya bisa ia lihat dari halte bus.
Rangga menggenggam ujung kursi.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Jangan terlalu cepat berterima kasih." Pak Bambang mengangkat alis. "Murid saya tidak boleh cuma punya tangan bagus. Harus punya kepala dingin, hati kuat, dan punggung yang tahan dihantam masalah. UGD bukan tempat orang mencari nama."
"Saya datang untuk belajar menyelamatkan pasien, Pak."
Pak Bambang menatapnya.
Lalu untuk pertama kalinya, sudut bibir dokter senior itu naik sedikit.
"Bagus. Kita lihat apakah kata-katamu tahan sampai jaga malam pertama."
Pada saat itu, ponsel Rangga bergetar di saku celananya.
Ia hampir mengabaikannya, tetapi getaran itu datang dua kali. Notifikasi bank.
Rangga membuka layar.
Matanya membeku.
Transfer masuk: Rp 150.000.000
Pengirim: Yayasan Dana Abadi Cakrawala
Keterangan: Dana investasi pribadi
Di saat yang sama, suara dingin itu kembali muncul di kedalaman pikirannya.
[Misi selesai.]
[Tingkat Penyelesaian: 85%.]
[Hadiah tunai sebesar Rp 150.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]
Jari Rangga berhenti di atas layar.
Pagi tadi, saldonya tidak sampai Rp 2.000.000.
Sekarang, angka di layar ponsel murahnya lebih besar daripada seluruh uang yang pernah ia pegang sepanjang hidup.
Pak Bambang melihat perubahan wajahnya.
"Ada apa?"
Rangga mengunci layar pelan.
Di luar ruangan, UGD kembali memanggil pasien baru. Di dalam dadanya, dunia lama yang sempit mulai retak.
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Rangga.
Ia menyimpan ponsel itu.
Untuk pertama kalinya sejak menginjak RSUD Harapan Bangsa, kata sampah tidak lagi terasa seperti vonis.
Ia lebih mirip utang.
Dan suatu hari, utang itu akan ia tagih.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!