Bab 1: Kandang
Bau karat memenuhi mulut Aurelia setiap kali ia menarik napas.
Ia terbangun dengan pipi menempel pada jeruji besi yang dingin. Gelap masih menguasai ruang bawah tanah itu. Hanya ada satu bohlam kuning di sudut langit-langit, menyala redup di antara bercak lembap dan jamur hitam. Dari kandang sebelah terdengar isakan tertahan. Di sisi lain, seorang gadis terbaring membelakanginya sejak malam tadi, begitu diam hingga Aurelia tidak tahu apakah gadis itu sedang tidur atau sudah berhenti bernapas.
Aurelia mencoba menggerakkan tangan. Tali plastik yang mengikat kedua pergelangannya di belakang punggung langsung menggigit kulit yang sudah membiru. Rantai di pergelangan kakinya ikut bergeser, menggesek luka terbuka sampai rasa perih menjalar ke betis.
Ia menahan erangan dengan menggigit bagian dalam pipinya.
Menangis tidak akan membuka kandang. Berteriak hanya akan mendatangkan penjaga.
Sudah tiga hari sejak ponsel dan paspornya dirampas.
Tiga hari sejak Om Hongwen menunjukkan iklan pekerjaan paruh waktu di layar ponselnya. Bayarannya besar, katanya. Hanya membantu mendata barang koleksi milik seorang kenalan di Asia Tenggara. Pekerjaan itu cocok untuk mahasiswi sejarah seni yang sedang belajar konservasi seperti Aurelia.
"Cuma beberapa hari, Lia. Om ikut mendampingi. Kamu mau bantu Papa dan Mama, kan?"
Ia masih ingat senyum Om Hongwen saat mengatakan itu. Senyum seseorang yang selama ini selalu disambutnya tanpa curiga.
Setelah mereka masuk ke sebuah minibus putih, dua pria naik dari pintu belakang. Salah seorang merebut tasnya. Yang lain menutup kepalanya dengan kain berbau solar. Aurelia sempat memanggil omnya sebelum sesuatu yang keras menghantam tengkuknya.
Ketika sadar, Om Hongwen sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya perjalanan panjang di lantai kendaraan, suara beberapa orang berbicara dalam bahasa yang tidak ia pahami, lalu kandang ini.
"Kak..."
Suara lirih dari sebelah kiri membuat Aurelia mengangkat kepala. Gadis yang menangis tadi tampak lebih muda darinya. Wajahnya kotor, rambutnya menempel di pelipis.
"Kita akan mati di sini?"
Jari-jari Aurelia mencengkeram telapak tangannya sendiri. Ia ingin menjawab tidak. Ia ingin memberi gadis itu sesuatu yang terdengar seperti harapan. Namun kebohongan terasa terlalu kejam di tempat yang bahkan tidak menyisakan jendela.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. Suaranya serak. "Tapi jangan habiskan tenagamu untuk menangis. Kalau mereka memberi air, minum pelan-pelan."
Gadis itu menutup mulut dengan bahu, berusaha mengecilkan isaknya.
Langkah sepatu terdengar dari tangga. Seketika semua suara lenyap.
Seorang penjaga turun sambil membawa ember. Ia menendang jeruji satu per satu, lalu mendorong mangkuk plastik berisi nasi kasar ke dalam kandang. Setengah botol air dilempar setelahnya. Botol itu membentur lantai dan menggelinding ke dekat kaki Aurelia.
"Makan."
Aurelia menatap nasi yang sebagian jatuh ke lantai. Baunya masam. Perutnya mual, tetapi tubuhnya bereaksi lebih dahulu. Air liur memenuhi mulutnya.
"Tolong buka ikatan tangan saya," katanya. "Saya tidak bisa makan."
Penjaga itu berhenti. Tatapannya turun ke wajah Aurelia, lalu ke tubuhnya yang terlipat di lantai.
"Kalau lapar, pakai mulut."
Tawa dua pria terdengar dari atas tangga.
Wajah Aurelia terasa panas. Ia menunggu sampai langkah mereka menjauh, kemudian merangkak mendekati mangkuk. Lututnya menyentuh lantai basah. Ia membungkuk, mengambil nasi sedikit demi sedikit dengan bibir.
Butirannya keras dan hambar. Beberapa menempel di pipinya. Ia menelan semuanya.
Hidup dulu.
Malu bisa dipikirkan nanti. Menangis juga bisa nanti. Selama ia masih bernapas, masih ada kemungkinan pulang. Papa dan Mama pasti sedang mencarinya. Ia hanya perlu bertahan sampai kesempatan sekecil apa pun muncul.
Beberapa jam kemudian, pintu besi di ujung ruangan dibuka lebar.
Empat penjaga turun. Rantai dilepas dari lantai, lalu para gadis diseret keluar dari kandang satu per satu. Gadis yang sejak tadi tidak bergerak ditarik pada pergelangan kaki. Kepalanya membentur jeruji dengan bunyi pelan, tetapi ia tetap tidak bereaksi.
"Yang ini?"
"C."
Tubuh itu diseret ke lorong kanan seperti karung kosong.
Aurelia tidak sempat menoleh lagi. Seseorang menarik rambutnya dan memaksanya berdiri. Kakinya kesemutan setelah terlalu lama tertekuk. Begitu ia tersandung, ujung tongkat menghantam punggungnya.
"Berdiri yang benar!"
Mereka dibariskan di bawah bohlam. Seorang pria bermata cekung berjalan di depan para gadis sambil mengangkat dagu mereka, memeriksa gigi, kulit, dan bentuk tubuh. Huruf-huruf disebutkan tanpa penjelasan.
"B."
"C."
"Yang itu B. Wajahnya lumayan, tapi terlalu kurus."
Ketika pria itu berhenti di depan Aurelia, jari kasarnya mencengkeram rahang Aurelia. Ia memalingkan wajah, tetapi cengkeraman itu semakin kuat.
"Putih. Giginya bagus. Tidak ada bekas di wajah." Pria itu menyeringai. "A."
Huruf itu jatuh seperti cap harga di dahinya.
Aurelia dibawa bersama tiga gadis lain ke ujung lorong. Salah seorang dari mereka berjalan pincang. Aurelia menahan lengannya ketika gadis itu hampir jatuh, tetapi penjaga segera menyabetkan tongkat ke jeruji di samping mereka.
"Jangan sok saling menolong!"
Di seberang lorong, sesuatu yang pucat menangkap mata Aurelia.
Sebuah peta tua dipaku miring pada dinding. Permukaannya menguning, tepinya menggulung, dan salah satu sudutnya retak karena udara lembap. Garis-garis tinta cokelat menyebar seperti pembuluh darah di atas kulit tua. Ada angka yang nyaris terhapus di bagian bawah.
1786.
Selama satu detik, ruang bawah tanah itu menghilang. Aurelia hanya melihat serat perkamen yang mengembang, noda air di sisi kiri, dan tinta besi yang mulai menggerogoti garis pesisir. Naluri yang dibentuk bertahun-tahun di ruang praktik kampus bekerja tanpa izin, mencari cara menyelamatkan benda rapuh itu.
Lalu rantai di kakinya ditarik.
Rasa sakit menyambar. Peta itu kembali menjadi benda asing di dinding rumah jagal manusia.
Keempat gadis didorong masuk ke ruangan lain. Tidak ada kandang di sana, hanya lantai semen, saluran pembuangan, dan bau kaporit yang tajam. Pintu ditutup dari luar.
Kunci berputar dua kali.
Gadis yang tadi dipapah Aurelia merapat ke dinding. "Kelas A itu apa?"
"Entahlah," bisik gadis lain.
Aurelia mendekati celah sempit di bawah pintu. Dua orang sedang menyeret gulungan selang tebal melewati lorong. Ujung selang itu dipasang pada katup besar di dinding. Salah satu penjaga memutarnya sedikit. Pipa bergetar, mengeluarkan dengung berat.
Gadis termuda memegang lengan Aurelia. "Itu buat apa?"
Aurelia menatap selang industri yang semakin dekat ke pintu mereka.
Tidak ada yang menjawab.
Bab 2: Selang Air
Jawabannya datang ketika pintu dibuka dan ujung selang diarahkan tepat ke dada mereka.
"Berdiri! Semua ke dinding!"
Keempat gadis belum sempat bergerak saat semburan air menghantam.
Tubuh Aurelia terlempar ke belakang. Bahunya membentur semen, lalu air bertekanan tinggi menyapu wajah dan lehernya. Dingin menembus kulit seperti ribuan jarum. Ia mencoba mengambil napas, tetapi air masuk ke hidung dan mulut. Di sampingnya, seseorang menjerit.
Penjaga yang memegang selang tertawa. Ia menggerakkan ujungnya perlahan, seolah sedang menyiram kandang hewan.
"Putar badan! Biar bersih semua!"
Gadis termuda meringkuk sambil menutupi dada. Semburan berikutnya mengenai kepalanya. Tubuh kecil itu terguling mendekati saluran pembuangan.
Aurelia merangkak dan menariknya ke sudut. Ia membungkuk di atas gadis itu, kedua lengan melindungi kepala mereka. Air menghantam punggungnya. Kain tipis yang menempel di tubuh tidak lagi memberi perlindungan apa pun. Luka di pergelangan kakinya terbuka lagi. Darah yang keluar segera larut menjadi garis merah muda di lantai.
"Jangan teriak," bisik Aurelia di antara gigi yang gemetar. "Tutup hidungmu."
Gadis itu mencengkeram pinggangnya erat-erat.
Semburan baru berhenti setelah jeritan berubah menjadi suara batuk dan isakan. Aurelia tetap membungkuk beberapa detik, menunggu pukulan air berikutnya. Yang datang hanya bunyi tetesan dari rambut dan pakaian mereka.
Empat gaun putih dilempar ke lantai basah.
"Ganti. Cepat."
Tidak ada handuk. Tidak ada ruang tertutup. Para penjaga berdiri di ambang pintu sambil mengawasi.
Aurelia mengambil salah satu gaun dengan tangan bergetar. Katun murah itu tipis, bagian jahitannya kasar. Saat dikenakan pada tubuh yang masih basah, kainnya menjadi hampir transparan. Ia melipat kedua lengan di depan dada, tetapi seorang penjaga memukul siku Aurelia dengan tongkat.
"Tangan di samping. Barang bagus harus kelihatan."
Aurelia menurunkan tangan. Kukunya menancap ke telapak.
Mereka dibawa keluar saat langit mulai terang. Setelah dua hari berada di bawah tanah, cahaya pagi terasa menyakitkan. Aurelia menyipitkan mata, mencoba mengenali tempat itu tanpa terlihat sedang mengamati.
Bangunan kayu berdiri di antara pagar kawat tinggi. Menara penjaga menjulang di empat sudut. Di luar pagar tampak hutan lebat yang diselimuti kabut. Tidak ada papan nama, tidak ada jalan raya, hanya tanah merah dan lelaki bersenjata.
Mereka menaiki tangga sebuah rumah panggung menuju teras lebar. Kursi rotan dan perangkat minum teh telah ditata di sana. Di dinding belakang tergantung peta tua yang sama seperti yang dilihat Aurelia di lorong bawah tanah. Entah kapan benda itu dipindahkan.
Seorang pria gemuk berusia sekitar empat puluhan berdiri di depan meja. Kemejanya bermotif mencolok, beberapa cincin emas memenuhi jarinya. Para penjaga yang tadi tertawa kini menunduk di hadapannya.
"Pak Basai, semuanya sudah siap," kata salah satu dari mereka.
Pak Basai melihat barisan gadis dengan mata seorang pedagang yang sedang memeriksa etalase. Tatapannya berhenti pada luka di kaki Aurelia.
"Kenapa yang itu berdarah?"
"Luka lama terbuka lagi, Pak."
Telapak tangan Pak Basai mendarat di wajah penjaga itu. Bunyi tamparannya membuat para gadis tersentak.
"Saya minta barang kelas A, bukan sampah rusak." Senyumnya kembali muncul begitu cepat, seolah kemarahan barusan tidak pernah ada. "Bersihkan lantainya. Tamu kita tidak suka kotor."
Penjaga itu mengangguk berkali-kali.
Aurelia menatap ujung kaki Pak Basai. Bukan karena patuh, tetapi karena ia tidak sanggup melihat wajah orang yang menyebut manusia sebagai barang.
Suara mesin terdengar dari balik pagar.
Semua orang di teras berubah tegang.
Pintu utama dibuka. Satu demi satu SUV lapis baja berwarna hitam memasuki halaman. Kendaraan-kendaraan itu bergerak dalam jarak yang rapi, tanpa klakson dan tanpa seorang pun berani menghalangi. Para penjaga di bawah teras spontan menurunkan senjata mereka.
Pak Basai mengusap keringat di pelipis, lalu bergegas turun dua anak tangga.
Pintu mobil tengah terbuka.
Sepasang sepatu bot militer hitam menginjak tanah merah. Seorang pria tinggi keluar dengan kemeja hitam berpotongan tegas. Wajahnya tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk tempat yang dipenuhi senjata. Di pinggangnya terpasang sarung pistol kulit. Gagang Walther PPK terlihat saat ujung kemejanya bergerak tertiup angin.
Seorang pria bersetelan abu-abu turun dari kursi depan dan berdiri setengah langkah di belakangnya.
"Selamat datang, Tuan Kwee." Pak Basai membungkuk dalam-dalam. "Perjalanan Tuan pasti melelahkan. Silakan minum teh dulu. Saya sudah menyiapkan sedikit hiburan."
Pria bernama Renard itu menaiki tangga tanpa menjawab. Bunyi sepatu botnya teratur, tidak cepat dan tidak lambat. Namun setiap kali ia melangkah, orang-orang di teras memberi jalan.
Aurelia tidak tahu siapa dia. Ia hanya tahu Pak Basai, yang mampu menampar orang tanpa berpikir, bahkan tidak berani berdiri tegak di depan pria itu.
Renard berhenti di dekat meja. Tatapannya melintasi barisan gaun putih seperti sedang melihat kursi-kursi kosong.
Pak Basai tertawa kecil. "Mereka baru datang. Masih muda, bersih, dan semuanya kelas terbaik. Kalau Tuan Kwee berkenan, pilih saja satu. Atau semuanya juga boleh."
Udara pagi terasa lebih dingin.
Renard bahkan tidak mendekat. "Aku tidak tertarik pada perempuan."
Hanya satu kalimat. Datar, tanpa jijik dan tanpa keinginan.
Senyum Pak Basai membeku sesaat. "Tentu, tentu. Saya hanya ingin menunjukkan rasa hormat. Kalau begitu, mari kita bahas jalur batu permata di dalam."
Renard berbalik.
Aurelia seharusnya ikut menunduk seperti gadis-gadis lain. Namun angka 1786 di sudut peta menarik matanya. Dari jarak ini, ia bisa melihat kerusakan yang tadi terlewat. Ada bekas lipatan lama di tengah, tinta besi yang berubah kecokelatan, dan garis pantai yang tidak cocok dengan peta modern. Benda itu bukan hiasan murahan. Jika asli, usianya lebih dari dua abad.
Bagaimana peta seperti itu bisa berada di tempat ini?
Untuk sepersekian detik, rasa ingin tahu menembus ketakutannya.
Saat itulah Renard menoleh.
Tatapannya melewati tiga gadis yang menunduk, lalu berhenti pada Aurelia. Bukan pada kain putih basah yang melekat di tubuhnya. Bukan pada luka di pergelangan kakinya. Ia mengikuti arah pandang Aurelia sampai ke peta di dinding.
Aurelia tersadar dan segera menunduk.
Jantungnya menghantam tulang rusuk.
Keheningan itu tidak sampai satu detik. Renard mengalihkan pandangan, lalu berjalan menuju ruangan dalam. Pria bersetelan abu-abu mengikutinya.
Pak Basai ikut masuk sambil terus membungkuk. "Silakan, Tuan Kwee. Semua dokumennya sudah saya siapkan."
Tak lama kemudian, pertemuan selesai. Renard menuruni tangga tanpa menoleh lagi. Pria abu-abu membuka pintu mobil untuknya, lalu masuk ke kursi depan. Konvoi hitam meninggalkan halaman dalam kesunyian yang sama seperti saat datang.
Baru setelah debu merah turun, Pak Basai berdiri tegak.
Senyum ramahnya lenyap.
"Bawa yang lain," katanya sambil menunjuk tiga gadis di samping Aurelia. "Yang tinggi ke kamar utama. Dua sisanya masukkan ke truk."
Gadis termuda memeluk lengan Aurelia. "Kak..."
Seorang penjaga menariknya paksa. Aurelia mencoba menahan, tetapi tongkat menekan luka di pergelangan kakinya. Lututnya langsung lemas.
"Yang ini bagaimana, Pak?"
Pak Basai menyipitkan mata ke arah Aurelia. "Pisahkan."
"Untuk apa?"
"Tuan Kwee melihatnya."
"Tapi beliau bilang tidak tertarik."
Pak Basai menampar belakang kepala penjaga itu. "Mata orang besar lebih jujur daripada mulutnya. Simpan dia sampai saya tahu nilainya."
Aurelia diseret ke ruangan kecil di belakang rumah panggung. Sebelum pintu ditutup, ia melihat gadis yang tadi dilindunginya didorong naik ke bak truk bersama seorang gadis lain. Tangis pecah dari balik terpal. Gadis ketiga dibawa menuju bangunan utama Pak Basai.
"Tolong! Jangan bawa dia!" Aurelia memukul pintu dengan bahu. "Kami tidak melakukan apa-apa!"
Kunci diputar dari luar.
Mesin truk menyala. Tangis yang terdengar dari halaman semakin jauh, lalu hilang di balik pagar.
Aurelia menyandarkan dahi pada pintu. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi di balik rasa bersalah dan takut, satu kesadaran dingin tumbuh perlahan.
Tatapan Renard yang bahkan tidak sampai satu detik telah memisahkan nasibnya dari tiga gadis lain.
Untuk sementara, ia baru saja lolos dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Bab 3: Kereta Api
Tangis dari truk sudah lama menghilang, tetapi telinga Aurelia masih mencarinya.
Ruangan tempat ia dikurung hanya sedikit lebih baik daripada kandang bawah tanah. Ada kasur tipis berbau lembap, ember air, dan jendela kecil yang dipasangi tiga batang besi. Pintu kayunya cukup tebal untuk meredam suara dari lorong, tetapi tidak cukup tebal untuk membuatnya lupa bahwa di luar sana ada orang-orang yang menentukan hidup dan mati sesuka hati.
Aurelia duduk di lantai dengan punggung menempel pada pintu. Gaun putihnya telah mengering dalam keadaan kusut. Setiap kali kain kasar menyentuh luka di pergelangan kaki, rasa perih membuat jari kakinya menegang.
Ia memejamkan mata.
Wajah gadis termuda itu muncul lagi. Tangannya yang mencengkeram lengan Aurelia. Suaranya ketika memanggil Kak sebelum ditarik pergi.
Seharusnya Aurelia merasa lega karena ia tidak ikut dimasukkan ke truk. Yang ia rasakan justru mual.
Malam berikutnya, gonggongan anjing terdengar dari halaman belakang.
Awalnya hanya satu. Lalu dua suara lain menyusul, berat dan agresif. Aurelia membuka mata. Cahaya lampu halaman masuk melalui jendela, membentuk tiga garis pucat di lantai.
Terdengar langkah berlari.
"Tangkap dia!"
Seorang perempuan menjerit di luar. "Tolong! Saya cuma mau pulang! Tolong!"
Aurelia berdiri terlalu cepat. Kepalanya berputar, tetapi ia tetap menyeret kaki ke jendela. Dari sela besi, ia melihat seorang gadis berlari tanpa alas kaki menuju pagar. Pakaiannya robek di bahu. Dua penjaga mengejar dari belakang, sementara seorang pria lain melepas rantai tiga anjing besar.
"Jangan," bisik Aurelia.
Gadis itu tinggal beberapa meter dari pagar ketika anjing pertama menerkam punggungnya.
Tubuhnya jatuh ke tanah.
Aurelia mundur, tetapi suara-suara dari luar tetap masuk. Teriakan. Gonggongan. Perintah agar penjaga tidak menembak karena Pak Basai ingin yang lain melihat akibatnya.
Jeritan itu berlangsung lama.
Lalu berhenti begitu saja.
Aurelia menjatuhkan diri di samping ember. Isi perutnya yang hanya berupa nasi masam keluar bersama cairan pahit. Ia muntah sampai tidak ada lagi yang tersisa, sampai perutnya kejang dan air mata mengalir tanpa suara.
Di luar, para pria tertawa saat menyeret sesuatu melintasi kerikil.
Malam itu Aurelia tidak tidur. Ia duduk di sudut yang tidak terlihat dari jendela dan menghitung setiap bunyi. Seorang penjaga berjalan melewati pintu kira-kira setiap dua puluh menit. Ada dua rangkaian kunci, satu berbunyi lebih berat dari yang lain. Setelah tengah malam, sebuah kendaraan keluar melalui gerbang timur. Menjelang subuh, tiga anjing dikembalikan ke kandang di sisi belakang.
Ia menyimpan semuanya di kepala.
Ketakutan bisa melumpuhkannya, tetapi mengamati adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.
Pagi berikutnya, pintu dibuka oleh seorang perempuan lokal bertubuh kecil. Usianya mungkin mendekati lima puluh. Ia membawa nampan berisi nasi, ikan asin, dan segelas air. Tidak seperti para penjaga, perempuan itu tidak menatap tubuh Aurelia. Ia hanya meletakkan makanan di lantai dan hendak pergi.
"Bu, tunggu."
Perempuan itu menoleh.
Bahasa Indonesianya terdengar terpatah-patah, diselingi kata-kata Melayu yang tidak Aurelia kenali.
"Maaf." Aurelia menurunkan suara. "Gadis-gadis yang kemarin dibawa pergi, mereka dibawa ke mana?"
"Tidak tahu."
"Yang masuk ke truk?"
Perempuan itu menggeleng cepat. "Makan saja. Jangan tanya."
Aurelia bergeser mendekat, tetapi tetap menjaga jarak. "Saya tidak akan bilang kepada siapa pun. Saya cuma ingin tahu apa yang akan mereka lakukan pada saya."
Tangan perempuan itu berhenti pada gagang pintu.
"Yang masuk rumah utama melayani Pak Basai," katanya akhirnya. "Yang lain ikut proses."
"Proses apa?"
Perempuan itu tidak menjawab.
"Apakah mereka dijual lagi? Dibawa ke tempat lain?"
Tatapan perempuan itu jatuh pada wajah Aurelia, lalu segera berpindah ke lorong. "Di sini orang bilang kereta api."
Aurelia menunggu penjelasan yang tidak kunjung datang. "Kereta api?"
"Banyak gerbong. Satu lewat, lalu yang lain." Perempuan itu meremas ujung bajunya. "Banyak laki-laki. Bergantian. Sampai perempuan tidak bisa bangun."
Ruangan mendadak terasa terlalu sempit.
Aurelia mundur hingga bahunya menyentuh dinding. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada udara yang masuk. Kini ia mengerti kenapa gadis-gadis di truk menangis seperti orang yang sedang dibawa menuju kematian.
"Kenapa saya tidak ikut?"
Perempuan itu menatap gaun putih Aurelia. "Kamu beruntung."
"Beruntung?"
"Tamu besar kemarin lihat kamu. Cuma sebentar, tapi Pak Basai lihat dia lihat." Perempuan itu menunjuk mata Aurelia, lalu ke arah rumah panggung. "Pak Basai simpan kamu. Siapa tahu tamu itu mau. Kalau tidak ada dia, kamu juga sudah ikut proses."
Wajah Renard muncul di ingatan Aurelia. Kemeja hitam. Sepatu bot yang tidak berhenti ketika semua orang menunduk. Gagang Walther PPK di pinggangnya. Tatapan singkat yang terasa begitu tidak berarti saat itu.
Ternyata tatapan itulah yang berdiri di antara dirinya dan truk kemarin.
"Siapa dia?" tanya Aurelia. "Tamu itu siapa?"
Perempuan tersebut tampak ketakutan hanya karena pertanyaan itu. "Jangan cari tahu."
"Namanya Renard?"
"Diam." Perempuan itu melirik lorong sekali lagi. "Kalau Pak Basai tahu saya bicara, saya habis."
Aurelia melihat memar lama di pergelangan tangan perempuan itu. Ia menelan pertanyaan berikutnya.
"Terima kasih," katanya.
Perempuan itu tidak membalas. Ia keluar dan mengunci pintu dari luar.
Nasi di lantai sudah dingin ketika Aurelia menyentuhnya. Bau ikan asin membuat perutnya berbalik, tetapi ia memaksa diri mengambil suapan pertama.
Renard bukan penyelamatnya. Ia bahkan tidak berhenti untuk berbicara. Namun di tempat ini, perhatian seorang pria asing yang bersenjata telah menjadi satu-satunya pelindung yang Aurelia miliki.
Kesadaran itu lebih menakutkan daripada rasa lapar.
Dua hari berikutnya berjalan tanpa bentuk. Cahaya di jendela berubah dari pucat menjadi terang, lalu kembali gelap. Perempuan yang sama datang membawa makanan, tetapi tidak pernah bicara lagi. Dari luar terdengar tangis, bentakan, mesin truk, dan sesekali musik keras dari rumah utama.
Aurelia makan setiap butir nasi yang diberikan. Ia membersihkan lukanya dengan sedikit air. Ia menghitung langkah penjaga, mencatat waktu pergantian sif, dan mengingat arah kendaraan.
Setiap kali tubuhnya ingin menyerah, ia membayangkan Mama menunggu balasan pesan yang tidak pernah datang. Papa mungkin sedang menghubungi teman-temannya satu per satu. Mereka pasti belum tahu sejauh apa Om Hongwen telah membawanya.
Aku harus pulang.
Bukan harapan besar. Hanya kalimat pendek yang diulangnya setiap kali pintu terkunci.
Pada pagi kelima, baki makanan tidak muncul.
Yang datang adalah dua penjaga laki-laki.
Kunci berputar. Aurelia segera berdiri, meski lututnya lemas karena terlalu lama duduk.
"Keluar," kata salah satu dari mereka.
"Mau dibawa ke mana?"
Pria itu mencengkeram lengannya. "Halaman. Hari ini ada kegiatan."
Kata kegiatan seharusnya terdengar biasa. Di tempat itu, kata tersebut membuat darah Aurelia terasa berhenti mengalir.
"Kegiatan apa?"
Penjaga kedua menyeringai sambil membuka pintu lebih lebar.
"Nanti juga kamu lihat."
Aurelia sempat menahan kusen, tetapi pukulan pada punggung tangannya membuat jarinya terlepas.
Ia ditarik keluar sebelum sempat bertanya lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!