Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

1. Seroja Ningsih

"Kalian angkat kaki sekarang! Bawa barang kalian, dan jangan pernah menginjak tanah desa lagi! Rumah ini tertutup untuk perempuan buangan!"

Suara parau Carik desa membelah derit roda dokar yang beradu dengan jalan berbatu. Kainara Seroja Putri membuka mata perlahan, menahan pusing yang menghantam pelipis akibat guncangan keras.

Lembur berhari-hari dan tekanan pekerjaan telah menguras tubuhnya. Serangan jantung mendadak merenggut hidupnya di usia tiga puluh tahun.

Namun, bukannya menemukan akhir, ia justru terbangun di tempat asing.

Debu jalanan dan bau keringat kuda langsung memenuhi hidungnya. Seroja menunduk menatap kedua tangannya. Jari-jari kecil itu kasar, dipenuhi bekas luka goresan. Tubuhnya terbalut kebaya kusam dan kain lurik yang warnanya telah memudar.

Lalu ingatan lain mengalir masuk.

Kehidupannya sebagai Kainara menyatu dengan kenangan Seroja Ningsih, gadis desa berusia delapan belas tahun pada tahun 1972. Perpaduan dua ingatan itu membuat kepalanya berdenyut hebat.

Di sampingnya, Siti duduk membungkuk di atas dokar. Perempuan tiga puluh delapan tahun itu memeluk selendang batiknya erat, berusaha menahan tubuhnya yang bergetar mengikuti guncangan roda. Ia tidak menangis keras, hanya menyimpan isak kecil yang sesekali lolos.

Siti adalah ibunya sekarang. Seorang perempuan lembut yang dibuang oleh suaminya sendiri.

Seroja menelan ludah. Sisa kesedihan pemilik tubuh ini masih terasa menyesakkan dadanya. Hardiman, ayah kandungnya, mengusir mereka dari rumah utama demi istri barunya. Tubuh ini bahkan sempat menangis hingga pingsan saat diseret keluar halaman setengah jam lalu.

Mungkin saat tubuh ini kehilangan kesadaran, jiwa Seroja benar-benar telah pergi, lalu takdir mempertemukan raga itu dengan jiwa Kainara. Jika memang begitu, ia akan menjalani hidup sebagai Seroja dan menjaga orang-orang yang ditinggalkan gadis itu.

Namun, meratapi Hardiman tidak akan mengubah apa pun. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana agar mereka bisa bertahan hidup dan makan esok pagi.

Dokar terus berguncang menyusuri jalan menanjak. Debu putih beterbangan hingga membuat Seroja terbatuk. Perutnya kembali melilit, kosong sejak pagi.

Di kursi depan, Carik desa memangku radio transistor. Lagu "Angin Laut" dari Koes Plus mengalun lirih, kontras dengan suasana muram di atas dokar.

"Dengar ini, Ti," ujar Carik sambil menoleh dengan senyum merendahkan. "Pak Hardiman sudah berbaik hati mencarikan tempat buat kalian. Gubuk di pinggir Hutan Jati itu masih bisa ditempati. Daripada luntang-lantung di pasar jadi pengemis, ya to?"

Siti hanya menunduk semakin dalam. Jemarinya mencengkeram selendang batik hingga memutih.

"Nggih, Pak Carik. Saya terima."

Hati Seroja terasa sesak. Bagi perempuan pada masa ini, diusir suami adalah aib yang nyaris tak tertanggungkan. Ia menggeser duduknya, lalu menggenggam erat tangan ibunya yang kasar.

"Ibu jangan menangis lagi," bisiknya pelan. "Kita masih punya tangan untuk bekerja. Selama kita mau berusaha, kita tidak akan kelaparan."

Siti menoleh. Air matanya menetes membasahi punggung tangan Seroja. Dengan jemari gemetar, ia mengusap pipi putrinya.

"Seroja... maafkan Ibu. Ibu gagal mempertahankan rumah kita. Besok pagi Ibu akan memohon supaya kamu boleh kembali tinggal di rumah utama. Biar Ibu saja yang tinggal di Hutan Jati."

Seroja menggeleng tegas sambil menggenggam tangan Siti lebih erat.

"Tidak ada yang akan memohon pada Hardiman. Selama kita masih bersama, kita masih punya rumah. Seroja tidak akan meninggalkan Ibu."

Carik desa di depan terkekeh sinis.

"Gampang sekali bicaramu, Nduk. Tanah di Hutan Jati itu tandus. Singkong saja susah hidup, apalagi padi. Memangnya kalian mau makan batu?"

Tanpa melepaskan tangan ibunya, Seroja menatap punggung pria itu.

"Selama masih punya dua tangan, kami tidak akan membiarkan diri kami kelaparan, Pak."

Carik desa mendengus.

"Kita lihat saja sebulan lagi. Paling ibumu balik ke rumah Pak Hardiman, minta sisa nasi basi."

Seroja membalas tatapannya tanpa gentar.

Entah mengapa, Carik desa yang semula menyeringai justru kehilangan kata-kata. Ia berdeham canggung, memalingkan wajah, lalu kembali mengarahkan kudanya.

Seroja memejamkan mata, membiarkan suara roda kayu membawa mereka semakin jauh dari desa. Perlahan, rencana bertahan hidup mulai tersusun di kepalanya.

Mereka membutuhkan air bersih, makanan, dan kayu bakar sebelum malam tiba. Setelah sampai, ia harus memeriksa kondisi gubuk, mencari sumber air, lalu menentukan apa yang masih bisa ditanam di tanah itu.

Matahari sore menyengat kulit ketika dokar akhirnya berhenti dengan hentakan kasar di sebuah tanah lapang.

"Turun," perintah Carik sambil mematikan radio transistor.

Siti turun dengan susah payah sambil memanggul buntalan pakaian usang. Di hadapan mereka berdiri sebuah gubuk yang nyaris roboh. Atap rumbianya berlubang, dinding bambunya lapuk dimakan rayap, dan pekarangannya kering berbatu tanpa tanda adanya sumber air.

Carik desa berdiri sambil berkacak pinggang, memandang tempat itu dengan jijik. Ia merogoh saku celananya, lalu melempar dua lembar uang lusuh ke tanah berdebu di dekat kaki Seroja.

"Itu dari Pak Hardiman untuk membeli beras. Pesannya jelas."

Ia mengarahkan telunjuk ke arah Seroja.

"Jangan kembali ke desa. Kalau kalian terlihat berkeliaran di sekitar sana, saya sendiri yang akan menyeret kalian ke polisi dengan tuduhan mengganggu ketertiban."

Seroja menunduk menatap dua lembar uang lima rupiah di tanah. Jemarinya mengepal.

Sepuluh rupiah di masa ini bahkan hanya cukup membeli sedikit beras.

Ia menarik napas perlahan, memaksa tubuhnya berhenti gemetar. Ketakutan yang tersisa ia tekan dalam-dalam, lalu berdiri tegak.

Seroja mengangkat wajah.

"Ambil kembali uang itu, Pak Carik."

Suaranya pelan, tetapi ketegasannya terdengar jelas di tengah pekarangan yang sunyi.

Carik mengernyit. "Jangan sombong, Nduk. Tanpa uang itu, kalian tidak akan punya makanan malam ini."

"Saya bilang, pungut uang itu."

Seroja melangkah maju dan menatap lurus pria di hadapannya.

"Sampaikan kepada Hardiman, hidup kami bukan urusannya lagi. Kami tidak membutuhkan belas kasihan dari orang yang merampas hak keluarga kami."

Wajah Carik memerah menahan amarah. Tangannya mengepal, lalu terangkat hendak melayangkan tamparan.

"Seroja!" jerit Siti panik.

Namun, Seroja tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap mata Carik dengan tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.

Rahang Carik mengeras menahan amarah. Ia menghitung risiko dalam kepalanya. Jika ia benar-benar memukul gadis itu dan warga sekitar mengetahui masalah ini, perkara tanah warisan bisa kembali terbuka.

Kepuasan sesaat tidak sebanding dengan masalah yang mungkin muncul.

Dengan dengusan kesal, ia menurunkan tangannya.

"Anda bisa pergi sekarang, Pak," ujar Seroja tetap tenang.

Carik menghentakkan kaki ke tanah berdebu, menahan malu karena harus mundur.

"Kita lihat berapa lama mulut besarmu bisa memberi makan perutmu. Nanti kalian sendiri yang akan merangkak memohon untuk kembali!"

Ia berbalik, lalu naik ke dokar. Tali kendali ditarik, kuda bergerak meninggalkan batas hutan.

Dari atas dokar yang terus bergerak menjauh, Carik menoleh ke belakang. Ia meludah ke batas pekarangan.

"Ingat! Jangan berani mengemis ke desa!" teriaknya, suaranya bercampur dengan derit roda yang semakin jauh.

Angin sore menyibakkan rambut Seroja. Gadis itu tetap berdiri tegak di depan gubuk, menatap dokar yang perlahan menghilang di balik kepulan debu.

Ketika suara roda akhirnya lenyap, Seroja mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi menegang perlahan mengendur.

Di belakangnya, Siti masih berlutut memunguti buntalan pakaian yang berserakan. Tangannya gemetar begitu hebat hingga beberapa helai kain kembali terjatuh.

Seroja menghampiri tanpa tergesa. Ia melepas alas kaki, lalu menjejakkan kaki telanjang ke tanah halaman yang keras dan kering.

Saat telapak kaki telanjangnya menyentuh tanah gersang itu, sensasi aneh menjalar dari tumit hingga ke kepala. Pelipisnya berdenyut ringan. Pandangannya sempat berkunang-kunang.

Lalu, sebuah layar transparan biru muda muncul di hadapannya.

LADANGKU — Level 1

XP: 0/100

Coin: 100

SELAMAT DATANG, PETANI!

Anda berada di Level 1. Enam Petak Riset telah terbuka. Mulailah riset pertamamu!

Langkah Seroja terhenti. Ia berkedip beberapa kali, memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi.

Layar itu tetap ada. Menu sederhana muncul di dalamnya: Gudang, Toko, dan Petak Riset.

Tidak ada penjelasan lain.

Seroja mengenal tampilan itu.

Ini adalah game yang sering dimainkan Kainara untuk mengisi waktu di sela rutinitasnya yang padat. Game pertanian yang seharusnya hanya ada di ponsel, kini ikut terbawa bersamanya ke tahun 1972.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat.

Tanah tandus ini bukan akhir. Ini adalah awal.

2. Menolak Berdiam Diri

"Maafkan Mas, Ti. Mas cuma orang miskin, tidak punya kuasa melawan orang-orang balai desa itu."

Suara berat Pakde Prasetyo memecah keheningan malam pertama di gubuk reyot itu. Pria berusia empat puluh dua tahun tersebut meletakkan sebuah cangkul tua di sudut ruangan berlantai tanah. Bahunya yang terbiasa memikul beban berat tampak merosot. Wajahnya tertunduk, sengaja menghindari tatapan Siti.

Lampu petromaks pinjaman bersinar redup. Cahayanya mencetak bayangan di dinding anyaman bambu yang berlubang. Angin malam menerobos masuk, membawa hawa dingin pinggiran Hutan Jati yang menusuk rusuk.

Siti duduk bersimpuh di atas tikar pandan tipis. Perempuan itu menyeka sudut matanya yang basah. "Ini bukan salah Mas. Hardiman yang berhati batu. Mas sudah sudi menengok kami ke sini, saya sudah sangat bersyukur."

Seroja duduk terdiam di samping ibunya. Ia mengamati pamannya itu lekat-lekat. Pakde Prasetyo adalah kakak Siti, putra kandung Nenek Warni dan mendiang Kakek Hadi. Pria itu pekerja keras yang setia pada keluarga, tetapi terlalu lurus dan kaku untuk menghadapi kelicikan birokrasi pejabat kecamatan.

"Makan dulu, Nduk. Perut kosong membuat pikiran jadi gelap." Nenek Warni menyela dengan suara seraknya yang menenangkan.

Perempuan berusia enam puluh dua tahun itu meletakkan sebuah piring seng berkarat di tengah-tengah mereka. Di atasnya menumpuk tiwul, olahan singkong kering yang lazim mengisi perut rakyat pinggiran. Tidak ada sayur pendamping, tidak ada lauk pauk. Nenek Warni hanya menaburkan sejumput garam kasar di atas gundukan kecokelatan itu.

Seroja menatap piring seng tersebut. Rasa lapar melilit lambungnya bertubi-tubi. Ia mengambil sejumput tiwul menggunakan jari, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Teksturnya kasar, alot, dan terasa seret di lehernya, butuh otot rahang yang gigih untuk mengunyahnya. Rasa asin garam adalah penolong darurat agar makanan itu bisa melewati tenggorokannya yang kering. Ingatan Kainara tentang makan malam mewah di restoran jadi terasa asing, tergantikan oleh realitas pahit dihadapannya untuk bertahan hidup.

"Tanah di luar sana tandus, Mas," bisik Siti di sela kunyahannya yang lambat. "Tadi sore saya lihat halamannya dipenuhi batu. Sumurnya juga airnya dangkal. Bagaimana kita bisa menyambung hidup besok?"

Pakde Prasetyo menghela napas panjang hingga dadanya naik turun tajam. Ia mengusap wajah kasarnya dengan telapak tangan berkapalan. "Itu masalah besarnya, Ti. Menanam apa pun di sini sama saja membuang keringat percuma. Bapak dulu pernah mencoba menanam singkong saat krisis pangan, daunnya menguning layu sebelum umbinya jadi. Air sumur di belakang sana juga payau kalau musim kemarau begini."

"Gusti Allah tidak tidur, Yo," potong Nenek Warni bernada suara tenang. Perempuan tua itu membelai rambut Seroja dengan tangannya yang keriput namun hangat. "Selama kita masih diberi napas, selalu ada jalan hidup yang dibukakan."

Momen kecil itu mengirimkan aliran kehangatan ke dada Seroja. Usapan pelan tangan Nenek Warni meredakan sisa ketegangan otot akibat insiden pengusiran tadi siang. Keluarga ini memang minim harta, tetapi mereka memiliki empati untuk saling merangkul. Sesuatu yang langka ia temukan di dunia kompetitif masa lalunya.

Seroja menelan sisa tiwul di mulutnya, lalu menatap lurus ke arah pamannya. "Besok pagi, tolong ajarkan Seroja mencangkul, Pakde."

Prasetyo mengangkat wajahnya terkejut. Ia menatap keponakannya dengan kening berkerut dalam. "Tanganmu kecil, Nduk. Kamu biasa menyapu rumah utama, tidak pernah turun ke ladang. Kulitmu bisa melepuh. Biar Pakde saja yang bersihkan halaman besok, meski Pakde Ndak yakin tanah itu bisa ditanami."

"Pakde punya lahan garapan sendiri di sawah milik Pak Lurah," balas Seroja tegas. "Keluarga ini tidak boleh bergantung selamanya pada tenaga pakde. Seroja yang akan mengurus tanah tandus ini."

Prasetyo terdiam. Ia menatap mata keponakannya. Anak perempuan yang biasanya penakut dan sering bersembunyi di balik punggung Siti itu mendadak memiliki sorot keberanian yang sulit ditebak. Pria itu mengalah, lalu mengangguk pelan menyetujui permintaannya.

Malam beranjak kian larut. Suara jangkrik bersahutan riuh dari arah pepohonan. Siti dan Nenek Warni sudah terlelap kelelahan di atas tikar, saling berbagi kain tipis mencari sisa kehangatan. Prasetyo telah pamit pulang satu jam lalu ke desanya.

Seroja membuka matanya perlahan. Ia bangkit beringsut, bergerak hati-hati memastikan langkahnya tidak membangunkan sang ibu. Ia menyelinap keluar gubuk, membiarkan angin dingin langsung menampar wajahnya. Halaman gubuk itu remang. Hanya ada temaram rembulan separuh yang menembus sela-sela ranting pohon jati.

Gadis itu berjongkok di tengah pekarangan. Ia mengambil segenggam tanah berbatu. Teksturnya keras, rapuh, dan berdebu. Prasetyo memiliki alasan kuat untuk pesimis. Tanah tandus ini miskin unsur hara mikro, tidak bisa menyimpan air, dan mampu mempertahankan akar tanaman muda yang rentan. Ia butuh keajaiban malam ini juga.

Seroja menepis debu dari tangannya. Ia memusatkan fokus pikirannya.

Layar transparan biru muda berkedip dua kali, lalu muncul mengambang di udara menantang jarak pandangnya.

LADANGKU, Level 1

XP: 0/100

Coin: 100

Seroja menatap enam petak virtual yang kosong berbaris di layar tersebut. Ia menggeser fokusnya menelusuri menu Petak Riset. Ia butuh komoditas benih tangguh guna menembus pertahanan kondisi tanah ini. Sayuran berdaun hijau adalah taktik agrikultur paling masuk akal. Masa panennya ringkas, permintaannya di lapak pasar kecamatan selalu menanjak tajam setiap pagi.

Sebuah notifikasi sistem muncul menyapanya.

"🌿 Benih Sawi | ⏱ 10 menit | 📦 Benih Sawi Unggul Tahan Kekeringan (50 biji) | 💰 Gratis. [MULAI RISET] [BATAL]"

Seroja menjatuhkan keputusannya pada opsi mulai tanpa membuang waktu.

Di dalam salah satu petak virtual bergaris hijau itu, sebuah ikon tunas menyala. Angka digital penghitung waktu mundur berdetak, petak 1 menampilkan waktu 08:42.

Sambil menunggu proses riset virtual itu berputar, Seroja menolak berdiam diri. Ia melangkah mendekati sudut gubuk, meraih cangkul tua bergagang kayu jati peninggalan pamannya. Ia berjalan tegap merapat ke area dekat dinding sumur dangkal. Berbekal tenaga seadanya, ia mulai mengayunkan cangkul, menyingkirkan batu-batu kapur seukuran kepalan tangan yang berserakan menutupi lapisan tanah.

Ia melempar serpihan batu itu ke pinggir pembatas halaman, menyisakan area tanah seluas satu meter persegi hasil kerjanya. Napasnya memburu terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Telapak tangannya panas tergesek serat gagang kayu yang kasar, tetapi ia menelan keluhannya.

Sebuah dering berfrekuensi pelan berdenting halus di benaknya.

"✅ RISET SELESAI — 🌿 Benih Sawi Unggul Tahan Kekeringan, 50 biji. Tersimpan di Gudang (1/50). [EKSTRAK BENIH FISIK] [SIMPAN]"

Seroja memilih opsi ekstrak benih fisik. Sensasi hangat menyengat lembut mengalir di telapak tangan kanannya. Udara malam berdesir sejenak mengiringi proses transmutasi itu. Saat jarinya membuka perlahan, sebuah kantong kain kecil berwarna cokelat berserat tebal sudah bersandar di telapaknya.

Ia melonggarkan tali pengikat kantong tersebut. Lima puluh butir benih sawi berwarna hitam pekat. Wujudnya lebih bulat padat dengan struktur cangkang tebal dibandingkan dengan benih pasaran yang biasa ia temui.

Benih unggul tetap butuh pelengkap. Tanah tandus ini harus diberi nutrisi. Seroja kembali menatap deretan menu antarmuka holografiknya. Ia masuk ke opsi Toko. Menukar sisa seratus koin pemula yang ia pegang, ia menebus sebotol formula pertanian dasar.

Sebuah botol kaca seukuran ibu jari mendadak muncul di tangan kirinya. Botol itu mengemas cairan hijau pekat. Label virtual di sampingnya menampilkan deskripsi "Nutrisi Penyubur". Cairan ini berisi konsentrat bakteri pengurai dan ragi fermentasi pencipta unsur hara organik.

Seroja segera merapatkan lututnya, mencungkil tanah gembur hasil cangkulannya membentuk lubang-lubang sejajar berjarak sepuluh sentimeter. Ia menjatuhkan benih-benih kokoh itu satu per satu dengan teliti. Menempatkannya dangkal di bawah permukaan, lalu menutupnya rapat menggunakan debu tanah kapur.

Usai barisan benih tertanam, ia bergegas menarik seember air dari kedalaman sumur. Air payau itu mengigit kulit karena dingin. Seroja membuka sumbat gabus botol kaca kecilnya, menuangkan perlahan dua tetes cairan nutrisi penyubur ke dalam genangan ember seng. Air sumur beriak merespons, merubah warna aslinya menjadi kehijauan bening sambil melepaskan aroma manis yang samar tercium.

Seroja menciduk air campuran itu, mengangkat lengannya, dan menyiramkannya secara merata pada petak tanah kering tempat calon sawinya.

Begitu air menyentuh tanah kapur kerontang, sebuah reaksi mengejutkan terjadi di depan matanya. Tanah gersang yang memutih pucat itu bereaksi menggelap berubah wujud menjadi bongkahan cokelat basah. Uap bersuhu hangat mengepul dari retakan tanah. Aroma tanah tandus tergeser oleh aroma basah humus hutan tropis yang padat nutrisi.

Seroja menahan napasnya. Ia berjongkok makin dekat, mengamati permukaan tanah.

Kulit pelindung benih sawi itu pecah beberapa saat setelahnya. Tunas hijau pucat merobek permukaan tanah gembur, dua helai daun bertangkai mungil melipat terbuka.

Gadis itu bangkit, lalu menepuk sisa lumpur yang menempel di lutut kain luriknya. Ia menoleh ke arah timur. Langit mulai berubah menjadi kelabu kebiruan, pertanda pagi tak lama lagi tiba. Danu, sepupu dari pihak ibunya, berjanji datang saat fajar untuk membantu memindahkan sisa barang. Seroja akan menyiapkan banyak pekerjaan yang bisa langsung mereka kerjakan begitu pemuda itu tiba.

3. Butuh Lebih Banyak Kesabaran

"Ini bibit sawi? Tumbuh semalam di tanah tandus begini?"

Suara bariton Danu memecah sunyi pagi di pinggir Hutan Jati. Pemuda dua puluh tahun itu berjongkok di tepi pekarangan, menatap deretan tunas hijau pucat yang baru menyembul dari tanah gembur. Matanya membelalak lebar, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Danu, putra sulung Pakde Prasetyo, mewarisi tubuh kekar khas petani. Sejak subuh ia sudah datang membawa segulung tali ijuk, siap membantu memindahkan sisa bongkahan kapur yang masih berserakan di halaman.

Seroja berdiri di ambang pintu gubuk, memegang cangkir seng berisi air hangat. Gadis itu tersenyum tipis. "Kakek Hadi dulu pernah bilang, tanah ini cuma butuh lebih banyak air dan kesabaran, Mas Danu. Aku menyiramnya pelan-pelan semalaman."

Seroja berbohong tanpa ragu. Ia memilih menyimpan rapat rahasia nutrisi penyubur dari sistemnya. Mana mungkin ia menjelaskan keberadaan layar digital di zaman ini? Orang-orang pasti menganggapnya gila atau kerasukan roh jahat.

Danu berdiri sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung lengan. Ia tidak banyak bertanya. Baginya, melihat tanaman bisa tumbuh di tanah buangan ini saja sudah menjadi secercah harapan baru bagi bibi dan sepupunya.

"Mas Danu, minum dulu," kata Seroja sambil menyodorkan cangkir seng itu.

Pemuda itu menerimanya, menenggak air hangat dalam satu tarikan napas panjang. "Kamu tidak perlu repot ke ladang, Seroja. Biar tanganku saja yang kotor. Mas akan bangun pagar bambu keliling hari ini, supaya anjing liar tidak merusak sawimu."

Hati Seroja menghangat. Danu selalu menjadi orang yang berdiri melindungi keluarga mereka. Meski hanya sempat mengenyam bangku sekolah dasar, ia tak pernah berhitung jika keluarganya membutuhkan bantuan.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikelilingi rekan kerja yang saling menikam demi jabatan. Di kehidupan ini, meski hidup serba kekurangan, ia justru menemukan keluarga yang rela mengorbankan tenaga tanpa mengharap balasan.

Siti keluar dari dapur darurat sambil membawa tampah berisi singkong rebus. Baru saja hendak menyapa keponakannya, bentakan kasar dari arah jalan memotong ucapannya.

"Heh! Penghuni gubuk reyot! Keluar kalian!"

Dua pria bertubuh gempal melangkah begitu saja ke pekarangan. Kemeja katun mereka kusam dengan beberapa kancing dada terbuka, memperlihatkan kaus dalam lusuh dan kalung akar bahar. Sarung kotak-kotak tersampir sembarangan di leher, sementara bau tembakau murahan menyengat di udara pagi.

Danu langsung maju, berdiri di depan Siti dan Seroja. Ia mengenali kedua pria itu. Jono dan Kardi, anak buah Paman Supri. Supri sendiri adalah kakak tiri Hardiman sekaligus tangan kanan pejabat desa yang menguasai keamanan dan pasar kecamatan.

"Mau apa kalian pagi-pagi ke mari?" geram Danu. Urat di lehernya menegang menahan amarah.

Jono, pria bercodet panjang di pipi kiri, meludah sembarangan di dekat kaki Danu. "Jangan galak-galak, Danu. Kami cuma menjalankan perintah Kang Supri. Bibimu numpang di tanah desa, jadi mulai sekarang harus bayar sewa tanah liar."

Siti sontak mencengkeram lengan Seroja. "Sewa? Kula tidak pernah dengar aturan seperti itu, Jono. Ini pinggir hutan, bukan tanah kas desa."

"Aturannya baru dibuat subuh tadi. Khusus buat kalian!" Jono terkekeh. "Bayar lima ratus rupiah sekarang. Kalau tidak, gubuk ini kami bakar, lalu kalian tidur di jalan."

Darah Siti serasa mengalir turun. Lututnya melemas. Lima ratus rupiah bukanlah jumlah yang mungkin mereka bayar. Dengan uang sebesar itu, seseorang bahkan bisa membeli puluhan kilogram beras. Tuntutan itu jelas bukan soal sewa, melainkan cara mengusir mereka.

"Lima ratus rupiah?" bentak Danu. Suaranya menggema hingga kawanan burung jati beterbangan. "Kalian mau memeras janda miskin! Jangankan lima ratus rupiah, serupiah pun bibiku tidak punya!"

Jono mengangkat tongkat bambu di tangannya, lalu menepukkannya ke telapak tangan kiri. "Kalau begitu, kami ratakan gubuk ini sekarang juga."

Danu membungkuk cepat dan menyambar gagang cangkul tua yang tergeletak di tanah. Ia berdiri tegak dengan cangkul siap diayunkan. "Coba langkahkan kaki kalian satu langkah lagi. Kepala kalian kubelah!"

Suasana seketika menegang. Jono menggenggam tongkatnya lebih erat, siap menyerang.

"Mas Danu, tahan."

Suara Seroja tidak keras, tetapi cukup membuat Danu menoleh. Gadis delapan belas tahun itu melangkah melewati punggung lebar sepupunya tanpa sedikit pun terlihat gentar.

Pikiran Kainara bekerja cepat. Menghadapi orang seperti ini dengan emosi hanya akan memperkeruh keadaan. Yang ia butuhkan adalah menemukan titik lemah mereka.

Tatapannya beralih dari Jono ke Kardi. Jono terus berceloteh sambil memancing emosi. Sebaliknya, Kardi justru tampak gelisah. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangan kirinya terus menekan perut bagian atas. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek, dan keringat dingin membasahi pelipis meski udara pagi masih menusuk.

Kardi bukan sedang bersiap menyerang. Ia sedang menahan sakit. Dari cara pria itu membungkuk sambil menekan perutnya, Seroja menduga penyebabnya adalah asam lambung akut atau kejang lambung.

Seroja menunduk menatap rumput liar di dekat kakinya.

Layar transparan biru muda kembali muncul di sudut penglihatannya.

"🔍 Analisis Tumbuhan | Daun Patikan Kebo liar"

"Kandungan: Getah mengandung alkaloid alami."

"Efek: Membantu meredakan kejang lambung dan menenangkan asam lambung akut."

Tanpa ragu, Seroja mencabut segenggam patikan Kebo yang didaerah ini dikenal sebagai daun pati'an beserta akarnya, lalu membersihkan sisa debu kapur yang menempel.

"Ibu, minta air hangat di cangkir tadi."

Meski bingung, Siti segera menuangkan sisa air rebusan dari ceret seng. Seroja meremas daun dan batang pati'an hingga lumat, lalu mencampurkannya ke dalam air hangat dan mengaduknya dengan jari.

Air bening itu berubah keruh kehijauan.

Seroja membawa cangkir itu menghampiri kedua preman. Ia melewati Jono begitu saja dan berhenti tepat di depan Kardi.

"Lambungmu mulai melilit sejak lewat tengah malam, Pak Kardi."

Kardi sontak menatapnya. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar.

"Asam lambungmu sudah naik sampai ke kerongkongan. Itu sebabnya napasmu pendek dan keringat dinginmu terus keluar. Kau tetap memaksakan diri datang ke sini karena takut pada Supri."

Jono langsung menoleh. "Kau sakit, Di?"

Kardi tetap diam. Lututnya mulai goyah, sementara tangannya makin kuat menekan perut.

Seroja mengangkat cangkir seng itu ke hadapannya.

"Minum."

Suaranya pelan, tetapi tegas.

"Dalam lima belas menit rasa sakitmu akan berkurang. Kalau tidak percaya, buang saja, tapi kalau dibiarkan, kau bisa tumbang di sini sebelum setengah jam."

Tatapan Kardi terpaku pada cangkir di depannya. Aroma daun liar itu memang langu, tetapi rasa sakit di perutnya jauh lebih menyiksa. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengulurkan tangan.

"Jangan diminum, Di!" bentak Jono sambil menepis tangan rekannya. "Siapa tahu itu racun! Bocah itu mau membunuh kita!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!