Pagi ini terasa sangat dingin. Air hujan sisa semalam masih menetes pelan. membuat Hawa betah bergelung dibawah selimut tebalnya. Tanpa terusik suara Ibu yang memanggil dari luar kamar.
"Hawa, bangun nak, waktunya sekolah!" teriakan Ibu menggema keseluruh penjuru rumah. Ibu sibuk berkutat didapur menyiapkan sarapan.
Hawa mengerjapkan matanya berulang-ulang hingga kantuknya hilang. Meregangkan badannya "Aargh,, iya Bu,, Hawa udah bangun,," seru Hawa. Hawa pun bergegas ke kamar mandi dan segera mandi. Setelah selesai Hawa kedapur untuk sarapan bersama Ibunya.
Karena pagi-pagi Ibunya harus segera berangkat bekerja, sedangkan Hawa kesekolah. Setiap hari mereka selalu sarapan bersama. Karena bagi Ibu dan Hawa sarapan itu sangat penting. Setelah selesai sarapan Hawa langsung membantu mencuci piring bekas mereka makan. Sedangkan Ibu membereskan lauk dimeja makan. setelah semuanya selesai mereka keluar rumah siap untuk berangkat dengan kegiatannya masing-masing.
"Hawa berangkat sekolah dulu Bu,," ucap Hawa sambil mencium tangan ibunya.
"Iya nak, hati-hati ya, Ibu juga mau berangkat bekerja." sahut Ibu sambil mengelus kepala anak gadisnya itu dengan sayang.
Akhirnya Hawa berangkat sekolah dengan naik angkutan umum yang lewat gang depan rumahnya. Sedangkan Ibunya naik sepeda Ontel kesayangannya menuju kampung sebelah tempatnya bekerja sebagai penjahit baju. Karena Bapak sudah lama meninggal.
Ibu adalah wanita terhebat yang dipunyai Hawa, oleh karena itu Hawa sangat menyayangi Ibunya. Ibu yang mencukupi semua kebutuhan mereka. Hawa juga gemar membantu sang Ibu.
...***...
Hawa berjalan menuju kelasnya dilantai 2. sekolah mulai ramai murid-murid dan guru berdatangan. Baru mau melangkah kedalam kelas Hawa dikejutkan dengan tepukan dibahunya "Hawaaa,," teriakan Asrina mengundang tatapan dari orang sekitar. "Astaghfirullah,," ucap Hawa mengelus dadanya karena kaget dengan teriakan Asrina. Temannya itu memang hobi membuat kaget dirinya. Asri langsung merangkul Hawa dan mengajaknya duduk dibangkunya. Tak lupa dengan cengirannya. Hawa menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Tiada hari tanpa dibuat kaget dengan temannya itu. Tapi kalau Asrina tidak masuk sekolah terasa sepi.
teng teng teng
Bel masuk kelas sudah berbunyi dengan nyarisnya. Membuat semua murid yang diluar kelas berhamburan masuk kelas masing-masing. Karena mapel jam pertama akan segera dimulai.
●●●
Waktu istirahat pun telah tiba. Asrina langsung menarik tangan Hawa dan berjalan keluar kelas karena dia sudah sangat lapar. Sebab pagi tadi tidak sarapan. Hawa hanya menuruti apa yang Asrina mau. Karena kalau tidak dituruti pasti Asrina marah-marah . Hahaha, sungguh lucu temannya itu.
Suasana kantin yang sangat ramai membuat Hawa enggan melangkahkan kakinya masuk. Apalagi dimeja pojok sudah duduk Ketua Osis dan anggotanya yang berjumlah 5 orang.
Entah karena apa Hawa malas bertemu dengan mereka. Hasby hanya melirik Hawa yang masih berdiri dipintu kantin. Hasby langsung fokus kemakanan yang didepannya. Tanpa menghiraukan Hawa lagi.
"As,kamu duluan aja ya. Aku mau ke toilet bentar" ucap Hawa sambil berlari ketoilet. Asrina hanya melongo memandang Hawa dengan cepatnya pergi. Padahal mau diajaknya makan siomay Mbak Sum yang terkenal enak itu. Akhirnya Asrina melangkahkan kaki kekonter jualan siomay Mbak Sum. Setelah memesan 1porsi dan tambah es teh manis favoritnya itu, Asri tolah toleh melihat dimana ada bangku kosong. Ternyata hanya ada disamping anggota Osis. Mau tidak mau akhirnya Asrina berjalan kesana dan duduk sambil menunggu Hawa.
Sebenranya Hawa enggan untuk kembali kekantin, tapi teringat Asrina sendirian disana, akhirnya Hawa berjalan menuju kantin. Sesampainya dipintu kantin Hawa melihat dimana Asrina duduk. "Astaghfirullah,kenapa duduk disana,." gumam Hawa. Mau tak mau akhirnya Hawa mendekat dan duduk didepan Asrina yang sedang asyik menikmati siomaynya.
"eeh Hawa, mau makan apa?? sana pesen atau mau barengan sama aku?" tanya Asrina sambil menguyah siomay.
"Aku pesen es teh aja deh," jawab Hawa sambil melihat Hasby lewat sudut matanya.
Deg
Ternyata tak sengaja Hasby juga tengah melihatnya. Lalu merasa ketahuan akhirnya Hawa pergi dan membeli minumannya sendiri . Hasby pun mengalihkan pandangannya. "kenapa harus didekat dia sih?" ucap Hawa di dalam hati.
teng teng teng
Begitu bel pulang sekolah berdering, anak-anak langsung berhamburan keluar kelas dan ingin cepat-cepat pulang kerumah. Hawa pun berjalan kearah gerbang dan menunggu angkutan umum dihalte depan sekolah. Siang ini begitu panas, membuat Hawa bercucuran keringat. Sesekali mengusap peluh yang menetes didahinya. Tak lama angkutan lewat tapi penuh dengan penumpang, sehingga Hawa tidak bisa ikut naik. Akhirnya Hawa menunggu lagi. Tapi lama sekali dan tidak ada angkutan lagi yang lewat.
Tentu saja Hawa jadi panik. Karena sudah sore tapi dirinya belum sampai rumah, takut ibunya kepikiran. tiba" ada mobil berhenti didepan halte tempat Hawa menunggu angkutan. Mobil berwarna hitam mengkilat itu berhenti dengan pelan dan kaca mobil turun karena dibuka dari dalam.
"naik!" ucap Hasby datar melihat Hawa sekilas.
"eeh,,maaf kak, tidak usah,, saya bisa pulang sendiri .." Hawa menyahuti Hasby sambil menundukkan pandangannya. Tangannya memegang tali tas karena gugup. "mau nunggu sampai besok?" tanya Hasby datar tanpa melihat lawan bicaranya.
"maaf kak, takut fitnah,,lebih baik saya pulang sendiri,." gumamnya pelan. "Naik Hawa Maheswari!" Hasby berkata dengan dingin dan tegas.
Deg...
Tanpa menunggu lagi, Hawa naik ke kursi belakang dengan pelan. Karena masih terkejut dengan ucapan Hasby tadi. Hatinya merasa terintimidasi dengan perkataan Ketua Osisnya itu. Setelah didalam mobil suasana jadi canggung sekali. Tidak ada yang berbicara. Hasby langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ditengah kebingungannya, Hawa mencoba menarik nafas perlahan. Sudut matanya pun melirik Hasby sekilas. Tak lama mobil berhenti didepan gang rumah Hawa.
"Terimakasih kak atas tumpangannya.." Hawa berucap pelan, tangannya sudah mau membuka pintu tapi terinterupsi karena panggilan seseorang. "iya sama-sama" ucap Hasby datar.
Hawa pun langsung keluar dan berjalan menuju rumah kecil dan nyaman peninggalan Bapak. Ibu sedang sibuk didapur ketika Hawa mengucap salam. Melihat sang Ibu didapur Hawa menghampiri dan salim lalu memeluk Ibu. Setelah seharian belajar disekolah. Menguras tenaganya, tapi setelah melihat dan memeluk Ibu seperti tenaganya terisi kembali.
Terkadang pelukan bisa membuat seseorang menjadi nyaman, mengisi tangki cinta, mengisi energi yang telah terkuras seharian. bisa menjadi rumah yang tidak berbentuk bangunan.
Malam hari ini langit menampakkan keindahannya, begitu banyak bintang yang menghias langit. Hawa dan Ibu duduk diteras rumah sambil memandang langit. Mereka terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hawa melihat Ibu sekilas, tapi melihat Ibu seperti memikirkan sesuatu yang rumit membuat Hawa terdiam mengamati .Entah apa yang dipikirkannya, mungkin kalau sabar menunggu Ibu mau berbagi cerita dengannya.
Seperti biasa setiap pagi selalu ada teriakan Ibu yang membangunkan Hawa,, padahal Hawa sudah bangun dari subuh tadi. Tapi kembali bergelung dibawah selimutnya. Hari-hari berjalan seperti biasa tapi entah pagi ini terasa berbeda. Ibu yang biasanya bekerja tapi hari ini kata Ibu sedang libur. Padahal bukan hari biasanya Ibu libur. Apa ada sesuatu yang Hawa tidak tahu. Tapi melihat Ibu sehat-sehat saja membuatnya menepis pikiran yang tidak-tidak. Ibu tersenyum melihat anak gadisnya sudah sebesar ini, ada haru yang terselip dihatinya. Seandainya suaminya masih hidup, pasti bangga kepada putrinya itu.
"Hawa, nanti pulang sekolah langsung pulang y nak!" Ibu berucap pelan tapi masih bisa didengar Hawa. Hawa mengernyit "Iya Bu, nanti langsung pulang, kan tidak ada jam tambahan disekolah" ucap Hawa sambil mengulum senyum manisnya. Hawa pun berangkat sekolah. Ibu masuk kedalam rumah dan memulai memasak karena rencananya ada seorang teman lama yang akan datang berkunjung.
Sambil sesekali Ibu menghela nafas pelan. Apakah keputusannya ini sudah benar ato malah menyakiti anaknya. Karena selama ini dirinya tidak pernah memikirkan hal ini dengan kondisi seperti ini. Serba kekurangan, harus sering menghemat, karena harus membayar biaya sekolah Hawa. Tapi Ibu merasa gundah sekali. "apakah Hawa mau mengikuti keputusan yang sudah dibuatnya?" gumam dalam hati Ibu.
\*\*\*
Sepulangnya dari sekolah Hawa langsung disuruh mandi oleh Ibu. Hawa yang merasa gerah dan lengket badannya pun menuruti perintah Ibu. Setelah selesai Hawa memakai baju gamis rumahan yang nyaman dengan kerudung bergo simple. Hawa berniat membantu Ibu yang tengah sibuk didapur. Tapi Ibu tidak mengizinkan membantu. Hawa merasa bingung dan akhirnya hanya mengambil makanan dan memakannya dipekarangan belakang.
Azan maghrib sudah berkumandang. Hawa dan Ibu langsung menunaikan sholat. Seusai sholat dan dzikir mereka membereskan mukenanya masing-masing. Ibu menghela nafas sebentar "Hawa, nanti akan ada teman Ibu yang hendak berkunjung, tolong ganti baju dengan yang lebih sopan ya nak!" ucap Ibu pelan sambil menatap netra anaknya. Hawa terkejut, karena selama ini tidak mengenal siapa teman Ibu. Tapi tiba-tiba akan datang berkunjung kerumahnya malam ini. Pantas saja Ibu libur dan memasak banyak. Tapi Hawa masih penasaran. Hawa hanya mengangguk perlahan menyahuti perintah Ibu.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti dihalaman depan rumah. Ibu langsung berjalan kepintu untuk membukakan pintu rumah. Hawa langsung menegakkan badannya. Merasa tegang dan gugup. Merasa belum tahu dan belum kenal dengan teman Ibunya.
Terlihat Ibu menyalami seorang wanita paruh baya yang sangat cantik diusianya sekarang. Menyusul pria paruh baya yang tersenyum ramah kepada Ibu. Aku langsung menghentikan kegiatan mengintipku dan berbalik untuk duduk diruang makan. Sambil menunggu Ibu.
"Gimana kabarnya jeng?" tanya wanita paruh baya bernama Sari sambil memeluk Ibu dengan hangat. "baik jeng Sari,, tambah cantik saja ya," jawab Ibu dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya. "Mana anak gadisnya jeng?" ucapnya lagi sambil melihat ke kain gorden yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah.
"Ada didalem, tunggu bentar y jeng,, mari silahkan duduk dulu jeng,pak dan siapa ini namanya ?" ucap Ibu melihat pemuda yang seumuran anaknya itu dengan hangat.
"Hasby tante" jawab Hasby dengan senyum hangatnya.
"Masyaallah " gumam Ibu dengan kagum ."Tunggu sebentar ya" Ibu berlalu keruang tengah dan melihat Hawa duduk diruang makan. "Ayo nak, bantu Ibu bawa minuman kedepan. Sekalian kenalan dengan teman Ibu!" ucap Ibu lembut kepada anak gadisnya itu."Iya Bu,, biar Hawa yang bawa nampannya"Hawa meraih nampan yang berisi teh hangat yang sudah disiapkan oleh Ibunya itu.
Ketika kain penutup ruangan dibuka Bu Sari langsung tersenyum lembut saat melihat Hawa berjalan sambil menundukkan kepalanya sedikit. Nampan telah ditaruh dimeja kecil yang berada diruang tamu itu, Hawa menggeser minumannya tapi ketika didepan seorang laki-laki tangannya menegang sebentar.
Wangi parfum yang sangat dikenalnya memenuhi indera penciumannya saat ini. Wangi yang begitu dihafalnya. Hawa mendongakkan pandangannya pelan dan terkejut, tapi langsung berusaha biasa saja.
"Kak Hasby"gumam Hawa pelan.
Hasby hanya menatap Hawa sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya cepat.
"Kenalin nak, ini tante Sari, dan ini suaminya pak Darman,, itu anaknya bernama Hasby" ucapan Ibu terdengar riang, Hawa pun menyalami bu Sari, kepada pak Darman dan Hasby hanya menangkupkan tangannya. Hawa ikut duduk disamping Ibunya. Mereka bercerita tentang banyak hal, menambah suasana menjadi begitu hangat. "Gimana pah, langsung saja disampaikan maksud kedatangan kita kemari aja ya" ucap Bu Sari lembut. Sambil sesekali melihat Hawa dan Hasby.
Hasby sudah menduga akan hal ini, karena sudah dikasih tahu kedua orang tuanya sejak bulan lalu. Dia mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa. Apa lagi Hawa adik kelasnya. Rasa gugup bercampur dengan kecanggungan yang ada membuat Hasby menghela napas pelan.
"Jeng,, tetap seperti rencana awal ya,, Hasby akan dijodohkan dengan Hawa. walaupun mereka masih sekolah tapi mereka tetap harus diikat, oleh karena itu malam ini sekalian mau memberikan cincin tanda bukti bahwa Hawa sudah memiliki Hasby sebagai calon suaminya" papar Bu Sari dengan pelan tapi tegas. tangannya merogoh tas nya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Dan meletakkan diatas meja.
Hawa menahan nafas sebentar setelah mendengar ucapan Bu Sari.melirik Ibu dengan tanda tanya yang besar. "Apa maksudnya Bu??" suaranya yang bergetar. Matanya memejam sekejap. "Maafin Ibu nak,, Ibu memang berencana dengan Bu Sari dan Pak Darman untuk menjodohkan kamu dengan nak Hasby." mengucap dengan lembut dan mengelus pelan kepala Hawa yang tertutup dengan hijabnya.
"Apa kami harus melakukan perjodohan ini mah?" tanya Hasby kepada mamanya. Melihat Hawa yang terdiam sambil menundukkan pandangannya. Senantiasa menatap teh yang masih mengepulkan asap tipisnya diatas meja.
"Iya nak, papah,mamah dan Ibu Rina sudah membicarakan ini dari lama. Papah harap kamu dan Hawa bersedia melakukan perjodohan ini" jawab Papah tegas. Tanpa bantahan yang berarti dari Hasby, karena Hasby anak yang penurut. Tidak ingin membuat papah mamah kecewa. hasby mengalihkan pandangannya menatap Hawa sejenak. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Hasby melirik Hawa sebentar lalu mengalihkan pandangannya.
Hawa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Maaf kak, saya tidak bisa melakukannya" ucapnya pelan. Semua yang berada diruang tamu tidak ada yang berbicara,hening sesaat.
"kenapa?"
"saya masih ingin mengejar mimpi dan pendidikanku kak" gumam Hawa melihat Ibunya. Ada rasa sedih dan sesak. Hasby melihatnya sekilas. "Maaf pah,mah dan Ibu, karena Hawa menolaknya mungkin perjodohan ini tidak bisa dilanjutkan" balasnya dengan tegas.
Deg...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!