Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlahir Kembali Malam Bayi Ditukar

Episode 1

Bab 1

Aku Pernah Mati

Rasa sakit itu membelah tubuh Nara dari pinggang ke bawah.

Air ketuban membasahi seprai hingga dinginnya menempel di punggung. Bau darah, cairan antiseptik, dan udara lembap bercampur di ruang bersalin yang sempit. Di luar, hujan memukul atap seng Klinik Bersalin Anugerah seperti ribuan kuku.

Nara pernah mati.

Bukan pingsan. Bukan mimpi buruk akibat demam. Ia benar-benar pernah mengembuskan napas terakhir di sebuah kamar rumah sakit, setelah menerima kabar kematian orang-orang yang paling dicintainya satu demi satu.

Raka.

Bima dan Bayu.

Lalu putrinya, anak yang selama bertahun-tahun tidak sempat ia lindungi.

Nama-nama itu menghantam kepalanya bersamaan dengan kontraksi berikutnya. Perut Nara mengeras. Napasnya tersangkut. Jemarinya mencengkeram seprai basah sampai buku-buku jarinya memutih.

“Mbak Nara, lihat saya.”

Suara perempuan muda terdengar dekat. Sebuah tangan menahan bahunya agar tidak terangkat dari ranjang.

Nara membuka mata.

Lampu darurat di dinding memancarkan cahaya kuning redup. Di bawah cahaya itu, wajah Vania tampak jauh lebih muda daripada yang Nara ingat. Tidak ada garis lelah di sudut matanya. Tidak ada rambut putih di pelipisnya. Seragam perawatnya masih berwarna biru pucat, dengan pena hitam terselip rapi di saku dada.

Vania Kusuma.

Nama itu muncul dari bagian ingatannya yang paling gelap.

Dalam kehidupan sebelumnya, Nara baru menemukan perempuan ini bertahun-tahun setelah malam persalinan. Terlambat untuk mencegah apa pun. Terlambat untuk bertanya mengapa gelang bayi bisa tertukar. Terlambat untuk menyelamatkan anaknya dari rumah yang tidak pernah menginginkannya.

“Tarik napas pelan,” kata Vania. “Jangan ditahan. Ikuti saya.”

Nara mencoba. Udara masuk pendek-pendek ke paru-parunya.

“Sekarang tanggal berapa?”

Vania mengerutkan kening. “Delapan belas Januari.”

“Tahun?”

“Dua ribu enam.” Vania menyentuh dahinya, lalu memeriksa selang infus di samping ranjang. “Mbak pusing? Pandangannya kabur?”

Jantung Nara berdentum lebih keras daripada hujan.

Delapan belas Januari 2006.

Pukul di dinding menunjukkan lewat sebelas empat puluh malam.

Malam ketika putrinya lahir.

Malam ketika seorang bayi dipindahkan dari satu ibu ke ibu lain sebelum tinta pada catatan kelahiran sempat mengering.

“Kirana,” bisik Nara.

Vania mendekatkan telinga. “Apa, Mbak?”

“Nama anak saya.”

Kontraksi mereda sedikit. Nara menggeser telapak tangannya ke atas perut yang keras. Ada gerakan kecil dari dalam, lemah tetapi nyata. Air panas memenuhi pelupuk matanya.

Kirana masih hidup.

Raka juga masih hidup. Bima dan Bayu masih berusia tujuh tahun. Mereka mungkin sedang tidur di rumah Bu Sari, tidak tahu bahwa ibu mereka tengah berjuang melahirkan adik mereka di tengah hujan.

Semua orang yang pernah ia kuburkan masih bernapas di dunia ini.

Kesempatan itu seharusnya terasa seperti mukjizat. Namun Nara hanya merasakan ketakutan yang begitu besar sampai ujung jarinya kebas.

Sebab ia juga tahu siapa yang akan masuk melalui pintu itu.

Gagang pintu bergerak.

Bu Rini muncul sambil membawa baki logam. Kerudung cokelatnya terselip rapi di bawah dagu. Seragam bidannya bersih, kecuali satu noda air di dekat lutut. Wajahnya tenang, bahkan nyaris ramah.

Wajah yang selama delapan belas tahun pernah dipercaya keluarga mereka.

“Sudah lebih baik?” tanya Bu Rini.

Nara menatap baki di tangannya. Gunting, kasa, penjepit, gulungan benang, dan beberapa lembar kertas terbungkus plastik. Tidak ada yang tampak aneh.

Justru itu yang membuat tengkuknya semakin dingin.

“Suami saya sudah dihubungi?”

Bu Rini menaruh baki di meja kecil. Bunyi logam beradu terdengar tajam. “Hujan begini membuat sambungan telepon sulit. Lagi pula, suamimu sedang bertugas di luar kota, bukan?”

“Hubungi lagi.”

Bu Rini tersenyum tipis. “Fokus melahirkan dulu, Nara. Jangan membuat tubuhmu semakin tegang.”

“Saya mau Vania menelepon sekarang.”

Vania menoleh pada bidan senior itu. Keraguan melintas di wajahnya.

Bu Rini tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke ujung ranjang, membuka kain penutup, lalu memeriksa perkembangan persalinan dengan gerakan profesional. Nara memaksa tubuhnya tetap diam meski setiap otot menolak sentuhannya.

“Masih perlu waktu,” kata Bu Rini. “Usia kandunganmu baru tiga puluh enam minggu lima hari. Kita harus menjaga agar bayinya tidak semakin tertekan.”

Ia mengucapkan kalimat itu seperti nasihat penuh perhatian.

Nara tahu lebih baik.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia juga mendengar suara selembut ini. Ia juga disuruh tenang. Disuruh percaya. Setelah persalinan, seorang bayi diletakkan di sisinya, terbungkus kain, dengan gelang nama yang dianggap cukup untuk membuktikan siapa ibunya.

Nara tidak pernah memeriksa bagian bawah ketiak bayi itu.

Ia tidak tahu bahwa putrinya memiliki tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit.

Ia tidak tahu sampai semuanya terlambat.

Sakit lain datang. Nara menggigit bibir, tetapi erangan tetap lolos dari tenggorokannya. Vania segera meraih tangannya.

“Napas, Mbak. Pelan.”

“Jangan tinggalkan saya,” kata Nara di sela tarikan napas.

“Saya di sini.”

“Apa pun yang terjadi, jangan tinggalkan saya sendirian.”

Vania berkedip. “Baik.”

“Vania.” Bu Rini menegurnya tanpa meninggikan suara. “Ambil kain bersih dari lemari belakang. Persediaan di sini kurang.”

Pegangan Vania mengendur.

Nara meremas tangannya lebih kuat.

“Jangan pergi.”

“Mbak Nara, saya cuma sebentar.”

“Tidak.” Nara menatap lurus ke matanya. “Kalau saya berdarah, kalau saya pingsan, kalau bayi saya lahir saat kamu tidak ada, siapa yang akan mencatat?”

Vania terdiam.

Pertanyaan itu terdengar seperti kepanikan seorang ibu yang sedang bersalin. Hanya Nara yang tahu bahwa setiap katanya adalah peringatan.

Bu Rini menutup kembali kain di kaki Nara. “Saya bidan yang menangani persalinanmu. Saya yang mencatat.”

“Saya mau dua orang ada di ruangan ini.”

Senyum di wajah Bu Rini menipis.

“Kamu tidak percaya kepada saya?”

Nara menelan rasa logam di mulutnya. Ia ingin berteriak bahwa perempuan ini akan mencuri bayinya. Ia ingin menarik baki logam itu dan menghantamkannya ke lantai sampai seluruh klinik datang.

Namun tubuhnya bahkan tidak sanggup duduk.

Tidak ada Raka di sini. Tidak ada anggota keluarga yang bisa menjadi saksi. Ia hanya punya ingatan dari kehidupan yang belum terjadi bagi orang lain.

Kalau ia menuduh Bu Rini sekarang, siapa yang akan percaya?

Seorang perempuan dengan ketuban pecah dini, kesakitan, ketakutan, dan bicara tentang kejahatan yang belum dilakukan.

Bu Rini bisa menyebutnya bingung. Bisa memindahkan Vania. Bisa melakukan rencananya dengan lebih hati-hati.

Nara memaksa rahangnya mengendur.

“Saya takut,” katanya.

Itu bukan kebohongan.

“Ini persalinan ketiga saya, tetapi rasanya berbeda. Saya ingin ada dua orang.”

Vania menyentuh pergelangan tangannya, menghitung denyut nadi. “Nadinya cepat, Bidan Rini.”

“Wajar karena kesakitan.”

“Mbak Nara juga tampak sangat pucat.”

Bu Rini memandang Vania cukup lama untuk membuat perawat muda itu menunduk. Kemudian ia menarik bangku dan duduk di dekat kaki ranjang.

“Baik. Vania tetap di sini.”

Nara tidak merasa lega.

Bu Rini terlalu cepat mengalah.

Di luar ruang bersalin, roda troli berdecit melewati lorong. Suara pintu dibuka, disusul percakapan pelan yang tidak bisa ditangkap Nara. Klinik itu kecil. Ruang pemulihan hanya dipisahkan oleh lorong sempit, dan ruang bersalin lain berada tidak jauh dari tempatnya.

Malam ini ada ibu lain.

Ada bayi lain.

Nara menoleh ke meja dekat dinding. Di sana tergeletak buku catatan, stempel klinik, dan kotak berisi gelang identitas dari kertas tahan air. Ia tidak bisa membaca tulisan dari jarak ini.

“Gelang bayi disiapkan kapan?” tanyanya.

Vania mengikuti arah pandangnya. “Setelah lahir. Nama ibu, waktu lahir, jenis kelamin, lalu dipasang sebelum bayi dibawa keluar.”

“Siapa yang menulis?”

“Petugas yang menerima bayi.”

“Siapa?”

Vania membuka mulut, tetapi Bu Rini lebih dulu menjawab.

“Tergantung siapa yang tidak sedang menangani ibunya.”

“Kalau dua bayi lahir berdekatan?”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Hanya hujan dan detak jam yang terdengar.

Bu Rini menyandarkan punggung. “Kenapa kamu bertanya begitu banyak?”

Nara menatap perempuan itu. “Karena itu anak saya.”

Untuk sesaat, mata Bu Rini kehilangan kehangatannya.

Hanya sesaat.

Lalu ia tersenyum lagi. “Tentu. Tidak ada yang bilang bukan.”

Sebuah kilat memutihkan jendela. Satu detik kemudian, suara guntur mengguncang kaca. Lampu utama yang sejak tadi berkedip akhirnya padam.

Vania tersentak.

Lampu darurat menyala otomatis, menyiram ruangan dengan warna kuning kusam.

“Generatornya belum hidup,” kata Vania. “Saya cek ke depan.”

“Tidak.” Nara kembali menangkap tangannya.

Kontraksi berikutnya datang tanpa peringatan. Rasa sakit merambat dari punggung ke perut, lebih kuat daripada sebelumnya. Nara mengerang dan menarik lutut, sementara Vania membantu mengatur posisinya.

“Bidan Rini, jaraknya makin dekat.”

Bu Rini berdiri. “Periksa denyut bayi.”

Vania mengambil alat pemeriksa dan menempelkannya ke perut Nara. Suara denyut cepat memenuhi ruang yang gelap.

Hidup.

Anaknya hidup.

Nara memejamkan mata satu detik, membiarkan suara itu menahan kesadarannya. Dalam gelap di balik kelopak, ia melihat fragmen kehidupan lama.

Raka duduk sendirian di kursi rumah sakit.

Dua pasang sandal anak laki-laki yang tidak pernah dipakai lagi.

Seorang gadis muda yang menatapnya dari jauh, membawa wajah keluarga mereka tetapi tidak pernah sempat memanggilnya Ibu.

Tidak kali ini.

Nara membuka mata.

“Vania, dengarkan saya.”

Perawat itu tetap memegang alat di perutnya. “Saya dengar.”

“Begitu anak saya lahir, jangan bawa dia keluar sebelum saya melihat gelangnya.”

“Biasanya memang diperlihatkan kepada ibu.”

“Bukan biasanya. Janji.”

Vania melirik Bu Rini, lalu kembali menatap Nara. “Saya akan memperlihatkannya.”

“Dan jangan biarkan siapa pun menggantinya.”

Alat di tangan Vania bergeser. Bunyi denyut menghilang sejenak lalu kembali.

Bu Rini tertawa kecil. “Kamu terlalu banyak memikirkan sinetron.”

Nara tidak ikut tertawa.

“Janji, Vania.”

Ada sesuatu dalam tatapan Nara yang akhirnya membuat wajah perawat muda itu berubah. Bukan lagi sekadar sabar kepada pasien yang panik. Vania mulai benar-benar memperhatikannya.

“Saya janji,” katanya pelan.

Bu Rini berdiri di sisi lain ranjang. “Cukup. Simpan tenaga untuk mengejan.”

“Saya masih bisa bicara.”

“Tapi tidak semua yang ada di kepalamu perlu diucapkan.”

Ancaman itu dibungkus suara lembut. Vania tampaknya juga mendengarnya, sebab bahunya menegang.

Tiba-tiba terdengar panggilan dari lorong. Seseorang membutuhkan bantuan di ruang sebelah.

Bu Rini menoleh ke pintu.

“Vania, ke sana.”

“Tapi Mbak Nara...”

“Saya di sini. Pasien sebelah juga butuh petugas.”

Nara ingin menahan Vania lagi, tetapi kontraksi mematahkan napasnya. Tubuhnya melengkung. Keringat dingin mengalir dari pelipis ke telinga.

Vania ragu di ambang pintu.

“Saya akan kembali secepatnya, Mbak.”

Pintu menutup.

Nara dan Bu Rini tinggal berdua.

Hujan menebal. Lampu darurat berkedip satu kali.

Dua kali.

Bu Rini berjalan ke meja, tetapi bukan menuju baki persalinan. Tangannya masuk ke saku seragam.

Nara menahan napas.

“Apa yang Ibu bawa?”

Bu Rini tidak menjawab.

Ia menjangkau sakelar lampu darurat dan mematikannya.

Sesaat sebelum ruangan tenggelam dalam gelap, Nara melihat dua gelang bayi di telapak tangan Bu Rini.

Dua gelang itu tampak sama persis.

Episode 2

Bab 2

Dua Gelang Bayi

Gelap menelan wajah Bu Rini, tetapi Nara sudah melihat cukup banyak.

Dua gelang bayi.

Dua lembar kertas tahan air dengan ukuran, warna, dan tali pengikat yang sama. Bu Rini telah menyiapkannya sebelum satu pun bayi lahir.

“Nyalakan lampunya,” kata Nara.

Suara hujan menutup kalimatnya. Bu Rini tetap berdiri di dekat meja, hanya bentuk tubuhnya yang terlihat dari kilat di balik jendela.

“Listrik mati. Jangan panik.”

“Ibu yang mematikan lampu darurat.”

Hening jatuh selama satu detik.

Kemudian korek api berbunyi. Nyala kecil muncul di tangan Bu Rini. Ia menyalakan lampu minyak dari rak bawah, lalu meletakkannya di meja persalinan.

Cahaya api bergoyang di dinding. Kedua gelang tadi sudah tidak ada di telapak tangannya.

“Kamu kesakitan sampai salah lihat,” ucapnya.

Nara mencoba mengangkat tubuh, tetapi kontraksi membuat panggulnya seperti diremukkan dari dalam. Ia jatuh kembali ke bantal dengan napas terputus.

“Vania!”

“Jangan berteriak. Tenagamu akan habis.”

“Vania!”

Pintu terbuka. Perawat muda itu berlari masuk sambil membawa beberapa lembar kain.

“Mbak Nara?”

Nara menunjuk meja dengan tangan gemetar. “Bu Rini membawa dua gelang bayi.”

Vania memandang bidan seniornya.

Bu Rini mendengus. “Kotak gelang ada di sana. Tentu saya menyiapkan lebih dari satu.”

“Bukan dari kotak.” Nara menahan tatapan Vania. “Dari saku.”

Vania tidak menjawab. Matanya turun sekilas ke saku seragam Bu Rini, lalu kembali ke wajah Nara.

“Periksa dia,” perintah Bu Rini. “Kontraksinya makin rapat.”

Kali ini Vania bergerak tanpa membantah. Ia memeriksa denyut bayi, membantu Nara mengubah posisi, lalu melihat jam dinding.

“Sudah hampir tengah malam.”

Dari ruang sebelah terdengar erangan perempuan.

Nara mengenali suara itu.

Siska.

Dalam kehidupan pertama, semua orang mengatakan persalinan mereka terjadi nyaris bersamaan. Keluarga menyebutnya kebetulan yang indah. Dua bayi perempuan lahir pada malam yang sama dari dua perempuan yang terhubung melalui keluarga Wiratama.

Tidak ada yang bertanya mengapa Siska, yang perkiraan persalinannya masih beberapa hari lagi, tiba-tiba mengalami kontraksi hebat tepat saat Nara melahirkan.

Tidak ada yang bertanya mengapa ibu Siska sendiri berada di klinik dan mengendalikan kedua ruang bersalin.

“Kenapa Mbak Siska juga melahirkan malam ini?” tanya Nara.

Tangan Bu Rini yang sedang menyusun kasa berhenti.

“Memangnya bayi meminta izin sebelum lahir?”

“Tadi sore dia belum mengeluh apa-apa.”

“Kamu bertemu dia?”

Nara tidak menjawab.

Ia memang tidak bertemu Siska hari ini dalam kehidupan sekarang. Namun ingatan lamanya menyimpan percakapan keluarga setelah persalinan. Siska datang ke klinik hanya untuk pemeriksaan, lalu mendadak masuk ruang bersalin setelah ditangani Bu Rini.

Bu Rini mendekati ranjang. “Kamu terlalu memikirkan orang lain. Urus bayimu sendiri.”

Itulah yang ingin dilakukan Nara.

Kontraksi berikutnya datang lebih keras. Vania memeriksa dan segera memanggil Bu Rini.

“Sudah waktunya.”

Ruangan mendadak dipenuhi gerakan. Kain dibentangkan. Baki logam digeser. Lampu minyak dipindahkan lebih dekat. Bu Rini memasang sarung tangan, sementara Vania berdiri di sisi Nara dan mengarahkannya bernapas.

“Mbak Nara, dengarkan saya. Saat kontraksi datang, dorong. Di antaranya, ambil napas.”

Nara mengangguk.

Ia pernah melalui persalinan ini, tetapi tubuh tidak menyimpan keberanian dari kehidupan lama. Rasa sakit tetap baru. Ketakutan tetap nyata.

Yang berbeda hanya satu.

Kali ini ia tahu seseorang sedang menunggu kesempatan untuk mengambil putrinya.

“Gelangnya,” kata Nara.

Bu Rini menatap tajam. “Sekarang bukan waktunya.”

“Vania sudah berjanji.”

Vania menelan ludah. “Saya akan menulis dan memasangnya begitu bayi lahir.”

“Di depan saya.”

“Ya.”

Bu Rini membuka mulut, tetapi jeritan dari ruang sebelah memotongnya. Suara benda jatuh terdengar di lorong. Seseorang memanggil Bidan Rini.

“Siska juga sudah masuk tahap akhir,” kata Bu Rini.

“Saya tidak bisa menangani dua persalinan sekaligus,” ujar Vania.

“Selesaikan yang ini dulu.”

Nada Bu Rini datar, seolah dua bayi yang datang hampir bersamaan bukan masalah. Seolah ia sudah menghitung setiap menitnya.

Nara menatap jam di dinding. Jarum panjang bergerak melewati angka dua belas.

Tanggal telah berganti.

19 Januari 2006.

“Sekarang, Mbak!” seru Vania.

Nara mengejan.

Sakit merobeknya. Ia berteriak, kehilangan napas, lalu mendengar Vania menyuruhnya berhenti sejenak. Bu Rini mengucapkan sesuatu yang tidak tertangkap. Hujan, erangan dari ruang sebelah, dan detak darah di telinga bercampur menjadi satu.

Kontraksi lain datang.

Nara mendorong lagi.

Di tengah nyeri yang membuat pandangannya memutih, ia mengingat putrinya dalam kehidupan pertama. Bukan sebagai bayi, melainkan sebagai seorang gadis yang berdiri jauh darinya, dibesarkan dengan kata-kata yang membuatnya percaya bahwa keberadaannya adalah kesalahan.

Maafkan Ibu.

Tidak. Bukan maaf.

Kali ini Nara akan memberinya hidup yang berbeda.

Tangisan bayi pecah di ruangan.

Kecil. Serak. Namun hidup.

Seluruh tubuh Nara melemas. Air mata mengalir ke pelipis tanpa bisa ia tahan.

“Perempuan,” kata Vania, napasnya ikut gemetar. “Bayi perempuan.”

“Kirana,” bisik Nara.

Vania membawa bayi itu ke bawah cahaya lampu minyak, mengeringkan tubuhnya, lalu melakukan pemeriksaan awal. Bu Rini bergerak hendak mengambil alih.

“Biar saya,” katanya.

“Tidak.” Suara Nara nyaris hilang, tetapi Vania mendengarnya. “Vania.”

Perawat muda itu berhenti. Ia menatap Nara, kemudian mengambil satu gelang kosong dari kotak resmi di atas meja.

“Nama ibu?”

“Nara Ayuningtyas.”

Vania menulisnya.

“Waktu lahir?”

Ia melihat jam. “Pukul nol nol sepuluh.”

“Tulis sebelum dipasang.”

Bu Rini menarik napas kasar. “Dia tahu pekerjaannya.”

Vania menuliskan waktu, jenis kelamin, dan nomor catatan sementara. Ia mengangkat gelang itu agar Nara dapat melihat tulisan di permukaannya.

“Saya pasang sekarang.”

Gelang melingkar di pergelangan kaki kecil Kirana.

“Bawa dia ke sini,” pinta Nara.

“Pemeriksaannya belum selesai.”

“Saya mau melihat ketiak kanannya.”

Vania tampak bingung, tetapi ia membuka kain lebih lebar. Dengan hati-hati, ia mengangkat lengan kanan bayi.

Di bawah ketiak Kirana, sedikit ke arah dada, ada tanda kecokelatan kecil.

Melengkung.

Seperti bulan sabit.

Nara terisak.

Itu dia.

Putrinya.

Bukan laporan laboratorium. Bukan dokumen resmi. Bukan bukti yang bisa menyeret siapa pun ke pengadilan. Namun bagi Nara, tanda itu adalah tali yang menghubungkan dua kehidupan.

“Foto,” katanya.

Vania mengerutkan kening. “Apa?”

“Tolong foto gelang dan tanda lahirnya. Dalam satu gambar kalau bisa.”

“Untuk apa?”

“Untuk catatan saya.”

Bu Rini melangkah mendekat. “Tidak perlu. Catatan klinik cukup.”

Nara menatap Vania. “Saya ibunya. Saya minta foto pertama anak saya.”

Permintaan itu terdengar wajar. Seorang ibu ingin menyimpan foto pertama bayi perempuannya.

Vania merogoh saku dan mengeluarkan ponsel berkamera sederhana. Ia memosisikan Kirana di bawah lampu minyak, memastikan tulisan gelang terlihat, lalu mengambil dua gambar. Kilatan kecil memenuhi ruangan.

“Satu lagi dari tanda lahirnya,” kata Nara.

Vania menurut.

Bu Rini menatap ponsel itu terlalu lama.

“Berikan ponselnya,” kata Bu Rini.

Vania menahannya di depan dada. “Untuk apa?”

“Saya mau memastikan tidak ada bagian tubuh pasien yang terlihat. Klinik bisa mendapat masalah.”

“Yang terlihat hanya gelang dan lengan bayi.”

Bu Rini mengulurkan tangan. “Biar saya periksa.”

Nara segera berkata, “Tunjukkan dari tempatmu. Jangan serahkan.”

Vania ragu, lalu memutar layar ke arah Bu Rini tanpa melepas ponsel. Foto itu memang hanya menampilkan kain, gelang, dan kulit kecil di bawah ketiak.

“Hapus setelah dikirim kepada saya,” kata Nara.

“Tidak perlu dikirim malam ini,” sahut Bu Rini.

“Itu foto anak saya.”

Tatapan kedua perempuan itu bertemu. Bu Rini akhirnya menurunkan tangannya, tetapi urat di pelipisnya menegang.

Vania menyimpan kembali ponsel tersebut. Kali ini ia memasukkannya ke saku bagian dalam, bukan saku dada yang terbuka.

Dari sebelah, jeritan Siska berubah menjadi tangis yang pecah. Seorang petugas memanggil lagi.

“Bidan Rini!”

Bu Rini menoleh cepat. “Vania, ikut saya.”

“Saya sedang mengawasi Mbak Nara.”

“Bayinya sudah lahir. Saya butuh bantuan di sebelah.”

Nara berusaha meraih Kirana, tetapi tubuhnya belum selesai melalui persalinan. Kakinya gemetar dan kepalanya berputar.

“Letakkan dia di dada saya.”

Vania menoleh pada Bu Rini.

“Bayi ini lahir sedikit lebih awal,” kata Bu Rini. “Bawa ke meja penghangat dulu. Setelah itu kita kembalikan.”

“Jangan dibawa keluar,” kata Nara.

“Mejanya di ujung ruangan.”

Bu Rini mengambil Kirana dari tangan Vania sebelum perawat itu sempat menjawab. Bayi kecil itu menangis, lengannya bergerak lemah di luar kain.

Nara mencoba bangun.

Rasa hangat tiba-tiba mengalir di antara pahanya. Vania melihatnya dan langsung kembali ke sisi ranjang.

“Bidan Rini, perdarahannya bertambah.”

“Tangani. Saya bawa bayi ke penghangat.”

“Jangan!” Nara mengulurkan tangan, tetapi hanya menyentuh udara.

Bu Rini berbalik. Dalam cahaya lampu minyak, punggungnya menutup pandangan Nara pada Kirana.

Lalu lampu itu padam.

Kegelapan datang sekali lagi.

Nara mendengar pintu dibuka.

Tangisan Kirana menjauh ke lorong.

“Vania, anak saya dibawa!”

“Mbak, jangan bergerak. Saya harus menghentikan perdarahannya.”

“Kejar dia!”

“Saya tidak bisa meninggalkan Mbak sekarang.”

Tubuh Nara menggigil. Ia terjebak di atas ranjang, sementara Vania menekan kain dan memeriksa kondisinya. Dari ruang sebelah terdengar tangisan bayi kedua.

Maya telah lahir.

Beberapa menit terasa seperti satu kehidupan penuh.

Ketika lampu darurat akhirnya menyala kembali, Bu Rini masuk sambil menggendong bayi terbungkus kain. Sebuah gelang bertuliskan nama Nara melingkar di kaki kecilnya.

“Nih,” katanya. “Anakmu sudah aman.”

Ia meletakkan bayi itu di sisi Nara.

Dengan tangan lemah, Nara membuka kain di bahu kanan bayi tersebut. Jemarinya bergerak ke bawah ketiak.

Kulit itu bersih.

Tidak ada bulan sabit.

Episode 3

Bab 3

Tanda Bulan Sabit

Tidak ada bulan sabit.

Nara menyentuh sekali lagi kulit di bawah ketiak kanan bayi yang diletakkan Bu Rini di sisinya. Bersih. Tidak ada lengkung kecokelatan yang baru saja ia lihat dan minta Vania foto.

Ini bukan Kirana.

Bayi itu menggeliat lemah, lalu menangis. Suaranya lebih berat daripada tangisan Kirana. Gelang di kakinya memang bertuliskan Nara Ayuningtyas, tetapi tulisan itu tampak lebih tebal.

Bu Rini berdiri di ujung ranjang.

“Kenapa dibuka lagi? Bayinya bisa kedinginan.”

Nara menutup tubuh bayi dengan kain. Bukan karena percaya kepada Bu Rini, melainkan karena anak ini juga baru lahir. Anak ini tidak bersalah.

Maya.

Putri Siska.

Dalam kehidupan pertama, kebencian keluarga tumbuh di sekitar dua anak perempuan ini seperti pagar berduri. Orang-orang dewasa membuat pilihan, lalu anak-anak yang terluka dipaksa membayar.

Nara tidak akan mengulanginya.

Ia akan mengambil Kirana kembali.

Namun ia juga tidak akan membiarkan Maya menjadi korban berikutnya.

“Vania,” panggil Nara.

Perawat itu masih sibuk menangani perdarahannya. “Saya di sini.”

“Lihat bayi ini.”

“Sebentar, Mbak.”

“Sekarang.”

Ada sesuatu dalam suara Nara yang membuat Vania mengangkat kepala.

Bu Rini lebih dulu mendekat. “Jangan mengganggu petugas. Kondisimu yang harus diperhatikan.”

Nara merasakan pusing berat. Cahaya lampu darurat pecah menjadi dua di matanya. Ia tahu Bu Rini menunggu dirinya kehilangan kesadaran.

Karena itu ia berkata lebih keras, “Saya merasa darahnya semakin banyak.”

Vania langsung memeriksa.

“Bidan Rini, saya butuh obat dan kain tambahan.”

Bu Rini menatapnya. “Ambil sendiri.”

“Saya tidak bisa meninggalkan pasien.”

“Kalau begitu, saya yang ambil.”

Bu Rini tidak punya pilihan tanpa terlihat menolak penanganan. Ia melirik bayi di sisi Nara, lalu berjalan keluar.

Begitu pintu tertutup, Nara meraih lengan Vania.

“Kunci pintunya.”

“Apa?”

“Tolong.”

“Mbak Nara, kita tidak boleh mengunci ruang bersalin.”

“Kalau begitu tahan pintunya. Dengarkan saya dulu.”

Vania menatap darah pada kain, wajah pucat Nara, lalu bayi yang menangis di ranjang.

“Apa yang terjadi?”

Nara membuka kain bayi itu dan menunjukkan bagian bawah ketiaknya.

“Ini bukan anak saya.”

Vania membeku.

“Mbak, jangan bicara begitu.”

“Lihat foto di ponselmu.”

“Tanda lahir tidak selalu...”

“Lihat fotonya, Vania.”

Perawat muda itu mengeluarkan ponsel dari saku. Tangannya licin oleh keringat. Ia membuka gambar terakhir.

Di layar kecil, gelang bertuliskan Nara Ayuningtyas terlihat melingkar di kaki Kirana. Di bawah ketiak kanannya ada tanda berbentuk bulan sabit.

Vania membandingkannya dengan bayi di ranjang.

Wajahnya kehilangan warna.

“Mungkin tadi saya salah memotret bagian...”

“Kamu mengambil tiga foto.”

Vania membuka foto berikutnya.

Tanda yang sama.

Foto ketiga memperlihatkan waktu lahir dan tulisan tangannya pada gelang.

Vania mengangkat kaki bayi di sisi Nara. Ia menatap gelang yang sekarang terpasang di sana, lalu menggosok permukaannya dengan ibu jari.

“Ini bukan tulisan saya.”

Nara menutup mata sesaat. Ketakutan di dadanya berubah menjadi sesuatu yang dingin dan tajam.

“Anak saya ada di ruang sebelah.”

“Tidak mungkin.”

“Bu Rini membawa Kirana keluar saat lampu mati. Setelah bayi Siska lahir, dia membawa bayi ini kepada saya.”

Vania mundur satu langkah. “Bidan Rini tidak mungkin...”

“Kamu melihat gelang yang dia ambil dari saku.”

“Saya tidak melihat jelas.”

“Kamu melihat sakunya.”

Vania terdiam.

Dari lorong terdengar suara langkah cepat, lalu pintu ruang sebelah dibuka. Mereka tidak punya banyak waktu.

“Bawa saya ke sana,” kata Nara.

“Mbak bahkan tidak boleh berdiri.”

“Kalau begitu bawa bayinya.”

“Saya tidak bisa memindahkan bayi hanya berdasarkan tanda lahir.”

“Berdasarkan fotomu. Berdasarkan gelang yang bukan tulisanmu. Berdasarkan Bu Rini yang mematikan lampu dan membawa anak saya keluar.”

Vania menutup mulut dengan punggung tangan.

“Kalau kita salah?”

“Kita periksa dulu. Jangan pindahkan siapa pun sebelum kamu melihat bayi di sana.”

Tangisan dari kamar sebelah terdengar lagi. Lebih nyaring. Nara langsung mengenalinya.

Kirana.

Tubuhnya bergerak hendak bangun, tetapi rasa nyeri dan pusing menjatuhkannya kembali.

“Tolong,” katanya. “Saya tidak bisa mengejarnya. Hanya kamu yang bisa.”

Vania menatap pintu.

“Dan Maya?” tanyanya.

Nara melihat bayi di sampingnya. Maya membuka mulut kecil, menangis dengan mata terpejam. Tidak ada dosa di wajah itu. Tidak ada niat jahat. Hanya seorang bayi yang lapar dan kedinginan.

“Kita kembalikan dia kepada ibunya,” jawab Nara. “Dengan selamat.”

Kalimat itu membuat Vania mengambil keputusan.

Ia membungkus Maya lebih rapat, lalu mendorong ranjang bayi ke dekat Nara.

“Saya akan melihat dulu. Jangan bergerak.”

“Bawa ponselmu.”

“Ya.”

Vania keluar.

Setiap detik setelah itu menyayat saraf Nara. Ia memaksa matanya tetap terbuka. Ia menghitung suara hujan, detak jam, dan napas Maya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pintu terbuka kembali.

Vania masuk sambil menggendong seorang bayi lain.

“Ya Allah,” bisiknya.

Di bawah ketiak kanan bayi itu ada bulan sabit.

Kirana.

Nara mengulurkan kedua tangan, tetapi Vania tidak langsung menyerahkannya.

“Gelangnya bertuliskan Siska Maharani,” kata Vania. “Waktunya juga tidak cocok. Bayi Siska lahir setelah Kirana.”

“Bu Rini menukar keduanya.”

“Di meja sebelah ada dua bungkus gelang yang sudah dibuka.” Napas Vania terdengar cepat. “Saya juga menemukan ini terselip di bawah kain Kirana.”

Ia menunjukkan satu gelang lepas bertuliskan nama Nara. Bentuknya sama, tetapi nomor catatan sementaranya berbeda dari yang terlihat di foto.

Bu Rini tidak sekadar memindahkan gelang resmi. Ia telah menyiapkan pengganti agar catatan tampak cocok setelah pertukaran.

“Simpan,” kata Nara.

“Kita harus melapor.”

“Kepada siapa sekarang? Pak Hadi tidak ada. Telepon mati. Bu Rini menguasai dua ruang ini.”

“Tapi ini kejahatan.”

“Dan kalau dia kembali sebelum kedua bayi aman, dia bisa memindahkan mereka lagi.”

Vania memandang pintu, lalu pada dua bayi.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Kembalikan posisi mereka. Pastikan gelang resmi sesuai ibu dan waktu lahir. Simpan satu gelang yang salah. Jangan hapus fotonya.”

“Kalau Bidan Rini tahu?”

“Dia tidak boleh tahu kita sadar.”

Vania menggeleng, ketakutan. “Saya bisa kehilangan pekerjaan.”

“Kalau kita diam, dua anak bisa kehilangan seluruh hidup mereka.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Vania menunduk pada Kirana. Bayi itu bergerak pelan dalam kain, wajahnya memerah karena menangis.

“Kita lakukan,” katanya akhirnya.

Ia melepas gelang palsu dari kaki Kirana, lalu mengambil gelang resmi yang tadi dipindahkan ke Maya. Tulisan pada gelang itu sama dengan foto di ponselnya. Setelah memeriksa nomor dan waktu, Vania memasangnya kembali pada Kirana.

Untuk Maya, ia mengambil gelang resmi yang berada di meja ruang sebelah, mencocokkan nama Siska dan waktu lahir, lalu memasangnya di kaki bayi itu. Gelang palsu bertuliskan nama Nara ia bungkus dengan kasa bersih dan selipkan ke bagian dalam saku seragamnya.

“Sekarang foto lagi,” kata Nara.

Vania mengambil gambar gelang Kirana, tanda bulan sabit, dan jam dinding. Lalu ia memotret gelang Maya sebelum membawa bayi itu kembali.

“Siska bagaimana?”

“Masih lemah. Matanya tertutup. Ada petugas kebersihan di lorong, tetapi dia tidak masuk.”

“Letakkan Maya di ranjang ibunya. Jangan tinggalkan dia di meja.”

Vania mengangguk.

Sebelum keluar, ia menempatkan Kirana di dada Nara.

Hangat tubuh mungil itu meresap melalui kain tipis. Nara menahan napas. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia memeluk putrinya pada malam kelahirannya dengan mengetahui pasti siapa anak itu.

Air matanya jatuh ke rambut halus Kirana.

“Ibu di sini,” bisiknya. “Kali ini Ibu di sini.”

Kirana tidak mungkin memahami kata-katanya. Bayi itu hanya mencari kehangatan, pipinya menempel pada kulit Nara, jari-jarinya membuka lalu menggenggam udara.

Namun bagi Nara, gerakan kecil itu terasa seperti jawaban.

Vania kembali beberapa menit kemudian dengan wajah tegang.

“Maya sudah bersama Siska. Gelangnya benar.”

“Ada yang melihat?”

“Tidak.”

“Ponselmu?”

“Masih pada saya.”

“Gelang palsu?”

Vania menyentuh saku bagian dalam. “Di sini.”

“Catat urutannya.”

“Sekarang?”

“Sebelum kita lupa menitnya. Tulis Kirana lahir pukul nol nol sepuluh, gelang pertama dipasang olehmu, lalu Bu Rini membawanya saat lampu mati. Tulis bayi kedua lahir setelah itu.”

Vania mengambil kertas kecil dari buku catatan obat. Ujung penanya bergetar ketika menulis.

“Saya tidak tahu apakah catatan ini akan dipercaya.”

“Saya juga tidak tahu.” Nara menatap gelang palsu yang tersembunyi di balik kain kasa. “Karena itu jangan mengubah apa pun. Jangan menambah hal yang tidak kamu lihat.”

“Kalau saya ditanya kenapa tidak langsung melapor?”

“Katakan yang sebenarnya. Dua ibu baru melahirkan, telepon tidak berfungsi, dan orang yang kamu curigai memegang kendali klinik.”

Vania melipat catatan itu bersama gelang palsu. “Ini belum cukup untuk menuduh siapa pun.”

“Belum,” kata Nara. “Tapi cukup untuk membuat kita tidak lupa.”

“Kita akan membutuhkannya suatu hari.”

Nara mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

Mereka berhasil.

Belum menang. Belum aman. Namun Kirana ada di dadanya dan Maya kembali kepada ibu kandungnya. Pertukaran itu telah diperbaiki sebelum dokumen kelahiran dibuat.

Di luar, suara Bu Rini terdengar dari ujung lorong.

“Vania?”

Perawat itu tersentak.

Nara segera menarik kain menutupi tubuh Kirana dan memejamkan mata, berpura-pura terlalu lelah untuk sadar.

Vania menyimpan ponselnya, merapikan meja, lalu kembali memeriksa infus seolah tidak terjadi apa-apa.

Langkah Bu Rini semakin dekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Gagang pintu mulai bergerak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!