Ada sebuah teori fisika yang mengatakan bahwa waktu itu relatif. Bagi orang yang sedang menunggu microwave selesai memanaskan nasi, satu menit terasa seperti satu jam. Tapi bagi Lina, tiga tahun pernikahan terasa seperti tiga detik. Cepat, blur, dan tiba-tiba sudah habis tanpa ia sadari apa yang sebenarnya ia makan selama ini.
"Lina! Handuk ku mana? Yang aromanya wangi lavender!"
Teriak Raka dari dalam kamar mandi sehingga memecahkan lamunan Lina di ruang dapur. Lina menatap panci nya yang berisi sup ayam yang baru saja mendidih. Uapnya mengepul, persis seperti kesabarannya saat ini.
"Ada Di rak atas Mas ! Di sebelah sabun batang yang kamu bilang 'terlalu licin' minggu lalu!" balas Lina berteriak balik, namun suaranya datar.
setelah beberapa menit kemudian Raka muncul , hanya mengenakan handuk di pinggangnya, rambutnya masih basah kuyup. Dia tersenyum, senyum yang dulu membuat lutut Lina lemas namun Sekarang? Itu hanya membuat Lina ingin melemparkan sendok sayur ke arah dahinya.
"Makasih, Sayang. Kamu memang paling tahu letak barang-barangku," kata Raka sambil mencium pipi Lina sekilas. "Aku harus berangkat cepat hari ini. soalnya Meeting sama klien sangat penting. Jangan lupa kirimkan laporan keuangan rumah tangga ke emailku ya, biar aku cek nanti malam."
Lina mengangguk kaku. "Siap, Tuan Direktur Keuangan Keluarga."
Raka pun tertawa renyah. "Kamu ini, selalu saja lucu. Ya udah, aku pergi dulu.I Love you!"
Pintu kini tertutup. dan Suara mesin mobil Raka perlahan menjauh hingga menghilang. Hening kembali menyelimuti rumah mewah dua lantai itu. Rumah yang bersih, rapi, dan sunyi seperti kuburan.
Lina menghela napas panjang. Dia melihat sekeliling dapur. Semuanya tampak berkilau. Tidak ada noda minyak, tidak ada debu. Ini adalah hasil tangannya. Dan untuk apa? Untuk seorang pria yang menganggap istri nya sebagai bagian dari inventaris rumah tangga, sejajar dengan kulkas dan mesin cuci.
Ding!
Ponsel Lina berbunyi. ada Sebuah pesan masuk dari Dinda, adik bungsunya.
Kak, aku sekarang lagi di depan rumah.aku Boleh mampir nggak? Aku juga bawa martabak manis favorit Kak Raka. Aku Lagi stres banget nih di kos kosan.
Lina memicingkan mata. Dinda. Adik kecilnya yang polos, manja, dan selalu butuh pertolongan. Sudah enam bulan terakhir, Dinda sering sekali mampir Kadang menginap semalam karena terhalang hujan deras kadang menginap dua malam karena listrik mati dan bahkan kemarin dia menginap tiga hari karena habis bertengkar dengan teman sekamar nya.
Raka, tentu saja dengan segala kemurahan hatinya atau mungkin bisa di sebut kebodohannya selalu mengizinkan.katanya "Kasihan Dinda, Lin. Dia kan masih muda, jauh dari orang tua. Biar dia nyaman di sini," begitu lah kira kira alasan Raka.
Dan Lina, sebagai istri yang baik, selalu mengiyakan. Karena dia percaya pada keluarganya. Karena dia percaya pada suaminya.
Karena dia naif.
Lina mengetik balasan singkat. Boleh. Masuk saja, pintu belakang nggak dikunci.
setelah Sepuluh menit kemudian, Dinda masuk ke dapur dengan wajah cemberut yang sudah dilatih sejak kecil untuk memancing simpati. Dia membawa kotak martabak besar.
"Kak Linaaa..." rengek Dinda, langsung memeluk lengan Lina. "Kangen banget sama Kakak. Di kosan sepi banget, teman-temanku jahat semua."
Lina melepaskan pelukan itu perlahan. "Halo juga, Din. Martabaknya masih hangat?"
"Iya, Kak! Spesial buat Kak Raka juga. Kak Raka mana?" tanya Dinda, matanya berkeliling mencari sosok suami kakak nya itu.
"Dia baru saja pergi meeting. Katanya penting," jawab Lina, mengambil piring.
Dinda terlihat sedikit kecewa, tapi ia segera menutupinya dengan senyum lebar. "Yah, sayang banget. Padahal aku mau ngobrol-ngobrol sama Kak Raka soal tugas kampusku. Dia kan pintar, pasti dia bisa bantu."
Lina langsung berhenti mengiris martabak. dan Pisau di tangannya kini terhenti di udara. Ada nada yang terdengar aneh dalam suara Dinda. Nada yang terlalu akrab. Terlalu... intim.
"Tugas kampus? Bukannya kamu semester akhir tahun lalu sudah lulus, Din?" tanya Lina, pura-pura lupa.
Dinda terdiam sesaat. Matanya berkedip cepat. "Eh, iya ya. Lupa aku. Maksudnya... skripsi revisi. Iya, skripsi revisi."
Lina akhirnya tersenyum tipis. Senyum yang tidak membuat matanya menyipit "Oh, gitu. Ya sudah, sini makan. Nanti dingin."
Lina Dan dinda duduk di meja makan. Dinda banyak bicara, bercerita tentang temannya, tentang dosennya, tentang betapa susahnya hidup tanpanya. Lina mendengarkan setengah hati, sambil memperhatikan gerak-gerik adik kandungnya sendiri.
Tiba-tiba, ponsel Dinda yang tergeletak di meja bergetar. Layarnya menyala. Nama kontak yang muncul bukan nama teman, bukan nama dosen.
Nama itu: "Suami Orang 😈"
Jantung Lina melompat. Suami Orang? Siapa suami orang? Apakah Dinda sedang dekat dengan pria beristri? Lina merasa jijik sekaligus khawatir.
"Din, siapa itu 'Suami Orang'?" tanya Lina santai, sambil menyeruput teh.
Wajah Dinda memucat seketika. Dia meraih ponselnya dengan gerakan panik. "Ah, itu... itu cuma grup drama, Kak! Namanya aja lebay. Isinya curhat-colonghat gitu."
Lina menatap Dinda lekat-lekat. Ada keringat dingin di dahi adiknya. Ada ketakutan di matanya.
"Grup drama?" ulang Lina. "Sejak kapan grup drama pakai emoji setan?"
Dinda tertawa gugup. Tawanya terdengar sumbang. "Ya ampun, Kak Lina kenapa jadi cerewet banget sih. Kan biar seru. Udah ah, aku mau ke toilet dulu. Perutku agak sakit habis makan martabak."
Dinda buru-buru berdiri dan lari ke arah toilet tamu
Lina masih tetap duduk. Matanya tertuju pada ponsel Dinda yang tertinggal di meja. Jaraknya hanya satu jengkal saja
Prinsip Lina selalu jelas: Jangan pernah mengorek privasi orang lain, bahkan keluarga sendiri.
Tapi prinsip itu retak ketika ia melihat notifikasi baru muncul di layar ponsel Dinda yang masih menyala redup. Bukan dari "Suami Orang", tapi dari WhatsApp. Preview pesannya terlihat jelas.
"Sayang, tadi kamu lupa ambil jaketmu di mobil. Aku simpan dulu di apartemen. Nanti malam jam 8 aku antar? Atau kamu mau mampir saja? 😘"
Nama pengirimnya bukan "Suami Orang".
Nama pengirimnya adalah: "Raka ❤️"
Dunia Lina berhenti berputar. Suara kipas angin di langit-langit terdengar seperti deru pesawat jet. Napasnya terasa tercekat.
Raka? Suaminya? Mengirim pesan mesra ke adik kandungnya? Dan Dinda menyimpan nomor Raka dengan nama "Suami Orang"?
Lina merasa ingin muntah. Tapi alih-alih muntah, sebuah tawa kecil, histeris dan pahit, lolos dari bibirnya.
"Ternyata," bisik Lina pada dirinya sendiri, "teori relativitas itu salah. Tiga tahun pernikahan bukan terasa seperti tiga detik. Tapi seperti tiga abad penyiksaan yang baru saja dimulai babak utamanya."
Dia menatap pintu toilet tempat Dinda bersembunyi. Lalu menatap ponsel itu.
Apakah dia harus membuka chat itu? Atau pura-pura tidak tahu dan menunggu drama berikutnya?
Lina mengulurkan tangannya. Jarinya gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai mendidih.
Satu klik. Hanya butuh satu klik untuk menghancurkan segalanya.
Tapi sebelum jarinya menyentuh layar, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Bukan dari toilet. Dari arah pintu depan.
Pintu depan terbuka.
"Lina! Aku lupa ambil laptop!"
ucap raka Suara Raka.
Lina langsung membeku. Ponsel Dinda masih di tangannya. Layarnya masih menyala, menampilkan nama "Raka ❤️" yang seolah olah sedang mengejeknya.
Dan Raka berjalan masuk ke dapur, tersenyum lebar, tanpa menyadari bahwa neraka baru saja mengetuk pintu rumahnya.
bantu like ya hehe
Lina meletakkan ponsel Dinda di meja. Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya terlihat datar seperti tembok beton.
Raka berjalan masuk, napas terburu-buru. "aku Lupa bawa laptop!"
tepat saat itu Dinda keluar dari toilet, dinda langsung tersenyum manis ke arah Raka. "Kak Raka balik?"
"Iya, Din. Meetingnya batal," kata Raka, matanya menghindari tatapan Lina.
Lina menyilangkan tangan. "Oh? Batal? Padahal tadi kamu bilang meeting sama klien sangat penting. Klien yang mana? Budi gendut atau Budi kurus?"
Raka sempat kaget. "Eh... Budi gendut. Iya."
"Lucu ya" kata Lina dingin. "Karena Budi gendut nggak punya mobil. Dia naik ojek. Jadi mustahil dia minjem jaket bombermu buat di mobil."
Hening. Suara jangkrik seolah-olah ikut hadir di dapur itu.
Dinda tertawa gugup. "Mungkin... mungkin Budi sewa mobil, Kak Lina? Zaman sekarang kan banyak yang kayak gitu buat gaya-gayaan."
"Gaya-gayaan?" Lina menatap Dinda tajam. "Atau mungkin ada orang yang lebih suka 'gaya' di apartemen orang lain?"
Wajah Dinda memucat. "Kak Lina ngomong apa sih? Aku nggak paham."
"Nggak paham?" Lina mengambil ponsel Dinda dari meja, lalu menunjukkannya ke wajah Raka. "Terjemahkan ini, Raka. 'Sayang, jaketmu aku simpan di apartemen. Nanti malam jam 8 aku antar kan? 😘' Pengirim: Raka ❤️."
Raka melongo. Mulutnya terbuka-tutup seperti ikan mas yang kehabisan oksigen. "Itu... itu..."
"Itu apa?" desak Lina. "Itu kode rahasia? Itu bahasa alien? Atau itu bukti kalau kamu sudah tidur dengan adik kandungku?"
Dinda mencoba merebut ponselnya. "Kak, itu privasi! Kakak nggak boleh baca!"
"Privasi?" Lina tertawa sinis. "Sejak kapan selingkuhan jadi privasi? Sejak kapan mengkhianati istri jadi hak asasi manusia?"
Raka akhirnya membuka suara. "Lina, dengar dulu. Ini salah paham. Aku cuma... cuma bantu Dinda. Dia stres mengerjakan skripsi. Aku cuma eee teman curhat."
"Teman curhat?" Lina menaikkan alisnya. "Teman curhat yang mengirim emoji ciuman? Teman curhat yang menyimpan nomor dengan nama 'Raka ❤️'? Teman curhat yang nitip jaket di apartemen?"
"Apartemen itu..." Raka mulai mengeluarkan keringat dingin yang mengucur deras. "Apartemen itu milik teman! Aku cuma titip jaket!"
"Titip jaket di atas kasur?" tanya Lina. "Di atas bantal pink neon? Temanmu punya selera dekorasi yang sangat spesifik, Rak."
Dinda akhirnya mulai menangis. "Kak Lina jahat! Kakak nuduh-nuduh! Aku benci Kakak!"
"Benci?" Lina mendekat ke wajah Dinda. "Kamu benci aku? Padahal aku yang bayar uang kosmu bulan lalu? Aku yang belikan kamu obat saat kamu sakit? Aku yang melindungi kamu dari dunia luar? Dan balasannya adalah kamu tidur dengan suamiku?"
"Aku nggak tidur!" teriak Dinda histeris. "Kami cuma... cuma pelukan! Nggak lebih!"
"Pelukan?" Lina menoleh ke Raka. "Kau dengar itu, Raka? Adikku bilang kalian cuma pelukan. Apa kamu ingin menjelaskan detail 'pelukan' itu? Apakah pelukannya sambil rebahan? Atau pelukannya sambil mematikan lampu?"
Raka mengusap wajahnya. "Lina, tolong. Jangan bikin ribut. Nanti tetangga dengar."
"Tetangga?" Lina tertawa keras. "Kamu khawatir tetangga akan dengar? Tapi kamu nggak khawatir hatiku hancur? Kamu nggak khawatir harga diri ku sebagai seorang istri hancur berkeping-keping?"
"Aku minta maaf," kata Raka pelan. "Aku khilaf."
"Khilaf?" Lina menatapnya jijik. "Khilaf itu kalau kau lupa beli susu. Khilaf itu kalau kau lupa ulang tahun pernikahan. Ini bukan khilaf, Rak. Ini penghianatan tingkat dewa."
Dinda masih terisak-isak. "Kak Raka, kita pulang saja. Kak Lina marah banget."
Raka tampak ragu. Dia melihat Lina, lalu melihat Dinda.
"Pulang?" kata Lina. "Ke mana? Ke apartemen? Atau ke neraka? Karena sepertinya kalian berdua sudah memesan tiket VIP ke sana."
Raka menghela napas panjang. "Lina, kita bicara nanti ya. jika emosi kamu sudah reda."
"Emosi reda?" Lina tersenyum mengerikan. "Emosiku belum mulai, Rak. Ini baru pemanasan. Babak utama belum dimulai."
Lina mengambil kunci mobil dari saku Raka yang tergeletak di meja.
" kamu mau ngapain?" tanya Raka waspada.
"Aku mau jalan-jalan," kata Lina santai. "Biar kalian berdua bisa 'berdiskusi' soal skripsi Dinda. Tapi ingat, Raka Kalau kamu berpikir bisa menutupi ini dengan bohong lagi, aku akan pastikan seluruh keluarga besar tahu betapa 'baiknya' hati kalian."
Lina berjalan keluar rumah, meninggalkan Raka dan Dinda yang terpaku di dapur.
Di dalam mobil, Lina menyetir tanpa tujuan. Tangannya gemetar memegang setir. Air matanya akhirnya tumpah.
"Sialan," bisiknya. "Sialan kalian semua."
Tapi di balik air mata itu, ada tekad baja. Lina tidak akan hancur. Dia akan bangkit. Dan dia akan membuat mereka menyesal telah menginjak-injak hatinya.
Permainan baru saja dimulai. Dan Lina tidak pernah kalah dalam permainan apa pun.
Lina tidak pulang ke rumahnya, melainkan Dia membuka GPS ke arah pusat perbelanjaan terbesar di kota, tempat di mana harga barang-barang bisa membuat dompet menangis, tapi setidaknya bisa membuat hati yang hancur merasa sedikit lebih "Tenang".
Lina melangkah masuk ke butik pakaian wanita yang paling eksklusif di lantai tiga. dan Seorang pramuniaga dengan senyum tipis datang menghampirinya.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
Lina menoleh menatap rak-rak gaun sutra. "Ya. Saya butuh sesuatu yang bisa membuat mantan suami dan adik kandung saya menyesal seumur hidup setelah melihat foto Instagram saya nanti."
Pramuniaga itu kebingungan sambil mengerutkan kening, "Maksud Nona... gaun pesta?"
"Bukan," kata Lina sambil mengambil sebuah blazer merah menyala yang harganya setara dengan motor bekas. "Saya butuh armor. Armor untuk perang psikologis."
Lina langsung masuk ke ruang ganti. dan melihat ke cermin, matanya bengkak karena habi menangis . Rambutnya terlihat berantakan. Dia terlihat seperti korban bencana alam, bukan istri pejabat muda yang sukses.
"Sial," gumam Lina. "Aku bahkan nggak punya tenaga untuk marah. Aku cuma punya tenaga untuk belanja pakai kartu kredit bersama."
Tiba-tiba, pintu ruang ganti sebelah terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar, membawa tumpukan baju. Dia melirik Lina lewat celah pintu.
"Waduh, Nak. Wajahmu kok kayak habis digilas truk sampah?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.
Lina terkejut. "Maaf?"
"Ibu Tuti, tetangga sebelah rumahmu," kata wanita itu sambil mengunyah permen karet. "Ibu lihat kamu masuk mall sendirian. Biasanya kan sama si Raka yang sok ganteng itu. Atau sama si Dinda yang jalannya seperti model catwalk padahal lagi ke minimarket."
Lina tertegun. Ibu Tuti? Tetangga yang biasanya hanya menyapa sekilas saat mengambil koran? Ternyata dia observatif sekali.
"Ibu tahu banyak ya," kata Lina pelan.
"Ibu tahu semua," kata Ibu Tuti bangga. "Soalnya ibu punya telinga selebar piring terbang. Dan mulut yang nggak bisa diam. Jadi, kenapa mukamu begitu? Si Raka selingkuh?"
Lina hampir tersedak. "Ibu... bagaimana Ibu bisa..."
"Tebak-tebakan saja," potong Ibu Tuti. "Tapi kalau tebakanku benar, jangan nangis di sini. Nanti bajunya basah, susah dijual lagi. Mending nangis di kasir, sekalian bayar pakai air mata.siapa tau ada Diskon ?"
Lina tidak bisa menahan diri. Dia tertawa. Tawa yang terdengar aneh, campuran antara histeris dan lega.
"Ibu lucu sekali," kata Lina.
"Ibu memang lucu. Tapi serius, Nak. Kalau laki-laki itu sudah busuk, buang saja. Jangan dipelihara. Nanti nular ke tanaman hiasmu," nasihat Ibu Tuti sambil menunjuk tas belanjaannya. "Nih, coba rok ini. Warnanya cocok buat bikin mantan suami buta karena silau."
Lina mengambil rok itu. Untuk pertama kalinya hari ini, dia merasa ada seseorang yang benar-benar di sisinya. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memberi solusi praktis: beli baju mahal.
Setelah membayar dengan kartu kredit yang limitnya hampir habis Lina duduk di kafe dekat mall. Dia memesan kopi hitam pahit, secubit rasa sakitnya.
Ponselnya tiba tiba bergetar.dan Nama Raka muncul di layar.
Lina menatapnya lama. Lalu, dia menjawab.
"Halo?" suaranya dingin.
"Lina, di mana kamu?" suara Raka terdengar panik. "Dinda sudah pulang. Aku sendirian di rumah. Kita perlu bicara."
"Bicara tentang apa?" tanya Lina. "Tentang jaket bomber? Atau tentang bantal pink neon?"
"Lina, tolonglah. Jangan bawa-bawa hal itu. Aku cuma ingin menjelaskan."
"Menjelaskan?" Lina tertawa sinis. "Menjelaskan bahwa kamu ternyata pria bermuka dua? Atau menjelaskan bahwa adikku ternyata pencuri hati yang handal?"
"Aku khilaf, Lina. Aku stres kerjaan. Dinda datang, dia mendengarkan keluhanku. Lama-lama... ya gitu deh. Itu cuma kesalahan sesaat."
"Kesalahan sesaat?" Lina menaikkan suaranya. Beberapa orang di kafe menoleh. "Raka, perselingkuhan bukan kesalahan sesaat. Itu adalah serangkaian pilihan. Pilihan untuk membalas chat. Pilihan untuk bertemu. Pilihan untuk menyimpan nomor dengan nama 'Raka ❤️'. Itu bukan khilaf. Itu rencana."
" mau mu apa Lina?" tanya Raka lelah.
"Aku mau ruang," kata Lina tegas. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Jangan hubungi aku dulu. Jangan cari aku. Dan jangan berani-berani membawa Dinda ke rumah mu lagi."
"Lina, itu rumah kita juga—"
"Bukan lagi," potong Lina. "Mulai detik ini, itu adalah rumah mu. Aku akan tinggal di hotel dulu. Atau mungkin di rumah Ibu Tuti. dia menawarkan diskon sewa kamar kalau aku mau mendengarkan gosipnya seharian."
Raka terdiam. "Kamu serius mau tinggal sama Ibu Tuti? Wanita yang kemarin laporin aku ke RT karena parkir mobil terlalu miring?"
"Iya," kata Lina. "Setidaknya dia orangnya jujur. dan Kamu tidak."
Lina langsung menutup telepon. lalu menarik napas dalam-dalam. Hatinya masih sakit, tapi ada kepuasan kecil karena berhasil membuat Raka bingung.
Tiba-tiba, seorang pria duduk di meja seberangnya. Pria itu mengenakan kacamata hitam meski berada di dalam ruangan, dan membaca buku tebal berjudul "Cara Menjadi Dingin Seperti Es Batu".
Lina menatapnya aneh. "Permisi, Mas. Ini kursi kosong?"
Pria itu menurunkan kacamatanya sedikit. Matanya tajam, tapi ada kesedihan di sana. "Silakan. Tapi jangan berharap saya akan menghibur Anda. Saya sedang dalam mode 'tidak peduli'."
Lina tersenyum tipis. "Bagus. Karena saya juga sedang dalam mode 'tidak percaya pada manusia'."
Pria itu mengangkat alis. "Oh? Baru dikhianati?"
Lina terkejut. "Anda bisa baca pikiran?"
"Bukan," kata pria itu. "Tapi ekspresi wajah Anda sama persis dengan saya tiga bulan lalu. Istri saya kabur dengan instruktur yoga. Katanya saya kurang fleksibel secara emosional."
Lina tertawa geli. "Instruktur yoga? Serius?"
"Serius," kata pria itu datar. "Sekarang saya belajar meditasi. Supaya nggak meledak setiap kali lihat orang pakai celana ketat."
Lina merasa terhubung dengan orang asing ini. Ada humor gelap yang mereka bagi.
"Nama saya Arka," kata pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan.
"Lina," jawab Lina, menjabat tangannya. "Dan terima kasih, Arka. Ternyata, menjadi dingin seperti es batu nggak seburuk kelihatannya."
Arka tersenyum tipis. "Itu baru permulaan, Lina. Nanti kamu akan sadar, es batu itu awet. Nggak mudah busuk seperti janji-janji pria."
Lina menatap kopinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, dia merasa tidak sendirian. Ada cahaya kecil di ujung terowongan yang gelap itu. Dan cahayanya bernama Arka, pria aneh dengan kacamata hitam di dalam ruangan.
"Mau pesan kue?" tanya Arka tiba-tiba. "Saya traktir. Sebagai tanda solidaritas antar korban pengkhianatan."
Lina mengangguk. "Boleh. Tapi yang pahit. Seperti hidup saya sekarang."
Arka tertawa. Tawanya renyah, berbeda dengan tawa hampa Raka.
"Siap, Nona Pahit. Satu cheesecake lemon, extra asam," panggil Arka ke pelayan.
Lina kini tersenyum. Mungkin, hari ini bukan hari terburuk dalam hidupnya. Mungkin, ini adalah awal dari bab baru yang lebih berwarna. Meskipun warnanya masih agak abu-abu, setidaknya ada sedikit kilauan emas di sana.
JANGAN LUPA DI LIKE YA, KALAU MAU KOMEN JUGA ALHAMDULILLAH, HIHIHI
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!