Indonesia
NovelToon NovelToon

IMAMKU,SANG BAD BOY

Gema Tasbih dan Deru Mesin Sport

Pagi di kawasan Pesantren Al-Hikmah selalu memiliki ritmenya sendiri. Langit fajar baru saja menyapukan warna jingga keemasan di balik barisan pohon kelapa dan kubah masjid utama yang menjulang megah. Udara dingin khas pedesaan bercampur dengan aroma gaharu dan wangi halaman basah menyambut siapa saja yang menghirupnya. Di kompleks seluas sepuluh hektare itu, denyut kehidupan dimulai jauh sebelum matahari sepenuhnya muncul di ufuk timur.

Suara gemercik air kolam wudu berpadu harmonis dengan suara santri-santri penghafal Al-Qur'an yang melantunkan ayat-ayat suci dengan suara berirama merdu. Di salah satu sudut ruang dalam rumah induk sebuah bangunan berarsitektur tradisional Jawa berpadu modern milik pengasuh pesantren seorang gadis tengah duduk bersimpuh di atas sajadah tebal berwarna hijau zamrud.

Tangannya menengadah, sementara bibirnya yang ranum melafalkan doa-doa penutup tahajud dengan khusyuk. Air mata bening sempat menetes di sudut matanya, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang melimpah atas nikmat iman dan perlindungan yang ia rasakan setiap detik dalam hidupnya.

Namanya Nayara Zayna Az-Zahra, usia genap 20 tahun. Ia adalah putri sulung dari K.H. Ahmad Zayna, seorang ulama besar yang kharismatik, disegani, dan menjadi rujukan umat di negeri ini. Sebagai anak seorang kiai terpandang, seluruh gerak-gerik Nayara diatur oleh pagar-pagar syariat yang kokoh, bukan sebagai bentuk pengekangan, melainkan wujud kasih sayang orang tua untuk menjaga mutiara berharga mereka dari kerasnya dunia luar.

Sejak kecil, Nayara dididik untuk tidak mengenal kata pacaran, selalu menjaga pandangan dari lawan jenis yang bukan mahram, serta merawat ibadah wajib maupun sunnah tanpa pernah bolong. Tahajud, dhuha, witir, hingga tilawah harian telah mendarah daging dalam hidupnya. Di balik kesucian dan kesalehannya, Nayara juga dikaruniai fisik yang memukau tanpa dibuat-buat. Kulit putih bersih tanpa noda, mata bulat jernih dengan bulu mata lentik, hidung mancung proporsional, serta senyum manis yang memancarkan keteduhan luar biasa.

Selesai melipat mukena, Nayara bangkit dan berjalan anggun menuju cermin besar berukiran kayu jati khas Jepara di sudut kamarnya. Ia mengenakan gamis harian berwarna sage green berbahan linen lembut yang dipadukan dengan jilbab panjang senada menutupi dada. Penampilannya sangat rapi, bersih, dan elegan dalam kesederhanaan.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar diketuk pelan dari luar, disusul oleh suara berat yang sangat ia kenal.

"Kakak... princess-nya Ummi dan Abah, sudah siap belum? Nanti keburu telat lho masuk kuliah pagi!" panggil sebuah suara lelaki remaja dari balik pintu.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok remaja berpostur tinggi atletis mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atribut SMA. Rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur, namun ketampanan wajahnya sangat mirip dengan garis keturunan keluarga mereka.

Dia adalah Fathan Al-Faruq, adik kandung kesayangan Nayara yang kini duduk di kelas 11 SMA di yayasan yang sama. Di luar rumah, Fathan dikenal sebagai sosok pelindung yang disegani, bahkan sering ditakuti oleh teman-teman seangkatannya karena posturnya yang tinggi dan pembawaannya yang tenang. Namun, begitu berada di dekat Nayara, seluruh keangkeran itu menguap seketika, berganti dengan sifat manja yang luar biasa.

Tanpa aba-aba, Fathan langsung melangkah masuk dan menyandarkan dagunya di bahu sang kakak yang sedang merapikan buku-buku kedokteran di tas ranselnya.

"Fathan... kebiasaan banget deh. Badannya sudah tinggi hampir nyusul Abah, tapi kalau di dalam rumah masih suka meluk-meluk kakak kayak anak kecil umur lima tahun," protes Nayara lembut, meski bibirnya tidak kuasa menahan senyum geli melihat tingkah adiknya.

Fathan mengeratkan pelukannya sejenak, lalu mendengus manja. "Biarin saja. Di luar sana, Fathan harus pasang badan jadi benteng pelindung Kakak dari cowok-cowok kampus yang centil atau coba-coba mendekat. Tapi kalau di rumah, biarin Fathan manja sama Kakak satu-satunya ini. Emangnya nggak boleh?"

Nayara memutar bola matanya jengah, lalu berbalik dan mencubit pelan hidung adiknya. "Iya, tuan muda Fathan Al-Faruq. Tapi nanti kalau di luar kampus, jangan pasang muka garang terus ke semua orang. Sana sarapan dulu, Ummi sudah siapkan nasi goreng spesial di meja makan."

Suasana sarapan pagi di keluarga K.H. Ahmad Zayna selalu hangat. Sang Abah dan Ummi memberikan nasihat-nasihat penyejuk hati sebelum kedua anak mereka berangkat beraktivitas. Bagi Nayara, keluarga adalah benteng pertahanan terbaik di dunia. Ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, sehingga dunia luar di luar sana—dengan segala gemerlap dan tren anak mudanya—tidak pernah mampu menarik minatnya sedikit pun.

Satu jam kemudian, mobil jemputan keluarga menurunkan Nayara di depan gerbang utama Universitas Airlangga Nusantara, salah satu perguruan tinggi swasta paling bergengsi dan elit di Indonesia.

Begitu Nayara melangkahkan kakinya melewati gerbang kampus, atmosfer langsung terasa berbeda. Koridor-koridor megah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi dari berbagai latar belakang sosial mulai dari anak pejabat, pengusaha ternama, hingga selebritis kampus. Namun, kehadiran Nayara selalu berhasil menciptakan ruang tersendiri di tengah keramaian.

Sebagai mahasiswi kedokteran semester lima yang selalu menduduki peringkat pertama di fakultasnya, kecerdasan Nayara sudah diakui oleh para dosen. Ia juga sering memenangkan berbagai kompetisi karya ilmiah tingkat nasional. Ditambah dengan pesona fisiknya yang anggun dan tertutup, Nayara menjadi sosok yang dikagumi banyak orang, sekaligus disegani karena tidak satupun lelaki yang berani mendekatinya secara sembarangan.

"Nayara! Ya ampun, tungguin aku!"

Sebuah suara riang memecah konsentrasi Nayara saat ia berjalan menuju gedung fakultas kedokteran. Seorang gadis berambut sebahu dengan gaya pakaian modis namun sopan berlari kecil menghampirinya.

Dia adalah Alya, sahabat karib Nayara sejak hari pertama ospek kuliah. Alya adalah satu-satunya mahasiswi yang paling memahami Nayara secara utuh mengetahui batasan-batasan syariat yang dipegang teguh sahabatnya itu, sekaligus menjadi pelindung setia jika ada hal-hal usil yang mengganggu Nayara di kampus.

Alya langsung merangkul lengan Nayara begitu berhasil menyusul. "Kamu ini jalannya cepet banget, Nay. Kayak lagi dikejar malaikat maut. Untung aku rajin olahraga, jadi nggak ketinggalan jauh."

Nayara tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya. "Kamu ini ada-ada saja, Alya. Jalan biasa dibilang lari. Makanya, kalau jalan jangan sambil main handphone terus."

"Hehe, iya-iya. Eh, omong-omong soal jalan, kamu sadar nggak kalau dari tadi banyak pasang mata yang ngeliatin kita?" bisik Alya sambil melirik tipis ke arah area parkir basement.

Nayara mengernyitkan dahi. "Memangnya ada apa di parkiran?"

"Bukan di parkiran biasa, tapi 'The Royals' baru saja datang dengan gaya songong mereka," jawab Alya dengan nada setengah berbisik, seolah menyebut nama itu bisa memancing malapetaka.

Mendengar nama The Royals, ekspresi Nayara tetap datar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan gosip kampus, terutama yang melibatkan geng mahasiswa paling terkenal dan ditakuti di universitas tersebut.

"Sudahlah, Alya. Biarkan saja mereka dengan dunia mereka. Kita fokus kuliah saja, sebentar lagi ada kuis anatomi kan?" balas Nayara tenang, lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga perpustakaan.

Namun, takdir rupanya memiliki skenario lain yang jauh lebih rumit daripada apa yang ada di dalam buku kedokteran mana pun.

Di sudut lain kampus, tepat di area parkir khusus mobil mewah, suasana mendadak riuh oleh deru mesin mobil sport berharga fantastis. Sebuah lamborghini hitam mengkilap berhenti dengan sempurna di slot utama. Pintu terbuka, dan keluarlah empat orang pemuda yang langsung menarik perhatian seluruh mahasiswi yang berada di sekitar area tersebut.

Mereka dijuluki The Royals geng mahasiswa paling berpengaruh, terkaya, dan paling ditakuti di seluruh penjuru universitas.

Pemuda yang melangkah keluar dari kursi pengemudi adalah Revan Al-Gibran, usia 22 tahun. Revan adalah definisi nyata dari seorang bad boy kelas kakap. Berpostur tinggi sekitar 185 sentimeter dengan bentuk tubuh atletis sempurna hasil latihan fisik rutin, rahang tegas, hidung mancung, serta mata tajam berwarna cokelat gelap yang memancarkan aura dominasi mutlak.

Reputasi Revan di luar ketampanannya jauh lebih legendaris: playboy sejati. Mantan kekasihnya di dalam maupun di luar kampus sudah lebih dari sepuluh orang. Hidupnya dikelilingi oleh kemewahan, dunia malam, balap liar, dan kebebasan mutlak tanpa batasan aturan moral yang mengekang. Meskipun begitu, Revan adalah seorang penganut agama Kristen yang taat beribadah setiap hari Minggu sebuah rutinitas religius yang hampir tidak pernah ia tinggalkan demi menghormati pesan terakhir mendiang ibunya, meskipun dalam kesehariannya ia hidup bebas tanpa mematuhi norma-norma agama secara ketat.

Di sebelah Revan berdiri tiga sahabat setianya: Kevin, pemuda paling cerewet dan hobi menggoda wanita; Dito, si raksasa bertubuh atletis kapten tim basket kampus; serta Satya, pemuda pendiam yang merupakan hacker jenius di balik setiap aksi usil geng mereka.

"Bro, lihat tuh kantin rame banget pagi ini. Kayaknya seru kalau kita nongkrong dulu sebelum kelas," ujar Kevin sambil merangkul pundak Revan dan mengenakan kacamata hitamnya.

Revan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menyapu area koridor lantai dua, lalu terpaku pada sesosok gadis bergamis sage green yang sedang berjalan bersama temannya menuju perpustakaan. Gadis itu adalah Nayara.

Di saat hampir seluruh mahasiswi di kampus ini selalu histeris, tersenyum centil, atau terang-terangan mencari perhatian setiap kali Revan melintas, gadis berhijab panjang itu justru berjalan dengan pandangan menunduk tenang, melewati kelompok mereka seolah-olah Revan dan kawan-kawan hanyalah seonggok tiang lampu yang tidak bernyawa. Tidak ada lirikkan memuja, tidak ada senyum tersipu. Pure acuh tak acuh.

Revan mengerutkan keningnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring penuh tantangan sebuah ekspresi khas yang selalu muncul setiap kali ia menemukan hal yang sulit didapatkan. Harga diri seorang Revan Al-Gibran terusik secara elegan.

"Siapa gadis itu?" tanya Revan dengan suara baritone rendah, dagunya menunjuk ke arah sosok Nayara yang kini sudah menghilang di balik pintu perpustakaan.

Satya yang sedang memeriksa ponselnya melirik sekilas ke arah yang ditunjuk Revan. "Oh, itu? Namanya Nayara Zayna Az-Zahra. Mahasiswi kedokteran semester lima. Anak kiai besar pemilik Pesantren Al-Hikmah yang terkenal itu. Pintar, galak secara halus, dan yang paling penting... dia anti banget sama cowok model kita, Rev. Jangan coba-coba cari gara-gara sama dia, urusannya bisa panjang kalau bapaknya turun tangan."

Mendengar peringatan Satya, Revan justru tertawa kecil. Tantangan justru adalah makanan sehari-hari bagi seorang pemuda pemberontak sepertinya.

Kevin bertepuk tangan kecil penuh antusias. "Wah, tantangan baru nih buat sang playboy legendaris! Gimana, Rev? Lu kan selalu sesumbar nggak ada cewek yang bisa menolak pesona lu. Kalau dalam waktu sebulan lu bisa bikin Nayara bertekuk lutut dan jadi pacar ke-15 lu, gue traktir kita semua liburan ke New York pakai jet private bokap gue!"

Revan menatap tajam ke arah teman-temannya, lalu menyeringai penuh percaya diri. "Cuma sebulan? Lihat saja nanti. Gadis sok suci itu bakal ngejar-ngejar gue sebelum bulan ini habis."

Tanpa disadari oleh Revan maupun teman-temannya, dari lantai atas gedung Fakultas Ekonomi, sepasang mata sedang mengamati gerak-gerik mereka dengan kobaran api kebencian yang luar biasa. Dia adalah Jessica, ketua geng penindas kampus sekaligus mahasiswi paling populer yang merasa dirinya paling cantik dan yang paling utama: Jessica adalah mantan kekasih Revan ke-14 yang paling tidak terima saat diputuskan begitu saja oleh pemuda itu minggu lalu.

Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di kulit telapak tangan. "Lihat saja, Nayara... berani sekali kamu menarik perhatian Revan. Aku pastikan hidupmu di kampus ini akan berubah menjadi neraka!" bisik Jessica penuh ancaman kelam.

Hari-hari berikutnya, kampus Universitas Airlangga Nusantara mendadak berubah menjadi arena pertempuran tak kasat mata. Revan mulai menjalankan misi taruhannya dengan penuh strategi.

Awalnya, Nayara mengira kemunculan Revan di sekitar jalurnya hanyalah sebuah kebetulan semata. Namun, ketika pemuda bertubuh tinggi itu tiba-tiba duduk di bangku tepat di sebelah ruang kuliah anatominya padahal Revan adalah mahasiswa Fakultas Bisnis Nayara mulai merasa terusik.

"Mau apa kamu duduk di sini?" tanya Nayara dingin tanpa menoleh sedikit pun saat Revan dengan santai meletakkan segelas caramel macchiato di atas meja belajarnya.

Revan tersenyum miring, menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap wajah cantik Nayara dari jarak dekat. "Cuma mau belajar anatomi tubuh manusia. Kenapa? Takut terpesona sama ketampanan saya?"

Nayara menoleh perlahan. Sorot matanya tajam, memancarkan wibawa yang membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka langsung menahan napas. "Saya tidak punya waktu untuk meladeni permainan anak-anak seperti ini. Tolong ambil minuman kamu dan jangan pernah ganggu saya lagi."

Sikap dingin dan penolakan mentah-mentah itu justru membuat rasa penasaran di dada Revan semakin membara. Selama ini, semakin sulit sebuah mangsa didapatkan, semakin besar pula hasrat Revan untuk menaklukkannya. Hari-hari selanjutnya diisi dengan berbagai usaha gigih dari Revan mulai dari sengaja meminjam buku referensi kedokteran langka di perpustakaan hanya untuk diletakkan di meja Nayara, hingga berdiri di seberang gerbang pesantren saat sore hari hanya untuk melihat sekilas senyum tipis di wajah gadis itu.

Namun, kedekatan yang dipaksakan itu tidak luput dari mata benci Jessica. Rasa cemburu dan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Jessica merencanakan sebuah tindakan keji untuk mempermalukan Nayara di hadapan seluruh mahasiswa.

Suatu sore menjelang senja, saat Nayara sedang berjalan sendirian menuju gerbang belakang kampus untuk menunggu jemputan Fathan, langkahnya tiba-tiba dicegat di sebuah koridor laboratorium biologi yang sepi oleh Jessica dan tiga orang pengikut setianya.

"Wah, wah... lihat siapa yang berjalan sendirian hari ini," cibir Jessica dengan senyum meremehkan, melangkah maju dan dengan sengaja mendorong bahu Nayara hingga hampir terjatuh.

Nayara tidak melawan secara fisik. Ia mundur selangkah, menegakkan posisinya, lalu menatap Jessica dengan ketenangan yang luar biasa. "Saya tidak punya urusan dengan kamu, Jessica. Tolong beri jalan, saya mau pulang."

"Pulang? Belum boleh sebelum kamu dengar baik-baik!" bentak Jessica murka. Salah satu pengikut Jessica tiba-tiba menarik ujung jilbab Nayara dengan kasar hingga nyaris terlepas, sementara Jessica sendiri menyiramkan sebotol penuh cairan jus berry berwarna merah pekat tepat ke arah gamis sage green bersih yang dikenakan Nayara.

Cairan lengket berwarna merah itu mengotori sebagian besar bagian depan pakaian suci tersebut, menyerupai noda darah. Air mata sempat menggenang di pelupuk mata Nayara, bukan karena rasa takut terhadap ancaman fisik mereka, melainkan karena perlakuan zalim yang ia terima tanpa alasan yang adil. Namun, ia tetap mengingat pesan sang Abah untuk selalu bersabar menghadapi kebodohan manusia.

Tepat saat Jessica mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras ke pipi mulus Nayara, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Jessica dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga gadis itu menjerit kesakitan.

Suhu di koridor yang tadinya panas mendadak membeku. Suara langkah sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik terdengar menggema dengan cepat.

"Berani sekali tangan kotor kamu menyentuhnya, Jessica?" suara baritone dingin bernada kematian membahana di seluruh sudut koridor.

Revan berdiri tepat di hadapan mereka, matanya menyala menatap Jessica dengan kemurkaan yang belum pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya. Di belakang Revan, Fathan adik kandung Nayara yang kebetulan baru memarkirkan motornya dan berlari mencari sang kakak langsung menerobos maju dengan mata memerah menahan amarah yang meledak-ledak, siap menghancurkan siapa saja yang berani membuat kakaknya menangis.

Babak baru dari benturan dua dunia yang sangat berbeda resmi dimulai, membawa mereka pada pusaran takdir yang tidak bisa lagi dihindari oleh siapapun.

Topeng Sempurna dan Permainan Baru

Suasana koridor fakultas kedokteran Universitas Airlangga Nusantara mendadak senyap seketika. Hawa dingin seolah merambat naik dari lantai marmer putih, membekukan setiap pasang mata yang menyaksikan adegan tegang di depan laboratorium biologi sore itu.

Jessica masih meringis kesakitan. Pergelangan tangannya terasa hampir remuk dalam cengkeraman tangan Revan yang mengeras bagaikan besi. Napas ketua geng penindas kampus itu memburu, wajahnya pucat pasi menatap manik mata cokelat gelap Revan yang menyala tajam penuh ancaman. Tidak ada sisa senyum ramah; yang tersisa hanyalah amarah dingin yang mendominasi.

"R-Revan... lepasin! Ini sakit banget!" rintih Jessica dengan suara bergetar, mencoba menarik tangannya yang terkunci.

Revan sama sekali tidak langsung melepaskan begitu saja. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Jessica, membuat gadis berpoles makeup tebal itu terpaksa menelan ludah dengan susah payah. Suara Revan rendah, dingin, namun terdengar sangat tajam di telinga siapa pun yang mendengarnya.

"Dengar baik-baik, Jessica," desis Revan penuh penekanan di setiap kata. "Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak membuat keributan di area fakultas ini. Tapi sekarang, kamu berani melewati batas. Kalau sampai ada satu hal aneh lagi yang kamu lakukan pada Nayara... bukan cuma status mahasiswi kamu yang bermasalah di kampus ini, tapi aku sendiri yang bakal pastikan hidupmu tidak tenang."

Brak!

Revan mengempaskan tangan Jessica begitu saja, membuat gadis itu terdorong mundur hingga hampir menabrak dinding dan ditangkap panik oleh teman-teman sekelompoknya. Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk melirik Jessica lagi, Revan langsung membalikkan tubuhnya.

Namun, sebelum Revan sempat melangkah mendekat, sesosok remaja berpostur tinggi dengan seragam putih abu-abu yang sedikit berantakan sudah lebih dulu melesat bagai badai.

Bugh!

Sebuah hantaman keras mendarat di sudut rahang Revan. Pemuda itu terdorong ke samping akibat pukulan mendadak yang tidak sempat ia elak. Sudut bibirnya langsung mengeluarkan sedikit darah segar. Kevin, Dito, dan Satya yang baru saja menyusul dari ujung koridor sontak terpekik kaget dan berteriak meneriaki Fathan.

"Woi! Anjir, bocah SMA sialan! Berani banget lu pukul Revan!" geram Kevin, hendak maju mengepalkan tangan, namun langsung dihentikan oleh Revan yang mengangkat satu tangannya dengan tenang sambil mengusap darah di sudut bibirnya.

Fathan berdiri tepat di depan Nayara. Napas remaja SMA itu memburu hebat, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Matanya menatap tajam penuh kebencian kepada Revan, sementara tangannya yang lain merentang lebar seolah menjadi perisai hidup bagi sang kakak.

"Jangan pernah dekati Kakak saya lagi!" teriak Fathan dengan suara bergetar karena emosi yang meluap-luap. Ia menatap Revan tajam, lalu beralih menatap noda merah pekat yang mengotori gamis sage green Nayara. "Kalian semua sama saja! Sok berkuasa, sok hebat, tapi pengecut yang cuma bisa main keroyok dan merendahkan orang lain!"

Nayara, yang sejak tadi terdiam dalam keterkejutan, langsung meraih lengan adiknya dengan lembut. Suaranya terdengar bergetar namun tetap tegas di tengah kekacauan itu. "Fathan... sudah, cukup. Jangan diteruskan. Kita pulang sekarang, kumohon."

Fathan menoleh, melihat kilatan air mata yang ditahan di balik bulu mata lentik kakaknya. Hati remaja itu seperti diiris sembilu. Tanpa memperdulikan Revan yang masih berdiri memegang sudut bibirnya yang terluka, Fathan melepas jaket bomber hitam miliknya, lalu memakaikannya ke tubuh Nayara untuk menutupi noda jus berry yang merusak pakaian kesayangan kakaknya itu.

"Ayo, Kak. Kita pulang ke rumah. Abah sama Ummi harus tahu apa yang terjadi di tempat sampah ini," ucap Fathan ketus, lalu menuntun langkah Nayara meninggalkan koridor tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Revan berdiri tegak di tempatnya. Ia mengusap pelan sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Alih-alih merasa jera atau bertobat, sudut bibirnya justru tertarik membentuk sebuah seringai tipis yang sulit ditebak. Bagi Revan, insiden ini justru semakin membumbui permainan yang sedang ia jalani. Sifat keras kepala dan dunianya yang bebas sama sekali tidak luntur hanya karena sebuah teguran keras atau pukulan remaja SMA.

Di sisi lain, Jessica dan gengnya memanfaatkan momen keheningan itu untuk kabur meninggalkan area kejadian dengan langkah gemetar dan rasa malu yang luar biasa, menyisakan bisik-bisik ketakutan dari para mahasiswa lain yang menonton dari kejauhan.

Malam harinya, di dalam kamar minimalis berlantai kayu jati di kompleks Pesantren Al-Hikmah, suasana terasa jauh lebih tenang namun menyimpan ketegangan tersendiri.

Nayara duduk bersimpuh di atas sajadah usai melaksanakan salat Isya. Air matanya akhirnya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Di hadapan Sang Pencipta, ia menumpahkan segala bentuk rasa sesak, lelah, dan kebingungan yang melanda hatinya hari itu. Sebagai gadis yang selalu dibesarkan dalam lindungan kasih sayang penuh dan aturan agama yang mulia, dunia luar kampus yang penuh intrik, taruhan, dan kebencian terasa begitu melelahkan untuk dihadapi seorang diri.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar diketuk perlahan. Sebelum Nayara sempat menjawab, pintu terbuka dan menampakkan sosok Fathan yang membawa segelas air hangat di atas nampan kecil. Wajah sang adik sudah jauh lebih tenang, meski sisa-sisa kemarahan masih tampak jelas di garis wajahnya.

Fathan berjalan mendekat, lalu berlutut di sebelah sajadah kakaknya. Ia menyodorkan segelas air hangat tersebut dengan gestur yang sangat lembut sangat kontras dengan perangainya yang garang di luar rumah tadi.

"Minum dulu, Kak. Tenggorokan Kakak pasti kering habis nangis seharian," bujuk Fathan pelan, suaranya terdengar begitu menyayangi kakaknya.

Nayara menerima gelas itu dengan tangan bergetar, meneguk sedikit airnya, lalu meletakkan gelas di atas meja nakas. Ia menatap adiknya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Fathan... kenapa tadi kamu nekat banget pukul Kak Revan? Kalau tadi dia membalas bagaimana? Kamu bisa terluka."

Mendengar itu, Fathan mendengus kecil, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya khas remaja SMA yang keras kepala. "Biarin saja! Kalau perlu tadi Fathan patahin tangannya sekalian. Siapa suruh dia bikin Kakak menangis? Siapa suruh cowok sok kegantengan itu bikin hidup Kakak jadi tidak tenang semenjak masuk universitas?"

Nayara menggelengkan kepala pelan, mengusap puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, Fathan. Abah selalu mengajarkan kita untuk menghadapi kezaliman dengan kesabaran dan doa, bukan dengan balasan tinju."

"Tapi Fathan nggak sanggup, Kak. Fathan di rumah dipercaya Abah buat menjaga Kakak. Kalau di luar rumah Kakak disakiti kayak tadi, harga diri Fathan sebagai adik hancur rasanya," balas Fathan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menunjukkan sisi manja dan rapuhnya di hadapan sang kakak tercinta.

Nayara menarik Fathan ke dalam pelukannya. Di dalam dekapan hangat sang kakak, pertahanan remaja SMA itu runtuh seketika. Fathan menyembunyikan wajahnya di bahu Nayara, membiarkan kakaknya mengelus punggungnya dengan lembut hingga ketegangan di tubuh mereka berdua perlahan mencair.

Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda sebuah penthouse mewah berlantai tinggi yang dikelilingi dinding kaca dengan pemandangan lampu kota metropolis Revan duduk santai di atas sofa kulit hitam bergaya minimalis. Di hadapannya, beberapa botol minuman tersusun rapi, ditemani oleh Kevin dan Dito yang sedang membicarakan kejadian sore tadi sambil tertawa kecil.

"Sumpah, Rev, muka lu tadi pas dipukul sama adik bocah itu kocak banget tapi tetep songong," tawa Kevin sambil meneguk minumannya. "Tapi seriusan, lu kenapa nggak bales pukul? Biasanya juga paling pantang diserang duluan."

Revan menyandarkan punggungnya, menyesap minuman di gelasnya dengan santai. Matanya menatap tajam ke arah luar jendela kaca. "Buat apa gue pukul balik bocah SMA di depan Nayara? Yang ada citra gue makin jelek di mata dia. Lagian... permainan ini baru benar-benar dimulai."

Dito mengernyitkan dahi. "Maksud lu? Taruhan itu kan udah lu batalkan di depan kita minggu lalu?"

Revan tersenyum miring, seringai khas seorang playboy ulung yang sama sekali tidak pernah berubah. Prinsip hidupnya tetap sama: kebebasan adalah segalanya, dan wanita adalah babak hiburan yang tidak pernah membosankan. Keyakinan agamanya sebagai seorang penganut Kristen yang taat beribadah setiap hari minggu tetap ia jalankan secara rutin demi menenangkan hati nuraninya, namun hal itu tidak pernah sedikit pun menghalangi gaya hidup bebas dan hobi mempermainkan wanita di luar hari Minggu. Bagi Revan, agama adalah ritual hari Minggu, sedangkan dunia malam dan taruhan adalah dunianya yang nyata.

"Gue cuma bilang di depan kalian kalau taruhan itu dibatalkan supaya kalian nggak banyak komentar," ujar Revan dingin, suaranya penuh percaya diri. "Tapi berhenti mendekati Nayara? Yang benar saja. Tantangan itu justru makin menarik setelah kejadian sore tadi. Cewek sok suci kayak dia cuma butuh sedikit sentuhan kesabaran ekstra sebelum akhirnya jatuh ke pelukan gue dan jadi koleksi nomor lima belas."

Kevin dan Dito saling berpandangan, lalu tertawa keras mendengar ambisi sahabat mereka. Sifat asli Revan sebagai bad boy sejati sama sekali tidak melunak; ia justru semakin tertantang untuk menaklukkan benteng pertahanan anak kiai besar tersebut demi memuaskan egonya sendiri.

Keesokan paginya, matahari kembali terbit dengan sinarnya yang hangat, menyinari dua dunia yang berbeda dunia pesantren yang damai dengan gema ayat suci, dan dunia perkuliahan modern yang penuh dinamika.

Nayara melangkah turun dari mobil jemputannya dengan gamis baru berwarna biru pastel yang bersih dan anggun. Wajahnya tetap tenang, meski ia tahu bayang-bayang kejadian kemarin masih membekas di ingatannya. Alya langsung menyambutnya di depan gerbang dengan senyum lebar, merangkul lengannya erat-erat untuk memberikan dukungan penuh.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Begitu mereka melangkah masuk ke area koridor utama fakultas, sebuah pemandangan yang sudah sangat tidak asing kembali terlihat.

Disandarkan pada kap mobil sport hitam miliknya, Revan berdiri dengan postur sempurna. Mengenakan jaket kulit hitam dipadukan kaos putih polos, pemuda itu tampak sangat mencolok. Sudut bibirnya yang sedikit membiru akibat pukulan Fathan kemarin justru menambah kesan bad boy yang berbahaya dan memikat bagi sebagian besar mahasiswi yang lewat.

Begitu melihat sosok Nayara berjalan mendekat, Revan langsung menegakkan tubuhnya. Ia berjalan menghalang jalur langkah Nayara dengan senyum miring tersungging di bibirnya menunjukkan secara nyata bahwa ancaman kemarin sama sekali tidak membuat nyalinya ciut atau menghentikan niatnya.

Nayara menghentikan langkahnya seketika. Wajahnya berubah dingin, tatapannya menyiratkan kekecewaan mendalam bercampur rasa jijik melihat ketidakpedulian pemuda di hadapannya itu.

"Mau apa lagi kamu, Revan?" suara Nayara terdengar tajam, dingin, tanpa ada kelembutan sedikit pun yang ia tunjukkan sebelumnya. "Belum puaskah kamu membuat keributan dan mempermalukan saya kemarin?"

Revan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jeansnya, menatap manik mata Nayara lekat-lekat dengan tatapan penuh pesona yang biasa ia gunakan untuk melumpuhkan mangsanya. "Aku cuma mau memastikan kalau bidadari galak ini baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Soal keributan itu... bukan salahku kalau ada orang yang nggak tahu aturan nyari masalah duluan."

"Orang yang tidak tahu aturan itu adalah kamu!" tukas Nayara cepat, suaranya sedikit meninggi karena emosi yang tertahan. "Kamu dan seluruh permainan bodohmu adalah sumber dari semua masalah ini! Tolong, hargai diri saya dan hidup saya. Jangan pernah temui atau ganggu saya lagi!"

Setelah mengucapkan kalimat itu dengan penuh ketegasan, Nayara memutar tubuhnya, menarik tangan Alya untuk segera berjalan melebihi Revan menuju ruang kuliah, meninggalkan pemuda itu berdiri seorang diri di tengah koridor.

Revan tidak mengejar. Ia hanya diam berdiri sambil memperhatikan punggung Nayara yang menjauh dengan langkah cepat. Alih-alih merasa sakit hati atau mundur, sudut bibir Revan justru semakin terangkat lebar.

"Semakin kamu menolak, semakin aku penasaran untuk meruntuhkan tembok itu, Nayara," gumam Revan pelan pada dirinya sendiri, sementara di dalam dadanya, permainan penuh tipu daya itu terus berlanjut tanpa ada niat sedikit pun bagi sang bad boy untuk benar-benar berubah.

Sisi Lain Sang Bidadari

Matahari perlahan mulai tergelincir ke barat, memantulkan cahaya jingga kemerahan di atas langit kota metropolitan yang sibuk. Jam perkuliahan di Universitas Airlangga Nusantara akhirnya selesai. Sebagian besar mahasiswa berhamburan keluar gerbang, menuju parkiran, atau sekadar nongkrong di kafe-kafe hipster sekitar kampus untuk menghabiskan sisa sore.

Bagi Nayara Zayna Az-Zahra, sore hari bukanlah waktunya untuk bersantai atau menikmati obrolan kosong. Usai membereskan buku-buku kedokteran ke dalam tas ranselnya, ia berjalan berdampingan dengan Alya menuju halte bus di seberang kampus.

"Nay, kamu yakin nggak mau ikut aku dulu ke kafe depan? Nyobain menu baru matcha latte di sana enak banget lho, buat ilangin stres abis kuis anatomi tadi," ajak Alya sambil merapikan tali tasnya.

Nayara tersenyum lembut, menggeleng pelan. "Makasih ajakannya, Alya. Tapi aku harus buru-buru. Sudah janji sama anak-anak di kolong jembatan veteran sore ini. Kasihan mereka sudah nunggu jadwal ngaji mingguan."

Alya menghela napas pasrah, meski ada binar kekaguman yang mendalam di matanya. "Duh, bidadari pesantren satu ini emang paling bisa bikin aku kagum. Ya udah deh, hati-hati ya, Nay. Salam buat anak-anak di sana!"

"Iya, Alya. Hati-hati juga di jalan," balas Nayara melambaikan tangan sebelum akhirnya ia menaiki angkutan umum yang membawanya menuju kawasan pinggiran kota.

Di tempat terpisah, Revan sedang duduk di dalam jok kulit lamborghini hitam miliknya bersama Kevin dan Dito. Mereka baru saja keluar dari area parkir kampus ketika Revan tidak sengaja melihat sosok bergamis biru pastel yang sangat ia kenal menaiki sebuah angkutan umum.

"Eh, tunggu sebentar," gumam Revan pelan, keningnya mengernyit.

"Kenapa, Rev? Mau ngekorin cewek gal itu lagi?" tanya Kevin meledek sambil menyesap minuman kaleng di tangan.

Tanpa mengindahkan ucapan temannya, Revan justru memutar kemudi kendaraannya secara perlahan, mengikuti jalur angkutan umum yang dinaiki Nayara dari jarak yang aman. Ada rasa penasaran yang menggelitik di benaknya; ke mana perginya gadis itu setiap kali jam kuliah usai, di saat mahasiswi lain sibuk menghabiskan waktu di mal atau tempat hiburan mewah?

Setelah berkendara sekitar dua puluh menit melewati jalanan kota yang mulai padat dan bising, angkutan umum itu berhenti di dekat sebuah kawasan padat penduduk di bawah jembatan layang. Area tersebut jauh dari kata bersih dihiasi oleh deretan bangunan semi-permanen dari kardus dan seng, debu jalanan yang mengepul, serta suara riuh kendaraan di atas jembatan.

Revan memarkirkan mobil mewahnya agak jauh di pinggir ruko kosong, lalu bersama Kevin dan Dito yang terpaksa mengekor dengan rasa bingung, ia berjalan mengendap-endap mendekati area bawah jembatan tersebut.

"Anjir, Rev. Kita dibawa ke sarang apa ini? Bau banget, debu di mana-mana. Kotor jas kulit gue," protes Dito sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka.

"Diam dan lihat ke sana," potong Revan tajam, dagunya menunjuk ke arah sudut lapangan kecil di dekat pilar jembatan.

Dari balik tembok pembatas beton yang agak tinggi, ketiganya tertegun.

Nayara terlihat sudah melepas tas ranselnya. Ia duduk bersila di atas sebuah tikar plastik sederhana yang digelar di atas tanah. Di hadapannya, belasan anak-anak jalanan berpakain kusam, berwajah dekil, dan bertelanjang kaki duduk mengelilinginya dengan mata berbinar penuh antusias. Di sebelah Nayara, tersusun rapi beberapa kotak makanan siap saji dan termos air hangat.

"Anak-anak, sebelum kita mulai belajar Iqra' dan membaca Al-Qur'an hari ini, kita makan dulu ya. Jangan berebut, semua kebagian," ucap suara Nayara terdengar sangat lembut, manis, dan menyejukkan di tengah bisingnya suara kendaraan di atas mereka.

Gadis itu dengan telaten membagikan satu per satu kotak makanan kepada anak-anak jalanan tersebut. Tidak ada rasa jijik atau canggung di wajahnya. Ia bahkan menyuapi seorang anak balita berkaos robek yang tampak kelaparan dengan senyuman tulus yang begitu memesona.

Setelah makan bersama usai, Nayara mengeluarkan beberapa buku Iqra' kecil dan Al-Qur'an saku dari tasnya. Dengan sabar, ia menuntun anak-anak jalanan itu mengeja huruf hijaiyah satu per satu. Suara Nayara yang merdu melafalkan ayat-ayat suci berpadu dengan suara polos anak-anak mengikuti bacaannya, menciptakan sebuah simfoni kedamaian yang terasa sangat kontras dengan dunia luar yang keras dan kejam.

Revan berdiri terpaku di balik tembok beton. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok Nayara.

Selama ini, dunia Revan dipenuhi oleh wanita-wanita dari kalangan elit yang hanya peduli pada penampilan fisik, merek tas mewah, pesta malam, gosip murahan, dan cara memikat perhatiannya dengan kepalsuan. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia melihat seorang wanita muda berpendidikan tinggi, anak seorang ulama besar, yang dengan kerendahan hati yang luar biasa mau duduk di tanah berdebu, berbagi makanan, dan mengajar anak-anak kurang beruntung tanpa pamrih sedikit pun.

Degup jantung Revan berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya—sebuah perasaan kagum yang belum pernah ia rasakan terhadap wanita mana pun sebelumnya.

"Wah... sumpah, Rev. Cewek itu... dia beda banget ya," bisik Kevin pelan, suaranya kehilangan nada mengejek yang biasa ia lontarkan. "Dia bukan cuma cantik di luar, tapi... gila, hatinya mulia banget. Kalau gue jadi dia, jangankan ngajar anak gembel kayak gitu, keinjak debu aja udah ngomel seharian."

Dito mengangguk setuju. "Iya sih. Pantesan lu dari kemarin penasaran setengah mati sama dia. Aura cewek itu emang beda level sama mantan-mantan lu yang tukang drama, Rev."

Revan tidak menjawab ucapan teman-temannya. Tatapannya masih terkunci pada sosok Nayara yang sedang tertawa manis saat salah satu anak kecil salah mengeja huruf ‘Ain. Senyuman itu—senyuman yang tidak pernah ia dapatkan selama mendekati gadis tersebut—terasa begitu mahal dan meneduhkan jiwa.

Untuk sekian detik, benteng ego dan prinsip hidup seorang bad boy bernama Revan Al-Gibran seakan diuji oleh ketulusan yang terpancar dari diri Nayara. Namun, sisi keras kepalanya segera bangkit kembali. Alih-alih merasa kecil hati atau tersadar untuk langsung bertobat, Revan justru menyeringai tipis.

Nayara... kamu benar-benar perempuan paling unik yang pernah ada di muka bumi ini. Dan aku semakin ingin memiliki seluruh perhatianmu, batin Revan dalam hati.

Waktu terus berjalan hingga senja berganti malam. Kegiatan belajar mengajar di bawah jembatan itu selesai ditutup dengan doa bersama dan pelukan hangat dari anak-anak jalanan kepada Nayara. Setelah merapikan perlengkapannya, Nayara berpamitan dan berjalan sendirian menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum pulang ke pesantren.

Tanpa Nayara sadari, mobil lamborghini hitam milik Revan perlahan melaju pelan mengikuti dari belakang dengan lampu utama yang dipadamkan agar tidak mencolok, memastikan gadis itu mendapatkan perjalanan pulangnya dengan aman tanpa gangguan dari preman-preman sekitar kawasan kumuh tersebut.

Sesampainya di gerbang Pesantren Al-Hikmah, Nayara turun dari angkutan umum, mengucapkan salam kepada penjaga pos, lalu melangkah masuk dengan perasaan tenang.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Nayara merebahkan diri sejenak di atas tempat tidur usai menunaikan salat Isya. Ia merasa lelah, namun hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan batin yang luar biasa.

Sementara di tempat lain, di dalam penthouse mewahnya, Revan berdiri di depan dinding kaca besar menatap gemerlap lampu kota. Gelas wiski di tangannya digoyang-goyangkan pelan, namun cairan di dalam gelas itu sama sekali tidak ia teguk. Bayangan wajah Nayara yang tersenyum tulus di tengah debu jalanan terus berkelebat di dalam kepalanya, menciptakan perang batin yang hebat di dalam dada seorang pemuda yang terbiasa hidup dalam kebebasan tanpa aturan.

Permainan ini telah berubah wujud. Ini bukan lagi sekadar taruhan egois atau sekadar ambisi seorang playboy untuk menambah daftar koleksi mantannya menjadi lima belas. Ini telah menjadi sebuah obsesi baru sebuah ketertarikan berbahaya antara dunia kegelapan sang bad boy dan cahaya suci sang bidadari pesantren yang siap meledak dalam liku-liku takdir yang semakin rumit.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!