Indonesia
NovelToon NovelToon

MY BROKEN WINGS

Bab 1

Di dalam kokpit yang sunyi sebelum gemuruh mesin dimulai, Ratri menatap selembar foto yang terselip di sudut panel instrumen.

Foto keluarga yang selalu menjadi jimat keberuntungannya di setiap rute antarbenuanya.

Di sana, ia tersenyum lebar diapit oleh Indra, suaminya, serta Tasya dan Gabriel, sepasang buah hati mereka.

Hangat kerinduan mendadak menyergap hatinya, kontras dengan udara dingin Amsterdam yang menusuk di luar jendela kaca kokpit Bandara Schiphol.

"Apakah kamu sudah memberi tahu mereka kalau jadwal kepulanganmu dimajukan hari ini, Rat?" tanya Vincent, first officer yang menjadi rekan terbangnya kali ini, sambil sibuk memeriksa lembar pre-flight checklist.

Ratri menoleh, sebuah senyum misterius namun manis tersungging di bibirnya.

"Tidak. Aku sengaja mengosongkan ponselku dari kabar. Aku ingin memberikan kejutan besar untuk mereka."

Vincent terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepala melihat antusiasme sang kapten.

"Indra pasti pria paling beruntung di dunia."

Tak berselang lama, ketukan pelan di pintu kokpit menandakan komunikasi terakhir dari purser.

Pintu baja kokpit ditutup rapat dan dikunci secara elektronik.

Pramugari di kabin belakang telah memastikan seluruh pintu pesawat mengunci sempurna (doors closed and armed), siap untuk menembus awan.

Ratri menarik napas dalam-dalam, mengalihkan fokusnya total pada deretan tombol dan layar digital di hadapannya. Jiwa pilotnya langsung mengambil alih.

"Vincent, before start checklist," komando Ratri tegas, suaranya berubah menjadi penuh otoritas.

Setelah mendapat izin push back dan start engine dari menara pengawas (Air Traffic Control), Ratri mengaktifkan sistem bahan bakar dan memutar engine start selector.

Perlahan, terdengar suara erangan rendah dari bawah sayap saat udara bertekanan tinggi mulai memutar turbin mesin jet turbofan Boeing 777 tersebut.

Indikator di layar EICAS (Engine Indication and Crew Alerting System) mulai bergerak naik. Angka N2 meningkat, disusul dengan aliran bahan bakar yang memicu pembakaran sempurna.

Suara erangan itu berubah menjadi raungan halus yang bertenaga saat kedua mesin raksasa itu menyala stabil pada posisi idle.

Getaran halus terasa di bawah kursi kemudi Ratri, menyalurkan energi masif yang siap menerbangkan ratusan ton baja ke angkasa.

Ratri melepaskan rem parkir. Pesawat mulai bergerak perlahan, membelah landasan pacu menuju titik lepas landas.

Di dalam hatinya, Ratri tidak sabar untuk segera mendarat di Jakarta, tanpa pernah tahu bahwa kejutan yang ia siapkan justru akan menjadi awal dari mimpi buruk terhebat dalam hidupnya.

Ratri melihat hamparan awan yang begitu memukau di luar jendela kokpit.

Gugusan putih bagaikan hamparan kapas raksasa itu membentang tanpa batas di bawah langit biru pekat.

Pada ketinggian jelajah 36.000 kaki, dunia di bawah sana seolah tidak memiliki masalah apa pun.

Melalui balik kacamata hitamnya, ia melirik ke samping.

Vincent tampak sedang meneguk air dingin dari botol minumnya, melepas dahaga setelah beberapa jam fokus mempertahankan posisi pesawat di jalur navigasi internasional.

"Makanlah dulu, Rat, biar aku yang ambil alih kemudi," ucap Vincent setelah menurunkan botol minumnya, menawarkan giliran jaga dengan ramah.

Ratri menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia mengulurkan tangan ke panel konsol tengah dan mengaktifkan sistem autopilot secara penuh, memastikan mode penahan ketinggian dan arah angin terkunci dengan aman di komputer penerbangan.

Setelah yakin instrumen bekerja mendeteksi parameter dengan stabil, ia merilekskan sandaran kursinya.

Ratri meraih tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebuah waffle beraroma mentega gurih yang sempat ia beli di bandara Amsterdam tadi, lengkap dengan sirup maple kecil di dalam kemasannya.

Baru saja ia hendak membukanya, Vincent menyodorkan secangkir kopi hangat yang baru saja diantarkan oleh pramugari.

"Ini untukmu. Biar makin lengkap," ucap Vincent sambil tersenyum.

"Terima kasih, Cent," sahut Ratri tulus.

Sambil menikmati gigian demi gigian waffle manis berbalur sirup maple dan kehangatan kopi, tatapan Ratri kembali melempar jauh ke luar jendela.

Bayangan wajah Indra dan anak-anaknya kembali melintas di benaknya.

Ratri tersenyum kecil, membayangkan betapa hebohnya rumah mereka saat ia tiba-tiba muncul di depan pintu nanti malam.

Ia benar-benar tidak sabar untuk memeluk mereka, tanpa sedikit pun menyadari bahwa badai paling dahsyat dalam hidupnya justru sedang menanti di daratan.

Setelah selesai makan, Ratri kembali fokus ke panel instrumen di hadapannya.

Ia merapikan sisa bungkus makanan, lalu memakai kembali headset-nya dengan gerakan cekatan.

Jiwa profesionalismenya langsung kembali seratus persen.

"Aku ambil alih kembali, Cent," ujar Ratri, memberi kode visual bahwa ia telah siap memegang kendali penuh.

Vincent mengangguk dan melepaskan tangannya dari dekat tuas.

Ratri memeriksa layar Primary Flight Display (PFD) dan Navigation Display (ND) untuk memastikan koordinat pesawat masih berada di jalur yang tepat.

Pesawat mereka kini bersiap memasuki wilayah udara Asia, menembus sisa penerbangan panjang menuju Jakarta.

Sambil mendengarkan suara statik dari radio komunikasi yang menghubungkan mereka dengan menara pengawas wilayah berikutnya, jemari Ratri bergerak lincah memeriksa sisa bahan bakar dan temperatur mesin. Setiap indikator menunjukkan angka normal.

Sementara itu, di sebuah restoran premium di pusat kota Jakarta, suasana tampak hangat dan penuh tawa.

Indra duduk berhadapan dengan kedua anaknya, Gabriel dan Tasya.

Hidangan mewah tersaji di atas meja, dibayar dengan kartu kredit tanpa limit yang tagihannya selalu bermuara pada rekening Ratri.

"Kapan wanita itu pulang?" tanya Gabriel tiba-tiba dengan nada malas, tanpa beban sedikit pun saat menyebut ibu kandungnya sendiri dengan sebutan 'wanita itu'.

Mendengar sebutan sinis dari adiknya, Tasya justru tertawa terbahak-bahak.

Baginya, sang ibu tak lebih dari sekadar mesin ATM berjalan yang bertugas memenuhi gaya hidup mewahnya.

Indra ikut tersenyum tipis, sama sekali tidak berniat menegur ketidaksopanan anak-anaknya.

Ia memotong daging steak di piringnya dengan santai.

"Sepertinya masih lama," jawab Indra, ada nada lega yang terselip dalam suaranya.

Pikirannya langsung melayang pada Imelda, selingkuhannya, yang rencananya akan ia bawa ke rumah malam ini karena mengira Ratri masih berada di Eropa.

Indra kemudian mengibas-ngibaskan tangannya di udara, seolah ingin membuang atmosfer tidak menyenangkan dari meja makan.

"Sudah, jangan bahas dia lagi. Merusak suasana saja. Sekarang, habiskan makanan kalian, setelah ini kita langsung nonton bioskop. Bagaimana?"

"Setuju, Pa! Pilih studio yang VIP ya!" seru Tasya antusias, yang langsung diangguki oleh Gabriel dengan seringai lebar.

Mereka bertiga tenggelam dalam rencana bersenang-senang, benar-benar menikmati uang hasil jerih payah Ratri yang sedang bertaruh nyawa membelah langit antar benua.

Mereka tidak tahu, bahwa 'wanita itu' saat ini sudah berada di atas langit Indonesia, membawa kejutan yang akan membalikkan dunia mereka dalam sekejap.

"Mas," sebuah suara manja tiba-tiba memecah obrolan mereka.

Indra, Tasya, dan Gabriel serempak menoleh ke arah sumber suara.

Imelda melangkah mendekat dengan percaya diri.

Riasan wajahnya tampak menor dan mencolok, dengan sapuan lipstik merah menyala dan gaun ketat yang memamerkan kemewahan.

Di bahunya, tersampir sebuah tas branded keluaran terbaru—yang lagi-lagi dibeli menggunakan uang pemberian Indra.

"Apakah kalian sudah siap?" tanya Imelda dengan senyum manis yang dipaksakan, mencoba mengambil hati kedua anak kekasihnya itu.

"Siap, Tante Imelda!" seru Tasya dan Gabriel hampir bersamaan.

Wajah kedua remaja itu langsung berbinar ceria, tampak jauh lebih menghormati Imelda ketimbang ibu kandung mereka sendiri.

Indra bangkit dari kursinya, merangkul pinggang Imelda dengan mesra di depan anak-anaknya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Yuk, kita berangkat sekarang sebelum filmnya mulai."

Keempat orang itu kemudian melangkah keluar dari restoran menuju area mal.

Sepanjang jalan menuju bioskop, tawa mereka pecah saling bersahutan.

Sesi menonton film VIP itu segera berlanjut dengan agenda berbelanja pakaian dan barang-barang mewah.

Dengan tawa yang meledak-ledak, mereka menenteng belasan kantong belanjaan besar, sibuk menggesek kartu kredit tanpa tahu diri.

Mereka begitu menikmati kebahagiaan semu di atas keringat Ratri yang saat ini sedang bersiap mendaratkan pesawatnya di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta.

Bab 2

Setelah perjalanan panjang yang menguras energi selama hampir tujuh belas jam membelah langit antar benua,

Ratri akhirnya berhasil mendaratkan pesawat yang dipilotinya dengan sangat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Deru mesin jet perlahan meredam seiring pesawat yang bergerak menuju apron dan berhenti sempurna.

Di ruang istirahat pilot yang riuh oleh obrolan para kru setelah penerbangan panjang, Ratri tampak terburu-buru merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

Senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari yang sangat spesial—hari jadi pernikahannya dengan Indra yang kesekian tahun.

Di dalam tasnya, tersimpan sebuah kado spesial berupa tiket liburan mewah hasil dari jerih payah dan jam terbang tingginya selama ini. Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah bahagia suaminya saat menerima kejutan ini.

Melihat Ratri yang tampak tergesa-gesa, Vincent yang sedang melonggarkan dasinya menoleh.

"Ratri, kamu yakin tidak ikut makan malam bersama kita?" tanya Vincent mencoba membujuk.

Ratri menggelengkan kepalanya dengan tegas namun tetap ramah.

"Tidak, Cent. Aku harus segera pulang. Ada urusan penting di rumah."

"Sayang sekali, Rat. Aku dengar akan ada pimpinan baru kita yang ikut makan bersama malam ini, meskipun acaranya tidak formal," sahut Vincent lagi, mencoba memberi tahu betapa pentingnya momen itu untuk karier mereka.

Ratri tersenyum maklum, lalu menyampirkan tasnya ke bahu.

"Titip salam saja buat teman-teman dan pimpinan baru kita. Katakan maaf aku tidak bisa bergabung malam ini. Besok pagi aku berjanji akan langsung menghadap ke ruang pimpinan yang baru untuk melapor."

Vincent menganggukkan kepalanya, memahami prioritas sahabat sekaligus kaptennya itu.

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Rat. Titip salam juga buat Indra dan kedua anakmu ya."

"Terima kasih, Cent. Sampai ketemu besok!" jawab Ratri melambaikan tangan, lalu melangkah cepat keluar dari ruangan dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga kerinduan.

Ia bergegas menuju area parkir, membayangkan pelukan hangat dari suami dan anak-anaknya di rumah, tanpa pernah menduga bahwa langkah kaki ini sedang menuntunnya menuju gerbang kehancuran hidup yang sesungguhnya.

Ratri melajukan mobilnya membelah jalanan malam Jakarta dengan perasaan bahagia yang membuncah.

Sorot lampu kota yang temaram berkelebat di kaca jendela, seolah ikut menari bersama debar antusiasme di dadanya.

Lelah setelah belasan jam mengudara menguap begitu saja, digantikan oleh rasa rindu yang teramat sangat.

Sambil menyetir dengan sebelah tangan, ia sesekali melirik kado tiket liburan mewah yang tergeletak manis di kursi sebelah.

Tiket penerbangan first class dan reservasi resor bintang lima di pulau privat yang ia tebus dengan peluh dan jam terbang tingginya.

Pikirannya dipenuhi bayangan pelukan hangat Indra yang menyambutnya di ambang pintu, serta riuh manja dari Tasya dan Gabriel saat mengetahui mereka akan berlibur bersama.

Ratri tersenyum sendiri, mengetuk-ngetukan jarinya di setir mobil mengikuti irama lagu yang mengalun dari radio.

Ia menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, ingin segera memangkas jarak.

Namun, wanita tangguh itu sama sekali tidak menyadari, bahwa di balik dinding rumah yang tengah ia tuju, kebahagiaan yang ia bayangkan justru sedang diinjak-injak oleh orang-orang yang paling ia cintai.

Ratri mematikan mesin mobilnya tepat di depan pagar rumah.

Namun, dahinya langsung berkerut saat menatap ke depan.

Suasana rumah tampak gelap gulita dan sepi senyap, menyisakan kekosongan yang terasa janggal.

Biasanya, Bibi Ningsih—asisten rumah tangga mereka—selalu setia menyambutnya di depan pintu meski ia pulang larut malam sekalipun. Ratri mulai merasa curiga.

"Kenapa sepi sekali? Apa Mas Indra tahu aku pulang lalu sengaja mematikan lampu untuk memberiku kejutan balik?" gumam Ratri pelan dengan senyum tertahan yang kembali terbit di bibirnya.

Harapan manis itu dengan cepat menepis kecurigaannya.

Merasa tebakan itu benar, Ratri memutuskan untuk ikut bermain dalam "game kejutan" yang ia pikir sedang disiapkan oleh keluarganya.

Agar rencananya tidak berantakan, ia kembali menyalakan mesin, memundurkan mobilnya perlahan, dan menyembunyikannya agak jauh dari halaman rumah agar keberadaannya tidak ketahuan.

Sambil mengeratkan pelukan pada tas dan kado liburan mewahnya, Ratri berjalan mengendap-endap membelah halaman.

Ia mengeluarkan kunci serep yang selalu ia bawa di dalam dompet, lalu memutarnya dengan sangat hati-hati hingga pintu utama terbuka tanpa suara.

Saat melangkah masuk, atmosfer di dalam rumah terasa sangat gelap dan hening.

Tidak ada suara tawa anak-anak ataupun sapaan hangat dari suaminya.

Ratri menahan napasnya, mencoba menembus kegelapan ruang tamu, mengira seseorang akan melompat keluar sambil menyalakan lampu dan berteriak "Surprise!".

Namun, keheningan mencekam itu justru menjadi pengantar bagi badai besar yang sebentar lagi akan memporak-porandakan hidupnya.

Tepat saat tangan Ratri hendak menyentuh sakelar lampu di dinding ruang tamu, ia mendengar suara deru mesin mobil suaminya memasuki halaman rumah.

Panik bercampur bersemangat karena mengira rencananya hampir ketahuan, Ratri urung menyalakan lampu.

Dengan gerakan cepat dan tanpa suara, ia segera berlari kecil naik ke lantai atas menuju kamar utamanya.

Mengurungkan niat untuk bersembunyi di balik pintu, ia memilih masuk dan bersembunyi di dalam lemari pakaian kayu yang besar di sudut kamar.

Di dalam lemari yang gelap gulita itu, Ratri merasakan detak jantungnya berdegup kencang karena antusias.

Rasa lelah setelah penerbangan belasan jam lenyap, digantikan oleh debar kebahagiaan yang kekanak-kanakan.

"Pasti Mas Indra akan sangat terkejut melihatku tiba-tiba keluar dari sini," bisiknya dalam hati, sambil memeluk erat kado tiket liburan mewah di dadanya.

Tak berselang lama, suara langkah kaki terdengar menaiki tangga dan berjalan mendekati kamar.

Pintu kamar terbuka dengan bunyi ceklek yang nyaring di keheningan malam.

Ratri sudah memegang celah pintu lemari, bersiap untuk melompat keluar dan berteriak mengejutkan mereka.

Namun, sebuah suara manja yang teramat familier seketika menghentikan seluruh gerakannya.

"Mas, aku masih kangen," suara Imelda terdengar manja, disusul suara langkah kaki yang terseret mesra.

Melalui celah tipis lemari, Ratri bisa melihat sahabat karibnya itu sedang memeluk tubuh Indra dengan erat dari belakang saat mereka melangkah masuk ke dalam kamar.

Belum sempat otak Ratri mencerna pemandangan mengerikan itu, suara Tasya dan Gabriel menyusul dari ambang pintu.

"Tante sama Papa, selalu bucin!"

Kedua anak kandung Ratri justru tertawa terbahak-bahak melihat kemesraan tersebut.

Tidak ada rasa canggung, tidak ada rasa bersalah, apalagi keterkejutan.

Mereka tampak sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Imelda di tempat tidur ibu mereka.

Melalui celah lemari yang sempit, mata Ratri membelalak sempurna.

Pupil matanya bergetar hebat. Dunianya runtuh seketika, hancur berkeping-keping tanpa sisa. Sahabat tempatnya berbagi cerita, suami yang selalu ia puja dalam doa di setiap penerbangannya, dan anak-anak yang ia besarkan dengan tetesan keringat... semuanya tengah bersatu mengkhianatinya.

Mereka semua adalah parasit yang selama ini membodohinya.

Indra kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya, lalu mengajak Imelda masuk lebih dalam menuju ranjang.

Di depan mata kepala Ratri sendiri, dalam jarak yang hanya terpisah sekat kayu tipis, keduanya mulai menanggalkan pakaian mereka tanpa rasa malu sedikit pun.

Seketika, dada Ratri terasa dihantam oleh gada raksasa hingga ia kesulitan bernapas.

Rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari jantung hingga ke seluruh ujung sarafnya.

Air mata mengalir deras bagaikan air bah yang jebol, membasahi pipinya yang mendadak pias.

Seluruh tubuh Ratri bergetar hebat karena syok yang teramat dalam.

Untuk mencegah jeritan histeris dan tangisannya pecah yang bisa membongkar persembunyiannya, Ratri membekap mulutnya sendiri sekencang mungkin dengan kedua telapak tangan.

Ia menekan giginya ke daging bibirnya hingga memerah dan berdarah, mengonversi rasa sakit di hatinya menjadi rasa sakit fisik yang tak seberapa.

Di dalam kegelapan lemari yang pengap, di atas tumpukan baju-baju mewahnya yang dibeli dari jerih payahnya sebagai pilot.

Ratri bersumpah demi langit yang selalu ia belah: ia akan keluar dari lemari ini hidup-hidup, dan ia akan memastikan setiap parasit ini membayar setiap tetes air mata dan harga diri yang telah mereka injak-injak malam ini.

Bab 3

Setelah beberapa jam berlalu dalam siksaan visual yang paling mengerikan, suasana kamar akhirnya hening.

Indra dan Imelda telah tertidur pulas di atas ranjang yang biasa Ratri gunakan bersama suaminya.

Dengan sisa tenaganya yang terkuras habis dan tatapan mata yang kosong tanpa nyawa, Ratri perlahan mendorong pintu lemari.

Ia melangkah keluar dengan sangat hati-hati, melewati pakaian-pakaian yang berserakan di lantai dengan rasa muak yang membakar dada.

Saat melangkah keluar kamar, ia melewati kamar kedua buah hatinya yang pintunya sedikit terbuka.

Di dalam sana, Tasya dan Gabriel tertidur pulas dengan wajah tanpa dosa, dikelilingi barang-barang mewah hasil keringat ibunya.

"Kalian semua, jahat," gumam Ratri dengan suara bergetar dan parau.

Kalimat itu lolos dari bibirnya yang pucat, membawa serta seluruh sisa kasih sayang yang kini telah mati.

Ratri berjalan turun, membuka pintu utama, dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Langit malam seolah ikut merasakan kepedihannya; hujan deras langsung mengguyur bumi begitu ia menginjakkan kaki di halaman.

Dengan tubuh yang mulai basah, ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.

Begitu mobil melaju membelah jalanan malam yang buta di bawah guyuran hujan, tanggul pertahanan Ratri runtuh total.

"AARRGGHHHHH!!"

Ratri berteriak histeris di dalam mobilnya. Suara jeritannya beradu dengan suara petir dan hantaman air hujan di kaca depan.

Ia mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga jemarinya memutih.

Air matanya kembali mengalir deras. Ia masih benar-benar tidak menyangka, orang-orang yang ia hidupi dengan taruhan nyawa di angkasa bisa sekejam dan sebiadab itu padanya.

Pikiran yang kacau dan jiwa yang terguncang hebat entah bagaimana menuntun instingnya kembali ke tempat ia merasa paling berkuasa: bandara.

Sesampainya di terminal kedatangan, Ratri keluar dari mobil.

Ia berjalan terseok-seok memasuki lobi bandara dengan pakaian dan rambut yang basah kuyup. Tatapannya lurus ke depan, namun kosong.

"Bukankah itu Kapten Ratri?" bisik salah seorang dari sekelompok pramugari yang sedang berjalan bersiap untuk penerbangan pagi.

"Iya, benar. Kenapa beliau basah kuyup begitu?" sahut yang lain, menatap heran sekaligus khawatir pada kapten mereka yang biasanya tampil sangat anggun dan berwibawa.

Di sudut lain lobby, sekelompok petinggi maskapai baru saja tiba.

Salah seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi menoleh ke arah kerumunan kecil itu.

Dialah Devandra, pimpinan tertinggi yang baru di maskapai tempat Ratri bekerja—dan lebih dari itu, ia adalah pria yang telah menyimpan rasa cinta mendalam pada Ratri sejak masa-masa awal mereka merintis karier, jauh sebelum Ratri memilih Indra.

Melihat wanita yang selalu ada di hatinya berdiri rapuh layaknya boneka kaca yang siap pecah, tatapan Devandra langsung menajam penuh kekhawatiran.

"Thomas, tolong ambilkan payung," perintah Devandra tegas kepada asistennya yang berdiri di sampingnya.

"Siap, Pak," jawab Thomas cepat, segera berlari mengambil payung dari dalam mobil dinas.

Begitu Thomas memberikan payung besar itu ke tangannya, Devandra tidak membuang waktu lagi.

Ia langsung melangkah lebar menembus tampiasan hujan di area drop-off, menghampiri Ratri yang kini mulai terhuyung-huyung di ambang batas kesadarannya.

"Ratri, ada apa?" tanya Devandra dengan nada suara yang bergetar menahan cemas.

Ia langsung memosisikan payung di atas kepala Ratri, mencoba menghalau sisa-sisa tampiasan air hujan yang membasahi tubuh wanita itu.

Ratri mendongak pelan. Begitu melihat wajah Devandra, pertahanan terakhirnya runtuh.

Ia menangis sesenggukan dengan dada yang naik-turun hebat, hingga tenggorokannya tercekat dan sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan itu.

Saat mengamati wajah Ratri dari dekat di bawah temaram lampu bandara, mata Devandra membelalak.

Ia melihat bibir Ratri yang terluka dan mengeluarkan darah segar—bekas gigitan Ratri sendiri saat menahan jeritan di dalam lemari tadi.

Hati Devandra mencelos melihat kondisi wanita tangguh itu yang tampak begitu hancur.

"Ratri, ayo kita berteduh dulu di dalam. Tubuhmu sudah sangat dingin," ajak Devandra lembut, mencoba menuntunnya.

Namun, tubuh Ratri sudah mencapai batas maksimalnya.

Rasa syok yang luar biasa dipadukan dengan kelelahan fisik setelah penerbangan tujuh belas jam membuat dunianya mendadak menggelap.

Ratri yang sudah teramat lelah itu langsung pingsan, ambruk begitu saja.

Dengan sigap, Devandra melempar payung di tangannya dan menangkap tubuh Ratri.

Ia menarik pinggang Ratri erat-erat agar wanita itu tidak jatuh terhempas ke lantai beton.

"Ratri! Ratri, bangun!" seru Devandra panik, menepuk pelan pipi Ratri yang terasa sedingin es.

Melihat situasi darurat tersebut, Thomas dengan cekatan berlari mendekat.

Ia mengambil alih payung yang sempat terjatuh, lalu memayungi bosnya dan Ratri dari guyuran hujan yang kian deras.

"Buka pintu mobil, Thomas! Cepat!" perintah Devandra sambil mengangkat tubuh Ratri ke dalam gendongannya.

"Siap, Pak!" Thomas berlari mendahului, membuka pintu belakang mobil sedan mewah milik Devandra yang mesinnya memang sudah dalam posisi menyala.

Devandra dengan sangat hati-hati merebahkan tubuh Ratri yang tak sadarkan diri ke kursi belakang, lalu ikut masuk dan menutup pintu rapat-rapat, menghalau dinginnya badai di luar.

Mobil itu pun segera melaju membelah jalanan, membawa Ratri pergi dari bandara, menjauh dari masa lalunya yang penuh parasit, menuju awal babak baru kehidupannya.

Di dalam mobil yang melaju membelah keheningan malam, Devandra segera mengeluarkan ponselnya. Wajahnya menegang penuh kekhawatiran saat menghubungi nomor dokter pribadinya.

"Dok, tolong segera datang ke apartemen saya sekarang. Ini darurat," perintah Devandra dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.

Setelah mendapat konfirmasi dari seberang telepon, ia menutup panggilan dan menoleh ke arah kursi depan.

"Thomas, setelah mengantarkan kami, tolong kamu segera belikan beberapa pakaian baru dengan ukuran Ratri. Jangan lupa beli juga makanan hangat yang mudah dicerna," instruksi Devandra pada asisten setianya.

Thomas melirik melalui spion tengah lalu menganggukkan kepalanya dengan patuh.

"Siap, Pak. Segera saya laksanakan."

Devandra kemudian mengalihkan seluruh perhatiannya pada wanita yang bersandar lemas di sampingnya.

Ia meraih tangan Ratri, meremasnya perlahan, dan seketika hatinya teriris merasakan betapa dinginnya telapak tangan itu—bagaikan menyentuh es.

Tatapan Devandra melembut, dipenuhi rasa iba sekaligus amarah yang tertahan pada siapa pun yang telah membuat wanita setangguh Ratri menjadi sehancur ini.

Tak berselang lama, Thomas menghentikan mobilnya dengan mulus di area parkir basemen apartemen mewah milik Devandra.

Tanpa membuang waktu, Devandra langsung membopong tubuh ringkih Ratri yang masih pingsan, membawanya melewati akses privat menuju unit apartemennya yang berada di lantai atas, lalu membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur kamarnya.

Melihat pakaian Ratri yang basah kuyup oleh air hujan, Devandra tahu ia tidak bisa menunggu Thomas kembali.

Ratri bisa terkena hipotermia jika terus membiarkan baju basah itu melekat di tubuhnya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap menghormati, ia mulai melepaskan pakaian luar Ratri yang dingin menyengat.

"Maaf, Ratri, aku harus mengganti pakaianmu. Ini demi kesehatanmu," bisik Devandra pelan di tengah kesunyian kamar.

Ia bergegas menuju lemari pakaiannya sendiri, mengambil sebuah kemeja hem berukuran longgar miliknya beserta sebuah celana training kain yang lembut.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia mengenakan pakaian hangat itu ke tubuh Ratri yang masih belum sadarkan diri.

Ting tong...

Suara bel apartemen Devandra berbunyi tepat saat ia selesai menyelimuti Ratri.

Devandra segera melangkah keluar dan membukakan pintu untuk dokter pribadinya yang baru saja tiba.

Dokter itu langsung masuk ke dalam kamar dan segera memeriksa keadaan Ratri dengan cermat.

Stetoskop ditempelkan, denyut nadi diperiksa, dan luka robek di bibir Ratri akibat gigitannya sendiri dibersihkan serta diobati dengan antiseptik.

Setelah menyelesaikan pemeriksaannya, sang dokter melepas stetoskop dan menoleh ke arah Devandra dengan wajah serius.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Devandra cemas.

"Secara fisik, dia mengalami kelelahan yang luar biasa, ditambah dengan penurunan suhu tubuh drastis akibat kehujanan. Namun, yang jauh lebih berbahaya adalah kondisi psikologisnya, Dev," jelas dokter itu panjang lebar sambil merapikan peralatannya.

"Denyut jantung dan tekanan darahnya menunjukkan indikasi bahwa dia baru saja mengalami trauma psikologis yang sangat hebat atau syok berat. Beban emosional yang masif seperti ini bisa memicu depresi klinis atau gangguan kecemasan akut jika tidak ditangani dengan benar. Tubuh dan pikirannya benar-benar kolaps. Dia wajib beristirahat total, tidak boleh memikirkan hal berat, dan saya instruksikan agar dia mengambil cuti penuh selama seminggu ke depan. Jangan biarkan dia menerbangkan pesawat dalam kondisi mental tidak stabil seperti ini, itu sangat berbahaya."

Devandra mendengarkan setiap kalimat dokter dengan saksama dan menganggukkan kepalanya dengan berat.

"Saya mengerti, Dok. Terima kasih banyak."

Setelah mengantar kepergian dokter tersebut, Devandra kembali ke meja kerjanya.

Sebagai pimpinan tertinggi maskapai yang baru, ia memiliki otoritas penuh.

Ia langsung mengambil selembar dokumen resmi surat cuti, menuliskan nama Kapten Ratri, dan menandatanganinya secara sah di atas meterai digital.

Tanpa menunda waktu, Devandra memotret surat tersebut dan mengirimkannya langsung ke grup koordinasi internal para pilot dan manajemen maskapai.

Di bawah foto surat itu, ia mengetikkan pesan tegas:

Diberitahukan kepada seluruh manajemen dan kru, Kapten Ratri resmi mengambil cuti sakit dan istirahat total selama tujuh hari ke depan terhitung mulai hari ini. Seluruh jadwal penerbangannya akan dialihkan ke pilot cadangan. Terima kasih.

Devandra meletakkan ponselnya, lalu kembali berjalan ke sisi tempat tidur Ratri.

Sambil menatap wajah pucat yang kini sudah terlelap lebih tenang berkat pengaruh obat, Devandra berjanji dalam hati bahwa dalam tujuh hari ini, ia akan menjadi benteng bagi Ratri untuk bangkit kembali.

Tak berselang lama, terdengar suara pintu depan terbuka.

Thomas melangkah masuk dengan napas sedikit terengah, menenteng beberapa kantong belanjaan berisi pakaian baru berukuran pas untuk Ratri serta wadah berisi makanan hangat yang masih mengepulkan uap.

"Ini barang-barangnya, Pak," ucap Thomas pelan sambil melangkah mendekati area kamar.

Devandra menoleh tanpa beranjak dari sisi ranjang.

"Kamu taruh sana saja. Dan besok, tolong kosongkan semua jadwalku."

Thomas tertegun di ambang pintu, matanya membelalak kecil.

"Tapi Pak, besok Anda harus menghadiri rapat pleno pemegang saham dan pertemuan formal pertama dengan jajaran kapten senior. Agenda Anda sangat padat."

"Thomas."

Devandra memotong kalimat asistennya dengan nada suara rendah namun begitu dingin dan penuh penekanan.

Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan bahwa keputusannya tidak bisa diganggu gugat oleh apa pun.

Melihat ketegasan bosnya yang tidak biasa jika menyangkut pekerjaan, Thomas langsung menelan kembali kata-katanya. Ia menunduk hormat.

"Baik, Pak. Saya mengerti. Semua jadwal besok akan saya atur ulang dan saya kosongkan."

Setelah meletakkan kantong belanjaan di atas meja luar, Thomas pamit undur diri dengan langkah tenang, meninggalkan unit apartemen itu dalam keheningan yang pekat.

Devandra kembali memutar tubuhnya, duduk di tepi ranjang berjarak hanya beberapa senti dari tubuh Ratri.

Di bawah temaram lampu tidur yang kuning hangat, ia menatap lekat-lekat wajah wanita yang selama ini selalu tampak tangguh dan tak tersentuh di dalam kokpit pesawat.

Kini, Ratri terlihat begitu rapuh, dengan guratan kesedihan yang tercetak jelas di dahinya yang sesekali berkerut dalam tidurnya.

Tangan Devandra terulur perlahan, menyisir beberapa helai rambut Ratri yang mulai mengering dari keningnya, lalu turun menyentuh sudut bibirnya yang kini tertutup salep obat.

"Kamu kenapa, Ratri?" bisik Devandra teramat lirih, suaranya sarat akan rasa sakit yang tak tersampaikan.

"Siapa yang sudah tega membuat kapten terbaikku menjadi sehancur ini?" lanjutnya dalam hati.

Kemarahan perlahan menyusup di antara rasa ibanya. Devandra bersumpah, siapa pun bajingan yang telah menggoreskan luka ini di hati Ratri, ia tidak akan tinggal diam begitu wanita ini siap untuk menuntut keadilan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!