Di sebuah desa terpencil yang gersang, bernama "Surya Kencana." Arman lahir ke dalam dunia yang penuh tantangan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Dia dilahirkan di tengah-tengah ladang kering, di mana kehidupan terasa keras namun indah.
Kilas balik: Beberapa Tahun sebelum Kelahiran Arman.
Harjo seorang lajang, berusia 21 tahun dan belum pernah menikah. Harjo seorang yang rajin dan gigih dalam bekerja. dia memiliki sebidang tanah yang diperoleh dari peninggalan orangtuanya dan ditambah juga dari hasil kerja kerasnya mengolah tanah peninggalan orangtunya itu. Luasnya sudah berkali-kali lipat daripada luas masa peninggalan orangtuanya.
Karena kegigihannya dan kewajibannya, Harjo ternyata banyak juga disukai gadis-gadis di desanya. Tetapi Harjo yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai petani, kurang memperhatikan dan memikirkan soal pendamping hidup, sehingga Dia menjadi lelaki yang belum pernah menikah diusianya.
Harjo bersahabat karib dengan Jhon pria cerdas, anak mantan kepala kampung dan pengusaha muda. Dan juga Slamet seorang guru olahraga, yang jorok, rakus, suka umbar cinta, pembohong dan lucu.
Pada suatu sore, ketika Harjo pulang dari kebunnya, Slamet dan Jhon sedang bersantai di warung kopi.
"Jo, Jo.., teriak Slamet" teriak Slamet memanggil Harjo yang sedang melintas di dekat kedai kopi.
Harjo menoleh, mencari asal suara, dan melihat Jhon dan Slamet sedang duduk bersantai di warung kopi.
"Ada apa, Met?" Jawab Harjo, sambil menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Sini, ngopi dululah." Jawab Jhon singkat.
"Iya, ngopi dulu, bareng kita-kita." Slamet menambahkan.
"Sudah, jarang banget, kita ngopi bareng..., sini." Pinta Slamet sambil berteriak.
"Aku masih kotor, baru pulang dari kebun." Harjo, mencoba menolak permintaan Slamet dan Jhon.
"Sudah, gak apa apa, kita juga belum ada yang mandi," jawab Slamet lagi, mencoba memaksa Harjo, supaya mau singgah juga.
Harjo berfikir sejenak, dan akhirnya Harjo mau untuk singgah,
"Baiklah." Jawab Harjo singkat, dan berjalan menuju warung kopi, tempat Slamet dan Jhon berada.
John segera memesankan kopi buat Harjo tanpa diketahui Harjo dan Slamet ,
"Mbak satu kopinya yang pahit ya!" Pesanan ini sesuai dengan kebiasaan Harjo saat memesan kopi.
Ketika Harjo sudah memasuki warung dan duduk, Dia terkejut!
"Waduh, tahu aja saya akan memesan kopi, Mbak!" Ujar Harjo.
Widuri pemilik warung sudah menyediakan kopi buatnya, hanya tersenyum. Karena dirinya biasa melayani pelanggan dengan cara itu.
Widuri adalah penjual kopi atau pemilik warung tempat John dan Slamet biasa duduk bersantai sambil minum kopi.
Widuri memiliki kemampuan membuat kopi dan kue serta makanan ringan lainnya yang termasuk enak di kampung itu. Banyak orang suka singgah di warungnya untuk sejenak menikmati kopi maupun kue-kue buatan Widuri.
Widuri juga masih gadis dan belum menikah, usianya 20 tahun anak tunggal dalam keluarganya yang adalah penduduk asli desa tersebut.
"Siapa yang memesankan kopi ini, perasaan aku belum ada pesan"
Tanya Harjo terkejut ketika kopi telah tiba di atas meja dihadapannya saat ia sudah memasuki kedai atau warung milik Widuri, lalu duduk di samping Slamet dan John.
Wajah Widuri semakin tampak memerah, karena sedikit malu-malu.
"Hebat kamu Widuri, bisa tahu Aku akan pesan kopi" Canda Harjo.
"Itu Mas Jhon yang pesankan"
Sahut Widuri menjelaskan.
"Kalau nggak dipesan tidak mungkin aku buatkan."
Kata Widuri malu-malu sambil berlalu pergi masuk ke dalam kedai kopinya.
"Iya hebat lu Jo, belum sampai udah dibuatkan." Canda Slamet Sambil tertawa, "Hahaha... hahaha" Jhon juga ikut tertawa.
Widuri tersenyum malu-malu sambil kelihatan grogi sekali, wajahnya semakin bertambah memerah, karena malu ditambah warna kulitnya yang putih itu.
Widuri pun berjalan ke belakang warung supaya tidak kelihatan grogi.
"Ada aja lu Met, lihat tuh Widuri jadi malu-malu, kan?" Seru Jhon.
"Hebat lu Jo, bisa membuat Mbak Widuri jadi malu-malu begitu." Tambah Slamet, memindahkan fokus pembicara ke Harjo.
"Ada apa ya dengan Widuri dan kamu Jo"
Pancing Slamet, yang pernah menggoda Widuri, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Widuri.
" Iya nih Jo, aku juga jadi penasaran." Sambung John ikut memanas-manasin.
Harjo hanya tersenyum saja, Dia tidak terlalu memikirkan setiap perkataan John dan Slamet, Dia menganggap itu semua hanya candaan belaka.
Sementara itu, dibelakang warung kelihatan wajah Widuri semakin memerah, mendengar pembicaraan mereka bertiga. Kebetulan juga karena waktu sudah agak sore, semua para pelanggan sudah berpulangan ke rumah masing-masing. Ia semakin kelihatan grogi sekali.
"Sudah sudah tertawanya, kasihan Mbak Widuri, dikiranya nanti kita bermaksud meledeknya lagi."
Harjo berkata begitu, supaya menghentikan pembicaraan mengenai Mbak Widuri.
"Oh iya Jo, Bagaimana kebun kamu sekarang, menanam apa kamu?" Tanya Jhon yang mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Harjo.
"Oh, aku tanam jagung sekarang, karena mulai memasuki musim kering walaupun masih ada sedikit hujan. Aku rasa itu tanaman yang paling cocok untuk saat ini." Jawab Harjo kepada Jhon.
"Hebat kamu Jo, tahu aja Kamu sudah mendekati musim kemarau, sehingga Kamu bisa menduga, tanaman apa yang cocok saat musim seperti ini"
John merasa salut terhadap keputusan Harjo yang menanam jagung pada saat ini.
"Namanya petani ya harus tahu dong, dan aku juga ya asal coba saja, ternyata tepat." Harjo mencoba merendahkan diri.
Harjo memang setiap musimnya sering mendapatkan hasil yang baik di pertaniannya. Berbeda dengan petani lain yang terkadang asal memilih tanaman, sehingga sering salah memilih tanaman yang sesuai dengan musim pada saat itu.
Pada saat kemarau menanam padi, akan rusak karena kekeringan, petani jadi mengalami kerugian. Atau sebaliknya, pada saat musim penghujan petani di desa itu banyak yang menanam jagung dan ubi, sehingga ubi menjadi busuk di akar dan jagung busuk juga batangnya. Tanaman mati, padahal sudah dipupuk, dan disemprot, petani itu pun menjadi merugi.
Oleh sebab itu banyak di antara petani, yang merasa cemburu atau curiga, kalau Harjo memakai guna-guna atau semacamnya. Banyak diantara mereka yang iri, mencibir dan menggosipi Harjo di belakangnya.
Keberhasilan Harjo, dibandingkan petani lain, adalah karena Harjo, mau belajar, dan mengikuti setiap arahan dari petugas Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL, yang pernah hadir dikampung Surya Kencana.
Harjo dengan tekun, mengikuti dan mendengarkan setiap arahan dari petugas PPL pertanian. Petugas PPL pertanian yang pernah datang ke desa Surya Kencana ditugaskan dari pemerintah pusat, Provinsi dan juga pernah datang dari pemerintah Kabupaten atau Dinas Pertanian Daerah juga.
Warga kampung pada saat itu, banyak yang menolak PPL. Mereka berpandangan petugas PPL hanyalah anak kemarin sore, tidak berpengalaman dan tidak tahu tentang pertanian. Hanya akan membuat mereka rugi, karena harus memupuki, menyemprot insektisida (penyemprotan hama dengan larutan anti hama) dan sistem tumpang sari (dua atau tiga atau lebih jenis tanaman dalam satu Areal pertanian) dan sistem pertukaran jenis tanaman setiap kali habis musim panen akan merepotkan dan tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal.
Misalnya menanam Jagung setelah musim panen padi pasti merepotkan, sebab mereka tahunya menanam padi.
Atau melihat keadaan musim cuaca pada saat anda melakukan penanaman.
Misalnya menanam ubi, jagung atau kacang hijau pada saat musim kemarau.
Banyak petani yang merasa direpotkan, dirugikan kalau harus mengikuti anjuran PPL. Hal inilah yang membuat mereka menolak setiap apa yang diajarkan oleh PPL.
Namun sebaliknya dengan Harjo yang dengan tekun, mengikuti dan tetap belajar untuk mengembangkan sistem yang sudah diajarkan PPL kepada warga Kampung Surya Kencana.
(latar belakang kegagalan petani di Kampung Surya Kencana).***
Kembali ke perbincangan Harjo John dan Slamet.
"Oh ya, Jo kuenya jangan dianggurin, sekalian dimakan saja, saya yang akan traktir hari" John meminta Harjo untuk menikmati kue yang berada diatas meja warung itu.
"Oh, iya. Sudah tidak perlu repot-repot, nanti saya bayar sendiri saja."
Jawab Harjo kepada John, sambil mengambil sebuah lemper, kue yang sangat disukainya.
"Sudah, Nggak apa-apa, di makan saja. Aku pribadi lagi pengen traktir kalian!"
Jawab John berharap Harjo mau memakan dan menikmati kue hasil traktiran darinya.
"Sudah di makan saja, John lagi bahagia itu!" Seru Slamet dengan logat kental Jawanya.
Dengan wajah yang sedikit bingung, Harjo bertanya.
"Bahagia? Bahagia dalam rangka apa lu, Jhon?" tanya Harjo penasaran.
"Eh.. Ini..., anu..., e... ada deh, pokoknya aku yang traktir hari ini." Terang Jhon dengan malu-malu tak mampu menjawab.
"Ini tadi Wati teman sepekerjaan dengan aku bertanya mengenai Jhon. Aku lihat dia malu-malu, pada saat menanyakan mengenai Jhon. Kesimpulanku dia ada hati dengan Jhon"
Dengan sambil mengangkat-angkat alis kedua matanya, Slamet menerangkan kepada Harjo mengenai Wati, seorang guru cantik teman satu pekerjaan dengan Slamet yang adalah guru olahraga.
Wati wanita berasal dari kota, berusia 23 tahun, berkulit kuning langsat. Tinggi 170 cm, baik, ramah dan cerdas. Berada di Kampung ini karena penugasan dari Dinas Pendidikan.
Wajah John berubah memerah kelihatan grogi dan malu-malu, saat Slamet menjelaskan kepada Harjo. Padahal dia sudah mencoba untuk menutupi hal itu dari Harjo, Slamet malahan sudah keburu memberikan penjelasan dan menceritakan semuanya kepada Harjo.
"Oh, kalau begitu selamat ya, Aku turut bahagia kalau itu benar" kata Harjo.
Di dalam hati, sebenarnya Harjo juga mengenal Wati, Dia guru sekolah SD dan Harjo menyimpan sedikit ketertarikan terhadap Wati.
Wati dan Harjo pernah bertemu pada acara penyuluhan pertanian yang diadakan PPL. Ia kagum, terhadap cara Wati dalam bertanya dan menjelaskan sesuatu pada saat acara itu berlangsung.
Sekarang, pupus sudah, bagaikan disambar gledek di siang hari.
perasaan Harjo sedikit hancur, namun dia ikhlas buat sahabatnya itu.
Melihat Harjo yang diam, termenung, Slamet langsung berkata,
"Dimakan Jo, jangan termenung saja. Makanan kok dianggurin" Slamet mencoba mengingatkan Harjo sambil mengambil 2 buah kelepon dan memakannya.
"Oh...,Iya... Iya..." jawab Harjo terkejut, tersadar dari lamunannya.
"Kalau kamu Met udah dapat calon?" Sambung Harjo supaya tidak kelihatan, canggung.
"Kalau aku, ada dong, masa kamu nggak tahu. Mengapa selama ini aku selalu berada di dekat Jhon" lirik Slamet ke arah Jhon dengan penuh makna.
Harjo tersenyum dan mengganggu-anggukkan kepalanya tanda dia paham, sedangkan John kebingungan karena dia tahu kalau Sari-lah yang dimaksud oleh Slamet.
Sari adalah adik dari Jhon satu-satunya, juga kesayangan di keluarga. Sari adalah gadis yang cerdas, penyayang, berkulit sawo matang berusia 21 tahun, tinggi 168 cm. Sari juga selalu aktif pada kegiatan sosial di Kampungnya.
Sebenarnya Jhon kurang setuju Kalau Sari harus bersama Slamet, dia merasa Sari harusnya mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada Slamet.
Slamet diketahui orangnya: kurang bisa dipercaya, kasar, pemalas dan banyak hal-hal kecil yang kurang baik dari Slamet.
Namun, walaupun begitu John dan Slamet bersahabat dari kecil, begitu juga dengan Harjo. Mereka yang telah bersahabat lama sekali, mulai lahir hingga besar di Kampung Surya Kencana, Kampung mereka ini.***
Slamet merencanakan akan mempertemukan Jhon dengan Wati, sedangkan Slamet akan bersama Sari yang adalah sahabat Wati, sehingga Jhon dapat lebih leluasa berduaan dengan Wati.***
Dirumah Wati.
Di sisi lain kampung itu, Wati sedang duduk di meja kerjanya dan membuka-buka buku tugas siswa serta mengecek hasil pekerjaan para siswanya tadi pagi.
Wati teringat pada wajah Harjo, lelaki yang pernah bersama-sama ikut dalam kegiatan penyuluhan pertanian di aula Kampung Surya Kencana. Ia merasa kagum, kepada Harjo, karena Harjo merupakan petani yang masih muda dan warga Kampung yang mau mengikuti kegiatan itu, dan juga Harjo benar-benar tekun pada saat kegiatan itu.
Harjo juga kelihatan sangat antusias, Harjo juga mengambil bagian dalam kegiatan dengan memberikan pertanyaan yang menurut pendapat Wati sangat baik sekali.
"Bagaimana Pak kalau seandainya kebun kami ditanami dengan tanaman yang berbeda setelah habis panen?" Tanya seorang Pemuda kepada pembicara dari tim Penyuluh Pertanian Lapangan.
Pertanyaan inilah yang membuat Wati sangat tertarik, dan merasa bahwa Harjo adalah seorang inovator dalam bidang pertanian. Wati juga teringat akan pertanyaan Harjo,
"Bagaimana jika lahan padi ditanami oleh tanaman seperti jagung ubi kayu atau singkong kacang hijau ketika Kampung mengalami kekeringan yang cukup parah, Pak?" kata seorang pemuda.
"Pertanyaan yang bagus, Oh iya tolong perkenalkan diri Bapak siapa dan petani tanaman jenis apa?" Tanya pembicara dari PPL.
"Nama saya Harjo Suroto, Pak. Petani padi Pak," jawab Pemuda itu dengan lugas.
Wati mulai merasa tertarik kepada pemuda yang mau bekerja sebagai petani dan tentunya mau dibimbing oleh Penyuluh Pertanian, Karena pada saat itu banyak petani yang menolak untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan penyuluhan pertanian, bahkan banyak dari antara mereka yang sangat tidak suka, menolak dengan keras dan bergosip sana-sini untuk menolak kegiatan penyuluhan pertanian.
Wati sangat kagum dan salut terhadap Harjo. Harjo dianggap oleh Wati adalah contoh teladan Pemuda yang gigih dan mau bekerja keras. Wati larut dalam lamunannya.
Sehari sebelumnya di sekolah.
Di sekolah pagi itu, Wati sedang duduk di kursi meja kerjanya di ruang guru.
Slamet datang menghampiriWati. "Pagi Bu" Sapa Slamet, yang coba mendekati Ibu Wati.
Hal ini sudah sering sekali dilakukan oleh Slamet. Slamet sering mencoba PDKT atau pendekatan kepadaWati, tetapi Wati tidak pernah menanggapinya karena dia tidak mempunyai rasa suka terhadap Slamet.
"Pagi juga Pak Slamet" jawab Wati seadanya.
*Oh ya, Saya lihat Bapak sering bersama Harjo petani padi di kampung kita." Tanya Wati, sambil mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya Bu. Saya kenal dia dan bersahabat dengannya." Jawab Slamet walaupun didalam hatinya terasa perih, karena Wati membicarakan pria lain disaat dirinya hendak melancarkan jurus mautnya.
"Oh, Jo. Saya kenal, Dia itu teman baik saya, kami sama-sama besar di Kampung ini." Slamet sedikit menjelaskan dengan rasa hati gelisah, cemburu dan marah.
"Harjo biasanya di Kampung ini dipanggil dengan sebutan Jo" Slamet menjelaskan lagi tentang panggilan kecil Harjo.
"Kalau begitu Pak Slamet tahu dong di mana Harjo, ehh...Jo tinggal?" Tanya Wati dengan semangat dan antusias.
"Tentu dong, saya kan sahabatnya. Kami juga sering bersama-sama dan sekarang pun masih sering ketemu" Slamet sedikit berbohong kepada Wati. Sebab sebenarnya Harjo jarang sekali bersosialisasi dan lebih sering di kebunnya.
"Saya mau menanyakan Jo, mengenai program pertanian. Em.. seperti. Apakah ada perbedaan hasil pertanian sebelum dan setelah penyuluhan pertanian kemarin dan juga apakah dia masih tetap mengikuti anjuran dari PPL?" Wati mencoba menjelaskan maksud dirinya, ingin bertemu dengan Harjo.
"Kalau Kamu mau ke sana, nanti Kita bisa bersama-sama kesan. Saya akan menemani, Ibu." Slamet mencoba meyakinkan Wati untuk pergi bersama-sama dengannya.
Siasat Slamet
Persamaan panggilan Harjo dan Jhon inilah yang membuat Slamet berpikir untuk menggantikan Harjo dan Jhon sehingga Dia dapat mendekati Sari yang juga adalah adik dari Jhon.
Slamet berpikir Jhon akan membalas budinya tm yang telah mendekatkannya dengan Wati.
Sebab John pernah mengungkapkan bahwa Dia tertarik kepada Wati, guru teman mengajar Slamet itu.
Di dalam hatinya Slamet berpikir tak dapat Wati, Sari pun jadilah.
Slamet pun mencoba meyakinkan John, untuk bertemu dengan Wati di Warung Makan yang baru buka di tepi Sungai.
Dengan Syarat Sari ikut serta di pertemuan hari Sabtu, malam minggu nanti.
Saat ini adalah hari penting buat Slamet. Dia terlihat sibuk sekali didalam rumahnya. Dia sedang mondar-mandiri kesana-kemari mencari minyak rambut yang biasa dipakainya, saat mendekati seorang gadis impiannya.
"Dimana ya, minyak kemiriku?" Slamet bergumam sendiri didalam hatinya.
"Biasanya ada di laci ini." Sambil Slamet mengeluarkan isi laci yang merupakan bagian dari meja kerjanya.
Slamet mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu. Sambil menggerutu sendiri,
"Lagi perlu begini, malahan tak ketemu, huft..." Slamet membatin.
Slamet yang merasa lelah dan letih pun, karena mencari minyak rambut kemiri andalannya yang tinggal beberapa tetes itupun akhirnya menyerah, Slamet berjalan ke arah kamar mandi.
"Sudahlah, pake air saja, yang penting rapi." Gerutunya sambil memasuki kamar mandi.
Slamet masuk kedalam kamar mandi, dan menuju bak mandi, lalu Dia melihat kearah samping dimana terdapat cermin kecil tempat sabun dan sampo, setelah selesai membasahi kepalanya menggunakan air dengan telapak tangannya. Dia melihat botol kaca, berisi cairan hijau yang isinya tinggal sedikit itu.
"Sialan, ini dia yang ku cari. Minyak rambut, Sialan! Rambut sudah ku basahi, baru ketemu." Umpatnya dalam hati.
"Sial...Sial...Akh... "
Kemudian Dia memasukkan, botol minyak kemiri tersebut kedalam sakunya, lalu keluar kamar mandi setelah sebelumnya menyisir rambutnya terlebih dahulu menggunakan sisir yang biasanya disimpan dan di bawa di dalam sakunya.
Slamet segera berjalan ke depan dan menggunakan sepatu yang biasa dipakainya setiap paginya.
Aroma berbagai macam kotoran sudah tak terhingga banyaknya yang singgah baik di tapak maupun sedikit bagian samping sepatu.
Slamet keluar dari pintu rumah dan tak lupa menutupnya. .
Slamat berjalan tergesa-gesa, karena dia tahu bahwa hari ini dia sudah sangat terlambat masuk bekerja.
Jalanan di Kampung ini belum diaspal sama sekali. Jalanan masih terbuat dari tanah dan bebatuan. Jalanan juga masih kurang rata di sana-sini terdapat lubang, dan tonjolan dari batu kerikil baik yang besar maupun yang kecil.
Saat tengah berjalan dengan terburu-buru, Slamet tersandung, oleh batu yang menonjol, lalu dia terjatuh, terjerembab (dan tak bisa bangun lagi, pov:Lirik lagu) dan tak sengaja tangannya menyentuh kotoran kambing yang sering sekali berada di jalanan itu. Sebab warga kampung yang memelihara piaraan juga menggunakan jalan itu untuk mengembalakan kambingnya.
"Sialan...," Umpat Slamet penuh amarah.
"Kambing siapa sih yang berak sembarangan, nampak sekali kambing orang miskin, nggak tahu ini Jalan umum, masak berak di sini, pasti kambing orang miskin nih..." Gerutu Slamet sambil mulai bangkit dengan menahan rasa sakit di telapak tangan dan didengkul kakinya yang juga terkena batu. .
Ia pun melihat ke arah kanan dan kiri jalan, serta sambil membersihkan tangannya menggunakan dedaunan yang terdapat di pinggir jalanan itu.
"Untung saja tidak ada yang lihat, kalau tidak bisa malu sekali Aku." Sambung Slamet lagi sambil menggerutu.
Tak lupa Dia mencium tangannya,
"Sialan bau banget, kambing nggak pernah sekolah ini. Dasar kambing orang miskin." Oceh Slamet sambil menggosokkan dedaunan ke tangannya, dengan pikiran dipenuhi kedongkolan dan amarah.
Merasa sudah sedikit bersih, Slamet pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah tempat dia bekerja, sambil menggerutu.***
Dirumah Jhon.
Di tempat lain, seorang laki-laki sedang berdandan dan senyum-senyum di depan cermin, Dia sedang menggunakan pakaian terbaiknya, sebuah baju kemeja dengan lengan pendek dan celana cutbray yang terkenal pada tahun itu. Dia memakai minyak rambut, sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
Dia bersiul-siul, sambil menyemprotkan parfum ke badannya.
Lelaki itu adalah Jhon, yang sudah termakan oleh tipu daya Slamet. Dia dijanjikan akan bertemu dengan Wati guru sekolah dasar di Kampungnya itu, yang telah memikat hatinya.
"Wati mau bertemu dengan kamu Jhon katanya dia ada perlu, penting dengan kamu." Kenang John akan kata-kata Slamet.
"Tetapi jangan lupa kamu bawa Sari agar Aku nanti bersama Sari dan kamu bersama dengan Wati." Pinta Slamet waktu itu.
Hal ini memang membuat Jhon curiga. Dia curiga,
"Mengapa Wati mau bertemu denganku, yah?" Pikir Jhon didalam hati
"Dan.. Mengapa Aku harus membawa Sari juga bersama denganku?"
Berbagai pertanyaan timbul didalam hatinya pada waktu itu.
Tetapi Slamet berhasil meyakinkan Jhon.
"Kau Jhon harus membawa Sari supaya nantinya, Aku akan cari alasan agar dapat pergi dengan Sari sehingga Kau dan Wati dapat lebih leluasa bicara dan berduaan." Slamet memakai jurus terbaik meyakinkan Jhon waktu itu.
Sebenarnya Jhon tidak rela sama sekali untuk membawa Sari, karena Sari adalah adiknya yang dia sayangi.
Dia juga tidak terlalu suka kalau nantinya Sari menjadi istri dari Slamet. Tetapi karena Jhon sudah merasa senang akan bertemu dengan Wati dan diyakinkan oleh Slamet. Akhirnya dia pun menuruti semua permintaan dari Slamet untuk membawa Sari juga di pertemuan itu.***
Kemarin malam, saat meyakinkan Sari untuk ikut.
Jhon baru saja pulang dan masuk kedalam rumah setelah seharian bersama Slamet dan Harjo di warung Widuri.
Jhon kembali ke rumah itu sudah agak sorean, yakni menjelang gelap. Dia Kelihatan bahagia dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Jhon mandi sambil bersenandung dan bersiul-siul menunjukkan bahwa hatinya saat ini dalam keadaan sangat berbahagia.
Di luar kamar mandi, Sari bersama Ayah dan Ibunya mendengar senandung dan nyanyian dari Jhon yang berada didalam kamar mandi.
Saat ini Sari dan Ibu sedang menyiapkan makan malam.
"Sepertinya Kakakmu sedang bahagia!" Seru Ibu tua yang adalah orang tua Jhon dan Sari.
"Iya Bu, jarang sekali Kakak mandi sambil bersenandung seperti ini." Jawab Sari yang juga merasa bingung.
"Apa mungkin karena Dia mendapatkan Proyek besar!" Ibu menduga, hal itulah yang menyebabkan Jhon kelihatan bahagia saat ini.
"Tetapi sepertinya agak berbeda, Bu." Sari memberikan pendapatnya sambil tetap kelihatan berpikir dan menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya.
Ayah Jhon dan Sari hanya mengangguk sambil menikmati sebatang rokok dan kopi serta pisang goreng yang ada di meja ruang tamu. Hal ini sudah dilakukan ayah dari tadi sore, sambil menunggu jam makan malam.
Ayah, usia 60 tahun adalah mantan kepala Kampung yang sudah beberapa periode menjabat, namun setelah kematian ayah dari Harjo beliau mengundurkan diri. Ayah memiliki sawah dan kebun yang cukup luas, sehingga hasil dari pertanian dan perkebunannya saja sudah lebih dari mencukupi dari kebutuhan keluarga itu.***
"Sudah tidak perlu dipikirkan, nanti kita tanya saja, langsung kepadanya." Ayah pun akhirnya bersuara.
Jhon akhirnya keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya terlihat bersih, segar dan ceria. Tidak seperti biasanya.
"Mari makan Jhon!" Panggil Ibu.
"Baik Bu." Jawab John dengan cepat.
Ayah yang sedari-tadinya duduk di ruang tamu pun berjalan menuju ruang makan dan duduk di kursi meja makan. Begitu juga dengan Jhon yang sudah selesai mandi.
Sari sedang mengisi nasi ke piring. Ayah dan John mulai duduk di atas kursi meja makan di mana Ibu sudah duduk dari tadi, sambil menata piring dan lauk-pauk.
"Mengapa Kakak kelihatan berbeda sekali hari ini?"
Tanya Sari sambil mengisi piring dengan nasi lalu menaruhnya di meja di hadapan Jhon, lalu dihadapan Ayah dan Ibu serta buat Sari sendiri tentunya.
"Iya Jhon. Ibu juga merasa begitu, dari tadi kamu bersenandung terus, nggak biasanya?"
Tanya Ibu menyambung pertanyaan dari Sari.
"Ah nggak ah Bu, biasa aja kok."
Jawab Jhon dengan malu-malu mencoba merahasiakannya.
"Masa sih?"
Sari masih kelihatan tak percaya dan mencoba menggali apa sebenarnya yang terjadi dengan Jhon.
"Nggak biasa aja kok, nggak ada yang berbeda." Jawab Jhon menutupi apa yang ada di dalam hatinya.
"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu," kata Ayah sambil mulai memimpin doa.
Ibu, Sari dan John pun ikut berdoa dipimpin oleh Ayah, sebelum mereka mulai makan.***
Di keluarga John saat makan mereka juga sering mengobrolkan segala sesuatu yang dirasakan perlu.
Jhon mulai mengambil ikan dan sayur lalu mulai memakan makanannya.
Ayah sudah mulai makan, Ayah yang sedari-tadi sore kelihatannya sudah lapar sekali, mulai makan dengan lahap.
Sari dan ibu juga demikian mulai memakan makanannya.
Namun Sari tak dapat menahan dirinya, lalu bertanya.
"Masa sih nggak ada Bang?"
Tanya Sari yang masih terlihat penasaran sekali, di sela-sela Sari memakan makanannya.
"Iya, nggak ada. Serius Dik nggak ada, masa nggak percaya sih sama Aku"
Jhon memberi penjelasan, walaupun Dia tahu orang tuanya dan Sari pasti tidak akan percaya.
Tiba-tiba John mendapatkan ide untuk mengajak Sari seperti permintaan Slamet.
"Ya sudah kalau nggak percaya. Besok ikut Kakak deh jalan-jalan ke pinggir kali, di sana ada warung tempat makan-makan yang baru saja dibangun."
Jawab Jhon, mencoba mengajak Sari. Setelah dia mendapatkan ide, mengalihkan pembicaraan.
"Iya benar di situ ada warung yang baru saja dibuka, Ayah juga sudah dengar"
Ayah membenarkan cerita Jhon mengenai rumah makan baru yang berada dipinggir sungai itu.
"Oh baru toh, pantesan Ibu belum tahu ada tempat makan di situ, tetapi Ibu nggak bisa ikut ya!"
Jawab Ibu menolak ajakan Jhon, Ibu menduga mereka sekeluarga diajak semuanya.
"Iya dong, Bu, yang Jhon ajak kan Sari, Bu!" jawab Jhon cepat.
"Kan, rencananya yang ke sana cuma anak-anak muda saja, yang belum pernah menikah Bu!"
Ujar Jhon menjelaskan lagi.
"Kenapa kak, kan bisa saja Ibu atau Ayah ikut?"
Sari merasa bingung dengan jawaban Jhon.
"Oh itu, di sana ada teman kakak dan juga Bu Wati. Rencananya besok mau ke sana sambil menikmati malam mingguan." Jhon lebih berani untuk terbuka.
"Oh, Wati guru SD itu. Dia kan temen aku Kak"
Sari memberi tahukan kepada Jhon bahwa Wati adalah teman dari Sari.
"Kamu kenal dengan Wati?" Jhon sedikit terkejut.
"Kalau begitu bagus deh, kamu bisa bertemu juga dengannya" Jhon melanjutkan perkataannya.
Didalam hatinya dia berkata, "Mengapa nggak tahu dari awal, kalau tahu dari awal, lebih baik aku minta Sari yang kenalkan aku."
"Iya waktu kegiatan PPL Penyuluhan Pertanian Lapangan di balai Kampung, aku kan ikut, Wati juga ikut. Di situlah kami berkenalan juga dengan Jo" Sari memberi penjelasan panjang lebar.
"Oh begitu" Jhon menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Memangnya, Kakak ada hubungan apa dengan Wati. Kakak suka ya?"
Tanya Sari penuh menggoda John dengan rasa penasaran.
"Enggak Kakak belum ada hubungan apa-apa dengan Wati" Jawab Jhon sedikit gugup.
"Tetapi kamu bisa ikut kan, besok?" Tanya Jhon untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Oke, Aku ikut" Jawab Sari cepat dan pasti.
Sari berpikir akan bertemu dengan lelaki yang dia kagumi dari kecil. Sari yakin akan bertemu dengan laki-laki itu lagi disana nantinya. Sehingga dia menyetujui untuk ikut serta.
" Oke deh, baguslah!" Jawab Jhon merasa lega.
Jhon merasa lega karena Sari sudah memutuskan akan ikut serta besok. Dia pun memakan makanannya dengan lahap sambil tersenyum, hatinya terasa lega sekali.
Selesai makan mereka semua bercengkrama di ruang tamu sampai akhirnya semua orang kembali masuk ke kamar masing-masing.***
Di dalam kamar Ayah belum tidur, sedangkan Ibu mulai merebahkan badannya di atas kasur.
Ayah mulai berbincang dengan Ibu, karena dalam hatinya menyimpan banyak pertanyaan.
"Bu, Bu sudah tidur?" Ayah menggoyangkan pundak Ibu. Ayah ingin memastikan bahwa Ibu sudah tertidur atau belum.
"Belum, kenapa Yah?" Tanya Ibu.
"Ayah mau ya?" Tanya Ibu, berpikir kalau Ayah ingin olahraga malam berdua.
"Nggak, bukan itu Ayah masih lelah" Jawab Ayah cepat.
"Kirain..." Ibu merasa sedikit sebel.
"Terus, Ada apa Yah?" Tanya ibu menyambung perkataannya tadi.
"Ini Ibu tahu nggak pemilik warung pinggir sungai yang baru saja didirikan itu. Siapa pemiliknya?" Tanya ayah panjang lebar.
"Tidak tadi kan Ibu sudah katakan Ibu belum tahu kalau di pinggir sungai sudah didirikan sebuah warung baru. Bagaimana mungkin Ibu tahu siapa pemiliknya?" Jawab Ibu memberi penjelasan.
"Ayah dengar sih, seorang janda muda, dan memiliki beberapa pelayan yang cantik dan sexy. Jangan-jangan Jhon tertarik kepada mereka. Mereka-kan belum jelas, asal usulnya, Ayah kurang setuju!" Ayah menjelaskan maksud dihatinya.
"Sudah nanti kalau Ibu ada waktu, Ibu akan tanyakan kepada Jhon. Sekarang mari tidur dahulu, Ibu sudah mengantuk sekali." Jawab Ibu yang sudah mulai tertidur.
Mendengar jawaban Ibu, Ayah akhirnya sedikit tenang.
Mereka pun akhirnya tertidur pulas.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!