Dunia Vivian runtuh tanpa suara. Ia hanya bisa membekap mulutnya sendiri, meredam jeritan yang tertahan. Jemarinya bergetar, menahan sesak di dada, serta cairan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Mas Satria... Nggak mungkin...!" jeritan kecewa berubah menjadi bisikan tak berguna.
Kepalanya menggeleng lemah, menolak fakta, jika dunianya, kisah cinta yang ia rajut indah, kini runtuh seketika.
"Mas, kamu hebat sekali..." suara wanita itu terdengar mendayu, penuh kepuasan.
"Kamu suka?"
Suara itu... suara yang sangat ia kenal, suara yang ia rindukan setiap malam. Tapi sekarang, kenapa terdengar memuakkan?
Vivian menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak luar biasa, namun ia paksa tetap berdiri dengan setiap luka yang tercipta.
Setiap tarikan napas terasa seperti jarum tajam yang perlahan menusuk ulu hatinya.
Ia mengusap pelan dada kirinya yang kian terluka, berusaha meredam gejolak amarah dan rasa sakit yang membara, namun percuma.
"Beruntung nya kekasih mu,"
"Apanya yang beruntung? Kamu yang paling beruntung sayang, aku bahkan belum pernah menyentuh gadis kampung itu sedikitpun"
Setiap kata yang terucap adalah racun. Meresap pelan ke nadinya, membusukkan separuh cinta yang masih tersisa.
Bukan... Bahkan cinta itu masih utuh, tapi dipaksa mati sebab dikhianati
Jemari Vivian mati rasa. Padahal yang ia genggam hanya Tote bag kecil berisi pakaian hasil rancangannya sendiri, dan mimpi. Tapi mimpi itu telah hancur...
"Ini, sudah tak berguna lagi" ia membantingnya asal, seakan benang-benang yang saling terkait, diputus paksa tak tersisa.
Pakaian ini sudah tak bisa digunakan. Benangnya terputus, kainnya robek, tak layak disimpan, harus di buang. Tapi, ini bukan tentang pakaian...
Ia melangkah gontai, meninggalkan setetes air asin yang meluncur santai, jatuh ke bawah bersama suara laknat yang memekakkan telinga.
"Salahku apa mas...? Kenapa kamu tega khianati aku? Aku kurang apa mas?" bisiknya lirih, ia menekan dadanya kuat sekali, ingin meredam segumpal hati yang seakan di tusuk belati.
Bayangan kejadian itu terus saja berputar di kepala, pelan-pelan meracuni pikirannya. Bukan hanya soal sakit hati dikhianati, tapi tentang harga diri yang diinjak mati.
Ia menghentikan langkahnya, menatap pantulan dirinya pada sebuah cermin besar sebuah toko.
"Pantas saja, ternyata aku seburuk ini" cicitnya, merasa rendah diri.
Ia duduk sejenak, menghapus jejak air mata menggunakan lengan bajunya. Jemarinya meraba kantung kecil di sakunya, lalu membukanya, menilik obat yang tinggal beberapa butir yang tersisa.
"Tahan saja, gunakan obat ini jika hanya posisi genting," ia kembali menyimpan kantung obat dengan rapat.
Bayangan datang ke acara resepsi pernikahan ibunya, ia menggandeng kekasih hatinya, mengenakan pakaian hasil rancangannya, seketika sirna.
"Tak usah datang saja lah, percuma,"
Terkadang dunia berjalan di luar rencana, panggilan tiba-tiba dari ibunya membuatnya harus berpikir ulang.
"Vivian, apa kamu tersesat?"
"Tidak ibu, aku sebentar lagi sampai" dustanya.
"Ibu tunggu yah, tamunya sudah ramai, dari tadi ayah baru mu terus saja menanyakan mu,"
"Iya ibu, aku segera tiba,"
Panggilan diakhiri. Ia menatap kartu undangan pernikahan ibunya, berlokasi di sebuah ballroom hotel mewah. Tapi ia hanya mengenakan pakaian sederhana. Karena gaun buatannya ia tinggalkan begitu saja di depan kamar kekasihnya. Ralat, mantan kekasihnya.
"Nanti malah hanya bikin malu ibu jika aku datang seperti ini" ucapnya pelan, ia menunduk lesu. Tapi secercah harapan menghampirinya, ketika matanya tak sengaja menatap sebuah butik kecil tepat di depannya.
Ia memberanikan diri masuk, melihat-lihat deretan gaun cantik yang terpajang di disana. Hingga tiba-tiba terlintas kembali harapan yang sempat ia pendam.
"Kapan yah, aku bisa buka butik seperti ini?" ujarnya. Tapi ucapannya mampu didengar wanita di sampingnya, ia tersenyum sinis penuh ejekan.
"Dasar orang kampung, membeli baju semahal ini saja kamu tidak akan sanggup, apa lagi bermimpi memiliki butik seperti ini!" cibir wanita itu, lalu tangannya sigap menyambar gaun krem gading yang disentuh Vivian.
"Maaf, saya duluan yang mengincarnya," tolak Vivian tenang, tangannya menahan kain gaun itu dengan lembut tapi tak tergoyahkan.
"Kamu? Jangan bermimpi! Lihat penampilanmu itu! Kamu tak akan mampu membelinya. Lepaskan!" Wanita itu menarik gaun itu dengan kasar, nyaris merobek bagian ujungnya.
Vivian mengeratkan genggaman, matanya menatap tajam namun tenang. "Saya lihat duluan, saya yang berhak membelinya."
"Berhak? Kamu pikir siapa dirimu?" sergah wanita itu, wajahnya memerah menahan malu karena tak bisa merebut gaun itu dari tangan Vivian.
Seorang staf tergopoh-gopoh mendekat, wajahnya panik mendapati calon customer nya berkelahi.
"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" ia menunduk sopan.
"Usir gadis kampung ini! Saya merasa terganggu, saya mau beli gaun ini tapi si kampung ini malah menghalangi..." suaranya menggebu, penuh tuntutan tanpa bantahan.
"Sudah saya bilang, saya yang lihat duluan!" suaranya kian meninggi, terbawa emosi yang kian meradang.
Kekasihnya di ambil orang, ia tak ingin sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, kembali direnggut lagi. Ini bukan sekedar rebutan pakaian, tapi harga diri yang dipertaruhkan.
"Kamu tidak akan sanggup membelinya..."pekik wanita itu, tak mau kalah.
Tanpa banyak bicara, Vivian merogoh tas besarnya. Ia mengeluarkan bungkusan plastik kresek hitam yang terlihat sederhana, lalu meletakkannya di meja kasir dengan bunyi berat saat jatuh.
"Hitunglah uang pas untuk gaun ini!" ucapnya singkat.
Pelayan membuka bungkusan itu perlahan, tumpukan merah uang tunai yang tertata rapi memenuhi meja, cukup bahkan lebih dari harga gaun itu.
Binar kebencian mulai tercipta. Wanita itu menatap Vivian penuh permusuhan. Tangannya mengepal erat, egonya menolak kalah, apalagi lawannya hanya gadis kampung yang ia anggap remeh dan jauh di bawahnya.
****************
Vivian berdiri mematung sejenak, di depan pintu masuk ballroom hotel.
Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lampu gantung kristal yang berkilau bak ribuan bintang, aroma bunga segar dan musik lembut mengalir keluar menyambutnya.
Ia yang tumbuh di desa sederhana hanya bisa menahan napas, tertegun menyaksikan kemegahan yang baginya terasa seperti dunia lain.
"Ini, indah sekali..."
Kakinya terasa berat, ragu untuk melangkah masuk, seolah dirinya terlalu kecil untuk berada di sana.
Baru satu langkah ia ambil, tubuhnya tiba-tiba menabrak dada bidang yang tegap dan kokoh.
"Maaf..." gumamnya pelan, buru-buru mundur.
Di hadapannya, berdiri sosok pria berwajah tampan namun sedingin es. Tatapannya tajam, datar, tanpa senyuman, seolah kehadiran Vivian hanyalah debu yang mengganggu jalannya.
Belum sempat Vivian berkata apapun, suara cempreng yang tak asing terdengar dari arah belakang.
"Nah, ini dia gadis kampung yang kurang ajar itu!"
Vivian merotasikan tubuhnya, menatap tak percaya sosok yang sempat berseteru dengannya kini berada di ruang yang sama.
"Nenek lampir itu lagi? Sialan..."
"Security... Usir penyusup kampungan ini...!"
Lengkingan panjang terdengar nyaring, mendobrak pendengaran, memecah kesunyian, menyambut langkah Satria yang baru saja tiba di sana.
Matanya segera mencari sumber keributan, dan napasnya seketika tertahan, tak percaya melihat sosok yang berdiri tegak di tengah kerumunan. Vivian...?
Dahinya berkerut dalam, kebingungan. Bukankah kemarin ia menolak datang di pernikahan pamannya, beralasan ibunya sendiri mengikat janji suci di hari yang sama persis? Kenapa dia justru ada di sini, di pernikahan pamannya?
Tanpa menunggu lama, Satria segera melangkah cepat menerobos kerumunan, lalu menarik lengan kekasihnya menjauh.
Tatapannya beralih tajam pada wanita di hadapan mereka, kekasih sepupunya yang mulutnya tak pernah bisa diam, dan sikapnya selalu penuh sindiran menyakitkan.
"Vivian, apa yang terjadi...? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya pelan namun mendesak, matanya menatap lekat wajah gadis itu, mencoba membaca apa yang disembunyikan di balik tatapan tegarnya.
"Ayo kita pulang!" ajak Satria lagi, tangannya masih erat menahan lengan gadis itu, berniat membawanya menjauh dari keributan yang belum jelas ini.
Namun Vivian menepis pelan, lalu mundur selangkah menjauh. Wajahnya tegas, tak ada keraguan sedikit pun.
"Tidak. Aku tidak ingin pulang denganmu" tolaknya dingin, matanya tak berani menatap lurus ke manik mata Satria. Ada gejolak yang sekuat tenaga ia tahan, ia bentengi.
"Aku harus masuk ke dalam" sambungnya.
Satria tertegun, semakin bingung melihat bagaimana Vivian terus menjaga jarak, seolah ada sesuatu yang tak sanggup ia sampaikan. Biasanya gadis itu bersikap lembut dan selalu nurut dengannya, tapi sekarang...
Setiap kali ia mencoba mendekat atau memegang tangannya, gadis itu selalu memalingkan wajah atau melangkah mundur lagi.
"Vivian, kenapa kamu terus menghindar?" tanyanya pelan, suara bergetar menahan kecemasan.
"Baiklah kalau kamu memang ingin masuk. Ayo!" ucap Satria akhirnya, mengalah meski masih menyimpan ribuan tanya di benaknya.
Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam aula. Begitu melangkah melewati pintu, seketika semua mata tertuju pada Vivian.
Satria pun tertegun, baru menyadari betul perubahan penampilan kekasihnya hari ini, dia tampak begitu cantik, anggun, dan bersinar, jauh berbeda dari biasanya.
Gadis yang biasa mengenakan pakaian tertutup kini tampak lebih berani. Wajahnya dipoles indah, semakin menonjolkan kecantikannya.
Hatinya berdesir takjub, lalu diam-diam membimbing tangan gadis itu menuju sudut ruangan yang sepi dan tersembunyi.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Vivian pelan.
"Sebentar Sayang. Mas rindu..." bisiknya lembut.
Satria melingkarkan lengannya erat, memeluknya dari arah belakang. Gerakannya mendesak, menghimpit tubuhnya hingga sesak.
Napas hangat terdengar jelas. Kian lama kian mendekat, menyapu permukaan kulit, hampir menyentuh lehernya.
Namun detik itu juga, bayangan adegan menjijikkan siang tadi tiba-tiba melintas tajam di kepala.
Rasa mual dan jijik menyergap seketika, pada apa yang pernah ia alami. Ia ingin mundur, ingin menjauh, tapi tubuhnya terasa beku tak berdaya, terjebak di antara kerinduan yang mendalam dan rasa hina yang menyiksa.
"Mas, lepasin... Ini tempat umum"
"Sebentar saja sayang..." ia terus mendesak, sementara Vivian masih berperang antara kerinduan dan penolakan.
"Satria..."
Suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.
Sosok pria berwajah sedingin es berdiri tak jauh dari sana, menatap lurus ke arah Satria dengan tatapan tajam yang tak bisa ditolak.
"Temuin ayah!" ucapnya singkat, nada bicaranya datar namun berwibawa.
Satria mendengus kesal, terpaksa melepaskan pelukannya. Ia menatap Vivian sejenak, masih ingin bertanya banyak hal, tapi ia tunda.
"Tunggu aku di sini ya, jangan kemana-mana" ucapnya pelan, lalu berjalan pergi dengan langkah tergesa.
Pria dingin itu melangkah melewati Vivian. Sebelum menjauh, ia sempat menoleh sekilas, menatap wajah gadis itu lekat sejenak, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun tak terucap, lalu melangkah pergi meninggalkan keheningan yang kuasai Vivian.
Vivian menghela napas panjang, tubuhnya terasa lemas sekali. Ia memilih duduk di bangku sudut ruangan yang agak remang, menunduk diam memeluk lutut.
Perang batin di dadanya belum usai, rasa mual dan sakit hati masih membekas nyata. Serta sedikit rindu yang ia tepis berkali-kali tapi tak mau pergi.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Vivian! Ibu cariin kamu kemana-mana, eh malah duduk di sini," sapa ibunya dengan nada lembut, lalu segera menggenggam tangan gadis kesayangannya.
"Ayo masuk ke dalam, banyak tamu yang mau kenalan sama kamu."
Vivian menggeleng pelan, suaranya lirih dan lemah. "Vivian lagi nggak enak badan, Bu... Kepalaku rasanya pusing sekali"
Wajah ibunya seketika berubah khawatir. "Kamu pasti kecapean habis perjalanan jauh kan. Ya sudah, nggak usah paksakan diri. sana, kamu istirahat dulu saja di kamar sampai pulih."
Ia menyelipkan kartu akses masuk salah satu kamar ke tangan Vivian, lalu mengusap lembut pipi anaknya.
"Tenang saja, nanti Ibu nyusul kamu kalau sudah selesai acaranya. Istirahat yang cukup ya, sayang."
Vivian mengangguk pelan, menggenggam kartu itu erat. Setidaknya untuk sesaat, ia bisa lari dari semua tatapan, rasa sakit, dan kenyataan pahit yang menghancurkan hatinya.
Iyah, hanya sesaat. Karena selanjutnya guncangan itu akan lebih dahsyat...
Vivian melangkah sembarang, wajahnya penuh kebingungan. Ia sama sekali tak tahu arah, hanya berjalan mengikuti siapa pun yang lewat di depannya.
Diam-diam ia memperhatikan segalanya, cara mereka menekan tombol lift, cara mereka menempelkan kartu di alat pembuka pintu, hingga gerakan tangan yang tepat.
Ia menyimak saksama, mencoba mengingat setiap langkahnya, seolah sedang belajar hal baru yang luar biasa.
Bagi Vivian yang tumbuh besar di kampung, semua kemewahan dan kecanggihan kota ini terasa asing dan menakjubkan.
Hingga akhirnya matanya menangkap deretan angka di pintu yang sama persis pada yang tertulis di kartu akses yang ia pegang erat.
Dengan hati-hati, ia menirukan gerakan yang tadi ia lihat. Menempelkan kartu di alat pembuka, menunggu sejenak...
Ting!
Pintu terbuka lebar dengan mulus.
"Waaah... ajaib sekali!" serunya berbisik, matanya berbinar takjub. Senyum lebar mengembang di bibirnya, bangga sekali karena berhasil melakukannya sendiri.
Ia tak langsung melangkah masuk, melainkan melongokkan kepala dulu, mengintip perlahan dari celah pintu yang terbuka.
Matanya berkeliling saksama, menelusuri setiap sudut ruangan yang tampak begitu luas, bersih, dan penuh kemewahan. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Benar-benar... seperti surga." bisiknya takjub, senyum bahagia merekah lebar di wajahnya.
Tanpa ragu lagi, ia berlari kecil masuk ke dalam. Matanya terus bergerak ke sana ke mari, tak puas memandangi segala keindahan di sekelilingnya.
Tangannya terasa gatal dan ingin menyentuh semuanya. Benda-benda yang baginya terasa begitu ajaib, halus, dan indah.
Ia menyentuh permukaan meja yang mengkilap, menyapu jari di atas kain tirai yang lembut, hingga mengelus selimut empuk di atas kasur besar itu. Semuanya terasa begitu istimewa.
"Pasti akan sangat nyaman sekali tinggal di kota" bisiknya lirih penuh rasa senang.
Ia menarik selimut empuk itu hingga menutup dadanya, lalu perlahan memejamkan mata. Untuk sementara, ia melupakan sakit hatinya. Rasa lelah perlahan membawanya terlelap lebih mudah.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, Vivian terbangun ketika malam tiba. Ia mengerjap pelan, lalu meraih ponsel di samping tempat tidur.
Ada beberapa pesan masuk dari ibunya, mengingatkan agar segera bersiap untuk acara makan malam bersama.
Dengan sigap ia beranjak bangun, berjalan cepat menuju pintu dan membukanya lebar.
Namun seketika langkahnya terhenti, ia menatap pantulannya sendiri di cermin. Rambut berantakan, pakaian kusut, penampilannya sungguh tak layak.
"Ah, benar... sepertinya aku harus mandi dulu" gumamnya.
Langkahnya berbelok menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan, begitu terburu-buru hingga ia lupa menutup kembali pintu kamar depan.
Selesai dengan segala ritual mandinya, ia keluar dengan wajah segar, namun tiba-tiba kakinya terpaku di tempat.
Di ambang pintu berdiri sosok pria berwajah dingin, tatapannya tajam dan lekat menatap ke arahnya. Tak berkedip, tak bergerak, seolah sudah berdiri di sana sejak lama.
"Kyaaa..!" teriaknya kaget, kedua tangannya spontan menutupi tubuhnya.
Namun pria itu masih diam saja, tak beranjak sedikit pun dari tempatnya, hanya menatapnya dalam diam yang membuat suasana semakin mencekam.
Dalam situasi ini, bayangan pengkhianatan kekasihnya kembali berputar di kepala. Matanya memerah, ia hampir menangis. Membuat pria itu seketika tersadar dari lamunannya. Tanpa banyak bicara, ia melempar sebuah tas jinjing besar ke arah Vivian.
"Pakai" ucapnya singkat dan tegas, wajahnya langsung berpaling ke sisi lain agar tak lagi melihat ke arah gadis itu.
Tanpa menunggu lama, ia bergegas melangkah keluar dan menutup pintu rapat di belakangnya.
Di luar sana, tubuhnya tersandar lemas pada dinding dingin. Satu tangannya menekan dadanya yang berdegup jauh lebih kencang dari biasanya, berusaha menenangkan detak jantung yang tak mau tenang.
Wajah yang biasanya dingin dan datar, kini memerah samar, menyembunyikan rasa gugup yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
...****************...
Vivian menatap lekat pantulan dirinya di depan cermin. Gaun indah berwarna merah muda lembut kini membalut tubuhnya dengan pas.
Potongannya sedikit terbuka di bagian bahu dan leher, namun tetap terlihat manis dan anggun, sangat cocok sekali dengan dirinya.
Ia tersenyum kecil, membetulkan letak kainnya pelan-pelan.
"Aku hanya perlu terbiasa... begini memang gaya orang kota, kan?" bisiknya pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak merasa canggung.
Ia melangkah santai menyusuri lorong panjang itu, kakinya telanjang menyentuh lantai yang dingin dan halus. Sesampainya di depan pintu restoran mewah, ia berjongkok sebentar, lalu dengan hati-hati memakai sepatu hak tingginya kembali.
"Harus bisa... kalau mau jadi orang kota, memang harus bergaya begini," bisiknya pelan, menyemangati diri sendiri.
Ia berjalan perlahan, langkahnya sedikit goyah karena belum terbiasa, namun ia berusaha tetap tegak.
Matanya berkeliling mencari sosok ibunya, dan senyum sumringah langsung mengembang di wajahnya saat ia berhasil melihat wanita itu duduk di salah satu meja.
Namun, langkahnya seketika terhenti di tempat. Napasnya tertahan.
Tanpa sengaja, pandangannya jatuh pada sosok yang duduk di sana, seseorang yang baru-baru ini sangat ingin ia hindari.
"Bahkan bayangan itu belum sepenuhnya hilang, dan lagi-lagi dirimu datang mengacau..."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!