# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Hujan gerimis membasahi pelataran batu Sekte Awan Sembilan, namun tak seorang pun dari ratusan murid yang berkumpul di sana peduli pada dinginnya udara pagi itu. Semua mata tertuju pada satu titik di tengah lapangan ujian—seorang pemuda kurus bernama Xiao Bai, berlutut dengan kepala tertunduk di hadapan Tetua Zhou.
"Dantian cacat," gumam Tetua Zhou, suaranya dingin seperti angin musim salju. Ia menurunkan Batu Penguji Bakat yang tadi bersinar redup—nyaris tanpa cahaya—saat disentuhkan ke dada Xiao Bai. "Delapan belas tahun aku mengajar di sekte ini, baru sekali ini kulihat dantian sehancur ini. Bahkan qi paling dasar pun tak sanggup kau serap dengan benar."
Tawa mengejek langsung meledak dari kerumunan murid.
"Sampah sekte akhirnya ketahuan juga!"
"Kupikir dia cuma pemalas, ternyata memang tak berbakat dari lahir!"
Di antara yang tertawa paling keras, berdiri Lin Hai—putra tunggal seorang tetua tamu, dengan jubah sutra biru dan qi kultivasi tingkat tiga Pemurnian Qi yang berputar bangga di sekelilingnya. Ia melangkah maju, sepatunya yang mengkilap berhenti tepat di depan wajah Xiao Bai yang masih menunduk.
"Kudengar kau bahkan menantang duel denganku minggu lalu," ujar Lin Hai, sengaja mengeraskan suara agar seluruh lapangan mendengar. "Seorang sampah dengan dantian cacat, berani-beraninya bermimpi menyentuh Li Ling'er, putri Master Sekte Agung. Tahu dirilah."
Xiao Bai mengepalkan tangan, kukunya menancap ke telapak tangan sampai memutih. Tiga tahun ia bertahan di sekte ini, menelan hinaan demi hinaan, berharap suatu hari qi-nya akan bangkit seperti murid lain. Tapi hari ini, di depan seluruh sekte, harapannya dihancurkan sampai ke akar—dan dipermalukan pula.
"Cukup," kata Tetua Zhou, meski tanpa nada belas kasihan. "Sesuai peraturan, murid dengan dantian cacat tak layak menempati kamar murid luar. Xiao Bai, kau diusir dari Sekte Awan Sembilan mulai hari ini. Ambil barang-barangmu dan pergi sebelum senja."
Tak ada yang membelanya. Bahkan murid-murid yang dulu pernah ia bantu memalingkan wajah, takut ikut ternoda oleh nasib sialnya.
---
Malam itu, Xiao Bai berjalan sendirian menyusuri Hutan Rimbun Ba, hutan liar di kaki Gunung Awan Sembilan yang jadi batas wilayah sekte. Ranselnya hanya berisi dua potong pakaian dan sebungkus roti kering—seluruh hidupnya, dirampas dalam satu hari.
"Dantian cacat," bisiknya pahit, mengulang kata-kata Tetua Zhou. "Kalau memang begitu takdirku, kenapa aku masih bernapas sampai sekarang?"
Ia berhenti di tepi jurang kecil, memandang kabut yang menggantung di bawahnya. Sesaat, pikiran gelap melintas—tapi tiba-tiba dadanya berdenyut. Bukan rasa sakit biasa. Sesuatu di dalam dantiannya yang selama ini mati rasa, tiba-tiba **panas membara**, seolah ada api yang menyala dari dalam tulang.
Xiao Bai jatuh berlutut, kedua tangan mencengkeram dada. Dalam kegelapan pandangannya, muncul kilatan cahaya keemasan yang perlahan membentuk sosok—sebuah tungku kecil, tak lebih besar dari kepalan tangan, berukir naga yang melilit sembilan kali, mengambang tepat di depan matanya.
Lalu, sebuah suara datar bergema langsung di kepalanya, bukan di telinganya:
> **[Sistem Tungku Ekstraksi Surgawi terdeteksi. Host memenuhi syarat pengikatan. Memulai proses sinkronisasi...]**
"A-apa ini?" Xiao Bai tergagap, mundur menabrak akar pohon.
> **[Sinkronisasi selesai. Tungku Ekstraksi Surgawi kini terikat pada Host. Dantian yang sebelumnya dianggap 'cacat' sebenarnya adalah Dantian Kosong—wadah murni tanpa jalur qi bawaan, satu-satunya jenis dantian yang mampu menampung Tungku ini tanpa meledak. Host, selamat: Sekte Awan Sembilan baru saja membuang harta karun yang mereka sendiri tak mampu kenali.]**
Xiao Bai menatap tungku keemasan yang kini berputar pelan di depan dadanya, cahayanya memantul di matanya yang basah—bukan lagi oleh air mata kesedihan.
> **[Fungsi dasar: Ekstraksi. Host dapat mengekstrak esensi murni dari materi apa pun—inti monster, tumbuhan obat, bahkan pusaka rusak—menjadi pil sempurna tanpa cela. Tidak diperlukan kultivasi konvensional. Host cukup mengumpulkan bahan, dan Tungku akan melakukan sisanya.]**
"Tanpa kultivasi konvensional..." Xiao Bai mengulang pelan, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sudut bibirnya terangkat—bukan senyum getir, tapi senyum seseorang yang baru saja melihat celah cahaya di tengah kegelapan total.
Ia menoleh ke arah puncak Gunung Awan Sembilan, tempat Sekte Awan Sembilan berdiri megah dengan lampu-lampunya yang berkelip di kejauhan. Tempat yang baru saja membuangnya seperti sampah.
"Lin Hai," gumamnya, suaranya kini tenang namun dingin, "Tetua Zhou... kalian akan menyesal telah membuang 'sampah' ini secepat kalian membuangnya."
Kabut malam menelan sosoknya, namun cahaya keemasan Tungku Ekstraksi Surgawi masih berpendar samar di balik jubahnya yang compang-camping—awal dari kebangkitan seorang yang dihina, menjadi penguasa yang akan mengekstrak langit dan bumi.
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Hujan belum juga reda ketika Xiao Bai berjalan menyusuri jalan setapak menuju gerbang belakang Sekte Awan Sembilan, tempat yang biasa digunakan murid luar untuk keluar-masuk tanpa mengganggu upacara-upacara di aula utama. Jubahnya yang compang-camping sudah basah kuyup, menempel dingin di kulitnya, tapi ia tak peduli. Ia hanya perlu satu hal: mengambil kembali beberapa lembar catatan usang dan sebilah pisau kecil, satu-satunya peninggalan mendiang ibunya, yang tertinggal di kamar sempit murid luar.
Cahaya keemasan Tungku Ekstraksi Surgawi masih berdenyut pelan di dalam dadanya, tersembunyi dari pandangan siapa pun—rahasia yang, untuk sementara, harus ia jaga rapat-rapat.
Di depan gerbang, seorang penjaga muda berdiri berlindung di bawah atap kayu, lentera minyak tergantung di sisinya. Xiao Bai mengenalnya—Wang Er, murid luar tingkat dua yang dulu sering ia bantu mengangkut air dari sumur sekte.
"Wang Er," panggilnya, suaranya parau karena kedinginan. "Aku hanya perlu masuk sebentar. Barangku masih tertinggal di kamar lama."
Wang Er menoleh, dan raut wajahnya yang tadinya biasa saja berubah begitu mengenali siapa yang berdiri di depannya. Ia melangkah mundur setengah langkah, seolah Xiao Bai membawa semacam penyakit menular.
"Kau... bukankah kau sudah diusir tadi siang?" katanya, nada suaranya berubah dingin. "Tetua Zhou bilang siapa pun yang membantu murid buangan akan kena hukuman yang sama."
"Aku tidak minta bantuan apa pun. Aku hanya minta waktu sepuluh menit untuk—"
"Tidak bisa." Wang Er memotong cepat, matanya melirik ke kanan-kiri, takut ada yang melihat mereka bicara. "Peraturan sekte jelas: begitu seorang murid dicoret dari daftar, gerbang tertutup untuknya selamanya. Kalau kau nekat memaksa masuk, aku wajib melaporkannya sebagai pelanggaran, dan itu bisa jadi urusan tetua penegak hukum."
Xiao Bai berdiri diam di bawah hujan, air menetes dari ujung rambutnya. "Itu hanya pisau tua dan beberapa lembar kertas, Wang Er. Tidak ada nilainya bagi sekte."
"Bukan soal nilainya." Wang Er memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata Xiao Bai lebih lama. "Tapi soal siapa yang meminta. Maaf. Pulanglah. Carilah kehidupan di tempat lain—tempat ini bukan lagi urusanmu."
Ia menarik palang kayu, menutup celah kecil yang tadinya terbuka, meninggalkan Xiao Bai sendirian di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
Untuk sesaat, amarah membakar dadanya—bukan pada Wang Er, yang sebenarnya hanya penakut biasa, tapi pada sistem sekte yang mengubah kebaikan menjadi kelangkaan, dan rasa takut menjadi mata uang yang lebih berharga daripada persahabatan bertahun-tahun.
Ia menatap gerbang kayu tua itu sekali lagi, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
---
Malam semakin larut, dan Xiao Bai berteduh di bawah pohon besar tak jauh dari tembok sekte, punggungnya bersandar ke batang yang basah. Di dalam dadanya, Tungku Ekstraksi Surgawi berdenyut pelan, seolah merasakan kekesalannya.
> **[Host, apakah kau ingin aku menganalisis komposisi tembok pertahanan sekte? Beberapa bagian mengandung mineral langka yang bisa diekstrak menjadi bahan penguat tubuh dasar.]**
Xiao Bai nyaris tertawa mendengar tawaran itu—bukan karena lucu, tapi karena ironi. Ia baru saja diusir, dan sistem di dalam tubuhnya sudah menawarkan cara untuk diam-diam mencuri dari tempat yang membuangnya.
"Tidak," gumamnya pelan. "Bukan dengan cara seperti itu. Kalau aku kembali suatu hari nanti, aku ingin mereka tahu persis siapa yang mereka usir—bukan lewat pencurian diam-diam di malam hari."
> **[Dicatat. Host memiliki prinsip. Analisis: prinsip semacam ini jarang ditemukan pada manusia dalam kondisi putus asa. Menarik.]**
Xiao Bai menutup matanya, membiarkan hujan membasuh wajahnya yang lelah. Ia memikirkan pisau tua ibunya yang tertinggal di kamar—satu-satunya benda yang mengingatkannya bahwa ia pernah punya keluarga, pernah punya tempat di dunia ini sebelum semuanya direnggut oleh dantian yang dianggap cacat.
"Aku akan kembali," bisiknya ke kegelapan, "tapi bukan sebagai pengemis di depan gerbang belakang. Aku akan kembali sebagai orang yang bahkan Tetua Zhou sendiri harus membungkuk memberi salam."
Cahaya keemasan di dadanya berdenyut sekali, seolah menyetujui.
Jauh di kejauhan, lampu-lampu Sekte Awan Sembilan masih berkelip tenang, tak menyadari bahwa sosok yang baru saja mereka buang dari gerbang belakang, kelak akan menjadi nama yang membuat seluruh kekaisaran gemetar.
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Pagi harinya, hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di jalanan berbatu Kota Qingyun—kota kecil di kaki Gunung Awan Sembilan, tempat para murid sekte biasa berbelanja kebutuhan sehari-hari. Xiao Bai berjalan pelan menyusuri deretan toko, tangannya mendekap erat sebuah kotak kayu kecil yang sudah usang dimakan waktu.
Di dalamnya, tersimpan satu-satunya benda berharga yang ia miliki: sebuah liontin giok berukir bunga teratai, peninggalan mendiang ibunya. Bukan pusaka kultivasi, hanya perhiasan biasa—tapi cukup untuk ditukar dengan beberapa keping perak, cukup untuk bertahan hidup beberapa hari ke depan sambil ia mencari cara memahami Tungku Ekstraksi Surgawi lebih dalam.
Ia berhenti di depan sebuah toko dengan papan nama "Toko Pusaka Wan Fu", tempat yang cukup dikenal di kota untuk membeli dan menjual barang antik.
Di dalam, seorang pria gemuk berjenggot tipis duduk di balik meja kayu, menghitung uang dengan sempoa. Matanya menyipit begitu melihat Xiao Bai masuk—bukan menyambut, tapi menilai, seperti serigala menilai domba yang tersesat.
"Mau jual atau beli?" tanyanya, nada suaranya datar tanpa basa-basi.
"Jual." Xiao Bai membuka kotak kayu, menunjukkan liontin giok itu di atas meja. "Ini peninggalan keluarga. Giok kualitas baik, ukirannya masih utuh."
Pemilik toko—Wan Fu sendiri, seperti tertulis di papan nama—mengambil liontin itu, memutarnya di bawah cahaya lampu, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang sengaja dibuat terlihat malas.
"Giok murahan," katanya, meski matanya sempat berkilat sesaat sebelum kembali datar. "Retak halus di bagian dalam, ukiran juga sudah usang. Paling aku bisa kasih tiga keping perak."
Xiao Bai mengenali harga itu jauh di bawah nilai sebenarnya—ibunya pernah bercerita liontin ini dibeli dengan lima puluh keping perak bertahun-tahun lalu, dan giok berkualitas hanya akan bertambah nilainya seiring waktu, bukan berkurang. Tapi ia tak punya cukup pengetahuan untuk membantahnya, apalagi kekuatan untuk memaksa harga yang lebih adil.
"Bisakah dinaikkan sedikit? Aku benar-benar butuh—"
"Tunggu." Wan Fu memotong, matanya kini menyipit lebih tajam, menatap wajah Xiao Bai lebih lama. "Kau... bukankah kau murid yang baru diusir dari Sekte Awan Sembilan kemarin? Berita itu sudah tersebar ke seluruh kota pagi ini."
Xiao Bai terdiam. Secepat itu kabar buruk menyebar.
"Benar atau tidak, tak penting bagiku," lanjut Wan Fu, senyum tipis mulai muncul di wajahnya—senyum seorang pedagang yang baru saja menemukan celah untuk keuntungan lebih besar. "Tapi kalau kabar itu benar, tiga keping perak sudah lebih dari cukup untuk seorang buangan sekte. Ambil atau tidak, terserah kau. Toh kau tak punya kekuatan untuk protes ke mana pun."
Ruangan toko terasa hening sesaat. Xiao Bai menatap liontin ibunya di atas meja—benda yang seharusnya sarat kenangan, kini direduksi menjadi tiga keping perak murahan hanya karena statusnya yang jatuh dalam semalam.
Ia ingin menolak, ingin membawa pulang liontin itu dan mencari tempat lain. Tapi perutnya yang kosong sejak kemarin, dan malam dingin yang menantinya tanpa tempat berteduh, memaksa logika mengalahkan kebanggaan.
"Baik," gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Tiga keping."
Wan Fu tersenyum puas, menyerahkan tiga keping perak dengan gerakan cepat, seolah takut Xiao Bai berubah pikiran. "Pilihan bijak. Lain kali kalau bawa barang, jangan bawa nama burukmu bersamanya. Itu cuma menurunkan harga."
Xiao Bai mengambil uang itu tanpa berkata apa-apa lagi, berbalik keluar dari toko sambil menggenggam erat tiga keping perak—harga yang terlalu murah untuk sepotong kenangan terakhir dari ibunya.
---
Di luar toko, hujan mulai turun lagi, gerimis tipis yang menambah dingin di dadanya. Xiao Bai berdiri di bawah atap tokonya, menatap tiga keping perak di telapak tangannya.
> **[Host, apakah kau ingin aku menganalisis nilai sebenarnya dari liontin tersebut? Berdasarkan struktur giok yang sempat kupindai saat berada di dalam kotak, nilai pasar wajarnya sekitar empat puluh lima keping perak.]**
Xiao Bai tertawa pahit, suara yang lebih mirip helaan napas daripada tawa sungguhan. "Empat puluh lima," ulangnya. "Dan aku menjualnya seharga tiga."
> **[Analisis: kerugian ini bukan disebabkan oleh kualitas barang, melainkan oleh reputasi Host yang telah dirusak. Kesimpulan: di dunia ini, harga sebuah benda tak hanya ditentukan oleh apa benda itu, tapi juga oleh siapa yang membawanya.]**
"Aku tahu," gumam Xiao Bai, menatap ke arah toko yang baru saja ia tinggalkan. "Tapi suatu hari, nama itu justru yang akan membuat harga segalanya melonjak, bukan turun."
Ia menyimpan tiga keping perak itu dalam-dalam ke sakunya, lalu melangkah pergi menyusuri jalan berbatu, membiarkan gerimis membasahi punggungnya sekali lagi. Di dalam dadanya, Tungku Ekstraksi Surgawi berdenyut pelan—saksi bisu dari setiap penghinaan, yang perlahan mengumpulkan bahan bakarnya sendiri: tekad yang semakin mengeras di setiap langkah.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!