Indonesia
NovelToon NovelToon

Hanya Sebuah Pernikahan

Bab 44

Assalamualaikum............

Maaf baru up. Selamat membaca.

*

*

*

*

*

Aku kembali keruangan kamarku. Dita pulang ketika melihatku baik dan sehat. Walau aku terlihat sehat tapi aku sangat sakit dalam hatiku. Mbak Ayunda menemaniku di rumah sakit yang mengurusku sampai hari ketiga di hari ini. Untuk urusan rumah semua dikerjakan adikku Arsita. kadang aku sendirian dirumah sakit ini karena mbak Ayunda pulang untuk melihat anak - anaknya.

Disaat sendiri dan hanya berdua dengan anakku, aku merasa sangat memelas. Bayi ini nanti malam berumur tiga hari tapi sampai detik ini Pak Satrio tidak bertanya bagaimana keadaanku dan bayiku.

Aku coba tersenyum dan bertahan seolah - olah aku baik - baik saja. Walau dalam dan sangat dalam hancurnya hatiku. Aku sudah tidak ingin mengemis perhatian lagi pada beliau. sudah cukup bagiku. Aku sudah mengambil jalanku sendiri. Aku ingin merawat bayi ini sendiri tanpa atau dengan kehadiran beliau. Tanpa atau dengan biaya dari beliau. Aku kuatkan tanganku untuk tidak tergerak menelepon atau memberi pesan WA pada beliau.

Tangguh kecil menangis sangat kuat dalam gendonganku. Ya bayi kecilku ku beri nama Tangguh. Sudah dapat ditebak makna dari nama tersebut. Aku ingin bayi ini tangguh dalam segala hal. Dia juga sudah tangguh mulai dari awal dia ada di dalam tubuhku. Kakakku sudah pulang ke rumahnya di desa ketika aku boleh diijinkan pulang oleh dokter.

Aku mengambil cuti memang diakhir masa kehamilanku agar aku bisa bersama anakku selama tiga bulan penuh.

Jika wanita lain selepas melahirkan di manja oleh suami dan keluarganya tidak denganku. Semua sudah harus aku kerjakan sendiri. Mulai dari mencuci pakaian, setrika dan memasak. Aku harus kuat dan sehat demi anakku dan keluargaku. Untuk mencari seorang asisten rumah tangga bagiku hal yang tidak mungkin. Karena keadaan kami, bukan kurang tapi cukup tidak lebih. Jadi aku harus menghemat, perjalan baru di mulai. Demi masa depan anakku. Perasaan mencintai seorang ibu mulai tumbuh di hatiku. Seolah hilang begitu saja rasa sesal benci yang dulu pernah singgah di hatiku mengingat bagaimana kehadiran Tangguh dalam hidupku. Walau ayah biologisnya tidak pernah mau mendengar kabar tentang Tangguh. Aku harus bisa menjadi ibu dan juga ayah baginya. Harus bisa dan akan bisa dan tetap bisa.

Jika ada yang bertanya apakah keluarga ku tahu tentang keadaanku dan Pak Satrio yang jauh dari kata harmonis. Ya mereka semua tahu, tapi mereka menyerahkan semua padaku. Tidak pernah bertanya kapan Pak Satrio datang untuk melihat Tangguh putra beliau. Atau sekedar bertanya apa beliau menelepon ku bertanya kabar tentang aku dan putra kami.

Aku memang harus kuat dengan semua tapi tidak bolehkah aku sedikit terisak dengan keadaanku. Bukan mengeluh hanya sekedar mencurahkan cerita saja. Jika siang hari tidak begitu sesak di dadaku. Tapi jika malam yang mulai datang, aku merasa sangat sendiri merawat Tangguh. Jika ibu muda lainnya menjaga bayinya menangis di tengah malam di temani suami atau ibundanya, tidak dengan aku. Sering aku menangis ketika Tangguh terjaga tengah malam. Aku sendiri ya aku merasa sendiri membesarkan bayi ini.

Pagi ini seperti biasa selepas sholat subuh aku memasak. Tangguh masih tidur dengan pulas. Tidak terasa bagi yang melihat tapi bagiku sangat berat. Hari ini genap tiga bulan usia Tangguh. Begitu selesai memasak aku meletakkan semua di meja. Aku mengambil handuk dan hendak mandi. Netra hitam ku terbelalak seketika ketika aku melihat sesosok pria dewasa yang aku nantikan selama berbulan - bulan. Bibirku bergetar dengan tangis keras yang pecah di keheningan pagi ini. Aku tidak bisa menahan perasaan bahagia dan terharu ini. Ya sosok ayah dari Tangguh anakku. Hingga aku tidak menghiraukan suara Jhoji yang berteriak - teriak.

" Te........Om Satrio datang............"

" Te .......Om Satrio datang...........".

Netra ku seakan sudah terarah pada pria dewasa di depanku. Aku sendiri tidak tahu rasa benci, rasa tak ingin bertemu lagi, rasa kecewa, rasa dendam, rasa ingin menghilangkan beliau dari pikiranku hilang begitu saja ketika aku melihat beliau datang di depanku. Serta Merta aku berlari menuju beliau yang berdiri mematung di hadapanku. Aku memeluk tubuh pria di hadapan ku. Aku memeluk dengan erat dan tangis membuncah pria yang menjadi suami dan ayah dari anakku. Aku tidak kuasa dengan serpihan rasa sayang yang masih ada di hatiku. Serpihan rasa ini ternyata bisa memporak porandakan semua rasa benci dan dendam pada beliau. Jangan ditanya kenapa aku seperti itu, karena aku juga tidak tahu. Kenapa bisa hilang rasa egoku yang dulu pernah berkata tidak ingin memelas mencari perhatian beliau. Rasa yang pernah bilang tidak ingin bertemu ataupun memberi kabar pada beliau. Aku masih menangis dan menangis dalam dekapan beliau. Seakan dada ini bisa bernafas lagi. Berkali - kali beliau mengusap rambutku dan berkata lirih.

" Maaf.....maafkan aku yang baru bisa datang berkunjung"

Aku mengangguk dengan menengadahkan wajah ku pada beliau.

" Ada beribu maaf untuk mas........."

" Tolong jangan seperti ini lagi......".

Dekapan beliau semakin erat seakan tidak ingin melepaskan aku. Bapak dan Jhoji hanya terdiam melihat kami berdua. Aku yang masih terus saja menangis dituntun beliau duduk di kursi. Kemudian beliau menyapa dan menjabat tangan ayahku

Tidak ada pertanyaan dari ayahku kenapa beliau baru datang. Biarlah kami menyimpan masalah ini dalam diam dan termaafkan juga terhapus dengan kehadiran beliau saat ini. Suasana kikuk berubah setelah tangisan Tangguh terdengar nyaring. Aku bergegas melangkah ke kamar diikuti oleh beliau.

" Dia sangat tampan .......," seru Pak Satrio pelan dengan memandangi wajah Tangguh.

" Tangguh......aku memanggilnya Tangguh,"

kuucapkan kalimat itu tanpa pertanyaan dari beliau.

" Nama yang bagus......"

" Nama panjangnya ? "

tanya beliau lagi dengan cermat.

Aku menggeleng.

" Saya belum memberikan nama panjang. hanya Tangguh saja. Akte dan kenal lahir pun sengaja tidak saya urus."

" Kenapa.....? tanya Pak Satrio dengan mengerutkan kening.

" Karena saya yakin mas datang dan memberinya nama," jawabku pelan dengan mata yang tetap melihat pada Tangguh yang mulai terlelap lagi.

" Bagaimana kalau Tangguh Adi Panengah ?usul beliau padaku.

Aku tersenyum tanda setuju.

" Ya.....nama yang bagus."

Pak Satrio juga tersenyum karena aku setuju dengan usul beliau.

" Aku ingin mencium dan memeluk Tangguh, tapi aku ingin mandi dulu".

sambil berjalan ke arah Almari beliau membuka almari pakaian.

" Bajuku masih ada kan ?" tanya beliau seakan ingin tahu.

" aaaahhhhh masih lengkap dan tertata rapi," lanjut beliau menjawab sendiri pertanyaan yang beliau ajukan tadi. Ya aku memang tetap menata rapi pakaian - pakaian beliau di almari. Sengaja tidak aku kemas dan tetap di tempatnya. Karena dalam dasar hatiku......inilah yang ingin terjadi. Aku tetap mengharap beliau datang dan kembali padaku walau beribu - ribu lapis aku tutupi dengan tegar dan kokoh kalau aku sudah tidak membutuhkan beliau lagi.

Bab 45

Assalamualaikum Wr Wb

Mudah-mudahan cerita Arin jadi pelajaran untuk saya untuk anda pembaca setia dan untuk kita semua. Sebuah kebahagian bukan dicari tapi dirasakan dengan apa yang kita miliki. Jodoh adalah takdir yang tidak bisa kita pilih. Tapi bahagia untuk diri kita sendiri dengan keadaan kita adalah pilihan kita.

Tetap tersenyum walau ada banyak luka di hati. Walau hari ini tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

*

*

*

*

Pak Satrio meletakkan Tangguh kecilku dengan hati - hati. Kemudian tersenyum hangat kepadaku yang duduk di tepi ranjang kamarku. Aku membalasnya dengan senyuman yang penuh makna dan tanda tanya.

" Maaf....... maaf baru bisa sekarang melihatmu.....…"

Netra beliau yg terang berkaca - kaca. Aku masih terdiam dengan memandang beliau.

" Mamanya Adrian selingkuh lagi..........."

Dengan tangis tertahan yang tidak terbendung pak Satria langsung memelukku.

" Katakan ........ aku kurang apa ?. Semua sudah aku lakukan untuk mamanya Adrian '.

" Tapi kenapa aku masih mencintainya dan merasa semua masa remajanya yang hilang karena menikah denganku" Seduh sedannya dengan intonasi yang lembut.

Aku hanya terdiam. Aku melihat netra Pak Satrio memerah karena sedih. Aku tidak memberinya komentar apapun karena aku memang tidak tahu harus berkata apa - apa. Seperti prosa bisu tanpa tema. Seperti Narasi tanpa isi.

" Aku akan mencarinya di sini. Aku mendengar kabar, ibunya Adrian pulang ke kota asalnya karena selingkuhannya juga dari kota ini"

Kata beliau lagi dengan melepas pelukannya.

Aku tersenyum sudah tidak ada lagi perasaan dalam hatiku yang bisa membuat aku sakit karena beliau. Tidak ada lagi serpihan - serpihan sedih yang bisa membuat aku terjungkal dalam kegelapan karena beliau. Hanya sesal ku, aku menerka di awal kedatangan beliau datang kerumah ku karena ingin melihat aku dan Tangguh kecilku.

Aku ......harus kuat laki - laki tampan dan dewasa di depanku ini bukan milikku walau secara hukum dan agama beliau suamiku. Tapi lebih dari setahun, aku bersama dalam ikatan yang jauh dari kata cinta ini membuat aku sadar. Kami bertahan hanya karena punya keinginan masing - masing. Aku yang enggan dan ketakutan memikul sebutan janda beranak satu. Beliau yang menutupi kisah cintanya dengan mbak Asri. Aku sudah terbiasa tersakiti oleh beliau. Seperti belati yang sudah tumpul tidak dapat menusuk tapi membawa racun karena berkarat. Helaan nafas beliau terdengar keras dan kasar beliau hembuskan.

" Apa aku harus menceraikan ibunya Adrian ?"

" Apa aku harus meminta maaf karena kesalahanku menikahi dia terlalu muda ?"

" Apa yang harus aku lakukan dik Rin ?"

Pertanyaan bertubi - tubi terus meluncur dari bibir beliau. Tapi tetap tak mampu aku jawab. Aku harus menjawab apa dengan cinta buta yang beliau miliki untuk wanita lain. Aku juga istrinya..... Aku juga punya perasaan.

" Mas sudahlah.....lebih baik istirahat dulu besuk kita bicarakan lagi". Hanya kalimat yang menyimpang dari materi yang aku ucapkan pada beliau.

Jika menjadi aku. Aku harus bagaimana ? Apa yang akan kalian katakan ?.Apa yang akan kalian lakukan ?

Impianku terlalu tinggi pada beliau. Aku berharap dan berharap setiap hari beliau akan datang dengan suka cita, karena merindukan Tangguh. Tapi ternyata salah yang ada di benak beliau hanya mbak Asri dan anak - anak dari mbak Asri saja. Aku yang sedari tadi ingin sekali berteriak keras pada beliau. Aku yang sedari tadi ingin berkata semauku. Ternyata tertahan di kerongkongan, sampai pada akhirnya kembali ke dasar hatiku. Terpendam lagi. Tertutupi lagi. Seperti yang sudah - sudah.

Apa karena aku sudah malas berdebat dengan beliau? Apa karena aku sudah terbiasa tanpa beliau ? Aaah......entahlah aku tidak tahu.

Pak Satrio mengikuti apa yang aku sarankan. Beliau membaringkan badannya di sebelah Tangguh. Dengan tangan kirinya ingin memeluk Tangguh.

Netra pak Satrio tidak bisa terpejam. kembali menoleh ke arahku sambil berkata dengan kalimat - kalimat yang sama.

" Besuk aku akan cari ke rumah ibu "

diam sesaat

" Kalau tidak ada, aku bisa tanya ke rumah teman - temannya "

terdiam lagi.

Aku yang berusaha tetap tenang seakan beriak didasar dan menumpah seketika. Seperti erupsi gunung Merapi yang datang tiba - tiba. Seperti badai yang mampu menerjang karang - karang kokoh di tebing pantai.

" Apa mas Satrio tidak lelah dikhianati terus menerus ?"

Kalimat yang tidak seharusnya aku katakan, berurai begitu saja dari bibirku. Kalimat yang selama ini aku simpan rapat - rapat di dalam hatiku terucap lugas begitu saja tanpa terkontrol.

Netra Pak Satrio terbelalak mendengar kalimat yang aku sampaikan barusan.

" Bukankah ada aku dan Tangguh ? "

" Apa itu belum cukup melengkapi hidup mas Satrio ?"

Tanyaku terbata - bata dengan menatap netra beliau. Seolah aku bangkit dari keterpurukan di sudut bumi dan menjulang tinggi ke langit. Aku harus berjuang untuk mendapatkan hakku dan anakku. Aku harus sadar sekarang ada Tangguh yang juga butuh ayahnya.

" Semua ini salahmu ....."

Jawabnya lantang dan arah netra beliau yang ditujukan padaku semakin tajam.

" Salahku ? "

" kenapa ? "

" tidak ada hubungannya denganku. Kenapa aku yang disalahkan ?"

Berusaha aku membela diriku dengan semua pertanyaan yang aku lontarkan pada beliau.

" Kalau kita satu atap. tidak mungkin aku masih mencintai Dik Asri"

" Kalau kita satu atap. Aku bisa berusaha mencintaimu "

" Kalau kita satu atap kita bisa intens bertemu"

Sambil berkata beliau berdiri dari pembaringan. Menarik tubuhku untuk berdiri dari tempat dudukku. Dengan keras berusaha mendekatkan wajah beliau pada wajahku. Tanganku dengan keras menolak dan menjauh. Aku faham betul apa yang akan beliau lakukan. Aku mundur dua langkah menjauh lagi dari tempat beliau berdiri.

" bukankah mas yang bilang tidak bisa mencintai aku ?"

" bukankah mas yang bilang tidak bisa melakukan denganku, karena mas mencintai mbak Asri ? "

" Aku ingat betul bagaimana mas berkata, menikah denganku membuat mas semakin mencintai mbak Asri" Jawabku tidak mau kalah.

" Ohhhh ya satu lagi. Bukankah mas bilang, menyesal menikah denganku ?

Pak Satrio dengan mudah meraihku dan mendekap ku. Bukan pelukan kasih sayang. Bukan pelukan ingin mencapai kebahagiaan suami istri.

Pak Satrio semakin menenggelamkan aku dalam pelukannya. Bibir beliau menyentuh telingaku kemudian berkata lirih tepat di telingaku.

" Aku juga merindukanmu, walau aku menyakitimu "

Suara beliau menggema sampai dasar dan tulang ku.

" Aku juga merindukanmu ....... walau aku menyakitimu "

Berkata lagi beliau dengan tangan terus mendekap ku dengan kuat. Aku berusaha keluar dari pelukan beliau. Tapi semakin aku berusaha semakin keras beliau mendekapku.

' Bagaimanapun kita tetap suami istri. Dimana tanggung jawabku sebagai seorang istri ?"

" Apa kau pernah melakukan kewajiban mu sebagai istri ?"

" Apa kau pernah tahu makanan kesukaanku ?

" Apa kau pernah tahu baju favoritku ?

" Dan apa kau melakukan kewajiban mu di ranjang ? "

................

bersambung.............

Haloooo kakak..... mudah - mudahan terobati rasa kangennya dengan novel saya. Tolong beri masukan kritik dan sarannya.

Author menggambarkan Pak Satrio berwajah tampan seperti atlet yang juga aktor dari Filipina Ian Veneracion.

Ini foto yang lainnya. Mudah-mudahan cocok. Karena tiap pembaca mempunyai pandangan tokoh masing-masing.

Bab 46

Tolong beri masukan kritik dan saran agar Author bersemangat dalam menulis.

Jangan lupa tinggalkan like dan Vote nya.

Selamat membaca.

Mudah-mudahan menjadi hari indah untuk anda, saya dan orang - orang yang kita cintai.

######

Aku tidak akan pernah tahu suatu saat akan mencintai siapa dan dari mana dia berasal. Karena cinta lahir dari sebuah perasaan yang diberikan Tuhan ketika hatinya sudah siap dengan kebahagian dan kesedihan. Ternyata aku salah aku tidak siap dengan sisi kesedihannya.

Seandainya Aku tahu mencintaimu adalah sebuah luka yang dalam, mungkin aku akan memilih mundur terlebih dahulu. Membiarkan hatiku berkelana mencari yang lain. Tapi perasaan cinta yang dalam ini sudah terlanjur ada di hatiku dan hidupku yang tidak akan mungkin hilang terus saja bergejolak walau terlihat hilang di permukaan. Seperti magma yang ada di dasar bumi. Walau tidak terlihat tapi panas dan bergejolak di didalam. Yang terus menerus bergairah dan bergelora di dapur magma. Entah kapan erupsi aku sendiri berusaha memendamnya agar tidak membahayakan untuk diriku untuk dirimu dan untuk semua. Tapi jangan pernah berharap cintaku berakhir. Aku tetap mencintaimu walau dalam hati dan dengan cara yang lain.

Seandainya aku tahu mempunyai rasa rindu padamu adalah penderitaan panjang untukku. Tak akan aku biarkan hatiku terseret lebih jauh, oleh perasaan kasih sayang yang Tuhan berikan padaku. Bukan aku salah tempat memberikan semua rinduku padamu. Bukan aku salah memilih orang memberikan rasa rinduku. Biarkan rindu ini tetap ada sampai kapanpun. Membuat ruang - ruang kecil di hatiku dan akan tetap ada sampai kita akan bertemu. Entah kapan dan dimana ?. Tapi yang pasti rindu ini tetap ada. Jika kita bertemu jangan pernah menyalahkan aku dan rinduku yang mendalam. Itu semua karena rasa cintaku yang bergejolak.

Tulisan tangan Henry yang masih tersimpan rapi di Almari Arin.

Aku tahu mencintaimu adalah suatu yang mungkin akan membawa luka untukku untukmu dan untuk kita semua. Tapi tidak bisakah cinta yang membawa luka ini berubah membawa bahagia. Mari kita berusaha membuat jawaban - jawaban yang membawa luka ini menjadi sebuah cerita - cerita indah seperti cerita romansa yang lain. Aku ingin menjadi tokoh dalam kisah tersebut yang berhasil membawamu dan mengantarmu menjadi sebutan ibu dari anak - anakku.

Catatan Henry yang lain dalam sebuah kertas dan di beri gambar dirinya sendiri sedang memainkan piano dan ada Arin disampingnya.

*

*

*

" Sekarang ......saya yang bertanya. Apa mas tahu isi buku nikah kita ?

" Tidak tahu kan ? Karena mas tidak pernah mau tahu tentang buku nikah kita".

" Apa mas pernah merasa, kalau punya istri saya ?"

Tanyaku sambil terisak dan terus dalam dekapan Pak Satrio.

Pembicaraan kami terhenti karena suara tangis Tangguh. Mungkin terganggu dengan suara - suara kami.

" Lepaskan.......aku mau menyusui Tangguh."

" Lepas.......kasian Tangguh menangis".

Pintaku yang mungkin lebih mengarah ke perintah. Pak Satrio dengan enggan melepas dekapannya tangan kanannya masih memegang lenganku ketika aku sudah bebas dari dekapan beliau.

" Kau bisa jadi ibu yang baik. Tapi tidak bisa jadi istri yang baik" .

Gerutu beliau tetap berlanjut sebelum Melepas cengkraman tangan beliau di lenganku. Berkata sambil mencondongkan wajahnya tepat di depan wajahku. Beliau perlahan melepas tangannya setelah tangis Tangguh semakin kencang.

Aku menyusui Tangguh. Pak Satrio hanya memperhatikan saja.

" Dia mirip dengan Adrian waktu masih bayi. Dia mirip denganku"

Suara beliau mulai mendatar dan mencairkan suasana.

" Dik Asri masih sangat muda ketika kami memiliki bayi Adrian".

" Aku ingat betul bagiamana Dik Asri berjuang melahirkan Adrian. Dia sampai kelelahan dan kesakitan yang luar biasa"

" Dokter bilang sampai dua puluh jahitan"

Cerita beliau dengan sendirinya tanpa aku minta. Aku diam saja, berusaha tidak mendengar apa yang beliau ceritakan padaku. Aku berusaha bernyanyi dalam hatiku agar cerita beliau tak sampai masuk pada telingaku. Tapi seberapa keras aku berusaha tidak mendengarkan cerita beliau. Sekeras apa aku bernyanyi dalam hati ternyata cerita yang beliau sampaikan tetap terdengar dan berlantun seperti air setetes setetes masuk dan merusak batu yang keras. Aku mengigit bibir bawahku. menahan air mata agar tidak tumpah begitu saja. Kenapa beliau begitu tega bercerita masa - masa indahnya dengan mbak Asri padaku. di sengaja kah ? tidak sengaja kah ? yang sekarang beliau lakukan ? Pikiranku bermain sendiri ketika beliau tetap saja bercerita bagaimana mbak Asri melahirkan dan apa saja yang beliau lakukan.

Pak Satrio bergerak membaringkan Tubuh beliau di ranjang mensejajarkan dengan aku dan Tangguh. Aku tidak bisa menyembunyikan wajahku yang merah menahan tangis. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa cemburuku kerena cerita beliau.

" Dik Rin kenapa menangis ?" Tanya beliau tanpa merasa bersalah padaku.

" Ndak mas .... Ndak apa - apa " Jawabku yang tetap berusaha mengalihkan kebenaran tentang suasana hatiku.

" Aku lelah....."

" Aku ingin istirahat dulu ....."

" Besuk pagi aku harus keluar mencari Dik Asri "

Suara Pak Satrio jelas terdengar di telingaku. Tanpa merasa beliau sudah menyakitiku. Beliau memejamkan netra hitamnya. Wajah tampan beliau menandakan selalu ada cinta untuk mbak Asri tapi tidak untukku.

Tangguh sudah terlelap dengan bibir yang masih mengulum walau sudah terlepas dari ASI ku.

" Bukankah masa nifas mu sudah habis ? "

Tanya Pak Satrio tiba - tiba padaku. Ketika aku berusaha berdiri dan hendak keluar dari Kamar.

" Bukankah sudah hampir dua bulan ?".

" Ya masa nifas mu sudah habis."

Beliau menjawab sendiri pertanyaan - pertanyaan yang beliau tujukan padaku.

Tangan beliau meraihku. Aku belum mengatakan iya untuk pertanyaan - pertanyaan beliau. Tapi beliau sudah menganggap aku berkata Iya atas pertanyaannya.

" Lakukan kewajiban mu sebagai istri "

" Aku sudah lama tidak melakukannya. Dengan Dik Asri terlebih denganmu "

Suara parau beliau terdengar jelas. Tidak sadarkah beliau belum satu jam menancapkan jarum lebih dari seratus pada hatiku ? Dengan cerita - cerita beliau. Tidak....... hatiku sekarang masih sakit. Jarum ini belum sempat aku cabut tapi beliau dengan tanpa bersalah memintaku melakukan kewajiban ku. Adakah seorang istri yang mau secara suka rela dan ikhlas melayani ? Aku bukan bagian dari mereka yang ikhlas. Aku sakit...... Aku cemburu........ Aku iri......... Salahkah aku memiliki perasaan demikian. Beliau tidak pernah mencintai aku. Beliau tidak pernah perduli padaku. Beliau tidak pernah memperhatikan aku. Tapi beliau dengan suka cita bercerita masa indah beliau dengan mbak Asri.

" Aku tidak bisa melakukannya dengan wanita lain yang bukan milikku"

" Aku hanya bisa melakukan dengan dik Asri dan kau dik Rin"

Kata beliau lagi dengan memulai aktifitas nya padaku.

Aku hanya diam saja membiarkan semua berlaku padaku. Seandainya bisa aku menolak ingin rasanya aku menolak dan memberikan sumpah serapahku pada beliau. Seandainya aku berani berkata tidak untuk melawan kehendak beliau. Aaaaaaahhhhhh aku tidak bisa. Aku hanya menoleh dan memandangi wajah Tangguh selama beliau melakukannya padaku. Hanya Tangguh yang membuat aku kuat dengan perlakuan beliau yang hanya menuntut kewajiban ku dan lalai dengan kewajibannya padaku dan Tangguh. Tidak terasa titik - titik air mata mengalir dari mataku. Beliau melihat itu dan mengusapnya dengan pipi beliau.

Benar.....benar menjelang subuh hari ketika Author menulis cerita ini. Jam menunjukkan pukul 03. 30 WIB.

Bersambung besuk lagi yaaaaaa.....

Tetap semangat............

Jangan lupa like dan Vote.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!