Indonesia
NovelToon NovelToon

TERJERAT OBSESI ELZIO

Chapter 1

Anya sibuk memutar-mutar gantungan kuncinya dengan jari yang gemetaran. Langkah kakinya bolak-balik di atas lantai granit kedai kopi yang sepi. Di depannya, Clara sibuk menatap layar laptop, mengetik draf laporan dengan dahi berkerut tajam.

​"Clar... please," ratap Anya, suaranya naik satu oktaf. "Gue bisa gila kalau sampai acara malam ini batal."

​Clara tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Tinggal ganti sama cewek lain di agen lu. Susah amat."

​"Masalahnya Niken tiba-tiba matiin HP dan hilang ditelan bumi! Padahal dia yang dikontrak buat dampingi Klien VIP malam ini!" Anya memukul meja pelan, membuat cangkir americano milik Clara bergoyang. "Ini Elzio Mahendra, Clar! CEO Mahendra Group! Sekali dia complain ke agensi gue, habis karier gue. Bisnis yang gue bangun dari nol bisa rata sama tanah!"

​"Terus hubungannya sama gue apa, Anya?" Clara akhirnya mendongak. Matanya menatap Anya tajam, penuh ketegasan yang dingin. "Lu tahu gue paling benci urusan pura-pura begini. Gue punya kerjaan murni yang harus diselesaiin."

​Anya langsung berlutut di samping kursi Clara, mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Cuma 30 menit! Lu cuma perlu duduk, makan, terus bikin dia ilfiel!"

​Dahi Clara makin berkerut. "Ilfiel?"

​"Iya! Elzio itu sukanya cewek penurut, anggun, yang manisnya kaya gulali. Lu kan galak, dingin, kalau ngomong ceplas-ceplos kaya kembang api. Pas banget!" Anya berbisik penuh penekanan. "Lu masuk, bikin dia risih sama kelakuan lu yang cuek, bikin dia batalin kontraknya malam ini juga. Setelah itu gue aman, dia yang minta putus kontrak duluan. Selesai!"

​Clara menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Gue nggak mau terlibat hal aneh-aneh."

​"Gue traktir kopi sebulan! No, tiga bulan! Clar, tolong... cuma lu sahabat gue yang bisa diandalkan." Anya menatap Clara dengan mata berkaca-kaca.

​Clara menatap layar laptopnya, lalu bergantian menatap wajah memelas Anya. Dia mendengus kasar. "30 menit. Nggak lebih. Begitu jam delapan malam, gue pergi."

​"Siap! Makasih, Clara! Lu penyelamat hidup gue!"

...****************...

​Restoran bernuansa gothic-luxurious di lantai atas hotel bintang lima itu terasa terlalu lengang. Hanya ada satu meja yang terisi di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu kota.

​Clara melangkah dengan gaun hitam simpel yang agak longgar—jauh dari kata glamor. Dia menolak mengenakan gaun pilihan Anya yang serba terbuka. Rambutnya hanya diikat asal.

​Di meja itu, seorang pria bersetelan jas abu-abu gelap sedang menyesap wine. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan rahangnya tegas tanpa cela. Saat Clara mendekat, pria itu menoleh. Matanya yang tajam dan pekat mengunci pergerakan Clara.

​Clara menghentikan langkahnya sejenak. Elzio Mahendra. Pria itu memancarkan aura dominasi yang begitu kuat sampai-sampai udara di sekitar terasa makin tipis.

​"Niken?" suara Elzio berat, terdengar dingin tanpa ramah tamah.

​"Clara," jawab Clara singkat tanpa tersenyum. Dia langsung menarik kursi di seberang Elzio dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.

​Elzio meletakkan gelasnya perlahan. Matanya menyipit, memperhatikan cara duduk Clara yang santai dan sama sekali tidak ada gestur canggung. "Nama kamu di berkas agen adalah Niken."

​"Nama gue Clara. Niken halangan hadir, jadi gue yang datang," sahut Clara blak-blakan. Dia memanggil pelayan tanpa memedulikan tatapan heran Elzio. "Mas, saya minta air mineral dingin satu. Jangan pakai es."

​Elzio bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. "Sikap kamu tidak seperti kriteria yang saya pesan ke agensi."

​"Bagus kalau gitu," Clara menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Elzio lurus-lurus. "Soalnya gue emang bukan cewek yang ada di katalog jualan sahabat gue. Gue ke sini cuma mau menyampaikan kalau acara makan malam ini buang-buang waktu."

​"Buang-buang waktu?" sudut bibir Elzio terangkat tipis, menghasilkan senyuman dingin yang provokatif. "Saya bayar mahal untuk waktu kamu malam ini."

​"Dan uang lu nggak bisa beli ketertarikan gue buat duduk di sini lama-lama," balas Clara cepat, matanya menyala galak. "Gue nggak suka pria yang memandang rendah orang lain cuma karena punya uang. Lu kelihatan arogan, kaku, dan membosankan."

​Pelayan datang meletakkan segelas air mineral. Clara langsung meminumnya setengah.

​Elzio bukannya tersinggung, dia justru condong ke depan. Tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi intens dan penuh rasa ingin tahu yang berbahaya. Di dunianya, semua wanita berusaha keras menyenangkan hatinya. Tapi wanita di depannya ini? Menatapnya seolah Elzio hanyalah sebuah gangguan kecil.

​"Menarik," bisik Elzio suara rendah. "Kamu punya lidah yang lumayan tajam untuk seorang pacar sewaan."

​"Gue bukan pacar sewaan lu," potong Clara tegas. "Gue cuma penolong. Dan tugas gue selesai. Waktu 30 menit gue habis."

​Saat Clara hendak berdiri, pelayan lain datang membawa nampan berisi dua gelas minuman berwarna merah terang dengan riasan buah ceri.

​"Minuman sambutan dari Chef, Pak Elzio," kata pelayan itu sopan.

​"Taruh di situ," ujar Elzio tanpa mengalihkan pandangannya dari Clara. "Duduk, Clara. Saya belum selesai."

​"Gue udah selesai," bisik Clara kesal. Tenggorokannya terasa agak kering karena emosi. Tanpa berpikir panjang, dia meraih gelas siraman merah di atas meja dan mengandaskan furnishes-nya dalam tiga tegukan besar. Dia mengira itu hanya mocktail buah segar.

​Elzio membelalakkan matanya sedikit. "Tunggu, jangan—"

​"Kenapa? Pelit amat cuma minuman gratisan gini!" tembak Clara, memotong ucapan Elzio dengan napas sedikit memburu.

​Namun, hanya dalam selang sepuluh detik, hawa panas mendadak menjalar dari kerongkongan turun ke dadanya. Kepala Clara mendadak terasa seringan kapas. Penglihatannya bergoyang pelan. Rasa manis sirup tadi rupanya melapisi kandungan alkohol tinggi yang pekat.

​"Lu... kasih gue apa..." gumam Clara. Matanya yang tadi tajam dan galak kini meredup, berganti sayu. Pipi mulusnya merona merah padam dalam hitungan detik.

​Elzio berdiri, menangkap bahu Clara tepat saat wanita itu hampir kehilangan keseimbangan. "Itu cocktail racikan khusus. Alkoholnya sangat tinggi."

​"Bohong..." Clara terkekeh pelan. Dia malah maju menubruk dada bidang Elzio, memegang kerah jas pria itu dengan kedua tangan yang tiba-tiba hilang tenaga. "Lu jahat banget... mukanya sok ganteng tapi jahat..."

​Elzio terpaku. Aroma tubuh Clara—perpaduan vanila dan kehangatan alami—langsung menusuk inderanya. Clara yang galak dan penuh duri tadi mendadak berubah menjadi sangat manja dan rapuh dalam dekapan lengannya.

​"Clara, berdiri yang benar," bisik Elzio, suaranya mendadak serak. Tangannya menahan pinggang Clara agar tidak jatuh.

​"Nggak mau," rengek Clara. Dia malah menyandarkan pipinya yang panas ke dada Elzio, menghirup aroma maskulin pria itu. tangannya naik, mengelus rahang tegas Elzio dengan tidak sabar. "Dingin... dada lu dingin, gue suka..."

​Sentuhan jemari halus Clara di lehernya membuat pertahanan Elzio retak seketika. Hasrat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya.

​"Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, Clara," geram Elzio pelan, menahan napasnya saat bibir Clara tanpa sengaja menyapu garis lehernya.

​"Bawa gue pergi..." bisik Clara tidak sadarkan diri, matanya terpejam rapat sambil makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Elzio.

​Elzio memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat. Tanpa berpikir panjang lagi, dia melingkarkan tangannya di pinggang dan lipatan lutut Clara, mengangkat wanita itu ke dalam gendongannya.

​Kamar suite di lantai paling atas itu sunyi, hanya dihiasi deru napas yang memburu dan gesekan kain yang saling terlempar ke lantai.

​Alkohol membuat Clara benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Dia yang memulainya duluan—menarik dasi Elzio, mencium bibir pria itu dengan impulsif dan berantakan. Namun Elzio, yang sudah terbakar gairah, tidak mampu lagi menahan diri.

​Malam itu berlangsung panas, liar, dan penuh kejutan. Di tengah gulungan seprai putih, Elzio baru menyadari satu hal yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak: rintihan rasa sakit Clara dan jeda kaku di antara gerakan mereka. Itu adalah kali pertama bagi Clara. Sebuah kenyataan yang membuat Elzio makin posesif dan memperlakukannya malam itu dengan campuran gairah membara dan kelembutan yang dalam.

​Pagi hari, pukul empat subuh.

​Cahaya samar remang-remang kota masuk lewat celah tirai. Clara terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di area lipatan paha dan kepalanya yang berdenyut hebat.

​Dia membelalakkan mata. Ingatan semalam berputar cepat seperti kilasan mimpi buruk.

​Di sampingnya, Elzio tidur terlentang dengan dada bertelanjang yang penuh dengan bekas cakaran halus.

​"Nggak... nggak mungkin..." bisik Clara panik. Air mata ketakutan langsung menetes di pipinya. Rasa malu, takut, dan trauma membakar dadanya. Dia panik setengah mati.

​Dengan tubuh gemetar dan napas memburu, Clara memunguti pakaiannya di lantai. Dia memakainya dengan terburu-buru tanpa memedulikan rasa nyeri di tubuhnya. Dia tidak boleh ada di sini saat pria itu bangun. Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

​Saking paniknya, saat meraih tas di atas meja nakas, jam tangan kulit tua vintage peninggalan almarhumah ibunya tersenggol dan terlepas dari tangannya, jatuh di dekat bantal tempat Elzio tertidur. Clara bahkan tidak menyadarinya.

​Dengan langkah pincang dan gemetar, Clara melangkah keluar kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu berlari menyusuri lorong hotel yang dingin.

​Dua jam kemudian, Elzio membuka matanya.

​Sisi kasur di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Elzio duduk dengan cepat, mengusap wajahnya. "Clara?"

​Tidak ada jawaban. Hanya ada keheningan.

​Elzio mengepalkan tangannya kesal. Namun, saat dia hendak menyingkap selimut, matanya menangkap sebuah benda di atas kasur dekat bantalnya. Sebuah jam tangan analog antik bertali kulit cokelat yang sudah agak aus.

​Elzio memungut jam tangan itu. Di bagian belakang logamnya, terdapat ukiran halus bertuliskan: Untuk Clara, dari Ibu.

​Elzio memegang jam tangan itu erat-erat di genggamannya. Matanya menatap pintu kamar yang terbuka sedikit dengan tatapan pekat dan obsesif.

​"Kamu pikir kamu bisa lari setelah apa yang kita lakukan semalam, Clara?" guman Elzio rendah, suaranya sarat akan janji yang mutlak.

Chapter 2

Dua minggu setelah malam jahanam di hotel itu, Clara berusaha keras mengubur ingatan buruknya dalam-dalam. Dia menganggap rasa perih di tubuhnya dan malam hilangnya keperawanannya hanyalah kecelakaan tragis akibat racun alkohol. Dia memutus kontak dengan Anya selama beberapa hari dan fokus penuh pada satu-satunya hal yang paling dia percayai dalam hidup: pekerjaan dan masa depannya bersama Ardan.

​Ardan adalah tunangannya sekaligus CEO dari perusahaan tempat Clara bekerja sebagai manajer proyek. Mereka sudah bertunangan selama satu tahun. Bagi Clara, Ardan adalah tempat berlabuh yang aman—pria yang tenang, santai, dan tidak pernah menuntut hal-hal aneh padanya.

​Siang itu, dengan berkas proposal proyek bernilai miliaran rupiah di tangannya, Clara berjalan menyusuri koridor lantai atas kantor Ardan. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ini adalah proyek besar yang dia kerjakan mati-matian selama tiga bulan.

​Tanpa mengetuk pintu—karena dia memegang akses penuh sebagai tunangan sang CEO—Clara memutar gagang pintu ruang kerja Ardan.

​"Ardan, draf akhirnya udah selesai, kamu tinggal ttd—"

​Kalimat Clara terhenti di tenggorokan.

​Berkas di tangannya terlepas, jatuh berhamburan di atas karpet.

​Di atas sofa kulit hitam di sudut ruangan, Ardan sedang memangku seorang wanita. Pakaian mereka berantakan. Dan wanita yang sedang mengalungkan tangan di leher tunangannya itu adalah Miska—adik tiri Clara sendiri.

​Miska yang melihat Clara langsung berpura-pura terkejut sambil merapikan blusnya, namun kilat kemenangan terpancar jelas di matanya. Ardan berdiri panik, membetulkan letak dasinya yang miring.

​"Clar! Ini... kamu ngapain masuk nggak ngetuk pintu dulu?!" bukannya merasa bersalah, suara Ardan justru meninggi penuh defensif.

​Clara berdiri terpaku. Dadanya bergemuruh hebat, tapi matanya dingin membeku. "Ngantor sambil nidurin adik tiri tunangan kamu sendiri, Ardan?"

​"Miska cuma lagi pusing, Clara! Jangan berpikiran picik!" tangkis Ardan cepat.

​Miska menyunggingkan senyum tipis di belakang punggung Ardan, lalu memasang wajah kasihan. "Ayah kan emang mau perjodohan keluarga kita dialihkan ke aku, Mbak Clara. Lagian Mbak Clara kaku banget jadi cewek, kasihan Mas Ardan..."

​Clara tertawa pelan. Tawa dingin yang menyayat hati. Segala rasa lelah, kecewa, dan trauma yang menumpuk di dadanya mendadak meledak menjadi kemarahan yang amat sangat murni.

​Dia melangkah maju, lalu PLAK!

​Tamparan keras mendarat mulus di pipi Ardan hingga pria itu tersungkur ke samping.

​"Mbak Clara!" teriak Miska heboh.

​"Tutup mulutmu, Miska!" bentak Clara tajam, membuat adik tirinya itu seketika bungkam. Clara lalu menatap Ardan yang memegangi pipinya yang merah padam. "Hubungan kita selesai. Dan hari ini, detik ini juga, gue resign dari perusahaan sampah ini."

​Clara membalikkan badan, berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi sedikit pun, mengabaikan teriakan Ardan yang memanggil namanya di sepanjang koridor.

​Dengan napas memburu dan kepala yang rasanya mau pecah, Clara melajukan mobilnya menuju apartemen Anya. Kehidupannya hancur dalam hitungan hari. Keperawanannya hilang pada pria asing, dan kini tunangannya berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Dunia seolah sedang menertawakannya.

​Saat Clara membuka pintu apartemen Anya menggunakan kunci cadangan, dia mendapati Anya sedang panik setengah mati. Sahabatnya itu berjalan bolak-balik di ruang tamu sambil menggigiti kuku jarinya.

​"Anya..." panggil Clara lirik.

​Anya tersentak, kaget melihat kedatangan Clara dengan wajah pucat dan mata sembap. "Clar?! Ya ampun, lu dari mana aja?! Lu ke mana aja dua minggu ini?!"

​Clara melempar tasnya ke sofa dan merebahkan tubuhnya yang lemas. "Gue putus sama Ardan. Dia selingkuh sama Miska di kantornya sendiri."

​"Apa?!" Anya membelalak. Tapi belum sempat dia memproses kabar duka itu, ekspresi Anya berubah menjadi ketakutan yang lain. Anya mendekati Clara dan berbisik cemas, "Clar... kita dalam masalah besar."

​Dahi Clara berkerut. "Masalah apa lagi?"

​"Tadi pagi... orang kepercayaannya Elzio Mahendra datang ke sini," kata Anya dengan suara gemetar. "Pria bertubuh tinggi besar pakai jas hitam. Dia mecatat semua identitas agen gue dan ngancam bakal menutup paksa agensi gue kalau gue nggak menyerahkan keberadaan lu!"

​Tubuh Clara membeku seketika. "Apa?"

​"Dia nyariin lu, Clar! Pria itu bilang, Boss-nya—si Elzio itu—minta lu datang lagi!" Anya menatap Clara dengan mata membesar. "Gue rasa... Elzio itu ketagihan sama lu. Dia mau pakai lu lagi, Clar! Dia nggak mau cewek lain!"

​Dipakai lagi.

​Kata-kata itu menghantam kesadaran Clara seperti hantaman godam. Bayangan malam panas itu—sentuhan Elzio, rasa sakit, rasa malu, dan kepanikannya saat terbangun di pagi hari—langsung berputar hebat di kepalanya. Rasa mual mendadak membumbung tinggi di dada Clara.

​"Jijik..." gumam Clara dengan suara bergetar. Tangannya gemetaran hebat. "Gue jijik, Nya... Dia pikir gue cewek apaan?!"

​"Clar, lu kenapa? Lu kok gemetaran gitu?" Anya panik melihat reaksi emosional Clara yang luar biasa parah.

​"Gue nggak mau ketemu dia lagi! Gue nggak mau!" teriak Clara frustrasi, air matanya akhirnya menetes deras. "Gue benci pria itu, gue benci Ardan, gue benci semuanya!"

​Melihat sahabat terbaiknya hancur secara mental dan fisik, Anya sadar situasi ini sudah tidak main-main. Rasa bersalah menghujam dada Anya karena dialah yang menyeret Clara ke dalam pusaran masalah Elzio.

​"Oke, oke! Calming down, Clar!" Anya merengkuh bahu Clara erat-erat. "Gue minta maaf. Ini semua salah gue. Kita pergi dari sini."

​Clara mendongak dengan mata basah. "Pergi?"

​Anya mengangguk mantap. "Gue bakal tutup sementara agen pacar sewaan gue. Masa bodoh sama Elzio Mahendra atau orang-orangnya. Sekarang juga kita kemas barang. Kita terbang ke Bali."

​"Bali?"

​"Iya, Bali. Lu butuh tenangin pikiran. Lu butuh lari dari Ardan, dari Miska, dan dari CEO gila itu. Lu sama gue, kita liburan sampai keadaan aman. Biar gue yang urus semuanya."

​Tiga jam kemudian, mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Denpasar.

​Clara menyandarkan kepalanya di jendela pesawat, menatap awan putih yang membentang luas. Ponselnya sudah dia matikan total. Nomor Ardan diblokir, dan hubungan keluarga dengan rumah ayahnya dia putus sementara.

​Dia merasa begitu hampa, seolah sebagian dari dirinya telah mati. Kejadian dalam dua minggu terakhir merenggut segalanya dari Clara: harga dirinya, cintanya, dan masa depannya. Dia hanya ingin melupakan semuanya—termasuk kenangan tentang sentuhan panas pria bernama Elzio Mahendra.

...****************...

​Namun, ratusan kilometer di Jakarta, di lantai paling atas gedung Mahendra Group...

​Elzio berdiri di depan jendela kaca raksasa, menggenggam jam tangan tua milik Clara di dalam kepalan tangannya.

​Seorang pria bertubuh tegap—asisten pribadinya—masuk dan membungkuk sopan. "Pak Elzio, target dan pemilik agensi sudah tidak ada di kediamannya. Berdasarkan manifest penerbangan satu jam yang lalu... Clara baru saja mendarat di Bali."

​Sudut bibir Elzio terangkat tipis. Bukan senyuman ramah, melainkan sebuah seringai dingin yang sarat akan obsesi mutlak.

​Dia memutar jam tangan tua itu di jarinya, lalu menoleh.

​"Siapkan jet pribadi," perintah Elzio rendah dan dingin. "Saya tidak suka membiarkan milik saya berlibur terlalu jauh tanpa izin saya."

Chapter 3

​Seminggu di Bali, Clara rasanya seperti hidup kembali. Pantai berpasir putih tepat di depan teras vila yang mereka sewa menjadi saksi bagaimana Clara mencoba mengubur semua kepahitannya di Jakarta.

​Pagi itu, sinar matahari Bali terasa menyengat namun menyegarkan. Clara berbaring di atas sunbed kayu dekat kolam renang vila, membiarkan kulit mulusnya tersiram cahaya matahari. Dia hanya mengenakan bikini two-piece berwarna merah maroon—pilihan Anya yang awalnya sempat diprotes keras oleh Clara.

​"Gitu dong, Clar! Senyum!" seru Anya sambil meminum jus kelapanya dari ujung kolam. "Ngapain mikirin dua cowok brengsek itu? Mending kita nikmatin duit tabungan!"

​Clara terkekeh pelan, menyesuaikan posisi kacamata hitamnya. "Gue cuma heran, kenapa dari kemarin perasaan gue nggak enak ya, Nya? Kaya ada yang merhatiin."

​"Perasaan lu aja kali! Secara lu cantik banget pakai bikini gitu, ya jelas bule-bule yang lewat di pantai pada ngelirik," goda Anya sambil tertawa.

​Clara tidak tahu, hanya berjarak satu dinding tanaman bambu di vila sebelah, sepasang mata pekat sedang mengawasinya tanpa berkedip.

​Elzio sengaja menyewa vila bernomor 08—tepat di samping vila 07 milik Clara. Dari balkon lantai dua vilanya, Elzio berdiri memegang teropong kecil, menggenggam pembatas besi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam meneliti setiap inci tubuh Clara yang terekspos terbuka. Kulit putih mulus seputih susu itu, lekuk tubuhnya yang menggiurkan, dan bagaimana kain minim itu hampir tidak menutupi apa-apa.

​Darah Elzio mendidih. Rahangnya mengeras berat. Rasanya dia ingin melompati pagar bambu itu detik ini juga, melemparkan kain lebar untuk menutupi tubuh Clara, dan membawa wanita itu masuk ke kamar.

​"Pak," suara Arka, asisten pribadinya, terdengar ragu saat melangkah mendekat di lantai dua vila rental mereka. "Laporan dari Jakarta sudah keluar. Ibu Clara resmi mengundurkan diri minggu lalu setelah mendapati mantan tunangannya, Ardan, berselingkuh dengan adik tirinya di ruang kerja."

​Elzio tidak mengalihkan pandangannya dari Clara. "Pria berengsek itu berani menyakitinya?"

​"Sudah saya atur, Pak," jawab Arka lugas. "Semua proyek investasi Mahendra Group dengan perusahaan Ardan resmi dibatalkan hari ini. Perusahaannya terancam bangkrut dalam hitungan minggu."

​Elzio menyunggingkan senyum dingin. "Bagus. Buat dia mengemis di jalanan."

​Tapi emosinya kembali membakar saat melihat Clara berdiri di samping kolam dan meliukkan tubuhnya untuk merapikan handuk. Hasrat dan kemarahan bercampur menjadi satu di dadanya.

​"Bisa-bisanya dia memakai pakaian setipis itu di luar..." gumam Elzio penuh kekesalan.

​"Bapak mau saya menyewa seluruh area pantai di depan vila ini agar steril?" tawar Arka tenang.

​"Tidak usah," ketus Elzio. "Jika aku bertindak serampangan sekarang, dia akan semakin takut. Tahan diri kamu, Elzio..." bisik Elzio pada dirinya sendiri, meremas kuat jam tangan antik milik Clara yang ada di dalam kantong celananya.

...****************...

​Malam harinya, riak gelombang pantai berpadu dengan dentuman musik house yang menggema di sebuah beach club populer. Lampu-lampu neon remang-remang menyoroti puluhan pengunjung yang menari di area terbuka.

​Anya dan Clara duduk di salah satu area VIP sofa. Di sekeliling mereka, tiga pria muda lokal dan seorang pria bule berambut pirang sibuk melempar senyuman dan membawakan minuman.

​"Clar, udah ya! Jangan banyak-banyak!" Anya menahan tangan Clara yang hendak mengandaskan gelas cocktail ketiganya. "Lu ingat kan kejadian di Jakarta? Lu nggak bisa minum alkohol, Clara!"

​"Gue mau lupa, Anya!" seru Clara setengah berteriak menembus dentuman musik. Pipi dan lehernya sudah merona merah. Matanya yang biasanya tajam kini berubah sayu dan bergerak liar. "Gue mau lupain Ardan! Gue mau lupain si CEO gila itu! Biarin gue minum!"

​Pria bule di samping Clara tersenyum tipis, melihat kesempatan. Dia merangkul bahu telanjang Clara dan berbisik manis di telinganya. "You're so pretty, sweetheart. Want another drink?"

​"Yes! Give me more!" tawa Clara meledak. Suaranya terdengar begitu manja dan tidak terkontrol—persis seperti malam jahanam itu.

​Pria bule itu makin mendekat. Wajahnya mengikis jarak, bermaksud mendaratkan ciuman di bibir merah Clara yang meracau. Clara yang sudah mabuk berat hanya tersenyum pasrah, memejamkan mata.

​Namun sebelum bibir pria itu menyentuh Clara—

​BUK!

​Sebuah cengkeraman berurat besi menghantam rahang pria bule itu hingga dia tersungkur jatuh ke atas sofa.

​"Get your filthy hands off her!" suara bariton yang amat dingin dan pekat menggelegar di atas dentuman musik.

​Anya menjerit kaget, berdiri seketika. "E-Elzio Mahendra?!"

​Di belakang Elzio, Arka berdiri sigap. Arka langsung memegang lengan Anya dengan lembut tapi tegas sebelum Anya sempat bereaksi. "Ikut saya, Miss Anya. Biarkan Boss menyelesaikan urusannya."

​"Tapi Clara—"

​"Dia aman bersama Pak Elzio. Mari," potong Arka menyela, memandu Anya keluar dari area club yang mendadak tegang.

​Sementara itu, Elzio tidak membuang waktu. Sebelum pria bule itu sempat berdiri menantangnya, Elzio menyambar tubuh Clara. Tanpa ampun, dia mengangkat Clara dan menggendongnya di atas pundak kanan—seperti membawa karung beras.

​"Lepas! Siapa lu?! Lepasin gue!" jerit Clara heboh. Kepalanya yang pusing bergantung terbalik di belakang punggung Elzio.

​Elzio berjalan dengan langkah lebar dan tegap keluar dari beach club, tidak peduli dengan tatapan puluhan pasang mata pengunjung.

​"Lepas, bangsat! Lepas!" Clara mulai memberontak hebat. Tangannya memukul-mukul punggung tegap Elzio dengan kasar. "Anya! Anya tolongin gue! Anyaaa!"

​"Tutup mulutmu, Clara," geram Elzio rendah. Hawa dingin terpancar dari tubuhnya.

​"Nggak mau! Lu siapa berani-beraninya ngangkut gue?!" Clara yang mabuk berat tidak mengenali wajah pria itu karena posisi terbalik, tapi dia bisa merasakan aroma parfum woody-leather yang sangat familiar.

​Karena kesal gigihnya tidak digubris, Clara memajukan wajahnya dan BLES!

​Gigi-gigi tajam Clara menggigit cuping telinga kanan Elzio dengan sangat keras.

​"Ssshh! Damn it, Clara!" Elzio meringis, menghentikan langkahnya di koridor jalan setapak yang sepi menuju area parkir VIP.

​Darahnya benar-benar mendidih. Kesabarannya melayang jatuh ke titik nol.

​PLAK!

​Elzio melepaskan satu tamparan keras dan mantap di pantat padat Clara yang hanya terbalut gaun tipis.

​"Aww!" Clara menjerit kaget. "Sakit, bodoh!"

​"Itu hukuman karena kamu menggigit saya!" tegur Elzio galak.

​PLAK!

​Satu tepukan mendarat lagi di tempat yang sama, meski kali ini lebih pelan.

​"Dan itu karena kamu hampir membiarkan pria asing mencium bibir kamu!" lanjut Elzio tegas.

​"Gue benci lu! Turunin gue!" jerit Clara lagi. Tapi kali ini, suaranya berubah menjadi nada rengekan anak kecil. Air mata tiba-tiba menetes dari matanya yang sayu. "Sakit... hobi banget kasar sama gue... jahat..."

​Elzio menghela napas panjang. Marahnya mendadak menguap berganti rasa gemas dan protektif yang luar biasa saat mendengar rengekan itu.

​Dia akhirnya menurunkan Clara di samping mobil SUV-nya, menyandarkan tubuh wanita itu ke pintu mobil agar tidak jatuh.

​"Bisa berdiri yang benar?" tanya Elzio dengan nada menahan gemas.

​Clara mendongak dengan mata basah dan pipi merah padam. Saat penglihatannya yang kabur akhirnya berhasil memfokuskan sosok di depannya, napas Clara tertahan.

​"Lu..." gumam Clara pelan. Ketakutan dan kenangan malam itu mendadak terlintas singkat di kepalanya, bercampur dengan efek alkohol yang berat. "Si... si CEO gila..."

​"Nama saya Elzio, Clara. Bukan CEO gila," koreksi Elzio dengan suara rendah.

​"Kenapa lu selalu ada di mana-mana?!" seru Clara terengah-engah, dadanya naik turun. Tangannya yang gemetar mencoba mendorong dada tegap Elzio. "Pergi! Gue takut sama lu! Kenapa lu harus muncul lagi?!"

​"Karena kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri!" potong Elzio, suaranya membesar namun sarat akan kekhawatiran. "Kamu pikir saya suka melihat kamu memakai baju minim di tepi pantai sepanjang hari? Kamu pikir saya suka melihat pria lain hampir menyentuh bibir kamu di dalam sana?!"

​Clara tertegun, matanya yang basah mengedip polos. "Lu... lu ngeliatin gue dari tadi pagi?"

​Elzio tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Dia menyunggingkan senyum tipis yang misterius. "Saya tidak cuma memperhatikan kamu dari tadi pagi, Clara. Saya tinggal persis di sebelah vila kamu. Tetangga sebelah kamu."

​Mata Clara melebar sempurna. "Lu... lu gila! Lu bener-bener stalker gila!"

​"Terserah kamu mau menyebut saya apa," bisik Elzio.

​Elzio menangkup kedua pipi hangat Clara dengan kedua telapak tangannya yang besar, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dia menatap lurus ke dalam iris mata Clara yang berair.

​"Gue mau pulang... lepas..." bisik Clara pasrah, suaranya mengecil menjadi gumaman manja karena pusing yang makin melanda.

​"Tidak ada yang boleh menyakiti kamu lagi, Clara. Termasuk mantan tunangan bodohmu itu," bisik Elzio rendah, suaranya sarat akan kelembutan yang memabukkan. "Dan kamu tidak bisa lari lagi ke mana pun dari saya."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!