Langit malam itu gelap gulita, gemuruh petir menyambar berulang kali.
Pintu depan rumah mewah itu terbuka lebar secara paksa. Sebuah tumpukan baju melayang keluar, mendarat kasar di tanah basah.
"Pergi dari rumah ini sekarang! Aku tidak butuh anak yang tidak tahu diri dan tidak berbakti seperti kamu!" teriak Ria dengan suara melengking.
Wajah wanita baya itu merah padam, napasnya memburu penuh amarah.
Al berlutut di tanah yang kotor. Pakaiannya mulai basah oleh rintik hujan yang makin deras. Tangannya gemetar hebat saat berusaha meraih ujung gaun ibunya.
"Ibu... tolong dengarkan aku dulu, Ibu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan," panggil Al dengan suara parau, tersedak oleh isak tangis. "Aku tidak melakukannya, Bu. Tadi itu... "
"Cukup, Al! Jangan berani-beraninya kamu bersilat lidah di depan Ibu!" kata Sinta dengan ketus.
Ria menepis tangan Al dan mendorong dada pemuda itu hingga ia jendat terlentang di atas rumput basah.
Sementara Rino melipat tangannya di dekat pintu menatap Al tanpa belas kasihan.
"Ck! Dasar benalu!" kata Rino.
Dari balik bahu Ria, seorang pemuda seusia Al melangkah pelan. Wajahnya dipasang raut penuh ketakutan yang dibuat-buat, tangannya gemetar memegang ujung baju Ria.
"Dia bohong, Ibu! Jangan dengarkan dia!" seru Ari dengan suara bergetar, berpura-pura trauma. "Dia... dia selalu melukaiku, Bu. Dia benci melihatku bahagia di rumah ini. Tadi dia bahkan mendorongku sampai tanganku memar, Bu..."
Al membelalakkan matanya tidak percaya. Ia menatap saudaranya itu dengan dada sesak. "Ari! Kenapa kamu tega memfitnahku seperti ini?! Kamu sendiri yang menjatuhkan vas bunga itu dan menyayat tanganmu sendiri untuk menjebakku!"
"Tutup mulutmu, Al!" bentak Ria keras. Wanita itu memeluk Ari, mengusap punggung anaknya dengan lembut sebelum kembali menatap Al dengan pandangan jijik. "Masih berani kamu menyalahkan adikmu sendiri? Ari anak yang jujur, tidak seperti kamu yang penuh iri dengki!"
"Tidak, Ibu! Aku... aku tidak pernah menyakiti Ari! Tolong jangan usir aku, Bu... Ibu tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tolong, jangan usir aku..." tangis Al pecah.
Ia berlutut, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon belas kasihan dari wanita yang melahirkannya.
"Apa peduliku kamu mau tinggal di mana?!" balas Ria tanpa belas kasihan sedikit pun. "Aku sudah muak melihat mukamu di rumah ini! Mulai detik ini, kamu bukan lagi anakku. Lebih baik kamu pergi dan membusuk di jalanan!"
Saat Ria berpaling untuk masuk ke dalam rumah, Ari sengaja memperlambat langkahnya. Ia menoleh sedikit ke arah Al. Bayangan ketakutan di wajahnya sirna seketika, berganti dengan ukiran senyum licik yang amat sangat tajam.
"Ha ha ha... rasakan kamu, Al," gumam Ari sangat pelan, nyaris tenggelam dalam suara gemuruh petir, tetapi cukup jelas untuk ditangkap mata Al. "Kamu itu cuma benalu. Kamu memang dari awal tidak pernah pantas tinggal di rumah ini."
Brak!
Pintu kayu jati yang tebal itu dihempaskan dengan sangat kasar. Suara kunci diputar dari dalam menggelegar di telinga Al, mengunci rapat-rapat kehidupan yang pernah ia kenal.
Keheningan malam kini hanya diisi oleh derasnya air hujan yang mengguyur tubuh Al. Pemuda itu membeku di tempatnya, menatap pintu rumah yang tertutup rapat dengan tatapan kosong. Air matanya menyatu dengan air hujan yang mengalir membasahi pipinya.
Dengan jemari yang dingin dan kaku, Al memungut satu per satu pakaiannya yang sudah kotor tertutup lumpur. Ia memasukkannya asal ke dalam tas kain yang basah kuyup. Hatinya hancur berkeping-keping, lebih dingin dari hembusan angin malam yang menusuk tulang.
"Ibu... kenapa Ibu lebih percaya dia dibanding aku yang sudah kau rawat sejak kecil?" bisik Al pada angin malam. Tidak ada jawaban.
Ia berdiri dengan tubuh gemetar, memeluk tas pakaiannya yang berat. Ia menatap rumah megah itu untuk terakhir kalinya sebelum membalikkan badan.
"Ke mana aku harus pergi sekarang?" gumam Al pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergetar menahan gigil dan rasa sakit yang amat dalam. "Jangankan tempat untuk berteduh... untuk makan besok saja, uang sepeser pun aku tak punya."
Al melangkah lambat menerobos kegelapan malam.
Setiap langkah terasa begitu berat, memikul luka pengkhianatan dan ketidakadilan yang harus ia tanggung sendirian.
Langkah kaki Al terasa kian berat. Hujan deras yang mengguyur tanpa ampun membuat pakaian di tubuhnya makin basah kuyup dan menempel dingin di kulit. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya angin malam, melainkan juga karena rasa lapar yang mulai menyiksa perutnya.
Ia terus berjalan menelusuri jalanan kota yang makin sepi, meninggalkan kompleks perumahan mewah yang baru saja merenggut seluruh kehidupannya.
"Tuhan... kalau memang aku harus mati malam ini, bisakah Bu Ria dan Ari melihatnya?" gumam Al lirik. Bibirnya yang pucat membiru terkunci rapat saat rasa sesak kembali menghantam dadanya.
Langkahnya membawanya makin jauh ke pinggiran kota, area industri tua yang sudah lama ditinggalkan. Di sana, di antara semak belakangan yang meninggi dan tiang-tiang listrik yang tak lagi menyala, berdiri sebuah bangunan besar dengan atap seng yang sudah berkarat.
Sebuah gudang tua bekas penyimpanan kayu.
"Mungkin... di sana aku bisa berteduh sebentar," bisik Al pada dirinya sendiri.
Dengan sisa pengerahan tenaga yang ada, Al mendekati gudang tersebut. Pintu besi berkaratnya sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup lebar untuk tubuhnya masuk. Ia mendorong pintu itu pelan, menimbulkan suara decitan nyaring yang membelah keheningan malam.
*Kreeek...*
Bau debu, kayu lapuk, dan kelembapan langsung menyengat indra penciumannya. Di dalam gudang sangat gelap, hanya ada sedikit sinar bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah atap yang bocor.
Al berjalan ke sudut ruangan yang agak kering, jauh dari tetesan air hujan. Ia merosotkan tubuhnya di dinding semen yang dingin, lalu memeluk kedua lututnya erat-erat. Tas kain berisi pakaian wet-nya ia diletakkan di sampingnya.
"Akhirnya... ada tempat berteduh," kata Al dengan suara bergetar, mencoba menghibur dirinya sendiri di tengah kegelapan gudang tua itu.
Ia memejamkan mata, membiarkan rasa lelah dan dingin perlahan menyeretnya ke dalam kegelapan, tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya esok hari.
Malam kian larut, tetapi rasa dingin yang menusuk tulang tak biarkan Al tertidur lelap. Perutnya berbunyi nyaring, menyuarakan rasa lapar yang makin melilit.
Tubuhnya menggigil hebat karena kedinginan.
Di atas lembaran kardus tipis berdebu yang menjadi alas tidurnya, tubuh Al bergetar hebat.
"Aku lebih baik tidur saja," ucapnya.
Perlahan-lahan ia menutup matanya, perutnya terasa lapar, dengan ia tidur, mungkin bisa melupakan rasa lapar tersebut.
Sreeek...
Suara gesekan tiupan angin malam yang menggeser atap seng karatan menarik Al kembali dari ketidaksadarannya.
Al meloncat bangun secara mendadak. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia mengusap matanya yang terasa berat, lalu memandang sekeliling dengan mata liar.
Yang ada hanya kegelapan gudang tua yang bau kayu lapuk, debu yang beterbangan disorot sinar rembulan, dan kardus tipis yang menjadi alas tidurnya. Pakaian basah kuyup yang melekat di tubuhnya terasa makin lengket dan dingin.
"Hah... hah..." Al menyandarkan punggungnya ke dinding semen, memegang kepalanya yang mendadak pening.
Ia menatap kedua telapak tangannya yang kasar dan kotor oleh lumpur jalanan. Rasa sakit akibat pengkhianatan keluarganya kembali menembus dada, meremukkan harapan singkat yang baru saja ia rasakan.
"Ck! Rupanya cuma mimpi..." gerutu Al pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar sangat getir dan sarat akan keputusasaan. "Konyol sekali. Mana mungkin orang terbuang seperti aku bisa jadi seperti itu? Untuk makan besok saja aku tak punya uang sepeser pun."
Al tertawa hampa, meratapi nasibnya yang begitu malang. Namun, tepat ketika ia hendak membaringkan tubuhnya kembali...
Ting!
Suara nada denting jernih, mirip suara piringan kaca murni yang berdenting, menggelegar di dalam kepala Al. Suara itu begitu nyaring hingga membuat telinganya berdengung.
Tiba-tiba, di udara kosong tepat di depan matanya, muncul sebuah papan panel semi-transparan berwarna biru menyala yang berkilat-kilat futuristik. Cahaya biru itu menerangi wajah Al yang pucat pasi.
[SELAMAT DATANG DI SISTEM SUPER CANGGIH]
"W-wajah apa ini?!" Al terperanjat hebat. Ia melompat mundur hingga punggungnya membentur keras dinding semen di belakangnya. "Siapa itu?! Siapa yang bicara?!"
Jantung Al berdegup kencang seperti mau meledak. Ia mengucek matanya berulang kali, berpikir bahwa dirinya sudah gila atau terkena ilusi karena kelaparan.
Namun, layar biru tembus pandang itu tetap melayang stabil di udara, mengikut ke mana pun arah pandang matanya bergerak.
"Siapa itu!" teriak Al panik, suaranya bergetar hebat membelah keheningan gudang tua. "Jangan bercanda! Keluar Sekarang! Ini teknologi apa?!"
Tidak ada jawaban dari kegelapan. Hanya layar sistem itu yang kembali berdenting pelan, menampilkan tulisan baru di hadapannya:
[Inisialisasi Pengguna: Al. ]
[Status: Terbuang & Tanpa Aset.]
[Apakah Anda siap mengklaim takdir Anda dan membuat mereka yang membuang Anda berlutut? ]
[YA] / [TIDAK]
Al membeku di tempatnya. Napasnya tertahan saat menatap dua tombol bercahaya yang melayang tepat di depan dadanya.
Al menyentuh hologram itu, tanpa sadar ia menyentuh tulisan ya
[Selamat Anda telah terikat kontrak!]
"Eh tunggu!" teriaknya panik.
"Sistem? Dunia mimpi? Apa-apaan ini... Apa aku sedang berhalusinasi? Apa ini semacam ai?"
[Benar, Tuan. Lebih tepatnya, saya adalah kecerdasan buatan masa depan yang sudah sangat maju, melampaui teknologi bumi saat ini.]
"Tapi... tapi kenapa suaramu ada di dalam kepalaku?!" tanya Al mulai panik. Ia memukul-mukul pelipisnya sendiri. "Keluar dari kepalaku! Aku tidak mau jadi gila!"
[Mohon tenang, Tuan Al. Proses pengikatan kontrak jiwa telah selesai sebesar 100%. Mulai detik ini, sistem akan mengikat kontak permanen dengan Anda, memandu setiap langkah Anda, dan menjamin sisa hidup Anda berjalan dalam kesuksesan yang sebenarnya.]
Mendengar kata sukses, Al justru tertawa getir. Tawa yang terdengar menyedihkan di tengah gudang sepi itu.
"Kau bilang membuat aku sukses?" Al menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap sinis pada layar melayang di depannya.
"Lupakan itu. Pergi saja kau!" teriak Al seperti orang gila.
[Sistem tidak dapat dibatalkan, Tuan. Dan perlu ditegaskan, apa yang akan Anda hadapi mulai sekarang bukanlah mimpi. Ini adalah realitas baru Anda.]
"Realitas baru?" Lihat aku! Aku tidak punya apa-apa! Uang nol, keluarga nol! Bagaimana cara AI sialan sepertimu mengubah sampah sepertiku menjadi sukses, Hah?!" marah Al mencibir, menunjuk pakaiannya yang lusuh dan alas kardusnya yang keras.
[Ini adalah nyata, simulasi di kehidupan mimpi adalah mengetes kelayakan Anda mendapatkan sistem, karena Anda telah menjalani tesnya hingga akhir, maka Anda lolos]
"Jadi... ini bukan mimpi lagi?" tanya Al berbisik, memastikan. Ia mencubit lengannya sendiri dengan sangat keras. "Aww! Sakit... Ini nyata!"
[Benar, Tuan Al. Ini adalah realitas. Dan sistem akan mewujudkan apa yang Anda lihat di dalam mimpi Anda sebelumnya.]
Al tertegun dengan ucapan sistem yang ingin mewujudkan impiannya dan apa yang ia lihat di dalam mimpinya.
"Maksudmu... aku bisa punya rumah, mobil dan semuanya di dalam mimpi? Kau bisa memberikannya padaku secara nyata?!" tanya Al memastikan lagi.
Ting!
[Betul, sistem akan memberi misi, dan setiap misi selesai Anda mendapatkan hadiah dan membuat Anda kaya raya!]
Wuuuzzz!
"Yang benar!" Al melompat berdiri.
Ting!
[Hadiah perkenalkan 500.000]
Ting!
[Memulai Misi pertama: Mencari Tempat Tinggal Baru]
[Detail Misi: Gunakan uang lima ratus ribu ini untuk menyewa sebuah kamar kos]
Al tersenyum penuh tekad.
"Kamar kos baru, ya? Baik. Hari ini, aku resmi meninggalkan gudang ini!" kata Al seraya melangkah keluar.
Al berjalan menyusuri gang-gang sempit di pinggiran kota.
Matanya terus melihat rumah untuk mencari papan pengumuman kecil yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Di mana ada kos-kosan murah tapi aman di sekitar sini?" tanyanya kebingungan.
Tiba-tiba, matanya menangkap selembar kertas setengah robek yang ditempel di tiang listrik.
"TERIMA KOS PUTRA. AMAN, BEBAS BANJIR, KAMAR MANDI DI DALAM. RP 450.000/BULAN. HUBUNGI IBU RATMI (RUMAH CAT HIJAU DI GANG SEBELAH)."
"Empat ratus lima puluh ribu! Uangku ada lima ratus ribu. Pas sekali! Masih ada sisa lima puluh ribu untuk makan malam," kata Al berseru.
Tanpa membuang waktu, Al segera berbelok ke gang sebelah, mencari rumah bercat hijau yang dimaksud.
Begitu menemukannya, ia langsung mengetuk pintu pagar besi yang sedikit berkarat.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi... Bu Ratmi?" panggil Al agak ragu.
Pintu rumah terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan daster batik dan rambut yang digulung.
Wanita itu memandang Al dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik, sedikit risih melihat pakaian Al yang dekil.
"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya? Mau minta sumbangan?" tanya Bu Ratmi dengan nada ketus.
Al tertegun, buru-buru menggeleng.
"Bukan, Bu. Saya... saya mau sewa kamar kos yang di tiang listrik depan. Apa masih ada yang kosong?" tanya Al.
"Oh, mau kos. Masih ada satu di lantai atas. Tapi sistemnya bayar di muka, ya. Nggak ada utang-utangan. Kamu punya uangnya?" tanya Bu Ratmi sedikit melunak, meski matanya masih curiga.
"Punya, Bu! Ini, pas empat ratus lima puluh ribu," kata Al cepat.
Ia merogoh saku dan mengeluarkan empat lembar uang seratus ribu dan satu lembar uang lima puluh ribu rupiah
Melihat lembaran uang itu, senyum Bu Ratmi langsung mengembang lebar.
"Wah, uangnya baru-baru ya. Pinter kamu nyimpennya. Ya sudah, ayo ikut Ibu ke atas, saya tunjukkan kamarnya," kata Bu Ratmi tidak ketus lagi.
Al mengekor di belakang Bu Ratmi. Kamar kos itu terletak di pojok lantai dua.
Ukurannya kecil, hanya sekitar tiga kali tiga meter, berisi satu kasur busa tipis tanpa seprei dan sebuah lemari kayu kecil.
Kamar mandinya ada di sudut ruangan. Meskipun sederhana dan agak berdebu, bagi Al itu tidak masalah, yang penting ada tempat berlindung.
"Ini kuncinya, ya. Jaga kebersihan, jangan bawa macam-macam, dan pintu gerbang bawah dikunci jam sepuluh malam," pesan Bu Ratmi setelah menerima uang sewa.
"Baik, Bu. Terima kasih banyak," jawab Al sopan.
Bu Ratmi melangkah pergi dan menutup pintu, Al langsung memutar kunci dari dalam.
Cklek.
Ia mengembuskan napas lega yang amat panjang.
Ting!
[Misi Ketiga Sukses! Tuan rumah berhasil mengamankan tempat tinggal yang layak dan aman untuk pertumbuhan pohon.]
Ting!
[Selamat! Anda mendapatkan Rp 10.00.000]
Al menatap telapak tangannya yang kotor karena debu gudang dan tanah pupuk.
"Ibu dan saudara mengusirku... Teman-teman sekolah ku yang menghinaku... mereka semua harus melihatku yang sekarang," gumam Al dengan tatapan mata yang menajam.
Ting!
[Sistem mendeteksi keinginan kuat dari Tuan rumah untuk melakukan pembalikan sosial. Menyiapkan paket misi baru untuk menunjang penampilan dan status sosial Anda.]
[Memulai Misi baru: Penampilan sang Penguasa.]
[Detail Misi: Seorang calon miliarder tidak boleh terlihat seperti pengemis. Beli pakaian bermerek, potong rambut di barbershop terbaik, dan beli ponsel baru yang layak.]
Al menyeringai lebar, menatap pohon uangnya
"Merombak penampilan? Dengan senang hati, Sistem. Aku sudah tidak sabar menunggu besok pagi!" kata Al bersemangat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!