Indonesia
NovelToon NovelToon

The Alpha'S Secret Girl

Bab 1

Deru knalpot racing memecah keheningan pagi di kawasan Jalan Garuda, membuat beberapa pejalan kaki terpaksa menutup telinga. Pukul 06.45 WIB, gerbang SMA Nusantara seharusnya menjadi tempat berkumpulnya para siswa yang berbaris rapi atau berjalan terburu-buru mengejar bel masuk. Namun, pagi ini situasinya terasa jauh berbeda. Sebagian besar siswa memilih menepi, menciptakan sebuah jalur kosong di tengah jalan aspal seolah memberi jalan kepada para penguasa tak tertulis sekolah itu.

Empat buah motor gede berjejer rapi memasuki area parkir khusus yang ditakuti oleh siapa pun. Di barisan paling depan, sebuah motor sport hitam pekat dengan stiker lambang gagak hitam berhenti dengan suara mesin yang meraung garang sebelum akhirnya mati. Sang pengendara melepas helm full-face hitamnya dengan gerakan lambat yang penuh percaya diri.

Rangga Dewantara Aldebaran.

Nama itu cukup membuat koridor sekolah bergetar. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena helm, jatuh menutupi kening dan membingkai wajah tajam dengan rahang tegas yang mengeras. Sorot matanya dingin, tanpa ekspresi, memancarkan aura dominasi yang membuat siapapun tidak berani menatapnya lebih dari dua detik. Sebagai ketua geng motor Black Raven, Rangga bukan sekadar siswa biasa di SMA Nusantara; ia adalah hukum yang berlaku di tempat ini. Pihak sekolah, guru-guru bimbingan konseling, hingga kepala sekolah kerap kali menutup mata atas segala tindak tanduknya, mengingat latar belakang keluarga dan pengaruh besar yang ia miliki di kota ini.

"Mau langsung ke markas belakang, Bos?" tanya Satria, wakil ketua Black Raven, sambil melempar kunci motornya ke udara lalu menangkapnya kembali.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia mengambil jaket kulit hitam berlogo sayap gagak dari spion motornya, mengenakannya dengan gerakan maskulin, lalu melirik sekilas ke arah koridor utama tempat para siswi berbisik-bisik memujanya dari kejauhan.

"Kalian duluan. Ada urusan sebentar," suara bariton Rangga terdengar berat dan dingin. Tanpa menunggu jawaban teman-temannya, ia melangkah pergi meninggalkan area parkir, menyusuri koridor yang mendadak terasa senyap setiap kali ia lewat.

Di sisi lain koridor, jauh dari kerumunan elit sekolah, Keisha Zahra Aurellia berjalan dengan langkah tenang sambil memeluk setumpuk buku tebal di dadanya. Mengenakan seragam putih abu-abu yang disetrika rapi, serta kacamata berbingkai tipis, Keisha adalah definisi nyata dari seorang siswi teladan penerima beasiswa penuh. Bagi Keisha, SMA Nusantara adalah tempat yang asing dan penuh dengan tekanan. Dunia mereka dan dunianya adalah dua garis paralel yang tidak akan pernah bisa menyatu.

Keisha benci perhatian. Prinsip hidupnya sederhana: datang ke sekolah, belajar dengan giat, jaga nilai beasiswa agar tidak melayang, dan lulus tepat waktu untuk membantu ibunya di rumah. Ia sama sekali tidak peduli dengan urusan geng motor, tawuran, atau siapa pun yang menguasai sekolah ini—terutama Rangga Dewantara Aldebaran.

Bruk!

Lamunan Keisha buyar ketika sebuah buku catatan bersampul biru terjatuh dari tumpukan di pelukannya akibat tersenggol oleh bahu seorang siswi populer yang sengaja melejiknya lewat. Buku itu meluncur bebas di lantai keramik koridor yang licin.

"Ups, sori, si anak beasiswa. Nggak sengaja," ucap Maya, salah satu siswi pengikut geng sosialita sekolah, dengan nada mengejek yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Teman-temannya tertawa kecil melihat Keisha yang langsung berjongkok untuk memungut bukunya.

Keisha hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak di dada. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan sinis seperti itu. Di sekolah ini, status sosial adalah segalanya, dan menjadi anak beasiswa dari keluarga sederhana berarti ia harus siap menjadi objek keisengan mereka. Dengan tangan sedikit bergetar, ia meraih buku tersebut. Namun, sebelum tangannya menyentuh sampul biru itu, sebuah sepatu pantofel kulit hitam berukuran besar dengan ujung yang kotor karena debu jalanan sudah menginjak sudut buku tersebut.

Keisha mendongak perlahan, mengikuti garis kaki jenjang berbalut celana abu-abu ketat, naik ke jaket kulit hitam, hingga akhirnya manik matanya beradu pandang dengan sepasang mata kelam yang menatapnya tajam dari atas.

Rangga.

Jantung Keisha seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Jarak mereka terlalu dekat. Bau maskulin yang bercampur dengan aroma tembakau dan dinginnya udara pagi mendadak memenuhi indra penciumannya. Seluruh koridor yang tadinya ramai oleh bisikan kini mendadak sunyi senyap, seolah alam semesta pun takut untuk membuat suara di dekat sang ketua geng.

Rangga tidak langsung beranjak. Ia menunduk, menatap gadis di hadapannya yang kini terlihat seperti anak rusa ketakutan di hadapan seekor serigala lapar. Alih-alih marah atau merasa terganggu karena jalannya terhalang, sudut bibir Rangga terangkat sebelah, membentuk sebuah senyuman miring yang misterius.

"Punya tangan dipakai buat megang barang, bukan malah dibiarin jatuh berserakan di jalanan," suara rendah Rangga bergema di lorong yang sunyi itu, terdengar begitu mengintimidasi namun sarat akan keanehan yang sulit dijelaskan.

Keisha menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya terasa kering. "Ma... maaf," cicitnya pelan, nyaris tak terdengar. Ia berusaha menarik buku catatannya, namun sepatu Rangga masih menahan bagian ujungnya.

"Lo siswi baru yang dapet jalur prestasi murni itu kan?" tanya Rangga tanpa mengalihkan pandangannya sedikt pun dari wajah Keisha. Tatapan itu menyelidik, seolah sedang membaca setiap inci ketakutan yang berusaha disembunyikan oleh gadis di bawahnya.

"I... iya. Tolong biarin saya ambil buku saya," jawab Keisha dengan suara sedikit bergetar, berusaha menunjukkan keberanian semu meski lututnya sudah terasa lemas. Ia tidak ingin berurusan dengan monster sekolah ini. Semakin cepat ia pergi dari sini, semakin aman hidupnya.

Rangga perlahan mengangkat kakinya dari buku tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah melewati Keisha begitu saja, meninggalkan embusan angin dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu merinding.

Keisha segera meraih bukunya, memeluknya erat-erat di dadanya seolah benda itu adalah perisai pelindung, lalu bangkit berdiri dan berlari kecil menuju kelasnya di ujung koridor. Ia tidak tahu, dan sama sekali tidak ingin tahu, mengapa tatapan tajam pria tadi terasa begitu membekas di benaknya.

Sementara itu, beberapa meter dari sana, Rangga menghentikan langkahnya sejenak. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, menoleh ke belakang sekilas ke arah pintu kelas tempat Keisha baru saja menghilang. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Di saat semua siswi di sekolah ini selalu berusaha mencari perhatiannya dengan berbagai cara murahan—mulai dari menebar senyum manis hingga sengaja mencari masalah agar ia perhatikan—gadis tadi justru terlihat begitu ingin menghilang dari dunianya.

Dan hal itu, entah mengapa, justru memancing rasa penasaran seorang Rangga Dewantara Aldebaran.

Jam pelajaran pertama dimulai dengan suara derit kapur tulis di papan tulis putih. Pak Gunawan, guru matematika yang terkenal killer, sedang menjelaskan rumus limit fungsi aljabar dengan suara yang monoton. Namun, pikiran Keisha sama sekali tidak berada di sana. Bayangan tatapan tajam dan suara bariton Rangga tadi pagi masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Kenapa harus berurusan sama dia? batin Keisha merutuki nasibnya sendiri. Ia tahu betul siapa Rangga. Desas-desus tentang geng motor Black Raven sudah menjadi rahasia umum di kalangan siswa. Mulai dari balap liar tengah malam di jalan tol lingkar luar, tawuran antar sekolah yang berujung masuk rumah sakit, hingga rumor tentang keterlibatan mereka dalam kasus-kasus premanisme di luar jam sekolah. Berdekatan dengan mereka sama artinya dengan menggali kuburan sendiri.

"Keisha?" panggil suara lembut dari bangku sebelah.

Sintia, teman sebangku sekaligus satu-satunya temannya di kelas ini, menyenggol pelan lengan Keisha dengan siku. Wajah gadis berambut sebahu itu tampak cemas. "Lo sakit? Muka lo pucet banget dari tadi. Mikirin tugas matematika ya?"

Keisha menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum tipis untuk menenangkan sahabatnya itu. "Nggak apa-apa, Sin. Cuma kurang tidur aja semalam karena ngerjain tugas tambahan."

"Eh, lu tahu nggak berita hot pagi tadi?" bisik Sintia dengan mata berbinar-binar, khas anak muda yang hobi menggosip. Tanpa menunggu jawaban Keisha, ia langsung melanjutkan, "Tadi di gerbang depan, anak-anak Black Raven bikin ulah lagi. Katanya mereka habis menang taruhan balap liar lawan geng motor dari sekolah sebelah tadi malam. Dan yang bikin heboh... Rangga kelihatan bad mood banget gara-gara ada yang coba main-main di wilayah kekuasaan kita."

Mendengar nama itu disebut lagi, perut Keisha terasa mulas seketika. "Kenapa harus dibahas sih, Sin? Biarin aja mereka sama urusan mereka. Kita kan cuma siswi biasa yang fokus belajar."

"Iya sih, tapi tetep aja, Keish. Rangga itu... ganteng banget parah," desah Sintia pelan, seolah sedang membayangkan pangeran dalam negeri dongeng, meskipun pangeran yang ia maksud adalah seorang ketua berandalan jalanan. "Sayangnya dia itu kayak es batu. Nggak tersentuh. Siapa pun cewek yang coba mendekat pasti bakal diabaikan atau dibikin malu."

Keisha dalam hati membenarkan ucapan Sintia. Baguslah kalau begitu, pikirnya. Semoga saja kejadian di koridor tadi pagi hanyalah angin lalu dan pria itu tidak akan pernah mengingatnya lagi.

Namun, harapan Keisha ternyata harus bertepuk sebelah tangan.

Menjelang jam istirahat kedua, suasana kelas mendadak berubah riuh ketika seorang siswa kelas sebelah berlari masuk dengan napas tersenggah-senggah, berteriak kencang di ambang pintu.

"Keisha Zahra Aurellia! Mana yang namanya Keisha?"

Seluruh kepala di dalam kelas langsung menoleh ke arah meja Keisha. Jantung Keisha mendadak melonjak sampai ke tenggorokan. Perasaan tidak enak langsung menghantam batinnya dengan keras.

Sintia memegang lengan Keisha erat-erat, wajahnya ikut memucat. "Keish... itu kan nama lo yang dipanggil. Ada apa nih?"

Dengan tangan dingin dan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya, Keisha perlahan berdiri dari kursi. Ia melangkah keluar kelas dengan kaki gemetar. Di ambang pintu, siswa kelas sebelah tadi menatapnya dengan pandangan aneh—antara kasihan dan ngeri.

"Lo... dipanggil ke ruang OSIS sekarang," kata siswa itu dengan suara tercekat. "Sama... sama Rangga."

Bab 2

Bab 2: Aroma Hujan di Ruang OSIS

Langkah kaki Keisha terasa begitu berat, bagaikan menyeret balok timah di setiap ayunannya. Lorong SMA Nusantara yang biasanya tampak bising oleh tawa para siswa kini terasa sunyi dan mencekam. Setiap mata yang berpapasan dengannya langsung menatap dengan sorot penuh tanya, berbisik-bisik di belakang punggungnya. Berita tentang siswi beasiswa yang tiba-tiba dipanggil oleh sang ketua geng motor tentu saja menjadi santapan empuk bagi rumor satu sekolah.

Kenapa harus aku? Apa salahku? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Keisha, menciptakan rasa cemas yang kian menumpuk di dadanya.

Sesampainya di depan pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang menggila. Pintunya tidak terkunci rapat. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, ia bisa melihat sosok pria berjaket kulit hitam sedang duduk dengan posisi kaki disilangkan di atas meja sekretariat, mengabaikan aturan dasar kerapian sekolah.

Rangga.

Pria itu sedang memainkan sebuah pemantik api logam di antara jemarinya, membuka dan menutupnya hingga menimbulkan suara klik berirama yang monoton. Di sekitarnya, dua orang anggota inti Black Raven—Satria dan satu orang bertubuh tegap bernama Bara—sedang berdiri di dekat jendela sambil memerhatikan situasi luar.

"Masuk," suara berat itu terdengar tanpa perlu Rangga menoleh ke arah pintu. Rupanya, ia sudah menyadari kehadiran Keisha sejak detik pertama gadis itu berdiri di luar.

Dengan tangan gemetar, Keisha mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ia melangkah masuk, namun langsung menghentikan langkahnya beberapa meter dari meja tempat Rangga duduk. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung manik mata kelam milik sang ketua geng.

"Duduk," titah Rangga singkat, kali ini ia menghentikan permainan pemantiknya dan menegakkan tubuhnya. Tatapannya terkunci sepenuhnya pada gadis di hadapannya.

"Saya... saya bisa berdiri di sini saja, Kak," jawab Keisha dengan suara pelan namun tegas, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di hadapan para berandalan sekolah.

Rangga mendengus pelan. Ia bangkit berdiri dari meja, postur tubuhnya yang tinggi dan tegap langsung mendominasi ruangan sempit itu. Langkah kakinya mendekati Keisha perlahan, membuat gadis tersebut secara otomatis mundur selangkah hingga punggungnya hampir membentur lemari arsip di belakangnya.

"Gue nggak suka diulang dua kali, Keisha Zahra Aurellia," bisik Rangga tepat di hadapannya, suaranya rendah namun penuh tekanan mutlak yang membuat bulu kuduk Keisha merinding seketika. Bagaimana pria itu tahu nama lengkapnya? Pikirannya mendadak kacau.

Melihat situasi yang mulai menegang, Satria berdehem kecil sambil melirik ke arah luar jendela. "Bos, kayaknya anak-anak Viper mulai berkeliaran di sekitar gerbang samping. Kita harus cek."

Rangga melirik sekilas lewat ekor matanya ke arah Satria, lalu mengangguk singkat. "Kalian keluar dulu. Jaga area luar. Jangan biarkan tikus-tikus itu masuk ke wilayah kita."

"Siap, Bos," ucap Satria dan Bara bersamaan sebelum akhirnya meninggalkan ruang OSIS, menutup pintu rapat-rapat dan meninggalkan Keisha seorang diri bersama pria paling berbahaya di sekolah ini.

Kini, ruangan itu terasa jauh lebih sempit. Udara di dalam ruangan mendadak terasa tipis bagi Keisha. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal saja. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi mint dan tembakau kembali menguar dari tubuh Rangga.

"Ka... kalau ada urusan terkait beasiswa atau pelanggaran, saya bisa dipanggil lewat guru BK," ucap Keisha terbata-bata, mencoba mencari celah untuk melarikan diri, sementara matanya tetap menatap lantai keramik.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, perlahan mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh ujung rambut Keisha yang sedikit berantakan, lalu merapikannya dengan gerakan yang sangat hati-hati—sebuah kontras yang luar biasa ekstrem dengan reputasinya sebagai ketua geng motor yang beringas.

Keisha menahan napasnya, tubuhnya menegang kaku seperti patung. Ia tidak berani bergerak sedikit pun di bawah sentuhan itu.

"Siapa yang bilang urusan sekolah?" suara Rangging terdengar serak, ada nada dingin namun terselip kelembutan aneh di dalamnya. "Lo tahu apa yang terjadi tadi pagi di parkiran, kan?"

Keisha mengerjap cepat, ingatan tentang buku catatannya yang diinjak kembali melintas. "Buku saya... itu cuma tidak sengaja jatuh..."

"Bukannya soal buku," potong Rangga cepat. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Keisha, membuat gadis itu semakin mencengkeram erat rok seragam abu-abunya. "Waktu lo lewat di dekat motor gue pas jam tujuh kurang... lo sempat lihat sesuatu di balik jaket anak buah gue yang lagi megang tas hitam, kan?"

Deg!

Jantung Keisha seolah copot dari tempatnya. Darahnya mendadak berdesir dingin. Pagi tadi, sebelum insiden buku jatuh, ia memang sempat tidak sengaja menoleh ke arah sekelompok anggota Black Raven yang sedang berdebat di dekat pagar luar. Ia melihat sebuah benda mirip pipa besi pendek dan bungkusan mencurigakan yang buru-buru disembunyikan begitu melihatnya.

Jadi... mereka tahu kalau ia melihatnya?

"S-saya nggak lihat apa-apa! Sumpah, saya nggak tahu apa-apa!" suara Keisha mulai bergetar hebat, air mata ketakutan hampir menetes di pelupuk matanya. Di dunia anak-anak berandalan seperti mereka, mengetahui rahasia kelompok geng motor bisa berujung pada ancaman keselamatan. Apakah ia akan disingkirkan? Apakah ia akan diancam?

Melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajah manis Keisha, Rangga mendadak menghela napas panjang. Ia menurunkan tangannya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sorot mata tajamnya melunak seketika, menatap gadis di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kalau orang lain yang lihat, mungkin mereka udah gue bikin bungkam sejak tadi pagi," kata Rangga dengan nada datar, namun justru membuat nyali Keisha semakin ciut. "Tapi lo... beda."

Keisha mendongak perlahan, memberanikan diri menatap mata kelam itu. "Beda... maksudnya apa?"

"Lo cewek pertama yang berani natap mata gue tanpa melengos takut, meskipun lutut lo sendiri gemetaran hebat," jawab Rangga sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang hampir tidak pernah dilihat oleh anggota gengnya sendiri. "Gue tahu lo anak baik-baik. Anak beasiswa teladan yang sibuk cari nilai sempurna buat masa depan."

Keisha terdiam. Otaknya berputar keras mencerna arah pembicaraan ini. "Jadi... Kakak mau apa dari saya? Kalau Kakak mau ancam saya supaya diam, saya janji nggak akan ngomong ke siapapun! Sumpah!"

"Gue nggak mau ngancam lo, Keisha," potong Rangga tegas. Ia melangkah mundur satu langkah, memberi sedikit ruang bernapas bagi gadis itu. "Gue cuma mau pastikan, mulai hari ini... nggak ada satu pun orang di sekolah ini yang berani nyentuh lo atau bikin buku lo jatuh kayak tadi pagi."

Keisha terpaku. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang paling ditakuti di sekolah. Perlindungan? Dari seorang ketua geng motor? Ini adalah hal terakhir di dunia yang pernah ia harapkan.

"Tapi... kenapa?" tanya Keisha dengan suara parau, bingung bercampur curiga. "Kenapa Kakak peduli? Kita bahkan nggak kenal."

Rangga terdiam sejenak. Pandangannya menerawang keluar jendela kaca ruang OSIS di mana rintik hujan mulai turun rintik-rintik membasahi lapangan upacara. Bau tanah basah dan petrikor mulai tercium dari luar, menyatu dengan keheningan di antara mereka.

"Karena di dunia luar sana, semua orang pakai topeng buat cari muka ke gue," ucap Rangga pelan, setengah berbisik pada dirinya sendiri. Ia kembali menatap Keisha lekat-lekat. "Tapi waktu lo ketakutan di depan gue tadi pagi... lo jujur. Dan gue benci kebohongan, tapi gue justru tertarik sama kejujuran yang dibungkus ketakutan itu."

Sebelum Keisha sempat merespons ucapan yang luar biasa membingungkan sekaligus mendebarkan itu, suara ketukan pintu berderit kencang dari luar.

Tok! Tok! Tok!

"Bos! Gawat, Bos!" suara Satria terdengar panik dari balik pintu ruang OSIS. Tanpa menunggu aba-aba, Satria langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar, napasnya memburu dengan peluh membasahi keningnya. "Anak Viper dateng ke area kantin belakang! Mereka nyari masalah sama anak-anak kita, dan situasinya mulai ricuh!"

Rangga yang tadinya berdiri santai langsung menegakkan tubuhnya. Aura dingin dan berbahaya kembali menyelimuti dirinya dalam hitungan detik. Sisi lembut yang sempat terpancar sesaat tadi menguap begitu saja, digantikan oleh sosok pemimpin Black Raven yang siap mencabik siapa saja yang mengusik wilayahnya.

Rangga melirik sekilas ke arah Keisha, lalu meraih jaket kulitnya yang sempat ia gantung di sandaran kursi. Ia mengenakannya kembali dengan cepat.

"Lo tetap di sini sampai hujan reda dan keadaan aman," perintah Rangga mutlak kepada Keisha, tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk membantah. "Jangan kemana-mana."

Tanpa menunggu jawaban, Rangga melangkah lebar melewati Satria,, meninggalkan ruang OSIS dengan deru langkah kaki yang tegas. Suara benturan pintu yang menutup kembali menyisakan Keisha seorang diri di ruangan yang remang-remang, diiringi suara rintik hujan yang semakin deras menimpa kaca jendela.

Keisha terduduk lemas di kursi terdekat, kedua tangannya memegang dadanya sendiri yang berdegup kencang bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena sebuah pusaran emosi asing yang baru saja dimulai.

Di luar ruang OSIS, hujan turun semakin deras, mengubah halaman SMA Nusantara menjadi basah oleh genangan air. Namun di balik tirai air hujan tersebut, badai yang sebenarnya baru saja dimulai di dalam lingkungan sekolah.

Rangga berjalan menyusuri koridor dengan kepalan tangan yang mengeras. Di ujung koridor lantai dua, bayangan musuh bebuyutannya sudah menunggu. Konflik antara Black Raven dan Viper tidak bisa lagi dihindari, dan di tengah pusaran konflik berdarah itu, nama Keisha Zahra Aurellia kini telah resmi terseret ke dalam lingkaran hitam sang ketua geng.

Waktu berlalu begitu cepat menjelang jam kepulangan sekolah.

Hujan di luar belum juga reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Keisha yang akhirnya diperbolehkan keluar dari ruang OSIS berjalan tergesa-gesa menuju gerbang depan sambil membawa payung lipat kecilnya. Ia ingin segera pulang ke rumah, melupakan semua kejadian menegangkan hari ini, dan kembali pada rutinitas normalnya yang tenang.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping ketika ia melangkah keluar area gerbang sekolah.

Di seberang jalan, di bawah naungan pohon besar yang rindang, sebuah motor sport hitam terparkir tepat di pinggir trotoar. Pengendaranya duduk di atas jok motor dengan sebelah kaki menapak ke aspal basah, mengenakan jaket kulit hitam yang sebagian bahunya basah terkena titik-titik air hujan. Wajah tajam itu mendongak, seolah memang sengaja menunggu seseorang keluar dari gerbang sekolah.

Rangga.

Pria itu melepas helmnya, membiarkan angin sore dan sisa hujan menerpa rambut hitamnya yang sedikit basah. Saat melihat sosok Keisha keluar dari gerbang, Rangga menyalakan mesin motornya, membuat suara deru knalpot racing itu meraung membelah rintik hujan.

Ia melajukan perlahan motornya, memotong jalan basah, lalu berhenti tepat di samping trotoar tempat Keisha berdiri mematung.

Rangga membuka kaca helm visor-nya separuh, menatap tajam ke arah Keisha yang berdiri dengan payung biru muda di tangannya.

"Masuk," perintah Rangga singkat, nadanya tidak menerima penolakan.

Keisha menggeleng kuat-kuat, mundur selangkah ke belakang. "Nggak, Kak! Saya bisa pulang sendiri naik angkutan umum!"

Rangga mendengus pelan. Ia mematikan mesin motornya, lalu turun dari kendaraan beroda dua itu. Langkah kakinya mendekati Keisha yang kini terjebak di dekat tiang lampu jalan. Dengan tinggi badan yang jauh mendominasi, Rangga berdiri tepat di hadapan Keisha, melindungi gadis itu dari terpaan angin sore yang dingin.

"Angkutan umum udah nggak lewat jam segini di jalur ini, Keisha," ucap Rangga rendah, suaranya terdengar begitu dekat hingga membuat napas hangat pria itu menyentuh permukaan leher Keisha. "Dan gue nggak akan biarin cewek yang pegang rahasia gue pulang sendirian dalam keadaan bahaya."

Sebelum Keisha sempat mengeluarkan protes atau kata-kata penolakan lainnya, Rangga sudah meraih pergelangan tangan gadis itu dengan lembut namun tegas—gerakan yang tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk mengunci setiap pergerakannya.

"Naik," kata Rangga mutlak, sambil menyodorkan sebuah helm cadangan berukuran lebih kecil yang tadinya ia gantung di spion motor. "Atau mau gue gendong sampai ke rumah lo?"

Keisha menelan ludahnya susah payah. Ia menatap helm hitam di tangan Rangga, lalu beralih menatap manik mata kelam pria itu yang memantulkan bayangan dirinya di bawah temaram lampu jalanan kota yang mulai menyala. Di antara deru sisa hujan dan debar jantungnya yang tidak karuan, Keisha akhirnya menyerah.

Ia tahu betul, melawan seorang Rangga Dewantara Aldebaran adalah sebuah kesia-siaan. Dan malam itu, di atas jok motor sport hitam yang membelah jalanan kota yang basah, babak baru dalam hidup Keisha Zahra Aurellia resmi dimulai—sebuah perjalanan di sisi sang penguasa jalanan yang gelap, berbahaya, namun perlahan mulai merengkuh hatinya.

Bab 3

Bab 3: Aroma Bensin dan Rahasia di Bawah Lampu Jalan

Deru mesin motor sport hitam itu menderu pelan, memecah kesunyian malam yang baru saja dibasahi oleh sisa hujan sore tadi. Bau bensin dan aspal basah menguap ke udara, berpadu dengan dinginnya angin malam yang menerpa pinggiran kota. Keisha duduk kaku di boncengan belakang. Kedua tangan kecilnya mencengkeram erat besi pegangan di bawah jok, menjaga jarak sejauh mungkin agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan jaket kulit Rangga.

Namun, laju motor yang sesekali melewati tikungan tajam membuat tubuhnya terpaksa beberapa kali hampir menubruk punggung bidang di depannya. Setiap kali hal itu terjadi, jantung Keisha berdegup sepuluh kali lebih cepat.

"Kalau mau pegangan, pegang jaket gue. Jatuh di kecepatan segini akibatnya fatal, Keisha," suara berat Rangga terdengar menembus helm full-face yang ia kenakan, mengalahkan suara angin malam.

Keisha menggigit bibirnya di balik helm cadangan yang terasa sedikit kebesaran di kepalanya. "S-saya bisa jaga diri, Kak," jawabnya setengah berteriak agar terdengar oleh Rangga.

Rangga tidak membalas ucapannya dengan kata-kata, melainkan menarik gas sedikit lebih dalam, membuat motor melesat lebih cepat di atas jalanan aspal yang hitam mengkilap. Pria itu tahu betul Keisha sedang ketakutan setengah mati, tetapi ada kepuasan tersendiri bisa membawa gadis itu keluar dari zona nyamannya—membawanya masuk ke dunianya yang bising dan penuh aturan rimba.

Lima belas menit kemudian, motor berbelok tajam memasuki sebuah area ruko tua di sudut kota yang sudah tutup. Tempat itu tampak sepi, remang-remang, dan jauh dari kawasan pemukiman padat. Di bagian belakang bangunan, lampu neon kuning berkedip redup, menerangi beberapa anak muda berpakaian serba hitam yang sedang duduk-duduk di atas jok motor mereka sambil merokok dan tertawa lepas.

Markas Black Raven.

Begitu motor Rangga memasuki halaman, suasana yang tadinya riuh mendadak mendadak hening. Semua kepala menoleh ke arah gerbang. Anggota geng motor yang tadinya bersantai langsung berdiri tegak, melemparkan pandangan hormat sekaligus penuh rasa penasaran ke arah pengendara utama mereka.

Lebih tepatnya, pandangan mereka terpaku pada sosok gadis yang turun dari boncengan ketua mereka.

Keisha melepas helmnya dengan tangan sedikit gemetar. Ia merapikan rambutnya yang agak berantakan karena angin, lalu berdiri mematung di samping motor, merasa seperti domba yang tersesat di kandang serigala. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi—ada yang terkejut, heran, bahkan ada yang menatap dengan sorot menyelidik.

"Bos? Serius nih? Lo bawa anak sekolah ke markas?" tanya Satria dengan nada tak percaya, melangkah mendekat sambil membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya hingga padam. Ia menatap Keisha dari atas sampai bawah, lalu kembali menatap Rangga dengan alis terangkat sebelah.

Rangga turun dari motornya dengan gerakan santai. Ia melepas helmnya, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari tangan kirinya, lalu menatap tajam ke arah Satria. "Ada masalah sama pilihan gue, Sat?"

"Bukannya masalah, Bos," balas Satria cepat, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah seraya tersenyum miring. "Cuma aneh aja. Biasanya tempat ini cuma diisi sama bau oli, asap rokok, sama rencana perang lawan Viper. Sekarang malah kedatangan siswi teladan peraih beasiswa teladan SMA Nusantara. Takutnya mentalnya ciut kena debu markas kita."

Mendengar sindiran halus itu, harga diri Keisha terpancing. Meskipun lututnya masih terasa lemas dan ia ingin sekali berlari pulang, ia tidak ingin diremehkan begitu saja di hadapan sekumpulan preman jalanan ini.

Dengan dagu sedikit diangkat, Keisha memberanikan diri bersuara, meskipun suaranya masih terdengar agak parau. "Saya ke sini bukan atas kemauan saya sendiri. Kak Rangga yang memaksa saya ikut."

Suasana di sekitar markas mendadak senyap sesaat. Beberapa anggota Black Raven yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam membeku. Tidak pernah ada seorang pun—bahkan wakil ketuanya sendiri—yang berani memotong atau mendebat ucapan Rangga dengan nada menantang seperti itu di hadapan umum.

Satria terbelalak kaget, lalu menoleh cepat ke arah Rangga, menunggu amarah sang ketua meledak.

Namun, di luar dugaan semua orang, Rangga justru terdiam. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Alih-alih marah karena harga dirinya dilawan oleh seorang gadis kecil, mata kelam Rangga justru memancarkan kilatan ketertarikan yang semakin dalam.

"Tuh, lu dengar sendiri," ucap Rangga santai kepada Satria, lalu melirik ke arah Keisha. "Dia bilang dia dipaksa. Padahal aslinya emang dia nggak punya pilihan."

Keisha mendengus kesal dalam hati. Pria ini benar-benar menyebalkan! Menyadari bahwa dirinya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, Keisha memilih menatap langsung ke arah Rangga dengan sorot mata protes.

"Kalau saya sudah sampai di sini dan aman dari hujan, sekarang saya mau pulang, Kak. Rumah saya jauh, dan ibu saya pasti sudah menunggu," kata Keisha tegas, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang kembali berulah akibat jarak mereka yang terlalu dekat.

Rangga menatap manik mata Keisha yang memantulkan cahaya lampu neon markas. Ada keteguhan di sana—sesuatu yang jarang ia temukan pada orang-orang di sekitarnya yang selalu tunduk karena takut atau mencari muka.

"Bara," panggil Rangga tanpa mengalihkan pandangannya dari Keisha.

"Ya, Bos?" jawab Bara, anggota berbadan tegap yang sejak tadi berdiri di dekat pintu gudang.

"Ambilkan jaket cadangan di dalam laci meja kerja gue, sama sebotol air mineral dingin," titah Rangga.

"Siap, Bos!" Bara langsung berbalik dan berlari kecil memasuki ruangan dalam markas.

Keisha mengernyitkan dahi, bingung. "Buat apa jaket sama air? Saya mau pulang, bukan mau piknik."

"Malam ini anginnya dingin, dan muka pucet lo itu kelihatan banget kalau lo sebenarnya lagi nahan lapar sekaligus syok berat," ujar Rangga tenang. Ia melangkah mendekati Keisha, membuat gadis itu reflek mundur hingga punggungnya membentur jok motor besar yang terparkir di belakangnya. Ruang gerak Keisha kini terkunci sepenuhnya di antara tubuh tinggi Rangga dan bodi motor.

Bau maskulin yang khas kembali memenuhi indra penciuman Keisha. Napasnya tercekat. Jarak mereka kini kurang dari setengah meter.

"Dengerin baik-baik, Keisha," bisik Rangga pelan, tepat di dekat telinga gadis itu, membuat suara bising di sekitar markas mendadak lenyap dari pendengaran Keisha. "Mulai hari ini, hidup lo nggak akan sesederhana dulu lagi. Lo sudah lihat apa yang seharusnya nggak lo lihat di parkiran sekolah tadi pagi. Anak-anak Viper di luar sana bukan cuma sekadar geng motor biasa; mereka tahu kalau ada orang lain yang sempat memergoki transaksi mereka, dan mereka bakal cari siapa pun yang ada di sekitar tempat kejadian."

Mendengar kata-kata itu, darah Keisha mendadak terasa membeku. Seluruh keberanian semu yang ia kumpulkan seketika menguap. "Maksud... maksud Kakak, mereka juga mengincar saya?" tanyanya dengan suara bergetar hebat. Rasa takut yang sebenarnya kini mencengkeram dadanya dengan kuat.

Rangga menatap manik mata Keisha yang mulai berkaca-kaca. Ada rasa iba yang asing menyelinap di balik dada bidang pria itu, perasaan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun seumur hidupnya. Dengan perlahan, Rangga mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu sejenak, lalu menepuk puncak kepala Keisha dengan lembut.

"Selama lo ada di bawah pengawasan gue, nggak akan ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh sehelai pun rambut lo," ucap Rangga penuh penekanan, sebuah janji mutlak yang diucapkan dengan nada suara paling serius yang pernah didengar oleh anak-anak Black Raven.

Satria dan anggota geng lainnya yang melihat interaksi itu dari jarak beberapa meter hanya bisa saling bertukar pandang dengan ekspresi terperangah. Mereka mengenal Rangga sebagai sosok pemimpin yang dingin, kejam di jalanan, dan tidak peduli pada urusan perempuan. Melihat ketua mereka memperlakukan seorang siswi biasa dengan begitu protektif adalah pemandangan paling mustahil di dunia ini.

Beberapa saat kemudian, Bara datang membawa jaket kulit hitam berukuran sedang dan sebotol air mineral, menyerahkannya dengan hati-hati kepada Rangga.

Rangga menerima benda-benda itu, lalu menyampirkan jaket hitam tersebut ke bahu Keisha yang tampak kedinginan. Ukuran jaket itu tentu saja terlalu besar untuk tubuh mungil Keisha, membuatnya tampak tenggelam di balik balutan kulit hitam berat berlogo sayap gagak. Namun anehnya, jaket itu langsung memunculkan kehangatan instan yang menepis udara dingin malam.

"Pakai. Jangan dibantah," kata Rangga ketika melihat Keisha hendak membuka jaket tersebut.

Keisha menarik napas panjang, menyerah pada keadaan. Ia merapatkan jaket di tubuhnya, merasakan aroma khas milik Rangga yang mengurung seluruh indranya. Rasa takut itu memang belum sepenuhnya hilang, tetapi ada perasaan aman yang aneh dan membingungkan yang kini mulai merayap di lubuk hatinya.

"Sekarang, gua antar lo pulang," ujar Rangga final, membalikkan badan dan kembali menaiki motor sport hitamnya. "Naik, Keisha."

Tanpa banyak bicara lagi, Keisha melangkah pelan dan kembali naik ke boncengan belakang. Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan kota yang basah, perjalanan pulang terasa jauh berbeda dari biasanya. Di balik deru mesin motor yang membelah jalanan sepi, dua jiwa yang berasal dari dunia yang bertolak belakang kini terikat dalam satu rahasia gelap yang tak terelakkan.

Sesampainya di sebuah gang sempit di kawasan perumahan padat penduduk tempat Keisha tinggal, motor Rangga berhenti tepat beberapa meter sebelum memasuki jalan masuk rumah. Keisha meminta untuk turun di ujung gang agar tidak menimbulkan kecurigaan para tetangga jika melihat seorang ketua geng motor berandal mengantar seorang siswi teladan malam-malam begini.

Keisha turun dari motor, melepas helm cadangan itu dan menyerahkannya kembali kepada Rangga dengan tangan sedikit canggung.

"Terima kasih... Kak Rangga, buat tumpangan dan jaketnya. Besok di sekolah akan saya kembalikan," ucap Keisha pelan, menundukkan pandangannya ke aspal.

Rangga menerima helm tersebut, lalu memasangkannya di spion motor. Ia menatap gadis di hadapannya lekat-lekat di bawah temaram lampu genteng warga yang berpendar kekuningan.

"Masuklah ke rumah, kunci pintunya rapat-rapat, dan jangan keluar lagi malam ini," pesan Rangga dengan nada suara yang melembut namun tegas. "Besok pagi, tunggu di halte dekat taman kota jam enam lewat seperempat. Gua jemput."

Keisha langsung menggeleng cepat. "Eh? Nggak usah, Kak! Saya bisa berangkat sendiri naik angkutan umum seperti biasa!"

Rangga mendengus pelan, menampilkan senyuman miring yang khas. "Itu bukan pertanyaan, Keisha. Itu perintah."

Sebelum Keisha sempat melayangkan protes protes panjang lebar, Rangga sudah memutar gas motornya. Kendaraan itu melesat meninggalkan gang sempit tersebut, meninggalkan suara deru knalpot yang perlahan menjauh di telan keheningan malam.

Keisha berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya merapatkan jaket kulit hitam besar yang masih melekat di tubuhnya. Aroma tembakau dan mint masih tercium samar dari kain tersebut. Ia menatap kosong ke arah jalanan kosong tempat motor itu tadi menghilang, sementara debaran di dadanya semakin tak karuan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupku? batin Keisha, menyadari bahwa dunianya yang tenang dan lurus kini telah resmi berubah selamanya sejak ia menatap mata kelam sang ketua geng di koridor sekolah pagi tadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!