Indonesia
NovelToon NovelToon

Dekat Namun Jauh

BAYANG-BAYANG DIBALIK RUMAH ALVERIC

PROLOG

Malam di Jakarta Selatan tidak pernah benar-benar hening. Di balik gerbang besi tempa yang menjulang tinggi dan deretan lampu taman bergaya Eropa klasik, kediaman keluarga Alveric berdiri megah di sebuah benteng kemewahan yang dari luar tampak sempurna bagaikan lukisan. Namun, di dalam ruangan dengan arsitektur modern minimalis yang hangat itu, perfection hanyalah etalase yang ditata sedemikian rupa.

Nayla Lauren Alveric duduk di tepi jendela kamarnya yang berukuran separuh dinding di lantai dua. Tangannya menggenggam cangkir teh chamomile yang perlahan kehilangan hangatnya. Tatapannya tertuju pada pepohonan ceri buatan di halaman bawah yang kelopaknya berguguran diterpa angin malam dengan pemandangan yang selalu mengingatkannya pada Seoul, tempat di mana separuh jiwanya seolah tertinggal.

Bagi orang luar, menjadi seorang Nayla adalah sebuah keberkahan tanpa cela. Lahir sebagai bagian dari trah Alveric yang tersohor di dunia bisnis dan hukum, hidupnya terjamin sejak napas pertamanya. Namun, menjadi bagian dari keluarga ini juga berarti harus belajar bernapas di bawah tekanan ekspektasi yang menyesakkan.

DINAMIKA DIBALIK MEJA MAKAN

Aroma black truffle steak dan sup asparagus hangat menyeruak di ruang makan keluarga Alveric. Meja kayu mahoni panjang itu menjadi saksi bisu dari rutinitas malam yang tak pernah alpa: makan malam bersama. Sebuah aturan tak tertulis yang diciptakan sang kepala keluarga demi menjaga kerukunan atau setidaknya, formalitas.

Di ujung meja, duduk Alexander Lauren Alveric, sang ayah. Pria paruh baya dengan garis wajah tegas, tatapan tajam yang mampu mengintimidasi lawan bisnisnya di meja perundingan, dan pembawaan yang selalu tenang namun dominan. Alex adalah sosok pendiri Alveric Group yang tak pernah menoleransi kegagalan. Baginya, nama baik keluarga adalah mahkota yang harus dijaga tanpa cacat. Setiap helai rambutnya yang mulai memutih justru mempertegas wibawa seorang patriarch yang tak terhentikan.

"Bagaimana progres ekspansi pasar di Singapura, Adrian?" suara Alex memecah keheningan, dalam dan berwibawa, tanpa berpaling dari piringnya.

Di sisi kanan meja, Adrian Kenzie Alveric, putra sulung sekaligus penerus takhta Alveric Group, meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang. Berusia 26 tahun, Adrian adalah cerminan sempurna dari sang ayah: berdingin dingin, rasional, dan selalu berpenampilan rapi dengan kemeja terukur sempurna. Di mata dunia bisnis, Adrian adalah si genius tak tersentuh. Di mata Nayla, kakak tertuanya itu adalah pilar pelindung yang terbiasa menyembunyikan lelahnya di balik wajah tanpa ekspresi.

"Semuanya berjalan sesuai rencana, Ayah. Tanda tangan kontrak diselesaikan akhir pekan ini," jawab Adrian singkat, padat, dan penuh kepastian. Alex hanya mengangguk pelan, sebuah gestur kepuasan yang amat langka.

"Bisnis terus. Sekali-kali tanyakan kabar anak-anakmu saat makan malam, Mas," tegur sebuah suara lembut namun memiliki ketegasan tersendiri.

Itu adalah Eleanor Sarah Alveric, sang bunda. Wanita anggun dengan tutur kata halus, paras cantik menawan yang diturunkan penuh kepada Nayla, dan senyum yang selalu hangat. Eleanor adalah mantan pianis konser internasional yang memilih memfokuskan hidupnya untuk merawat keluarga. Dialah penyeimbang di rumah yang dingin ini, sosok yang selalu tahu kapan anak-anaknya membutuhkan pelukan tanpa perlu bertanya. Tatapan matanya yang teduh menyapu satu per satu wajah buah hatinya, sebelum tertuju pada putra keduanya.

"Dan kamu, Julian... Kenapa ponselmu terus bergetar dari tadi?" tanya Eleanor lembut.

Julian Tristan Alveric, putra kedua keluarga Alveric yang berusia 22 tahun, langsung tersenyum manis jenis senyuman playboy ulung yang biasa meluluhkan hati para wanita. Berbeda jauh dengan Adrian yang kaku dan formal, Julian adalah sosok yang bebas, berjiwa seni, dan bertindak sebagai photographer serta pengusaha muda di bidang kreatif. Dengan gaya pakaian yang sedikit lebih santai dan rambut yang sedikit acak-acakan tapi tetap terlihat charming, Julian adalah warna paling cerah di rumah ini.

"Biasa, Bunda. Klien foto untuk project majalah minggu depan. Agak rewel," kekeh Julian santai, lalu mengerlingkan matanya ke arah Nayla yang duduk di seberangnya. "Atau mungkin fans-fansku yang kangen. Ya, kan, Nay?"

Nayla hanya mendengus pelan, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Julian selalu tahu cara mencairkan suasana yang kaku.

"Jangan membiasakan membawa urusan luar ke meja makan, Julian," pangkas Alex tegas, namun tak benar-benar marah. Ia tahu putra keduanya memiliki jalannya sendiri yang tak bisa dipaksa masuk ke dalam cetakan korporat.

Di sebelah Nayla, suara sendok yang beradu nyaring dengan piring menarik perhatian semua orang. Si bungsu, Aora Lauren Alveric, baru saja memasukkan potongan daging besar ke dalam mulutnya dengan pipi yang menggembung. Usianya baru 12 tahun, masih duduk di bangku SMP, dan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang belum tersentuh oleh kerumitan dunia dewasa.

"Aora, makan yang sopan, Sayang," tegur Eleanor sambil menyodorkan serbet.

"Maaf, Bunda. Aora lapar banget, tadi di sekolah ada latihan cheerleader" sahut Aora dengan polos, matanya yang bulat besar menatap sang bunda tanpa dosa. Aora adalah kesayangan seluruh rumah, manja, ceria, dan selalu menjadi alasan kenapa suasana rumah Alveric tidak sepenuhnya membeku.

Nayla memperhatikan interaksi itu dalam diam. Sebagai anak ketiga anak perempuan tertua ia sering berada di posisi serba salah. Ia tidak sekompeten Adrian dalam bisnis, tidak sebebas Julian dalam mengejar mimpi, dan tidak seleluasa Aora yang masih bisa bermanja-manja.

Nayla adalah siswi SMA yang dituntut untuk selalu tampil sempurna: anggun, berprestasi, dan tidak membawa cela. Di balik penampilannya yang cantik bagaikan boneka porselen dan sikapnya yang santun, Nayla menyimpan dunianya sendiri. Dunia yang penuh dengan rahasia, kecemasan, dan rasa sepi yang tak tersampaikan.

"Nayla," panggil Alex tiba-tiba, membuat Nayla tersentak kecil dari lamunannya.

"Ya, Ayah?" jawab Nayla cepat, berusaha mempertahankan posisi duduknya agar tetap tegap.

"Bagaimana persiapan ujian semestermu di sekolah? Dan... bagaimana perkembangan hubungan kekeluargaan kita dengan keluarga Mahendra? Ayah mendengar dari Om Kael bahwa Zavier satu sekolah lagi denganmu."

Mendengar nama itu—Zavier—jantung Nayla mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Nama yang selalu berhasil mengacaukan ritme napasnya. Nama pria yang berada begitu dekat dengannya di sekolah, duduk hanya berjarak beberapa baris meja, namun terasa jutaan mil jauhnya dari jangkauan hatinya.

"Semua... berjalan baik, Ayah," sahut Nayla pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Ujian Nayla siap. Dan soal Zavier... kami sebatas saling menyapa di sekolah."

Julian menatap adiknya dengan alis terangkat sebelah, menyadari ada perubahan raut wajah pada Nayla yang tak disadari oleh orang tua mereka. Sebagai kakak yang paling dekat secara emosional dengan Nayla, Julian tahu ada sesuatu yang disembunyikan adiknya.

"Bagus kalau begitu," balas Alex tenang. "Keluarga Mahendra adalah mitra terpenting Alveric saat ini. Jaga hubungan baik itu."

Makan malam berlanjut dengan pembicaraan formal seputar bisnis dan agenda mingguan. Nayla kembali menunduk, mengaduk supnya yang kini sudah dingin. Di balik senyum tipis yang ia sunggingkan untuk merespons gurauan Aora, pikiran Nayla melayang jauh keluar jendela, menembus pekatnya malam kota Jakarta, tertuju pada satu sosok yang bayangannya selalu menghantuinya.

Mereka berada di langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan terikat oleh takdir keluarga yang saling bertautan. Begitu dekat di mata... namun terasa sangat jauh di hati.

DI BALIK MEGAHNYA ISTANA MAHENDRA

Jika kediaman Alveric dipenuhi aura dingin yang elegan dan penuh dengan tata krama kaku, maka tak jauh dari sana, berdiri kediaman Mahendra, sebuah mahakarya arsitektur classic-modern yang memancarkan dominasi dan kekuasaan absolut. Di atas tanah seluas hektaran di kawasan elite, Istana Mahendra berdiri megah dengan pilar-pilar putih menjulang, kolam renang berukuran olimpiade, dan deretan mobil-mobil supercar yang terparkir rapi di garasi bawah tanahnya.

Di balik kemewahan yang menyilaukan mata itu, keluarga Mahendra dikenal sebagai klan bisnis paling ditakuti sekaligus disegani. Namun, di dalam rumah yang luas itu, suasana malam hari selalu dipenuhi dengan dinamika yang ramai, tajam, dan penuh dengan kepribadian yang saling bertabrakan.

DINAMIKA DIBALIK RUANG KELUARGA MAHENDRA

_______________

Aroma kopi hitam premium yang pekat dan harumnya bunga lili putih memenuhi ruang keluarga berlantai marmer Italia. Malam itu, keluarga Mahendra sedang berkumpul, di sebuah momen langka mengingat kesibukan luar biasa yang diampu oleh setiap anggotanya.

Di atas sofa kulit berdesain kustom, duduk Kael Mahendra, sang Papi. Pria paruh baya dengan wibawa mengintimidasi, garis rahang yang tegas, dan tatapan mata elang yang mampu membaca niat seseorang hanya dalam sekali pandang. Kael adalah pendiri sekaligus pimpinan tertinggi Mahendra Group, konglomerasi raksasa yang menguasai berbagai sektor industri. Di mata publik, Kael adalah sosok yang dingin, tak tersentuh, dan berhati besi. Namun, di hadapan keluarganya, ia adalah tiang utama yang ketegasannya tak pernah bisa diganggu gugat.

"Laporan merger untuk proyek di Dubai sudah saya selesaikan, Papi," suara berkarisma memecah keheningan.

Pria yang berbicara adalah Ethan Mahendra, putra sulung keluarga Mahendra yang berusia 28 tahun. Berdiri tegap dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, Ethan adalah cerminan sempurna dari sang Papi. Sebagai CEO di anak perusahaan utama Mahendra Group, Ethan dikenal sebagai pria bertangan dingin, sangat disiplin, dan efisien. Wajahnya yang tampan dengan aura pemimpin yang kuat membuatnya disegani baik di dalam boardroom maupun di luar lapangan.

Kael menyesap kopi hitamnya pelan, lalu menatap putra sulungnya dengan anggukan tipis. "Bagus. Jangan biarkan Alveric Group mengambil alih bagian porsi investasi terbesar di sana. Walaupun Alexander adalah kawan lama Papi, bisnis tetaplah bisnis."

"Tenang saja, Papi. Abang Ethan kan memang robot tanpa selera humor, mana mungkin dia kecolongan," celetuk sebuah suara dari balik laptop berlayar lebar.

Itu adalah Raka Mahendra, putra kedua yang berusia 25 tahun. Berbeda dengan Ethan yang terikat pada aturan korporat, Raka adalah sosok jenius di dunia teknologi dan venture capital. Dengan senyum miring yang khas, rambut yang ditata sedikit berantakan tapi stylish, dan pembawaannya yang lebih santai, Raka adalah otak di balik sistem keamanan digital dan investasi-investasi berisiko tinggi milik Mahendra. Raka suka memprovokasi abang sulungnya, tapi di balik itu, ia sangat menyayangi keluarganya.

Ethan hanya melirik Raka dingin tanpa berniat membalas, sudah terbiasa dengan kelakuan adiknya yang satu itu.

"Raka, jangan mulai," tegur sebuah suara anggun dan penuh kelembutan dari arah tangga.

Clara Mahendra, sang Mami, berjalan mendekat. Wanita yang memancarkan kecantikan abadi dengan busana sutra yang elegan itu membawa aura kehangatan di antara dinginnya pembicaraan para pria. Sebagai seorang kolektor seni internasional dan filantropis terkenal, Clara adalah sosok penyeimbang di Istana Mahendra. Sentuhan kasih sayangnya yang tiada tara adalah alasan mengapa anak-anak Mahendra, setegas apa pun mereka di luar, selalu kembali dan tunduk pada sang Mami.

Clara duduk di samping Kael, menyandarkan jemarinya yang terhias cincin berlian halus di atas lengan sang suami. "Ini malam minggu, Papi, Ethan, Raka. Bisakah pembicaraan bisnis disimpan dulu untuk esok hari?"

"Mami benar! Setiap kali kumpul, isinya cuma saham, merger, dan investasi. Bikin pusing tahu!" keluh Nora Mahendra, anak ketiga sekaligus putri satu-satunya di keluarga Mahendra.

Nora, yang berusia 23 tahun, adalah seorang desainer muda berbakat yang baru saja meluncurkan brand busana mewahnya sendiri. Cantik, tajam, dan sangat protektif terhadap adik-adiknya, Nora memiliki lidah yang pedas jika sudah mengkritik gaya berpakaian saudara-saudaranya. Dengan gaun santai namun bernilai fantastis yang mengenakannya, Nora meletakkan cangkir teh chamomile-nya sambil menatap sinis ke arah adik ketiganya.

"Dan kamu, Leo... Bisa tidak hentikan latihan bebanmu itu sebentar saja? Kita ini sedang berkumpul," lanjut Nora tajam.

Di sudut ruang keluarga, Leo Mahendra, putra keempat yang berusia 21 tahun, sedang santai mengangkat dumbbell ringan sembari menonton pertandingan bola di layar TV raksasa. Leo adalah seorang atlet profesional muda dan mahasiswa hukum yang memiliki postur tubuh paling tegap dan atletis di antara saudaranya. Karakteristiknya cenderung blak-blakan, penuh energi, dan selalu menjadi pembela utama jika saudara-saudaranya terlibat masalah di luar.

"Ah, Kak Nora iri saja karena bahuku makin proposional," kekeh Leo santai, menyapu keringat di pelipisnya dengan handuk kecil, lalu memasang wajah tak berdosa. "Tanya saja Zavier, latihan beban itu bikin pikiran segar, ya kan, Zav?"

Satu ruangan seketika menoleh ke sudut dekat jendela besar yang mengarah ke taman belakang.

Di sana, terasing dari keramaian percakapan saudara-saudaranya, duduk Zavier Kael Mahendra—si bungsu di keluarga Mahendra.

Zavier mengenakan kaus polos hitam dan celana santai, dengan headphone yang melingkar di lehernya. Wajahnya yang sangat tampan memiliki ketajaman yang unik, perpaduan antara rahang tegas sang Papi dan kelembutan mata sang Mami. Namun, ekspresi wajahnya begitu tenang, misterius, dan sulit ditebak. Ia duduk sambil memangku buku sketsa dan pensil di tangannya, jemarinya bergerak halus menari di atas kertas.

"Zavier?" panggil Clara lembut, tatapannya dipenuhi kasih sayang khusus untuk putra bungsunya.

Zavier mendongak pelan, melepaskan headphone-nya hingga tergantung di leher. "Ya, Mami?" suaranya berat, tenang, namun memiliki daya pikat tersendiri.

"Mami lihat akhir-akhir ini kamu sering melamun. Ada masalah di sekolah? Atau... ada hal lain yang sedang kamu pikirkan?" tanya Clara penuh perhatian.

Ethan dan Raka menghentikan perdebatan kecil mereka, sementara Kael menatap putra bungsunya itu dengan intens. Sebagai anak terakhir, Zavier memang tidak dituntut sekeras Ethan atau Raka dalam urusan bisnis Mahendra Group saat ini, mengingat ia masih duduk di bangku SMA. Namun, Zavier dikenal memiliki kecerdasan intuitif yang amat tinggi dan sifat yang paling tertutup.

"Tidak ada apa-apa, Mami. Hanya sedikit lelah dengan tugas sekolah," jawab Zavier datar, senyum tipis yang sangat tipis terukir di bibirnya untuk menenangkan sang Mami.

Nora menyipitkan matanya, menatap sketsa yang baru saja dibuat oleh adiknya. "Masa? Dari tadi Kakak perhatikan, kamu cuma memutar-mutar pensil sambil menatap keluar jendela. Seolah-olah pikiranmu ada di tempat lain."

Leo ikut terkekeh, "Atau jangan-jangan si bungsu Mahendra ini lagi naksir cewek di sekolah? Boleh juga, kasihan kalau cuma ngintip-ngintip."

Zavier hanya menutup buku sketsanya dengan gerakan tenang, tidak terpengaruh oleh godaan saudara-saudaranya. Namun di balik sikap dinginnya itu, tatapan mata Zavier meredup saat pikirannya secara otomatis melayang pada satu nama yang selalu mengusik ketenangannya di sekolah.

Seorang gadis anggun bertubuh mungil dari keluarga Alveric, yang setiap hari berjalan melintas di koridor sekolah yang sama dengannya, duduk di ruang kelas yang sama dengannya, namun selalu terasa memiliki tembok raksasa yang memisahkan mereka.

"Bicara soal sekolah," suara Kael kembali terdengar, memotong gurauan anak-anaknya. "Papi mendengar dari Alexander bahwa kamu satu sekolah lagi dengan putri mereka, Nayla. Apa kalian sering berinteraksi?"

Atmosfer di ruangan itu mendadak sedikit berubah. Nama 'Alveric' selalu membawa bobot tersendiri bagi keluarga Mahendra.

Zavier terdiam sejenak. Tatapannya menatap lurus pada sang Papi sebelum menjawab dengan nada yang sangat terjaga dan tak terbaca.

"Hanya sebatas menyapa jika berpapasan, Papi. Tidak lebih."

Clara tersenyum penuh arti, sementara Ethan dan Raka saling melempar pandangan singkat. Zavier kembali membuka buku sketsanya, namun jemarinya tak lagi menggambar. Di dalam benaknya, kalimat yang sama kembali berputar, sebuah kenyataan pahit yang selalu menyiksanya setiap kali ia berada di dekat gadis itu.

Bahwa di antara keluarga besar yang saling terikat bisnis dan takdir ini, ia dan Nayla selalu berada di tempat yang amat dekat... namun entah mengapa, terasa begitu jauh untuk saling menggapai.

DI BALIK BENINGNYA KACA KELAS

Pagi di SMA Garuda Bangsa selalu dimulai dengan ritme yang sama: deru mesin kendaraan mewah yang mengantarkan para murid, suara gelak tawa di sepanjang koridor, dan aroma kopi hangat yang menguar dari kantin utama. Sekolah swasta bertaraf internasional ini adalah tempat di mana anak-anak dari lingkaran elite ibu kota berkumpul, membawa nama besar keluarga masing-masing di balik seragam rapi yang mereka kenakan.

Nayla melepaskan pegangan tangannya dari tali tas saat melangkah menyusuri koridor lantai dua. Rok lipit berwarna abu-abu gelap dan blazer gelap bertumpuk kemeja putihnya tertata sempurna, tanpa lipatan yang salah. Dari arah luar, ia tampak bagaikan gambaran sempurna seorang siswi ideal, anggun, tenang, dan selalu memancarkan aura tenang yang sulit didekati.

Namun, di balik langkah kakinya yang teratur, benaknya masih dipenuhi sisa-sisa percakapan makan malam kemarin. Pertanyaan ayahnya tentang keluarga Mahendra terus berputar, menyisakan rasa sesak yang tertahan di dada.

"Nayla! Datar amat mukanya pagi-pagi," sebuah suara renyah menyapa dari balik punggungnya.

Nayla menoleh pelan dan menemukan Vanya, satu-satunya sahabat tempatnya biasa berbagi cerita sedang berjalan cepat menyusulnya sambil memegang kotak susu strawberi.

"Cuma agak mengantuk, Van," sahut Nayla tipis, menyunggingkan senyum kecil yang dipaksakan.

Vanya memutar matanya santai. "Mengantuk apa kepikiran seseorang? Itu tuh, si pangeran es baru saja lewat di lapangan basket bawah. Kulihat-lihat, kalian berdua ini seperti punya kesepakatan tidak tertulis untuk saling cuek, ya?"

Langkah Nayla sempat terhenti sesaat sebelum ia kembali berjalan normal. "Jangan mulai, Vanya. Kita cuma sebatas teman satu sekolah."

"Teman satu sekolah yang kalau berpapasan atmosfernya mendadak berubah dingin bagaikan kutub utara," goda Vanya lagi, tak menyadari betapa kalimat sederhana itu menyenggol sudut hati Nayla yang paling sensitif.

Ruang kelas XI IPA 1 sudah mulai terisi. Nayla berjalan menuju bangkunya di dekat jendela, posisi favoritnya karena ia bisa menatap ke arah luar tanpa harus berinteraksi dengan terlalu banyak orang. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk perlahan sembari merapikan tumpukan buku pelajaran di atas meja.

Beberapa detik kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak mereda beberapa tingkat.

Zavier melangkah masuk.

Pria itu mengenakan seragam serupa, namun dengan dasi yang sedikit dilonggarkan dan kancing teratas kemejanya yang sengaja dibiarkan terbuka santai. Postur tubuhnya yang tinggi dan garis wajahnya yang tegas membuat siapapun secara otomatis mengalihkan perhatian padanya. Zavier berjalan melintasi barisan meja tanpa menatap siapapun di ruangan itu. Pandangannya lurus ke depan, dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.

Langkah Zavier berhenti persis di barisan meja sebelah kanan Nayla hanya terpisah oleh lorong sempit selebar satu meter. Ia menarik kursi kayu itu pelan, meletakkan tas hitamnya, lalu duduk.

Jarak mereka begitu dekat. Nayla bahkan bisa mencium wangi aroma citrus dan wood yang khas dari tubuh pria itu, aroma yang selalu menempel pada Zavier setiap kali mereka berada di dalam ruangan yang sama.

Nayla tetap menatap lurus ke depan, jemarinya menggenggam pulpen sedikit lebih erat dari biasanya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Zavier meraih sebuah buku catatan bergaris dari dalam tas, membalik halamannya tanpa bersuara, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

Dekat sekali, batin Nayla perih. Tapi kenapa rasanya seperti ada dinding tebal yang tidak akan pernah bisa kutembus?

"Zav, pinjam catatan fisika yang kemarin dong!" panggil salah seorang teman sekelas dari barisan depan.

Zavier tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku bersampul hitam dari mejanya lalu menyodorkannya tanpa bersuara, hanya dibalas anggukan singkat dari sang peminjam. Pria itu memang tidak banyak bicara, namun kehadirannya selalu mendominasi ruangan.

Nayla mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap ke arah lapangan yang mulai dipenuhi sinar matahari pagi. Ia menghela napas sangat pelan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak pernah mau bersikap kompromi setiap kali Zavier berada di dekatnya.

Tepat saat Nayla berpaling, Zavier perlahan menolehkan kepalanya.

Pandangan mata Zavier tertuju pada profil samping wajah Nayla pada bayangan bulu matanya yang lentik, helaian rambut kecokelatan yang terjatuh lembut di pipinya, dan binar mata yang selalu menyimpan rasa sepi yang tak pernah diungkapkan pada siapa pun.

Zavier menggerakkan jemarinya di atas meja, menahan dorongan kuat dalam dirinya untuk sekadar memanggil nama gadis itu. Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan tentang mengapa mereka harus berpura-pura saling tak mengenal di depan dunia, sementara nama gadis itu selalu menjadi satu-satunya hal yang ia cari di antara keramaian.

Namun, Zavier tahu batasan itu. Ia tahu ikatan bisnis keluarga mereka, ekspektasi tinggi yang menekan bahu mereka masing-masing, dan benteng gengsi yang terlanjur terbangun terlalu tinggi di antara mereka berdua.

Zavier kembali mengalihkan pandangannya ke depan tepat saat guru pengajar melangkah masuk ke dalam kelas.

Keduanya duduk dalam satu ruangan yang sama, bernapas dalam udara yang sama, terpisah hanya oleh jarak beberapa jengkal. Namun di dalam hati masing-masing, ada samudera luas yang membuat mereka terasa begitu jauh, tapi tak terjangkau, tak tersentuh.

Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran pertama telah usai dan masa istirahat dimulai. Dinding-dinding kelas XI IPA 1 mendadak penuh oleh riak percakapan para murid yang saling bersahut-sahutan. Sebagian besar mulai beranjak dari tempat duduk mereka, bersiap memburu menu favorit di kantin utama, sementara beberapa lainnya memilih untuk sekadar bersandar santai di meja masing-masing.

Nayla meletakkan pulpennya di atas meja, meluruskan jari-jarinya yang agak kaku setelah dua jam penuh mencatat formula fisika. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai rasa sesak yang bertengger di dadanya sejak pagi.

"Nay, ikut ke kantin yuk? Hari ini ada spageti panggang kesukaanmu di stan Pak Budi," ajak Vanya seraya berdiri di samping meja Nayla, sambil menepuk-nepuk tas kecil berisi dompetnya.

Nayla mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang tampak sedikit lelah. "Kamu duluan saja, Van. Kepala aku sedikit agak pusing, mau tinggal di kelas sebentar untuk menghirup udara tenang."

Vanya menatap sahabatnya dengan raut khawatir, namun ia paham betul tabiat Nayla yang kadang butuh waktu untuk menyendiri. "Beneran tidak apa-apa? Mau kubelikan air mineral atau roti rasa cokelat?"

"Tidak usah, Van. Terima kasih ya. Nanti kalau pusingnya belum hilang, aku susul kamu ke UKS atau kantin," sahut Nayla lembut.

Setelah Vanya mengangguk dan berjalan keluar bersama murid-murid lainnya, ruang kelas bertahap menjadi lengang. Suara langkah kaki dan riuh tawa bertambah menjauh, menyisakan kesunyian yang tenang di dalam ruangan berpendingin udara tersebut. Nayla menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada senderan kursi. Matanya terpejam sejenak, menikmati keheningan yang amat langka di sekolah ini.

Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah gesekan halus antara kaki kursi dan lantai marmer terdengar dari barisan sebelah.

Nayla membuka matanya pelan dan menoleh. Di sana, Zavier rupanya belum beranjak sama sekali. Pria itu masih duduk di bangkunya, bertopang dagu sembari menatap lurus ke arah luar jendela. Sinar matahari pagi yang menerobos kaca memantul di garis rahangnya yang tegas, menegaskan profil wajahnya yang selalu berhasil menyita perhatian siapa saja yang melihatnya.

Zavier tidak bergeming, namun jemarinya yang mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur menandakan bahwa pikirannya sama sekali tidak sedang beristirahat.

Nayla ragu-ragu untuk bersuara, tetapi atmosfer di antara mereka terasa terlalu pekat jika hanya diisi oleh keheningan yang menekan. "Kamu... tidak ke kantin, Zav?" suara Nayla akhirnya terdengar, lirih dan halus, membelah kesunyian ruang kelas.

Ketukan jari Zavier terhenti seketika. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan memutar kepalanya, mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar jendela tepat ke arah mata Nayla. Tatapan kelam itu mengunci pandangan Nayla, dingin namun menyimpan kehangatan samar yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Tidak," jawab Zavier singkat, suaranya yang berat dan tenang mengalun rendah. "Di luar terlalu bising."

Nayla mengangguk pelan, menyembunyikan tangannya yang saling bertautan di bawah meja untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. "Iya, memang selalu begitu kalau jam istirahat."

Zavier menegakkan posisi duduknya, menyandarkan siku di atas meja sembari terus memperhatikan raut wajah gadis di sampingnya. "Wajahmu pucat, Nayla. Kamu sakit?"

Pertanyaan sederhana itu meluncur datar dari bibir Zavier, tanpa nada berlebihan, namun efeknya sanggup membuat dada Nayla berdesir hebat. Perhatian-perhatian kecil yang selalu disampaikan secara terselubung seperti inilah yang kerap membuat Nayla kesulitan menentukan batas perasaannya.

"Hanya sedikit lelah," gumam Nayla sambil mengalihkan tatapannya ke buku catatan yang terbuka di depannya. "Kurang tidur semalam."

"Lain kali jangan membiasakan diri bergadang hanya untuk menuruti ekspektasi orang lain," balas Zavier. Kalimatnya terdengar bagaikan teguran, namun ada nada kepedulian yang mendalam di dalamnya. Zavier tahu betul seberapa keras tekanan yang dihadapi Nayla di kediaman Alveric, sebuah tekanan yang tidak berbeda jauh dari apa yang dialaminya sendiri di bawah naungan nama besar Mahendra.

Nayla tersenyum samar, ada kepahitan yang tersirat dari sudut bibirnya. "Kamu bicara seolah-olah kita punya pilihan untuk santai, Zav."

Kata-kata itu tergantung di udara selama beberapa saat. Zavier menatap Nayla lebih dalam, seolah berusaha membaca tiap jengkal beban yang tersembunyi di balik senyuman anggun gadis itu. Ia mengulurkan tangannya sedikit ke tepi meja, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangan Nayla, namun tidak pernah benar-benar menyeberangi garis tak terlihat yang memisahkan mereka.

"Pilihan itu selalu ada," bisik Zavier pelan, matanya menatap intens ke arah Nayla. "Hanya saja kita berdua terlalu penakut untuk mengambil risiko."

Nayla menahan napasnya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut Zavier bisa mendengarnya di dalam kelas yang sepi ini. Keberadaan pria itu berada sangat dekat dengannya, namun pada saat yang sama, fakta bahwa mereka adalah bagian dari klan besar yang dipenuhi aturan dan takdir bisnis membuat kenyataan itu terasa amat jauh dari jangkauan.

Sebelum Nayla sempat merangkai kata untuk membalas, suara derap langkah kaki dari koridor menandakan beberapa siswa mulai kembali ke kelas, merusak momen berharga yang baru saja tercipta. Zavier menarik kembali tangannya dengan gerakan sangat tenang, memutus kontak mata mereka dan kembali bersandar di kursinya, seolah-olah percakapan hangat penuh makna tadi tidak pernah terjadi sama sekali.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!