Indonesia
NovelToon NovelToon

Satu Imam Dua Makmum

BAB 1 Hari Istimewa

Bab 1: Ikrar Suci dan Awal Baru

"Tampannya anak Ibu." Suara lembut yang selalu Azam rindukan kini terdengar begitu pelan. Seorang perempuan paruh baya dengan hijab biru muda berjalan memasuki kamar tidur Azam.

Azam menoleh lalu berjalan menghampiri sang ibu tercinta.

"Ibu," kata Azam lembut lalu membimbing sang ibu untuk duduk di sofa kamarnya.

Azam duduk di hadapan sang ibu, lalu mencium lembut punggung tangan perempuan yang telah melahirlannya itu.

"Ibu, terima kasih karena Ibu sudah menjadi ibu sekaligus rumah ternyaman untuk Azam," kata Azam lembut.

Antara bahagia, Azam juga merasakan sesak di dadanya saat melihat wajah teduh sang ibu.

"Nak, Ibu sangat bangga punya anak sepertimu. Kamu hebat, kamu kuat. Semoga kamu dan Aira sakinah, mawadah, warahmah. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian," kata Bu Nilta lembut.

Azam menatap wajah teduh sang ibu.

"Azam tidak akan mengecewakan Ibu dan Aira. Azam berharap Ibu juga bisa menerima Aira dan menyayangi Aira seperti Ibu menyayangi Azam dan Hanum," kata Azam lembut dan penuh harap.

Bu Nilta tersenyum lembut ke arah sang putra.

"Ibu sudah menganggap Aira seperti putri Ibu sendiri, makanya itu kamu jangan sakiti Aira, jangan zalimi Aira," kata Bu Nilta tegas.

Azam mengangguk mantap.

"Dengan senang hati, Bu," kata Azam mantap.

Tidak lama kemudian, Hanum datang.

"Ibu, Mas Azam, semuanya sudah siap. Semua orang sudah berkumpul di bawah," kata Hanum antusias.

Azam berdiri lalu mencubit hidung Hanum gemas.

"Kamu kelihatannya seneng banget, Dek," kata Azam meledek.

Hanum tertawa kecil.

"Iyalah, akhirnya Hanum punya teman, apalagi modelan Kak Aira, wuuuuhhh asyik dong!" kata Hanum heboh.

Bu Nilta tersenyum lembut lalu mengajak kedua anaknya untuk keluar kamar.

Azam berjalan tegap dan tegas. Di belakangnya ada Bu Nilta dan Hanum yang mendampingi.

"Kamu sudah siap, Azam?" tanya laki-laki paruh baya dengan setelan jasnya.

Azam menghentikan langkahnya lalu mencium punggung tangan sang ayah.

"Insyaallah Azam sudah siap, Yah. Doakan semoga lancar dan tidak ada halangan," kata Azam tegas.

Ayah Niko memeluk putranya bangga.

"Doa Ayah dan Ibu akan selalu ada untuk rumah tangga kalian," kata Ayah Niko sembari memukul lembut punggung sang putra.

***

Aira langsung menangkupkan kedua tangan di wajahnya, menyembunyikan air mata haru yang mengalir deras. Statusnya kini telah berubah.

Di sebelahnya, Azam mengembuskan napas lega yang amat panjang, pundaknya yang semula tegang seketika melentur.

"Silakan Mas Azam dan Mbak Aira saling berhadapan untuk pemasangan cincin dan penyerahan mahar," instruksi pak penghulu dengan senyum ramah.

Azam memutar tubuhnya menghadap Aira. Jantungnya kembali berdegup kencang, tapi kali ini karena rasa takjub.

Ia mengambil cincin emas dari kotak beludru, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyematkan cincin itu ke jari manis kanan Aira. Sentuhan kulit pertama mereka setelah sah mendatangkan sengatan hangat di dada Azam.

Aira bergantian memasangkan cincin ke jari manis Azam.

Setelah itu, dengan gerakan anggun dan penuh takzim, Aira meraih tangan kanan Azam. Ia membungkuk, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan khusyuk dan lama.

Azam menatap puncak kepala istri kecilnya itu dengan tatapan penuh perlindungan. Ia lalu mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap lembut rambut tergerai Aira, lalu mengecup kening Aira dengan penuh kelembutan.

"Cieeee! Halal mah bebas ya, Di!" seru Seno dari barisan belakang, memecah keheningan yang syahdu.

"Woi, Azam! Keningnya jangan ditiup, dicium aja! Ah elah gak asyik lo hahahah," timpal Ardi yang langsung disambut tawa renyah dari seluruh tamu undangan.

Wajah Aira seketika merona merah sehangat bunga sakura di kepalanya, sementara itu Azam hanya bisa berdecak sambil melemparkan tatapan tajam yang berpura-pura kesal kepada dua sahabat ajaibnya itu.

Bu Nilta dan Ayah Niko yang menyaksikan dari kursi saksi tampak menyeka sudut mata mereka yang basah karena bahagia. Begitu pula dengan Pak Hanif yang tersenyum lega, mengetahui putri tercintanya kini telah berada di tangan laki-laki yang tepat—laki-laki yang sejak dulu tumbuh bersamanya.

Setelah penandatanganan buku nikah, pak penghulu pun menutup acara.

"Alhamdulillah, seluruh prosesi akad nikah telah selesai. Selamat menempuh hidup baru untuk Mas Azam dan Mbak Aira," kata pak penghulu.

Azam berdiri, menuntun Aira yang masih sedikit gemetar untuk berdiri bersamanya, siap menjalani hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah.

Banyak teman-teman Aira yang datang, begitu pun dengan Azam. Banyak rekan bisnisnya dan teman-teman kampusnya yang datang. Acara dilanjutkan dengan sangat meriah.

"Sayang," bisik Azam tepat di belakang telinga Aira.

Aira yang sedang menikmati es krim seketika menoleh.

"Apaan sih Zam, sayang-sayang, geli tau," kata Aira malu.

"Makasih ya, Aira Humairaku," bisik Azam lalu mencium sekilas pipi tembam Aira.

Tanpa mereka sadari, di belakang mereka ada Ardi dan Seno yang memperhatikan.

"Yang udah nikah mah bebas ye, Sen. Gue mah masih jomblo aja," gumam Ardi yang langsung dibalas anggukan pasrah oleh Seno.

Azam yang menyadarinya sontak menoleh ke belakang lalu memukul pelan kening Seno dan Ardi.

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untuk Azam Al Ghifari dan Aira Humaira.

Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu

Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aira merasakan nyeri yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya.

"Mas, bangun," rintih Aira dengan mata berkaca-kaca.

Azam yang masih tertidur pulas langsung terbangun. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Azam khawatir.

PLAK!

Aira memukul dada bidang Azam. "Dasar laki-laki enggak peka!" kesal Aira.

Ia lalu turun dari tempat tidur. Namun baru beberapa langkah, Aira terjatuh di lantai yang dilapisi kasur lantai yang tipis, tetapi halus dan lembut.

Azam bergegas berdiri, lalu menghampiri sang istri. "Sayang ...?" Kalimat Azam terhenti saat Aira tiba-tiba menyuruhnya berhenti di tempat, padahal jarak mereka sudah begitu dekat.

"Aku enggak apa-apa, Azam! Sana gih kamu mandi, terus kita salat malam bareng," kata Aira cepat. Meski masih terduduk di bawah, Aira mencoba untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang kelihatan.

"Terus kamu gimana, Sayang? Kamu, kan, enggak bisa jalan?" kata Azam polos.

Aira cemberut. "Aku enggak apa-apa, Zam! Sudah, sana kamu mandi. Oh ya, kamu mandi di kamar mandi depan ya, aku mau mandi juga soalnya," kata Aira cepat.

Azam terdiam sejenak. Tiba-tiba senyumnya terukir begitu indah di wajah tampannya. "Gimana kalau kita mand..."

"Azam!" kesal Aira.

Azam tertawa terbahak-bahak, lalu dengan gemas mengusap lembut rambut indah Aira.

***

Pagi ini Azam sengaja memanggil Bi Siti ke rumah mereka untuk memasak dan bersih-bersih. Setelah salat subuh tadi, Aira memilih rebahan di sofa kamar sambil membaca novel. Azam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.

"Den Azam, mau Bibi panggilin Nyonya Aira?" tanya Bi Siti di ruang makan.

Azam yang sedang sibuk dengan laptopnya langsung menolak. "Biar saya saja, Bi, yang memanggil Aira," kata Azam tegas, lalu bergegas menaiki anak tangga.

Azam tersenyum melihat tingkah sang istri. "Sayang, sarapan yuk," ajak Azam sembari menghampiri sang istri.

"Gendong," pinta Aira manja.

Azam terkekeh geli, namun tetap menuruti apa yang Aira minta.

"Kamu masak sendiri, Mas?" tanya Aira santai.

Azam menggeleng. "Ada Bi Siti di bawah. Aku sengaja panggil Bi Siti ke sini buat masak sama bersih-bersih," jawab Azam lembut.

Aira mengangguk mengerti, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. "Turunin aku, Mas, nanti dilihat Bi Siti loh," pinta Aira yang masih menyembunyikan wajah imutnya di dada bidang Azam.

"Biarin, kan sama bini sendiri," goda Azam sembari menuruni anak tangga.

Aira menghirup dalam-dalam dada bidang Azam yang dilapisi dengan kaus putih itu. "Kamu kok wangi banget sih, Zam? Aku suka," kata Aira manja.

Azam tertawa kecil, lalu mendudukkan tubuh kecil Aira di kursi sebelah kanannya. "Sarapan dulu, nanti kita lanjutin yang semalam. Makan yang banyak ya biar..."

BUGH!

Dengan kesal Aira melempar Azam dengan tisu. "Plis deh, Mas, jangan mesum bisa enggak sih," omel Aira kesal.

***

Hari ini matahari bersinar begitu terik. Azam mengendarai mobil mewahnya, sedangkan Aira duduk manis di sebelahnya.

"Mas," panggil Aira lembut.

Azam menoleh. "Apa, Sayang?"

"Aku mau beli novel, boleh?" tanya Aira pelan.

Azam tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari sakunya. "Nih, pakai saja. Terserah kamu mau beli novel, rumah, hotel, apartemen, mal, atau apa pun itu yang mau kamu beli, beli saja ya. Kamu enggak akan bisa habisin uang di dalam kartu ini," kata Azam senang.

Aira menerimanya dengan sangat antusias. "Asyik! Akhirnya aku bisa habisin uang kamu, Azam jutek," kata Aira tanpa berpikir panjang lebar.

Azam mengernyit. "Jutek? Siapa yang jutek, Sayang?" kata Azam bingung.

Aira cemberut, namun tetap menerima kartu hitam pemberian Azam. "Kamu lah! Dulu saja pas kita masih sekolah, kamu tuh dingin banget kayak kulkas pintu sepuluh ribu," cetus Aira.

Azam terkekeh pelan. "Aku ini laki-laki normal, Aira. Menjaga jarak denganmu sebelum menikah itu wajib," kata Azam lembut.

"Iya sih, tapi kamu kelihatan banget tau kalau lagi cemburu," cengir Aira.

Azam terdiam. "Mana ada cemburu. Aku kan cuma enggak mau lihat kamu disakiti cowok lain, makanya aku gak..." Belum sempat Azam menyelesaikan kalimatnya, Aira langsung mencium sekilas pipi Azam.

CUP!

"Aku tahu kok, aku kan sudah gede, haha."

Azam merasakan jantungnya berdebar sangat kuat.

"Mas, kamu kenapa? Kamu malu? Mau aku cium lagi kayak tad..."

CUP!

Dengan gemas Azam mencium sekilas kening Aira hingga perempuan itu terdiam membeku di tempat.

"Ihh, Azam!" kata Aira kesal, namun pipi tembamnya merona karena malu.

"Biar adil, Sayang. Awas aja ya nanti malam aku bikin kamu..." Azam menghentikan ucapannya saat tiba-tiba suara ponsel Aira berdering.

"Siapa, Sayang?" tanya Azam yang masih menyetir.

"Hanum, Mas. Katanya Ayah sama Ibu sudah di perjalanan ke rumah kita," kata Aira syok.

Azam mengernyit bingung. "Sekarang? Kok tiba-tiba?" kata Azam heran.

"Yaudah yuk, Mas, kita putar balik saja ya. Kita jalan-jalannya nanti malam saja," kata Aira senang.

"Kamu enggak marah?" heran Azam.

Aira menggeleng pelan. "Enggak, Mas, aku enggak marah. Justru aku senang bisa ketemu sama Ibu sama si Hanum. Sudah lama loh aku enggak ketemu Hanum, hehe."

Azam tersenyum mendengarnya, lalu dengan lembut tangannya menggenggam erat tangan kanan Aira. "Aku bersyukur banget punya kamu, Aira Humaira," kata Azam tulus.

Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo

Jantung Aira berdegup begitu cepat saat melihat kedatangan Ayah Niko dan Ibu Nilta yang baru saja turun dari mobil. Meskipun dulu hampir setiap hari mereka bertemu, baru kali ini Aira merasakan kegugupan yang luar biasa.

"Kak Airaaaaaaaaa!" heboh Hanum, lalu berlari kencang ke arah Aira.

Dengan secepat kilat, Azam langsung berdiri di depan Aira dan ....

DUG!

"Awwww!" pekik Hanum saat merasakan kepalanya membentur dada bidang sang kakak yang keras.

"Abang!" pekik Hanum kesal sambil mengusap-usap kepalanya. "Ayah, Ibu, ihhh Abang ...."

"Hanum, jangan kebiasaan seperti itu, enggak sopan. Lain kali ucapkan salam dulu," tegur Bu Nilta. Hanum pun langsung cemberut pasrah.

"Assalamualaikum," ucap Ayah Niko, lalu dijawab serentak oleh Azam dan Aira.

"Silakan Ibu, Ayah, masuk," kata Aira gugup.

Ibu Nilta tersenyum teduh ke arah Aira saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu. "Loh, loh, kok masih manggil Tante saja sih? Panggil Ibu juga dong, kayak sama orang asing saja."

Aira tersenyum malu, lalu mengangguk pelan.

"Kak Aira, Kak Aira enggak kangen ya sama aku? Aku kangen tahu sama Kak Aira," heboh Hanum sambil menikmati camilan kesukaannya.

Azam dan Ayah Niko kemudian berpindah untuk mengobrol berdua di ruang keluarga. Sementara itu, Aira tetap di ruang tamu bersama Hanum dan Bu Nilta. Sebelum bersiap-siap pergi, Aira sempat meminta bantuan Bu Nilta untuk mengepang rambut panjangnya yang indah.

"Ehem, manja-manjaan saja terus," ejek Hanum yang melihat kedekatan mereka.

"Dih, apaan sih! Enggak diajak, weee," ledek balik Aira.

Azam yang tiba-tiba kembali masuk ke ruang tamu langsung menimpali, "Sayang, sana gih jalan-jalan sama Ibu sama Hanum. Beli saja apa pun yang kamu, Ibu, dan Hanum mau. Aku di rumah saja ya sama Ayah."

"Siap, Mas! Ya sudah, yuk kita ke mal sekarang, Ibu, Hanum," kata Aira antusias.

"Kamu enggak malu keluar sama Ibu, Aira? Ibu sudah tua loh," kata Ibu Nilta lembut.

Aira menggeleng cepat. "Justru Aira senang banget, akhirnya Aira punya ibu," kata Aira polos.

Hanum menoleh sambil terus mengunyah camilannya. "Kamu enggak cuma punya Ayah, Ibu, sama Bang Azam. Sekarang kamu juga punya adik perempuan yang begitu cantik, imut, dan baik hati ini, hehehe."

"Hahaha, pastinya! Kamu juga senang dong punya mbak secantik dan seimut aku, iya kan, Bu?" kata Aira sembari memeluk erat tubuh Bu Nilta.

Bu Nilta mengusap lembut rambut Aira. "Ibu senang banget punya menantu seperti kamu, Aira. Semoga Allah jaga rumah tangga kalian dari hal-hal yang tidak diinginkan."

"Aamiin," kata Aira dan Hanum bersamaan.

***

Setelah berpamitan dengan Ayah Niko dan Azam, ketiganya segera berangkat menuju salah satu mal terbesar di pusat kota. Kali ini mereka diantar oleh Pak Dadi, sopir pribadi Ayah Niko.

Di dalam mobil, Hanum tidak berhenti mengoceh tentang toko-toko baju dan kosmetik yang ingin ia kunjungi. Sementara itu, Ibu Nilta hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya itu.

"Kak Aira," panggil Hanum tiba-tiba.

Aira yang sedang duduk di sebelah Bu Nilta menoleh ke belakang. "Kenapa, Num? Kangen, ya?" kata Aira menyengir.

Hanum cemberut. "Ihh, geer banget sih kamu, Kak! Aku tuh cuma mau kasih tahu kamu, kalau nanti aku ada kado istimewa buat Kak Aira loh. Aku yakin pasti Kak Aira bakalan ucapin makasih sebanyak-banyaknya ke aku," kata Hanum sok misterius.

Aira mengernyit bingung. "Kado? Aku kan belum ulang tahun, Hanum."

"Bukan itu loh maksud aku, Kak. Masa iya aku enggak boleh kasih kado begitu? Memang boleh kasih kadonya pas hari ulang tahun doang?" kata Hanum santai. Aira hanya tertawa kecil mendengarnya.

Sesampainya di mal, suasana begitu ramai. Aira langsung menggandeng lengan Ibu Nilta dengan erat, seolah takut terpisah di tengah kerumunan.

"Ibu mau lihat-lihat gamis dulu atau kita langsung menemani Hanum?" tanya Aira lembut sambil menatap mertuanya.

"Ibu ikut kalian saja, Sayang. Ibu senang melihat kalian berdua bersemangat begini," jawab Ibu Nilta tulus.

"Ih, Kak Aira! Ke toko kosmetik itu dulu yuk! Ada liptint yang lagi viral banget, aku mau beli!" rengek Hanum sambil menarik tangan kiri Aira.

Mereka pun melangkah masuk ke dalam toko kosmetik. Hanum langsung sibuk memilih warna lipstik yang cocok untuk remaja seusianya. Sementara itu, Aira memilih menemani Ibu Nilta duduk di kursi tunggu.

"Aira," panggil Ibu Nilta pelan.

"Iya, Bu?" Aira menoleh, menatap wajah teduh yang selalu menenangkannya itu.

"Terima kasih, ya. Terima kasih karena sudah mau menerima Azam dengan segala kekurangannya. Azam itu anak yang kaku dan terlalu serius, tapi Ibu tahu, di dalam hatinya dia sangat menyayangi keluarganya, terutama kamu," kata Ibu Nilta dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.

Aira tersenyum sangat manis, lalu memeluk lengan Ibu Nilta lebih erat. "Justru Aira yang berterima kasih, Bu. Mas Azam itu sangat baik, bahkan terlalu baik untuk Aira yang masih manja begini. Aira janji akan belajar menjadi istri yang terbaik untuk Mas Azam."

"Ibu percaya kamu bisa, Nak," ucap Bu Nilta sambil mengecup pelan pelipis menantunya itu.

"Ekhem! Sudah dong peluk-pelukannya, Hanum jadi cemburu nih," celetuk Hanum yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka sambil membawa keranjang kecil berisi kosmetik pilihannya.

"Kamu ini, sama kakak sendiri kok cemburu," ledek Bu Nilta yang membuat Aira ikut tertawa.

"Yuk, sekarang giliran Kak Aira yang belanja. Tami katanya mau beli novel baru, kan? Di lantai atas ada toko buku besar," ajak Hanum antusias.

Aira mengangguk penuh semangat. Ia meraba tas kecilnya, memastikan kartu hitam pemberian Azam aman di sana.

Setibanya mereka di toko buku, Aira langsung mencari buku incarannya. "Ibu, Ibu enggak apa-apa kan kita ke sini dulu?" kata Aira merasa tidak enak karena toko terlihat sudah hampir bersiap tutup.

"Enggak apa-apa, Sayang. Kamu beli saja apa yang mau kamu beli, ya. Jangan sungkan sama Ibu," kata Bu Nilta ramah.

Aira membawa beberapa novel lalu membayarnya di kasir. Saat hendak menghampiri Ibu Nilta kembali, Aira tidak sengaja melihat Hanum sedang berbisik-bisik misterius di telinga Ibu Nilta.

"Apa benar ya yang ada di film-film? Enggak ada istilahnya ipar sama mertua tuh baik," batin Aira kocak, mendadak curiga dan ngeri sendiri.

"Aira sayang, gimana? Sudah selesai?" tanya Ibu Nilta lembut lalu berjalan menghampirinya.

"Sudah, Bu," jawab Aira setenang mungkin, mencoba bersikap biasa saja.

Ibu Nilta mengangguk. "Ya sudah, yuk kita ke restoran. Pasti kamu sudah kelaparan, kan?"

Aira hanya mengangguk patuh. Namun, sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. "Oh ya, Bu, Hanum mau ke mana kok pergi?" tanya Aira yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Ibu Nilta menoleh ke arah Hanum yang tampak berjalan menjauh. "Ibu juga enggak tahu, Nak. Mungkin saja Hanum mau beli minuman atau bertemu dengan teman sekolahnya," jawab Ibu.

Dengan susah payah, Aira menahan bibirnya agar tidak cemberut. "Aaah, Mas Azam jemput aku, huaaa!" batin Aira ngenes.

Saat mereka sudah duduk di dalam restoran, Aira buru-buru berkata, "Bu, Aira temenin Ibu makan saja ya. Aira enggak makan soalnya Aira masih kenyang."

"Loh, kenapa, Sayang? Kamu beneran enggak apa-apa?" tanya Ibu Nilta khawatir.

Aira menyengir lebar. "Aira tadi pagi makan banyak kok, Bu, hehe."

Ibu Nilta mengangguk mengerti. "Ya sudah, kamu mau pesan apa? Biar Ibu pesankan sekalian," tawar Bu Nilta lembut.

Aira melihat buku menu lalu memesan dengan antusias. "Aira mau kepiting pedas yang jumbo ya, Bu. Sama cumi bakar sepuluh, sama ikan bakar tujuh porsi, hehehe," kata Aira tanpa dosa.

"Iya, Sayang. Ya sudah, Ibu tinggal sebentar ya untuk memesan," pamit Bu Nilta.

Setelah memastikan sang mertua benar-benar pergi ke kaunter pemesanan, Aira bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Azam.

"Assalamualaikum, Mas," kata Aira pelan.

"Waalaikumussalam, Sayang. Ada apa, Sayang?" jawab Azam dari seberang telepon.

"Mas, tolong ya masakin nasi sekarang juga yang banyak! Soalnya aku sama Ibu mau makan di rumah. Kamu tahu sendiri kan tadi pagi Bi Siti cuma buatkan roti bakar sama susu," kata Aira cepat-cepat.

"Hahahah!" Aira mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar suara tawa renyah sang suami.

"Iya, Sayang, iya. Aku masak nasi sekarang. Ya sudah gih, sana lanjutkan belanjanya, aku masak dulu ya, Sayang," kata Azam lembut.

"Iya, Mas, makasih ya. Ya sudah, aku matiin dulu yaaa, daaa!" kata Aira lalu mematikan sambungan teleponnya.

Aira tersenyum senang lalu berjingkrak-jingkrak sendiri di kursinya karena kegirangan. "Aaaaa bahagianya aku punya suami kayak kamu, Mas, emmmmmuach!" katanya heboh sendiri.

Tanpa disadari, dari kejauhan Bu Nilta memperhatikan menantunya itu sambil tersenyum senang melihat tingkah laku Aira yang begitu bucin. Begitu pun sebaliknya, ia tahu Azam juga tak kalah bucin dari Aira.

"Semoga kalian selalu bahagia, ya," batin Bu Nilta tulus.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!