Di zaman kerajaan kuno, ada seorang pangeran tampan bernama Arjuna. Dia terkenal memiliki keahlian luar biasa di dalam dunia medis yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Saat itu, di kerajaan Kencana, Arjuna sedang mengobati ayahnya yang sedang sakit keras.
Dengan penuh keyakinan, Arjuna berkata, "Sebentar lagi Ayah pasti akan sembuh."
Raja Wira tersenyum lemah, lalu tiba-tiba menyodorkan sebuah kalung indah yang berliontin batu giok kepada putranya. "Simpan kalung ini baik-baik, Arjuna. Ini adalah benda pusaka pemberian dari kakekmu. Suatu saat nanti, kalung ini pasti akan berguna dan melindungimu."
Arjuna segera menerimanya dengan rasa hormat. "Terimakasih, Ayah."
Namun tiba-tiba dia mendengar suara teriakan.
"Pangeran, ada musuh menyerang kerajaan!"
Dengan nada cemas dia berkata kepada ayahnya yang terbaring lemah. "Ayah, tenanglah. Aku akan pergi memeriksa keadaan."
Raja Wira sangat merasa cemas, "Hati-hati, Arjuna."
Arjuna segera menyimpan kalung pemberian ayahnya di atas meja. Tanpa membuang waktu, dia segera menyambar pedang, lalu berlari keluar menuju halaman istana.
Di sana, pasukan kerajaan sudah berkumpul dengan siaga, bersiap menghadapi serangan yang datang tiba-tiba.
Tak lama kemudian, terlihat pasukan musuh datang menyerbu. Jumlah mereka sangat banyak sekali, mencari ribuan orang.
Pertempuran pun terjadi.
Trang!
Trang!
Trang!
Suara benturan pedang terus terdengar saling bersahutan. Arjuna memimpin pasukannya dengan gagah berani di barisan depan.
Sring!
Dengan gerakan cepat, dia menebas setiap musuh yang berani mendekat ke arahnya.
Namun, karena serangan itu dilakukan secara mendadak, pasukan istana menjadi kewalahan tanpa persiapan yang cukup. Banyak prajurit yang gugur. Meski begitu, Arjuna tidak takut sedikit pun, dia terus melawan dengan sekuat tenaga.
Saat Arjuna sedang sibuk bertempur di halaman depan, tiba-tiba terdengar suatu dari arah kamar istana tempat ayahnya berada.
"Ahhh!"
Arjuna segera berlari ke kamar ayahnya.
Dia sangat terkejut saat melihat ayahnya yang telah mati dengan cara yang sangat mengenaskan, dengan bersimbah darah pada bagian perutnya.
Padahal ayahnya telah dijaga dengan ketat oleh banyak pengawal, tapi mereka tak mampu mengalahkan kekuatan musuh.
Disana, berdiri seorang pria bernama Bima, dia adalah seorang manusia setengah siluman, yang telah memimpin pasukan pemberontak.
"Ayah!" teriak Arjuna dengan suara parau, hatinya hancur berkeping-keping.
Dia memeluk tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. "Ayah, jangan pergi, aku mohon."
Bima pun tertawa. "Hahaha... sebentar lagi kerajaan ini akan menjadi milikku."
Dengan penuh amarah, Arjuna menatap penuh kebencian pada Bima. "Kau telah membunuh ayahku! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"
Tanpa pikir panjang, dia segera menyerang Bima dengan penuh kemarahan.
Trang!
Trang!
Trang!
Keduanya saling menyerang dan menangkis serangan.
Namun, kekuatan pasukan musuh terlalu besar. Satu persatu prajurit gugur di medan perang. Pasukan kerajaan telah kalah.
Hanya Arjuna sendirian dikepung musuh, tubuhnya terluka parah.
Bima pun berkata dengan penuh percaya diri. "Sekarang bersiap-siaplah untuk mati ditanganku, Pangeran Arjuna."
Namun, tiba-tiba cahaya putih menyilaukan mata.
WUSH!
Dalam sekejap mata, Arjuna menghilang.
"Kemana dia? Mengapa dia tiba-tiba menghilang?" ucap Bima dengan nada kebingungan.
Ternyata, Arjuna telah diselamatkan oleh kekuatan batu giok yang tersimpan di dalam liontin kalung pemberian dari ayahnya.
...***************...
Seribu tahun berlalu...
Dunia yang dulu dipenuhi suasana kerajaan, jalan berbatu, halaman luas, dan hutan yang rimbun, kini telah berubah total menjadi zaman modern yang penuh dengan gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk teknologi.
Di tengah padatnya kota Jakarta, terlihat seorang dokter muda yang sangat cantik bernama Helena Niroga, dia adalah putri dari keluarga konglomerat Niroga Group.
Dia sedang berdiri di atas bukit dengan perasaan sedih. Mengingat hari ini adalah hari pernikahan kekasihnya dengan kakak kandungnya sendiri.
Selama ini hubungan dia dengan Reno baik-baik saja, tidak pernah ada masalah apapun. Tapi tiba-tiba, Reno malah melamar Nova.
Rasanya begitu menyesakkan di dalam dada, karena dia harus dikhianati oleh kekasih dan kakak kandungnya sendiri.
Saat ini, Helena sedang bersiap-siap bermain paralayang, untuk melampiaskan rasa sakitnya. Disana berjajar beberapa pengawal yang selalu siap siaga menjaganya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Beep...
Beep...
Beep...
Helena mendapatkan panggilan telepon dari sang ayah. Tapi dia enggan mengangkatnya.
"Nona, Tuan Axel menghubungi saya. Tuan bertanya dimana Nona sekarang. Sebentar lagi pernikahan Tuan Reno dan Nona Nova akan segera digelar," lapor salah satu pengawal dengan nada hormat.
"Biarkan saja," jawab Helena dengan nada dingin.
Helena tidak sudi datang ke acara pernikahan mereka.
Dia pun segera berlari kecil menuju ujung landasan, hingga tubuhnya terangkat dan mulai terbang di angkasa.
Dari atas ketinggian, Helena sangat menikmati keindahan hutan yang terhampar begitu luas, pepohonan dibawah sana seperti miniatur hijau yang sangat indah.
Hal tersebut mampu mengobati rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
Namun, tali pengaman di bagian sayapnya tiba-tiba terputus.
"Apa aya terjadi?!" ucap Helena dengan panik.
Angin kencang menerpa tubuhnya, membuat arah terbangnya tak terkendali. Dia berputar-putar kehilangan keseimbangan, lalu jatuh meluncur deras menuju kawasan hutan belantara yang lebat.
BRAK!
BRAK!
Tubuh Helena menghantam dahan-dahan pohon besar, tubuhnya tersangkut di salah satu dahan yang kokoh.
"Ah! Sialan! Kenapa aku harus terjatuh seperti ini?" umpatnya dengan nada kesal, menahan rasa nyeri.
Tali paralayangnya terjerat di ranting-ranting, membuatnya tergantung tak berdaya. Hari ini benar-benar sial untuknya.
Dengan susah payah, dia berusaha melepaskan diri. Menggunakan sisa tenaga yang yang dia miliki, tapi sangat sulit sekali.
"Ah! Apa yang harus aku lakukan?" keluhnya dengan perasaan cemas.
Dia melirik ke bawah, memperkirakan jarak ke tanah yang ternyata tidak terlalu jauh. Dengan keberanian, dia pun segera merobek jeratan tali itu hingga lepas, lalu melompat turun ke tanah dengan selamat, meski tubuhnya penuh memar dan pakaiannya kotor.
"Ah! Hidupku benar-benar sial!" gerutunya lagi.
Dia yang sikapnya selalu angkuh. Apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi. Dan banyak pelayan yang siap melayaninya, meskipun sering terkena omelannya setiap hari. Kini, hidupnya benar-benar sengsara.
Dia sangat terkejut saat menyadari bahwa dirinya berada di tengah hutan belantara yang sangat sunyi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Dengan frustasi, dia segera berteriak minta tolong.
"Tolong!"
"Tolong aku!"
Namun, suaranya hanya memantul di antara pepohonan rimbun.
Dia segera merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar, lalu mengeluarkan ponselnya. Dia berniat segera menelepon untuk meminta bantuan. Namun nIhil, tidak ada sinyal sama sekali.
Di layar ponselnya hanya terlihat tanda silang. Helena segera naik ke atas batu yang berukuran besar demi mendapatkan jaringan, namun hasilnya tetap sama. Jaringan di hutan belantara ini benar-benar mati.
"Ah, sial!" bentaknya dengan penuh marah sambil membanting ponselnya ke tumpukan rumput kering.
Dia pun terduduk lemas di atas batu, nafasnya tersengal-sengal, sangat merasa lelah.
...****************...
Sementara itu, di sebuah aula pernikahan, Reno dan Nova telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Nova sangat terlihat bahagia sekali, dia memeluk lengan Reno yang kini telah menjadi suaminya.
Namun, Reno hanya diam. Sedari tadi dia mengedarkan pandangannya, seakan mencari keberadaan seseorang.
Axel Niroga terlihat sangat gelisah, dia beberapa kali mencoba menelpon putrinya, tapi tidak diangkat. Bahkan kini, ponselnya tidak aktif.
"Dia kemana? Kenapa ponselnya tidak aktif?" gumamnya dengan nada cemas.
Zora menghela nafas saat memperhatikan suaminya yang sedari tadi mencoba menghubungi Helena. "Ya udah sih, Pa. Kalau memang dia gak mau angkat telepon. Gak perlu dipaksa."
Axel mendengus kesal. "Sebagai seorang adik, seharusnya dia datang ke pernikahan kakaknya. Dia harus menghargai perasaan Nova."
Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaan Helena. Dari kecil, perlakuan mereka memang selalu tidak adil. Mereka sangat memanjakan Nova. Sedangkan Helena, dia disuruh harus selalu mengalah. Dengan alasan, dulu Nova sering sakit-sakitan.
Helena dan Reno telah menjalin hubungan selama lima tahun, dari mereka sama-sama masih kuliah.
Hubungan mereka selalu harmonis. Bahkan sudah berencana untuk menikah pada tahun ini. Tapi, ternyata Nova diam-diam menginginkan Reno.
Entah bagaimana ceritanya, satu minggu yang lalu, Reno dan keluarganya datang ke Mansion Niroga untuk melamar. Helena pikir mereka datang untuk melamar dirinya, saat itu hatinya sangat berbunga-bunga.
Flashback On...
Satu minggu yang lalu, Helena sangat kaget saat melihat Reno dan keluarganya datang ke mansion. Saat itu, kedua keluarga itu sedang berkumpul bersama di meja besar.
Helena berkata sambil tersenyum pada Reno yang sedang duduk di sebelahnya. "Ya ampun, Reno. Kenapa kamu gak bilang dulu sama aku kalau kamu dan keluargamu mau datang kesini untuk melamarku? Apa kamu ingin memberikan kejutan untukku?"
Reno tak langsung menjawab. Dia terlihat kebingungan. Kemudian dia memberanikan diri untuk menatap Helena. "Helena, maafkan aku..."
Namun, ucapan Reno dipotong oleh Zora. "Helena, Reno dan keluarganya datang kesini untuk melamar kakakmu, Nova."
Senyuman di wajah Helena memudar begitu saja. "Mama ini bicara apa? Jangan bercanda deh. Reno itu pacar aku. Gak mungkin dia melamar Kak Nova."
Axel dan Zora saling berpandangan. Lalu dengan berat hati Axel mengatakan, "Nova telah hamil satu bulan. Dia mengandung anaknya Reno."
Masih flashback...
Saat itu, hati Helena benar-benar hancur. Dadanya benar-benar merasa sesak. Dia sama sekali tidak menyangka, dia telah dikhianati oleh kekasih dan kakak kandungnya sendiri.
Helena tersenyum getir. "Gak mungkin. Kalian pasti bercanda, kan? Gak mungkin Kak Nova mengandung anaknya Reno. Kenapa bisa..."
Helena tidak sanggup meneruskan perkataannya, suaranya tercekat di tenggorokan. Hatinya benar-benar sakit.
Zora menghela nafas. "Mama harap kamu paham dengan situasi ini. Anak yang dikandung Nova sangat membutuhkan seorang ayah. Karena itu, Reno harus bertanggung jawab atas perbuatannya."
Reno memegang tangan Helena. "Helena, dengarkan dulu penjelasan aku..."
Dengan penuh amarah, Helena menepis tangan Reno dengan kasar. Dia langsung menampar wajah pria itu.
Plak!
Helena bertanya sambil menangis. "Jadi, selama ini kamu diam-diam telah berselingkuh dengan Kak Nova? Kenapa harus dengan kakak aku? Kenapa kamu tega melakukannya?"
Reno hanya diam, menundukkan kepalanya.
Flashback Off...
Wajar saja jika Helena tidak ingin datang ke acara pernikahan mereka. Karena luka yang mereka torehkan begitu dalam.
Beep...
Beep...
Beep...
Ponsel Axel tiba-tiba berdering. Dia mendapatkan panggilan telepon dari seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Helena.
Axel segera mengangkatnya. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendengar kabar dari pengawal tersebut.
"Apa?! Helena menghilang?!"
...****************...
Sudah tiga hari berlalu, tapi keberadaan Helena belum juga ditemukan. Hal tersebut membuat Axel semakin gelisah.
Dia telah mengerahkan banyak orang untuk mencari Helena melalui jalur darat dan udara dengan menggunakan helikopter, termasuk tim SAR terbaik. Namun, hutan itu terlalu lebat dan luas. Sangat sulit melacak keberadaan Helena di sana.
Bukan hanya Axel, Reno pun diam-diam telah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan Helena. Karena sebenarnya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih sangat mencintai gadis itu.
Saat ini Nova memang sedang mengandung anaknya, tapi hal itu terjadi karena sebuah kesalahan. Bukan karena mencintai Nova. Karena itu, selama tiga hari mereka menikah, Reno memilih untuk tidur di sofa.
Reno berencana setelah anak itu lahir, dia akan menceraikan Nova. Lalu kembali pada Helena. Sangat berharap gadis itu mau memaafkannya.
"Cepat kerahkan lebih banyak orang lagi. Aku gak mau tahu, pokoknya Helena harus segera ditemukan," ucap Reno dengan tegas kepada anak buahnya.
"Baik, Tuan."
...****************...
Di tengah hutan, Helena kini terlihat sangat kelelahan. Dia benar-benar merasa frustasi karena belum juga bisa menemukan jalan keluar dari hutan belantara ini.
Saking putus asanya, dia melontarkan perkataan dengan asal-asalan. "Siapapun orang yang bisa menyelamatkan aku. Jika dia pria, aku akan jadikan dia suamiku. Jika dia wanita, aku akan menjadikan dia saudaraku."
Tiba-tiba, kakinya menginjak sebuah benda aneh yang tertimbun daun kering dan tanah lembap. Dia segera membungkukan badannya untuk memeriksa.
Dia mengerutkan keningnya saat melihat sebuah kalung tua, dengan liontin batu giok berwarna putih.
"Apa ini?" gumamnya dengan nada penasaran.
Dia segera mengusap-ngusap permukaan batu giok yang kotor itu dengan telapak tangannya, untuk melihat bentuk aslinya.
WUSH!
Seketika itu juga, tiba-tiba cahaya putih yang sangat terang menyembur keluar dari dalam giok itu, menyilaukan matanya.
Karna sangat kelelahan, Helena merasakan kepalanya pusing. Dia telah kehilangan kesadarannya.
Namun, tiba-tiba ada seorang pria yang dengan sigap menahan tubuhnya.
Ternyata, pria itu adalah Arjuna.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!