Dante membentak sopirnya untuk kesekian kalinya. Wajah yang biasanya kaku tanpa ekspresi kini tergores cemas yang begitu nyata, saat ia merasakan tubuh yang ia peluk semakin melemas tak berdaya.
Salju pertama turun menyelimuti kota X, jalanan yang sepi kini tertutup hamparan putih sempurna. Sopir itu tampak bimbang, tak tahu harus berbuat apa saat tuannya menggeram memerintahkannya untuk melaju secepat mungkin.
"Bertahanlah... kumohon padamu..."
Nada suaranya kini begitu lembut, penuh kehati-hatian saat ia berbicara pada sosok yang ia genggam erat. Clark mendongak perlahan, kesadarannya perlahan memudar, namun ia masih bisa mendengar jelas suara penuh keprihatinan itu keluar dari pria yang selama lima tahun ini selalu ia pandang dengan rasa takut.
Selama ini, Dante adalah sosok yang jauh dan dingin. Namun hari ini, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Clark berani menatap wajah itu dari jarak sedekat ini. Ia melihat dengan jelas bagaimana manik mata hitam pekat pria itu kini berkaca-kaca hanya untuknya.
"Tetaplah sadar... jangan tutup matamu," ucap Dante bergetar.
Darah semakin deras mengalir dari luka tembak di dada Clark. Dante berusaha menekan luka itu sekuat tenaga, berharap pendarahan itu akan berhenti.
"S-sakit..." rintih Clark pelan.
Mendengar itu, jantung Dante seakan berhenti berdetak. Tangan pria itu gemetar saat ia kembali berkata, "Bertahanlah sebentar lagi. Kita akan segera sampai di rumah sakit."
Ia berusaha meyakinkan istrinya sekaligus menenangkan dirinya sendiri. Sungguh, hal ini terasa begitu mencekam baginya.
Dante, pemimpin mafia yang dikenal berhati batu, yang sudah biasa melihat darah dan mayat sehari-hari, yang bahkan pernah berhadapan maut berkali-kali tanpa rasa gentar sedikit pun, kini ia diliputi ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan itu hadir saat melihat darah segar terus merembes membasahi dress putih yang dikenakan istrinya.
"AKU KATAKAN LEBIH CEPAT! APA KAU TULI?!" teriaknya kembali pada sopir, amarah dan kepanikan bercampur menjadi satu.
Dengan sisa tenaga yang ada, Clark perlahan mengangkat tangannya, mencoba menyentuh wajah suaminya untuk pertama kalinya. Selama lima tahun mereka bersuami istri, tak pernah ada interaksi layaknya pasangan lain.
Clark tinggal di kediaman Dante, namun lebih tepatnya ia menempati bangunan kecil yang agak terpisah dari bangunan utama. Pertemuan mereka pun bisa dihitung dengan jari, sehingga tak pernah ada kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal lebih dekat.
Namun saat itu, Dante segera menangkap tangan itu, menempelkan telapak tangan hangat istrinya ke wajahnya, lalu mengecupnya berulang kali dengan penuh kerinduan yang tak pernah terucap.
"Kau... menangis karena aku?" tanya Clark dengan suara yang begitu lemah.
Dante mengangguk cepat, membuat pikiran Clark berputar di tengah rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.
"Kita akan segera sampai... kau pasti selamat. Aku takkan membiarkan apa pun terjadi padamu," janji Dante, disertai butiran air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya yang dingin.
Clark tersenyum tipis. Wajahnya yang pucat kini berlumuran darah, mungkin terlihat mengerikan bagi siapa saja, namun baginya ada rasa bahagia yang aneh menyelinap di hati. Bahagia karena mengetahui bahwa pria yang selama ini ia hindari ternyata menyimpan perasaan begitu dalam padanya, meski nyawanya kini sudah di ujung tanduk.
"Clark! Buka matamu! Jangan tidur!"
Dante berteriak histeris saat kelopak mata itu perlahan menutup. Ia memanggil-manggil nama istrinya berkali-kali, namun tak ada lagi tanggapan dari tubuh yang terbaring tak berdaya dalam dekapannya.
***
Jam terasa berjalan begitu lambat saat Dante mondar-mandir di depan ruang ICU. Rumah sakit elit itu seketika berubah menjadi seperti markas perang. Puluhan anak buahnya berdiri tegap di setiap sudut, membuat siapa saja yang melintas merasa ngeri dan tak berani bersuara.
Saat pintu terbuka, Dante segera melangkah cepat menghampiri.
"Bagaimana keadaannya?"
Tiga dokter ahli itu tiba-tiba berlutut di hadapannya, tubuh mereka gemetar hebat.
"Tuan Dante... ampuni kami. Kami tidak sanggup menyelamatkan..."
Belum sempat kalimat itu tuntas, sebuah tendangan keras melesat menabrak dada dokter yang berbicara, membuat pria itu terlempar ke belakang.
"Kami sudah berusaha sekuat tenaga, Tuan," pinta dua dokter lainnya dengan suara bergetar. "Namun kami tak berdaya melawan takdir."
"Brengsek!" amuk Dante, matanya memerah menahan rasa sakit yang meluap-luap. "Jika kalian tak bisa menyelamatkan istriku, maka kalian pun harus ikut mati bersamanya!"
Kota Celaya berubah mencekam seperti kota yang terlupakan, darah menyelimuti setiap sudut kediaman keluarga Luca.
Tiga hari setelah kematian sang istri, Dante membantai habis seluruh keluarga sang istri dengan kekejaman yang tak terkira, menembaki tubuh mereka tanpa ampun dan menggantung mayat-mayat berlumuran darah itu di depan pintu utama.
Bukan tanpa alasan pria itu melakukan hal mengerikan seperti itu, karna kematian Clark memang disebabkan oleh Marco (ayah Clark) yang bekerja sama dengan Andrew, musuh bebuyutannya.
Marco memanfaatkan ulang tahun ke-54nya untuk mengadakan pesta perjamuan, di mana kehadiran Clark yang adalah putri bungsu dari mendiang istri pertama pria itu menjadi tumpuan perhatian.
Tanpa diduga, Dante yang datang hanya berdua dengan Clark sudah menjadi target incaran mereka sejak awal. Peluru yang ditembakkan salah sasaran hingga menembus tubuh Clark yang berdiri tepat di sampingnya.
Dante awalnya tidak menyadari apa yang terjadi, tak ada suara letusan senjata api yang menyebalkan di ruangan itu. Namun ia merasa aneh ketika Clark yang selama ini selalu menjaga jarak padanya mendadak mencengkram lengannya dengan kuat. Tatapan Dante menyala tajam ketika dress Clark yang seputih salju tiba-tiba tercatat merah oleh darah yang mengucur.
Tanpa sempat terkejut atau berpikir siapa pelakunya, Dante dengan cepat membopong Clark di kedua lengannya dan melarikan diri menuju mobil, meninggalkan ruangan yang langsung berubah kacau dengan teriakan histeris dan kepanikan ketika tamu menyadari ada korban penembakan.
Kini, peluru lain tepat menembus kepala Marco, mengakibatkan darah mengucur deras membanjiri wajah pria tua itu. Tubuh kakak dan ibu tiri Clark juga ikut digantung berdampingan dengan mayat pria itu.
Keluarga Renato kini sudah tamat, Dante hanya menyisakan putri tertua alias kakak kandung Clark yang bernama Chlara.
Perempuan yang Dante tahu sangat menyayangi istrinya itu tersenyum penuh kepuasan melihat wajah ketiga mayat itu. Baginya, itu adalah balasan yang pantas.
Selama hidupnya, ayah kandungnya adalah manusia sampah yang hanya membuat Clark, ibunya, dan dirinya terluka. Pria bajingan itu menipu ibunya dengan memanfaatkan cinta tulus wanita itu untuk merampas hartanya.
Setelah semua keinginannya tercapai, ia memperlakukan mereka seperti budak, menahannya pada bangunan kecil di sudut kediaman, lalu membawa jalang peliharaannya dan putrinya lain ke dalam rumah sehingga membuat penderitaan sang ibu semakin parah, sang ibu akhirnya depresi dan mati bunuh diri.
"Astaga.. apa dia benar-benar suamiku?"
Clark menatap sekelilingnya, saat ini ia hanya bisa berbicara sendiri karna tak ada yang bisa melihat arwahnya yang masih berkeliaran di sekitar Dante.
Dante yang sudah selesai melakukan pembalasan bagi Clark, kini duduk di kursi dekat jendela besar yang menghadap taman, itu merupakan tempat yang paling Clark sukai untuk bersantai semasa ia hidup.
Dengan jari yang menggenggam cincin di jari manisnya, Dante kembali menyesap alkohol yang sudah beberapa hari ini menemaninya.
Pria itu tampak kuyuh dan menyedihkan, sangat berbeda dari Dante yang Clark kenal.
Clark dilanda kebingungan. Ia tak habis pikir mengapa sampai saat ini belum ada malaikat maut yang menjemputnya, mengapa ia masih dibiarkan berkeliaran di dunia fana dan harus melihat pria yang selama 5 tahun ia takuti karena wajah datar dan rumor buruknya.
Dante yang ia kenal adalah sosok mafia kejam yang tak punya hati. Bagaimana bisa pria seperti itu kini terlihat begitu terpuruk? Apakah ia menangisi kematiannya?
Sejauh yang Clark tahu, Dante tidak pernah memperhatikannya semasa ia hidup. Mereka menikah hanya karena ayahnya memiliki hutang kepada Dante, dan Clark hanyalah tumbal untuk melunasi semua utang itu.
Selama 5 tahun pernikahan, karena rumor yang beredar, Clark selalu berusaha menghindari Dante. Dan sepertinya pria itu juga tak ambil pusing, mungkin terlalu sibuk dengan urusannya sehingga sengaja mengabaikannya.
Bahkan selama itu, Dante tidak pernah sekali pun menyentuhnya lebih jauh. Hanya satu kali ia menangkap lengannya ketika Clark tersandung.
"Heran deh, malaikat kok nggak dateng jemput aku ya? Padahal aku nggak merasa punya penyesalan yang belum terselesaikan deh.. atau mungkin ini karna Dante yang belum mengikhlaskan aku ya?," pikir Clark yang hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang.
Clark tiba-tiba merasa lemas, bukan karena lapar atau haus, sebab sejatinya ia bukan lagi makhluk yang membutuhkan hal itu. Namun sebagai arwah yang tak kasat mata, ia merasa bosan terombang-ambing di dunia ini tanpa kejelasan.
Ia ingin segera pergi ke alam baka, agar bisa bertemu kembali dengan ibunya yang sudah lama tiada. Namun ia tak bisa, sosok yang seharusnya menjemputnya tak kunjung datang, membiarkannya mengembara tanpa status yang jelas. Dan yang paling mengerikan adalah saat ia tak sengaja berpapasan dengan arwah lain.
Sungguh, ia begitu takut meski ia sendiri adalah arwah. Tapi tentu saja, dia kan Clark! Arwah yang imut, manis, dan punya senyum mempesona. Ya, sedikit narsis memang, tapi benar, kan? Sudahlah, lelah membahas betapa menggemaskannya arwah ini.
Sudah empat puluh hari ia mengikuti ke mana pun suaminya pergi. Dan dari hari ke hari, penampilan Dante semakin memburuk. Tubuh yang dulu tegap, berisi, dan berotot kokoh, kini tinggal tulang yang hanya dibalut kulit.
Wajah tampan yang selalu memesona meski tanpa senyum, kini tampak tua seketika, sungguh sesuatu yang membuat hati Clark teriris perih.
Seperti hari-hari sebelumnya, Dante kini duduk di kursi dekat jendela, meneguk alkohol yang seolah menjadi teman setianya dalam meratapi kesedihan. Seandainya ada lagu, mungkin pria itu pas sekali membintangi video klip lagu sedih tentang sebotol minuman penghilang rasa sakit.
Ceklek...
Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita bertubuh sintal melangkah masuk, dengan pakaian yang sengaja memamerkan lekuk tubuhnya. Dante bergeming, seolah tak peduli pada siapa pun atau apa pun yang ada di sekelilingnya. Wanita itu mendekat sambil membawa nampan berisi makanan.
Clark mengenalnya dengan sangat baik. Itu adalah Elena, salah satu pelayan di kediaman Dante, namun penampilannya dan sikapnya sering kali melebihi seorang majikan.
"Tidak tahu malu!" desis Clark dalam hati. Semasa hidupnya, wanita ini selalu saja mencari masalah,mulai dari sengaja menumpahkan makanannya, membakar pakaiannya saat menyetrika, hingga menjelek-jelekkannya secara terang-terangan pada pelayan lain.
Namun, dulu Clark memilih mengabaikannya, berusaha mencari aman. Bagaimanapun, meski ia adalah istri Dante, ia merasa tak ubahnya seperti tawanan yang dibawa masuk ke sini.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan tanpa cinta, dan Dante memperlakukannya seolah tak dianggap. Anehnya, Clark justru merasa lega dengan sikap dingin itu, ia tak perlu bersusah payah menjaga jarak. Namun saking abainya Dante, para pelayan pun berani bersikap kasar padanya. Tapi Clark tahu bahwa itu semua sekarang hanya masa lalu.
"Tuan..." suara wanita itu terdengar manja namun bergetar. "Tuan, saya membawakan makanan. Tolong berhentilah minum... Nyonya Clark sudah tiada..."
CTAARRR!!!
Gelas kristal itu hancur berkeping-keping saat Dante membantingnya keras ke dinding membuat Elena tersentak kaget.
"Tu..."
Belum sempat ia melanjutkan kalimat, Dante sudah mencengkeram dagunya dengan kuat.
"Tutup mulut kotormu! Kau tidak pantas menyebut nama istriku!" Mata Dante menyala penuh amarah. "PERGI!"
Ia mendorong wanita itu hingga terjatuh ke lantai.
"T-tuan... saya hanya khawatir pada Anda," cicitnya berusaha bangkit. "Jangan terus meratapi kepergiannya. Hidup Anda begitu berharga. Makanlah sedikit saja... daripada terus bersedih, bukankah lebih baik Anda mulai membuka hati untuk orang lain? Biarkan seseorang masuk dan mengisi kekosongan yang ditinggalkannya."
Dante menoleh perlahan. Ia diam, namun keheningannya membuat Elena merasa berani. Ia bangkit, mendekat kembali, sengaja membuka kancing bajunya dan mencoba meraih tangan Dante untuk meletakkannya di dadanya.
Melihat pemandangan itu, Clark hampir saja memuntahkan isi perutnya meski ia tahu itu tak mungkin.
Clark tahu betul siapa suaminya, sesosok mafia yang tak asing dengan kekerasan maupun dunia gelap. Namun melihatnya secara langsung seperti ini sungguh tak sanggup ia terima. Bagaimanapun, ia adalah istrinya. Istri mana yang sanggup melihat suaminya bersanding dengan wanita lain tepat di hadapannya?
"Dasar hidung belang!" cibirnya dengan bibir mengerucut. "Untung aku mati masih suci. Setidaknya aku tak pernah disentuhmu.. kalau tidak, mungkin aku sudah mati duluan tertular penyakit dari wanita murahan ini yang sering kau temui di luar sana!"
DORR!!!
"Astaga!!!"
Clark menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Tepat saat senyum puas mengembang di bibir Elena, Dante menarik pistol dari pinggangnya, menempelkan moncongnya ke mulut wanita itu, dan menarik pelatuknya. Darah menyembur ke wajah Dante dan membanjiri lantai saat tubuh wanita itu terkulai lemas.
Tanpa ragu, tanpa emosi berlebih, Dante melakukannya seolah itu hal biasa. Ia kembali menghadap jendela, meletakkan senjatanya, lalu meraih botol minumnya kembali seolah tak terjadi apa-apa.
"Istriku..." bisiknya parau. Perlahan ia mengelap cincin di jari manisnya yang terkena darah, dengan kelembutan yang tak pernah Clark lihat selama hidupnya. Itu adalah cincin pernikahan mereka, cincin yang selalu Dante pakai, sementara Clark hanya memakainya sekali saat akad nikah sebelum melepasnya karena terlalu besar dan menyimpannya di tempat yang kini entah di mana.
Dante tak pernah menangis seumur hidupnya. Bahkan saat orang tuanya tewas dalam kecelakaan, ia hanya diam terpaku tanpa ekspresi.
Namun kali ini... untuk pertama kalinya, air mata jatuh saat ia memeluk tubuh Clark yang sekarat. Saat darah membasahi pakaiannya, suara Dante bergetar dan air mata mengalir deras membasahi pipinya.
'Kenapa Dante begini? Bagaimana mungkin? Bukankah aku hanyalah alat pembayar hutang? Kenapa ia menangisiku? Kenapa ia hancur begitu saja setelah kepergianku?'
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!