"Mas, kapan pulangnya? Masa sudah jam segini belum juga kembali?"
Milka melirik jam dinding yang tergantung tepat di atas televisi. Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas, sementara jarum panjang telah melewati angka dua belas. Sudah lebih dari satu jam ia mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali melirik layar ponselnya, berharap nama sang suami muncul di layar dengan kabar bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.
Di balik sambungan telepon itu, tanpa ia ketahui, Delvando Argianda, suaminya, sedang bergumul mesra dengan seorang wanita di atas ranjang sebuah hotel.
Wanita itu adalah Irana.
Sahabat Milka sendiri.
Tangan Vando menjelajah tubuh Irana tanpa ragu, sementara bibir mereka saling menuntaskan rindu yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
"Loh? Bukannya kamu juga sibuk? Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini."
Nada suara Vando terdengar santai. Namun, di sela ucapannya, ia mengecup bibir Irana lagi. Wanita itu membalas dengan desahan pelan sambil mengusap dada bidang Vando.
Suara lirih itu samar, tetapi cukup membuat Milka mengernyit.
"Apa?" gumamnya. Ia mencoba lebih fokus mendengar suara aneh yang ada di sekitar suaminya. "Kamu lagi sama siapa?"
"Hah? Maksudmu?" Vando menahan tangan Irana yang terus mengusap beberapa bagian sensitifnya.
"Aku mendengar suara perempuan."
Vando menahan napas sejenak. Irana justru tersenyum jahil, sengaja mengecup lehernya hingga pria itu hampir kehilangan kendali.
"Aku lagi lembur di kantor. Banyak yang belum selesai. Makanya, kamu tak perlu menungguku."
Milka masih terdiam. Kepalanya masih menebak-nebak apa yang sedang dilakukan suaminya.
Entah mengapa, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Oke, ya? Kamu tidur aja dulu. Nanti kalau pekerjaanku sudah beres, aku segera pulang."
"Tapi aku mau video call—"
Tut.
Belum usai Milka menyatakan keinginannya, ternyata panggilan telah diputus secara sepihak.
Milka menurunkan ponselnya perlahan.
Tatapannya kosong.
Dadanya terasa sesak oleh kekecewaan yang sulit dijelaskan.
Ia sudah meminta cuti beberapa hari demi menghabiskan waktu bersama suaminya. Bahkan sejak siang tadi, ia sengaja menjalani perawatan spa, membeli pakaian tidur baru, lalu menyiapkan makan malam dengan tangannya sendiri.
Semua itu ia lakukan demi menyambut pria yang baru satu bulan lalu resmi menjadi suaminya.
Namun hingga malam selarut ini, pria itu belum juga berniat untuk pulang.
Pandangan Milka beralih ke pantulan dirinya di cermin.
Lingerie berwarna hitam yang membungkus tubuhnya terasa begitu memalukan.
Ia bahkan sempat gugup saat mengenakannya.
"Terlalu berlebihan, ya?" bisiknya pelan, memaksakan senyum yang tak pernah benar-benar terbentuk.
"Tapi ... kami ini kan suami istri."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu menyedihkan.
Sebulan menikah.
Sebulan pula Delvando belum pernah benar-benar menyentuhnya sebagai seorang istri.
Milka selalu mencoba berpikir positif.
Mungkin suaminya lelah bekerja.
Mungkin masih canggung.
Atau mungkin memang membutuhkan waktu.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, keraguan mulai merayapi hatinya.
Apa benar Vando hanya sibuk bekerja?
Atau ...
Ada wanita lain yang sedang mengisi tempat yang seharusnya menjadi miliknya?
Milka menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran buruk itu.
"Jangan berpikir macam-macam."
Ia menarik napas panjang, lalu mematikan lampu kamar. Ia menarik selimut menutupi diri dari sejuknya pendingin udara yang sengaja disetting jika memang malam ini akan menjadi malam pertama mereka sebagai suami istri yang seharusnya.
Tanpa ia sadari ...
Di sebuah hotel yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah mereka, Delvando kembali menenggelamkan dirinya dalam pelukan Irana.
Malam itu ...
Seorang istri menangis sendirian ...
Sementara seorang suami menikmati pengkhianatan yang bukan hanya satu kali dilakukannya.
*bersambung*
Dua Minggu Setelah Resmi Menikah
Suasana kantor mulai lengang menjelang jam makan siang.
Delvando Argianda duduk termenung di depan layar komputernya. Berkali-kali ia mencoba berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan, tetapi pikirannya terus melayang entah ke mana.
"Bang?"
Suara lembut itu membuat Vando menoleh.
Irana berdiri di samping mejanya sambil membawa dua gelas kopi hangat.
"Abang dari tadi melamun terus." Ia meletakkan salah satu gelas kopi itu di hadapan Vando. "Buat Abang."
"Terima kasih."
Irana tak langsung kembali ke mejanya. Ia justru menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Vando.
"Kenapa? Pengantin baru kok mukanya kusut begitu?"
Vando hanya tersenyum hambar. "Nggak apa-apa," ucapnya singkat.
"Bohong."
Irana memperhatikan wajah pria itu beberapa saat. "Abang kelihatan lebih capek dibanding sebelum menikah."
Vando mengembuskan napas pelan. "Namanya juga penyesuaian."
"Penyesuaian apa?"
"Rumah tangga."
Irana mengangguk pelan.
"Aku pikir pengantin baru itu selalu bahagia."
Vando kembali tertawa hambar. "Itu cuma kelihatannya."
Irana lalu menyentuh punggung tangan Vando dengan lembut. "Kalau butuh teman cerita ... aku siap menjadi pendengar."
Sentuhan singkat itu membuat Vando menoleh. Jemari Irana tampak putih, halus, dan terawat. Tanpa sadar, ia mulai membandingkannya dengan tangan Milka yang lebih kecokelatan karena sering bertugas di lapangan.
Baru kali ini Vando benar-benar memperhatikan Irana.
Wanita itu selalu tampil rapi. Rambut panjangnya tergerai indah dengan aroma sampo yang lembut. Senyumnya hangat, membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya.
Berbeda dengan Milka yang hampir setiap hari pulang dalam keadaan lelah, rambut diikat alakadarnya, dan masih sibuk memikirkan pekerjaannya.
"Kenapa lihat aku begitu?" tanya Irana sambil tersenyum.
Vando tersentak. "Ah ... Nggak ... nggak apa-apa," jawabnya setengah kikuk.
"Abang aneh."
Vando hanya tersenyum tipis.
"Biasanya Milka pulang jam berapa?" tanya Irana kemudian.
Vando mengangkat bahu. "Nggak tentu."
"Sering lembur?"
"Mungkin semenjak menikah, ia hampir setiap hari lembur."
"Sampai malam?"
"Kadang tengah malam. Kadang hampir pagi. Bahkan pernah beberapa kali nggak pulang karena tugas."
Irana menggeleng pelan. "Berat juga ya."
Vando kembali mengembuskan napas. "Aku merasa tinggal sendirian di rumah itu."
Kalimat itu membuat Irana tahu bahwa pria di hadapannya sedang berada pada titik paling rapuh.
"Kalau aku jadi istri Abang ..."
Vando mengangkat kepala.
"... aku nggak akan membiarkan suamiku merasa sendirian."
Suasana mendadak hening. Tatapan mereka saling bertemu. Irana buru-buru mengalihkan pandangan.
"Eh, maaf. Aku kebanyakan ngomong."
Namun, kalimat itu telanjur tertanam di benak Vando.
.
.
.
Jam kerja pun berakhir.
Satu per satu karyawan meninggalkan kantor.
"Bang."
Irana menghampiri meja Vando. "Masih banyak kerjaan?"
"Nggak juga."
"Temenin aku makan, yuk."
Vando sempat ragu. Saat mengecek ponselnya, ternyata tak ada satu pun pesan dari istrinya. Ia akhirnya mengangguk.
"Oke."
Mereka menuju sebuah lounge yang tenang. Suasana remang-remang dan alunan musik pelan membuat percakapan terasa semakin akrab.
"Jujur," ucap Vando setelah beberapa saat, "Aku sebenarnya menikah karena permintaan orang tua."
Irana menatapnya tanpa menyela. Sebenarnya ia tahu kisah mereka. Karena Irana memang telah menjadi sahabat Milka semenjak SMA. Vando setiap hari menjemput Milka. Kadang-kadang, dia juga ikut nebeng bersama mereka.
"Aku pikir semuanya akan berjalan baik," tutur Vando menggantung.
"Lalu?"
"Ternyata kami malah semakin jauh."
Irana menggeser gelas minumnya pelan. "Abang pernah menyampaikan ke Milka?"
"Percuma. Dia selalu sibuk dan menomorsatukan pekerjaannya."
Irana menghela napas. "Kasihan juga Abang."
Perhatian sederhana itu membuat hati Vando perlahan luluh.
Selama ini tak ada yang benar-benar mendengarkan keluh kesahnya. Malam pun semakin larut. Saat hendak pulang, Irana menggenggam tangan Vando.
"Abang nggak sendiri."
Vando menatap wanita itu cukup lama. Di dalam kepalanya, suara hati terus mengingatkan bahwa wanita di hadapannya adalah sahabat istrinya. Namun, rasa sepi yang selama ini ia pendam perlahan mengalahkan suara hatinya.
Malam itu...
Vando membuat keputusan terburuk dalam hidupnya. Keputusan yang menodai pernikahannya yang bahkan belum genap sebulan.
.
.
.
Sejak malam itu, semuanya berubah. Pesan-pesan dari Irana semakin sering memenuhi ponselnya. Alasan lembur mulai menjadi kebiasaan.
Kebohongan demi kebohongan pun mengalir begitu saja dari bibirnya. Sementara Milka...
Tak pernah menyadari bahwa rumah tangga yang sedang ia jalani perlahan runtuh karena pengkhianatan dua orang yang paling ia percaya.
.
.
.
Kembali ke masa sekarang.
Hari itu Milka memberanikan diri mengambil cuti selama tujuh hari, walau komandan merasa keberatan. Namun, dengan beberapa alasan Milka, akhirnya sang atasan membubuhi tanda tanganya di atas surat cuti Milka.
Ia ingin menghabiskan waktu bersama suaminya. Namun, suami yang tak kunjung pulang, akhirnya ia menarik selimut menutupi diri yang masih mengenakan pakaian khusus suami istri.
Waktu pun berpindah di pagi harinya. Hawa dingin pendingin udara terasa menusuk membuatnya terbangun. Perlahan ia membuka mata. Tubuhnya, tak lagi tertutup oleh selimut karena Vando telah menguasai penghangat itu sepenuhnya.
Senyum tipis sempat terbit ketika melihat Vando telah tertidur di sisi ranjang.
"Mas ... Sudah pulang?"
Sampai detik ini, ia belum menyadari. Dalam penantiannya, sang suami sudah tak lagi membayangkannya sebagai istri sesungguhnya.
*Bersambung*
Ada perasaan mengganjal di hati Milka saat menyadari suaminya tega membiarkan ia tidur dalam keadaan terbuka padahal pakaiannya begitu minim. Sementara itu, Vando meringkuk nyaman di bawah selimut.
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia segera menepisnya. Milka bangkit melepaskan lingerie, lalu berganti pakaian dengan yang biasa ia kenakan. Lalu menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim di subuh hari.
Ia segera membersihkan diri dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu, seakan lupa hari ini adalah waktu cutinya, tanpa sadar Milka telah bersiap mengenakan pakaian kerja, seragam kepolisian yang membungkus tubuhnya dengan sangat pas.
Sang suami terlihat mulai menggeliat. Milka memejamkan mata, meneguhkan hatinya. "Mas, bangun. Sholat Subuh dulu! Aku heran, kenapa akhir-akhir ini kamu tak terlihat lagi melaksanakan Solat Subuh?"
Vando menggeliat, menatap jam pada dinding kamar. Tanpa sepatah kata pun, ia beringsut turun dan langsung menuju kamar mandi. Milka yang mengharap mendapat sapaan pagi hanya bisa mematung karena keberadaannya diabaikan begitu saja.
Milka menggelengkan kepala, menepuk kedua pipinya pelan. 'Tidak! Aku tidak boleh berpikir macam-macam! Mungkin Mas Vando buru-buru karena terlambat bangun.'
Milka menyiapkan pakaian dan alat solat untuk suaminya, lalu merapikan peralatan kerja di dalam tas pria itu. Namun, jemarinya tanpa sengaja memyentuh satu benda yang terasa cukup familiar.
Sebuah gelang, ingatannya beralih cepat pada benda yang dulu pernah ia berikan kepada sahabatnya, Irana, saat pulang liburan dari Bali sebelum menikah dengan Vando.
'Kenapa gelang Irana ada di dalam tas Mas Vando?' batin Milka curiga.
Milka membolak-balik gelang itu beberapa kali. Tidak mungkin ia salah ingat. Ia sendiri yang memilih motif itu saat berlibur ke Bali. Bahkan Irana sempat memeluknya sambil berkata, "Aku akan selalu memakainya."
Suara selot pintu kamar mandi yang terbuka membuat Milka buru-buru menyimpan gelang tersebut ke dalam kantong seragam dinasnya.
Milka berpura-pura menyisir rambut sembari melirik suaminya yang keluar dari kamar mandi. Vando terlihat malas melaksanakan solat, tetapi dilaksanakan juga.
Setelah itu, ia menyerahkan deodoran dan parfum yang biasa digunakan suaminya. Milka selalu melakukan rutinitas penuh pengabdian ini setiap hari, meskipun mereka hanya memiliki status pernikahan karena perjodohan.
Ia menyerahkan baju kerja suaminya. Semuanya berlangsung hening tanpa suara. Dan ini memang selalu terjadi, reaksi tanpa sepatah kata di antara mereka.
"Mas?" Milka membantu mengancingkan kemeja pria tampan itu, menatap mata suaminya dengan sendu.
Jemarinya sempat menyentuh dada Vando. Namun pria itu malah mundur setengah langkah.
Hati wanita kuat itu berdesir hebat. Perasaannya seketika berkecamuk. Getaran di tangannya mulai terasa, tetapi ia tetap meneguhkan hati.
Mata sang istri makin berkaca-kaca, meskipun saat ini ia sedang mengenakan seragam wanita tangguh pelindung negeri. Milka menarik tisu, segera mengusapkannya pada sudut mata supaya tidak merusak riasan yang memperkuat keanggunan dirinya.
Milka beralih menuju meja makan dan mulai sarapan duluan tanpa mengatakan apa pun. Saat Vando selesai bersiap, Milka bangkit menyambar tas kerjanya. Ia menarik tangan Vando dan menciumnya sopan.
"Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban atau berharap diberi kecupan, Milka melangkah pergi, raut datar masih menggantung pada wajah Vando.
Namun, setelah terdengar pintu ditutup dari luar, bibir Vando pun tersenyum tipis dengan segera mengeluarkan ponselnya melakukan video call tanpa rasa waspada.
Di luar, Milka yang baru teringat bahwa harusnya hari ini ia cuti. Ia mengusap kening dan menggelengkan kepala.
"Kenapa sampai lupa?" Ia pun berbalik arah menarik kembali selop pintu dengan pelan.
Saat hendak melangkah masuk, langkahnya terhenti total. Dari celah pintu, ia mendengar suara suaminya sedang bertelepon mesra dengan seseorang.
Diam-diam, naluri Milka memaksanya mendengarkan obrolan tersebut.
"Kamu udah sarapan belum, Sayang? Aku sedang makan sandwich yang dibuatkan oleh Milka."
"Milka mah nggak bisa masak, Bang. Kalau aku, pagi-pagi gini pasti bakal masakin sarapan yang lezat buat Abang."
"Iya, Abang percaya kok. Kalau tahu dari dulu kamu lebih hebat segalanya dari dia, Abang mungkin menolak dijodohkan dengan wanita itu. Apalagi ... dada kamu sangat indah, beda jauh sama punya Milka."
Dengan gerakan refleks, Milka menyentuh dadanya sendiri. Seketika, air matanya menetes perlahan dan semakin deras. Pundaknya bergetar, dan ia mulai merangkai jawaban dari teka-teki pernikahannya ini.
"Ternyata tadi malam Milka udah menyiapkan dirinya semalam buat bercinta sama aku."
"Lalu kamu ladenin?" Suara wanita di seberang ponsel terdengar sedikit meninggi.
"Enggak dong. Aku udah kecapean enam ronde sama kamu, jadi aku ketiduran sampai telat bangun."
DEG!
Rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada Milka.
Bukan lagi rasa curiga.
Melainkan keyakinan bahwa rumah tangganya memang sedang dihancurkan oleh orang-orang yang paling ia percaya.
*bersambung*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!