Pada pagi hari yang cerah, tepatnya di Stasiun Tokyo. Papan informasi elektronik bertuliskan ‘for Nagoya, Shin-Osaka’. Para calon penumpang berlarian cepat sambil membawa koper juga tas mereka agar nggak ketinggalan.
“Sudah sampai. Harap tidak ada barang ketinggalan yang lupa nggak dibawa! Silakan cek-cek lagi! Para penumpang berikutnya, dipersilakan memasuki kereta secara teratur.”
Kilauan rambut hitam penuh cahaya menyinari para calon penumpang yang melewatinya.
“Wangi sekali!”
“Siapa wanita tadi?”
“Muehehe! kayaknya kalau dia jadi istriku bakal cocok banget. Ya, kan! Arisu!”
“Nggak usah kebanyakan halu, Tanaka!”
Komentar dari para laki-laki remaja hingga dewasa yang baru saja keluar dari Gerbong paling depan tak dipedulikannya. Wanita ini bertubuh ramping seperti seorang model atau mungkin artis.
“Fuehh...!! Capek bangett...!!”
Karena capek, wanita ini memutuskan duduk di bangku melingkar yang di tengahnya berdiri tegak sebuah pilar kaca. Saling tembus semua sisi yang menyebabkan siapapun dapat melihatnya dari segala arah.
Orang-orang yang nggak sengaja duduk di dekatnya membuat mereka grogi sampai kabur gemetaran.
Wanita ini menyadarinya dan langsung menghela napas kesal. “Mouu...!! Jadi cantik menyusahkan banget!”
Kacamata putihnya dilepas dan tampak lebih cantik lagi. Pipi merona, mata merah menggoda, semua itu begitu mempesona.
“Omong-omong, kenapa kau nggak kabur kayak mereka?”
Pertanyaan itu ditujukan pada seorang laki-laki remaja yang 1 cm lebih pendek darinya. Blazer + kemeja + dasi tertutup rapat oleh sweater abunya. Hanya sepatu dan celana gelapnya saja yang menjadi pesona utamanya.
Ekspresinya begitu dingin dan dia tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. wanita ini pun kesal dan agak menggodanya sedikit dengan memperlihatkan paha kiri mulusnya keluar.
Rok gelapnya terangkat ke atas hingga membuat sebelahnya lagi kelihatan jelas. Beberapa pejalan kaki pria yang asalnya buru-buru naik sempat berhenti sejenak. Dalam sekejap, mereka semua menyemburkan darah dari hidung.
Mimisan serentak itu juga hilang dalam sekejap. Bagaikan badai bunga yang bertebaran di segala penjuru stasiun hingga membuat siapapun yang melihatnya ikut takjub, kecuali dia seorang.
Walau sudah digoda, hal tersebut tak berguna padanya. Wanita ini makin kesal dan mendekatinya perlahan hingga menutupi sorot cahaya matahari ke atas kepalanya.
“Kenapa mengabaikanku terus, anak nakal?!”
Kancing kemeja putih agak terbuka sedikit sehingga kulit bagian dalamnya terekspos keluar.
Untungnya, situasi yang dapat menyebabkan kemaluan besar baginya tak ada satupun saksi mata melihatnya, kecuali dia seorang.
Karena masih nggak dijawab. Dia makin kesal dan memilih mengambil konsol gamenya dari kedua tangannya.
Dalam sekejap, tangisan keluar dari matanya. Hal tersebut membuat wanita ini merasa bersalah.
“Ma-maafkan aku! To-tolong jangan bersuara! N-nih! Ku kembalikan.”
Karena takut tangisannya menimbulkan suara, ia memilih kembali menyerahkannya saja. Untungnya, tangisannya berhenti dan dirinya kembali seperti semula.
Merasa tidak diperhatikan lagi, dia malah makin kesal dan dengan cepat langsung memilih berbaring di atas kedua pahanya.
“Umyann!! Nikmat banget!! Pahamu lembut ya, anak nakal!”
Pujian pun tak membuatnya bergeming. Namun, begitu kemarahannya meningkat lagi, ia sedikit tersadarkan oleh tampang tampannya.
Mata hitam dan rambut ikalnya sangat menggoda baginya. Leher simetris sampai proporsi tubuhnya tegak lurus membuatnya kaget setengah mati.
Dalam sekejap, tubuhnya memudar sambil bergumam: “I-imut sekalii...!! Baru pertama kali ku temukan cowok seimut kamu. Bo-bolehkah aku menjadi pacarmu?”
Untuk pertama kalinya, mulutnya terbuka sedikit dan menjawab: “Aku tidak suka wanita. Mereka merepotkan seperti yang ku rasakan selama bersama mama dan kedua kakak perempuan bodohku. Jadi, agar terhindar dari itu semua, aku memutuskan meninggalkan kehidupan bersama dan memilih hidup di asrama.”
“Jadi... Apa jawabanmu?”
Dengan ekspresi wajah yang masih sama, ia menjawab: “Nggak mau. Dari dulu hingga sekarang, aku tak pernah memikirkannya. Pacaran akan membuatmu hancur dan itu sudah terwujud kepada mereka bertiga. Papa dan suami-suami sia*an mereka membuatku muak.”
“Seharusnya aku tidak usah kembali, tapi...”
Suasana hatinya sejenak berubah jadi mengerikan, namun dalam sekejap selanjutnya, kelembutan tergambar jelas. “Kalau dibiarkan, mereka akan membuatku makin stres.”
“Memikirkan bagaimana keluargaku bertahan hidup, adalah tugas dariku. Mereka tak bisa hidup tanpaku dan itu adalah fakta yang mungkin sebagian orang tidak bisa menerimanya mentah-mentah karena belum mempunyai bukti.”
Hahaha! Aku menemukan seorang laki-laki kecil yang sangat menarik! Dari segala penjelasannya, sepertinya dia masuk kriteria cowok yang pengen ku nikahi di masa depan nanti.
Tipe pekerja keras, tidak ingin menjadi beban keluarga, membiayai orang-orang terdekatnya, inilah yang selama ini ku inginkan.
Untuk sekarang aku bakal bertanya hal penting saja. “Pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya abaikan saja. karena kau begitu menarik, bisa tolong katakan siapa namamu? Ku mohon!”
Baru saja dia membuka mulutnya lagi, wanita ini langsung menggoyang-goyangkannya. Karena kesal, daripada terus mengabaikannya, ia memilih mengakhiri semuanya dengan jawaban:
“Hayakawa Yugioh, 15 tahun.”
Awawawa!!! Usianya sama sepertiku! Muehehe... Aku bisa menjadikannya pacarku kan! Ku kira perbedaannya bakal jauh banget, ternyata enggak.
“Nama yang imut. Oh benar! Kuroyuki Yukino, 15 tahun. Aku mungkin kelihatan dewasa bagimu, tapi sebenarnya tidak, hehehe.”
Yugioh tampak kebingungan. “Begitu ya! Senang bertemu denganmu, Kuroyuki-san!”
21 Januari 2011 adalah tanggal lahirku. Sekarang adalah tanggal 21 Maret 2026. Dua bulan sudah berlalu dari perayaan ulang tahunku.
“Oh iya, Hayakawa-kun lahir bulan apa?”
Ia menjawab: “Februari 15.”
Woahh! Aku beneran lebih tua darinya ternyata. Ku kira dia, ternyata diriku, hahaha. “Begitu ya! Omong-omong, Januari 21 adalah ulang tahunku.”
“Aku nggak nanya dan apakah kau boleh menyingkir dari pahaku! Mama bilang dia sudah ada di depan.”
Apa yang harus ku lakukan sekarang? Menahannya mungkin akan membuatnya membenciku, berarti pilihanku adalah...
“Boleh aku mengunjungi rumahmu, Hayakawa-kun?”
“Nggak. Lebih penting lagi, cepat menyingkir dari pahaku!”
Perintahnya yang diucapkan dengan tatapan dingin + sadis itu membuat bulu kudukku merinding. Bukan takut, melainkan sangat menggembirakan. Kayaknya, bisa ku sebut bahwa cintaku cukup meluap banyak padanya.
Kalau terus seperti ini, Hayakawa-kun benar-benar akan menjadi suamiku di masa depan nanti. Muehehe!! Pengen banget!
“Hayakawa-kun nggak boleh ngomong kasar gitu padaku lho! Nanti aku bakal kasih tahu pada mama-mu!”
Ancaman darinya membuatnya terlihat semakin mengerikan. “Hal itu mana mungkin berguna padaku!”
Itu benar sekali. Aku, Hayakawa Yugioh tidak pernah tunduk pada seorang wanita. Mereka mungkin mengerikan, tapi mama berbeda.
Mama mungkin orang yang pintar, tapi dia tak berguna. Setelah melahirkanku, ia dan papa bekerja sama untuk membuatku menjadi pemimpin Keluarga Hayakawa.
Kalau ini adalah Light Novel atau cerita fiksi lainnya, pasti sudah dikasih banyak pelajaran berat. Tapi, mereka sangat berbeda. Memperlakukanku dengan baik serta menyembunyikan semua keinginan dibalik sikap tersebut.
Bermuka dua, itulah julukan yang tepat untuk mereka berdua. kedua kakak perempuanku pun sama saja.
Intinya, aku membenci wanita karena mereka sangatlah buruk. Para pria itu pun sama saja.
Tapi kebencianku tetap pada wanita seorang. Karena aku seorang pria, nantinya jika membencinya, dianggap sama padaku sendiri.
Itu tidak mungkin! Dan juga... niat mereka terbongkar setahun lalu. Mama dan papa marah-marah padaku.
Padahal yang salah adalah kedua kakak perempuanku. Yahh... disalahkannya sebenarnya ke pihak yang ku sebutkan, tapi...
Karena dibicarakannya di depanku, otomatis diriku menganggap itu padaku juga. Apalagi, di saat keduanya tak ada di rumah.
Memangnya kenapa? Uang untuk pernikahan tidak cukup. Ini permasalahannya adalah mengganti.
Suami dari kakak keduaku, Hayakawa Akagi membiayai pernikahan kakak pertamaku, Hayakawa Yui serta dirinya tentunya.
Dua biaya tersebut mencapai jumlah 7 juta yen atau 3 juta untuk kakak pertama, satunya lagi nambah sejuta.
Padahal pihak mereka bilang nggak usah dibayar, tapi kedua orang tuaku malah pengen menganggap hal tersebut hutang.
Niatnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang baik, tapi malah ditipu mentah-mentah oleh suami kakak keduaku, Aoyama Eisuke.
Senyuman licik dibalik wajah polosnya, itulah dirinya. Lalu, satunya lagi adalah Daisuke Goroichi sama saja.
Bedanya, yang satu ini malah menawarkan akan membantu bayar pada kedua orang tuaku.
Bodohnya... kedua orang tuaku malah mengulangi hal sama. terlihat baik dihadapan menantunya.
Lalu, akhirnya mereka pun stres dan mengalami keterpurukan paling besar dalam hidup. Aku tidak marah saat situasi itu. menatap dingin keduanya juga mengatakan akan menanggung semuanya.
Hahaha, setelah itu aku malah benar-benar dijadikan layaknya seorang budak. Budak penghasil uang singkatnya.
Alasan aku nangis saat diambil konsol gameku oleh wanita ini adalah karena konsol gameku adalah barang pertama yang ku beli setelah menabung cukup lama selama 7 tahun lamanya.
Konsol game tersebut seharga 100 ribu yen. Selain game ada Loine juga di dalamnya dan ku masukkan ID semua anggota keluargaku agar tidak kesusahan saat mau menghubungi mereka.
100 yen adalah uang jajanku sehari-hari dari SD sampai SMP. Sekarang aku kelas 1 SMA.
Bulan besok sudah kelas 2. 40 yen atau uang jajanku waktu SD disisihkan untuk menabung. Kalau lainnya... mereka nggak ngerti begituan.
Dikasih 100 yen malah pada kurang ajar hingga minta sampai 1.000 yen perharinya. Mama dan papa pun sama saja.
Mereka jarang bersyukur dalam hal seperti ini. Uang itu adalah hal yang biasa saja dalam kehidupan.
Mereka pikir mendapatkannya itu gampang, tapi itu adalah pernyataan yang konyol sekali. Susah sekali lho!
Yahh... mereka sebenarnya mudah mendapatkannya karena selalu dibiayai oleh perusahaan milik papa. dulu, pria tua yang merupakan bosnya sangat baik.
Kebaikan dibalas kejahatan. Papa menginginkan lebih banyak uang dan membuatnya korupsi cukup banyak.
Alasan aku harus kerja mulai masuk SMA adalah karena hal itu. Membayar hutang pada Aoyama Eisuke juga bosnya.
Untungnya, selama setahun yang di mana aku ini sebenarnya cukup jenius. Masuk SD usia lima tahun.
Usia 5-10 adalah SD. 11-13 SMP, 14 SMA sampai seterusnya. Mungkin bisa disebut aku itu lebih cepat daripada lainnya.
Yahh... lebih cepat setahun lah intinya. Berarti buat KTP begitu keluar dari SMA kah? Harusnya sih, hahaha.
Entah ini hal normal atau tidak dalam kehidupan, keluargaku nggak terlalu mempermasalahkannya.
Asal bisa menghasilkan, itu sudah lebih dari cukup. Beberapa juta lebih apakah bisa ku kembalikan selama setahun sekolah?
Tentu saja tidak. Mana mungkin aku bisa mengembalikannya secepat itu. oh benar! Selama ini, papa kerjanya nggak becus.
Anehnya si bosnya yang pria ini malah menyukainya. Suka mengasihnya banyak bonus. Kebaikan itu sebenarnya disebabkan karena mereka saling menjaga rahasia satu sama lain.
Papa malah mengatakan rahasia bosnya dan begitupun sebaliknya. Jelas, yang salah adalah papaku.
Total hutang dari mereka berdua adalah 10 juta yen. hahaha, banyak banget ya! tapi... tenang saja.
Pasti akan ada jalannya. Lalu, sebenarnya ekspresiku nggak datar-datar amat. Nangis jika direbut konsol game, emosi normal sesuai mood-ku hari ini.
Pada akhirnya, aku itu manusia normal pada umumnya. Lalu, untuk wanita juga perempuan kayaknya nggak terlalu masalah.
Mau aku bilang perempuan ke kakakku, wanita padanya, mungkin bisa didasarkan dari cara bicara mereka.
Aku nggak melihat sebuah usia. Mungkin di mata banyak orang, aku itu pria mapan, padahal cuman cowok pekerja keras doang.
Itu hal normal dalam kehidupan kok. Masih muda tapi disangka sudah tua. kita tidak melihat umur, tapi bagaimana penampilannya, sikapnya, caranya mengatasi masalah, dan lain sebagainya.
Oh benar! tinggi badanku itu 165 cm. Sedangkan dia 166 cm. Lebih tinggi dariku? Benar sekali.
Kalau bisa disimpulkan, kayaknya pernyataanku agak salah. Lebih tepatnya, kebencian terjadi pada seseorang yang jahat padaku.
Gitu aja sih singkatnya. Karena para wanita lebih banyak, jadinya aku membenci mereka. Bukan berarti aku menyukai para pria. Aku juga membenci mereka kok! Tapi, karena nggak banyak-banyak amat yang ku benci dari gender tersebut, jadinya dicurahkan ke satunya lagi.
“Mufuu!... Kau jahat banget ya! Aku kayaknya membencimu!”
Dia membenciku? Hahaha, nggak peduli juga sih. “Terserahmu saja, Kuroyuki-san. Lalu, kalau masih nggak mau bangkit, bakal ku tendang lho!”
Ancaman macam apa itu? Mana mungkin hal begituan berpengaruh pada perempuan remaja keren ini. oh benar juga. Entah takdir atau tidak, seragamnya kayak tempat sekolahku.
Sebagai seorang artis, aku banyak sekali meninggalkan pelajaran sampai-sampai nggak tahu-menahu tentang penggemarku juga lainnya.
Dia ini sepertinya tidak tahu aku ya? Mungkin lainnya pun sama saja. hanya tertarik pada kecantikan.
Yahh... sebenarnya, aku itu artis yang lumayan terkenal. Membintangi film ‘Lost Terrifying’, sebuah kisah antara pria mapan juga wanita mahal saling membina diri masing-masing. Ada banyak sekali unsur kesedihan di dalamnya juga saking bagusnya, pengikut Insta dan TooTube ku mencapai 1 juta untuk masing-masingnya.
Keren sekali bukan! Ya, tentu saja. Mungkin, karena kebanyakan pengikutku itu wanita-wanita usia 30 tahunan ke atas, jadinya nggak terkenal di kalangan anak muda.
“Kau sekolah di mana? Menendangku sama saja membuatku marah lho! diriku ini artis yang cukup terkenal. Nggak tahu kah!?”
“Aku tidak peduli mau kau artis atau apapun itu. Lalu, tempatku sekolah berada di SMA Nishitani. Kenapa bertanya sekolahku? Dan juga... Cepatlah menyingkir! Mama kalau sudah sampai sini bisa dimarahi aku nantinya.”
Oh! Ternyata benar ya! Muehehe!! Kayaknya kesempatanku semakin bertambah besar. “Nggak, bukan apa-apa. Cuman pengen nanya doang sih.”
“Lalu, biarkan aku ketemu mamamu dan ikut ke rumahmu! Bakal ku kabulkan permintaanmu jika iya, hehehe.”
Sistemnya ternyata seperti ini ya! dia merepotkan banget! Tapi, daripada harus terus duduk juga pahaku pegal karena terdapat beban cukup berat di atasnya, lebih baik menerima tawarannya saja.
“Baiklah. jadi cepat! Mama mungkin bentar lagi akan memarahiku! Masih ada sedikit harapan dia belum menyusulku. Jadi... mari secepat mungkin ke tempatnya menunggu!”
“Oke.”
Begitu berada di luar, terlihat gedung perkantoran dan hotel serta jalanannya cukup sepi. Di seberang zebra cross, terlihat wanita yang kelihatan masih muda memakai kacamata hitam.
Tubuhnya ramping dan kelihatan seperti seorang model terkenal. Ia melihat ke arah Yugioh dengan wajah ngambek.
Akhirnya dia datang juga! Lama banget! Oh! Awawawa!!! Tu-tunggu dulu!? Mataku buram kayaknya ya!
Dari perkataannya, bisa dipastikan dia adalah mama Yugioh. Lalu... pakaiannya kayak mau goda cowok. Baju dinas yang seharusnya dikeluarkan pada malam hari, malah dipakai di siang hari.
Yugioh melihat itu semua dan dia mengabaikan mamanya yang mengusap-usap terus matanya.
“...Bit*h.”
Suaranya pelan, tapi Yukino mampu mendengarnya. Dia tak membalasnya dan cuman tersenyum manis aja. “Dia mamamu kah?”
“Benar. Hayakawa Honoka, 52 tahun. masih kelihatan kayak 25 mungkin. Intinya, mamaku itu seorang bit*h. Jangan sampai tertipu oleh penampilannya! Dia suka main-main ama cowok, begitupun papaku.”
Entah kenapa... aku jadi merasa kasihan padanya. Mungkin, lebih baik sekarang mengetahui dulu seluk-beluk keluarganya.
Cowok favoritku, nggak boleh dibiarkan menderita oleh orang-orang jahat yang berada di dekatnya.
Sebisa mungkin, harus ku usahakan agar dia bisa hidup bahagia. Muehehe—hadiahku bisa menyusul nanti kan!
Pakaiannya benar-benar mencolok ya! Hahaha. Aku tahu alasan para pejalan kaki itu melihatnya. Pertama, dia cantik walau sudah tua sebenarnya, kedua, proporsi tubuhnya menggoda, dan terakhir... terlihat kaya raya.
Kalau aku boleh menjawab, itu adalah mobil yang harus ku cicil pada mantan bos papaku.
Zebra cross sepi sekali ya!. Mungkin karena jalanan sini jarang kendaraan berlalu lalang juga baru pukul enam pagi sesuai jam di lampu penyeberangan pejalan kaki.
Begitu aku sampai di tempatnya, mamaku menaruh kacamata kembali di saku rok kanannya. “Mataku nggak salah lihat kan!”
Dia masih mengusap-usap matanya. Mama Yugioh mungkin terlihat aneh, tapi seperti penjelasan Yukino sebelumnya, ia terkenal dikalangan wanita berusia 30 tahunan ke atas.
“Memangnya kenapa, tante cantik?”
Awawawa!!... Su-suaranya mirip! Ng-nggak salah lagi! Dia itu artis favoritku. Tunggu dulu!? Mereka seumuran kan!
Usianya 15, anakku juga sama, dan kedekatan ini... Awawawa!!! Sekolah di tempat yang sama juga!
Sepertinya ini takdir untuk mengubah keluargaku lebih baik tanpa mengandalkan lagi beban keluargaku, Hayakawa Yugioh.
Tapi... mungkin dia bukan lagi beban kali ya! Harusnya dapat banyak uang selama setahun sekolah.
Hehehe, coba ku tanyakan dulu deh. “Se-sebelum menjawab pertanyaanmu, Yugioh! Berapa banyak uang kau punya sekarang? Mama kebetulan lagi bokek, ahaha. Bi-bisa transfer lagi kayak sebulan lalu kan! Ta-tapi... ju-jumlahnya agak perbanyak oke!”
Ada alasan lain kenapa aku benci kedua orang tuaku. Mereka sama-sama seorang penghibur di satu agensi.
Oh iya! Mau dalam keadaan apapun, konsol gameku bakal selalu ada di tanganku. jika terlepas bakal nangis serta membuatku pengen main terus.
Lari, jalan atau apapun selama masih ingin memegang konsol game, bakal terus berjalan. ‘Game Over’, tamat babak, lainnya terus dimainkan.
Ya, kurang lebih seperti itu. Lalu, kedua orang tuaku menggoda cowok/cewek sesuai kemauan mereka.
Seringnya malam hari yang di mana masih kerja di agensi tersebut. Mungkin tak menghasilkan uang, tapi bagi masing-masing itu adalah hiburan sesungguhnya.
Hiburan yang tak pernah didapatkan oleh keduanya walau dalam keadaan apapun. Aku tidak ingin mengatakan beberapa hal lebih lanjut, karena topiknya ke hal sensitif nantinya.
Lalu, permintaan mama aku nggak tahu harus disebut keterlaluan atau tidak. Tapi... karena dia masih sedikit bertanggung jawab dalam membesarkanku, sudah tugas anak baik menafkahinya.
“Kalau sudah sampai rumah bakal ku kasih kok, mama.”
Aku tersenyum manis dan... kenapa dengannya? Melihatku sedekat itu sangatlah mengganggu.
Muehehe. Ternyata, dia bisa senyum juga ya! Ah! Tentu saja sih. Soalnya, Hayakawa-kun masih normal.
Mungkin aku kelihatan Deredere dan itu benar banget. Yahh... nggak tahu juga sih. Lalu, mamanya gampangan banget!
Kayaknya mamanya ini cuman mikiran uang darinya saja. “Serius! Baiklah. Ah! Benar juga!”
Dengan cepat, mamanya langsung mengepal kedua tangan Yukino dengan sangat erat. “Awawawa...!! A-artis favoritku ada di de-depanku se-sekarang...!!!”
“Hehehe. Sungguh membahagiakan. Ah!” dari bahagia menjadi teringat sesuatu. “Benar juga! Kuroyuki-sama, kemana tujuanmu? Bertemu dengan anakku pasti kebahagiaan bukan! tentu saja, fufufu. Dia ini dari dulu anaknya riang banget, ganteng, dan baik pastinya.”
Mama malah mempromosikanku ya!. “Aku pengen ke rumah tante. Kebetulan, habis syuting beberapa minggu lalu, berkunjung ke tempat kelahiran bentar.”
“Begitu ya! A-ah, si-silakan naik ke dalam mobil! Y-yugioh, terus bersikap baik padanya oke!”
Dia dengan cepat melesat ke dalam mobil merah mungilnya. “...” keduanya saling terdiam untuk beberapa saat.
Sang ibu yang berada di tempat menyetir, membuka kaca sebelah kiri sambil berkata: “Cepat masuk!”
“Ba-baikk!”
Mereka menjawab dengan ekspresi berbeda. Yang satu ceria, lainnya datar. Begitu berada di dalam, Yukino duduk di sebelah kanan, dan kirinya Yugioh.
Yugioh dari buka pintu mobil, duduk, pasang sabuk pengaman, tak pernah melepaskan konsol gamenya itu. bisa melakukan hal-hal ribet hanya menggunakan beberapa jari bagian depannya sangatlah hebat.
Kalau aku nggak salah, total kekayaannya akhir-akhir ini triliunan yen kan! ribuan yen dari anak paling kecilku nggak guna, jika dibandingkan dengannya. Fufufu, jika dia beneran dekat sama Yugioh, bisa ku manfaatkan sepuasnya.
Hehehe, ideku masih bagus aja ya!. “Jangan memikirkan hal aneh terus mama! Cepat jalankan mobilnya!”
“Ba-baikk...!”
Yugioh bagiku sangat menyebalkan, anak sepertinya kenapa nggak bisa ngasih uang banyak kayak kakak-kakak perempuannya ya?
Padahal di usia yang sama, jutaan yen bisa didapatkan mereka dengan mudah. Kenapa juga dia nggak kayak kami? Jadi penghibur maksudku.
Mungkin karena nggak mau kali ya! Ahh...!!! Kuroyuki Yukino cantik banget...!!! Yugioh harus ku tawari untuk menghiburnya.
Hehehe, dia harusnya bakal menerimanya kan! Walau tak pernah menunjukkan ketertarikan pada cewek, mana mungkin menolak bibit unggul seperti Kuroyuki Yukino. Sudah cantik, baik, lemah lembut, banyak uang lagi...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!