Indonesia
NovelToon NovelToon

Benteng Ke-8

PROLOG

Matahari mulai muncul dari balik pegunungan Draven. Kabut yang menyelimuti lembah perlahan menipis. Burung mulai berkicau meramaikan suasana di pagi hari. 

Sebuah negeri yang begitu luas dan indah bernama Alterus. Berdiri di antara pegunungan, lautan dan sungai. Negeri yang begitu makmur dan damai. 

Di tengah-tengah negeri itu berdiri sebuah istana megah. Tepatnya di jantung kerajaan Alterus, Valenor, ibukota yang menjadi pusat pemerintahan. 

Di luar gerbang istana, kehidupan mulai bergeliat. Kedai-kedai mulai membuka pintunya satu persatu. Aroma masakan mulai tercium di sepanjang jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian mengejar temannya. Melewati para pandai besi yang mulai menyalakan tungku apinya untuk menempa besi. Denting palu para pandai besi mulai bersahutan. Setiap hantamannya memercikkan bunga api saat baja ditempa menjadi senjata yang kelak akan berada di tangan para prajurit Alterus.

Seorang pemuda dengan tangan penuh tinta, duduk di halaman belakang rumahnya dengan sebuah buku yang terbuka di tangannya. Wajahnya tenang, dengan mata yang fokus ke setiap tulisan di dalamnya. 

“Nak, ayo sarapan dulu.”

Matanya yang sedikit bulat itu mengerjap lalu menoleh ke sumber suara. Senyum manisnya langsung terukir di wajahnya saat melihat sang ibu berdiri di ambang pintu.

Tidak jauh dari tempat itu, di sebuah tempat latihan di istana sudah lebih dulu terdengar suara pedang yang beradu. Setiap ayunan pedangnya terus mendominasi jalannya pertarungan. Lalu dengan ayunan pedang terakhir, lawan tandingnya jatuh ke tanah dengan ujung pedangnya tepat berada di leher sang lawan. 

“Wahhh, calon pengawal raja memang beda ya.”

Pujian itu membuatnya tersenyum bangga dan ia meninggalkan arena dengan dada yang membusung. 

Jauh dari hiruk pikuk Valenor, terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi dengan pemukiman kecil di bawahnya. Tempat yang begitu sunyi dibandingkan daerah lainnya di Alterus. Hanya desir angin pegunungan yang sesekali memecah kesunyian.

Seorang penyihir muda melepaskan kacamata yang membingkai wajahnya lalu menatap ke luar jendela. Pemandangan pegunungan yang setiap hari menyambut pandangannya tidak pernah bosan ia pandangi. Angin berhembus meniup jubah panjangnya dan juga rambut pirangnya. 

Namun kedamaian itu tidak datang begitu saja. Di balik hiruk pikuk ibu kota, ribuan prajurit terus berjaga di perbatasan. Empat benteng besar berdiri di empat penjuru Alterus, menjadi dinding pertama yang melindungi negeri dari ancaman luar.

Matahari yang sama juga menyinari barak militer perbatasan, para prajurit bergegas bangun untuk memulai latihan pagi.

Tidak jauh dari tempat berlatih, asap di tenda dapur pun mulai membumbung tinggi. Aroma makanan mulai tercium menggelitik perut yang sudah keroncongan. 

Di waktu yang sama, namun di sisi perbatasan yang berbeda ada pemandangan yang juga jauh berbeda. 

Di depan tumpukan mayat pasukan musuh dan rekannya sendiri, seorang pria muda terengah-engah dengan keringat bercampur darah menetes dari dagunya. Bilah pedangnya berhasil menebas leher musuh terakhirnya. Darah segar menetes dari ujung pedangnya jatuh ke tanah. 

Cahaya keemasan matahari memantul dari bilah pedangnya tepat ke wajahnya. Seolah sedang menyoroti tatapannya yang haus darah.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengangkat pedangnya ke atas, berteriak kencang diikuti sorakan dari prajurit di belakangnya. Kemenangan dengan begitu banyak pengorbanan akhirnya berhasil diraihnya. 

Sang pemuda menurunkan pedangnya. Sorakan para prajurit masih menggema di setiap langkahnya menuju barak. 

“HIDUP JENDRAL MUDA!”

“HIDUP JENDRAL MUDA!”

Pangkat jenderal di dadanya berlumuran darah namun langkahnya tetap tegak. Setibanya di barak, ia menyerahkan secarik surat yang sudah disiapkan sebelumnya kepada pengantar pesan.

“Kirim ke Valenor.”

Situasi yang sama juga terjadi di balik pegunungan Draven, seorang pria muda baru saja memenangkan pertempurannya. Dengan langkah tertatih, ia berjalan kembali ke barak. Kembali menanti panggilan dari Valenor yang tidak kunjung datang sejak ia tiba di benteng Draven tiga tahun lalu.

Di balik benteng yang kokoh itu, ada sebuah desa kecil yang terasa begitu lengang. Dua orang anak kecil duduk di atas batang pohon yang sudah tumbang sambil menikmati bakpao di tangan mereka. Yang lebih muda membagi bakpaonya menjadi dua dan memberikan kepada temannya.

“Makan lagi,” ucapnya dengan nada memerintah.

Tubuh temannya sangat kurus, meskipun dia lebih tinggi. Kadang dia berpikir kalau semua makanan itu berubah menjadi tulang, karena itu temannya menjadi lebih tinggi setiap waktunya bukannya menjadi lebih berisi.

“Lalu kamu bagaimana?”

“Aku sudah kenyang.”

Yang lebih tua tersenyum senang lalu mengambil bakpao tersebut dan memakannya. 

Tidak jauh dari tempat mereka duduk, mulai terdengar suara yang membuat si yang lebih muda langsung bergegas menghampirinya. Dari balik semak, ia mengintip para prajurit yang sedang berlatih pagi. Seperti biasa, ia akan mengikuti setiap gerakan itu.

Sementara itu, jauh di arah Timur kerajaan Alterus, seekor kuda berlari kencang keluar dari benteng lalu diikuti oleh beberapa kuda lainnya. Berlari melewati sungai, lembah, bukit menuju ke arah utara. 

“Yang mulia….”

Pemuda berjubah merah itu menoleh perlahan. Tatapan tajamnya membuat prajurit tersebut buru-buru menelan kembali kata-katanya.

“Tu-tuan muda… perjalanan ke utara memakan waktu tujuh hari, kita sudah tiga hari tidak istirahat, sebaiknya kita pergi ke penginapan terlebih dahulu.”

Tidak ada jawaban. Tatapannya beralih ke penginapan di depan mereka. Sesaat kemudian ia turun dari kudanya dan berjalan lebih dulu.

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

BAB 1

Suara terompet kemenangan kembali menggema di langit Valenor. Suaranya semakin jelas seiring mendekatnya rombongan pasukan dari arah barat.

Penjaga gerbang Valenor langsung menyingkirkan pembatas lalu membuka gerbang lebar-lebar. Antrian warga yang sedang menunggu proses pemeriksaan masuk ibukota pun langsung dibubarkan.

Seluruh masyarakat di dalam Valenor yang mendengar juga langsung mengerumuni tepi jalan utama. Meninggalkan semua aktivitas yang sedang mereka lakukan.

Evren Vance, jenderal muda yang mewarisi darah pejuang sang ayah. Sekali lagi kembali dengan membawa kemenangan dari medan perang. Mempertahankan perdamaian di dalam negeri Alterus setelah enam bulan lamanya berperang di Vargan, perbatasan bagian barat kerajaan.

Saat memasuki gerbang ibukota, sorakan rakyat terdengar begitu menyenangkan di telinganya. Mereka adalah rakyat yang ia lindungi menggunakan darahnya dan mereka juga yang menyambutnya kembali dengan begitu meriah.

Di istana.

Prajurit masuk ke aula sidang untuk menemui Sang Kaisar. Memberikan laporan mendesak hingga menunda jalannya sidang dengan para pejabat.

“hormat yang mulia, jenderal muda Evren Vance telah memasuki ibukota.”

Sang Kaisar tersenyum. Senyum yang begitu lebar hingga semua ikut merasakan kebahagiaan sang Kaisar.

“Langsung bawa ke hadapanku,” perintahnya dengan begitu antusias.

“Baik yang mulia.”

Evren mengikuti utusan istana untuk langsung menghadap Kaisar.

Sesampainya di istana, seorang pelayan langsung mengarahkan Evren ke sebuah kamar ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh istana.

Di dalam aula sidang, Evren berjalan masuk dengan gagahnya dan langsung berlutut di hadapan pemimpin tertinggi negeri ini.

“Jenderal Evren Vance memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar.”

Sang Kaisar memerintahkan Evren untuk berdiri dan mulai memberikan laporan terkait peperangan di Vargan selama enam bulan terakhir. Pujian dari Kaisar Cassian pun langsung memenuhi aula pertemuan, diikuti dengan senyum puas dari para pejabat.

Setelah seluruh agenda selesai dan pertemuan resmi ditutup, Evren memberi hormat kepada Sang Kaisar sebelum melangkah keluar dari aula. Langkahnya bergema di koridor istana hingga akhirnya ia meninggalkan kompleks kekaisaran untuk kembali ke kediamannya.

Bayangan sang ibu yang selalu tersenyum hangat setiap menyambutnya semakin jelas memenuhi pikirannya. Membuat kerinduannya pada rumah semakin dalam.

Evren saat ini baru berusia delapan belas tahun. Terhitung sudah dua tahun ia menyandang gelar jenderal. Menjadi jenderal termuda sepanjang sejarah Kerajaan Alterus.

Sejak usia belia, ia sudah berjuang di medan perang mengikuti sang ayah, mempelajari cara bertahan hidup dan memimpin pasukan. Setelah sang ayah gugur di medan tempur, ia memaksa dirinya untuk tumbuh dewasa lebih cepat daripada anak seusianya.

Baginya, memimpin pasukan bukanlah masalah yang terbesar, yang paling sulit adalah mendapatkan kepercayaan ribuan prajurit yang harus mempertaruhkan nyawa di bawah komando seorang pemuda. Tidak akan ada yang mempercayai seorang anak seusianya untuk memimpin di medan perang, kecuali ia bisa membuktikan dirinya sendiri.

Di depan kediaman Jenderal.

Di depan pintu masuk kediaman, sang ibu sudah berdiri menunggunya. Di sampingnya, paman dan bibinya ikut menyambut kepulangan Evren.

Wajah yang kini terlihat memiliki banyak keriput itu tersenyum hangat sesuai dengan bayangan Evren. Sang ibu membuka kedua tangannya untuk menyambut sang putra masuk ke dalam pelukannya.

Evren turun dari kuda dan berjalan cepat menghampiri sang ibu. Memeluknya dengan erat melepaskan kerinduan di dalam hati.

“Kakek di mana bu?” Tanyanya setelah pelukan mereka terurai. Evren melihat ke kanan kiri dan mengintip ke halaman rumah namun hanya terlihat beberapa pelayan rumah saja.

“Kakek menunggumu di dalam, ayo masuk.”

Sang ibu menggandeng lengan Evren dan mereka berjalan masuk ke dalam kediaman jenderal. Melewati halaman yang luas, taman yang mulai bermekaran, lalu menyusuri setiap lorong lorong panjang di kediaman menuju ke bagian paling belakang. Semakin ke belakang, semakin sepi dan sunyi suasananya.

“Kenapa kakek ada di sini?”

Enam bulan lalu sebelum ia berangkat ke Vargan, kakeknya masih tinggal di halaman utama kediaman. Tapi baru enam bulan berlalu, sang kakek sudah pindah ke sudut paling belakang dan paling sepi di kediaman.

“usia kakek sudah semakin tua dan kesehatannya terus menurun,” ucap sang ibu sambil menatap lekat pintu kamar di depannya.

Lalu ibu kembali melanjutkan kalimatnya.

“kakek sendiri yang minta pindah kesini karena lebih tenang.”

Evren melirik paman dan bibinya dan mereka berdua mengangguk membenarkan ucapan ibunya.

“kemarin kakek sempat bertanya kapan kamu sampai rumah, sekarang kakek pasti senang karena cucu kesayangannya ini sudah kembali dengan selamat.” sang ibu mendorong Evren pelan agar putranya itu segera masuk ke dalam kamar kakeknya.

Evren membuka pintu kayu tersebut secara perlahan. Tidak ada suara khas pintu yang berdecit ketika dibuka. Orang-orang kediaman benar-benar memastikan tempat ini tetap tenang sesuai keinginan sang kakek.

Di dalam hanya ada sebuah lilin sebagai penerang ruangan, membuat suasana terasa remang meskipun sekarang masih siang. Jendela pun hanya satu yang dibuka di dekat tempat tidur.

“Kakek?” Panggilnya dengan suara pelan.

Evren terus berjalan masuk dan melihat sosok tua renta terbaring di atas kasur. Matanya terbuka melihatnya namun tidak bersuara sedikitpun.

“Arthur apa itu kamu?”

Evren terdiam dan langkahnya terhenti. Menatap sendu sang kakek yang terlihat begitu merindukan putranya.

Setelah menarik nafas, Evren mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur. Menggenggam tangan sang kakek dengan erat.

“Kakek, ini aku Evren, cucu kesayangan kakek,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Evren? Ini benar Evren?”

Sang Kakek berusaha bangkit dari tempat tidur dan melihat lekat-lekat wajah pemuda di depannya.

“Iya kek.”

Senyum sekaligus air mata menetes di wajah Evren.

“Akhirnya kamu kembali, kamu tidak terluka kan?.”

Evren menganggukkan kepalanya cukup kuat lalu mengatakan ‘iya’ dengan suara seraknya.

Setelah mengobrol cukup lama, napas sang kakek mulai terdengar semakin berat.

Evren membantu menyelimuti tubuh renta itu sebelum menggenggam tangannya untuk terakhir kali.

"Istirahatlah, Kek. Nanti malam aku akan datang lagi."

Sang kakek hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajahnya.

Evren berdiri, menatap sang kakek beberapa saat, lalu melangkah keluar dari kamar.

Ibunya sudah tidak berada di luar kamar kakek. Seorang pelayan menghampirinya dan menyampaikan pesan dari sang ibu untuk datang ke ruang makan. Evren mengangguk mengerti lalu ia berjalan menuju halaman utama.

Pandangan Evren menyapu setiap sudut kediaman yang telah enam bulan ia tinggalkan.

Tidak banyak yang berubah, hanya ada beberapa bunga baru. Bahkan tempatnya biasa duduk setelah latihan pun masih ada. Padahal itu hanya sebuah kursi usang yang sudah lapuk dan bisa dibuang kapan saja. Tapi tidak ada yang menyentuhnya sedikitpun.

Aroma di kediamannya pun masih sama seperti dulu. Aroma menyegarkan dari bunga yang ditanam ibunya di taman. Ditambah dengan pengharum tambahan karena dulu dirinya pernah mengatakan bahwa aroma bunga itu terasa segar. Ia tahu, ibunyalah yang secara khusus mengurus semua itu sendirian tanpa dibantu pelayan. Ibunya sudah bekerja keras mengurus kediaman sebesar ini.

“Ayo nak duduk dan makan, ini ada iga asam manis kesukaanmu.”

Sesampainya di ruang makan, Sang Ibu langsung menarik kursi agar putranya itu bisa langsung duduk. Bak anak kecil, Evren berjalan dengan langkah yang begitu ringan menghampiri sang ibu.

“Sudah lama aku tidak makan masakan ibu.”

Evren mulai menyantap makanan di atas meja dengan begitu lahap. Ibunya duduk di sampingnya sambil sesekali meletakkan beberapa lauk ke dalam mangkuk Evren. Meskipun sudah bertahun-tahun berada di medan perang, ia tetaplah seorang anak yang kini sudah menginjak usia remaja. Kasih sayang dan kehangatan seperti ini selalu ia dambakan ketika sedang jauh dari rumah. Karena kehangatan seperti ini hanya bisa ia rasakan saat pulang ke rumah, Evren selalu menghargai momen saat bersama keluarganya.

“Nyonya! Nyonya!”

Seorang pelayan wanita berteriak dari luar. Saat tiba di ambang pintu, nafasnya terdengar terengah-engah dan buliran keringat memenuhi dahinya.

“Ada apa? Kediaman jenderal tidak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak sopan seperti ini!”

Ibunya Evren sebagai nyonya besar di kediaman ini langsung menegur sikap pelayan tersebut yang menurutnya tidak sopan.

“Tapi nyonya, di luar ada utusan kerajaan membawa titah Kaisar.”

“Apa itu penghargaan untuk Evren?”

Berlawanan dengan raut panik pelayan, Ibu Evren terlihat antusias karena mengira utusan kali ini pasti membawa hadiah seperti sebelumnya saat putranya itu kembali dari medan perang.

“S-saya rasa bukan,” ucap sang pelayan dengan terbata-bata. Keringat masih terus mengalir dari dahinya.

Jika itu adalah titah hadiah, rombongan istana pasti akan membawa juga hadiah tersebut. Tapi mereka justru membawa kuk tahanan. Semua orang di kota tahu kalau alat itu hanya muncul untuk mengiringi terpidana. Hal itu langsung menggemparkan seluruh penjuru kota.

Sang Ibu langsung membeku, senyumnya luntur lalu ia menoleh secara perlahan ke arah Evren. Ibu dan anak itu bertatapan dalam diam. Evren pun tidak tahu dimana letak kesalahannya. Sebagai seorang jenderal, ia tahu titah kerajaan hanya akan membawa dua kemungkinan : penghargaan atau hukuman. Namun ia tidak memiliki petunjuk sedikitpun mengapa hukuman yang menantinya setelah membawa kemenangan dan kedamaian bagi kekaisaran Alterus.

Tidak lama kemudian, langkah kaki yang tergesa terdengar mendekat. Eldrick bersama sang istri muncul dengan raut wajah cemas. Keduanya baru saja mendapat laporan dari pelayan tentang utusan kerajaan.

“Sebaiknya kita keluar dan dengarkan dulu titahnya, baru kita tahu apa yang terjadi.” Ucap Eldrick.

Dalam situasi seperti ini, mereka tidak bisa menunda lebih lama. Jika benar titah itu berisi hukuman, menolak atau mengulur waktu menerimanya hanya akan memperburuk keadaan.

“Tapi kalau titah sampai dibacakan, itu sudah tidak bisa ditarik lagi!” Seru sang ibu dengan sedikit berteriak. Tentu saja ia panik ketika melihat ada kemungkinan sesuatu yang merugikan putra semata wayangnya.

“Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja,” Ucap Eldrick dengan penuh keyakinan. Sorot matanya tetap tenang. Ketenangan itu membuat semua orang di ruangan tersebut diam lalu menurutinya.

Evren dan ibunya pergi keluar lebih dahulu, sedangkan pamannya menyuruh seorang pelayan untuk menemui kakek. Ia merasa waktu untuk menggunakan benda itu sudah tiba.

Dulu ia gagal melindungi kakaknya di medan perang. Sejak kehilangan fungsi tangan kirinya, ia bersama istrinya hanya bisa hidup menumpang di kediaman sang kakak ipar.

Namun wanita itu tak pernah sekalipun mengeluh. Ia merawat ayah mertua mereka yang telah renta dengan penuh kesabaran, sementara Evren menerima paman dan bibinya layaknya keluarga sendiri. Pengobatan terbaik, makanan yang layak, hingga pakaian hangat, tak pernah luput mereka sediakan.

Sekarang yang tersisa hanya Evren Vance, keponakan satu-satunya sekaligus keturunan tunggal sang kakak, akan ia jaga nyawanya bagaimanapun caranya. Bahkan jika itu hanya memperpanjang nyawanya satu menit saja, akan ia lakukan segala cara untuk itu.

“Apa kamu akan mengeluarkan benda itu?” tanya sang istri yang berdiri di sampingnya. Eldrick menatap sang istri lalu menggenggam tangannya dengan erat.

“Kalau memang dibutuhkan, aku akan menggunakannya. Lagipula, benda itu didapatkan kakak karena jasanya di medan perang. Evren sebagai keturunan langsung kakak lah yang paling pantas menggunakannya,” Jawabnya dengan penuh keyakinan.

Setelah itu, keduanya berjalan keluar menuju ke halaman. Utusan Kerajaan sudah memasuki area halaman dengan selembar titah di genggaman tangannya. Semua orang segera berlutut menghadap utusan kerajaan yang membawa titah sang Kaisar.

Evren berlutut di posisi paling depan sebagai penerima titah. Tangannya berkeringat dan kepalanya terasa pening. Situasi saat ini jauh lebih menegangkan dibandingkan harus berhadapan dengan ribuan tentara musuh. Jantung setiap orang di kediaman itu berdegup keras. Apa pun isi titah yang akan dibacakan, hari itu akan menentukan nasib keluarga Jenderal Vance untuk selamanya.

BAB 2

Kasim Kaisar perlahan membuka gulungan titah tersebut. Sebelum membacakan isi titah tersebut, Kasim menatap satu persatu anggota keluarga jenderal Vance dengan tatapan meremehkan. Netranya kembali menatap ke arah gulungan titah yang sudah terbuka lebar, baris demi baris tulisan di atasnya mulai dibacakan. Suaranya begitu lantang seolah-olah sedang menunjukkan otoritas sang penguasa.

"Atas nama Yang Mulia Kaisar Cassian von Alterus, pelindung negeri dan pemegang titah langit.

Jenderal muda Evren Vance, putra mendiang Jenderal Arthur Vance, dinyatakan terbukti melakukan permufakatan untuk memberontak terhadap takhta kerajaan.

Berdasarkan hukum kerajaan pasal XIII, kejahatan makar diganjar hukuman mati serta pemusnahan seluruh garis keturunannya.

Dengan ini…”

Di halaman belakang kediaman.

Seorang pelayan laki-laki yang sebelumnya diutus oleh Eldrick berlari tergopoh-gopoh dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar sang kakek.

“Tuan besar! Tuan besar gawat!” teriaknya dengan penuh kepanikan.

“...”

Tidak ada jawaban, namun mata sayu itu perlahan terbuka dan melihat ke arah sang pelayan. Tubuhnya terlalu renta untuk memberikan respon yang kuat. Ia hanya bisa menatap sang pelayan dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Ada utusan istana membawa titah raja untuk mengeksekusi tuan muda. Tuan Eldrick meminta saya untuk mengambil benda itu dari anda.”

Mata sayu kakek langsung terbuka lebar, melotot ke arah sang pelayan. Kejutan ini terlalu besar untuk ditanggung tubuhnya yang sudah renta. Tangan yang semula gemetar di atas selimut kini mencengkeram kain itu erat. Napasnya yang semula pelan mendadak memburu. Namun ia tetap memaksakan diri bangun dari tempat tidur. 

Tubuh kurusnya gemetar, dengan dibantu sang pelayan, ia berjalan ke sebuah lemari untuk mengambil kotak kayu. Matanya menatap sendu kotak tersebut karena beberapa ingatan lama kembali memenuhi isi kepalanya. Untuk pertama kalinya setelah pindah ke halaman belakang, ia keluar dari kamar. Dan ia keluar demi cucunya tersayang.

Pandangan kasim terus turun ke baris paling bawah mengikuti setiap kalimat yang dibacanya. Saat putusan hampir selesai dibacakan, suara dari kakek tua itu menggema membuat kasim berhenti berbicara dan mendongak dengan ekspresi penuh amarah.

“Tunggu!”

“LANCANG SEKALI! Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang membacakan titah Kaisar?” Sentaknya kepada sang kakek karena sikapnya yang sangat lancang. “Titah Kaisar sama saja dengan keberadaan Sang Kaisar di sini!”

“Aku tidak peduli!” Suaranya terdengar serak dan lemah, namun tidak dengan tekadnya. Langkah kakinya secara perlahan terus maju memasuki area halaman kediaman.

“Bahkan jika Kaisar mu sekalipun yang datang langsung, dia tetap harus tunduk di depan benda ini!” jawabnya dengan tegas.

“Kecuali kalau Kaisar mu bisa membangkitkan kembali mendiang Kaisar terdahulu dari dalam tanah kubur dan memaksanya mencabut kuasa benda ini!”

Tangan gemetarnya perlahan membuka kotak kayu itu. Seluruh halaman mendadak hening. Bahkan sang kasim menghentikan umpatan yang nyaris keluar dari mulutnya.

Dengan kedua tangan yang terus bergetar, ia mengangkat sebuah benda dari dalam kotak.

Kakinya perlahan bergerak membawanya semakin mendekati sang kasim lalu menunjukkan benda itu tepat di depan wajahnya.

Wajah sombong sang kasim berubah menjadi pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mulai memenuhi dahi dan lehernya. Lututnya lemas dan ia langsung berlutut tanpa sempat melanjutkan membaca titah Kaisar. Rombongan utusan yang melihat itu pun saling pandang dengan penuh tanda tanya di wajah mereka. Namun mereka tetap mengikuti sang kasim untuk berlutut dan menunduk.

Kasim langsung menoleh ke samping memberi isyarat dengan tangannya agar salah satu pengawal mendekat ke arahnya. Membisikkan sebuah pesan lalu pengawal tersebut berlari keluar. Menaiki kuda dan dengan cepat meninggalkan kediaman jenderal menuju ke arah istana.

Menit demi menit terus berlalu. Evren masih berlutut dengan tangan mengepal. Sementara yang lain merasa kebingungan dengan kejadian langka ini. Tidak pernah mereka melihat seseorang menyela pembacaan titah Kaisar, bahkan kasim pun sampai harus berlutut. Detak jantung setiap orang begitu keras hingga rasanya mereka bisa mendengar detak jantung masing-masing.

Lalu suara tapak kuda dari kejauhan mulai mendekat dengan cepat dan berhenti tepat di depan kediaman jenderal.

“TITAH KAISAR DATANG!” Teriak sang pengawal memberitahukan kedatangan titah Kaisar yang baru.

Semua orang menunduk semakin dalam. Dengan menahan lututnya yang masih gemetar, sang kasim memaksakan dirinya untuk berdiri dan menerima titah yang baru. Membuka gulungan kain emas itu, lalu meneguk ludahnya saat melihat barisan tinta yang masih basah.

“Atas nama Yang Mulia Kaisar Cassian von Alterus, pelindung negeri dan pemegang titah langit.

Jenderal muda Evren Vance, putra mendiang Jenderal Arthur Vance, dinyatakan terbukti melakukan permufakatan untuk memberontak terhadap takhta kerajaan.

Berdasarkan hukum kerajaan pasal XIII, kejahatan makar diganjar hukuman mati serta pemusnahan seluruh garis keturunannya.”

Kasim berhenti berbicara membuat semua orang menahan nafasnya. 

Halaman kediaman berubah sunyi.

Tak seorang pun berani mengangkat kepala.

Bahkan embusan angin terdengar begitu jelas.

Suasana yang semakin tegang dan memanas itu membuat ibu Evren ambruk ke lantai dengan air mata yang terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Sementara Evren masih mempertahankan posisinya dengan wajah yang semakin memerah.

Puluhan kemenangan yang diraihnya dan sang ayah selama bertahun-tahun langsung lenyap seketika hanya karena selembar titah. Darah yang pernah mereka tumpahkan untuk negeri ini ternyata tidak ada apa-apanya di depan kecurigaan sang Kaisar.

“Namun, dengan mempertimbangkan jasa mendiang jenderal Arthur Vance dan jasa jenderal muda Evren Vance kepada negara ini. Maka hukuman mati serta pemusnahan seluruh garis keturunannya dibatalkan.

Sebagai gantinya, keluarga jenderal diturunkan statusnya dari keluarga bangsawan menjadi rakyat biasa. Jenderal muda Evren Vance dicabut seluruh jabatannya dan diasingkan ke perbatasan di utara. Mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga perbatasan sebagai prajurit biasa."

Titah selesai dibacakan dan keluarga Vance bisa sedikit bernafas karena nyawa mereka masih selamat.

Setelah itu, sang kakek memberikan benda itu beserta wadah kotak kayunya kepada kasim untuk dibawa kembali ke istana. Benda peninggalan Kaisar terdahulu itu akhirnya kembali ke tempatnya. Meskipun perlindungan itu kini sudah tidak ada, tapi mereka lega karena nyawa satu-satunya keturunan keluarga Vance bisa selamat. Meskipun harus dibayar dengan pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak bisa kembali ke ibukota.

Setelah rombongan utusan istana pergi, Evren mengangkat tubuh lemah sang ibu yang sudah tergeletak di tanah dan membawanya masuk ke dalam kamar. Matanya semerah darah setelah apa yang baru saja terjadi, ditambah kondisi sang ibu tercinta menjadi seperti sekarang ini karena tidak tahan menerima tekanan yang begitu besar. Hatinya terguncang dan jantungnya melemah saat mendengar putusan yang baru dibacakan setengah.

Sementara itu, sang kakek dituntun oleh Eldrick kembali ke halaman belakang. Kondisinya juga langsung menurun karena beliau memaksakan diri untuk pergi ke halaman utama di kondisi tubuhnya yang begitu lemah.

Kediaman jenderal yang dulu selalu diagungkan, kini sudah menjadi perbincangan di seluruh penjuru kota. Dan orang-orang di dalam kediaman kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Perasaan tidak berdaya ini benar-benar memukul Evren hingga ke dasar lubang di hatinya. Di medan perang, dia adalah seorang jenderal yang mengambil seluruh keputusan. Tapi di ibukota, dia bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya di hadapan selembar kertas emas milik sang Kaisar. 

“Aku, Evren Vance bersumpah tidak akan pernah melupakan pengkhianatan ini!” Desisnya dengan mata merah yang menatap sang ibu yang masih belum siuman.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!